Anda di halaman 1dari 48

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman i

DAFTAR ISI

PRAKATA
TATA TERTIB LABORATORIUM
LAPORAN PRAKTIKUM

MATERI PRAKTIKUM :

I. DASAR EKSPERIMEN FARMAKOLOGI (T,M)

II. PENGUJIAN AKTIVITAS OBAT SEDATIF HIPNOTIK (M)

III. PENGUJIAN AKTIVITAS OBAT ANALGETIKA (T + DEMO M)

IV. PENGUJIAN AKTIVITAS OBAT STIMULANSIA (M)

V. PENGUJIAN AKTIVITAS OBAT ANTIINFLAMASI (T)

VI. PENGUJIAN AKTIVITAS OBAT ANTIPIRETIKA (M)

VII. SIMULASI KOMPUTER : EFEK OBAT PADA MATA KELINCI

VIII. PENGUJIAN AKTIVITAS OBAT KOLINERGIK DAN ANTIKOLINERGIK (M)

IX. SIMULASI KOMPUTER : EFEK OBAT PADA SISTEM KARDIOVASKULAR

X. PENGUJIAN AKTIVITAS OBAT DIURETIKA (T)

XI. GLUCOSE TOLERANCE TEST (T)

XII. SKRINING FARMAKOLOGI (M)

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman ii


JADWAL PRAKTIKUM FARMAKOLOGI GENAP 2016/2017

NO. Tanggal Praktikum (2017) MATERI


1. 24 - 26 Januari Responsi
2. 31 Januari - 2 Februari Dasar Eksperimen Farmakologi
3. 7 - 9 Februari Sedatif Hipnotik
4. 14 - 16 Februari Uji Analgesik
5. 21 - 23 Februari Uji Stimulan
6. 28 Februari - 2 Maret Uji Anti-inflamasi
7. 7 - 9 Maret Uji Antipiretik
Ujian Tengah Semester
Efek Obat pada Mata Kelinci
8. 28 - 30 Maret
Rabu, 29 Maret diganti Rabu, 17 Mei
9. 4 - 6 April Uji Efek Kolinergik dan Antikolinergik
Efek Obat pada Sistem Kardiovaskular
10. 11 - 13 April
Kamis, 13 April diganti Jumat, 19 Mei
11. 18 - 20 April Uji Diuretik
12. 25 - 27 April Glucose Tolerance Test
13. 2 - 4 Mei Skrining Farmakologi
14. 9 - 11 Mei Inhal
15. 16 -18 Mei Pengganti Praktikum
Ujian Akhir Semester

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman iii


PRAKATA

Puji syukur atas segala karunia yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kasih, karena berkat
dan rahmat-Nya saja maka buku petunjuk praktikum farmakologi ini dapat disempurnakan setiap
tahun. Buku Petunjuk Praktikum Farmakologi ini diperuntukkan bagi mahasiswa Fakultas Farmasi
semester empat yang memprogram mata praktikum farmakologi sebagai salah satu mata praktikum
wajib. Praktikum ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, wawasan, dan keterampilan
mahasiswa dalam penanganan dan pemilihan hewan coba, metode uji, serta pengolahan dan
interpretasi data pada uji farmakologi obat. Di samping itu, praktikum ini juga memberikan
pengetahuan dan keterampilan dasar bagi mahasiswa skripsi dalam bidang farmakologi.
Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas jasa para senior
terdahulu dalam memberikan sumbangan ide, bimbingan, dan saran dalam penyempurnaan buku
petunjuk praktikum ini. Terima kasih atas bimbingan Dr. Nelly C. Sugiarso, Apt., atas semangat, ide,
dan materi yang diberikan dalam penyusunan buku petunjuk ini. Tidak lupa juga terimakasih penulis
kepada pimpinan laboratorium terdahulu dan rekan sejawat lainnya yaitu Imelda Liem, S.Si., Apt. dan
dr. Hanny Tanudjaya atas kebersamaan menyusun buku ini. Tidak terlupakan juga dr. Adrianta
Surjadhana, Dra. Idajani Hadinoto, M.S., Apt., Dra. Siti Surdijati., M.S., Apt. dan dr. Hidayat
Dharmasagara atas masukan yang diberikan guna kesempurnaan buku ini.
Akhir kata semoga buku petunjuk praktikum ini berguna bagi adik-adik mahasiswa dan rekan-
rekan sejawat sekalian. Semua masukan dan saran untuk perbaikan buku petunjuk ini akan selalu
dinantikan.

Surabaya, Januari 2017

Penulis

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman iv


TATA TERTIB LABORATORIUM BIOMEDIK

1. Waktu pelaksanaan praktikum sesuai jadwal yang telah ditentukan.


2. Praktikan diwajibkan datang tepat waktu.
3. Setiap praktikan diwajibkan mempelajari materi praktikum sebelum periode praktikum dimulai
karena diadakan prestest 15 menit sebelum praktikum dimulai.
4. Praktikan yang terlambat > 15 menit dari waktu praktikum tidak diperkenankan mengikuti
praktikum.
5. Praktikan yang datang 1 - 15 menit setelah praktikum dimulai (pretest dimulai) dapat mengikuti
pretest dengan pengurangan nilai hasil prestest sesuai waktu keterlambatannya.
6. Praktikum dilaksanakan dalam kelompok-kelompok yang sudah ditetapkan dan diawasi oleh
asisten yang bertugas.
7. Sebelum memulai praktikum, praktikan harus menandatangani daftar hadir.
8. Praktikan harus memiliki buku petunjuk praktikum.
9. Selama praktikum praktikan harus memakai jas lab meskipun responsi.
10. Praktikan putri dengan rambut panjang wajib mengikat rambutnya.
11. Praktikan dilarang memanjangkan kuku selama praktikum farmakologi.
12. Buku acuan (manual prosedur, jurnal, text book) dan alat yang diperlukan dapat dipinjam
selama praktikum. Semua properti laboratorium (buku dan alat) harus segera dikembalikan
dalam keadaan baik, bersih, dan kering pada akhir praktikum bersangkutan.
13. Apabila ada peralatan atau text book yang rusak atau hilang, praktikan atau kelompoknya
diwajibkan mengganti secepatnya.
14. Alat-alat kebersihan seperti 2 buah serbet (untuk alat dan untuk hewan), tissue roll, sabun, dll.
disiapkan sendiri oleh masing-masing kelompok dan dibawa setiap kali praktikum. Setiap
kelompok diwajibkan membawa satu bendel koran setiap praktikum.
15. Praktikum dilaksanakan selama 2 jam didahului dengan 15 menit pretest, 10 menit responsi,
karena itu diharapkan praktikan dapat mengatur sisa waktu untuk pengujian aktivitas sehingga
pengamatan cukup dilakukan.
16. Praktikum ini menggunakan hewan coba tikus dan mencit, karena itu penanganan pada hewan
coba harus diperhatikan sesuai petunjuk buku praktikum dan anjuran asisten yang bertugas.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman v


17. Praktikan wajib memperhatikan larangan larangan di bawah ini :
a. DILARANG membawa hewan coba sendiri dari rumah. Hewan coba yang digunakan
telah disediakan oleh laboratorium.
b. DILARANG membawa pulang hewan coba lab.
c. DILARANG mempermainkan hewan coba : mengganggu, melempar, menyakiti
hewan coba. Semua perlakuan harus sesuai dengan aturan yang ada dalam penanganan
hewan coba.
d. DILARANG memberikan obat lain selain obat yang telah diberikan oleh asisten dan
harus sesuai buku praktikum, BAIK DOSIS, RUTE PEMBERIAN MAUPUN
KONSENTRASI OBAT.
e. DILARANG membuat kegaduhan, menganggu rekan mahasiswa yang lain dengan
menggunakan hewan coba atau alat laboratorium (misalnya jarum suntik).
18. Semua pelanggaran atau kekerasan terhadap hewan coba di luar aturan yang ditentukan akan
mendapatkan sanksi berupa pengurangan nilai pretest (sangsi minimum) sampai dengan
pengurangan nilai ujian akhir (sangsi maksimum).
19. Bila terjadi kecelakaan dalam kegiatan praktikum seperti : tergigit hewan coba, tertusuk jarum
spuit, tersuntik cairan obat, dll. SEGERA MELAPOR PADA ASISTEN YANG BERTUGAS.
20. Praktikan yang berhalangan hadir saat praktikum tidak akan mendapatkan nilai pretest dan nilai
laporan.
21. Penilaian Praktikum
Nilai praktikum diambil dari :
a. nilai laporan;
b. nilai pretest dan skrining buta;
c. nilai ujian praktikum (ujian tulis, dan dijadwalkan saat ujian teori).
22. Ketentuan-ketentuan lain yang belum diatur dalam pelaksanaan praktikum famakologi ini
akan diatur kemudian.

Surabaya, Januari 2017

Koordinator Laboratorium Biomedik

Ivonne Soeliono, S.Farm., M.Farm.Klin., Apt.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman vi


LAPORAN PRAKTIKUM

1. Laporan praktikum dikumpulkan maksimal satu minggu setelah praktikum.


2. Setiap golongan membuat laporan praktikum diketik rapi dengan format sesuai penulisan
skripsi (beli bukunya di TU!)
3. Laporan dikumpulkan dalam map plastik snelhecter dan diberi identitas :

Golongan :
Hari :
Jam praktikum :
Kelompok pembuat laporan :
1. ........................ NRP
2. ........................ NRP
3. ...........dst.

4. Setiap laporan diberikan kepada dosen / asisten pemeriksa laporan :


1. Materi sedatif hipnotik : dr. Hidayat warna map : kuning
2. Materi analgesik : Bu Ivonne warna map : oranye
3. Materi stimulansia : Bu Sur warna map : biru
4. Materi antiinflamasi : Bu Yolenta warna map : hijau
5. Materi antipiretik : Bu Yuliana warna map : merah
6. Materi diuretika : Pak Sanky warna map : putih
7. Materi kolinergik : Bu Yolenta warna map : hijau
8. Materi GTT : Bu Sur warna map : biru
9. Materi skrining farmakologi : dr. Hidayat warna map : kuning
10. Materi Obat pada mata : Bu Yuliana warna map : merah
11. Materi Obat pada jantung : Bu Ivonne warna map : oranye
5. Laporan praktikum memuat :
a. Judul praktikum
b. Tujuan praktikum
c. Teori tentang obat uji
i. Penggolongan obat
ii. Farmakokinetika obat (ADME)
iii. Struktur obat
iv. Farmakodinamika obat

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman vii


v. ESO, Toksisitas obat
vi. Indikasi klinis obat
vii. Daftar produk dagang obat yang beredar dan industri pembuatnya
d. Metode pengujian aktivitas
i. Jenis obat (dosis, konsentrasi, rute pemberian)
ii. Cara perhitungan (dosis, pengenceran)
iii. Bahan penginduksi
iv. Klasifikasi dan jenis hewan coba yang digunakan
v. Alat alat yang digunakan
e. Skema kerja praktikum
f. Hasil praktikum (data atau tabel pengamatan) dari semua kelompok
g. Foto hasil pengamatan
h. Analisis perhitungan data
i. Pembahasan hasil praktikum
j. Penyelesaian tugas dari buku petunjuk praktikum
k. Usulan penelitian (untuk pengujian aktivitas farmakologi obat golongan yang diuji)
l. Daftar pustaka dan fotokopi lampiran jurnal
i. Jurnal yang dilampirkan minimal 6 jurnal + text book
ii. Text book untuk data obat (farmakokinetika obat, farmakodinamika obat)
iii. Jurnal jurnal :
1. Penelitian terbaru tentang obat yang digunakan
2. Penelitian obat-obat terbaru dari golongan obat yang diuji di praktikum
3. Metode uji untuk pengujian aktivitas farmakologi pada golongan obat
yang diuji (beberapa metode uji dengan hewan coba yang berbeda)
4. Dosis obat pada hewan coba
5. Pengujian aktivitas farmakologi pada tanaman (sesuai dengan aktivitas
farmakologi setiap materi)
iv. Jurnal yang diberikan harus disitasi dalam laporan praktikum baik dalam teori
tentang obat maupun pembahasan

