Anda di halaman 1dari 7

Kajian Pustaka Analisis Vegetasi

A. Vegetasi
Vegetasi adalah kumpulan dari tumbuh-tumbuhan yang hidup
bersama-sama pada suatu tempat, biasanya terdiri dari beberapa jenis
berbeda. Kumpulan dari berbagai jenis tumbuhan yang masing-masing
tergabung dalam populasi yang hidup dalam suatu habitat dan
berinteraksi antara satu dengan yang lain (Soerianegara, 1998).
Kehadiran vegetasi pada suatu landskap akan memberikan dampak positif bagi
keseimbangan ekosistem dalam skala yang lebih luas. Secara umum peranan vegetasi
dalam suatu ekosistem terkait dengan pengaturan keseimbangan karbon dioksida dan
oksigen dalam udara, perbaikan sifat fisik, kimia dan biologis tanah, pengaturan tata air
tanah dan lain-lain. Meskipun secara umum kehadiran vegetasi pada suatu area
memberikan dampak positif, tetapi pengaruhnya bervariasi tergantung pada struktur dan
komposisi vegetasi yang tumbuh pada daerah itu. Sebagai contoh vegetasi secara umum
akan mengurangi laju erosi tanah, tetapi besarnya tergantung struktur dan komposisi
tumbuhan yang menyusun formasi vegetasi daerah tersebut (Arrijani dkk., 2006). Jika
suatu wilayah berukuran luas/besar, vegetasinya terdiri atas beberapa bagian vegetasi atau
komunitas tumbuhan yang menonjol. Sehingga terdapat berbagai tipe vegetasi. Contoh
bentuk pertumbuhan (growth form): termasuk herba tahunan (annual), pohon selalu hijau
berdaun lebar, semak yang meranggas pada waktu kering, tumbuhan dengan umbi atau
rhizome, tumbuhan selalu hijau berdaun jarum, rumput menahun (perennial), dan semak
kerdil (Soetjipta, 1994).

Vegetasi tidak hanya kumpulan dari individu-individu tumbuhan melainkan


membentuk suatu kesatuan di mana individu-individunya saling tergantung satu sama lain,
yang disebut sebagai suatu komunitas tumbuh-tumbuhan (Soerianegara, 1998) yaitu:

1. Belukar (Shrub) : Tumbuhan yang memiliki kayu yang cukup besar, dan memiliki
tangkai yang terbagi menjadi banyak subtangkai.
2. Paku-pakuan (Fern) : Tumbuhan tanpa bunga atau tangkai, biasanya memiliki
rhizoma seperti akar dan berkayu, dimana pada rhizoma tersebut keluar tangkai daun.
3. Pemanjat (Climber) : Tumbuhan seperti kayu atau berumput yang tidak berdiri sendiri
namun merambat atau memanjat untuk penyokongnya seperti kayu atau belukar.
4. Terna (Herb) : Tumbuhan yang merambat ditanah, namun tidak menyerupai rumput.
Daunnya tidak panjang dan lurus, biasanya memiliki bunga yang menyolok, tingginya
tidak lebih dari 2 meter dan memiliki tangkai lembut yang kadang-kadang keras.
Kumpulan dari tumbuhan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor
lingkungan seperti iklim dan substrat tempat hidupnya. Interaksi ini
timbal balik, karen alingkungan diubah oleh aktivitas dari organisme
yang menempatinya. Vegetasi tumbuhan di suatu tempat mempunyai
ciri khas tersendiri sesuai dengan lingkungan tempat vegetasi
tumbuhan tersebut. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya
perubahan-perubahan dalam pola pertumbuhan maupun struktur
vegetasi bila lingkungan berubah (Odum, 1993).
Secara umum pola penyebaran tumbuhan di alam dapat dikelompokkan kedalam 3
pola, yaitu acak (random), mengelompok (clumped), dan teratur (regular). Tiap-tiap jenis
tumbuhan tentunya mempunyai pola penyebaran yang berbeda-beda tergantung pada
model reproduksi dan lingkungan mikro. Untuk mengetahui skala perubahan-perubahan
komponen ekosistem di alam dapat dilakukan penelitian yang didalamnya terdapat
parameter-parameter yang diukur antara lain:nilai kerapatan (densitas), dominansi,
frekuensi, indeks nilai penting(INP), dan indeks dominansi (ID). Berdasarkan parameter-
parameter tersebut, maka dapat diketahui pola penyebaran vegetasi herbal tersebut di
alam. Suatu wilayah berukuran luas atau besar, vegetasinya terdiri atas beberapa bagian
vegetasi atau komunitas tumbuhan yang menonjol sehingga terdapat berbagai tipe
vegetasi. Vegetasi terbentuk oleh atau terdiri atas semua spesies tumbuhan dalam suatu
wilayah dan memperlihatkan pola distribusi menurut ruang dan waktu. Tipe-tipe vegetasi
dicirikan oleh bentuk pertumbuhan tumbuhan dominan tau paling besar atau paling
melimpah dan tumbuhan karakteristik (Harjosuwarno, 1990)

