Anda di halaman 1dari 13

TATALAKSANA KEGAWATDARURATAN PADA LUKA BAKAR

KIMIA DAN PANAS PADA MATA


Ralf Kuckelkorn, Norbert Schrage, Gabriela Keller and Claudia Redbrake
Department of Ophthalmology, Universitas RWTH Aachen, Aachen, Germany

Abstrak

Luka bakar kimia dan panas dilaporkan dalam jumlah yang kecil tetapi merupakan
trauma okuli yang signifikan. Kecepatan dimana irigasi awal pada mata dimulai, memiliki
dampak yang besar terhadap prognosis dan hasil dari mata yang terbakar. Air umumnya
direkomendasikan sebagai cairan irigasi. Namun, air bersifat hipotonik terhadap stroma
kornea. Osmolaritas yang tinggi menyebabkan peningkatan masuknya air ke dalam kornea
dan masuknya zat-zat korosif ke dalam struktur kornea yang lebih dalam. Oleh karena itu,
Kami merekomendasikan osmolaritas yang lebih tinggi sebagai bilasan awal untuk
memobilisasi zat-zat korosif keluar dari jaringan yang terbakar. Sistem universal seperti
larutan yang bersifat amfoter memiliki fungsi yang tidak spesifik untuk mengikat asam dan
basa sehingga menjadi tata laksana darurat untuk menetralisir. Terapi konservatif anti
inflamasi dan intervensi bedah awal, keduanya penting untuk mengurangi respon inflamasi
dan jaringan yang terbakar. Pada luka bakar mata yang paling berat, tenonplasti akan
membentuk kembali permukaan konjungtiva dan vaskularisasi limbus dan mencegah nekrosis
segmen anterior mata.

PENDAHULUAN

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa trauma mata kimia dan panas pada mata
berkisar 7,7% - 18% dari keseluruhan trauma okular. Sebagian besar cidera ini ringan dan
tidak menimbulkan lesi permanen yang menyebabkan buta permanen unilateral atau bilateral
dan hidup ketergantungan. Mayoritas korban adalah anak muda dan paparan terjadi di rumah,
tempat kerja, dan dikaitkan dengan serangan kriminal. Trauma basa lebih sering terjadi
daripada trauma asam, luka bakar mata yang disebabkan oleh detergen dan bahan termal
sudah berkurang frekuensinya. Zat yang paling sering menyebabkan luka bakar basa adalah
amonia (NH3), basa (NaOH), Kalium hidroksida (KOH), dan kapur (CaOH2). Sulfat (H2SO4),
sulfur (H2SO3), fluorida (HF) dan asam klorida adalah penyebab tersering dari luka bakar
asam. Data dari daftar tabel 1 menunjukan bahwa dari 191 pasien dengan 260 mata
mengalami luka bakar berat dirawat di pusat mata RSTH Aachen antara tahun 1980 dan

1
1995. Insiden tertinggi trauma terjadi pada kedua mata (bilateral) dan trauma sebagian besar
terjadi di rumah atau selama kegiatan rekreasi.

Kerja dari basa dan asam


Beratnya trauma mata berkaitan dengan jenis bahan kimia, volume dan konsentrasi
(pH) dari larutan dan durasi paparan. Basa lebih cepat menembus daripada asam. Ion
hidroksil merupakan komponen asam lemak dari membran sel yang mengalami gangguan
disertai kematian sel, sedangkan kation bertanggungjawab untuk proses penetrasi dari basa
yang spesifik. Tingkat penetrasi meningkat dari kalsium hidroksida (paling lambat), kalium
hidroksida (lebih cepat), natrium hidroksida (lebih cepat) hingga amonium hidroksida
(tercepat). Tergantung pada tingkat penetrasi, ada tidaknya kehilangan kornea dan epitel
konjungtiva, keratosit stroma dan endotelium. Hidrasi dari glikosaminoglikan menyebabkan
hilangnya kejernihan stroma. Kerusakan pada pembuluh darah endotel dari konjungtiva dan
pembuluh episklera menyebabkan trombosis pembuluh episklera.

Semakin kuat basa, semakin cepat penetrasinya. Kerusakan permanen terjadi pada pH
diatas 11,5. pH dalam aqueous humor naik dalam beberapa detik setelah konak dengan
ammonium hidroksida. Struktur intraokular seperti iris, lensa dan badan siliriasi rusak dengan
cepat.