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman viii


PENGANTAR EKSPERIMEN FARMAKOLOGI

1. Pendahuluan
Mencit merupakan hewan yang paling luas penggunaannya dalam eksperimen di bidang medik,
kimia, farmakologi, toksikologi, biologi, dan genetik. Bahan kimia, senyawa, obat, antibodi, sel atau
agen lainnya dapat dievaluasi aktivitas biologisnya dengan cara diberikan pada mencit. Pengetahuan
akan metode dan teknik pemberian obat, deposisi, dan nasib obat dalam tubuh mencit akan membantu
peneliti dalam memilih rute yang paling tepat sesuai tujuan penelitian. Rute pemberian sangat
bergantung pada sifat senyawa dan tujuan penelitian. Semua pemberian senyawa uji harus didasarkan
pada pengetahuan akan karakteristik kimia dan fisikanya. Setiap rute memiliki kelebihan dan
kekurangan, seperti dalam hal absorpsi, bioavailabilitas, dan metabolisme senyawa. Pertimbangan
dalam pemilihan rute meliputi pH, viskositas, konsentrasi, sterilitas, pirogenitas, iritansi dan toksisitas,
adanya senyawa yang membahayakan dan kesejahteraan hewan. Mencit harus dihindarkan atau
diminimalkan dari nyeri, penderitaan, dan bahaya jangka panjang. Oleh karenanya mencit harus
dikekang dengan teknik yang tepat. Personel yang melakukan eksperimen hewan juga harus terlatih
dalam penanganan dan pengekangan hewan coba. Pada akhirnya, rute pemberian, metode, jumlah dan
jenis senyawa yang disuntikkan harus disesuaikan dengan rekomendasi Komisi Etik Penelitian Hewan
Coba dan penelitian harus memperoleh Sertifikat Kelaikan Etik Penelitian pada Hewan Coba (Hirota
and Shimizu, 2012).

2. Prinsip Pemberian Senyawa pada Hewan Coba


2.1. Penanganan dan Pengekangan Hewan Coba
Penanganan dan pengekangan yang baik merupakan hal yang paling penting dalam mencapai
pemberian yang tepat. Pengekangan terkait dengan kesuksesan pemberian senyawa. Praktikan
sebaikya mengenakan sarung tangan karena pengekangan manual digunakan untuk injeksi. Ada dua
macam teknik pengekangan, yaitu satu tangan dan dua tangan (Hirota and Shimizu, 2012).

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman ix


Gambar 1. Teknik pengekangan dua tangan. (a) Mencit diletakkan di atas tutup kandang, satu tangan
menarik ekor ke belakang dengan perlahan. (b) Mencit dengan cepat dan kuat diambil pada bagian
tengkuk leher di belakang telinga menggunakan ibu jari dan jari telunjuk dari tangan lainnya. (c) Ekor
dipindahkan dari tangan yang satu ke daerah antara telapak dan jari manis kemudian dipegang dengan
kuat (d) Mencit terkekang (Hirota and Shimizu, 2012).

Gambar 2. Teknik pengekangan satu tangan. (a) Ekor diambil menggunakan ibu jari dan jari telunjuk
dari satu tangan. (b) Mencit diletakkan di atas tutup kandang dan ditarik perlahan ke belakang. (c) Ekor
dengan cepat digenggam di antara telapak dengan jari tengah/jari manis/jari kelingking lalu pegangan
ekor di antara ibu jari dan jari telunjuk dilepaskan. (d) dan (e) Lipatan kulit pada tengkuk leher segera
digenggam menggunakan ibu jari dan jari telunjuk. (f) Mencit terkekang (Hirota and Shimizu, 2012).

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman x


2.2. Lokasi Pemberian Senyawa
Rute pemberian pada mencit umumnya adalah injeksi subkutan, intraperitoneal, atau intravena.
Pemberian intramuskular dilakukan pada tikus dan tidak direkomendasikan pada mencit karena otot
yang terlalu kecil. Pemberian intraplantar, intrasplenik, dan intranodus linfatik harus dibatasi pada
kasus khusus. Area penyuntikan dicukur atau dibersihkan dengan air hangat bila perli sebelum kuit
dibersihkan dengan kapas yang dibasahi alkohol atau disinfektan (Hirota and Shimizu, 2012).
Senyawa yang akan disuntikkan harus disiapkan secara aseptik dan bebas pirogen, khususnya
untuk injeksi parenteral. Sterilisasi dapat dilakukan secara filtrasi. Perlu dipertimbangkan toksisitas
senyawa, volume, dan rute pemberian untuk mencegah kerusakan jaringan dan pemberian tepat dosis.
Pelarut atau pembawa yang umum digunakan karena tidak mempengaruhi kerja obat karena sifatnya
sendiri adalah air, air dengan NaCl 0,85%, air dengan polietilen glikol hingga 50%, air dengan Tween
80 maksimal 10%, air dengan metilselulosa atau karboksimetilselulosa 0,25%, dan minyak jagung/
sayur/kacang (untuk per oral dan per intramuskular) (Hirota and Shimizu, 2012).
Senyawa sebaiknya dipersiapkan sedekat mungkin dengan waktu penggunaannya karena dapat
rusak dalam pelarutnya bila dibiarkan dalam beberapa jam. Temperatur cairan harus setidaknya sama
dengan suhu ruangan karena injeksi larutan yang dingin dapat menyakitkan. Konsentrasi larutan dapat
bermacam-macam, namun konsentrasi rendah lebih diinginkan. Larutan konsentrasi tinggi dapat
diberikan per intravena dengan laju injeksi yang diperlambat. Larutan sebaiknya dalam rentang pH
4,5-8,0. Volume pemberian dibuat sekecil mungkin agar tidak mengejutkan mencit. Frekuensi
pemberian dibuat seminimum mungkin untuk menghindari stres yang tidak perlu. Laju absorpsi obat
dipengaruhi aliran darah dan luas permukaan pada tempat pemberian senyawa, kelarutan senyawa pada
jaringan, kelarutan lemak, sifat fisikokimia, derajat ionisasi dan ukuran molekul senyawa. Urutan laju
absorpsi secara umum iv > ip > im > sc > po (Hirota and Shimizu, 2012).
Ukuran jarum umumnya 26-27G, 12,5-15,6 mm (1/2 s.d. 5/8 inch). Diusahakan sekecil
mungkin untuk menghindari kebocoran cairan dan meminimalkan ketidaknyamanan pada hewan coba.
Volume spuit umumnya 1-2 mL dan bila pemberian < 1,0 mL dapat digunakan spuit dan jarum insulin.
Sebelum disuntikkan, gelembung udara pada cairan, spuit, dan jarum harus dibersihkan dengan
mengetuk sisi jarum suntik dan mengeluarkan udara secara perlahan hingga cairan pada ujung jarum
dapat mengeluarkan gelembung udara (Hirota and Shimizu, 2012).

3. Pemberian Senyawa Secara Enteral


Pemberian per enteral memberikan keuntungan yaitu volume pemberian yang dapat lebih besar
dan dapat mentoleransi pemberian larutan pH asam (hingga pH 3). Namun demikian pemberian per
enteral kurang mentoleransi larutan basa dan senyawa yang mudah dihancurkan oleh cairan lambung,

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman xi


serta adanya makanan mempengaruhi pengosongan lambung. Senyawa dapat diberikan dengan
dicampur makanan atau air (per oral) atau langsung disondekan (intragastrik). Pemberian per sonde
lebih disukai untuk menghindari ketidakpresisian jumlah senyawa yaang tertelan akibat adanya sisa
makanan/minuman hewan coba. Jarum berujung bola digunakan untuk mencegah kerusakan esofagus
atau penyuntikan melewati glottal yang terbuka hingga menuju trakea. Ukuran jarum sonde untuk
mencit dewasa adalah 22G (Hirota and Shimizu, 2012).

Gambar 3. Prosedur pemberian intragastrik menggunakan jarum sonde. (a) Sebelum menarik leher
mencit; (b) Terbentuk garis lurus antara mulut dan lambung; (c) injeksi intragastrik diberikan
menggunakan spuit 1,0 mL dengan jarum sonde 22G x 1,0 (Hirota and Shimizu, 2012).

4. Pemberian Senyawa Secara Parenteral


Pemberian senyawa uji adalah selain melalui saluran pencernaan adalah melalui injeksi, infusi,
aplikasi topikal, inhalasi, dan implan pompa osmotik atau pellet dengan pelepasan terkendali. Bila
volume larutan kecil maka senyawa diinjeksikan, sedangkan bila volume besar maka diinfusikan
(Hirota and Shimizu, 2012).

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman xii


Gambar Perbedaan pemberian senyawa dengan berbagai macam rute (Turner et al., 2011).

4.1. Injeksi Subkutan


Pemberian subkutan dapat dilakukan mencit dalam keadaan sadar karena jarang menyakitkan
dan relatif mudah. Laju absorpsi lebih lambat dibandingkan intraperitoneal atau intramuskular. Injeksi
subkutan dilakukan pada kulit yang longgar pada area interskapular atau inguinal (Hirota and Shimizu,
2012).

Gambar 4. Injeksi subkutan. (a) Injeksi subkutan pada dasar lipatan kulit yang longgar (area leher);
(b) injeksi subkutan pada kuadran kiri bawah (Hirota and Shimizu, 2012).

4.2. Injeksi intraperitoneal


Intraperitoneal merupakan rute yang paling umum digunakan, paling sederhana dan mudah.
Rute ini memungkinkan absorpsi dari tempat penyimpanan dalam waktu yang cukup lama.
Keterbatasan metode ini adalah sensitivitas jaringan terhadap senyawa dan kurang toleran terhadap pH

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman xiii


non-fisiologis. Larutan yang diberikan harus isotonik. Pada saat penyuntikan larutan, jarum dan spuit
harus dijaga hampir pararel (membentuk sudut 10o) dengan kolumna vertebra mencit untuk
menghindari ketidaksengajaan menyuntik hingga mengenai organ dalam tubuh (Hirota and Shimizu,
2012).

Gambar 5. Injeksi intraperitoneal pada kuadran kiri bawah (Hirota and Shimizu, 2012).

4.3. Injeksi Intravena


Injeksi intravena pada umumnya diberikan melalui vena pada ekor tikus. Alternatif lain adalah
melalui pleksus oftalmik, vena jugular eksternal, vena metatarsal, dan vena sublingual. Rute ini
menjadi pilihan untuk larutan yang tinggi konsentrasinya, pH tinggi atau rendah, dan mengiritasi,
dengan catatan pemberiannya harus perlahan dan penuh kehati-hatian agar tidak keluar dari vena.
Mencit diletakkan di dalam restrainer atau dianestesi dan ekornya dihangatkan dengan handuk hangat
atau dicelupkan di air hangat (40-45oC) untuk mendilatasi pembuluh darah. Selanjutnya ekor didilatasi
dengan alkohol 70%. Jarum dimasukkan 2-4 mm ke dalam lumen ekor dengan posisi spuit pararel
dengan ekor. Larutan disuntikkan perlahan dan bila pemberian sudah tepat maka tidak terasa adanya
tahanan. Setelah selesai kanula dicabut sambil lokasi penyuntikan ditekan kuat dengan swab atau jari
untuk menghindari terjadinya aliran balik cairan dan/atau darah (Hirota and Shimizu, 2012).

