Anda di halaman 1dari 19

SISTEM PANASBUMI

(Laporan Praktikum Eksplorasi Geothermal)

Oleh:
Egi Ramdhani
1315051018

LABORATORIUM GEOFISIKA
JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2016
Judul Praktikum : Sistem Panasbumi

Tanggal Praktikum : 20 Oktober 2016

Tempat Percobaan : Laboratorium Geofisika

Nama : Egi Ramdhani

NPM : 1315051018

Fakultas : Teknik

Jurusan : Teknik Geofisika

Kelompok : II (Dua)

Bandar Lampung, 20 Oktober 2016


Mengetahui,
Asisten

Dedi Yuliansyah
NPM. 1215051017

i
SISTEM PANASBUMI

Oleh
Egi Ramdhani

ABSTRAK

Sistem panasbumi terbagi menjadi beberapa klasifikasi berdasarkan beberapa


parameter, diantaranya berdasarkan kandungan fluida, berdasarkan sumber daya
energi panas, berdasarkan temperatur dan berdasarkan terrain. Sistem panasbumi
hydrothermal reservoir merupakan sistem panas bumi yang paling umum dengan
komponen panasbumi lengkap. Sedangkan sistem panasbumi hot dry rock tidak
memilikii zona recharge sehingga dibutuhkan pompa fluida agar dapat
menghasilkan energi panasbumi. Disisi lain, sistem geopressured reservoir
berasosiasi dengan sistem hidrokarbon yang terletak sangat dalam dibawah
permukaan, sedangkan sistem magma reservoir erat kaitannya berasosiasi dengan
dapur magma gunung api. Sistem panasbumi berdasarkan kandungan fluida dua
fasa, yang paling umum dijumpai adalah sistem dominasi air (water dominated
system) dengan kandungan air di reservoir yang mendominasi dari kandungan
uapnya. Berdasarkan temperatur, sistem panas bumi dibedakan menjadi tiga yakni
sistem panasbumi bersuhu rendah, sistem panasbumi bersuhu sedang dan sistem
panasbumi bersuhu tinggi dengan klasifikasi nilai suhu menggunakan hasil
temuan Hochstein (1990) dengan klasifikasi sistem panasbumi bersuhu rendah
<125C, sistem panasbumi bersuhu sedang 125C - 225C dan sistem panasbumi
bersuhu tinggi >225C. Di Indonesia, sistem panas bumi yang umum dijumpai
adalah sistem panas bumi hydrothermal reservoir dengan suhu tinggi karena erat
kaitannya dengan sistem vulkanik yang dikontrol oleh zona subduksi lempeng
tektonik.

ii
DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PENGESAHAN................................................................................. i

ABSTRAK............................................................................................................ ii

DAFTAR ISI........................................................................................................iii

DAFTAR GAMBAR............................................................................................iv

DAFTAR TABEL................................................................................................. v

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................................... 1
B. Tujuan Percobaan...................................................................................... 1
II. TEORI DASAR
A. Sistem Panasbumi...................................................................................... 2
B. Komponen Penyusun Sistem Panasbumi................................................... 2
C. Manifestasi Panasbumi.............................................................................. 4

III. METODOLOGI PRAKTIKUM


A. Alat dan Bahan.......................................................................................... 5
B. Diagram Alir Praktikum............................................................................ 5

IV. HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN


A. Data Praktikum.......................................................................................... 6
B. Pembahasan............................................................................................... 7

V. KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

iii
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Sistem Panas Bumi (Fauqi, 2015).................................................. 3

Gambar 2. Sistem panasbumi hydrothermal reservoir...................................... 6

Gambar 3. Sistem panasbumi hot dry rock reservoir........................................ 6

Gambar 4. Sistem panasbumi magma reservoir................................................ 7

Gambar 5. Sistem panasbumi geopressured reservoir...................................... 7

iv
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1. Klasifikasi sistem panasbumi berdasarkan suhu.................................. 9

v
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Energi panasbumi (atau energi geothermal) adalah sumber energi yang


relatif ramah lingkungan karena berasal dari panas dalam bumi. Air yang
dipompa ke dalam bumi oleh manusia atau sebab-sebab alami (hujan)
dikumpulkan ke permukaan bumi dalam bentuk uap, yang bisa digunakan
untuk menggerakkan turbin-turbin untuk memproduksi listrik. Biaya
eksplorasi dan juga biaya modal pembangkit listrik geotermal lebih tinggi
dibandinkan pembangkit-pembangkit listrik lain yang menggunakan bahan
bakar fosil. Energi panas bumi atau geothermal energy menjadi salah
satu sumber energi terbarukan yang diyakini melimpah dan ramah
lingkungan, termasuk energi panas bumi di Indonesia. Indonesia bahkan
menjadi negara dengan kandungan panas bumi yang besar, 40% potensi panas
bumi dunia terdapat di Indonesia. Sayangnya, besarnya cadangan panas bumi
di Indonesia tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal. Dan Indonesia
masih saja bergantung dengan sumber energi dari fosil.

