Anda di halaman 1dari 14

Bagaimana Apoteker Muslim menjaga Integritas sebagai Muslim dan sebagai Apoteker yang

Profesional

Deby Anggraini

41161097000041

PENDAHULUAN

Islam menempatkan bekerja sebagai ibadah untuk mencari rezeki dari Allah guna menutupi kebutuhan hidupnya.
Bekerja untuk mendapatkan rezeki yang halalan thayiban termasuk kedalam jihad di jalan Allah yang nilainya
sejajar dengan melaksanakan rukun Islam. Dengan demikian bekerja adalah ibadah dan menjadi kebutuhan
setiap umat manusia. Bekerja yang baik adalah wajib sifatnya dalam Islam.

Rasulullah, para nabi dan para sahabat adalah para profesional yang memiliki keahlian dan pekerja keras.
Mereka selalu menganjurkan dan menteladani orang lain untuk mengerjakan hal yang sama. Profesi nabi Idris
adalah tukang jahit dan nabi Daud adalah tukang besi pembuat senjata. Jika kita ingin mencontoh mereka maka
yakinkan diri kita juga telah mempunyai profesi dan semangat bekerja keras.

Profesionalisme merupakan sikap dari seorang profesional, dan profesional berarti melakukan sesuatu sebagai
pekerjaan pokok, yang disebut profesi, artinya pekerjaan tersebut bukan pengisi waktu luang atau sebagai hobi
belaka. Jika profesi diartikan sebagai pekerjaan da isme sebagai pandangan hidup, maka profesional dapat
diartikan sebagai pandangan untuk selalu berfikir, berpandirian, bersikap dan bekerja sungguhsungguh, kerja
keras, bekerja sepenuh waktu, disiplin, jujur, loyalitas tinggi dan penuh dedikasi demi keberhasila pekerjaannya.
Dengan pengertian tersebut, profesionalisme sangat diperlukan untuk keberhasilan suatu perusahaan, organisasi
dan lembaga. Perusahaan, organisasi dan sejenisnya tersebut kalau ingin berhasil program-program, maka harus
melibatkan orang-orang yang mampu bekrja secara profesional. Tanpa sikap dan prilaku profesional maka
lembaga, organisasi tersebut tidak akan memperoleh hasil yang maksimal, bahkan bisa mengalami kebangkrutan.
Dalam realitas masyarakat, banyak ditemukan adanya perusahaan, organisasi, dan lembaga yang maju, sedang
atau biasa-biasa. Diantara faktor yang mempengaruhi kemajuan dan kemunduran perusahaan atau lembaga
tersebut adalah sikap dan perilaku profesional dari orang-orang yang terlibat didalamnya, terutama para
peminpinnya.

Seorang apoteker termasuk pemimpin dalam suatu organasisi yang dalam hal ini seperti instalasi farmasi.
Apoteker dalam menjalankan tugas kewajibannya serta keahliannya harus senantiasa mengharapkan bimbingan
dan keridhaan Tuhan Yang Maha Esa. Setiap apoteker dalam melakukan pengabdian dan pengamalan ilmunya
harus didasari niat luhur (Ikhlas) untuk kepentingan kemanusiaan sesuai dengan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa yang menempuh jalan menuntut ilmu maka
Allah akan memudahkan baginya jalan kesurga ( HR. Muslim).

Seorang apoteker harus menjadi sumber informasi sesuai dengan profesinya. Dalam melakukan pekerjaan
kefarmasian seorang apoteker dalam memberikan informasi kepada pasien harus didasari ilmu pengetahuan.
Sebagaimana firman Allah SWT : Janganlah engkau berkata terhadap apa yang engkau tidak berilmu.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya (Q.S al-
Israa: 36).

Apoteker sebelum menjalankan tugasnya harus mengucapkan sumpah jabatan atau sumpah profesi dan
mematuhinya. Seorang Apoteker dalam menjalankan profesinya dan akan bertanggungjawab dalam
penyelenggaraan praktik kefarmasian, maka harus mengucapkan sumpah menurut tata cara agama yang
dipeluknya atau mengucapkan janji yang diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi Farmasi di Indonesia yang
meluluskan tenaga profesi apoteker tersebut.

PERMASALAHAN

Dengan telah melafalkan sumpah profesi, apoteker telah berjanji kepada Tuhan yang Maha Esa dan wajib
untuk menjalankan atau mengaplikasikannya pada saat menjalankan keprofesiannya. Namun, pada
kenyataannya masih banyak ditemukan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh apoteker misalnya
pada saat pelayanan kefarmasian. Apoteker yang memiliki kepedulian dengan pasien yaitu dengan hadir
setiap hari di apotek dan menjalankan tugasnya dalam memberikan pelayanan informasi obat tapi tidak
semua apoteker menjalankan tugasnya dengan baik. Beberapa fakta tentang kinerja apoteker di apotek
adalah sebagai berikut: :

1. Banyaknya apoteker yang tidak melaksanakan praktik di apotek sebagaimana mestinya atau tidak
berada di apotek setiap saat sesuai peraturan yang berlaku yaitu setiap pelayanan kefarmasian harus
didampingi oleh apoteker

