Anda di halaman 1dari 11

Seorang Perempuan Mengalami Stres Diperberat oleh Pekerjaan

Harun Gani

102013410

A2

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

harungani13@gmail.com

PENDAHULUAN

Stres berasal dari bahasa latin stingere, yang digunakan pada abad XVII untuk
menggambarkan kesukaran, penderitaan dan kemalangan. Stress adalah ketegangan atau
tekanan emosional yang dialami seseorang yang edang dihadapi tuntutan yang sangat besar,
hambatan-hambatan, dan adanya kesempatan yang sangat penting yang dapat mempengaruhi
emosi, pikiran, dan kondisi fisik seseorang.

Stres menurunkan daya tahan tubuh sehingga mengakibatkan individu mudah


terserang penyakit, stres kerja dapat diartikan sebagai sumber atau stressor kerja yang
menyebabkan reaksi individu berupa reaksi fisiologis, psikologis, dan perilaku. Sebenarnya
stres kerja tidak selalu membuahkan hasil yang buruk dalam kehidupan manusia.

Stres dibedakan menjadi dua kategori yaitu Distress yang destruktif dan eutstress
yang merupakan kekuatan positif. Stres diperlukan untuk menghasilkan prestasi serta
produktifitas yang tinggi. Stres dapat berkembang menjdi tenaga kerja sakit, baik fisik
maupun mental sehingga tidak dapat bekerja lagi secara optimal. Stres kerja merupakan suatu
respon adaptif yang dirasakan oleh pekerja yang berasal dari interaksi antara kondisi kerja
dengan sifat-sifat pekerja yang dapat mengganggu fungsi mental, fisik, dan kimiawi di dalam
tubuh jika tidak ditanggapi secara positif.1

PEMBAHASAN

Skenario 10 Seorang perempuan usia 30 tahun, datang ke klinik anda dengan keluhan
utama mual berulang sejak 1 bulan yang lalu
Identifikasi istilah yang tidak diketahui Tidak ada
Rumusan masalah Perempuan usia 30 tahun dengan keluhan mual berulang sejak
1bulan lalu
Mind map

1
anamnesis

pemeriksaan
pencegahan
fisik

wanita usia 30 tahun


pemeriksaan
penatalaksanaan dengan keluhan mual
penunjang
sejak 1 bulan lalu

diagnosis
dampak
kerja

gejala
klinik

Hipotesis
Perempuan usia 30 tahun tersebut menderita stress yang diperberat oleh pekerjaan

LANGKAH-LANGKAH MENDIAGNOSIS PENYAKIT AKIBAT KERJA

Untuk dapat mendiagnosis Penyakit Akibat Kerja (PAK) pada individu perlu dilakukan
suatu pendekatan sistematis untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dan
menginterpretasikannya secara tepat yang terdiri dari tujuh langkah pendekatan klinis.2

1. Diagnosis klinis

2
Diagnosis klinis harus dapat ditegakkan terlebih dahulu, dengan memanfaatkan fasilitas-
fasilitas penunjang yang ada, seperti umumnya dilakukan untuk mendiagnosis suatu penyakit.
Setelah diagnosis klinik ditegakkan baru dapat dipikirkan lebih lanjut apakah penyakit
tersebut berhubungan dengan pekerjaan atau tidak.2

a. Anamnesis

Menanyakan data-data pribadi seperti nama, umur, alamat, dan pekerjaan. Kemudian
menanyakan keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, dan riwayat
penyakit keluarga.2

Keluhan utama : rasa berat di dada dan nafas pendek sejak 1 tahun yang lalu.
Riwayat penyakit sekarang :
o rasa berat seperti apa ? menjalar atau tidak ?
o Tiba-tiba atau perlahan ? saat aktifitas atau tidak ?
o Sudah diobati belum ? minum obat apa ?
o Seberapa sering kambuh ?
Riwayat penyakit dahulu :
o Apakah pernah mengalami penyakit seperti ini dahulu ?
o Apakah pernah dirawat di rumah sakit karena penyakit ?
Riwayat keluarga :
o Apakah dikeluarga ada yg menderita hal yang sama ?
Riwayat pekerjaan :
o Bekerja dimana , jabatan
o Berapa lama bekerja dalam sehari ? berapa hari kerja dalam seminggu ?
o Waktu istirahat
o Apa ada masalah dengan boss atau teman kerja ?
o Apakah pekerja lain menderita hal yang sama ?
o APD ( Alat Pelindung Diri ) apa yang digunakan ?
o Intensitas pekerjaan ringan, sedang atau berat
o Gaji
b. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksan fisik yang dilakukan adalah tanda-tanda vital meliputi suhu, pernapasan, nadi,
dan tekanan darah. Suhu normal pada orang dewasa berkisar 36 derajat. Naik atau turunnya
suhu dipengaruhi oleh berbegai hal seperti umur, aktivitas tubuh, jenis kelamin, dan
sebagainya. Pengukuran dapat dilakukan di beberapa tempat yaitu di mulut, anus, ketiak, dan
telinga. Pernapasan normal pada dewasa adalah 16-20 x/menit. Menghitung pernapasan lebih
baik dilakukan tanpa diketahui oleh orang yang diperiksa agar tidak membiaskan hasil. Nilai
denyut nadi merupakan salah satu indikator untuk menilai sistem kardiovaskular. Nilai