Energi panas bumi atau geothermal energy adalah energi thermal


(panas) yang dihasilkan dan disimpan di dalam bumi. Geothermal berasal dari
bahasa Yunani Geo yang berarti bumi dan therm yang berarti kalor atau
panas. Energi dihasilkan dari aktivitas tektonik yang terjadi di dalam bumi. Di
samping itu dapat pula berasal dari panas matahari yang diserap oleh
permukaan bumi.

Lebih lanjut proses terbentuknya energi panasbumi (geothermal) dipicu


oleh aktivitas tektonik di dalam perut bumi. Dalam energi panas bumi
terdapat sistem yang bekerja didalamnya, dikarenakan alasan tersebut,
sekiranya perlu dilakukan praktikum lebih lanjut yang membahas tentang
sistem panas bumi. Maka, untuk mengetahui sistem panasbumi termasuk gaya
yang bekerja didalamnya dan semua hal yang terkait dengan sistem
panasbumi, maka dilakukanlah praktikum ini.

B. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan praktikum sistem panas bumi kali ini adalah sebagai berikut :
1. Mahasiswa mengetahui sistem panas bumi.
2. Mahasiswa mampu membedakan dan mengidentifikasi jenis sistem
panasbumi.
3. Mahasiswa mampu mengidentifikasi komponen sistem panasbumi
II. TEORI DASAR
A. Sistem Panasbumi
Energi panas bumi, adalah energi panas yang tersimpan dalam
batuan di bawah permukaan bumi dan fluida yang terkandung didalamnya.
Energi panas bumi telah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik di Italy
sejak tahun 1913 dan di New Zealand sejak tahun 1958. Pemanfaatan
energi panas bumi untuk sektor nonlistrik (direct use) telah berlangsung
di Iceland sekitar 70 tahun. Meningkatnya kebutuhan akan energi serta
meningkatnya harga minyak, khususnya pada tahun 1973 dan 1979, telah
memacu negaranegara lain, termasuk Amerika Serikat, untuk mengurangi
ketergantungan mereka pada minyak dengan cara memanfaatkan energi
panas bumi. Saat ini energi panas bumi telah dimanfaatkan untuk
pembangkit listrik di 24 Negara, termasuk Indonesia (Septiadji, 2006).
Panasbumi membentuk suatu sistem tertentu yang disebut dengan
sistem panasbumi. Hochstein dan Browne (2000) mendefinisikan sistem
panasbumi sebagai perpindahan panas secara alami dalam volume tertentu
di kerak bumi dimana panas dipindahkan dari sumber panas ke zona
pelepasan panas.
Sistem panasbumi merupakan daur hidrologi yang dalam
perjalanannya air berhubungan langsung dengan sumber panas yang
bertemperatur tinggi sehingga terbentuk airpanas atau uap panas yang
terperangkap pada suatu reservoir berupa batuan poros dengan
permeabilitas tinggi. Sistem panasbumi dengan suhu tinggi terletak pada
tempat-tempat tertentu. Batas-batas pertemuan lempeng yang bergerak
merupakan pusat lokasi kemunculan hidrotermal magma. Transfer energi
panas secara konduktif pada lingkungan tektonik lempeng diperbesar oleh
gerakan magma dan sirkulasi hidrotermal. Energi panasbumi 50% berada
dalam magma, 43% dalam batu kering panas (hot dry rock) dan 7% dalam
sistem hidrotermal (Sumintadireja, 2005).

B. Komponen Penyusun Sistem Panasbumi


Secara umum, dibawah permukaan bumi ada 3 komponen penting
yang menyusun sistem panas bumi. Pertama ada batuan panas yang
menjadi sumber panasnya. Batuan tersebut memanasi air yang terkandung
dalam batuan di atasnya, komponen kedua ini bahasa kerennya adalah
batuan reservoir. Air di dalam reservoir terus dipanasi dan akhirnya
berubah menjadi uap air atau sekedar air panas. Agar panasnya tidak
kemana-mana maka ada komponen ke 3 yang menjadi penahannya,
yaitu cap rock atau batuan penutup. Cap rock berada tepat di atas reservoir
3

dan berfungsi sebagai penutup atau penahan agar uap dan air panas di
dalam reservoir tidak muncul ke permukaan (Ichwan, 2015).