Tabel 1. Luka bakar mata kimia dan panas berat di Departemen Ofthalmologi RWTH Aachen
(1985-1995) ; 191 pasien (260 mata)

Jumlah pasien Persentase

Unilateral 122 64
Bilateral 69 36
mata

Cedera pekerjaan 177 68.1


Cedera sendiri 63 24.1
Lainnya 20 7.8
Mata

Basa 151 58.1


Basa 37 14.1
Panas 42 16.2
Lainnya 30 11.6

2
Terlepas baik asam fluorida dan pada tingkat lebih rendah seperti asam sulfur, asam
ini menembus stroma kornea jauh lebih mudah daripada basa. Ion hidrogen menyebakan
kerusakan akibat perubahan pH, sedangkan anion menyebabkan pengendapan dan perubahan
sifat pada epitel kornea dan superfisial stroma. Pengendapan protein epitel memberikan
beberapa perlindungan pada stroma kornea dan struktur intraokular. Namun, asam yang
sangat kuat mampu menembus secepat kilat seperti basa. Tidak ada perbedaan statistik antara
luka bakar basa dan asam yang ditemukan dalam perjalanan klinis dan prognosis mata.

Klasifikasi klinis luka bakar kimia dan panas


Luka bakar mata diklasifikasikan dalam 4 derajat. Perjalanan klinis dan prognosis
akhir berhubungan dengan tingkat iskemia limbus. Prognosis juga bergantung pada tingkat
kerusakan konjungtiva dan jaringan episklera, beratnya lapisan yang terbakar dan kerusakan
terhadap struktur intraocular.
Luka bakar derajat I dan II dikaitkan dengan hiperemia, ekimosis konjungtiva kecil,
dan ekimosis seperti erosi epitel kornea (Gambar 1 dan 2). Pada luka bakar asam ringan,
koagulasi epitel kornea sering memperlihatkan gambaran ground-glass. Setelah
menghilangkan epitel memungkinkan stroma kornea menjadi jelas terlihat.
Luka bakar derajat III dan khususnya derajat IV adalah luka bakar luas yang disertai
kerusakan dalam terhadap jaringan (Gambar 3 dan 4). Khasnya yaitu luasnya area jaringan
konjungtiva dan subkonjungtiva yang terlibat. Pembuluh darah terlihat trombosis dan tampak
gelap. Keratosit kornea hilang dan hidrasi dari perubahan protein menyebabkan kornea
menjadi opak. Trauma zat kimia pada iris dan lensa kristal lensa dapat menimbulkan
midriasis, yaitu iris tampak keabu-abuan dan berkembang cepat menjadi katarak. Sel pada
dinding anterior yang hancur akan merusak dinding pembuluh darah aqueous dan berlanjut
menjadi iridosiklitis dan eksudat fibrin-fibrin.
Zat-zat toksin seperti prostaglandin, zat-zat radikal superoksida, dan histamin,
angiotensin, leukotriene dan zat-zat lain yang dilepaskan dari sel jaringan yang terbakar dan
jaringan nekrotik. Respon awal dari sebuah inflamasi adalah zat-zat tersebut berdifusi
kedalam jaringan yang sehat. Pada luka bakar ringan, reaksi ini sembuh lebih cepat,
sementara pada luka bakar sedang dan berat, proses proses inflamasi berat terjadi dalam
jangka panjang yang menentukan perjalanan klinis dari mata yang terbakar.

3
Gambar 1. Trauma mata kimia derajat I ; Asam hidroklorida (HCL). Luka bakar hanya terjadi pada
kornea. Koagulasi epitel kornea terlihat dengan gambaran ground glass. Penghilangan sebagai epitel
membuat stroma kornea menjadi jelas.

Gambar 2. Trauma kimia derajat II; kapur (CaOH). Defek pada epitel sentral, iskemik pada sebagian
limbus di quadran inferior nasal.

Gambar 3. Luka bakar kimia derajat III; Sodium hidroksida (NaOH). Defek pada kornea dan epitel
konjungtiva proksimal disertai hilangnya kejernihan pada stroma kornea. Iskemik limbus dibagian
kuadran inferior.

4
Gambar 4. Trauma kimia derajat IV: sodium hidroksida (NaOH). Transparansi kornea hilang, uvea
ekstropion dan pembentukan katarak, sirkuler konjungtiva hilang dan jaringan tissue episklera turun
ke bawah forniks. Sklera iskemik.

Tabel 2. Klasifikasi klinis dan prognosa mata yang terbakar


Derajat I II III IV
Penampakan Erosi Erosi Erosi Erosi
Iskemik limbus Hiperemis Iskemik limbus Iskemik limbus Kemosis
>3/4 >1/3 >1/2 Nekrosis yang
Kemosis luas
Keburaman Opak
(opak)
Hasil klinis Regenerasi Resirkulasi Vaskularisasi Ulserasi
Ulserasi Atrofi iris
Proliferasi Katarak
Sikatrik Glaukoma
Prognosis Sembuh Sembuh Skar (jaringan
sempurna sempurna parut)
Operasi multipel Jaringan parut Operasi multipel
untuk yang kecil untuk
rehabilitasi rehabilitasi
kosmetik kosmetik

Tatalaksana emergensi
Irigasi segera adalah tindakan paling penting setelah terkena luka bakar panas atau zat
kimia. Pada banyak kasus, korban mengalami kelumpuhan karena blefarospasme reflektor
berat disertai disorientasi. Pada situasi ini korban membutuhkan penyelamat untuk
memindahkannya dari area berbahaya dan memberikan bantuan yang efisien dan cepat
terhadap mata dan tubuh mereka.