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman xiv


Gambar 6. Injeksi intravena (a) penampang transversal dari ekor tikus; (b) penampang sagital ekor
tikus (c) injeksi intravena pada ekor lateral mencit yang dianestesi (Hirota and Shimizu, 2012).

4.4. Injeksi Intramuskular


Injeksi intramuskular dilakukan pada bagian paha mencit (sebaiknya tikus karena otot mencit
berukuran kecil). Ujung jarum harus jauh dari femur dan saraf sciatic. Mencit dianestesi atau dikekang
secara manual oleh orang lain. Ujung jarum dimasukkan melalui kulit menuju otot dan sebelum injeksi
dilakukan spuit ditarik sedikit untuk melihat adanya aliran balik darah atau cairan tubuh. Bila hal itu
terjadi, prosedur harus dihentikan dan jarum harus dipindahkan ke tempat yang baru (Hirota and
Shimizu, 2012).

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman xv


Gambar 7. Injeksi intramuskular ke otot kaki (Hirota and Shimizu, 2012).

4.5. Injeksi Intradermal


Rute ini sangat sulit dilakukan pada mencit karena kulitnya sangat tipis. Oleh karenanya
sebaiknya dilakukan pada tikus. Mencit dianestesi, bulu pada bagian punggung, abdomen ventral, atau
telapak kaki belakang dicukur lalu area didesinfeksi dengan etanol 70%. Kulit dipegang dengan ibu
jari dan jari telunjuk dan jarum dimasukkan menyerong ke atas dengan sudut kecil, yaitu pada posisi
di bawah lapisan permukaan epidermis. Bila berhasil maka akan terlihat lokais injeksi sedikit melepuh.

Gambar 8. Injeksi intradermal pada kulit bagian punggung (Hirota and Shimizu, 2012).

4.6. Injeksi intraserebral


Mencit dianestesi dan dikekang secara manial pada permukaan datar. Lokasi injeksi adalah
daerah antara mata dan telinga, yaitu di dekat midline. Jarum intradermal digunakan untuk mencegah

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman xvi


penetrasi yang terlalu dalam ke serebral. Bila diperlukan injeksi ke bagian otak yang spesifik, perlu
dilakukan pengekangan menggunakan instrumen stereotaxic binatang.

Gambar 9. Injeksi intraserebral (Hirota and Shimizu, 2012).

4.7. Injeksi Intrathoracic


Injeksi intrathoracic terbatas peruntukannya untuk eksperimen tertentu. Injeksi dilakukan
menggunakan jarum tertentu yang sedikit melengkung ke daerah antara tulang iga, kurang lebih di
bagian tengah rongga dada. Injeksi dilakukan hati-hati agar tidak mengenai jaringan paru (Hirota and
Shimizu, 2012).

4.8. Injeksi Intranasal


Injeksi intranasal umumnya dilakukan pada mencit yang dianestesi. Mencit dikekang secara
manual dan diposisikan terlentang dengan kepala mendongak ke atas. Injeksi dilakukan menggunakan
mikropipet secara perlahan (Hirota and Shimizu, 2012).

Gambar 10. Injeksi intranasal (Hirota and Shimizu, 2012).

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman xvii


4.9. Aplikasi Topikal
Tempat aplikasi sediaan umumnya pada kulit di bagian punggung atau abdomen. Setelah bulu
mencit dicukur, selanjutnya area dibersihkan dari lemak dan debris lainnya. Senyawa yang akan
diberikan dilarutkan dalam pelarut volatil atau dicampur dalam krim yang sesuai untuk diaplikasikan
dengan swab. Hewan perlu dijaga agar tidak menjilat atau menggaruk daerah yang diberi sediaan
(Hirota and Shimizu, 2012).

4.10. Inhalasi
Rute ini digunakan untuk eksperimen asma, polusi udara, atau respirasi. Permasalahan utama
dari penggunaan rute ini adalah pembuatan senyawa dalam aerosol bila senyawa uji tidak cukup volatil
dan penentuan dosis senyawa.Ukuran diameter partikel yang optmum antara 0,5-2,00 m (Hirota and
Shimizu, 2012).

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman xviii


PRAKTIKUM 1. DASAR EKSPERIMEN FARMAKOLOGI

Dalam percobaan ini saudara memberikan obat kepada hewan percobaan secara oral, intravena,
intraperitoneal, intramuskular, subkutan, rektal.

1. Pemberian Obat Secara Oral


A. Pemberian pada Mencit
Bahan dan Alat untuk eksperimen:
Hewan percobaan : mencit putih, jantan
Obat yang diberikan : aqua steril
Alat yang diperlukan : alat suntik 1 ml, jarum oral (sonde)
Vol. Maks. Penyuntikan : 1 ml / 20 g bb
Prosedur:
- Mencit dipegang pada tengkuknya.
- Jarum oral telah dipasang pada alat suntik berisi aqua steril perlahan-lahan dimasukkan
dalam mulut kemudian diselipkan dekat ke langit-langit, ke belakang dan diluncurkan
masuk ke esofagus dan larutan didesak keluar.

B. Pemberian pada Tikus


Hewan percobaan : tikus putih, jantan
Obat yang diberikan : aqua steril
Alat yang diperlukan : kateter tikus, mouth block tikus, beker glass
Vol. Maks. Penyuntikan : 5 ml / 200 g bb
Prosedur:
- Tikus dipegang pada tengkuknya.
- Penyangga mulut dipasang pada tikus dan dijaga agar tidak terlepas.
- Kateter dimasukkan perlahan-lahan sampai batas tanda.
- Ujung kateter yang lain dimasukkan ke dalam beker glass berisi air, digoyangkan dan
diperiksa apakah timbul gelembung udara.
o Bila timbul gelembung, kateter masuk paru. Kateter ditarik perlahan-lahan dan
prosedur diulang.
o Bila tidak ada gelembung, obat dimasukkan melalui spuit (tanpa jarum) langsung
dengan tekanan yang kuat.
- Kateter ditarik keluar dari mulut secara perlahan dan penyangga mulut tikus dilepas.

2. Pemberian Obat Secara Subkutan


Bahan dan Alat untuk eksperimen :
Hewan percobaan dan obat yang diberikan seperti pada pemberian oral.
Alat yang diperlukan : alat suntik 1 ml, jarum suntik no. 26, - 1 inch.
Volume maks. Penyuntikan : 0,5 ml / 20 g bb (mencit)
Prosedur:
- Penyuntikan biasanya dilakukan di bawah kulit tengkuk atau abdomen.
- Ujung jarum langsung ditusukkan ke bawah kulit (+/- 2-3 mm) dan larutan obat didesak keluar
dari alat suntik secara perlahan-lahan.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 1


3. Pemberian Obat Secara Intravena
Bahan dan Alat eksperimen:
Hewan percobaan dan obat yang diberikan seperti pada pemberian oral.
Alat yang diperlukan : alat suntik 1 ml, jarum suntik no. 27, - 1 inch.
Vol. Maks. Penyuntikan : 0,5 ml / 20 g bb (mencit)
Prosedur:
- Mencit dimasukkan ke dalam alat khusus yang memungkinkan ekornya keluar (restrainer).
- Sebelum disuntik sebaiknya pembuluh balik pada ekor didilatasi dengan penghangatan atau
pengolesan memakai pelarut organik seperti aseton / eter / alkohol.
- Bila jarum suntik tidak masuk ke vena, terasa ada tahanan, jaringan ikat sekitar daerah
penyuntikkan memutih dan bila piston alat suntik ditarik, tidak ada darah yang mengalir ke
dalamnya. Dalam keadaan dimana harus dilakukan penyuntikkan berulang, penyuntikkan
dimulai dari bagian distal ekor.

4. Pemberian Obat Secara Intraperitoneal


Bahan dan Alat eksperimen :
Hewan percobaan dan obat yang diberikan seperti pada pemberian oral.
Alat yang diperlukan : alat suntik 1 ml, jarum suntik no.27, - 1 inch.
Vol. Maks. Penyuntikan : 1 ml / 20 g bb (mencit)
Prosedur:
- Mencit dipegang pada tengkuknya sedemikian sehingga posisi abdomen lebih tinggi dari
kepala.
- Larutan obat disuntikkan ke dalam abdomen bawah dari tikus disebelah garis midsagital.

5. Rute Pemberian Obat Secara Intramuscular


Bahan dan Alat eksperimen :
Hewan percobaan dan obat yang diberikan seperti pada pemberian oral.
Alat yang diperlukan : alat suntik 1 ml, jarum suntik no. 28, inch.
Vol.maks. penyuntikan : 0,05 ml / 20 g bb
Prosedur:
- Larutan obat disuntikkan ke dalam otot sekitar gluteus maximus atau ke dalam otot paha
(sebelah luar) dari kaki belakang.
- Selalu perlu dicek apakah jarum tidak masuk ke dalam vena, dengan menarik kembali piston
alat suntik.

6. Rute Pemberian Obat Secara Rektal


Bahan dan alat untuk eksperimen:
Hewan percobaan dan obat yang diberikan seperti pada pemberian oral.
Alat yang diperlukan : kateter dari logam, alat suntik 1 ml.
Vol. Maks. Penyuntikan : 0,5 ml / 20 g bb
Prosedur:
- Mencit dimasukkan ke dalam restrainer.
- Kateter dibasahi lebih dahulu dengan parafin/gliserin kemudian dimasukkan ke dalam
rektum mencit sejauh kira-kira 4 mm dan larutan obat didesak keluar.

Pembahasan dan Kesimpulan


Bahas selengkap mungkin mengenai pemberian obat melalui berbagai macam rute pemberian, berikan
komentar, dan ambillah suatu kesimpulan.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 2


PRAKTIKUM 2. PENGUJIAN AKTIVITAS OBAT SEDATIF HIPNOTIK

Tujuan Praktikum
1. Membedakan efek obat sedatif dan hipnotik pada hewan coba.
2. Mengetahui berbagai instrumen yang dapat digunakan untuk menguji efek sedatif.

Landasan Teori
Sedatif adalah obat yang dapat mengurangi kecemasan dan menimbulkan efek menenangkan
tanpa menimbulkan gangguan pada fungsi mental maupun motorik. Derajat depresi yang ditimbulkan
oleh sedatif harus sesuai dengan efektifitas yang diharapkan.
Hipnotik adalah obat yang dapat menimbulkan dan mempertahankan keadaan tidur seperti tidur
yang alami(diawali dengan rasa kantuk). Depresi yang ditimbulkan lebih kuat daripada sedatif. Pada
umumnya, obat sedatif dapat menimbulkan efek hipnotik dengan meningkatkan dosis pemberian.

Kurva dosis respons

Koma _ Obat A

Anestesi _ Obat B

Hipnotik_

Sedasi _

Peningkatan dosis

Barbiturat adalah salah satu golongan obat sedatif hipnotik. Pada dosis sedang, barbiturat akan
mempengaruhi bagian otak yang memiliki sistem koordinasi paling tinggi yaitu neokorteks. Apabila
dosis ditingkatkan, efek obat akan menyebar ke bagian sistem saraf pusat yang lebih rendah sampai
pusat medulla dan sumsum tulang belakang. Efek depresi barbiturat pada pernapasan adalah yang
paling mudah terlihat pada binatang percobaan. Barbiturat juga dapat menghambat ganglion otonom
sehingga tekanan darah dan denyut jantung menurun namun tidak sampai lebih rendah dari keadaan
istirahat atau tidur pada umumnya.
Cara kerja barbiturat pada tingkat molekular adalah dengan memfasilitasi kerja GABA
(inhibitor SSP) pada banyak tempat di susunan saraf pusat yaitu dengan meningkatkan durasi
pembukaan GABA-gated channel pada reseptor GABAA.