B. Struktur dan Komposisi Vegetasi


Struktur suatu vegetasi terdiri dari individu-individu yang
membentuk tegakan di dalam suatu ruang. Menurut Kershaw (1973)
dalam Widjdati (2009) struktur vegetasi terdiri dari 3 komponen yaitu:
a. Struktur vegetasi berupa vegetasi secara vertikal yang merupakan
diagram profil menggambarkan lapisan pohon, tiang, sapihan,
semai dan herba penyusun vegetasi.
b. Sebaran horizontal spesies-spesies penyusun yang
menggambarkan letak dari suatu individu terhadap individu lain.
c. Kelimpahan setiap spesies dalam suatu komunitas.
Komposisi vegetasi dapat dikelompokkan berdasarkan bentuk hidup
tumbuhan yaitu:
a. Pohon adalah kelompok tumbuhan berkayu, berukuran besar
dengan tinggi tumbuhan lebih dari 5 m.
b. Perdu dan semak adalah tumbuhan berkayu, berukuran kecil
dengan tinggi tumbuhan kurang dari 5 m.
c. Herba adalah tumbuhan berkayu yang berdaur hidup pendek
d. Liana adalah tumbuhan berkayu yang tumbuhnya menjalar
e. Epifit adalah tumbuhan berkayu yang hidupnya menempel atau
melekat pada tumbuhan
Dalam komunitas tumbuhan, pohon dapat dikelompokkan menurut
tingkat (fase) pertumbuhan sebagai berikut :
a. Semai yaitu pohon yang tingginya kurang atau sama dengan 1,5 m.
b. Pancang yaitu pohon yang tingginya lebih dari 1,5 m dengan
diameter batang kurang dari 10 m.
c. Tiang yaitu pohon dengan diameter batang 10-19 cm
d. Pohon yaitu pohon dengan diameter batang 20 cm atau lebih
(Indriyanto, 2005).
Komposisi dan struktur suatu vegetasi merupakan fungsi dari
beberapa faktor seperti: flora setempat, habitat (iklim, tanah, dan lain-
lain), waktu dan kesempatan Marsono (1999). Pembuatan petak-petak
pengamatan diperlukan dalam mempelajari komposisi vegetasi.
Soerianegara (1998) menyatakan bahwa petak-petak tersebut dapat
berupa petak tunggal, petak ganda maupun berbentuk jalur atau tanpa
menggunakan petak.

C. Analisis Vegetasi
Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan /komposisi vegetasi secara
bentuk (struktur) vegetasi dari tumbuhan, termasuk sejarah dan prediksi perkembangan
vegetasi tersebut. Analisis vegetasi memerlukan data spesies berupa diameter dan tinggi
dalam menentukan indeks nilai penting dari penyusun komunitas suatu lingkungan.
Menurut Setiadi dan Muhadiono (2001) perubahan dan variasi kondisi lingkungan tertentu
akan memberikan dampak bagi struktur dan komposisi spesies tumbuhan terutama dari
segi kelimpahan, pola penyebaran, asosiasi dengan spesies lain serta kondisi pertumbuhan
yang berbeda dengan spesies lainnya.
Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan atau komposisi vegetasi
secara terstruktur dari tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk
pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi
diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari
penyusunan komunitas hutan. Informasi kuantitatif mengenai struktur dan komposisi
vegetasi dapat diperoleh melalui analisis vegetasi Greig (1983) dalam Nadziroh (2014).
Menurut Fachrul (2007) untuk melakukan analisis vegetasi diperlukan berbagai
tahap pengamatan yaitu:
a. Penelitian pendahuluan dan studi habitat
b. Penentuan sebaran vegetasi dan cara sampling
c. Penentuan besar dan luas sampling unit
d. Metode pengamatan
e. Pengumpulan data atau parameter lingkungan
f. Tabulasi data
g. Analisis dan pengujian statistik serta interprestasi data
Analisis vegetasi dapat digunakan untuk mempelajari susunan dan
bentuk vegetasi :
a. Mempelajari tegakan hutan, yaitu tingkat pohon dan permudaannya
b. Mempelajari tegakan tumbuhan bawah. Tumbuhan bawah adalah
suatu jenis vegetasi dasar yang terdapat di bawah tegakan hutan
kecuali permukaan pohon hutan, padang rumput/alang-alang dan
vegetasi semak belukar (Soerianegara, 1998).
Menurut Kusmana dan Istono (1995) batasan pengukuran yang digunakan dalam
kegiatan analisis vegetasi adalah sebagai berikut:
a. Pohon adalah tumbuhan dengan diameter 20 cm
b. Tiang adalah tumbuhan dengan diameter antara 10 sampai dengan 20 cm
c. Pancang adalah permudaan dengan tinggi 1,5 meter sampai anakan berdiameter < 10
cm
d. Semai adalah permudaan mulai kecambah sampai anakan setinggi < 1.5 meter
Metode sampling dilakukan terlebih dahulu sebelum pengamatan analisis vegetasi.
Hal ini bertujuan agar data hasil penelitian bersifat valid. Pemilihan metode sampling yang
akan digunakan berdasar pada keadaan morfologi jenis tumbuhan dan penyebarannya,
tujuan penelitian dan biaya serta tenaga yang tersedia (Kusmana, 1997).

