Anda di halaman 1dari 19

UTANG JANGKA PANJANG, SAHAM PREFEREN,

DAN SAHAM BIASA

Dosen Pengampu:
Dra. Endang Tri Widyarti, MM

Disusun untuk Memenuhi Tugas


Mata Kuliah Manajemen Keuangan Lanjutan

Disusun Oleh:

JIHAN NAFISA 12010114120039


ANIS INAYAH 12010114120042
DIANA FITRIANA 12010114120044
RIA SAFITRI ROSADY 12010114120048

KELOMPOK 5
KELAS E

PRODI S-1 MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis makalah dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Analisis
Pekerjaan yang membahas tentang Utang Jangka Panjang, Saham Preferen, dan Saham Biasa
dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas pengetahuan mengenai


pengambilan keputusan perihal Pengelolaan keuangan utang jangka panjang, saham preferen, dan
saham biasa yang didasarkan pada konsep teori obligasi dan saham makalah ini disusun
berdasarkan studi pustaka dari berbagai sumber. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan
yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca. Kami sadar bahwa makalah
ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen mata kuliah
Manajemen Keuangan Lanjutan, Kami meminta koreksinya demi perbaikan pembuatan makalah
di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

Semarang, 9 Maret 2016

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman sampul ............................................................................................................. i


Kata Pengantar ............................................................................................................... ii
Daftar Isi ........................................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ..............................................................................................
1.3 Tujuan Penulisan..................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Obligasi dan berbagai fiturnya............................................................................
2.2 Jenis-jenis instrumen Utang Jangka panjang.......................................................
2.3 Penebusan obligasi ..............................................................................................
2.4 Saham preferen dan berbagai fiturnya.................................................................
2.5 Saham biasa dan berbagai fiturnya......................................................................
2.6 Hak-hak pemegang saham biasa..........................................................................
2.7 Saham biasa kelas Ganda ....................................................................................
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ........................................................................................................
3.2 Saran ..................................................................................................................
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sekarang ini arus modal perusahaan tidak hanya bersumber dari dana pribadi pemilik, namun
berasal dari sumber lain dari luar seperti obligasi (surat utang) dan saham. Dalam menjalankan
perusahaan perusahaan yang sudah go public memiliki hak untuk mengeluarkan surat utang
dan lembar saham kepada masyarakat umum. Hal ini merupakan keuntungan bagi perusahaan
dapan menggunakan dana dari investor untuk mengembangkan usahanya.
Perusahaan dalam mengeluarkan jenis obligasi maupun saham perlu memperhatikan aspek
fundamental keuangan yang terjadi di perusahaan, perlunya analisis kondisi perusahaan,
likuiditasnya, kemampuan membayar utang, membayar deviden dan sebagainya penting
dipertimbangkan dalam keputusan penerbitan obligasi dan saham. Terdapat berbagai sumber
pendanaan jangka panjang seperti obligasi, saham preferen, dan saham biasa, setiap elemen
pendanaan memiliki karakteristik yang berbeda, dengan keunggulan dan kelemahannya
masing-masing. Seoranga manajer keuangan harus mampu merekomendasikan mana pilihan
pendanaan jangka panjang yang tepat bagi perusahaan yang dikelolanya.
Oleh karena itu, penulis menyusun makalah dengan tema Utang Jangka Panjang, Saham
Preferen, dan Saham Biasa untuk mengulas secara lebih terperinci agar pemahaman penulis
maupun pembaca tentang sumber pendanaan jangka panjang dan karakteristiknya semakin
meningkat.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang akan dibahas makalah ini meliputi:
1. Apa itu obligasi dan apa saja fiturnya?
2. Apa saja jenis-jenis instrumen utang jangka panjang?
3. Bagaimana cara perusahaan dalam penebusan obligasi ?
4. Apa itu saham preferen, saham biasa dan apa saja fiturnya?
5. Apa saja hak-hak pemegang saham biasa?
6. Bagaimana sistem saham biasa kelas ganda?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan makalah yaitu sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui obligasi dan fiturnya
2. Untuk mengetahui jenis-jenis instrumen utang jangka panjang
3. Untuk mengetahui cara perusahaan dalam penebusan obligasi
4. Untuk mengetahui saham preferen, saham biasa dan fiturnya
5. Untuk mengetahui hak-hak pemegang saham biasa
6. Untuk mengetahui sistem saham biasa kelas ganda
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Obligasi dan Berbagai Fiturnya