3
normal pada orang dewasa adalah 70-80 x/menit. Tekanan darah menunjukkan nilai sistole
dan diastole. Nilai normal pada orang dewasa adalah sekitar 120/80 mmHg.2

c. Pemeriksaan Penunjang

Bahan pemeriksaan penunjang diambil dari darah, feses, urin, atau dalam organ tubuh
untuk tergantung dari keluhannya namun dalam kasus ini belum dilakukan. Namun
disarankan lebih menekankan ke anamnesis untuk rencana melakukan pemeriksaan
penunjang.2

2. Pajanan yang dialami

Pengetahuan mengenai pajanan yang dialami oleh seorang tenaga kerja adalah esensial
untuk dapat menghubungkan suatu penyakit dengan pekerjaannya. Untuk ini perlu dilakukan
anamnesis mengenai riwayat pekerjaannya secara cermat dan teliti, yang mencakup: a)
Penjelasan mengenai semua pekerjaan yang telah dilakukan oleh penderita secara kronologis,
b) Lamanya melakukan masing-masing pekerjaan, c) Bahan yang diproduksi, d) Materi
(bahan baku) yang digunakan, e) Jumlah pajanannya, f) Pemakaian alat perlindungan diri
(misal: masker), g) Pola waktu terjadinya gejala, h) Informasi mengenai tenaga kerja lain
(apakah ada yang mengalami gejala serupa), i) Informasi tertulis yang ada mengenai bahan-
bahan yang digunakan (MSDS, label, dan sebagainya).2

a. Faktor Fisik

Bangunan, suhu, gelombang elegtromagnet, udara, tekanan udara, kebisingan, vibrasi,


radiasi.

b. Faktor Biologis

Virus, hewan, tumbuhan, bakteri, jamur.

c. Faktor Kimia

Bahan kimia uap, debu, gas, solven, kabut.

d. Faktor Ergonomis atau fisiologis

Posisi kerja, desain tempat kerja, beban kerja. 1

e. Faktor Mental dan Psikologis

4
Masalah kerja yang mempengaruhi psikis, monotoni, tuntutan kerja. 1

3. Hubungan pajanan dengan penyakit

Apakah terdapat bukti-bukti ilmiah dalam kepustakaan yang mendukung pendapat bahwa
pajanan yang dialami menyebabkan penyakit yang diderita. Jika dalam kepustakaan tidak
ditemukan adanya dasar ilmiah yang menyatakan hal tersebut di atas, maka tidak dapat
ditegakkan diagnosa penyakit akibat kerja. Jika dalam kepustakaan ada yang mendukung,
perlu dipelajari lebih lanjut secara khusus mengenai pajanan sehingga dapat menyebabkan
penyakit yang di derita (konsentrasi, jumlah, lama, dan sebagainya).2

4. Pajanan yang dialami cukup besar

Tentukan apakah jumlah pajanan yang dialami cukup besar untuk dapat mengakibatkan
penyakit tersebut. Jika penyakit yang diderita hanya dapat terjadi pada keadaan pajanan
tertentu, maka pajanan yang dialami pasien di tempat kerja menjadi penting untuk diteliti
lebih lanjut dan membandingkannya dengan kepustakaan yang ada untuk dapat menentukan
diagnosis penyakit akibat kerja. Hal ini dapat diperkuat juga dengan mengetahui
patofisiologis penyakit serta pemakaian alat pelindung diri.2

Pikiran dapat menimbulkan gejala fisik seperti denyut jantung berdebar kencang, pusing,
mual dan muntah, tidak bisa tidur. Gejala fisik tersebut disebabkan oleh meningkatnya
aktivitas impuls saraf dari otak ke berbagai bagian tubuh seperti gastrointestinal
menyebabkan menurunnya kerja lambung sehingga keluhan seperti mual, muntah akan
muncul.

