Anda di halaman 1dari 17

PENGEMBANGAN INQUIRY ILMIAH DAN ARGUMEN ILMIAH

MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas Design Pengembangan Biologi
yang dibina oleh Dr. Hadi Suwono, M. Si

Oleh
Aminatur Rosyidah (160341801060)
M. Bagas Murditya (160341801060)

UNIERSITAS NEGERI MALANG


PASCASARJANA
PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI
September 2016

1
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI -------------------------------------------------------------------------------- 2

BAB I PENDAHULUAN ----------------------------------------------------------------- 3

a. Latar Belakang ---------------------------------------------------------------------------- 3

b. Rumusan Masalah ------------------------------------------------------------------------ 3

c. Tujuan -------------------------------------------------------------------------------------- 3

d. Manfaat ------------------------------------------------------------------------------------- 4

BAB II PEMBAHASAN ------------------------------------------------------------------ 5

a. Pemahaman Pendekatan Inquiry -------------------------------------------------------- 5

b. Argumen Ilmiah --------------------------------------------------------------------------- 9

BAB III PENUTUP ---------------------------------------------------------------------- 16

a. Kesimpulan ------------------------------------------------------------------------------ 16

b. Saran -------------------------------------------------------------------------------------- 16

DAFTAR RUJUKAN -------------------------------------------------------------------- 17

2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pada dasarnya tujuan dari pendidikan sains adalah mempersiapkan peserta
didik untuk memiliki kajian sains dan tekhnolog melalui perkembangan berfikir,
sikap dan keterampilan dalam upaya memahami dirinya sendiri dan
lingkunganya. Kemampuan dasar bekerja ilmiah dalam jengjang pendidikan baik
yang dari dasar maupun jenjang menengah banyak berisikan keterampilan proses
yang mencakup keterampilan mengajukan pertanyaan, melakukan pengamatan,
mengelompokkan, melakukan inferensi, meramalkan, menafsirkan,
mengkomunikasikan dan berhipotesis. Kemampuan dasar bekerja ilmiah
(scientific inquiry) penting untuk dikembangkan karena memungkinkan orang
yang belajar dan orang yang membelajarkannya. Dengan demikian kemampuan
dasar berfikiir ilmiah sangat penting dikembangkan dalam suatu pembelajaran.

Semenjak dahulu kala hingga saat ini, manusia dalam kehidupan sehari-
harinya pasti terpapar oeh berbagai informasi. Informasi tersebut diantara
berbagai informasi tersebut ada yang berupa klaim-klaim tertentu, salah satunya
adalah klaim tentang kesehatan. Pada zaman dahulu paparan informasi yang
terkait dengan klaim kesehatan pada seseorang atau sekelompok orang hanya
terbatas pada tabib dan dukun tertentu saja. Pada banyak kasus, klaim yang
disajikan oleh media seringkali dibelokkan untuk tujuan-tujuan tertentu. Hal inilah
yang menyebabkan, pada banyak kasus klaim yang diajukan atas dasar argumen
yang lemah atau bahkan palsu. Fenomena seperti ini menyebabkan masyarakat
menjadi skeptis.

B. Rumusan masalah
1. Bagaimana peranan inquiry untuk proses pembelajaran?
2. Apa saja bagian-bagian dari argumen?
3. Bagaimana pengimplementasian pembelajaran berargumen ilmiah dikelas?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui peranan inquiry untuk proses pembelajaran
2. Menjelaskan bagian-bagian dari argumen?

3
3. Simulasi kelas sebagai ruang debat adalah upaya yang dianggap sesuai
untuk membelajarkan siswa tentang bagaimana cara berargumen yang baik
D. Manfaat
1. Dapat memahami pendekatan pembelajaran melaui inquiry serta lebih
tau mengenai apa saja argumen yang berkaitan dengan suatu kajian
ilmiah dalam proses pembelajaran.