2. Harapan konsumen terhadap kinerja apoteker di apotek yaitu : memiliki pengetahuan yang lebih tentang
obat; memberikan penjelasan tentang tujuan pengobatan, cara penyimpanan obat, kemungkinan adanya
efek samping beserta pengatasannya; informasi tentang pentingnya penggunaan obat secara teratur
sesuai aturan pakai; apoteker selalu siap memberikan saran apabila diminta oleh konsumen (Aurelia,
2013).
3. Informasi dan konsultasi obat di apotek dirasakan sangat penting oleh konsumen, namun informasi
yang diharapkan belum terpenuhi (Sari, 2001; Anggraeni dkk, 2009), masih sangat sedikit apoteker
(10%) yang melakukan pelayanan informasi obat bebas, apoteker kurang siap dalam memberikan
informasi obat sesuai dengan kebutuhan pasien, dan belum memadainya pengetahuan apoteker tentang
obat baru, dikarenakan jarang mengikuti pelatihan (Purwanti dkk, 2004; Handayani dkk, 2006)

4. Informasi obat yang diperoleh oleh pengunjung apotek masih terbatas pada cara dan aturan pakai obat
(drug oriented), kemampuan komunikasi antara apoteker dan pasien juga belum berjalan dengan baik
(Handayani dkk, 2009)

5. Adanya tenaga asisten apoteker, yang terbukti lebih terampil dan cekatan dalam melakukan pelayanan
obat, baik untuk obat bebas maupun obat wajib apotek (OWA); demikian pula mayoritas apoteker
mendelegasikan masalah komunikasi dengan dokter kepada asisten apoteker (Herman, dkk.,2004;
Purwanti dkk, 2004).

6. Apoteker tidak berperan aktif dalam penilaian kerasionalan peresepan (Herman dkk, 2004), hanya 5%
apoteker yang berperan dalam proses interpretasi penyakit dan pemilihan alternatif obat dalam
swamedikasi (Purwanti dkk, 2004)

7. Penelitian Abdullah dkk (2010) memberikan hasil yang menarik, sebagian pengunjung apotek di kota
Depok, tidak mengetahui tugas apoteker di apotek

8. Layanan kefarmasian yang berupa kunjungan ke rumah pasien (home care) belum dilakukan
dikarenakan kesibukan apoteker, demikian pula dalam layanan promosi dan edukasi (Setiawan dkk,
2010)

Beberapa fakta diatas menunjukkan belum sempurnanya peran apoteker dan tidak terpenuhnya sumpah
apoteker yang telah diucapkan sebelumnya. Ayat-ayat Al-Quran dan hadits Nabi sallallahualaihi wa sallam
telah menunjukkan akan kewajiban memenuhi janji dan sumpah setia. Serta menjelaskan buruknya orang
yang melanggarnya atau tidak menepatinya. Terkadang tidak menepati (janji dan sumpa setia) mengarah
kepada kekafiran. Sebagaimana terjadi pada Bani Israil dan lainnya. Ketika mereka melanggar janji dan
sumpah setia dengan Tuhannya. Mereka meninggalkan janji Allah berupa keimanan, mengikuti para Rasul-
Nya. Allah berfirman,

Sungguh Al-Qur`an telah memerhatikan permasalahan janji ini dan memberi dorongan serta memerintahkan
untuk menepatinya. Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-
sumpah itu sesudah meneguhkannya. (An-Nahl: 91)

Allah Subhanahu wa Taala juga berfirman:



Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya. (Al-Isra`: 34)

Nash-nash dalam Kitab dan Sunnah banyak dan jelas petunjuknya akan kewajiban memenuhi (janji) dan
haramnya melanggar dan berkhianat. Semua ayat yang ada lafaz janji dan sumpah setia menunjukkan hal itu
baik secara tekstual maupun pemahaman. Dan perilaku Nabi sallallahualaihi wa sallam dan para
shahabatnya adalah bukti nyata dalam realisasinya.

Pengkhianatan adalah lawan kata dari amanah dan memenuhi (janji). Kalau amanah dan memenuhi janji
termasuk karakter keimanan dan ketakwaan, maka khianat dan melanggar (janji) termasuk karakter
kenifakan dan kedurhakaan. Na'uzubillah.

Dari Abdullah bin Amr radhiallahuanhuma, dia berkata, Rasulullah sallallahualahi wa sallam bersabda:



(58 3178 )

Empat (prilaku) kalau seseorang ada padanya, maka dia termasuk benar-benar orang munafik. Kalau
berbicara berdusta, jika berjanji tidak menepati, jika bersumpah khianat, jika bertikai, melampau batas.
Barangsiapa yang terdapat salah satu dari sifat tersebut, maka dia memiliki sifat kemunafikan sampai dia
meninggalkannya." (HR. Bukhari, 3178 dan Muslim, 58)

PEMBAHASAN

Profesionalisme dalam Islam

Seorang dikatakan profesional jika ia mahir dalam bidang pekerjaannya dimana ia mendapatkan penghasilan
dari sana. Kemahiran ini didukung dengan beberapa indikator dan kriteria,antara lain sebagai berikut :1.
Kualifikasi akademik atau latar belakang pendidikan2. Ketrampilan yang mumpuni dan pengalaman
di bidang tersebut3. Menghasilkan karya dan produk dibidang yang ditekuninya. Mempunyai dedikasi dan
etika kerja yang sungguh-sungguhDalam Islam, profesionalitas semakna dengan ihsan dan itqon yang sangat
dianjurkan dalam Islam.Ajaran Islam memotivasi umat Islam untuk kerja yang professional dalam berbagai
sisi kehidupan dan berbagai sarana kerja. Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya Allah mencintai seseorang jika melakukan sesuatu dengan cara professional.