5. Peranan faktor individu

Menentukan apakah ada faktor-faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi penyakit.
Dalam hal ini diperlukan status kesehatan fisik penderita seperti riwayat alergi, perlu
diketahui riwayat kesehatan (riwayat keluarga) yang mengakibatkan penderita lebih
rentan/lebih sensitif terhadap pajanan yang dialami, kebersihan personal, kepatuhan dalam
menaati peraturan terkait tempat kerja penderita, kebiasaan berolahraga.3

6. Faktor lain di luar pekerjaan

5
Pajanan lain yang dapat menyebabkan penyakit, tetapi bukan faktor pekerjaan seperti hobi,
merokok, pajanan dirumah, pekerjaan sambilan.3

7. Diagnosis Okupasi

Sesudah menerapkan keenam langkah di atas perlu dibuat suatu keputusan berdasarkan
informasi yang telah didapat yang memiliki dasar ilmiah. Seperti telah disebutkan
sebelumnya, tidak selalu pekerjaan merupakan penyebab langsung suatu penyakit, kadang-
kadang pekerjaan hanya memperberat suatu kondisi yang telah ada sebelumnya. Hal ini perlu
dibedakan pada waktu menegakkan diagnosis. Suatu pekerjaan/pajanan dinyatakan sebagai
penyebab suatu penyakit apabila tanpa melakukan pekerjaan atau tanpa adanya pajanan
tertentu, pasien tidak akan menderita penyakit tersebut pada saat ini. Sedangkan pekerjaan
dinyatakan memperberat suatu keadaan apabila penyakit telah ada atau timbul pada waktu
me3nganggu
yang sama tanpa pekerjaannya/pajanannya memperberat/mempercepat timbulnya
penyakit.

Depresi
Adanya 5 atau lebih keluhan yang bermanifes setidaknya 2 minggu secara berturut2, dan
meperlihatkan adanya kelainan fungsi. Salah satu keluhan tersebut harus kehilangan mood
atau kehilangan minat.4

Kehilangan mood
Kehilangan minat pada aktifitas harian
Penurunan berat badan
Susah tidur
Gangguan atau kemunduran psikomotor
Kelelahan
Perasaan bersalah atau tidak berguna
Susah berpikir atau berkonsentrasi
Sering berpikir tentang kematian

GEJALA KLINIK STRESS5

otot tegang terutama di sekitar leher, rahang, bahu, dan punggung


perasaan lelah terus menerus
lekas marah dan menyebabkan perubahan suasana hati
depresi dan kecemasan
produksi air mani atau sel telur rendah
peningkatan tekanan darah, glukosa, dan kadar kolesterol
buang air besar tidak teratur dan/atau susah

6
palpitasi atau denyut jantung tidak teratur
kesulitan bernapas
merasa kelaparan
gangguan tidur seperti insomnia
kesulitan dalam berkonsentrasi
kesulitan dalam mempertahankan atau menurunkan berat badan
hilangnya dorongan seksual
kerentanan terhadap infeksi
kulit tidak sehat dan rambut rontok
nyeri dada
mual, sakit kepala, dan pusing

DAMPAK

Stress akibat kerja merupakan kondisi yang muncul akibat interaksi seseorang dengan
pekerjaan dan lingkungan kerjanya. Stress ditandai dengan perubahan pada diri seseorang
yang memaksa mereka menyimpang dari fungsinya secara normal. Memang tidak
selamanya stress berdampak negatif pada penderitanya, dan bahkan dapat pula berdampak
positif. Semua itu tergantung pada kondisi psikologis dan sosial seseorang yang mengalami
stress, sehingga reaksi terhadap setiap kondisi stress sangat berbeda.5

1. Dampak Terhadap Individu

Dampak stress kerja bagi individu adalah munculnya masalah-masalah yang berhubungan
dengan kesehatan, psikologis dan interaksi interpersonal.