Obligasi adalah instrumen utang jangka panjang dengan waktu jatuh tempo yang umumnya
10 tahun atau lebih. Jika sekuritas tersebut memiliki waktu jatuh tempo kurang dari 10 tahun,
biasanya disebut dengan wesel (note). Adapun berbagai fitur terpenting dalam obligasi yaitu :

1) Nilai Nominal
Nilai nominal atau nilai utang pokok , yaitu nilai yang harus dibayar bunganya oleh penerbit
dan harus dilunasi pada saat akhir masa jatuh tempo. Nilai nominal biasanya sebesar $1.000
per obligasi atau kelipatan $1.000, kecuali obligasi berkupon nol, sebagian besar obligasi
membayarkan bunga yang dihitung berdasarkan pada nilai nominal obligasi tersebut.
2) Tingkat Bunga Kupon
Tingkat bunga yang tertera pada suatu obligasi dimana, suku bunga dibayarkan oleh penerbit
kepada pemegang obligasi. Biasanya suku bunga ini memiliki besaran yang tetap sepanjang
masa berlakunya obligasi, tetapi juga bisa mengacu kepada suatu indeks pasar uang.
3) Waktu Jatuh Tempo
Waktu yang telah ditetapkan dimana pada saat tersebut penerbit wajib untuk melunasi nilai
nominal obligasi. Sepanjang pembayaran kembali / pelunasan tersebut telah dilakukan maka
penerbit tidak lagi memiliki kewajiban kepada pemegang obligasi setelah lewat tanggal jatuh
tempo obligasi tersebut.
4) Tipe Penerbit
Obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah, BUMN, atau pihak
swasta.
5) Harga Penerbitan
Suatu harga obligasi yang ditawarkan kepada investor pada saat penjualan perdana obligasi.
6) Hak Opsi (Embedded Option)
Suatu obligasi dapat memuat ketentuan mengenai hak opsi kepada pembeli obligasi ataupun
penerbit obligasi. Adapun hak opsi yang dimaksud yaitu :
o Hak Pelunasan : Beberapa obligasi memberikan hak kepada penerbit untuk melunasi
obligasi tersebut sebelum masa jatuh tempo obligasi. Pelunasan ini bisa
dilakukan pada nilai per value atau nominal pada obligasi.Pada
beberapa obligasi mengharuskan penerbit untuk membayar premi yang
disebut premi opsi. Ini utamanya digunakan bagi obligasi berbunga
tinggi. Pada obligasi jenis ini terdapat banyak sekali persyaratan yang
ketat yang membatasi kegiatan operasional penerbit, maka guna
membebaskan penerbit dari pembatasan-pembatasan dilakukanlah
pelunasan dini atas obligasi tersebut. namun dengan biaya yang lebih
tinggi.
o Hak Jual : Beberapa obligasi memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk
memaksa penerbit melakukan pelunasan awal atas obligasinya sebelum
masa jatuh tempo.
7) Obligasi Konversi (Convertibles Bonds)
Obligasi yang dapat ditukarkan dengan saham biasa pada harga tertentu. Bagi emiten, obligasi
konversi merupakan daya tarik yang ditujukan kepada para investor untuk meningkatkan
penjualan obligasi.

2.2 Jenis-Jenis Instrumen Utang Jangka Panjang


Obligasi dapat diterbitkan tanpa jaminan atau dengan jaminan (dijamin dengan aktiva). Debenture,
debenture subordinasi, dan obligasi pendapatan merupakan kategori-kategori utama obligasi tanpa
jaminan, sedangkan obligasi hipotek mewakili jenis paling umum instrumen utang jangka panjang
dengan jaminan.