5
Bantuan pertama yang efektif adalah mengetahui bagaimana mengatasi blefarospasme
melalui membuka kelopak mata secara pasif dan mengetahui bagaimana melakukan irigasi
mata secara efektif. Semua bagian konjungtiva dan kornea harus di irigasi, dan pasien
diminta untuk melihat ke segala arah. Pemberian anestesi lokal pada mata dapat dilakukan
untuk mengurangi rasa nyeri dan untuk memudahkan irigasi. Berdasarkan standar American
National Standards Institute (ANSI) (Z358.1 1990) luka bakar mata berat harus dibilas
selama 15 menit. Setidaknya membutuhkan sekitar 5001000 mL cairan irigasi. Larutan
amfoter atau buffer dapat menormalkan pH diruang anterior mata saat itu juga. Partikel
kadang-kadang kadang akan terjebak di bawah kelopak mata bagian atas. Oleh karena itu,
ektropinisasi dan pembersihan intensif dari cul-de-sac adalah wajib pada setiap luka bakar.
Bahan yang mengandung kalsium oxid (kapur, debu semen) berekasi kuat dengan air untuk
menghasilkan kalsium hidroksida dengan pH 12,4. Sebuah kapas lidi yang direndam dalam
EDTA 1% (EDTA, disoium-etilen-diamintetra-asetat) dapat digunakan sebagai fasilitas
pembersih cul-de-sac dari kalsium hidroksida. Irigasi segera juga sangat penting pada luka
bakar panas, karena hal ini mendinginkan permukaan mata. Irigasi terus menerus juga
menghilangkan zat-zat inflamasi dari permukaan ocular.

Pertolongan pertama dengan irigasi segera yang intensif memiliki pengaruh dalam
menentukan perjalanan klinis dan prognosis mata. Perbandingan antara hasil visus yang lebih
baik dari 1/50 dengan visus yang kurang dari 1/50 menunjukkan perbedaan yang signifikan,
diperoleh hasil signifkan yang lebih baik pada kasus yang dilakukan irigasi mata segera.
Ketajaman penglihatan lebih dari 1/50 memungkinkan pasien untuk bergerak tanpa bantuan
orang lain. Jumlah operasi dan lamanya rawatan di bangsal RS juga berkurang secara
signifikan pada mata yang menerima irigasi secara tepat.

Pilihan cairan irigasi


Luka bakar disertai dengan hilangnya epitel kornea dalam beberapa detik. Salah satu
tujuan terapi irigasi adalah untuk menghapus zat-zat kimia yang dilepaskan saat luka bakar
terjadi.
Air umumnya direkomendasikan sebagai cairan irigasi. Air tersedia hampir dimana-
mana, dan jumlah air yang berlebihan memiliki efek dilusi. Namun, air bersifat hipotonik
terhadap stroma kornea dan disekitar intraokular. Pada pengukuran osmolaritas, Schrage dkk
menemukan bahwa stroma kornea memiliki osmolaritas 420 mOsm/L. Jaringan kornea
mengalami dilusi (pengenceran) akibat bilasan air disertai dengan meningkatnya penyerapan
air dan difusi zat-zat korosif ke dalam lapisan yang lebih dalam dari kornea. Oleh karena itu,

6
kami merekomendasikan penggunaan cairan dengan osmolaritas tinggi untuk irigasi awal
dalam mencegah masuknya air ke dalam kornea dan untuk memungkinkan mobilisasi air dan
zat-zat korosif keluar dari jaringan yang terbakar.
Tabel 3. Nilai dari terapi pembilasan segera versus hasil klinis pada pasien luka bakar berat
(101 pasien, 131 mata)
Pembilasan Jumlah operasi Rawat inap Ketajaman visus
Segera 6.5 4.6 4.2 2.8 45 (76%)
Terlambat / tidak dilakukan 10.4 10 6.0 4.5 22 (55%)
Uji T-Test tidak berpasangan, P<0.005

Normal saline (NS), yang sering direkomendasikan sebagai cairan irigasi, juga
memiliki osmolaritas rendah dibandingkan cairan air mata. Normal saline gagal untuk
menormalkan pH dari ruang anterior bahkan setelah dilakukan irigasi dalam jangka yang
lama. (Tabel 4).