Seorang pekerja yang ikhlas dan profesional adalah ciri insan yang cerdas dan ahli dalam melakukan sesuatu
dan ahli dalam pekerjaannya, mampu menunaikan tugas yang diberikan kepadanya secara professional dan
sempurna, dan diiringi adanya perasaan selalu diawasi oleh Allah dalam setiap pekerjaannya, semangat yang
penuh dalam meraih keridhaan Allah dibalik pekerjaannya. Model pegawai atau buruh seperti tidak
membutuhkan adanya pengawasan dari manusia; berbeda denganorang yang melakukan pekerjaan karena
takut manusia, sehingga akan menghilangkan berbagaisarana yang ada, melakukan penipuan terhadap apa
yang dapat dilakukan. Adapun pegawai yangmukhlis, yang bekerja dibawah perasaan adanya pengawasan
oleh Dzat yang tidak pernah lengah sedikitpun, dan tidak ada yang tersembunyi atas apa yang tersembunyi
di dalam bumi dan di langit. Islam tidak hanya melahirkan manusia yang sukses dari sudut pengamalan
agama saja tetapi juga ingin melahirkan kesuksesan dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Diantara etika
kerja menurut islam yang apabila diterapkan maka akan menghasilkan kinerja yang baik, yakni Kerja adalah
ibadah. Orang yang mampu menjaga kehormatannya dalam bekerja terutama secara moral dan
profesional,akan diberi kehormatan lebih tinggi lagi dalam bcntuk jabatan dan pangkat yang lebih tinggi,
diseganidan statusnya dalam masyarakat sangat dihormati.

Masalah profesionalisme ini juga sangat terkait dengan hak-hak pegawai dalam Islam. Jika Allah telah
mewajibkan kepada pegawai untuk bekerja dengan cara yang itqon (professional) dan cakap didalamnya;
maka baginya memiliki hak, sehingga menjadikan dirinya memiliki kehidupan yang mulia,kokoh dan kuat.
Dan diantara hak-haknya adalah: Tidak membebani pegawai dengan sesuatu yangtidak mampu dilakukan..
dan tidak memposisikannya pada pekerjaan yang berat yang tidak mampu dilaksanakan; dan jika kita ingin
memberikan pekerjaan yang berat maka hendaknya kitamembantunya dengan diri kita atau mencarikan
orang lain untuk dapat membantunya. Rasulullahshallallahualaihi wa sallam bersabda:

Dan janganlah kalian membebani mereka dengan apa yang mereka tidak sanggup, namun jika
kalianterpaksa membebaninya maka bantulah mereka. (HR. Bukhari)

Dalam menyikapi beragam musibah dan problem kemasyarakatan, umat Islam juga bukanlah umatyang
melakukan arogansi penyelesaian, sehingga menghadapi kondisi dengan melakukan pengrusakan atau
berdiam diri; sebagai reaksi terhadap apa yang terjadi, namun kita adalah kaumyang memandang
permasalahan dengan pandangan yang komprehensif dan mendalam serta cermat,lalu mengembalikannya
pada dasar yang kokoh untuk bisa jadikan sandaran dan terfokus, dan hal tersebut tidak terwujud kecuali
dari Nizham Islam yang menyeluruh dan mendetail, yang didalamnya terdapat kebaikan yang banyak.

Memang demikianlah dalam semua hal saat ini harus diserahkan ke orang-orang yang kompeten.Tidak
hanya kompeten secara teknis tapi juga punya kemampuan memilih orang-orang yangkompeten sehingga
keselamatan masyarakat terjaga. Mampu memilih the man behind the gun. Aspek profesionalisme ini
amat penting bagi seorang pekerja. Maksudnya adalah kemampuan untukmemahami dan melaksanakan
pekerjaan sesuai dengan prinsipnya (keahlian). Pekerja tidak cukuphanya dengan memegang teguh sifat-
sifat amanah, kuat, berakhlaq dan bertakwa, namun dia harus pula mengerti dan menguasai benar
pekerjaannnya.

Umar radhiyallahuanhu sendiri pernah mempekerjakan orang dan beliau memilih dari mereka orang-orang
yang profesional dalam bidangnya. Bahkan Rasulullah shallallahualaihi wa sallam mengingatkan:

Bila suatu pekerjaan tidak diserahkan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. (HR.Bukhari).