Debenture (Debentures)

Instrumen utang tanpa jaminan yang berjangka panjang. karena debenture tidak dijamin oleh
properti perusahaan apa pun, pemilik debenture menjadi kreditor umum perusahaan jika
terjadi likuidasi. Dan oleh karena itu, para investor akan memerhatikan kekuatan laba
perusahaan sebagai jaminan utama mereka.

Debenture Subordinasi (Subordinated Debentures)

Instrumen utang jangka panjang tanpa jaminan dengan klaim atas aktiva dan laba yang lebih
rendah daripada kelompok utang lainnya, yang disebut juga sebagai utang junior. Jika
terjadilikuidasi, para pemilik debenture subordinasi biasanya hanya akan menerima
pembayaran jika semua kreditor yang lebih tinggi dibayar penuh sesuai dengan utang yang
diberikan.
Obligasi Pendapatan (Income Bond)

Obligasi yang pembayaran bunganya tergantung pada kecukupan laba perusahaan. Disini
terdapat fitur kumulatif yang dimana bunga yang belum dibayar untuk tahun tertentu dapat di
akumulasikan. Jika perusahaan menghasilkan laba dimasa mendatang, perusahaan harus
membayar bunga kumulatifnya selama laba tersebut memungkinkan. Akan tetapi, kewajiban
kumulatif tersebut biasanya terbatastidak lebih dari tiga tahun.

Obligasi Sampah (Junk Bond)

Obligasi yang berisiko tinggi (sering kali tanpa jaminan) dengan tingkat bunga kupon di
bawah obligasi berperingkat investasi. Obligasi sampah ini dijamin oleh perusahaan bank
investasi Drexel Burnham Lambert, yang mendominasi hingga matinya Drexel pada tahun
1990.

Obligasi Hipotek (Mortgage Bond)

Obligasi yang diterbitkan dengan jaminan hipotek atas properti penerbitnya. Obligasi hipotek
ini dijamin oleh hak gadai (klaim Kreditor) atas aktiva tetap perusahaan tertentu. Property
tersebut menjamin obligasi yang dijelaskan secara rinci dalam surat hipotek, yang merupakan
dokumen hukum yang memberikan pemilik obligasi hak gadai atas properti tersebut.

Sertifikat Perwalian Peralatan (Equipment Trust Certificate)

Surat berharga berjangka menengah hingga jangka panjang, yang biasanya di terbitkan oleh
perusahaan transportasi, seperti perusahaan kereta api atau penerbangan, yang digunakan
untuk mendanai peralatan baru.

Sekuritisasi Aset (Asset Securitization)

Proses pengemasan sekumpulan aktiva dan kemudian menjual kepemilikan atas aktiva
tersebut dalam bentuk sekuritas beragunan asset (Asset backed securities-ABS). Tujuannya
adalah untuk mengurangi biaya pendanaan. Sekuritas beragunan asset (Asset backed
securities-ABS) disini yaitu sekuritas utang yang pembayaran bunga dan pokoknya didapat
dari arus kas yang berasal dari aktiva-aktiva yang disatukan, yang dijamin oleh aktiva yang
baru saja di beli dari Acme Aglet Company.
2.3 Penebusan Obligasi
Pelunasan obligasi dapat dilakukan dengan beberapa cara. Contohnya obligasi dapat
dilunasi dengan membayar sekaligus pada waktu jatuh tempo, dengan konversi (pertukaran untuk
saham biasa). Adapun Dana pelunasan, obligasi berseri, dan juga penarikan obligasi yang akan
dijelaskan sebagai berikut :

1) Pertukaran Obligasi
Apabila obligasi yang dimiliki minta di tukar dengan surat berharga lain, maka
rekening penanaman modal dalam obligasi ditutup dan dibuka rekening penanaman modal
yang baru. Surat berharga yang diterima dicatat sebesar harganya di bursa, selisihnya
dengan nilai buku obligasi dicatat sebagai laba atau rugi.