Tabel 4. pH dari permuaan kornea dan dinding anterior mata setelah dibilas dengan
perbedaan cairan irigasi (eksperimental pada luka bakar mata selama 30 detik pada setiap 1
pasien)
pH permukaan Dinding anterior
kornea
Langsung setelah terbakar 13 0 10 0

5 menit setelah terbakar 90 10 0


Dengan 500 mL normal saline
5 menit setelah terbakar 7.5 0 9.25 0.44
Dengan 500 mL buffer fosfat
5 menit setelah terbakar 7.5 0 9.34 0.59
Dengan 500 mL diphoterine

Buffer fosfat sering disebut sebagai larutan buffer ideal. Alasannya disebabkan karena
penggunaaannya yang semakin meluas di banyak pabrik. Namun, dalam sebuah penelitian
eksperimental didapatkan bahwa kalsifikasi dari superfisial stroma terjadi pada 100% semua
hewan percobaan setelah terbakar dengan NaOH selama 30 detik dan dilakukan irigasi segera
dengan 500 mL buffer fosfat. Kami menduga bahwa eksogen yang diberikan pada fosfat
bereaksi terhadap kalsium endogen yang dilepaskan dari sel-sel yang pecah hingga
menghasikan kalsium fosfat kompleks.

Saat ini, ada penelitian eksperimental yang dilakukan untuk menemukan cairan irigasi
yang memiliki osmolaritas hampir sama dengan stroma kornea. Saat ini cairan yang tersedia
cocok untuk irigasi steril adalah ringer laktat (RL) dan larutan garam seimbang (BSS). Ringer
7
laktat adalah larutan buffer dan mungkin lebih efektif daripada normal saline. Osmolaritas
BSS mirip dengan aquoeus humor, pH nya netral dan mengandung natrium asetat dan sitrat.
Larutan garam seimbang memiliki kapasitas buffer yang lebih tinggi yang mencegah kornea
dari pembengkakan dan mempertahankan endotel kornea.

pH, osmolaritas dan kapasitas buffer dari aquous humour, stroma kornea dan beberapa
cairan irigasi dapat dilihat pada Tabel 5.

Sebuah larutan amfoter terbaru yang cocok untuk irigasi adalah Diphoterine. Ini
adalah cairan senitizer yang mampu mengikat basa dan asam. Diphoterine memiliki pH 7,4
dan osmolaritas 820 mosml/L. pH dari sakkus konjungtiva dan stroma kornea berkurang
dengan cepat setelah dilakukan irigasi dengan buffer fosfat. Kandungan dari Diphoterine
dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 5. pH, osmolaritas, kandungan dan kapasitas buffer dari aquous humour, stroma kornea
dan perbedaan cairan irigasi.
pH Osmolaritas Kandungan Kapasitas buffer
Aquous humour 7.4 304 Na, K, Cl, Ca, PO4, 0.0008
protein
Stroma 7.4 420 Na, K, Cl, Ca, SO4,, 0.0004
PO4, protein, lipid,
glikosaminoglikan
Normal saline 7.0 290 Na, Cl 0.0002
Fosfat buffer 7.4 260 Na, K, PO4, 0.00625
Ringer Laktat 5.0-7.5 280-309 Na, K, Ca, Cl, laktat 0.00069
Larutan garam 7.2 310 Na, K, Ca, Cl, laktat, 0.001
seimbang (BSS) sitrat, asetat
Diphoterine 7.4 820 Diphoterine, Na, Cl, 0.2
glisin

Tabel 6. Kandungan diphoterine


Amfoter : Diphoterine 3.8 / 100 mL
NaCl 1.8 / 100 mL
Glisin 0.75 / 100 mL
Bahan pengawet 0.05 / 100 mL
Aqua ad 100 mL

Permasalahan transportasi
Asam dan basa kuat mampu menembus dalam hitungan detik atau menit dan menetap
selama berjam-jam, irigasi tidak boleh terputus dilakukan selama transportasi ke unit
perawatan mata yang lebih profesional. Rekomendasi untuk waktu irigasi minimum adalah

8
15 menit menurut standar ANSI, hingga 24 jam menurut Pfester, Saari dkk. Kami
merekomendasikan penggunaan infus set intravena untuk mengalirkan air sedikitnya
5001000 mL cairan irigasi. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, salah satu penolong
harus membuat kelopak mata agar terbuka, sedangkan penolong kedua membilas mata
dengan ringan secara langsung dan mengontrol kekuatan cairan. Pemberian obat anestesi
lokal dapat dilakukan berulang kali jika perlu untuk meringankan rasa nyeri dan untuk
memfasilitasi irigasi.
Efektifitas dari terapi pembilasan dapat dinilai menggunakan kertas indikator
universal untuk membedakan pH eksternal mata. Irigasi harus dilanjutkan selama mungkin
agar bagian diluar mata berada dalam batas normal. Jika irigasi dalam jangka lama tidak
mampu menormalkan pH, satu hal yang menjadi pertimbangan adalah adanya kemungkinan
masih ada partikel di dalam cul-de-sac superior atau inferior.