Jadi tanpa adanya profesionalisme atau keahlian, suatu usaha akan mengalami kerusakan dankebangkrutan.
Juga menyebabkan menurunnya kualitas dan kuantitas produksi, bahkan sampai pada kesemrawutan
manajemen, serta kerusakan alat-alat produktivitas. Hal-hal ini tentunya jelas akan menyebabkan juga
terjadinya kebangkrutan total yang tidak diinginkan.

Ciri Profesional Unggul dalam Al-Quran


Allah SWT menceritakan ciri-ciri pekerja (profesional) yang baik dalam beberapa ayat al-Quran, salah
satunya dalam QS al-Qashas 26. Dikisahkan dalam ayat ini, salah seorang putriSyuaib menasehati ayahnya
agar menjadikan nabi Musa as sebagai pegawai penggembalakambingnya.

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: Ya bapakku ambillah ia sebagaiorang yangbekerja (pada kita),
karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untukbekerja (pada kita) ialah orang yang
kuat lagi dapat dipercaya .

Dalam ayat ini, Allah SWT memberikan penjelasan bahwa pekerja yang baik (penggembala kambing) ialah
orang yang kuat dan dapat dipercaya.

Dalam ayat lain, Allah SWT menceritakan dalam QS Yusuf 55 mengenai permintaan nabiYusuf as kepada
raja, agar ia dijadikan sebagai staff keuangan negara.

Berkata Yusuf: Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalahorang yang
pandai menjaga , lagi berpengetahuan

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa kriteria pekerja yang baik (staff keuangan negara) adalah yang pandai
menjaga dan berpengetahuan.

Selanjutnya dalam ayat lain, Alloh SWT menceritakan dalam QS al-Baqoroh 247 tentang rajaThalut. Bani
Israil meminta diberikan pemimpin perang untuk mengalahkan Djalut. Merekamemiliki paradigma bahwa
seorang pemimpin haruslah seorang yang kaya. Namun paradigma itu dibantah nabi.

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: Sesungguhnya Allah telah mengangkat thalutmenjadi rajamu.
Mereka menjawab: bagaimana thalut memerintah kami, padahal kamilebih berhak mengendalikan
pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak? (nabi mereka) berkata:
Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh
yang perkasa .

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa kriteria pemimpin perang yang baik adalah memiliki ilmu yang luas dan
tubuh yang perkasa.

Dari penjelasan ketiga ayat diatas, kita bisa mengambil benang merah bahwa profesionalyang unggul yang
dijelaskan dalam al-Quran haruslah memiliki 3 kekuatan yakni kekuaran fisik, kekuatan
pengetahuan(knowledge) dan kekuatan attitude (amanah).

Ketiga sifat ini haruslah dimiliki secara terintegrasi bukan parsial. Apalah artinyamemiliki kecerdasan dan
fisik yang baik jika tidak diimbangi dengan sifat amanah. Yang ada,akan mendapatkan kehancuran bagi diri
dan lingkungan sekitarnya.Lalu, bagaimana agar kita bisa memperoleh ketiga kekuatan tersebut?? Nabi
Muhammad saw pernah bersabda

Mukmin yang kuat lebih baik daripada mukmin yang lemah .


Dalam hal ini Nabi memuji seorang mukmin yang kuat dibandingkan mukminyang lemah. Para ahli
menafsirkan bahwa kuat yang dimaksud di sini tidak hanya kuat secara fisik namun yang terpenting
adalah kuat dalam keyakinan.

Ternyata, inilah sifat utama yang harus kita miliki agar bisa menggapai kesuksesan dalammeniti karir
profesional. Langkah pertama, pelajarilah keyakinan ajaran islam dengansungguh-sungguh,agar memiliki
Way of Thingking aqidah Islam yang benar. Karena dengankeyakinan yang kuat dan kokoh, secara otomatis
akan mendorong kemauan yang kuat untuk berbuat sesuatu yang positif.

Akhirnya, kekuatan yang lainnya pun akan diperoleh.Fenomena ini sudah dibuktikan sendiri oleh nabi
Muhammad selama beliau membina parasahabat. Dengan kekuatan keyakinan, Rosululloh telah mencetak
para sahabat yang asalnya gerombolan yang tidak teratur di tengah padang pasir, berubah menjadi umat
manusia terbaik sepanjang sejarah. Jadilah meraka sebagai komunitas dengan budaya agung yang
menguasai sepertiga dunia dalam waktu relatif singkat. Demikianlah al-Quran dan Hadits Nabi memberikan
petunjuk bagi mereka yang menginginkan kesuksesan profesional yang hakiki, dunia dan akhirat

Nilai-nilai Islam yang Mendasari Profesionalisme

Ajaran Islam sebagai agama universal sangat kaya akan pesan-pesan yang mendidik bagi muslim untuk
menjadi umat terbaik, menjadi khalifa, yang mengatur dengan baik bumi dan seisinya. Pesan-pesan sangat
mendorong kepada setiap muslim untuk berbuat dan bekerja secara profesional, yakni bekerja dengan benar,
optimal, jujur, disiplan dan tekun. Akhlak Islam yang di ajarkan olehNabiyullah Muhammad SAW, memiliki
sifat-sifat yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan profesionalisme. Ini dapat dilihat pada
pengertian sifat-sifat akhlakNabi sebagai berikut :Sifat kejujuran (shiddiq). Kejujuran ini menjadi salah satu
dasar yang paling penting untuk membangun profesionalisme.