a. Kesehatan

Sistem kekebalan tubuh manusia ini bekerja sama secara integral dengan sistem
fisiologis lain, dan kesemuanya berfungsi untuk menjaga keseimbangan tubuh, baik fisik
maupun psikis yang cara kerjanya di atur oleh otak. Seluruh sistem tersebut sangat
mungkin dipengaruhi oleh faktor psikososial seperti stress dan immunocompetence.
Istilah immunocompetence ini biasanya digunakan di bidang kedokteran untuk
menjelaskan derajat keaktifan dan keefektifan dari sistem kekebalan tubuh. Jadi, tidak
heran jika orang yang mudah stress, mudah pula terserang penyakit.6

b. Psikologis

7
Stress berkepanjangan akan menyebabkan ketegangan dan kekuatiran yang terus-
menerus. Menurut istilah psikologi, stress berkepanjangan ini disebut stress kronis. Stress
kronis sifatnya menggerogoti dan menghancurkan tubuh, pikiran dan seluruh kehidupan
penderitanya secara perlahan-lahan. Akibatnya, orang akan terus-menerus merasa tertekan
dan kehilangan harapan. Akar dari stress kronis ini adalah dari pengalaman traumatis di masa
lalu yang terinternalisasi, tersimpan terus dalam alam bawah sadar. Hal ini jadi berbahaya
karena orang jadi terbiasa "membawa" stress ini ke mana saja, dimana saja dan dalam situasi
apapun juga; stress kronis ini dianggap sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka
sehingga tidak ada upaya untuk mencari jalan keluarnya lagi. Singkatnya, orang yang
menderita stress kronis ini sudah hopeless and helpless. Tidak heran jika para penderita stress
kronis akhirnya mengambil keputusan untuk bunuh diri, atau meninggal karena serangan
jantung, stroke, kanker, atau tekanan darah tinggi.6

b. Interaksi Interpersonal

Orang yang sedang stress akan lebih sensitif dibandingkan orang yang tidak dalam
kondisi stress. Oleh karena itulah, sering terjadi salah persepsi dalam membaca dan
mengartikan suatu keadaan, pendapat atau penilaian, kritik, nasihat, bahkan perilaku orang
lain. Obyek yang sama bisa diartikan dan dinilai secara berbeda oleh orang yang sedang
stress.6 Selain itu, orang stress cenderung mengkaitkan segala sesuatu dengan dirinya. Pada
tingkat stress yang berat, orang bisa menjadi depresi, kehilangan rasa percaya diri dan harga
diri. Akibatnya, ia lebih banyak menarik diri dari lingkungan, tidak lagi mengikuti kegiatan
yang biasa dilakukan, jarang berkumpul dengan sesamanya, lebih suka menyendiri, mudah
tersinggung, mudah marah, mudah emosi. 6

2. Dampak Terhadap Perusahaan

Sebuah organisasi atau perusahaan dapat dianalogikan sebagai tubuh manusia. Jika salah
satu dari anggota tubuh itu terganggu, maka akan menghambat keseluruhan gerak,
menyebabkan seluruh tubuh merasa sakit dan menyebabkan individunya tidak dapat
berfungsi secara normal. Demikian pula jika banyak di antara karyawan di dalam organisasi
mengalami stress kerja, maka produktivitas dan kesehatan organisasi itu akan terganggu.

Randall Schuller, mengidentifikasi beberapa perilaku negatif karyawan yang berpengaruh


terhadap organisasi. Menurut peneliti ini, stress yang dihadapi oleh karyawan berkorelasi

8
dengan penurunan prestasi kerja, peningkatan ketidakhadiran kerja, serta tendensi mengalami
kecelakaan.

Secara singkat beberapa dampak negatif yang ditimbulkan oleh stress kerja dapat berupa:7

Terjadinya kekacauan, hambatan baik dalam manajemen maupun operasional kerja

Mengganggu kenormalan aktivitas kerja

Menurunkan tingkat produktivitas

Menurunkan pemasukan dan keuntungan perusahaan. Kerugian finansial yang dialami


perusahaan karena tidak imbangnya antara produktivitas dengan biaya yang dikeluarkan
untuk membayar gaji, tunjangan, dan fasilitas lainnya. Banyak karyawan yang tidak
masuk kerja dengan berbagai alasan, atau pekerjaan tidak selesai pada waktunya entah
karena kelambanan atau pun karena banyaknya kesalahan yang berulang.5

PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan stress di tempat kerja secara menyeluruh tidak hanya membutuhkan


kooperasi dan partisipasi pasien tapi juga partisipasi aktif organisasi tempat kerja,
melaksanakan perbaikan tempat kerja seoptimal mungkin, menciptakan manajemen yang
terbuka, terlaksananya komunikasi dua arah antara pekerja dan pimpinan, memberikan tugas-
tugas dan otoritas tugas yang jelas memberikan target-target yang menantang tapi mudah
dicapai, jadwal kerja yang fleksibel tapi terncana, memberikan teguran pada pekerja yang
salah secara wajar, adil tanpa kekerasan. Ada terapi medikamentosa dan non medika mentosa.
Terapi medikamentosa Obat-obatan yang digunakan biasanya digunakan adalah anti cemas
dan anti depresi. Sedangkan non medikamentosa meliputi psikoterapi suportif dan psikoterapi
redukatif di mana psikoterapi suportif memberikan motivasi atau dukungan agar pasien
mengalami percaya diri, sedangkan psikoterapi redukatif dilakukan dengan memberikan
pendidikan secara berulang.7