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengembangan pemahaman inquiry

Dalam science inquiry kita akan berbicara pada aktifitas ilmiah dan
infestigasi yang mempunyai karakteristik dari inquiry berdasarkan instruksi:
infestigasi yang diprediksi dari sebuah pertanyaan, apapun yang ditanyakan dari
guru, buku ilmiah atau murid itu sendiri. Dari scientific inquiry (inquiry ilmiah)
kita akan menyalurkan sebuah pemikiran kritis, pemecahan masalah selama
melaksanakan infestigasi ilmiah. Inquiry ilmiah juga mengedepankan tentang
kemampuan suatu pngetahuan dan attitude siswa.
Definisi inquiry ilmiah yaitu sebuah proses aktif menjelajah dengan
bagaimana kita menggunakan hakikat, kenyataan, kemapuan berfikir kreatif,
untuk mengikut sertakan dalam soal dari tipa personal atau kolaborasi antara
orang yang mengidentifikasi dan soal yang diaujkan untuk diidentifikasi, dari itu
maka dibentuk:
a. Menggenerasikan soal atau kenyataan yang harus dipecahkan.
b. Berargumentasi untuk solusi dari suatu masalah.
c. Merencanakan satu atau lebih hipotesis untuk disajikan
d. Melilih suatu metode aktif dalam melakukan prosedur dari penelitian.
Inquiry memiliki kebiasaan pemikiran untuk menggabungkan dalam
pemahaman pemikiran manusia. Marzano (1992) menyatakan kebiasaan berfikir .
itu mencakup dari orang yang didalamnya mampu berfikir kritis, memecahkan
suatu masalah, berkomunikasi dan pengambilan keputusan serta kognisi dan sadar
akan pemikiran sendiri. Beberapa hal yang mendasari dari suatu kebiasan berfikir
yaitu:
Kreatifitas Rasa ingin tahu
Rajin Jujur
Fleksibel Imajinasi
Inoasi Integritas
Keterbukaan Ketekunan
Refleksi Sensitif

5
Ketidakpercayaan Perhatian
Kekuatan
Tujuan adanya kebiasaan berfikir(berfikir kritis) yaitu ditekankan pada
bagaimana cara menguji dan menjelaskan informasi baik dari segi keadaan, fakta,
situasi dll. Mengapa kebiasaan dari suatu pemikiran itu sangat penting untuk
inquiry? Karena inquiry marupakan suatu komunikasi yang sangat bernilai dan
merupakan proses pembelajaran yang baik bagi seorang guru dan siswa. National
Science Education Standart (1999) menjelaskan Inquiry merupakan sebuah
aktifitas yang di dalamnya melibatkan obserasi, memberi pertanyaan, menguji
buku dari sumber lain untuk melihat kebenaran dari bukti eksperimennya. Dari
kebiasaan pemikiran itu guru dapat membantu murid untuk:
Pemahaman dalam konsep
Apresiasi bagaimana kita tahu apa yang kita pahami dari ilmu pengetahuan
Pemahaman dalam makna asli dari ilmu pengetahuan
Kemampuan untuk menjadi pribadi yang mandiri
Watak untuk menggunakan kemampuan berfikir, attitude pada ilmu
pengetahuan.

Pada jenjang sekolah menengah atas pendekatan inquiry dilakukan dengan:


Mengidentifikasi soal dan konsep yang menuntun kepada pemahaman ilmu
pengetahuan
Mendesign dan membuat ilmu pengetahuan
Mengembangkan pemahaman dan komunikasi
Menggunakan tekhnologi dan matematik untuk mengembangkan pemahaman
dan komunikasi
Memformulasi dan memperbaiki penjelasan sains dan modern menggunakan
logika dan bukti
Mampu mengenali dan menganalisa penjelasan alternatif dan model.
Mampu berkomunikasi dan berargumen tentang ilmu pengetahuan.
NRC (2012) mengidentifikasi kerangka dari semua penjelasan mengenai
ilmu pengetahuan secara menyeluruh. Pada pembahasan ini inquiry and scientific
practice mengelompokkan bagiannya menjadi 3, yaitu:

6
1. Inquiry and scientific practice,perincian dari inquiry and scientific practice
ada 8 pokok di dalam:
Menanyakan pertanyaan
Mengembangkan dan menggunakan model
Merencanakan dan melaksakan hipotesis
Menganalisa dan menginterpretasi data
Menggunakan matematika, ilmu informasi, teknologi komputer dan
berdasarkan proses komputasi.
Mengkonstruksi penjelasan
Menarik argumen dari bukti
Mendapatkan, mengealuasi dan mengkomunikasikan informasi.
2. Inquiry as a Three-Legged Stool
Inquiry bukan hanya melakukan dan mengetahui dalam proses pengajaran
saja tapi juga berkaitan dengan proses ilmiah dan rasa ingin tahu. Inquiry juga
bisa disebut penjelasan atau proses ilmiah dari eksplorasi yang aktif dengan
bagaimana kita menggunakan pemikiran kritis, nyata dan pemikiran kreatif untuk
mendapatkan dan mengikut sertakan pertanyaan dari tiap personalnya. Untuk
mengembangkan hal ini, ada 9 aspek yang perlu dikaji, yakni:
Membangun pertanyaan ilmiah atau masalah yang harus dipecahkan, salah
satunya fisik, mental dan personal.
Pengungkapan pendapat pada masalah atau pertanyaan
Memformulasikan cara untuk inestigasi
Mendesign rencana dan melaksakan penelitian sesuai dengan prosedur
Mengumpulkan data dengan obserasi dari instrumen
Mengorganisasi dan menganalisa data untuk rumus dan relasi dari setiap
ariabel
Memberi gambaran yang nayat dan bukti sesuai konklusi , permasalahan dan
penjelasan dari data.
Menyambungkan penjelasan pada pengetahuan sebelunya
Mengkomunikasikan konklusi, masalah dan penjelasan dalam argumen
ilmiah lainnya.

7
inquiry scientific memilik tujuh segment dalam komponennya, namun ketujuh
segment itu kemudian dikelompokkan menjadi 3 bagian;
(1) sebuah pertanyaanmenyelidiki fenomea dan fokus pada pertanyaan,
(2) sebuah prosedur racangan penelitian dan melaksanakan penelitian,
(3) hasil analisa data dengan bukti, meneliti ilmu pengetahuan baru dan
mengkomunikasikan ilmu pengetahuan baru.
3. Inquiry as a Human Endeaor (usaha manusia)
Walaupun dari ketujuh bagian berasal dari proses untuk sebuah perkiraan
dari percobaan, pengumpulan data dan untuk sebuah penelitian, dari sebuah
obserasi, menuntut kenyataan dan menyajikan fakta-fakta melalui
pengamatan yang kurang identik. Disini mengkaji bahwa seorang guru bisa
mengatakan murid itu melakuakn inquiry namun pada kenyataannya tidak
semua guru mengatakan bahwa murid itu bisa dikatakan melakukan inquriry,
seperti contoh; ada seorang murid, dia melakukan kegiatan dilaboratorium,
maka dia bisa dikatakan melakukan inquiry, tapi disii lain ada seseorang
yang tidak mengatakan bahwa dia tidak melakukan inquiry, tapi dia hanya
sedang ada dilaboratorium hanya membantu teman atau sedang mencoba alat
yang ada dilaboratorium.

B. Argumen ilmiah
Argument ilmiah adalah ketrampilan berpikir kritis yang membantu siswa
untuk merumuskan, mendukung, mengkritisi, menyaring, membenarkan dan
mempertahankan posisi dan sikap mereka terhadap sesuatu hal. Proses
berargumen ilmiah adalah lugas dan juga merupakan bagian dari penyelidikan
ilmiah (scientific inquiry). Berikut disajikan contoh tentang hubungan antara
inquiry dengan berargumen, meskipun detailnya berbeda. Pertama siswa
melakukan observasi terhadap suatu fenomena tertentu. Selanjutnya, siswa
menganalisis data observasi dengan mencari pola dan hubungan antara variable
yag dipelajari. Pola inilah yang kemudian membantu siswa dalam menyusun
beberapa kesimpulan, asumsi atau generalisasi. Dari asumsi dan data yang
terkumpul, siswa kemudian mengumpulkan bukti-bukti lain untuk membuat
sebuah klaim. Klaim kemudian dibenarkan oleh beberapa bukti yang mendukung.