Gambar 1. Sistem Panas Bumi (Fauqi, 2015)

1. Sumber Panas
Sepanjang waktu panas dari dalam bumi ditransfer menuju
permukaan bumi dan seluruh muka bumi menjadi tempat
penampungan panas (heat sink). Namun begitu, di beberapa tempat
energi panas ini dapat terkonsentrasi dalam jumlah besar dan
melebihi jumlah energi panas per satuan luas yang rata-rata
ditemui.
2. Reservoir
Reservoir panas bumi adalah formasi batuan di bawah permukaan
yang mampu menyimpan dan mengalirkan fluida termal (uap dan
atau air panas). Reservoir biasanya merupakan batuan yang
memiliki porositas dan permeabilitas yang baik. Porositas berperan
dalam menyimpan fluida termal sedangkan permeabilitas berperan
dalam mengalirkan fluida termal.
3. Daerah Resapan (Recharge)
Daerah resapan merupakan daerah dimana arah aliran air tanah di
tempat tersebut bergerak menjauhi muka tanah. Dengan kata lain,
air tanah di daerah resapan bergerak menuju ke bawah permukaan
bumi. Dalam suatu lapangan panas bumi, daerah resapan berada
pada elevasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan elevasi dari
daerah dimana sumur-sumur produksi berada. Daerah resapan juga
4

ditandai dengan rata-rata resapan air tanah per tahun yang bernilai
tinggi.
4. Daerah Discharge dengan Manifestasi Permukaan
Daerah luahan (discharge area) merupakan daerah dimana arah
aliran air tanah di tempat tersebut bergerak menuju muka tanah.
Dengan kata lain, air tanah di daerah luahan akan bergerak menuju
ke atas permukaan bumi. Daerah luahan pada sistem panas bumi
ditandai dengan hadirnya manifestasi di permukaan. Manifestasi
permukaan adalah tanda-tanda yang tampak di permukaan bumi
yang menunjukkan adanya sistem panas bumi di bawah permukaan
di sekitar kemunculannya (Fauqi, 2015)

C. Manifestasi Panasbumi
Adanya suatu sistem hidrothermal di bawah permukaan sering kali
ditunjukkan oleh adanya manifestasi panasbumi di permukaan
(geothermal surface manifestation), seperti mata air panas, kubangan
lumpur panas (mud pools), geyser dan manifestasi panas bumi lainnya,
dimana beberapa diantaranya, yaitu mata air panas, kolam air panas sering
dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk mandi, berendam, mencuci
dan masak. Manifestasi panas bumi di permukaan diperkirakan terjadi
karena adanya perambatan panas dari bawah permukaan atau karena
adanya rekahan-rekahan yang memungkinkan fluida panas bumi (uap dan
air panas) mengalir ke permukaan (Suhartono, 2012).
III. METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan
Dalam praktikum ini, digunakan alat dan bahan sebagai berikut :
1. Alat Tulis
2. Kertas HVS
3. Model Jenis Sistem Panasbumi

B. Diagram Alir
Berikut merupakan diagram alir pada praktikum kali ini:

Mulai

Mengidentifikasi jenis jenis


sistem panasbumi
berdasarkan referensi

Mengidentifikasi komponen penyusun


masing-masing jensi sistem panas bumi.

Menggambarkan kembali sistem


penyusun sistem panas bumi yang ada,
lengkap dengan keterangan masing-
masing komponennya.

Selesai
IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. Data Pengamatan
Adapun data pengamatan pada praktikum sistem panasbumi kali ini adalah
sebagai berikut,
1. Sistem panasbumi hydrothermal reservoir