Alat dan Bahan Praktikum


Alat yang diperlukan : platform, rotarod, activity cage, hole board, jarum suntik 1 ml.
Hewan percobaan : mencit jantan
Obat : Fenobarbital-Na (larutan 5 %) 40 mg/kgBB (ip); 80mg/kgBB (ip)

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 3


Prosedur Praktikum
1. Tiap kelompok mendapat 1 ekor mencit beserta dosis yang ditentukan.

Kelompok Kelompok Perlakuan Lama Pengamatan (Menit)


Praktikum Platform Activity cage Hole board Rotarod
I Kontrol 20 20 5 3
II F 40 - 20 5 -
III F 40 20 - - 3
IV F 80 20 20 5 3

Keterangan : F40 = Fenobarbital-Na 40 mg/kgBB


F80 = Fenobarbital-Na 80 mg/kgBB

2. Perlakuan
Obat disuntikkan secara per ip pada kelompok perlakuan II, III, dan IV. Letakkan mencit pada
alat pengamatan.
Platform
o Dilakukan pengamatan pada aktivitas, sikap tubuh, jumlah jengukan/menit, dan
kecepatan napas/menit masing-masing pada menit ke-5, 10, 15, dan 20. Data
yang diperoleh dimasukkan ke dalam tabel.
Rotarod
o Setelah diamati di platform selama 20 menit, mencit diletakkan di atas rotarod.
Dilakukan pencatatan selisih waktu sejak mencit diletakkan hingga jatuh dari
rotarod. Data yang diperoleh dimasukkan ke dalam tabel.
Activity Cage
o Mencit dimasukkan ke dalam activity cage segera setelah penyuntikan obat.
Dilakukan pencatatan jumlah aktivitas pada menit ke-5, 10, 15, dan 20. Data
yang diperoleh dimasukkan ke dalam tabel.
Hole Board
o Setelah 20 menit berada di dalam activity cage, mencit diletakkan di tengah hole
board. Dilakukan penghitungan jumlah jengukan kepala mencit ke dalam
lubang selama 5 menit. Data yang diperoleh dimasukkan ke dalam tabel.

Pembahasan dan Kesimpulan


Bahas selengkap mungkin mengenai eksperimen ini, berikan komentar, dan ambillah suatu
kesimpulan.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 4


PRAKTIKUM 3. PENGUJIAN AKTIVITAS OBAT ANALGETIKA

Tujuan Praktikum
1. Mahasiswa dapat mengenal beberapa metode pengujian analgetika dan menerapkannya.
2. Mahasiswa dapat mengenal penggolongan dari analgetika dan obat-obat analgetika.
3. Mahasiswa dapat mempelajari cara pengolahan data hasil percobaan dengan membuat grafik
waktu respons vs waktu pengamatan pada metode stimulasi panas.
4. Mahasiswa dapat mempelajari cara pengolahan data hasil percobaan dengan membuat tabel
dan grafik jumlah geliatan vs waktu pengamatan pada metode Siegmund.

Landasan Teori
Obat analgetik atau analgetika adalah obat yang dapat menghilangkan atau mengurangi rasa
sakit. Berbeda dengan obat anestetik atau anestetika, analgetika tidak mempunyai atau sedikit
pengaruhnya terhadap sensasi yang lain selain rasa sakit. Sebab-sebab rasa nyeri adalah rangsangan-
rangsangan mekanis, kimiawi, listrik, dan panas, yang dapat menimbulkan kerusakan-kerusakan pada
jaringan dan pelepasan zat-zat tertentu yang disebut mediator nyeri. Mediator nyeri antara lain
histamin, serotonin (5-HT), bradikinin, dan prostaglandin. Zat-zat ini merangsang reseptor-reseptor
nyeri yang terletak pada ujung-ujung saraf nyeri di kulit, selaput lendir, dan jaringan-jaringan lain.
Rangsangan nyeri diteruskan melalui saraf-saraf sensorik ke SSP melalui sumsum tulang belakang ke
thalamus dan kemudian ke pusat nyeri di dalam otak besar dimana rangsangan dirasakan sebagai nyeri.
Analgetika dapat digolongkan ke dalam 2 golongan besar yaitu analgetika opioid dan non opioid.

a. Analgetika Opioid
Analgetika opioid merupakan obat penghilang rasa sakit golongan opioid asli atau sintetiknya
yang memiliki morphine-like action. Analgetik jenis ini dapat menimbulkan ketergantungan bila
dipakai dalam dosis yang tidak sesuai. Termasuk di dalam golongan ini adalah morfin, kodein, dan
senyawa sintetiknya misalnya meperidin (pethidine), levorfanol, metadon, propoksifen, pentasozin,
dan propiram.
Efek analgetik dari analgetika opioid sebenarnya merupakan salah satu dari efek-efek yang
timbul akibat teraktivasinya reseptor opioid. Reseptor ini teraktivasi oleh beberapa transmitor yang
berperan dalam mengatasi rasa nyeri. Transmitor tersebut merupakan suatu peptida (enkefalin,
endorfin, dan dinorfin). Walaupun secara kimiawi analgetika opioid itu berbeda-beda sifatnya, tetapi
mempunyai efek sesuai dengan receptor opioid mana yang lebih banyak dipengaruhi. Receptor (mu)
dan (kappa) berhubungan dengan khasiat analgetika, receptor (sigma) bertanggungjawab terhadap
efek disforia atau efek terhadap psikotomimetik dan receptor (delta) bertanggungjawab terhadap
timbulnya efek pada tingkah laku atau afektif. Dengan demikian efek yang timbul pada pemakaian
narkotika tergantung pada reseptor mana yang banyak dipengaruhi.

b. Analgetika Non Opioid


Analgetika non opioid sering juga disebut analgetika-antipiretika. Umumnya obat ini dibagi
dalam golongan salisilat, derivat pirazolon, derivat para-aminofenol, asam organik, dll. Beberapa obat
dari golongan tersebut juga mempunyai efek antiinflamasi sehingga sering juga dimasukkan dan
dibicarakan dalam obat antiinflamasi non steroid atau NSAIDs (Non Steroid Antiinflammatory Drugs).
Pada umumnya efek analgetika dari suatu non opioid terjadi melalui pengaruhnya pada
rangkaian peran prostaglandin dalam patofisiologi nyeri terutama karena peradangan. Salisilat, derivat
pirazolon, asam organik propionat, dan mefenamat mempunyai lebih kuat dalam menghambat sintesis
prostaglanding bila dibandingkan derivat para-aminofenol. Dengan demikian selain efek analgetik dan
antipiretiknya, efek antiinflamasi obat-obat tersebut lebih kuat daripada parasetamol.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 5


Macam-macam Metode Eksperimen

I. Metode Plat Panas


Metode ini dimodifikasi dari metoda Eddy dan Leimbach (1953) yang menggunakan lantai
kandang yang panas (55-560C). Pada praktikum ini digunakan alat Basile Plantar Test dimana sumber
panas berasal dari sinar infra merah dari movable generator yang ditempatkan di bawah kandang
hewan coba. Panas dari infra merah diberikan pada telapak kaki depan kanan/kiri dari tikus coba dan
tikus akan memberikan respons seperti menarik kaki, menjilat kaki, atau meloncat. Selang waktu
antara pemberian stimulus nyeri dan terjadinya respons (waktu reaksi) dapat diperpanjang oleh
pengaruh obat-obat analgetika. Rata-rata waktu normal yang dibutuhkan tikus sampai timbul respons
adalah 3-6 detik.

II. Metode Stimulasi Kimiawi (Metode Siegmund)


Pada prinsipnya senyawa uji dinilai kemampuannya dalam menekan atau menghilangkan
rasa nyeri yang diinduksikan secara kimia pada hewan coba. Rasa nyeri ini diperlihatkan dalam bentuk
respon gerakan menggeliat (plat body form). Frekuensi geliatan ini dalam waktu tertentu menyatakan
derajat nyeri yang dirasakannya. Beberapa senyawa kimia diketahui mampu menghasilkan nyeri pada
manusia dan telah digunakan juga pada hewan antara lain fenilbenzokuinon, bradikinin, dan asam
asetat. Pada penelitian ini penginduksi nyeri yang digunakan adalah asam asetat 0,60% yang
diinjeksikan secara intraperitoneal sebesar 10 ml/kgBB seperti peneliti Smiths and Myers (1974).
Metode ini mudah dilakukan, diamati dan prosedurnya sederhana.

Alat dan Bahan Praktikum


Hewan percobaan : Tikus jantan galur wistar (metode plantar test)
Mencit jantan galur swiss webster (metode writhing test)
Obat yang digunakan : larutan antalgin 50 % dosis 500 mg, 750 mg / 70 kgBB
larutan kodein HCl 0,2% dosis 30 mg, 50 mg / 70 kgBB
Bahan induksi nyeri (metode writhing test) : larutan asam asetat 0,60%, dosis 10 ml / kgBB, rute : i.p.
Alat yang digunakan : alat suntik 1 ml, basile plantar test, jarum suntik, timbangan.

Prosedur Praktikum
A. Metode Plantar Test
1. Tikus diletakkan dalam wadah plantar dan dibiarkan beradaptasi selama 5 menit (terlihat tikus
mulai tenang, tidak banyak bergerak).
2. Dilakukan uji pada tikus dan dicatat waktu yang diperlukan sampai tikus mengangkat dan
menjilat kaki depan sebagai waktu respon. Catat sebagai respon normal atau respon sebelum
perlakuan.
3. Tikus diambil dari wadah plantar dan berikan obat secara intraperitoneal kepada tikus
kemudian letakkan lagi pada wadah.
4. Tikus dibiarkan selama 15 menit untuk memberikan mula kerja dari obat.
5. Dilakukan kembali uji pada tikus dan dicatat waktu responnya pada menit ke-15, 30, 45, 60
setelah pemberian obat.
6. Dibuat grafik dari hasil pengamatan masing masing untuk obat A dan B

Respon Time

Waktu pengamatan
7. Data kontrol negatif dibandingkan terhadap obat A dan B

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 6


B. Metode Writhing Test
1. Mencit diimbang dan dilakukan penghitungan dosis.
2. Larutan obat disuntikkan secara intraperitoneal pada mencit.
3. Ditunggu selama 15 menit untuk memberikan mula kerja obat.
4. Larutan asam asetat 0,60 % disuntikkan secara intraperitoneal.
5. Frekuensi geliatan mencit dihitung pada menit ke-10 , 15, 20, 45, 60 setelah pemberian asam
asetat.
6. Dibuat grafik hasil pengamatan untuk obat A dan B

Jumlah geliatan

Waktu pengamatan
7. Data yang diperoleh dari kontrol negatif dibandingkan terhadap obat A dan obat B dan dihitung
persentase inhibisi nyeri masing-masing obat.

Pembahasan dan Kesimpulan


Bahas selengkap mungkin mengenai eksperimen ini, berikan komentar, dan ambillah suatu
kesimpulan.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 7


PRAKTIKUM 4. PENGUJIAN AKTIVITAS OBAT STIMULANSIA

Tujuan Praktikum
1. Memahami efek berbagai dosis kafein sebagai stimulan.
2. Mengenal macam-macam alat yang dapat digunakan untuk uji efek stimulan.