Program perawatan
Program perawatan luka bakar tergantung pada derajat trauma. Selanjutnya prosedur
terapi yang dilakukan sesuai dengan luasnya kerusakan. Bila trauma ringan (derajat I dan II)
dan irigasi harus segera dimulai, mata akan sembuh tanpa kerusakan permanen dalam
beberapa hari. Steroid topikal / anti inflamasi tetes dapat diberikan sebagai tatalaksana pada
luka bakar ringan. Selanjutnya follow up terapi selama 24 jam harus dilakukan.
Pada luka bakar mata berat (derajat III dan IV) sulit diterapi dan proses
penyembuhannya sering mememerlukan waktu hingga beberapa bulan. Pada kasus-kasus
tersebut, klasifikasi secara akurat merujuk pada luasnya iskemik limbus, dan seberapa
dalamnya kerusakan jaringan sangatlah penting. Sebuah pemeriksaan dengan menggunakan
mikroskop sangat dianjurkan. Anestesi lokal antara bola mata atau anestesi umum kadang-
kadang dibutuhkan bila pasien mengalami nyeri dan anestesi lokal tetes tidaklah cukup.
Luka bakar mata yang lebih berat (derajat III) ditandai dengan iskemik superfisial dari
jaringan konjungtiva. Pada kasus dimana struktur dinding anterior mata masih utuh dan tidak
ada kerusakan pada iris, ekropium uvea atau eksudat fibrin-fibrin, manajemen perawatan
yang dapat dilakukan lebih dari terapi konsevatif. Rawat inap dan tata laksana di klinik mata
di sekitar bahkan diperlukan.
Pada luka bakar yang paling berat (derajat IV) yaitu iskemik yang meluas secara
signifikan ke limbus dan nekrosis pada bulbar dan konjungtiva tarsal, jaringan nekrosis
hingga ke forniks. Pada kasus dengan nekrosis superfisial, pembuluh episklera masih dapat
melakukan perfusi sementara nekrosis pada jaringan episklera yang lebih dalam dikaitkan

9
dengan thrombosis dari pembuluh episklera. Pada kasus-kasus yang seperti itu, kornea
menjadi buram sering terjadi dan struktur anterior mata menjadi tidak jelas. Warna keabu-
abuan pada iris, ekstropium uvea, dan rusaknya lapisan pembuluh darah aquous disertai
eksudat fibrin ke dalam dinding anterior mata mengkonfirmasi terjadinya kerusakan
kerusakan segmen anterior yang dalam. Pelupuk mata dan bagian konjungtiva tarsal juga
sering terlibat. Banyak masalah yang muncul pada fase akut luka bakar.
Nekrosis pada konjungtiva dan jaringan subkonjungtiva disertai dengan adanya
eksudat leukosit (sel PMN). Adanya pelepasan leukosit dalam jumlah banyak dihasilkan dari
enzim lisosom. Matriks metalloproteinase (MMP), kolagenase (MMP-1 dan MMP-8), gelatin
(MMP-2, MMP-9) secara khusus bertanggung jawab dalam memisahkan molekul kolagen
dan perkembangan dari kornea sklera dan ulserasi kornea, ditandai 4-6 minggu setelah
trauma.
Prinsip dasar terapi adalah mengurangi respons inflamasi yang disebabkan oleh
jaringan nekrotik. Terapi utama adalah memberikan kortikosteroid sedini mungkin.
Selanjutnya, pemberian antibiotic lokal diperlukan untuk mencegah infeksi mikroba hingga
terjadi reepitelisasi kembali pada permukaan ocular. Turunan tetrasiklin berperan penting
karena telah memperlihatkan tetrasiklin mampu menghambat metalo-proteinase tergantung
pada sifat antimikrobanya.
Disamping terapi konservatif, intervensi pembedahan secara aktif dengan
debridement jaringan nekrotik pada konjungtiva dan subkonjungtiva diperlukan guna
menghilangkan inflamasi yang berkelanjutan dan akumulasi dari PMN dan mencegah
pelepasan zat-zat yang merusak enzim. Rekonstruksi yang disarankan seperti tenonplasti
yang membuat avascular sclera hingga menutup jaringan dari equator bola. Keuntungan
utama dari jaringan ini adalah mampu merekonstruksi matriks konjungtiva mata dan
vaskularisasi limbus. Intervensi-intervensi tersebut mencegah nekrosis segmen anterior dan
atau ulserasi steril dan mata dapat diselamatkan. Hal tersebut memungkinkan dilakukan
sebagai tata laksana di klinik spesialis mata dan sudah lazim dengan prosedur spesialis dalam
rekonstruksi bedah plastik.