Gambar 2. Sistem panasbumi hydrothermal reservoir


2. Sistem panasbumi hot dry rock reservoir

Gambar 3. Sistem panasbumi hot dry rock reservoir


7

3. Sistem panasbumi magma reservoir

Gambar 4. Sistem panasbumi magma reservoir


4. Sistem panasbumi geopressured reservoir

Gambar 5. Sistem panasbumi geopressured reservoir

B. Pembahasan
Dalam praktikum ini, dilakukan pengamatan mengenai jenis-jenis
sistem panas bumi yang ada. Berdasarkan identifikasi jenis sistem panasbumi
berdasarkan referensi, maka dapat diketahui adanya empat sistem panasbumi
yakni jenis hydrothermal reservoir, jenis hot dry reservoir, jenis
geopressured reservoir dan jenis magma reservoir. Keempat jenis sistem
8

panas bumi ini dibedakan dan diklasifikasikan berdasarkan sumber daya


energi panas yang ada dibawah permukaan.
Jenis Hydrothermal reservoir, merupakan jenis sistem panas bumi
yang paling umum dijumpai dan memiliki suhu dengan kategori sedang
hingga panas diatas 225C. Pada sistem hydrothermal reservoir ini, dapat
dijumpai komponen penyusun panas bumi ideal secara lengkap dimana
adanya sumber panas (heat source) yang berada di bagian bawah yang berasal
dari kontak batuan dengan magma atau energi panas yang tersimpan dari
magma yang dulu sempat melalui zona hot source, lalu disusul oleh batuan
berporos yang berfungsi sebagai reservoir panasbumi, lalu disusul kembali
dengan keberadaan caprock atau lapisan penudung yang impermeabel
sehingga tidak dapat dilalui fluida panas bumi, dapat dijumpai juga adanya
struktur geologi yang merupakan zona lemah tempat keluarnya energi
panasbumi dan adanya zona resapan air atau aliran air bawah permukaan
(recharge zone). Pada sistem hydrothermal reservoir (gambar 2), fluida
geothermal berasal dari recharge area yang merupakan air yang didapat dari
luar permukaan yang merupakan meteoric water yang masuk ke reservoir
melalui strutur geologi dan terjebak di zona poros. Fluida inilah yang
mengalami pemanasan dari batuan panas (heat source) dan memberikan
energi keluar melalui struktur geologi lainnya hingga muncul manifestasi
diatas permukaan yang menandakan adanya reservoir panasbumi
dibawahnya.
Jenis hot dry rock reservoir merupakan jenis reservoir panasbumi
yang pemanfaatannya menggunakan teknologi kekinian untuk memeroleh
energi panasbumi sehingga memerlukan biaya produksi yang relatif lebih
mahal. Adapun suhu panasbumi untuk jenis ini adalah pada kisaran 120C
hingga 225C. Pada sistem panas bumi hot dry rock (gambar 3), fluida atau
air yang akan dipanaskan dipompa kedalam bumi hingga mengenai zona
panas ber-fracture dan poros. Air dengan suhu ruangan yang di pompakan
akan mengenai hot dry rock lalu mengalir dibawah permukaan dan dibuat
aliran keluar untuk steam dan hot water untuk kemudian dilakukan proses
produksi panasbumi. Berbicara mengenai komponen penyusun, pada sistem
ni, tidak dijumpai adanya daerah resapan air dan fluidanya itu sendiri. Tidak
banyak perusahaan yang menggunakan teknik ini, selain biaya produksi yang
mahal, sulit untuk mengembangkan sistem panasbumi dengan model hot dry
rock.
Jenis Magma reservoir (gambar 4), berasosiasi dengan sistem
vulkanik gunung api. Magma reservoir yang ada dibawah permukaan
mengalirkan magma menuju dapur magma (magma chamber) gunung berapi
dan dapur magma inilah yang kemudian menjadi sumber panas untuk fluida
geothermal. Komponen yang menyusun sama dengan jenis hydrothermal
system, hanya saja, sumber panas yang merupakan faktor terpenting dalam
9