Landasan Teori
Kafein merupakan derivat xanthin yang banyak terdapat pada teh dan kopi. Pada susunan saraf
pusat, kafein menstimulasi aktivitas mental dan meningkatkan kapasitas untuk bekerja lebih lama.
Mekanisme kerja kafein adalah dengan memblok reseptor adenosin sehingga adenosin tidak dapat
memodulasi aktivitas adenylyl cyclase. Adenosin menyebabkan sedasi, sedangkan antagonisnya
seperti kafein memberikan efek stimulasi. Selain itu, kafein diduga menyebabkan pelepasan asam
amino eksitator pada susunan saraf pusat seperti glutamat dan aspartat.

Alat dan Bahan Praktikum


Hewan percobaan : mencit jantan (swiss webster)
Alat yang diperlukan : activity cage, hole board, platform, alat suntik 1 ml
Obat : kafein sitrat 1,5% 25mg/70kgBB (ip),
50mg/70kgBB (ip)
75mg/70kgBB (ip)

Prosedur Praktikum
1. Tiap kelompok mendapat 1 ekor mencit beserta dosis yang ditentukan.

Kelompok Lama Pengamatan (Menit)


Kelompok Perlakuan
Praktikum Activity cage Platform Hole board
I C25 15 15 5
II C50 15 15 5
III C75 15 15 5
IV Kontrol 15 15 5

Keterangan : C25 = Caffein 25 mg/70kgBB


C50 = Caffein 50 mg/70kgBB
C75 = Caffein 75 mg/70kgBB
Data kontrol diambil dari data kontrol sedatif hipnotik
2. Perlakuan
Obat disuntikkan secara per ip pada kelompok perlakuan II, III, dan IV. Letakkan mencit pada
alat pengamatan.
Activity Cage
o Mencit dimasukkan ke dalam activity cage segera setelah penyuntikan obat.
Dilakukan pencatatan jumlah aktivitas pada menit ke-5, 10, dan 15. Data yang
diperoleh dimasukkan ke dalam tabel.
Platform
o Dilakukan pengamatan pada aktivitas, sikap tubuh, jumlah jengukan/menit, dan
kecepatan napas/menit masing-masing pada menit ke-5, 10, dan 15. Diamati
pula toxic response seperti straub effect, agresitivitas, piloereksi, dan

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 8


kewaspadaan pada lingkungan. Data yang diperoleh dimasukkan ke dalam
tabel.
Hole Board
o Mencit diletakkan di tengah hole board. Dilakukan penghitungan jumlah
jengukan kepala mencit ke dalam lubang selama 5 menit. Data yang diperoleh
dimasukkan ke dalam tabel.

Pengamatan lain
1. Catat waktu penyuntikan.
2. Amati sikap tubuh (kemampuan berdiri di atas ke-4 kaki) dan koordinasi motorik mencit setelah
penyuntikan.
3. Buatlah grafik untuk data activity cage dan platform

Jumlah aktivitas

Waktu pengamatan

Pembahasan dan Kesimpulan


Bahas selengkap mungkin mengenai eksperimen ini, berikan komentar, dan ambillah suatu
kesimpulan.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 9


PRAKTIKUM 5. PENGUJIAN AKTIVITAS OBAT ANTIINFLAMASI

Tujuan Praktikum
1. Mahasiswa dapat memahami proses terjadinya inflamasi.
2. Mahasiswa mengenal obat-obat anti inflamasi dan penggolongannya.
3. Mahasiswa mengetahui metode pengujian obat antiinflamasi (rat paw oedema) dan pengolahan
data yang dihasilkan.

Landasan Teori
Antiinflamasi didefinisikan sebagai obat-obat atau golongan obat yang memiliki aktivitas
menekan atau mengurangi peradangan. Aktivitas ini dapat dicapai melalui proses penghambatan
terbentuknya mediator radang (prostaglandin) dari tempat-tempat pembentukannya. Berdasarkan
mekanisme kerjanya, obat antiinflamasi terbagi dalam 2 golongan yaitu :
- golongan steroid : bekerja dengan cara menghambat pelepasan prostaglandin dari sel-sel
sumbernya, contoh : kortikosteroid;
- golongan non steroid : bekerja melalui mekanisme lain seperti inhibisi siklooksigenase yang
berperan pada biosintesa prostaglandin, contoh : aspirin, indometasin, fenilbutason, dll.
Sampai sekarang fenomena pada tingkat bioseluler masih belum dapat dijelaskan secara rinci,
walaupun demikian banyak hal yang telah diketahui dan disepakati. Fenomena inflamasi meliputi
kerusakan mikrovaskular, meningkatnya permeabilitas kapiler, dan migrasi leukosit ke jaringan
radang. Gejala proses radang yang sudah dikenal adalah kalor, rubor, tumor, dolor, dan functio laesa.
Selama berlangsungnya fenomena radang banyak mediator kimiawi yang dilepaskan secara lokal
antara lain : histamin, 5-HT, faktor kemotaktik, bradikinin, leukotrien, dan prostaglandin.
Obat-obat analgesik antipiretik serta obat anti inflamasi non steroid (AINS) merupakan suatu
kelompok obat yang heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimia. Walaupun
demikian obat-obat ini ternyata memiliki banyak persamaan dalam efek terapi maupun efek samping.
Hal ini didasarkan atas penghambatan prostaglandin. Golongan obat ini menghambat enzim
siklooksigenase hingga konversi asam arakidonat menjadi PGG2 terganggu . Setiap obat menghambat
siklooksigenase dengan cara yang berbeda.
Obat-obat AINS ditinjau dari segi efektivitasnya dapat dibagi dalam 3 kelompok :
1. Efek antiinflamsi lemah : paracetamol.
2. Efek antiinflamasi ringan :
a. derivat asam propionat : fenbufen, ketoprofen, ibuprofen, naproksen;
b. derivat asam fenamat : asam mefenamat;
c. obat non asam : nabumeton.
3. Efek antiinflamasi kuat :
a. derivat asam salisilat : aspirin, diflunisal , benorilat, salsalat;
b. derivat pirasolon : oksifenbutason, antipirin, aminopirin;
c. derivat indol asam asetat : diklofenak, indometasin, sulindak, tolmetin;
d. derivat oksikam : piroksikam.

Eksperimen
Pada eksperimen ini metode yang digunakan adalah penghambatan pembengkakan udem pada
telapak kaki tikus putih dengan induksi karagenan. Karagenan disuntikkan subkutan pada telapak kaki
belakang tikus sehingga menyebabkan udem. Udem dapat diinhibisi oleh obat antiinflamasi yang telah
diberikan sebelumnya. Volume udem diukur dengan alat pletysmometer dan dibandingkan terhadap
udem yang tidak diberi obat antiinflamasi. Efektivitas obat dinilai dari presentase proteksi yang
diberikan terhadap pembentukan udem.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 10


Alat dan Bahan Praktikum
Hewan percobaan : tikus putih wistar, berat badan 100 g dipuasakan 18 jam sebelum
eksperimen (minum ad libidum)
Obat yang digunakan : Profenid (ketoprofen) 5 % Dosis : 50 mg / 70 kgBB
Voltaren (Na. diklofenak) 2,5 % Dosis : 50 mg / 70 kgBB
Rute penyuntikan obat : intraperitoneal
Bahan induksi inflamasi : larutan karagenan 1 % dalam air suling (dibuat semalam sebelum
eksperimen digerus dengan PGA), volume penyuntikan 0,1 ml
(subkutan, intraplantar)
Alat yang digunakan : pletysmometer air raksa yang prinsip kerjanya berdasarkan
Hukum Archimedes

Prosedur Praktikum
1. Sebelum mulai percobaan, tikus ditimbang berat badannya kemudian diberi tanda untuk tiap-
tiap tikus.
2. Dengan spidol berikan tanda batas pada sendi kaki belakang kiri/kanan untuk setiap tikus. Hal
ini bertujuan agar pemasukan kaki ke dalam air raksa setiap kali selalu sama.
3. Pada tahap awal, volume kaki setiap tikus diukur dan digunakan sebagai volume dasar untuk
setiap tikus (volume kaki saat t=0). Pada setiap kali pengukuran volume tinggi cairan pada
alat diperiksa dan dicatat sebelum dan sesudah pengukuran. Diusahakan jangan sampai ada
air raksa yang tumpah.
4. Penyuntikan dapat dilakukan dengan 2 cara :
Cara A :
Karagenan disuntikkan secara intraplantar sebanyak 0,1 ml pada telapak kaki kiri/kanan
tikus yang telah ditandai, dibiarkan selama 10 menit setelah itu obat disuntikkan
secara intraperitoneal.
Volume kaki yang disuntik karagenan diukur pada menit ke-5 dan 10 untuk mengamati
pembentukan edema.
Setelah penyuntikan obat, volume kaki pada menit ke-10, 15, 30, 45, dan 60 diukur
untuk menghitung persentase inhibisi edema.
atau
Cara B :
Setelah disuntik obat langsung suntikkan karagenan secara intraplantar sebanyak 0,1
ml pada telapak kaki kiri / kanan tikus yang telah ditandai.
Lakukan pengukuran volume kaki yang disuntik karagen setiap 10, 15, 30, 45, dan 60
menit setelah penyuntikan obat, untuk menghitung prosentase inhibisi edema. Catat
perbedaan volume kaki untuk setiap pengukuran

Kelompok
Kelompok Perlakuan
Praktikum
I Profenid Cara A
II Kontrol (karagenan saja) + Profenid Cara B
III Voltaren Cara A
IV Voltaren Cara B

5. Selanjutnya untuk setiap kelompok dihitung presentase inhibisi edema dan bandingkan hasil
yang diperoleh untuk kelompok A dan B. Kemudian bahas apakah terjadi perbedaan hasil.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 11


Rumus yang digunakan untuk % inhibisi edema adalah sbb:

Rata-rata volume kelompok kontrol Rata-rata volume kelompok obat X 100 %


Rata-rata volume kelompok kontrol

6. Tabel Volume edema, prosentase volume edema, dan prosentase inhibisi edema

T=0 Volume Kaki


Tikus BB (g)
Vol. dasar 10 15 30 45 60 90
1
2
3
4

Volume Udem
Tikus
10 15 30 45 60 90
1
2
3
4

% Udem % Inhibisi Udem


Tikus
10 15 30 45 60 90 10 15 30 45 60 90
1
2
3
4

7. Gambarkan grafik variasi % inhibisi udem yang tergantung pada waktu

% inhibisi udem

waktu

Pembahasan dan Kesimpulan


Bahas selengkap mungkin mengenai eksperimen ini, berikan komentar, dan ambillah suatu
kesimpulan.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 12


PRAKTIKUM 6. PENGUJIAN AKTIVITAS OBAT ANTIPIRETIKA

Tujuan Praktikum
1. Mahasiswa dapat mengenal metode pengujian antipiretik dan menerapkannya.
2. Mahasiswa dapat mengenal obat antipiretika dan cara kerjanya.
3. Mahasiswa dapat mempelajari cara pengolahan data hasil percobaan.

Landasan Teori
Antipiretika adalah obat yang dapat menurunkan suhu tubuh pada keadaan demam. Antipiretik
mempunyai suatu efek pada termostat hipotalamus yang berlawanan dengan zat pirogen. Penurunan
demam oleh antipiretik seringkali melalui pengurangan pembuangan panas daripada pengurangan
produksi panas.
Sintesis PGE2 tergantung pada peran enzim sikooksigenase. Asam arakhidonat merupakan
substrat siklooksigenase yang dikeluarkan oleh membran sel. Antipiretik berperan sebagai inhibitor
yang poten terhadap siklooksigenase. Potensi bermacam-macam obat secara langsung berkaitan
dengan inhibisi siklooksigenase otak. Asetaminofen merupakan penghambat siklooksigenase yang
lemah di jaringan perifer dan aktivitas antiinflamasinya tidak begitu berarti. Di otak, asetaminofen
dioksidasi oleh sistem sitokrom p450 dan bentuk teroksidasinya menghambat enzim siklooksigenase.