10
mammalian collagenase activity. J Dent der augen: ursachen, behandlung und
References Res 66: 13101314. prven-tion. Arbeitsmed Sozialmed
Grant WM (1974): Toxicology of the Eye. Umweltmed 30: 2233.
Ballen PH (1963): Mucous membrane grafts
In: Charles C Thomas (ed.) Drugs, Kuckelkorn R, Redbrake C, Kottek A,
in chemical (lye) burns. Am J Ophthalmol
55: 302312. Chemicals, Plants, Venoms. Springfeld: Feld-mann P & Reim M (1995): Tenon-
522 and 96 101. plastik und frhkeratoplastik bei
Beare JDL (1990): Eye injuries from assault
Grant W & Kern H (1955): Action of basas schwerstvertzten augen.
with chemicals. Br J Ophthalmol 74: 514
on the corneal stroma. Arch Ophthalmol Ophthalmologe 92: 439444.
518.
54: 931939. Kuckelkorn R & Reim M (1993):
Graupner O & Hausmann H (1970): Die Wiederher-stellungsoperation nach
Brion M, Lambs L & Berthon G (1985): Metal
nderung des pH-Wertes in der Vorderk- schwerster vert-zung mit perforation.
iontetracycline interactions in biological
ammer des Kaninchenauges nach Fortschr Ophthalmol 90: 716719.
fluids: Formation of zinc complexes with
Vertzung mit kleinsten Mengen Kuckelkorn R, Schrage N & Reim M
te-tracycline and some of its derivates and
laborblicher Kon-zentrationen von (1995): Treatment of severe eye burns
as-sessment of their biological signifcance.
Sure und Lauge. Albrecht Von Graefe's by tenon-plasty. Lancet 345: 657658.
Agents Actions 17: 229242.
Arch Clin Exp Ophthalmol 180: 60. Kulkarni P & Srinivasan B (1983):
Burns FR & Paterson CA (1989): Prompt irri-
Herr R, White G, Bernhisel K, Mamalis N Synthesis of slow reacting substance-
gation of chemical eye injuries may avert
se-vere damage. Occup Health Saf 58: & Swanson E (1991): Clinical like activity in rab-bit conjunctiva and
3336. comparison of ocular irrigation fluids anterior uvea. Invest Ophthalmol Vis Sci
following chemical in-jury. Am J Emerg 24: 10791085.
Burns FR, Stack M & Gray R (1989): Inhi-
Med 9: 228231. Kuter I, Johnson-Wint B, Beupre N &
bition of purifed collagenase from basa-
burned rabbit corneas. Invest Ophthalmol Hook C, Brown S, Iwanji W & Nakanishi I Gross J (1989): Collagenase secretion
Vis Sci 30: 15691575. (1971): Characterization and inhibition accompanying changes in cell shape
of corneal collagenase. Invest occurs only in the pres-ence of a
Chin J, Murphy G & Werb Z (1995):
Ophthalmol Vis Sci 10: 496503. biologically active cytokine. J Cell Sci
Stromely-sin, a connective-tissue degrading
metalloen-dopeptidase secreted by rabbit Hughes WJ (1946): Basa burns of the eye. 92: 473492.
synovial fbroblasts in parallel with II. Clinical and pathological course. Arch Lau L (1979): Continuous lavage in
collagenase. J Biol Chem 260: Ophthalmol 36: 189214. (chemical) corneal lesions. Doc
1236712376. Huhtala P, Chow L & Tryggvason K Ophthalmol 46: 215 218.
Cohen KL & Hyndiuk RA (1978): Ocular (1990): Structure of the human type IV Laux U, Roth H & Steinhardt B (1975):
emergencies. Am Fam Physician 18: collagenase gene. J Biol Chem 265: Die Wasserstoffonen-konzentration des
178184. 1107711082. Kam-merwassers nach Basaverletzung
Collier I, Smith J & Kronberger A (1988): The Itoi M, Gndiger M & Slansky H (1969): der Hornhaut und deren therapeutische
structure of the human skin fbroblast col- Collagenase in the cornea. Exp Eye Res Beein-flubarkeit. Graefe's Arch Clin