Hampir semua bentuk uasha yang dikerjakan bersama menjadi hancur, karena hilangnya kejujuran. Oleh
karena itu kejujuran menjadi sifat wajib bagi Rasulullah SAW. Dan sifat ini pula yang selalu di ajarkan oleh
islam melalui al-Quran dan sunah Nabi. Kegiatan yang dikembangkan di dunia organisasi, perusahan dan
lembaga modern saat ini sangat ditentukan oleh kejujuran. Begitu juga tegaknya negara sangat ditentukan
oleh sikap hidup jujur para pemimpinnya. Ketika para pemimpinya tidak jujur dan korup, maka negara itu
menghadapi problem nasional yang sangat berat, dan sangat sulit untuk membangkitkan kembali.

Sifat tanggung jawab (amanah). Sikap bertanggung jawab juga merupakan sifat akhlak yang sangat
diperlukan untuk membangun profesionalisme. Suatu perusahaan/organisasi/lembaga apapun pasti hancur
bila orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak amanah.

Sifat komunikatif (tabligh).Salah satu ciri profesional adalah sikap komunikatif dan transparan. Dengan sifat
komunikatif, seorang penanggung jawab suatu pekerjaan akna dapat menjalin kerjasama dengan orang lain
lebih lancar. Ia dapat juga meyakinkan rekanannya untuk melakukan kerja sama atau melaksanakan visi dan
misi yang disampaikan. Sementara dengan sifat transparan, kepemimpinan di akses semua pihak, tidak ada
kecurigaan, sehingga semua masyarakat anggotanya dan rekan kerjasamanya akan memberikan apresiasi
yang tinggi kepada kepemimpinannya. Dengan begitu, perjalanansebuah organisasi akan berjalan lebih
lanca, serta mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak.

Sifat cerdas (fathanah). Dengan kecerdasannya seorang profesional akan dapat melihat peluang dan
menangkap peluang dengan cepat dan tepat. Dalam sebuah organisasi, kepemimpina yang cerdas akan cepat
dan tepat dalm memahami problematikayang ada di lembaganya. Ia cepat memahami aspirasi anggotanya,
sehingga setiap peluang dapat segera dimanfaatkansecara optimal dan problem dapat dipecahkan dengan
cepat dan tepat sasaran.

Disamping itu, masih terdapat pula nilai-nilai islam yang dapat mendasari pengembangan profesionalisme,
yaitu : Bersikap positif dan berfikirpositif (husnuzh zhan ). Berpikir positif akan mendorong setiap orang
melaksanakan tugas-tugasnya lebih baik. Hal ini disebabkan dengan bersikap dan berfikir positif mendorong
seseorang untuk berfikir jernih dalam menghadapi setiap masalah. Husnuzh zhantersebut, tidak saja
ditujukan kepada sesama kawan dalam bekerja, tetapi yang paling utama adalah bersikap dan berfikir
positifkepada Allah SWT. Dengan pemikiran tersebut, seseorang akan lebih lebih bersikap objektif dan
optimistik. Apabil ia berhasil dalm usahanya tidak menjadi sombong dan lupa diri, dan apabila gagal tidak
mudah putus asa, dan menyalahkan orang lain. Sukses dan gagl merupakan pelajaran yang harus diambil
untuk menghadapi masa depan yang lebih baik, dengan selalu bertawakal kepada Allah SWT.

Memperbanyak shilaturahhim. Dalam Islam kebiasaan shilaturrahim merupakan bagian dari tanda-tanda
keimanan. Namun dalam dunia profesi, shilaturahhim sering dijumpai dalam bentuk tradisi lobi. Dalam
tradisi ini akan terjadi saling belajar.

Disiplin waktu dan menepati janji.Begitu pentingnya disiplin waktu, al-Quran menegaskan makna waktu
bagi kehidupan manusia dalam surat al-Ashr, yang diawali dengan sumpah Demi Waktu. Begitu juga
menepati janji, al-Quran menegaskan hal tersebut dalam ayat pertama al-Maidah, sebelum memasuki
pesan-pesan penting lainnya. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. (Al-
Maaidah/05:01).Yang dimaksud aqad-aqad adalah janji-janji sesama manusia.