Alat dan Bahan Praktikum


Hewan percobaan : mencit jantan galur swiss webster
Obat yang digunakan : parasetamol 2,6 mg/ml Dosis: 1,3 mg /20g BB (per oral)
Bahan induksi panas : pepton 5% , volume pemberian 1 ml / 200 g BB (subkutan)
Alat yang digunakan : alat suntik 1 ml, ear thermometer B-Braun, jarum suntik,
timbangan tikus

Prosedur Praktikum
1. Mencit ditimbang berat badannya.
2. Dilakukan pengukuran suhu tubuh mencit sebelum perlakuan (T=0) dengan cara memasukkan
ear thermometer pada telinga bagian dalam (gendang telinga) mencit.
3. Pepton disuntikkan secara s.c. pada bagian tengkuk mencit sebagai induktor panas.
4. Setelah 2 jam suhu tubuh mencit diukur. Apabila terjadi peningkatan suhu sebesar 20C,
diberikan paracetamol sesuai dosis tiap kelompok secara per oral.
5. Dilakukan pengukuran suhu tubuh mencit setelah pemberian paraseramol, yaitu pada menit ke-
15, 30, 45, 60 dan 90.
6. Data ditabulasikan dan dibuat grafik suhu mencit setiap waktu.

Suhu telinga

Waktu

Pembahasan dan Kesimpulan


Bahas selengkap mungkin mengenai eksperimen ini, berikan komentar, dan ambillah suatu
kesimpulan.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 13


PRAKTIKUM 7. SIMULASI KOMPUTER : EFEK OBAT PADA MATA KELINCI

Tujuan Praktikum
1. Memahami efek berbagai obat pada diameter pupil.
2. Memahami efek berbagai obat pada refleks korneal.
3. Memahami efek berbagai obat pada refleks cahaya.
4. Memahami efek berbagai obat pada tekanan intraokular.

Landasan Teori
Iris terdiri dari 2 tipe otot, yaitu otot sirkular dan radial. Otot sirkular disarafi oleh sistem
parasimpatis dan otot radial dipersarafi oleh sistem simpatis. Rangsangan terhadap sistem saraf
simpatis dan parasimpatis akan menimbulkan midriasi dan miosis, sedangkan kelumpuhan otot akan
menimbulkan efek yang berlawanan dengan yang seharusnya.

Alat dan Bahan Praktikum


Hewan percobaan : kelinci
Alat : kotak kelinci, penggaris, pipet tetes, senter, kapas
Bahan :
1. Larutan fisiologis NaCl 0,9%
2. Fisostigmin 0,5%
3. Atropin sulfat 1% cari golongan obat dan mekanisme
4. Efedrin 0,5% kerja masing-masing obat
5. Adrenalin hidroklorida 0,1%
6. Lignokain hidroklorida 1%

Prosedur Praktikum
1. Dilakukan pengukuran diameter dari pupil kanan dan kiri (dengan menggeser penggaris ke
arah diameter pupil). Dicatat pula tekanan intraokularnya (low, normal, high). Refleks cahaya
diuji dengan menggunakan senter dan refleks kornea diuji dengan menggunakan kapas.
2. Mata kanan digunakan sebagai kontrol dan mata kiri untuk perlakuan.
3. Larutan fisiologis NaCl 0,9% diteteskan pada mata kanan dan obat pada mata kiri.
4. Dilakukan pengukuran diameter pupil, tekanan intraokular, refleks cahaya, dan refleks kornea.
5. Hasil pencatatan dimasukkan ke dalam tabel.

Catatan :
1. Selalu gunakan mouse dan klik kiri untuk mengerjakan simulasi.
2. Selalu gunakan larutan fisiologis NaCl 0,9% sebagai kontrol untuk semua obat.
3. Pengukuran diameter pupil harus selalu dilakukan sebelum dan sesudah meneteskan larutan
fisiologis ataupun obat.
4. Gunakan satu macam obat untuk satu ekor kelinci. Apabila akan menggunakan macam obat
yang lain, gunakan kelinci baru.
5. Gunakan skala yang tersedia untuk mengukur diameter pupil. Setiap bagian berarti 1 mm.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 14


Klik mouse di sini
untuk memulai
program

Perintah langkah2
pengerjaan
Petunjuk
pengerjaan

Pupil
Penggaris Tempat untuk perlakuan

Tekanan
intraocular

Pilihan jenis obat Senter Kapas

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 15


Tabel Hasil Pengamatan

Kelinci Refleks Refleks Ukuran Pupil


Obat/ TIO
Nomor/ Cahaya Korneal (mm)
Saline
Mata (R/L) Sblm Ssdh Sblm Ssdh Sblm Ssdh Sblm Ssdh
1. Mata (R) Epinefrin
1. Mata (L) NaCl 0,9%
2. Mata (R) Atropin
2. Mata (L) NaCl 0,9%

.dst

Tugas Menjawab Pertanyaan


1. What is the differences between mydriasis induced by adrenergic agents and anticholinergic drugs?
2. Name some clinically used of midriatics and miotics!
3. What are therapeutics uses of mydriaticus?
4. The stomach fluid taken from a case of poisioning produced pinpoint pupil when instilled into the
eye of rabbit. Intraocular pressure was also found to be decressed. What is your probable diagnosis?
Justify your answer.

Pembahasan dan Kesimpulan


Bahas selengkap mungkin mengenai eksperimen ini, berikan komentar, dan ambillah suatu
kesimpulan.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 16


PRAKTIKUM 8. PENGUJIAN AKTIVITAS OBAT KOLINERGIK
DAN ANTIKOLINERGIK

Tujuan Praktikum
1. Memahami efek obat kolinergik pada kelenjar ludah.
2. Memahami efek obat antikolinergik pada kelenjar ludah.

Landasan Teori
Pemberian zat kolinergik pada hewan menyebabkan salivasi dan hipersalivasi yang dapat
dihambat oleh zat antikolinergik. Eksperimen dapat digunakan sebagai landasan untuk mengevaluasi
efek zat kolinergik pada neuroefektor dan untuk mengevaluasi aktivitas obat yang dapat berfungsi
sebagai antagonisme. Hewan yang dapat digunakan adalah kelinci dan mencit.
Pilokarpin adalah suatu parasimpatomimetik kuat yang bekerja pada organ-organ yang
diinervasi oleh sistem saraf kolinergik post ganglion. Pilokarpin tidak memperkuat kerja asetilginin.
Pilokarpin merangsang sekresi kelenjar-kelenjar ludah, bronkhi, lambung, dan usus. Penambahan
aktivitas dari kelenjar-kelenjar menyebabkan lancarnya peredaran darah pada kelenjar-kelenjar itu
sendiri, sebagian akibat aktivitas kelenjar-kelenjar itu sendiri, sebagian lain oleh pengaruh pilokarpin
yang memiliki efek dilatasi terhadap pembuluh-pembuluh darah kelenjar. Pilokarpin sering dipakai
untuk merangsang pembentukan (pengeluaran) saliva pada penderita yang mengeluh mulut kering
selama pengobatan dengan ganglion bloker.

Bahan dan alat


Hewan percobaan : mencit jantan
Alat yang digunakan : alat suntik dan jarum suntik, kaca pembesar,
kertas saring (dicampur metilen blue)
Obat , dosis , dan rute pemberian : Fenobarbital Natrium 80 mg / kg bb (i.p) (5%)
Pilokarpin Nitrat 5 mg / kg bb (i.m) (0,2 %)
Atropin Sulfat 0,25 mg / kg bb (i.p) (0,1%)

Kelompok Praktikum Pengamatan I (5) Pengamatan II (5)


I Aquadest Aquadest
II Pilokarpin Pilokarpin
III Pilokarpin Atropin sulfat
IV Atropin sulfat Pilokarpin

Prosedur Praktikum
1. Mencit disedasikan dengan fenobarbital (i.p) ditunggu 15-30 menit atau sampai mencit tertidur.
2. Pilokarpin disuntikkan (i.m) dan dicatat waktu penyuntikan.
3. Mencit ditidurkan pada kertas saring yang telah dicampur dengan serbuk metilen blue.
4. Saliva yang diekskresikan akan keluar dari mulut mencit dan membasahi kertas saring (catat
saat muncul efek salivasi) selama 5 menit.
5. Diameter saliva mencit diukur untuk mengukur luas area saliva yang tertampung.
6. Dengan segera atropin sulfat disuntikkan pada mencit.
7. Mencit ditidurkan di kertas saring yang baru selama 5 menit.
8. Diameter saliva mencit diukur untuk mengukur luas area saliva yang tertampung.
9. Luas area setelah pemberian pilokarpin dan atropin dibandingkan.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 17


Tabel Pengamatan

Bahan Uji Dosis (mg/kg) Rute Pemberian Luas Area Selama 5 Menit
Kontrol (aquadest) - i.p.
Pilokarpin 5 i.m.
Atropin 0,25 i.p.

Pembahasan dan Kesimpulan


Bahas selengkap mungkin mengenai eksperimen ini, berikan komentar, dan ambillah suatu
kesimpulan.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 18


PRAKTIKUM 9. SIMULASI KOMPUTER : EFEK OBAT PADA
SISTEM KARDIOVASKULAR

Tujuan Praktikum
1. Memahami efek berbagai obat pada tekanan darah arterial.
2. Memahami efek berbagai obat pada kecepatan denyut jantung.
3. Memahami efek berbagai obat pada kekuatan kontraksi jantung.

Landasan Teori
Jantung mempunyai kolinoseptor muskarinik, 1-adrenoseptor, dan reseptor adenosin.
Stimulasi pada sistem muskarinik menurunkan kecepatan denyut jantung dan stroke volume sehingga
terjadi penurunan tekanan darah.
Pembuluh darah mempunyai 1-adrenoseptor yang menyebabkan vasokonstriksi sehingga
meningkatkan tahanan perifer dan 2-adrenoseptor yang menyebabkan vasodilatasi. Angiotensin I
diubah menjadi Angiotensin II yang memberikan efek vasokonstriksi.

Alat dan Bahan Praktikum


Hewan percobaan : tikus
Alat : ventilator, kanula, transducer, recorder

Cara Penggunaan Simulasi


1. Diklik Options kemudian pilih Display Channels. Dipilih:
Arterial Blood Pressure (ABP)
Heart Contractile Force (HCF)
Heart Rate (HR)

Kemudian diklik OK.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 19


2. Percobaan dimulai dengan tombol Start untuk menggambar grafik sebelum perlakuan obat.
Grafik dihentikan setelah tergambar sepanjang 1 kotak dengan klik Stop.

Puncak grafik

3. Obat dipilih pada Standard Drugs sesuai yang ditentukan oleh asisten beserta dosisnya.
Dibuat grafik sepanjang 1 kotak untuk setiap perlakuan dosis obat dengan klik Start dan
Stop.
4. Setelah mendapatkan grafik dari berbagai dosis obat, hasilnya dicatat ke dalam tabel. Puncak
grafik diambil sebagai data.