lagenase gene. J Biol Chem 263: 10711 8: 369. Exp Ophthalmol 195: 3340.
10713. Johnson-Muller B & Gross J (1978): Leibowitz HM (1980): Management of in-
Collier I, Wilhelm S & Eisen A (1988): H-ras Regula-tion of corneal collagenase flammation in the cornea and
oncogene-transformed human bronchial production: epi-thelialstromal cell conjunctiva. Ophthalmology 87:
epithelial cells (TBE-1) secrete a single interactions. Proc Natl Acad Sci USA 75: 753758.
metalloprotease capable of degrading base- 44174421. Liggett P (1989): Ocular trauma in an
ment membrane collagen. J Biol Chem 263: Keeney A (1974): Prevention of ocular urban population. Ophthalmology 97:
1071110713. injuries. Int Ophthalmol Clin 14: 110. 581584.
Donshik PC, Berman MB, Dohlman CH et al. Kenyon KR (1985): Inflammatory Lubeck D & Greene J (1988): Corneal
(1978): Effect of topical corticosteroids on mechanisms in corneal ulceration. Trans injuries. Emerg Med Clin North Am 6:
ulceration in basa-burned corneas. Arch Am Ophthalmol Soc 83: 610663. 7394.
Ophthalmol 96: 21172120. Kuckelkorn R (1996): Epidemiologie und MacEwen C (1989): Eye injuries: a
Eakins K & Bhattacherjee P (1977): chi-rurgische Behandlung schwerster prospective survey of 5,671 cases. Br J
Histamine, protaglandins and ocular Vertzung-en und Verbrennungen der Ophthalmol 73: 888894.
inflammation. Exp Eye Res 24: 299305. Augen. Habili-tationsschrift. Thesis. McCulley JP (1987): Chemical injuries. In:
Fini M & Girard M (1990): Expression of col- Kuckelkorn R, Kottek A, Schrage N & Smolin, G, Thoft, RA (eds.): The
lagenolytic/gelatinolytic metalloproteinases Reim M (1995): Poor prognosis of Cornea. Boston. Little Brown: 527.
by normal cornea. Invest Ophthalmol Vis severe chemi-cal and thermal burns. The McDermott MI, Edelhauser HF, Hack HM
Sci 31: 17791788. need for ade-quate emergency care and et al. (1998): Ophthalmic irrigants. A
Friedenwald J, Hughes W & Hermann H primary preven-tion. Int Arch Occup current review and update. Ophthalmic
(1944): Acid-base tolerance of the cornea. Environ Health 67: 281284. Surg 19: 724733.
Arch Ophthalmol 31: 279283.
Friedenwald JS, Hughes WF & Hermann H Kuckelkorn R, Kuwert T, Melzer T & Reim McNamara MJ, Seaber AV & Urbaniak
(1946): Acid burns of the eye. Arch M (1987): Hornhautbefunde bei JR (1987): Effect of irrigation fluids on
Ophthal-mol 35: 98108. schwersten vertzungen und arterial and venous endothelium after
Girard LJ, Alford WE, Feldman GL & Willi- verbrennungen der augen. Fortschr O ischemia. J Reconstruct Microsurg 4:
ams B (1970): Severe basa burns. Trans Am phthalmol 84: 540544. 2732.
Acad Ophthalmol Otol. Kuckelkorn R, Luft I, Kottek A, Schrage N, Moon MEL & Robertson IF (1983): Retro-
Girard LJ & Soper J (1966): Flush-ftting Makropoulos W & Reim M (1993): spective study of basa burns of the eye.
scleral contact-lenses. Am J Ophthalmol 61: Vert-zungen und verbrennungen im Aust J Ophhalmol 11: 281286.
169183. Einzugsbere-ich der RWTH Aachen. Morgan L (1971): A new drug delivery
Klin Monatsbl Aug-enheilkd 203: 3441. system for the eye. Industrial Med 40:
Golup L, McNamara T, D'Angelo G &
Kuckelkorn R, Makropoulos W, Kottek A & 1113.
Greenwald RA (1987): A non antibacterial
chemically-modifed tetracycline inhibits Reim M (1995): Chemische vertzungen Morgan S (1987): Chemical burns of the