8
Pada akhirnya, sebuah penjelasan dibangun dan dikomunikasikan untuk
menghubungkan antara klaim dan bukti. Jika bukti mendukung klaim maka suatu
model mental dan fisik dibangun untuk mendukung penjelasan dari fenomena
tersebut. Juka bukti tidak mendukung klaim, maka klaim dapat diperdebatkan,
ditolak da direvisi. Pada banyak kasus penyelidikan diulangi dua hingga beberapa
kali guna mempertimbangkan lebih banyak bukti dan klaim.Lebih lanjut,
penggunaan ketrampilan berargumen merupakan proses spiral untuk
bereksperimen, menganalisis, memvalidasi dan menjelaskan hubungan antara
pertanyaan, klaim dan bukti yang mendukung. Pada akhir tahap ini adalah
penyelidik berbagi klaim dengan siswa yang lainnya.
Hal yang membedakan antara argument ilmiah dan argument yang biasa,
adalah proses klarifikasinya. Argumen biasa umumnya diperdebatkan berdasarkan
sudut pandang seseorang dengan sudut pandang orang lain. Hal ini menyebabkan
ketiadaan kesamaan dasar atau pendekatan yang berimbang sehingga pada
akhirnya akan menyebabkan satu pihak menang dan satu pihak kalah. Salah satu
contoh dari argumen biasa yang paling sering ditemui adalah argumen dalam
pengadilan. Argumen di pengadilan pada dasarnya adalah mempresentasikan pada
juri penjelasan berdasarkan posisi berdasarkan fakta dan bukti yang menguatkan
salah satu pihak. Di pihak lain, seringkali diketahui bahwa seringkali fakta dan
bukti pendukung suatu argumen telah dibelokkan untuk kepentingan tertentu.
Argumen biasa juga sering ditemukan sebagai bagian dari pengaturan
banyak sekolah. Tidak dapat dipungkiri bahwa argumen pasti muncul di sekolah,
dimana banyak siswa di dalamnya. Walaupun guru tidak menyukai debat kusir di
kelas, namun pemaparan argumen yang tersusun secara sistematis dan didasarkan
pada bukti-bukti yang ada dapat membelajarkan siswa untuk berargumen dengan
santun. Di pihak lain, sering ditemukan siswa yang memilii kemampuan
berargumen yang baik namun tidak didukung dengan argumen yang baik.

Bagian-bagian dari Argumen


Ada dasarnya suatu argument tersusun lima bagian dasar: pertanyaan,
klaim, bukti, penjelasan dan bantahan (rebuttal). Pertanyaan dipelajari sebagai
dasar dari sebuah fenomena yang dapat diobservasi dan mengarahkan
penyelidikan (inquiry). Observasi sendiri dapat didasarkan pada sebuah fenomena

9
yang berbeda, penyelidikan investigative, aktifitas atau lab. Observasi kemudian
mengarahkan penyelidik untuk menyimpulkan berdasarkan data yang
terkumpulkan.
Klaim adalah penegasan atau kesimpulan yang menjawab pertanyaan
awal. Klaim ini sebagian didasarkan pada pengetahuan awal penyelidik tentang
hal yang sedang dipelajari. Klaim berusaha menyusun jawaban sementara atau
penyelesaian yang mungkin untuk pertanyaan yang dipelajari berdasarkan bukti-
bukti pendukung yang berhasil dikumpulkan. Bukti sedikit lebih susah untuk
dipelajari, karena kebanyakan oerang seringkali bingung membedakan antara data
dengan bukti. Lebih lanjut bukti sendiri merupakan bagian dari data yang
diperoleh oleh penyelidikuntuk mendukung atau melegitimasi klaim yang
diajukan. Di pihak lain tidak semua data yang dieroleh dari pengamatan dapat
digunakan untuk mendukung suatu klaim.
Bagian keempat dari sebuah arumen adalah penjelasan. Penjelasan
merangkum penegasan dan menyajikan interpretasi dari pengetahuan yang baru
saja diperoleh. Penjelasan juga merupakan pernyataan yang menyajikan alasan
saintifik dari klaim sekaligus menggabungkan bukti-bukti yang diperoleh. Lebih
lanjut, guru semestinya mendorong siswa untuk membuat penjelasan yang
berdasarkan pada bukti-bukti yang ada. Penjelasan juga harus memasukkan
pernyataan tentang informasi yang baru saja diperoleh sebagai bagian dari
argument yang sedang dikomunikasikan, dibenarkan dan diperdebatkan dengan
siswa lainnya.
Bagian kelima dari argument adalah bantahan. Bantahan diikuti oleh
banyak bukti oral maupun tertulis yang dipresentasikan oleh penyelidik. Pada
pembelajaran ipa di SMA penyelidik biasanya menyajikan klaim dan bukti
bersama dengan penjelasan ilmiahnya ke siswa lain di kleas tersebut. Siswa lain
dalam kelas tersebut menyajikan bantahan yang disusul dengan klaim alternative
serta pertanyaan yang mempertanyakan tentang validitas bukti yang disajikan.
Pentingnya Ketrampilan Argumen Ilmiah
Pembelajaran sains yang membelajarkan tentang argument ilmiah dirasa
menjadi penting bagi perkembangan pembelajaran sains di abad 21. Kondisi
idealism ini ternyata tidak searah dengan fakta di lapangan bahwa, kurikulum