Obat Dosis (g/kg atau mg/kg) ABP (mmHg) HCF HR (bpm)

Dari tabel di atas dibuat kurva dosis-respons untuk masing-masing ABP, HCF dan HR dengan
absis peningkatan dosis dan ordinat ABP, HCF dan HR.

Pembahasan dan Kesimpulan


Bahas selengkap mungkin mengenai eksperimen ini, berikan komentar, dan ambillah suatu
kesimpulan.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 20


PRAKTIKUM 10. PENGUJIAN AKTIVITAS OBAT DIURETIKA

Tujuan Praktikum
1. Memahami efek berbagai dosis diuretika pada tikus.
2. Menghitung persentase volume kumulatif urine.

Landasan Teori
Diuretika adalah obat-obatan atau senyawa yang dapat meningkatkan volume urine dengan
cara meningkatkan ekskresi ion Na+ dan CL- atau HCO3 atau menurunkan reabsorpsi elektrolit diatas
pada tubulus ginjal. Diuretika mempengaruhi 3 proses fisiologis transpor elektrolit yaitu filtrasi
glomerulus, reabsorpsi tubulus, dan sekresi tubulus.

Alat dan Bahan Praktikum


Hewan percobaan : tikus putih jantan, usia kurang lebih 2 bulan
Obat yang digunakan : Larutan Furosemid natrium 1 %
Dosis obat : Furosemid natrium 10,0 ; 15,0; dan 20,0 mg/kgbb
Aquadest / NaCl 0,90% yang diberikan secara per oral 50 ml/kgbb
Rute pemberian obat : intraperitoneal
Alat yang digunakan : timbangan tikus, alat suntik dan jarum suntik yang sesuai, kandang khusus
untuk pengamatan (metabolic cage), tabung berskala untuk penampungan
urin, kertas indikator universal

Prosedur Praktikum
1. Tikus dipuasakan makan selama lebih kurang 16 jam, minum tetap diberikan.
2. Tikus diberikan air hangat atau NaCl fisiologik secara per oral sebanyak 50 ml/kgBB kemudian
disuntik furosemid.
3. Tikus ditempatkan dalam kandang khusus yang tersedia dan urin yang diekskresikan
ditampung
4. Dilakukan pencatatan jumlah urin kumulatif setiap kurun 10 menit selama 1 jam.
5. Pada akhir praktikum tikus yang mendapat obat furosemid diberikan NaCl sebanyak 7 ml
secara peroral.

Pengamatan
1. Dilakukan pentabelan data yang diperoleh, yaitu pada saat mulai muncul efek, frekuensi
urinasi, volume urin kumulatif, warna, kejernihan, pH, dan identifikasi zat-zat dalam urin
secara kualitatif.
2. Dihitung presentasi volume kumulatif urin tikus yang diekskresikan:

Volume urin yang diekskresikan dalam jam X 100 %


Volume air yang yang diberikan per oral
Digunakan kriteria efek positif jika presentase melebihi 75 % (80%-100%) dari volume air yang
disediakan.

Pembahasan dan Kesimpulan


Bahas selengkap mungkin mengenai eksperimen ini, berikan komentar, dan ambillah suatu
kesimpulan.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 21


PRAKTIKUM 11. GLUCOSE TOLERANCE TEST

Tujuan Praktikum
1. Memahami efek insulin pada kadar gula darah.
2. Mengenal metode uji antidiabetik dengan uji toleransi glukosa (GTT).

Landasan Teori
Insulin merupakan suatu hormon protein yang disintesa oleh sel beta dari pulau Langerhans
pankreas. Hormon ini disamping berperan dalam metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein juga
berperan dalam transport berbagai zat melalui membran sel. Sediaan insulin terutama digunakan untuk
pengobatan diabetes melitus, dimana rute pemberiannya dilakukan secara parenteral karena insulin
diuraikan oleh getah-getah lambung. Kadar insulin dalam sediaan mempunyai hubungan yang erat
dengan dosis yang diberikan dan dengan intensitas efek hayatinya Penetapan kadar gula darah dapat
dilakukan dengan berbagai cara, salah satu cara ialah dengan metode enzimatik Glukosa PAP (Roche).

Alat dan Bahan Praktikum


METODE PENGUKURAN KADAR GLUKOSA DARAH DGN SPEKTROFOTOMETRI
Hewan coba : tikus jantan
Alat : Spektronic 20 D Stopwatch
Reagensia Glukosa PAP (Roche) Mikropipet
Alat suntik Pipet volum
Bahan dan rute pemberian : insulin 0,05 IU/200 gbb (s.c)
insulin 0,10 IU/200 g bb (s.c)
insulin 0,15 IU/200 gbb (s.c)
glukosa 1 g/200gbb (larutan 65 %) per oral
Insulin yang tersedia : 40 IU
Prosedur Praktikum
1. Tikus dipuasakan selama 18 jam sebelum percobaan.
2. Diambil 0,5 ml darah sebagai kontrol negatif.
3. Diberi glukosa secara per oral pada setiap tikus, biarkan selama 15 menit. Dilakukan
pemeriksaan KGD, Kemudian berikan insulin s.c.
4. Setelah itu KGD diperiksa kembali pada menit ke-15, 30, 45 menit setelah penyuntikan insulin.
Diambil 0,5 ml darah untuk diperiksa kadar glukosanya.
5. Dilakukan penentuan kadar glukosa secara enzimatik.
Sampel darah disentrifuge untuk mendapatkan serum yang akan dianalisa kadar glukosa.
SAMPEL : 0,2 ml serum + 4 ml reagen inkubasi 10 menit pada t= 37 0 C
BLANKO : 0,2 ml aqua + 4 ml reagen inkubasi 10 menit pada t= 37 0 C
STANDAR : 0,2 ml serum standar + 4 ml reagen inkubasi 10 menit pada t= 37 0 C
6. Baca absorbsi pada panjang gelombang 546 nm.
Perhitungan :
Asampel X Cstandar = Csampel
Astandar
Catatan : pada waktu pengambilan darah, tabung reaksi dan spuit dibilas dengan Na-citrat.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 22


Tabel Hasil Pengamatan

Kadar Gula Darah


Perlakuan
0 15 30 45 60
Kontrol (-)
Insulin 0,05 IU
Insulin 0,10 IU
Insulin 0,15 IU

Pembahasan dan Kesimpulan


Bahas selengkap mungkin mengenai eksperimen ini, berikan komentar, dan ambillah suatu
kesimpulan.

METODE PENGUKURAN KADAR GLUKOSA DARAH DENGAN ADVANTAGE METER


(Metode Refraktometer)

Hewan percobaan : tikus jantan (galur wistar)


Alat : Stopwatch advantage meter-strip test silet
Alat suntik restrainer
Bahan dan rute pemberian : insulin 0,05 IU/200 gBB (s.c)
insulin 0,10 IU/200 gBB (s.c)
insulin 0,15 IU/200 gBB (s.c)
glukosa 1 g/200gbb (larutan 65 %) per oral
Insulin yang tersedia : 40 IU
Prosedur Praktikum
1. Digunakan tikus yang telah dipuasakan 18 jam sebelum percobaan.
2. Mencit dimasukkan ke dalam restrainer.
3. Pembuluh darah vena di ekor dibersihkan dan didilatasi dengan kapas beralkohol.
4. Ujung ekor tikus dipotong setipis mungkin dan darah yang keluar diteteskan pada strip uji dan
diperiksa dengan alat sehingga didapatkan kadar glukosa darah tikus sebelum perlakuan (T0).
5. Glukosa diberikan secara per oral.
6. Tikus dibiarkan selama 15 menit, kemudian diukur kembali kadar glukosa darahnya (T15).
7. Insulin disuntikkan secara subkutan pada daerah tengkuk tikus.
8. Kadar gula darah tikus diukur pada menit ke-15, 30, 45 menit setelah penyuntikan insulin
(T30, T45, T60).
9. Dibuat grafik kadar gula darah vs waktu.

KGD

waktu

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 23


PRAKTIKUM 12. SKRINING FARMAKOLOGI

Tujuan
Dapat menerapkan metode skrining farmakologi dalam penentuan aktivitas dan potensi suatu
obat atau senyawa baru.
Dapat mengaitkan gejala-gejala yang diamati dengan sifat farmakologi suatu obat.
Memahami faktor-faktor yang berperan dalam skrining suatu senyawa baru.

Landasan Teori
Skrining farmakologi terhadap obat suatu senyawa baru ditunjukkan untuk memperoleh
gambaran yang jelas mengenai aktivitas kerja farmakologi dari obat atau senyawa tersebut. Program
skrining meliputi serangkaian pengamatan dan evaluasi hasil-hasil pengamatan. Pada umumnya
program skrining dimulai dengan percobaan-percobaan terhadap hewan, dan senyawa-senyawa yang
diseleksi berdasarkan hasil percobaan pada hewan kemudian dipastikan khasiatnya pada manusia.
Tergantung dari latar belakang yang ada dan tujuan yang ingin dicapai, program skrining dapat bersifat
blind screening, programmed screening, dan skrining sederhana.
Skrining buta adalah program skrining terhadap senyawa baru yang tidak diketahui aktivitas
farmakologinya. Skrining terarah dilakukan pada senyawa yang telah dapat diperkirakan khasiatnya
dan diharapkan dapat memeberikan hasil yang lebih teliti dari skrining buta. Apabila pengujian
dilakukan guna mengetahui potensi farmakologi suatu senyawa dengan khasiat tertentu disebut
skrining sederhana.
Program skrining yang terbatas dilakukan terhadap senyawa yang dapat diperkirakan
khasiatnya, misalnya senyawa yang dikembangkan atau dimodifikasi dari senyawa lain yang diketahui
khasiat dan potensinya. Hasil skrining ini diharapkan lebih teliti dari pada blind screening. Apabila
pengujian dilakukan untuk mengetahui potensi farmakologi suatu obat dengan khasiat tertentu,
skrining menjadi sederhana dan terarah. Hal ini dilakukan misalnya pada penentuan aktivitas
hipoglikemik suatu senyawa dengan mengukur kadar gula darah.
Pendekatan skrining farmakologi obat yang umum dilakukan adalah secara in vivo pada hewan
percobaan yang tidak sakit ataupun disakitkan. Semua aktivitas farmakologi, baik yang diinginkan
maupun yang tidak diinginkan harus dapat teramati. Sifat-sifat farmakologi obat yang dapat ditetapkan
dari hasil skrining farmakologi antara lain adalah depresan atau stimulan susunan saraf pusat,
simpatomimetika, analgetika, vasodilator, vasokonstriktor dan relaksan otot.
Skrining buta dimulai dengan pemberian dosis yang bervariasi melalui rute pemberian tertentu
pada beberapa ekor hewan percobaan dan efek yang muncul diamati. Pemberian dosis pertama ini
dapat diperbesar atau diperkecil tergantung pada efek yang terjadi, dan percobaan diulangi lagi pada
hewan lain sehingga diperoleh gambaran pasti mengenai aktivitas farmakologi yang diberikan oleh
senyawa aktivitas tersebut.
Dalam blind screening pada mulanya dilakukan test neurofarmakologi, toksisitas (DL-50),
kemudian test terhadap organ yang diisolasi serta pengujian lain yang dianggap penting.
Uji neurofarmakologik ini meliputi :
a. pengamatan terhadap sikap;
b. pengamatan neurologis;
c. fungsi otonomik.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 24


Prosedur Praktikum
Tiap kelompok bekerja dengan 4 ekor mencit : 3 ekor disuntik obat yang diberikan, 1 blanko tidak
diberi apa-apa.
1. Diamati keadaan hewan sebelum diberi obat dalam wadah kaca. Pengamatan meliputi semua
hal yang akan diamati setelah pemberian obat.
2. Obat disuntikkan kepada hewan coba.
3. Mencit ditempatkan dalam wadah kaca.
4. Keadaan hewan diamati sesudah diberi obat, sehingga jelas waktu induksi intensitas efek obat
dan lamanya efek obat berlangsung

Alat dan Bahan Praktikum


1. Hewan percobaan : mencit jantan 16 ekor, 4 ekor tiap kelompok
2. Obat yang digunakan : obat-obat dengan label tertentu yang belum diketahui
atau dikenal
3. Alat yang digunakan : alat dan jarum suntik; bejana pengamatan dari kaca
4. Dosis obat : tergantung obat yang dicoba
5. Kepekaan larutan : tergantung dosis dan volume pemberian
6. Rute pemberian obat : tergantung label obat

Prosedur Praktikum
1. Bobot badan
Masing-masing mencit ditimbang berat badannya.