11
eye: causes and management. Br J im dauertropfverfahren. Klin Monatsbl epithelial wound healing in the rabbit
Ophthalmol 71: 854857. Aug-enheilkd 144: 597600. basa-burn model. Preliminary
Morris R, Witherspoon C & Helms HJ (1987): Newsome N & Gross J (1977): Prevention observations. Cornea 12: 379382.
Eye injury Registry of Alabama by medroxyprogesteron of perforation in Pfster R, Haddox J, Dodson RW & de
(preliminary report): demographics and the al-kali-burnt rabbit cornea: inhibition Shazo W (1984): Polymorphonuclear
prognosis of se-vere eye injury. South Med of colla-genolytic activity. Invest leukozytic inhi-bition by citrate, other
J 80: 810881. Ophthalmol Vis Sci 16: 2131. metal chelators and trifluoperazine:
Naumann (1964): Ein einfacher vorschlag zur Perry H, Hodes L & Seedor J (1993): Effect evidence to support calcium binding
behandlung des vorderen augenabschnittes of doxycycline hyclate on corneal protein involvement. Invest Ophthal-mol
Vis Sci 25: 79.
Pfster R, Nicolaro M & Paterson CA (1981): 653. Schrage N, Flick S & Aschenbrenner W
Sodium citrate reduces the incidence of cor- Roth H (1993): Untersuchungen zur sofort- (1996): Rinsing therapy in severe basa
neal ulcerations and perforations in extreme behandlung von augenvertzungen mit burns of rabbit eyes. Vision Res
basa-burned eyes-acetylcycteine and ascor- ei-nem phosphatpuffer. Augenspiegel 39: Supplement 1: 248.
bat have no favorable effect. Invest 6 11.
Ophthal-mol Vis Sci 21: 486490. Saari K, Leinonen J & Aine E (1984): Schrage NF, Flick S & Fischern von T
Poser E (1983): The emergency therapy of Manage-ment of chemical eye injuries (1997): How do different types of
burns. IMJ 164: 186187. with prolonged irrigation. Acta bandages influ-ence the corneal
Reim M (1982): The clinical signifcance of Ophthalmol Suppl 161: 52 59. temperature. Ophthalmolo-ge 94:
pro-teolytic enzymes and glycosidases in 492495.
corneal disease. Trans Asian Pacifc Acad Schulze F & Tost M (1967): Neue
Ophthal-mol 3: 342346. applikatoren zur dauertropftherapie in
Reim M (1987): Zur behandlung von der ophthalmolog-ie und ihre
schwersten vertzungen und verbrennungen anwendungsmglichkeiten. Klin
der binde-haut. Fortschr Ophthalmol 84: Monatsbl Augenheilkd 151: 471477.
4654. Seedor J, Perry H & McNamara T (1987):
Reim M (1987): Zur pathophysiologie und Sys-temic tetracycline treatment of basa-
ther- in-duced corneal ulceration in rabbits.
apie von vertzungen. Fortschr Ophthalmol Arch Ophthalmol 105: 268271.
84: 6569. Struck H, Geiser H & Taube C (1991): The
Reim M (1990): Ein neues antiphlogistic effect of the ginkgolide
behandlungskonzept fr schwere BN 52021 in the chemically burned
vertzungen und verbrennungen der augen. rabbit eye. Klin Monatsbl Augenheilkd
Klin Monatsbl Augenheilkd 196: 15. 199: 278282.
Reim M (1992): The results of ischemia in Tan B (1970): Oklahoma eye irrrigation
chemical injuries. Eye 6: 376380. tube. Trans Am Acad Ophthalmol
Reim M, Bahrke C, Kuwert T & Kuckelkorn Otolaryngol 74: 435437.
R (1993): Investigation of enzyme activities Tannen M & Marsden J (1991): Chemical
in severe burns of the anterior eye segment. burns of the eye. Nurrsing Standard 6:
Gra-efe's Arch Clin Exp Ophthalmol 231: 24 26.
308 312.
Reim M & Kuckelkorn R (1992): Chemical Thiel R (1965): Behandlung von
and thermal lesions in the orbital region. vertzungen. Klin Monatsbl
Bull Soc Belge Ophthalmol 245: 2128. Augenheilkd 146: 581587.
Reim M & Kuckelkorn R (1995): Vertzungen Thielsch J, Parver L & Shankar B (1989):
und verbrennungen der augen. Akt Aug- Time trends in the incidence of acute
enheilk 20: 7689. hospitalized ocular trauma. Arch
Reim M & Leber M (1993): N-Acetylglucosa- Ophthlamol 107: 519 523.
minidase activity in corneoscleral ulceration Watz H & Reim M (1973): Aus der
after severe eye burns. Cornea 12: 17. unfallstatis-tik einer lndlichen
Reim M & Schmidt-Martens FW (1982): Be- augenklinik. Klin Mon-atsbl
handlung von vertzungen. Klin Monatsbl Augenheilkd 162: 648655.
Augenheilkd 181: 19. Williams R, Bhattacherjee P & Eakins K
Reim M & Teping C (1989): Surgical pro- (1983): Biosynthesis of lipoxygenase
cedures in the treatment of severe eye prod-ucts by ocular tissues. Exp Eye Res
burns. Acta Ophthalmol Suppl 67: 4754. 36: 397 402.
Rochels R, Busse W, Hackelbusch R &
Knieper P (1982): Prostaglandin- Zagelbaum B, Tostanowski J, Kerner D &
konzentrationsbes-timmung im Hersh P (1993): Urban eye trauma. Oph-
kammerwasser nach der binde-haut- thalmology 100: 851856.
hornhautvertzung: korrelation bio-
chemischer, funktioneller und morpholog-
ischer befunde. Fortschr Ophthalmol 80: Received on April 9th, 2001.
145147. Accepted on September 9th, 2001.
Rodeheaver GT, Hiebert JM & Edlich RF
(1982): Initial treatment of chemical skin Correspondence:
and eye burns. Compre Ther 8: 3743. Ralf Kuckelkorn, MD
Roper-Hall MJ (1965): Thermal and chemical Wilhelmstrasse 8
burns. Trans Ophthalmol Soc UK 85: 631 52070 Aachen

12
German. 10.

13