10
pembelajaran sains lebih menekankan pada tes terstandard baku dan penggunaan
buku teks yang masif. Hal ini mneyebabkan siswa memiliki kesempatan yang
sangat terbatas dalam mengekspresikan, menjelaskan dan menyimpulkan sudut
pandang mereka sendiri. Kondisi yang serba terbatas ini, menjadi tantangan
tersendiri bagi pereformasi kurikulum, sementara di pihak lain guru mulai
mengembangkan cara yang efektif dan efisien agar siswanya dapat belajar
berargumen ilmiah dalam kelasnya. Guru yang membelajarkan berargumen ilmiah
menyebabkan siswanya memilki kemampuan untuk:
1. Menyusun klaim berdasarkan bukti
2. Menyusun argument
3. Memiliki kemampuan untuk menyamaikan konsep mereka sendiri
4. Mengembangkan kemampuan untuk melihat argument dari sudut
pandangnya
5. Berdiskusi berdasarkan bukti
6. Memahami dan merefleksi sudut pandang orang lain
7. Membantah klaim orang lain
8. Fasih berargumentasi
9. Mengembangkan ketrampilan berbicara dan mendengarkan

Inti dari standart argument ilmiah.


Ketrampilan beragumen ilmiah seharusnya dibelajarkan ada siswa SMA.
Hal ini bertujuan agar siswa SMA setelah lulus memiliki kompetensi berargumen
ilmiah yang baik. Inti dari standart ketrampilan beragumen ilmiah dapat dibagi
menjadi dua, yakni: (1) standart membaca untuk literasi sains dan mata pelajaran
tekhnik, (2) standart menulis untuk literasi sains dan mata pelajaran tekhnik.
Standart membaca untuk literasi sains dan mata ppelajaran teknin meliputi hal-hal
sebagai berikut:
1. Mengutip bukti tekstual spesifik untuk mendukung analisis dari teks sains
dan teknik dengan memasukkan nama penulis serta menggabungkan ide
dari berbagai enulis tersebut
2. Menentukan ide pokok atau kesimulan dari suatu teks; meringkas konse
yang kompleks, proses, atau informasi yang disajikan dalam teks dengan
memparafrase namun dengan konteks yang masih akurat

11
3. Mengikuti dengan tepat prosedur multistep yang kompleks ketika
melakukan eksperimen, pengukuran atau tugas teknik; menganalisi hasil
spesifik berdasarkan teks
4. Menentukan arti dari symbol kata kunci dan kata-kata atau frase spesifik
yang lain yang digunakan secara spesifik untuk konteks sains atau teknik
yang relevan dengan materi SMA
5. Menganalisis bagaimana struktur informasi suatu teks atau ide-ide menjadi
kategori atau hirarki, menunjukkan ppemahaman dari suatu informasi atau
ide
6. Mengalisis tujuan enulis dalam menyajikan enjelasan, mendiskriskan
prosedur, mendiskusikan hasil ekserimen dan bermasalahan yang belum
terselesaikan
7. Menggabungkan dan mengevaluasi berbagai informasi yang disajikan ada
berbagai format dan media untuk menyelesaikan suatu permaslahan
8. Mengevaluasi hipotesis, data, analisis dan kesimpulan dari tulisan sains
atau teknik dan memverifikasi data membantah kesimpulan apabila
memungkinkan dengan dukungan berbagai sumber informasi lain
9. Mensintesis informasi dari berbagai sumber menjadi pemahaman yang
menyeluruh terhadap suatu proses, fenomena atau konsep dan jika
memungkinkan menyelesaikan informasi yang saling bertolak belakang
10. Membaca dan memperbandingkan teks sains atau teknik dengan bebas dan
lancar