2) Dana Pelunasan

Perusahaan yang mengeluarkan obligasi seringkali harus mengumpulkan dana


pelunasan obligasi agar dapat memenuhi perjanjian pada waktu menjual obligasi. Dana
yang terkumpul digunakan untuk melunasi obligasi pada tanggal jatuh tempo.
Dana biasanya dibentuk dengan simpanan tiap-tiap periode, simpanan ini bisa dalam
jumlah yang sama dapat juga dalam jumlah yang tidak sama. dana ini biasanya digunakan
dulu untuk mencari pendapatan yaitu dengan cara di tanamkan pada modal surat berharga
berjangka pendek.
Pengurusan dana ini bisa oleh perusahaan itu sendiri atau di wali-kan. Jika
perusahaan itu sendiri maka langsung dicatat dalam buku-buku perusahaan. Jika di wali-
kan maka setiap periode, wali mengirimkan laporan mengenai kegiatan dana.
- Pelunasan Obligasi sebelum Jatuh Tempo

Obligasi yang dapat dilunasi kembali sebelum tanggal jatuh tempo biasanya dilakukan
dengan memberi agio pada pemegang obligasi pada waktu pelunasan terjadi.
3) Obligasi Berseri
Obligasi berseri adalah obligasi yang pelunasannya dilakukan dalam satu seri. Disini
saat jatuh tempo obligasi tidak bersamaan, tetapi urut dalam jumlah-jumlah tertentu. Mungkin
jumlah yang jatuh tempo selalu sama, tetapi mungkin juga tidak sama.
4) Ketentuan Penarikan
Penerbitan obligasi perusahaan seringkali memiliki ketentuan penarikan yang
memberikan opsi kepada perusahaan untuk membeli kembali obligasinya pada harga yang
telah ditetapkan sebelum jatuh tempo obligasi. Akan tetapi, tidak semua penerbitan obligasi
dapat ditarik kembali. Beberapa perusahaan menerbitkan obligasi yang tidak dapat ditarik
khususnya pada saat tingkat bunga rendah.
Jika obligasi dapat ditarik kembali, harga penarikan biasanya diatas nilai nominal
obligasi tersebut dan sering kali turun dengan berjalannya waktu. Terdapat dua jenis ketentuan
penarikan, berdasarkan waktu eksekusi. Sekuritas dapat segera ditarik kembali, yang tentu saja
berarti instrumen tersebut dapat dibeli kembali oleh penerbitnya dengan harga penarikan
kapan saja.
Ketentuan penarikan memberi perusahaan fleksibilitas dalam pendanaannya. Jika
tingkat bunga turun secara signifikan, perusahaan dapat menarik obligasinya dan mendanai
kembali penerbitan obligasi tersebut pada biaya bunga yang lebih rendah. Jadi, perusahaan
tidak harus menunggu hingga jatuh tempo akhir untuk pendanaan kembali.

2.4 Saham Preferen dan Berbagai Fiturnya

SAHAM PREFEREN DAN BERBAGAI FITURNYA

Saham Preferen (preffered stock) adalah saham dengan kelas khusus yang memiliki beberapa
preferensi atau kelebihan atau fitur yang tidak dimiliki oleh saham biasa. Saham ini memiliki
kelebihan dari saham biasa dalam hal pembayaran dividen dan klaim atas aset.

BERBAGAI FITURNYA

Fitur Dividen Kumulatif (cumulative dividens feature)


Ketentuan bahwa seluruh dividen kumulatif yang belum dibayar untuk saham preferen,
akan dibayar sebelum dividen dibayarkan untuk saham biasa. Jika perusahaan tidak
memiliki maksud untuk membayar dividen saham baisa, maka perusahaan tidak perlu
menyelesaikan tunggakan (arrearage) atas saham preferen. Yang dimaksud tunggakan
disini adalah pembayaran yang terlambat atau lewat jatuh tempo, yang dapat bersifat
kumulatif. Dividen saham preferen biasanya diabaikan apabila laba perusahaan berkurang,
tetapi perusahaan tidak harus membayar dividen meskipun labanya telah pulih.
Fitur Partisipasi (Participating feature)
Fitur partisipasi (participating feature) memperbolehkan pemegang saham
preferen untuk berpartisipasi dalam laba residual perusahaan sesuai dengan
rumus tertentu yang telah di tetapkan. Para pemegang saham preferen memiliki hak
untuk berbagi dalam jumlah yang sama dengan pemegang saham biasa pada setiap dividen
saham biasa diatas jumlah tertentu.