2. Platform
Uji ini bertujuan untuk mengikuti aktivitas umum dan rasa ingin tahu mencit. Caranya mencit
ditempatkan di tengah-tengah panggung yang bulat dengan diameter 30 cm dan tinggi 45 cm
(platform). Sifat ingin tahu diamati dari tindakan hewan menjengukkan kepala secara sempurna
keluar ke tepi panggung. Jumlah jengukkan tiap menit dihitung dan dibandingkan terhadap
perilaku hewan kontrol. Dihitung berapa kali mencit menjenguk ke permukaan luar platform.
Selama mencit berada di atas panggung, diamati pula hal-hal berikut; aktivitas motorik mencit
(turun atau naik), fenomena straub (ekor mencit naik ke atas), piloereksi (mengamati bulu
mencit bagian punggung berdiri / tidak), dan ptosis (untuk melihat kelopak mata tertutup /
hampir tertutup).

3. Lakrimasi
Lakrimasi yaitu pengeluaran air mata dari hewan percobaan akibat pengaruh dari obat-obat
yang mempengaruhi sistem saraf otonom.

4. Refleks
Refleks yang diamati meliputi: refleks pineal, refleks kornea, refleks fleksi. Kehilangan ketiga
refleks ini salah satu diantaranya menandakan relaksasi otot yang disebabkan oleh relaksan
otot. Cara pemeriksaan : bagian dalam telinga dan kornea mata disentuh dengan alat maka
telinga segera digerakkan dan mata segera berkedip, telapak kaki mencit dijepit maka mencit
segera menarik kakinya.

5. Uji katalepsi
Cara : kaki depan mencit diletakkan pada pensil yang digerakkan dari atas ke bawah sampai 3
cm di atas permukaan meja. Mencit normal yang tidak kataleptik tidak akan membiarkan
kakinya di atas pensil tersebut. Efek katalepsi diberikan oleh neuroleptik dan obat-obat pada
dosis tinggi.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 25


6. Sikap tubuh
Bila mencit normal diterlentangkan, mencit akan langsung membalikkan badannya dengan
keempat kakinya. Senyawa aktif yang bersifat hipnotik dan neuroleptik akan menghilangkan
refleks ini.

7. Uji gelantung
Alat yang digunakan adalah sepotong kawat kaku yang dipasang horisontal 30 cm di atas
permukaan meja. Tiap mencit kaki depannya digantungkan pada kawat tersebut. Bila dalam
waktu 5 menit tidak berhasil untuk menaiki kawat, sekurang-kurangnya dengan menggunakan
salah satu kaki belakangnya, mencit dinilai telah kehilangan kemampuannya untuk
memulihkan secara fisik posisi dirinya (rigthting ability). Jika mencit tidak mampu
menggelantung dan jatuh, mencit dinilai telah kehilangan refleks untuk menggelantung (grip
refleks). Uji gelantung ini untuk membedakan neuroleptik dari hipnotik, trankuilansia, atau
relaksasi otot-otot. Mencit dapat menggelantung tapi tidak dapat memulihkan posisinya karena
pengaruh hipnotik. Mencit tidak dapat menggelantung karena tidur akibat pengaruh dari
trankuilansia atau muscle relaxant sebab otot dalam keadaan relaksasi.

8. Uji haffner
Caranya dengan menjepit pangkal ekor mencit dengan pinset, maka mencit normal akan
langsung berpaling atau mencicit. Kehilangan efek ini terjadi bila mencit berada di bawah
pengaruh analgetika narkotika.

9. Uji efek-efek lain


Efek-efek lain diamati antara lain : lakrimasi (pengeluaran air mata), midriasis, mortalitas.

Hasil yang diperoleh dari skrining buta ini dapat untuk memperkirakan golongan farmakologi senyawa
aktif yang diuji. Untuk memastikan perkiraan efek ini, maka selanjutnya diterapkan teknik khusus
yang lebih spesifik.

Skema uji percobaan pendahuluan skrining buta :

aktivitas motorik obat-obat dari golongan penenang


1. Uji panggung (platform) fenomena straub (Barbiturat) terutama neuroleptika
piloreksi misalnya: reserpina/klorpromasina
ptosis

refleks pineal
2. Uji refleks refleks kornea relaksasi otot
refleks fleksi

3. Uji katalepsi efek katalepsi oleh neuroleptika dan obat pada dosis tinggi

4. Uji sikap tubuh refleks pada sikap tubuh mencit

5. Uji gelantung grip refleks (refleks untuk menggelantung)

6.a. Uji haffner pengaruh analgetika narkotika (obat analgetika terhadap mencit)
b. Uji retablisemen pengaruh obat-obat penenang

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 26


lakrimasi (pengeluaran air mata) pengaruh obat-obat
7. Uji efek-efek lain midriasis (pembesaran pupil) yg mempengaruhi
mortalitas (kematian) sistem saraf otonom

Pengujian pada praktikum ini dilaksanakan sebagai berikut :


1. Setiap kelompok mendapat 2 ekor mencit dan 1 senyawa uji (sesuai undian).
2. Pada kertas undian telah dituliskan tentang rute pemberian obat dan volume pemberian obat.
3. Setiap kelompok mengamati efek obat yang diberikan dengan mengisi tabel pengamatan skrining
buta sesuai lampiran.
4. Setelah 30 menit, setiap kelompok melaporkan hasil pengamatannya dengan menuliskan
kemungkinan golongan senyawa yang diteliti (lapor ke-1).
5. Asisten akan mendiskusikan hasil tersebut dan mengarahkan apabila terjadi kesalahan interpretasi
data.
6. Setiap kelompok berhak menyuntikkan kembali senyawa uji untuk dosis yang sama kedua kalinya.
7. Setelah 30 menit kedua, setiap kelompok harus melaporkan kesimpulan golongan senyawa yang
diteliti pada asisten (lapor ke-2).
8. Apabila masih terjadi kesalahan pengambilan kesimpulan golongan senyawa uji, setiap kelompok
diberi kesempatan mengamati kembali mencit dosis 2 selama 10 menit (lapor ke-3).
9. Kriteria nilai : Lapor I benar nilai maksimum 80;
Lapor II benar nilai maksimum 70;
Lapor III benar nilai maksimum 60.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 27


PROFIL AKTIVITAS FARMAKOLOGI YANG DISEMPURNAKAN

KELOMPOK PRAKTIKUM : GOLONGAN :

PENGAMATAN KE-
No. JENIS UJI
I II III
1 PLATFORM
2 AKTIVITAS MOTORIK
3 STRAUB
4 PILOEREKSI
5 PTOSIS
6 REAKSI PINEAL
7 REAKSI KORNEA
8 SIKAP TUBUH
9 MENGGELANTUNG
10 RETABLISHMENT
11 FLEKSI
12 LAKRIMASI
13 HAFFNER
14 MIDRIASIS
15 KOLIK ACTH
16 MORTALITAS
GEJALA LAIN-LAIN :
-
.
-
.
-
.
-
.

TANGGAL PENGAMATAN :
ZAT (KODE) :
RUTE PEMBERIAN :
HEWAN COBA : JENIS KELAMIN : BOBOT :
PUASA : a. YA b. TIDAK

KESIMPULAN GOLONGAN SENYAWA UJI :


ALASAN : 1.
2.
3.

NILAI : TANDA TANGAN ASISTEN :

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 28


Lampiran

PERBANDINGAN LUAS PERMUKAAN HEWAN PERCOBAAN


UNTUK KONVERSI DOSIS

Dicari 20 g 200 g 400 g 1,5 kg 2,0 kg 4,0 kg 12,0 kg 70,0 kg


Mencit Tikus Marmot Kelinci Kucing Kera Anjing Manusia
Diketahui
20 g 1,0 7,0 12,29 27,8 29,7 64,1 124,2 387,9
Mencit

200 g 0,14 1,0 1,74 3,3 4,2 9,2 17,8 56,0


Tikus

400 g 0,08 0,57 1,0 2,25 2,4 5,2 10,2 31,5


Marmot

1,5 kg 0,04 0,25 0,44 1,0 1,06 2,4 4,5 14,2


Kelinci

2,0 kg 0,03 0,23 0,41 0,92 1,0 2,2 4,1 13,0


Kucing

4,0 kg 0,016 0,11 0,19 0,42 0,45 1,0 1,9 6,1


Kera

12,0 kg 0,008 0,06 0,10 0,22 0,24 0,52 1,0 3,1


Anjing

70,0 kg 0,0026 0,018 0,031 0,07 0,013 0,16 0,32 1,0


Manusia

VOLUME PEMBERIAN OBAT

Batas Volume Maksimal (ml) per Ekor untuk Tiap Rute


Hewan Coba
i.v. i.m. i.p. s.c. p.o.
Mencit 0,5 0,05 1 0,5 1
Tikus 1 0,1 3 2 5
Kelinci 3 10 0,5 10 3 20
Marmot 2 0,2 3 3 10

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 29


KEPUSTAKAAN

1. Boucard, M. et.al., 1981, Pharmacodynamic, Guide de Travaux Practiques.

2. Hirota, J. and Shimizu, S., 2012, Routes of Administration, in: Hedrich, H.J. (Ed.), The
Laboratory Mouse, 2nd ed., Academic Press, London.

3. Laurence & Bacarach, 1964, Evaluation of Drug Activities: Pharmacometrics, Vol. I,


Academic Press, London and New York.

4. Laurence & Bacarach, 1964, Evaluation of Drug Activities: Pharmacometrics, Vol. II,
Academic Press, London and New York.

5. Katzung, B.G. et.al, 2015, Basic and Clinical Pharmacology, 13th ed., Mc Graw Hill,
Singapore.

6. Suryawati et al., 1993, Penapisan Farmakologi, Pengujian Fitokimia dan Kimia Klinik,
Pengembangan dan Pemanfaatan Bahan Alam.

7. Wilson, A. et al., 1979, Applied Pharmacology, 11th ed., ELBS, London.

8. Shepherd, M., 1968, Clinical Psychopharmacology, Lea & Febiger, Philadelphia.

9. Turner RA, Hebborn P., 1971, Screening Methods in Pharmacology, Vol. I, Academic Press,
New York.

10. Turner RA, Hebborn P., 1971, Screening Methods in Pharmacology, Vol. II, Academic Press,
New York.

11. Turner, P.V., Brabb, T., Pekow, C., Vasbinder, M.A., 2011, Administration of Substances to
Laboratory Animals: Routes of Administration and Factors to Consider, Journal of the
American Association for Laboratory Animal Science, 50(5), 600-613.

12. Vogel, H.G., 2002, Drug Discovery and Evaluation, Springer-Verlaag, Berlin.

Praktikum Farmakologi Genap 2016/2017 Halaman 30