D. Indeks Nilai Penting

Indeks Nilai Penting (INP) merupakan indeks kepentingan yang menggambarkan


besarnya peranan suatu jenis vegetasi dalam ekosistemnya. Indeks yang dihitung
berdasarkan jumlah seluruh nilai Frekuensi Relatif (FR), Kerapatan Relatif (KR) dan
Dominansi Relatif (DR). Indeks nilai penting digunakan dalam menentukan secara
menyeluruh dalam satu kesatuan yang terdiri atas dominansi, frekuensi dan densitas jenis
tumbuhan terhadap jenis tumbuhan lainnya (Fachrul, 2007).

Frekuensi suatu spesies menunjukkan penyebaran suatu spesies dalam suatu areal.
Spesies yang menyebar secara merata mempunyai nilai frekuensi yang besar, sebaliknya
spesies-spesies yang mempunyai nilai frekuensi rendah mempunyai daerah sebaran yang
kurang luas. Keanekaragaman spesies merupakan ciri dari suatu komunitas terutama
dikaitkan dengan jumlah spesies yang tinggi. Keanekaragaman yang tinggi menunjukkan
bahwa suatu komunitas memiliki kompleksitas yang tinggi. Keanekaragaman spesies
menyatakan suatu ukuran yang menggambarkan variasi spesies tumbuhan dari suatu
komunitas yang dipengaruhi oleh jumlah spesies dan kelimpahan relatif dari setiap
individu dari tiap-tiap spesies (Novera, 2008).

Kerapatan dari suatu spesies merupakan nilai yang menunjukkan jumlah atau
banyaknya suatu spesies per satuan luas. Makin besar kerapatan suatu spesies, makin
banyak individu spesies tersebut per satuan luas. Dominansi suatu spesies merupakan nilai
yang menunjukkan penguasaan suatu spesies terhadap suatu komunitas. Odum (1993)
menyatakan bahwa kriteria dominansi sebagai berikut:
a. Jika C (nilai indeks dominansi) mendekati 0 (< 0.5), maka tidak ada spesies yang
mendominasi
b. Jika nilai C (nilai indeks dominansi) mendekati 1 ( 0.5), maka terdapat spesies yang
mendominasi.
Suatu daerah yang didominasi hanya oleh spesies-spesies tertentu saja dapat
dikatakan keanekaragaman spesiesnya rendah (Kusmana, 1997).