Bertindak efektif dan efisien. Bertindak efektif artinya merencanakan , mengerjakan dan mengevaluasi
sebuah kegitan dengan tepat sasaran. Sedangkan efisien adalah penggunaan fasilitas kerja dengan cukup,
tidak boros dan memenuhi sasaran, juga melakukan sesuatu yang memang diperlukan dan berguna. Islam
sangat menganjurkan sikap efektif dan efesien.Memberikan upah secara tepat dan cepat.Ini sesuai dengan
Hadist Nabi, yang mengatakan berikan upah kadarnya, akan mendorong seseorang pekerja atau pegawai
dapat memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya secara tepat pula. Sementara apabila upah ditunda, seorang
pegawai akan bermalas-malas karenadia harus memikirkan beban kebutuhannyadan merasa karya-karyanya
tidak dihargai secara memadai. Aktualisasi Profesionalisme dalam Perspektif Islam Dari uraian di atas,
dapat disipulkan bahwa Islam adalah agama yang menekankan arti penting amal dan kerja. Islam
mengajarkan bahwa kerja kerja harus dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut : Bahwa pekerjaan
itu harus dilakukan berdasarkan kesadaran dan pengetahuan yang memadai. Sebagaimana firman Allah yang
artinya : Dan janganlahkamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya. (QS.
al-Isra/17:36).

Pekerjaan harus dilakukan berdasarkan keahliaan. Seperti sabda Nabi : Apabila suatu urusan diserahkan
kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancuran. (Hadist Bukhari). Berorientasi kepada mutu
dan hasil yang baik. Dalm Islam, amal, dan kerja harus dilakukan dalam bentuk yang shalih. Sehingga
makna amal shalih dapat dipahami sebagai kerja sesuai standar mutu, baik mutu dihadapan Allah maupun
dihadapan manusia rekanan kerjanya.Pekerjaan itu senantiasa diawasi oleh Allah, Rasulullah, dan
masyarakatnya, oleh karena itu harus dilaksanakan dengan penuh tanggunga jawab.Pekerjaan dilakukan
dengan semangat dan etos kerja yang tinggi. Pengupahan harus dilakukan secara tepat disesuai dengan amal
atau karya yang dihasilkannya.

Berikut adalah 7 Strategi atau cara menjadi seorang yang profesional:

1. Kembangkan keahlian (Expert)


Untuk menjadi seorang yang profesional tidak cukup hanya lewat pendidikan formal, diperlukan lebih
dari sekedar gelar akademis. Kita perlu melalui proses pembelajaran dan pengembangan diri yang terus
menerus. Kita harus menggali potensi dan kemampuan kita dan terus dikembangkan sampai kita
menjadi ahli. Fokus pada kekuatan kita dan bukan pada kelemahan kita, lakukan eksplorasi (organisasi
sebagai sarana), sadari setiap kita punya keunikan dan kekhususan jadi kita perlu inves waktu untuk
mengembangkannya. Hal ini butuh ketekunan, usaha, kerja keras, kemauan yang kuat dan inisiatif.
Terus tingkatkan pemahaman kita lewat seminar, buku, audio, latihan.

2. Mahir membangun hubungan (Relationship)


Kemampuan kita membangun hubungan (bersosialisasi) dengan orang lain sangat menentukan
keberhasilan kita dalam kehidupan. Ini berlaku dalam setiap aspek kehidupan seperti: pergaulan,
organisasi, dunia usaha, pekerjaan, keluarga. Makanya tidak heran sejumlah studi ilmiah menyimpulkan
85% kunci sukses ditentukan bukan dari keahlian/keterampilan teknis melainkan kemahiran dalam
menjalin hubungan baik dengan orang lain. Bila anda ingin menjadi seorang yang profesional dalam
hidup ini, apapun tujuan dan bidang yang anda pilih, anda harus belajar membina hubungan yang baik
dengan orang banyak dari berbagai kalangan. Karena masyarakat mungkin masih bisa menerima orang
yang tidak punya keahlian khusus tapi mereka sulit menerima orang yang tidak bisa berhubungan baik
dengan orang lain.

3. Tingkatkan kemampuan berkomunikasi (Communicator)


Seberapa jauh dan dalamnya suatu hubungan dapat terjalin ditentukan oleh komunikasi. 90% penyebab
hancurnya suatu hubungan pernikahan, pertemanan, organisasi, bisnis, diakibatkan komunikasi yang
salah. Komunikasi yang baik harus bersifat dua arah. Seorang komunikator yang handal adalah seorang
pendengar yang baik. Seorang yang profesional harus mampu mengkomunikasikan suatu hal dengan
jelas dan tepat pada sasaran.
4. Hasilkan yang terbaik (Excellent)
Seorang profesional sejati akan selalu berusaha menghasilkan karya yang berkualitas tinggi dan kinerja
yang maksimal. "Profesional don't do different thing, they do thing differently". Untuk menjadi
profesional kita harus terus mencoba memberikan dan mengerjakan lebih dari apa yang diharapkan.
Waktu kita lakukan suatu kegiatan, project, kerjaan, tugas hasilkan yang terbaik. Jangan puas dengan
rata-rata kejar hasil yang excellent. Lakukan yang terbaik hari ini untuk bayaran hari esok. Pikirkan
selalu apa yang dapat saya lakukan untuk add value bukan apa yang saya bisa peroleh.

5. Berpenampilan menarik (Good Looking)


First impression is very important! Karena orang akan menilai kita 10 detik pertama apakah mereka
bisa menerima kita atau tidak. Sama halnya kalau kita mau beli barang lihat packaging dulu, mau
nonton film lihat preview dulu, mau masuk toko lihat dekor yang paling menarik.