PENCEGAHAN
1. Pola hidup sehat (Olah raga dan tidak merokok) Olahraga dapat menurunkan tingkat stres.
Olahraga seperti jogging, berenang, dan lain-lainnya juga diketahui mampu meningkatkan

9
senyawa kimia di dalam otak diantaranya adalah hormon serotonin, dopamin, dan endorphin.
Senyawa kimia ini yang nantinya dapat menurunkan tingkat stres.5

2. Konsumsi makanan seimbang Beberapa makanan yang dapat membantu meredakan stres.
Makanan jenis ini adalah makanan yang memiliki kandungan nutrisi sebagai berikut:
-Vitamin B, terdapat pada alpukat, pisang, ikan tuna, ikan salmon, ikan sardin, susu dan
yoghurt.5

-Asam folat, terdapat pada oatmeal, jeruk atau asparagus. 5

-Magnesium, terdapat pada sayur bayam, tofu dan kacang almond. Makanan tersebut dapat
membantu tubuh memproduksi dopamin, yang dapat membantu anda tidur nyenyak. 5

-Vitamin C, terdapat pada buah-buahan seperti kiwi, stroberi atau jeruk.


-Serta beberapa makanan dengan kandungan asam lemak omega 3 dapat menurunkan tingkat
stres, karena memicu produksi hormon serotonin. Misalnya; salmon, alpukat, walnut, kacang
tanah, biji-bijian dan minyak zaitun. 5

3. Cukup istirahat (tidur cukup) untuk tetap menjaga daya tahan tubuh. 5

4. Tidak kekurangan minum air putih 5

5. Mengenali gejala-gejala stress serta bisa melakukan manajemen stres dan latihan berpikir
positif (Cognitive Behavior Therapy).Jika tanda-tanda stres mulai muncul, selalu tanamkan
pikiran positif. Anda dapat mencoba melakukan autohipnosis (menghipnotis diri sendiri
dengan menanamkan pikiran-pikiran yang membuat kita lebih percaya diri dalam melakukan
sesuatu). Meditasi dan teknik relaksasi dapat membantun menghilangkan stres. Latihlah
supaya Anda dapat hidup dalam kerangka "here and now", yaitu tidak mengungkit-ungkit
kesalahan dan penyesalan masa lalu maupun kekhawatiran berlebihan akan masa depan.
Penenangan pikiran ini bisa dilakukan dengan cara meditasi, yoga, pelatihan relaksasi
autogenik, pelatihan relaksasi neuromuskular dan lain-lain.8

KESIMPULAN

Stress dapat dialami oleh setiap orang dan dapat diakibatkan berbagai faktor. Dalam
kasus ini perempuan yang berprofresi sebagai seorang karyawan di bagian administrasi
disebuah perusahaan di daerah sudirman, mengalami stress yang diperberat oleh karena
pekerjaan yang dimaksukkan ke dalam kategori pengaruh psikologis. Dampak yang terjadi
dapat mempengaruhi diri sendiri dan juga karir di mana perempuan tersebut bekerja. Perlu
penaganan yang tepat baik untuk individu dan pajanan disekitarnya.

10
DAFTAR PUSTAKA

1. McKenzie, James F. Kesehatan masyarakat. Edisi 4. Jakarta: Penerbit Buku


Kedokteran EGC; 2007.h.615-19.
2. Suratun dan Lusianah. 2010. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem
Gastrointestinal. Jakarta: Trans Info Media.
3. Sadock, B.J. & Sadock,V.A., 2010. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis,
Edisi 2. Jakarta : EGC.
4. Maramis, W.F. & Maramis, A.A., 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Edisi 2.
Surabaya : Airlangga University Press.
5. Hawari, D., 2011. Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI.
6. Djojoningrat, D., 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi 5. Jakarta :
InternaPublishing.
7. Ivancevich, Jhon M. Robert Konopaske dan Michael. 2009. Perilaku dan Manajemen
Organisasi. Edisi Ketujuh. Jakarta : Erlangga.
8. Sumamur. Hygiene perusahaan dan kesehatan kerja (hiperkes). Jakarta: CV. Sagung
Seto; 2009. h. 74, 396-404.

11