Dipihak lain standart menulis untuk literasi sains dan mata pelajaran tekhnik
meliputi:
1. Kemampuan menulis argument yang terpusat pada konten disiplin
tertentu, meliputi:
a. Menyusun latar belakang, wawasan terhadap klaim, menentukan
signifikasi dari klaim, membedakan klaim dari klaim lain atau klaim
yang berlawanan, dan menyusun suatu organisasi sequens klaim yang
logis, klaim yang berlawanan, alasan, dan bukti
b. Mengembangkan klaim dan klaim berlawanan yang adil dan
berimbang, menyiapkan data yang relevan dan bukti yang menguatkan,

12
serta limitasi terhadap keduaklaim dan klaim yang berlawanan pada
disiplin yang sesuai sebagai bentuk antisipasi dari tingkat pengetahuan,
konsentrasi, nilai, dan bias-bias yang mungkin
c. Penggunaan kata-kata, frase dan klausul serta sintak untuk
menggabungkan bagian-bagian utama dari teks, menciptakan
keterikatan dan menegaskan hubungan antara klaim dengan alasan,
antara alasan dengan bukti, antara klaim dengan klaim yang
berlawanan
d. Memunculkan dan mempertahankan gaya penulisan
e. Menyediakan kesimpulan dari pernyataan atau bagian yang
mendukung argumen
2. Menulis informasi atau teks penjelasan, termasuk narasi dari kejadian
sejarah, prosedur atau eksperimen atau proses teknis.
a. Mengenalkan topic dan megorganisasi ide yang kompleks, konsep,
informasi sehingga dihasilkan tatanan yang baru
b. Mengembangkan topic secara mendalam dengan memilih informasi
yang paling signifikan dan fakta yang relevan, definisi yang
mendalam, detail nyata, kutipan atau informasi dan contoh lain yang
sesuai dengan wawasan audiens tentang topic tersebut
c. Menggunakan berbagai kata hubung untuk menghubungkan berbagai
ide utama dalam teks
d. Menggunakan bahasa yang sesuai, kosakata yang sesuai dengan topik
bahasan, serta metaphor dan analogi yang memungkinkan untuk
menjelaskan kompleksitas dari topik
e. Menyediakan kesimpulan dan atau bagian yang mendukung
penjelasan.
3. Menghasilkan tulisan yang jelas dan menyeluruh serta sesuai dari segi
organisasi, tujuan dan audiens yang ingin dicapai
4. Mengembangkan dan menguatkan tulisan melalui perencanaan, revisi,
penyuntingan, penulisan ulang atau pendekatan baru yang paling sesuai
untuk mencappai tujuan dan audiens tertentu

13
5. Menggunakan teknologi untuk mempublikasikan berbagi dan
memperbaharui tulisan guna merespon umpan balik, argument dan
informasi baru
6. Melakukan proyek penelitian untk menyelasikan suatu permasalahan
7. Mengumpulkan informasi yang relevan secara efektif dan efisien dari
berbagai sumber cetak dan digital
8. Mengumpulkan bukti-bukti dari teks untuk mendukung analisis, refleksi
dan penelitian
9. Mampu menulis secara rutin dala jangka panjang dan pendek untuk tujuan
dan audiens tertentu

Jenis-jenis penalaran
Ada banyak jenis pola penalaran yang dikenal pada matematika dan sains.
beberapa diantaranya termasuk pola penalaran kongkrit Piaget dan ketrampilan
penalara formal seperti penalaran konservatif, tatanan serration-serial, penalaran
proporsional, dan penalaran korelasional. Di pihak lain, penalaran induktif dan
deduktif. Demikian, dikarenakan guru tidak dahlia dalam menentukan pola
penalaran, maka pembahasan akan difokuskan pada pembelajaran konsep
bernalar. Lebih lanjut, konsep dasar bernalar pada intinya adalah menggabungkan
antara bukti dan klaim.
Di samping berbagai upaya untuk mendukung argumen, penalaran ilmiah,
dan ketrampilan berpikir kritis, patut disadari bahwa terkadang siswa
menunjukkan kesalahan dalam berlogika, bernalar dan berargumen. Kesalahan
siswa dalam berargumen biasanya:
a. Kurang berpengalaman dalam menggunakan ketrampilan bernalar
b. Miskonsepsi ada topik yang dibahas
c. Mendukung klaim dengan klaim lain.