6. Kehidupan yang seimbang (Balance of life)


Seorang profesional harus mampu atur prioritas dan menjalankan berbagai peran. Setiap kita mungkin
memiliki banyak peran dalam hidup ini seperti: sebagai anak, ayah, anggota organisasi, ketua, sales,
karyawan. Kita harus dapat berfungsi dengan benar sesuai dengan peran yang kita jalankan jangan
sampai tercampur aduk. Hidup ini harus dijaga agar seimbang dalam berbagai aspek.

7. Memiliki nilai moral yang tinggi (Strong Value)


Untuk menjadi seorang yang profesional sejati kita harus memiliki nilai moral yang tinggi. Hal ini yang
akan membedakan setiap kinerja, usaha, karya dan kegiatan yang kita lakukan dengan orang lain.
Sementara orang lain kompromi, menggunakan cara-cara yang tidak etis untuk mencapai tujuannya kita
tetap berpegang pada prinsip yang benar. Diluar sana ada begitu banyak cara-cara pintas dan
penyimpangan yang terjadi, oleh karena itu kita harus mampu mempertahankan sikap profesionalisme.

Profesional sebagai Apoteker

Standar kompetensi Apoteker, Setiap apoteker harus senantiasa menjalankan profesinya sesuai standar
kompetensi apoteker Indonesia serta selalu mengutamakan dan berpegang teguh pada prinsip kemanusiaan
dalam menjalankan kewajibannya

Kompetensi apoteker yaitu keterampilan, sikap, perilaku yang berdasarkan ilmu, hukum, etik.Kepentingan
kemanusiaan harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap tindakan dan keputusan seorang apoteker.

Dasar tugas Apoteker yaitu bahwasannya seorang apoteker dalam menjalankan tugas kewajibannya serta
keahliannya harus senantiasa mengharapkan bimbingan dan keridhaan Tuhan Yang Maha Esa
(Muqadimmah KEAI, Alinia pertama). Setiap apoteker dalam melakukan pengabdian dan pengamalan
ilmunya harus didasari niat luhur (Ikhlas) untuk kepentingan kemanusiaan sesuai dengan tuntunan Tuhan
Yang Maha Esa.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda : barang siapa yang menempuh jalan menuntut ilmu maka
Allah akan memudahkan baginya jalan kesurga ( HR. Muslim).

Pasal 4 kode etik apoteker Indonesia berbunya Setiap apoteker harus selalu aktif mengikuti perkembangan
bidang kesehatan umumnya dan bidang farmasi khususnya, maksudnya yaitu seorang apoteker harus
mengembangkan pengetahuan dan keterampilan profesionalnya secara terus menerus.

Menjauhi keuntungan pribadi, Didalam menjalankan tugasnya setiap apoteker harus menjauhkan diri dari
usaha mencari keuntungan diri semata yang bertentangan dengan martabat dan tradisi luhur jabatan
kefarmasian (pasal 5 KEAI).Setiap apoteker dalam setiap melakukan tindakan profesional harus
menghindari diri dari perbuatan yang akan merusak seseorang maupun orang lain. Seorang apoteker
memegang teguh prinsip mendahulukan pasien.Dalam AlQuran terdapat peringatan terhadap
penyalahgunaan kekayaan, tetapi tidak dilarang mencari kekayaan dengan cara halal (QS: 2;275) Allah
telah menghalalkan perdagangan dan Melarang riba. Islam menempatkan aktivitas perdagangan dalam
posisi yang amat strategis di tengah kegiatan manusia mencari rezeki dan penghidupan. Hal ini dapat dilihat
pada sabda Rasulullah SAW: Perhatikan oleh mu sekalian perdagangan, sesungguhnya didunia
Perdagangan itu ada sembilan dari sepuluh pintu rezeki.

Kunci etis dan moral bisnis sesungguhnya terletak pada pelakunya, itu sebabnya misi diutusnya Rasulullah
ke dunia adalah untuk memperbaiki akhlak manusia yang telah rusak.Seorang pengusaha muslim
berkewajiban untuk memegang teguh etika dan moral bisnis Islami yang mencakup Husnul Khuluq. Pada
derajat ini Allah akan melapangkan hatinya,dan akan membukakan pintu rezeki, dimana pintu rezeki akan
terbuka dengan akhlak mulia tersebut, akhlak yang baik adalah modal dasar yang akan melahirkan praktik
bisnis yang etis dan moralis.

Seorang Apoteker harus menjadi sumber informasi sesuai dengan profesinya serta ikhlas dalam menjalankan
profesinya. Janganlah engkau berkata terhadap apa yang engkau tidak berilmu. Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan, dan hati semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya (Q.S al-Israa: 36).
Ciri Apoteker yang ikhlas adalah : Bekerja secara professional, berpegang teguh pada etika profesi,
berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan : prinsip tolong menolong, tidak diskriminatif, transparan dan
akuntabel, berorientasi pada ibadah.