sistem panasbumi yang membedakan keduanya. Suhu pada magma reservoir


ini tergolong tinggi yakni diatas 225C.
Jenis terakhir adalah jenis geopressured reservoir (gambar 5). Jenis ini
berasosiasi dengan sistem hidrokarbon dimana letak fluida geothermal-nya
berada dalam dibawah permukaan. Heat source untuk jenis panasbumi ini
dihasilkan oleh sumber panas dari bawah reservoir dan dari tekanan
overburden itu senditi. Dikarenakan letaknya yang dalam, maka untuk sistem
panas bumi ini, jarang dilakukan eksploitasi. Adapun perkiraan suhu
panasbumi pada jenis ini adalah 50C hingga 190C yang dapat dikategorikan
rendah sehingga tidak produktif.
Komponen sistem panasbumi sebagaimana telah diurai pada paragraf
2, bahwasannya terdapat beberapa komponen penyusun panasbumi lengkap.
Hal yang paling utama dari sistem panasbumi adalah adanya keberadaan heat
source atau sumber panas yang asalnya dapat berbeda-beda yang dibedakan
dari sumber panasnya sebagaimana telah dijelaskan pada empat jenis diatas.
Selain itu, perlu adanya batuan berporos yang dapat berfungsi sebagai
reservoir panasbumi tempat uap akan terjebak. Selain itu, untuk menjebak
energi panas bumi pada reservoir agar memiliki tekanan yang tinggi saat
mencapai permukaan, terdapat lapisan penudung atau caprock yang biasanya
berlitologi claystone. Selain itu, harus adanya struktur geologi yang dapat
berperan sebagai zona lemah jalur keluarnya energi panasbumi serta adanya
daerah resapan air dari meteoric water atau aliran air bawah tanah yang
berfungsi sebagai recharge area reservoir saat fluida geothermal mulai
berkurang.
Berbicara mengenai sistem panasbumi berdasarkan pembagian suhu,
pada dasarnya pembagian suhu telah dibagi oleh beberapa ahli. Dalam
Suharno (2013), berikut adalah tabel pembagian suhu panasbumi berdasarkan
beberapa ahli.
Tabel 1. Klasifikasi sistem panasbumi berdasarkan suhu
Muffer dan Haenel, Rybach Benderiter
Hochstein
Klasifikasi Cataldi dan Stegna dan Cormy
(1990)
(1978) (1988) (1990)
Sistem
panasbumi < 90C <150C <100C <125C
suhu rendah
Sistem
100C - 125C -
panasbumi 90C - 150C -
200C 225C
suhu sedang
Sistem
panasbumi >150C >250C >200C >225C
suhu tinggi
meskipun adanya beberapa pendapat ahli yang mengemukakan perbedaan
suhu pada sistem panas bumi, rata-rata mengkalifikasikannya menjadi tiga
10