Lebih lanjut, berbagai penelitian menunjukkan bahwa siswa membawa dan


memiliki ketramilan bernalar yang beragam dikarenakan latar belakang
endidikannya yang beragam. Hal inilah yang kemudian menyebabkan guru
disarankan perlu untuk menyediakan cuku waktu berikir bagi siswa untuk

14
menyusun suatu argumen ilmiah. Lebih lanjut, siswa juga perlu untuk diberikan
waktu menyajikan argument-nya tanpa interupsi.
Simulasi kelas sebagai ruang debat adalah upaya yang dianggap sesuai
untuk membelajarkan siswa tentang bagaimana cara berargumen yang baik.
Upaya ini diangga mamu menyediakan kesempatan bagi siswa untuk berargumen
dengan fasih sekaligus mengembangkan ketrampilan berbicara dan
mendengarkan. Dalam simulasi debat ini siswa aka nada yang berperan sebagai
tim positif yang mendukung suat teori sains dan tim negative yang mencoba
membantah teori tersebut. Debat ilmiah akan menyebabkan siswa belajar
membedakan antara argumen biasa dan argumen ilmiah. Perbedaan mendasar dari
keduanya adalah apabila argument siasa menentukan kelompok mana yang
menang dan kalah, sebaliknya argumen ilmiah diakhiri dengan pemahaman atau
penjelasan yang baru.

15
BAB III
KESIMPULAN

Dari penjelasan mengenai pengembangan inquiry dapat kita ketahui bahwa


dalam proses pembelajaran, siswa diharapkan untuk mengetahui dan memahami
konteks materi dari apa yang siswa pelajari dengan melakuakn suatu penelitian.
Hal yang membantu dalam proses ini adalah dengan adanya pendekatan inquiry,
karena peranannya sangat membantu dalam proses tercapainya. Jadi bisa
disimpulkan bahwa penerapan inquiry dapat membantu proses pembelajaran yang
lebih baik dan berkembang karena tidak hanya mengetahui suatu ilmu tapi juga
mentedeksi dan meneliti dari sebuah ilmu, khusunya ilmu pengetahuan.

Ada dasarnya suatu argument tersusun lima bagian dasar: pertanyaan,


klaim, bukti, penjelasan dan bantahan (rebuttal). Pertanyaan dipelajari sebagai
dasar dari sebuah fenomena yang dapat diobservasi dan mengarahkan
penyelidikan (inquiry). Observasi sendiri dapat didasarkan pada sebuah fenomena
yang berbeda, penyelidikan investigative, aktifitas atau lab. Observasi kemudian
mengarahkan penyelidik untuk menyimpulkan berdasarkan data yang
terkumpulkan.
Simulasi kelas sebagai ruang debat adalah upaya yang dianggap sesuai
untuk membelajarkan siswa tentang bagaimana cara berargumen yang baik.
Upaya ini diangga mamu menyediakan kesempatan bagi siswa untuk berargumen
dengan fasih sekaligus mengembangkan ketrampilan berbicara dan
mendengarkan. Dalam simulasi debat ini siswa aka nada yang berperan sebagai
tim positif yang mendukung suat teori sains dan tim negative yang mencoba
membantah teori tersebut. Debat ilmiah akan menyebabkan siswa belajar
membedakan antara argumen biasa dan argumen ilmiah. Perbedaan mendasar dari
keduanya adalah apabila argument siasa menentukan kelompok mana yang
menang dan kalah, sebaliknya argumen ilmiah diakhiri dengan pemahaman atau
penjelasan yang baru.

16
DAFTAR RUJUKAN

17