Seorang apoteker harus mematuhi sumpah profesi yang telah dilafazkan. Sumpah itu mengartikan bahwa ia
telah berjanji dan sesuai ketentuan islam menepati atau menunaikan janjibaik itu hal besar maupun hal kecil
dan perkara atau janji tersebut bukan hal yang berkaitan dengan maksiat, keburukan atau pengaduan adalah
sebuah perkara yang sangat dituntut tanggungjawabnya bagi setiap muslim maupun muslimat. Hal ini
sebagaimana diterangkan dalam dalil firman Allah swt. Dalam Al-Quranul Karim yang berbunyi :

Firman Allah dalam al Quran:



Artinya : dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-
Isra:34)

KESIMPULAN

Untuk menjadi apoteker muslim menjaga integritas sebagai muslim dan sebagai apoteker yang profesional,
apoteker harus bekerja secara ikhlas dan profesional yang merupakan ciri insan yang cerdas dan ahli dalam
melakukan sesuatu dan ahli dalam pekerjaannya, mampu menunaikan tugas yang diberikan kepadanya
secara professional dan sempurna serta diiringi adanya perasaan selalu diawasi oleh Allah
dalam setiap pekerjaannya, semangat yang penuh dalam meraih keridhaan Allah dibalik pekerjaannya.

Apoteker juga harus mematuhi sumpah yang telah diucapkan pada saat memperoleh gelar apoteker dan
menerapkan kode etik yang telah ada. Etika kerja menurut islam yang apabila diterapkan maka akan
menghasilkan kinerja yang baik, yakni kerja adalah ibadah. Orang yang mampu menjaga kehormatannya dalam
bekerja terutama secara moral dan profesional akan diberi kehormatan lebih tinggi lagi dalam bcntuk jabatan dan
pangkat yang lebih tinggi disegani dan statusnya dalam masyarakat sangat dihormati.

DAFTAR PUSTAKA

1. Al-Quran dan Terjemahan. Sofware Quran Versi 6.50. Edisi 1997.


2. Abdullah,N.A., Andrajati, R., dan Supardi, S., Pengetahuan, Sikap dan Kebutuhan Pengunjung Apotek
terhadap Informasi Obat di Kota Depok, Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol. 13 No. 4 Oktober
2010: 344352
3. Anggraini, E.A., Nita, Y dan Soemiati, Kinerja Apotek dan Harapan Klien Swamedikasi pada
Pelayanan Kefarmasian di Apotek Wilayah Kota Gresik, Majalah Farmasi Airlangga, Vol.7 No.2,
Oktober 2009
4. Aurelia, E., Harapan dan Kepercayaan Konsumen Apotek Terhadap Peran Apoteker Yang Berada di
Wilayah Surabaya Barat, Calyptra, Vol. 2 No. 1, 2013
5. Handayani, R.S., Gitawati, R. Muktiningsih, S.R., dan Raharni, Eksplorasi Pelayanan Informasi Yang
Dibutuhkan Konsumen Apotek dan Kesiapan Apoteker Memberi Informasi Terutama Untuk Penyakit
Kronik dan Degeneratif, Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. III No. 1, April 2006, hal. 38-46
6. Handayani, R.S., Raharni dan Gitawati, R., Persepsi Konsumen Apotek Terhadap Pelayanan Apotek di
Tiga Kota di Indonesia, Makara Kesehatan, Vol. 13 No. 1, Juni 2009, hal. 22-26
7. Harianto, Khasanah, N., Supardi, S., Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Resep di Apotek Kopkar
Rumah Sakit Budi Asih Jakarta, Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. II, No.1, April 2005, 12 21
8. Herman, M.J., Supardi, S., Susanti, R., Isnawati, A., Muktiningsih, S.R., dan Apriany, P., Faktor Yang
Berhubungan dengan Pelayanan Resep oleh Asisten Apoteker di Apotek, Bul. Penel.Kesehatan., Vol. 32
no. 3, 2004, 119-126
9. Jesuit Secondary Education Association (JSEA). (1993) Ignatian Pedagogy Practical Approach.
Originally published as a monograph: Reprinted as Appendix B in The Jesuit Ratio Studiorum of 1599:
400th Anniversary Perspectives
10. Kepmenkes no. 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek
11. PP no. 51/2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian
12. Purwanti, A., Harianto dan Supardi, S., Gambaran Pelaksanaan Standar Pelayanan Farmasi di Apotek
DKI Jakarta tahun 2003, Majalah Ilmu Kefarmasian, vol. I no.2, Agustus 2004, 102-116
13. Sari, I.P., Motivasi Konsumen Terhadap Layanan Informasi dan Konsultasi Obat di Apotek Kota
Yogyakarta, Majalah Farmasi Indonesia, 12 (2) 79-83, 2001
14. Setiawan, D., Hasanmihardja, M., dan Mahatir, A., Pengaruh Pelayanan Kefarmasian terhadap
Kepuasan Konsumen Apotek di Kabupaten Tegal, Jurnal Farmasi Indonesia Vol. 5 No. 2, Juli 2010,
hal. 100-108
15. SK Majelis APTFI no. 002/APTFI/MA/2008 tentang Standar Praktek Kerja Profesi Apoteker
16. SK PP IAI no. 058/SK/PP.IAI/IV/2011 tentang Standar Kompetensi Apoteker Indonesia