E. Metode Sampling

Teknik sampling kuadrat merupakan suatu teknik survey vegetasi yang sering
digunakan dalam semua tipe komunitas tumbuhan, petak contoh yang dibuat dalam
teknik sampling ini bisa berupa petak tunggal atau beberapa petak. Petak tunggal
mungkin akan memberikan informasi yang baik bila komunitas vegetasi yang
ditelitibersifat homogen. Adapun petak-petak contoh yang dibuat dapat diletakkan
secararandom atau beraturan sesuai dengan prinsip-prinsip teknik sampling. Bentuk
petak contoh yang dibuat tergantung pada bentuk morfologis vegetasi dan efisiensi
sampling pola penyebarannya. Sehubungan dengan efisiensi sampling banyak
studiyang dilakukan menunjukkan bahwa petak bentuk segi empat memberikan
datakomposisi vegetasi yang lebih akurat dibanding petak berbentuk lingkaran,
terutamabila sumbu panjang dari petak sejajar dengan arah perubahan keadaan
lingkungan atau habitat. Ada sejumlah cara untuk mendapatkan informasi tentang
struktur dan komposisi komunitas tumbuhan darat. Namun yang paling luas diterapkan
adalah cara pencuplikan dengan kuadrat atau plot berukuran baku. Cara pencuplikan
kuadrat dapat digunakan pada semua tipe komunitas tumbuhan dan juga untuk
mempelajari komunitas hewan yang menempati atau tidak berpindah.Rincian
mengenai pencuplikan kuadrat meliputi ukuran, cacah, dan susunan plot cuplikan
harus ditentukan untuk membentuk komuniatas tertentu yang dicuplik berdasarkan
pada informasi yang diinginkan (Supriatno, 2001).

Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika


digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot
dan metode kwarter. Transek adalah jalur sempit melintang lahan yang akan
dipelajari/diselidiki. Belt transek merupakan jalur vegetasi yang lebarnya sama dan
sangat panjang. Lebar jalur ditentukan oleh sifat-sifat vegetasinya untuk menunjukkan
bagan yang sebenarnya. Lebar jalur untuk hutan antara 1-10 m. Transek 1 m
digunakan jika semak dan tunas di bawah diikutkan, tetapi bila hanya pohon-
pohonnya yang dewasa yang dipetakan, transek 10 m yang baik. Panjang transek
tergantung tujuan penelitian. Setiap segment dipelajari vegetasinya (Kershaw, 1979).

Metode garis-garis merupakan petak contoh (plot). Tanaman yang berada tepat
pada garis dicatat jenisnya dan berapa kali terdapat/dijumpai. Pada metode garis ini,
sistem analisis melalui variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang
selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk
memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis
yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang
tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan
panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang
dibuat. Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan
pada setiap garis yang disebar (Michael, 1990).
Daftar Pustaka
Arrijani, dkk. 2006. Analisis Vegetasi Hulu DAS Cianjur Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango. Jurnal Biodiversitas. Volume 7, Nomor (2): 147-153.
Fachrul, F.M. 2007. Metode Sampling Bioekologi. Jakarta: Bumi Aksara.
Harjosuwarno, S. 1990. Dasar-dasar Ekologi Tumbuhan. Yogyakarta: Fakultas Biologi
UGM.
Indriyanto. 2005. Ekologi Hutan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Kershaw, K. A. 1979. Quantitative and Dynamic Plant Ecology. London: Edward Arnold
Publishers.

Kusmana, C dan Istono. 1995. Ekologi Hutan. Bogor: Laboratorium Ekologi Hutan.
Marsono. 1999. Fonerik. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press.
Michael. 1990. Pengantar Ekologi. Jakarta: PT Remaja Rosdakarya.
Nadziroh, Iin. 2014. Analisis Vegetasi Herba di Hutan Seputih Bagian Kesatuan Pemangkuan
Hutan Mayang Kesatuan Pemangkuan Hutan Jember. Skripsi: Naskah tidak
dipublikasi. Universitas Jember. Jember.
Novera, Yanti. 2008. Analisis Vegetasi, Karakteristik Tanah dan Kolonisasi Fungi Mikoriza
Arbuskula (FMA) pada Lahan Bekas Tambang Timah di Pulau Bangka. Skripsi:
Naskah tidak dipublikasi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Odum, P.E. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Edisi Ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Setiadi, D dan Muhadiono I. 2001. Penuntun Praktikum Ekologi. Bogor: Laboratorium
Ekologi Institut Pertanian Bogor.
Soerianegara, I. 1998. Ekologi Hutan Indonesia. Bogor: Laboratorium Ekologi Hutan
Fakultas Kehutanan IPB.

Soetjipta. 1994. Dasar-Dasar Ekologi Tumbuhan. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan


Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Dan
Peningkatan Mutu Tenaga Pendidikan.

Supriatno, B. 2001. Pengantar Praktikum Ekologi Tumbuhan. Bandung: FMIPA Universitas


Pendidikan Indonesia.

Widjdati, Yusri. 2009. Analisis Populasi Tumbuhan Sarangan, Cemara Lumut dan Kayu
Tanen di Kawasan Cagar Alam Gebugan Kabupaten Semarang. Skripsi: Naskah tidak
dipublikasi. Universitas Negeri Semarang. Semarang.