poin penting yakni sistem panasbumi bersuhu rendah, sistem panasbumi


bersuhu sedang dan sistem panasbumi bersuhu tinggi. Meskipun demikian,
saat ini, sistem klasifikasi suhu panasbumi yang seringkali digunakan adalah
klasifikasi Hochstein (1990) dengan klasifikasi sistem panasbumi bersuhu
rendah dibawah 125C, sistem panasbumi bersuhu sedang pada kisaran
125C - 225C dan sistem panasbumi bersuhu tinggi dengan suhu diatas
225C. Suhu reservoir panas bumi dapat mencapai angka 350C. Semakin
tinggi suhu panas bumi, maka semakin tinggi pula entalpinya sehingga
terdapat pula klasifikasi panasbumi entalpi rendah <125C, entalpi sedang
125C - 225C dan entalpi tinggi 225C.
Berdasarkan kandungan fluidanya, sistem panasbumi dibagi menjadi
sistem satu fasa yang terisi air saja atau uap saja dan sistem dua fasa. Untuk
sistem dua fasa dibedakan menjadi sistem dominasi uap (vapor dominated
system) yang merupakan sistem yang sangat jarang dijumpai dimana reservoir
panasbumi memiliki kandungan fasa uap lebih dominan. Rekahan umumnya
terisi oleh uap dan reservoir terisi oleh air. Reservoir berisi air terletak jauh
dibawah reservoir uap. Sistem dominasi air (water dominated system)
merupakan sistem yang lebih sering dijumpai dengan reservoir terisi
dominasi air dan boiling terjadi di bagian atas reservoir.
Pada sistem geothermal juga dikenal high terrain geothermal system
yang merupakan sistem geothermal yang umumnya dijumpai pada dataran
tinggi. Pada sistem high terrain, transfer panas terjadi menuju puncak dengan
posisi zona recharge umumnya lebih tinggi dari zona manifestasi. Pada
sistem panasbumi low terrain, umumnya, zona recharge, dan zona keluaran
manifestasi berada pada topografi yang relatif sejajar dengan tidak adanya
perbedaan yang signifikan.
Di indonesia, sistem panasbumi memiliki kharakteristik yang
berbeda-beda yang tentunya dipengaruhi oleh topografi, jenis hidrologi
permukaan, struktur geologi, sumber panas dan hal lainnya. Namun, sistem
panas bumi yang umumnya dijumpai adalah sistem panas bumi hydrothermal
reservoir berasosiasi dengan sistem vulkanik pada high terrain. Sistem
panasbumi di Indonesia umumnya bersuhu tinggi karena berkaitan dengan
kegiatan gunung api muda berumur <400.000 tahun. Sistem panas bumi di
Indonesia umumnya dikontrol oleh zona penujaman atau subduksi lempeng.
Adapun sebaran potensi panasbumi diIndonesia tersebar pada area sepanjang
zona subduksi mulai dari sumatera, jawa bali nusa tenggara hingga sulawesi
dan papua.
V. KESIMPULAN
Setelah melakukan praktikum sistem panas bumi, maka terdapat beberapa
kesimpulan yang dapat ditarik antara lain :
1. Kharakterisasi sistem panas bumi dibedakan berdasarkan beberapa parameter,
diantaranya berdasarkan kandungan fluida, berdasarkan sumber daya energi
panas, berdasarkan temperatur dan berdasarkan terrain. Berdasarkan
kandungan fluidanya sistem panasbumi dibedakan menjadi satu fasa dan dua
fasa. Sistem satu fasa hanya terdiri dari air atau uap sedangkkan sistem dua
fasa terbagi menjadi dominasi uap dan dominasi air. Berdasarkan sumber
daya energi panas dibedakan menjadi sistem panasbumi hydrothermal
reservoir, hot dry rock reservoir, geopressured reservoir dan magma
reservoir. Berdasarkan temperatur dibagi menjadi temperatur rendah, sedang
dan tinggi sedangkan berdasarkan terrain dibedakan menjadi low terrain dan
high terrain.
2. Sistem panasbumi hydrothermal reservoir merupakan sistem panas bumi
yang paling umum dengan komponen panasbumi lengkap. Sedangkan sistem
panasbumi hot dry rock tidak memilikii zona recharge sehingga dibutuhkan
pompa fluida agar dapat menghasilkan energi panasbumi. Disisi lain, sistem
geopressured reservoir berasosiasi dengan sistem hidrokarbon yang terletak
sangat dalam dibawah permukaan, sedangkan sistem magma reservoir erat
kaitannya berasosiasi dengan dapur magma gunung api.
3. Sistem panasbumi berdasarkan kandungan fluida dua fasa, yang paling umum
dijumpai adalah sistem dominasi air (water dominated system) dengan
kandungan air di reservoir yang mendominasi dari kandungan uapnya.
4. Berdasarkan temperatur, sistem panas bumi dibedakan menjadi tiga yakni
sistem panasbumi bersuhu rendah, sistem panasbumi bersuhu sedang dan
sistem panasbumi bersuhu tinggi dengan klasifikasi nilai suhu menggunakan
hasil temuan Hochstein (1990) dengan klasifikasi sistem panasbumi bersuhu
rendah <125C, sistem panasbumi bersuhu sedang 125C - 225C dan sistem
panasbumi bersuhu tinggi >225C.
5. Di Indonesia, sistem panas bumi yang umum dijumpai adalah sistem panas
bumi dengan suhu tinggi karena erat kaitannya dengan sistem vulkanik yang
dikontrol oleh zona subduksi lempeng.
DAFTAR PUSTAKA

Fauqi. 2015. Komponen - Komponen Sistem.


http://arriqofauqi.blogspot.co.id/2015/08/komponen-komponen-
sistem.html . Diakses pada tanggal 26 Oktober 2016 Pukul 14.45

Hochstein, M.P., Browne, P.R.L. (2000), Surface Manifestation of Geothermal


Systems With Volcanic Heat Sources. Editors: Haraldur Sigurdsson,
Encyclopedia of Volcanoes, Academic Press, pp. 835-855.

Ichwan, Wahyu. 2015. Mengenal Panas Bumi, Energi Panas Bumi yang
Melimpah di Indonesia. http://taulaa.blogspot.co.id/2015/09/mengenal-
geothermal-energi-masa-depan.html. Diakses pada tanggal 26 Oktober
2016 pukul 14.40.

Septiadji, Neni. 2006. Sekilas Tentang Panas Bumi. Bandung : Institut Teknologi
Bandung.

Suharno, 2013. Eksplorasi Geothermal. Bandar Lampung : Universitas Lampung

Suhartono, Nur. 2012. Pola Sistim Panas dan Jenis Geothermal dalam Estimasi
Cadangan Daerah Kamojang. Jurnal Ilmiah MTG. Yogyakarta :
Universitas Pembangunan Nasional.

Sumintadireja, A. Prihadi. 2005. Vulkanologi dan Geotermal. Bandung : ITB.


LAMPIRAN