Contoh 1 : Saham preferen partisipasi (participating preferred stock) yang di asumsikan


bahwa penerbitan preferen 6% (dengan nilai nominal $100), sehingga pemiliknya berhak
atas bagian yang sama dengan dividen saham biasa yang melebihi $6 per lembarnya.

Fitur dasarnya adalah para pemegang saham preferen memiliki terlebih dahulu atas laba
dan peluang untuk imbal hasil tambahan.

Hak Suara (dalam Situasi Khusus)


Oleh karena klaimnya yang lebih tinggi (terlebih dahulu) atas aset dan laba, para
pemegang saham preferen biasanya tidak diberikan suara dalam manajemen kecuali jika
perusahaan tidak dapat membayar dividen saham preferen selama periode waktu tertentu.
Tunggakan untuk empat kuartal pembayaran dividen dapat mengarah pada kegagalan.
Pada situasi semacam ini, para pemegang saham preferen sebagai kelompok berhak untuk
memilih beberapa orang direktur. Biasanya jumlah direktur akan lebih sedikit dari total
keseluruhan. Selain itu, para pemegang saham preferen mendapatkan suara dalam
manajemen, perusahaan mungkin dalam kesulitan keuangan yang cukup berat. Akibatnya,
kekuasaan untuk memberikan suara bagi para pemegang saham preferen sebenarnya tidak
berarti.

Penarikan Saham Preferen


Kenyataan bahwa saham preferen, seperti juga saham biasa tidak memiliki waktu jatuh
tempo, tidak berarti bahwa kebanyakan penerbitan saham preferen akan tetap beredar
selamanya.
Untuk penarikan saham preferen dilakukan dengan cara :
1. Ketentuan Penarikan
Hampir semua penerbitan saham preferen memiliki harga penarikan yang telah
ditetapkan, yang berada diatas harga penerbitan awal dan bisa turun sejalan dengan
berlalunya waktu.
2. Dana Pelunasan
Banyak penerbitan saham preferen memiliki dana pelunasan, yang sebagian untuk
memastikan adanya penebusan secara teratur saham tersebut. Seperti juga penerbitan
obligasi, dana pelunasan saham preferen dapat menguntungkan para investor karena
proses penarikannya akan menyebabkan tekanan ke atas harga pasar saham yang
masih belum ditarik.
3. Konversi
Beberapa penerbitan saham preferen tertentu memberikan hak kepada para pemegang
saham untuk mengonversi saham preferen menjadi saham biasa. Tentu saja saat
konversi, saham preferen akan ditarik. Karena sebenarnya semua sekuritas yang dapat
dikorvensi memiliki fitur penarikan, perusahaan dapat mendorong dilakukannya
konversi dengan penarikan saham preferen jika harga saham preferen jauh diatas harga
penarikan.

Penggunaan dalam pendanaan


Saham preferen yang tidak dapat dikonversi tidak banyak digunakan sebagai alat
pendanaan jangka panjang. Salah satu kelemahannya adalah bahwa dividen saham preferen
tidak dapat dikurangkan dari pajak oleh penerbit sahamnya. Hal yang menarik bagi para
investor perusahaan telah menimbulkan adanya saham preferen dengan tingkat dividen
mengembang. Dalam satu variasinya, saham preferen pasar uang (money market
preferred stock-MMP) adalah suatu saham preferen dengan tingkat dividen yang dapat
diatur kembali pada lelang setiap 49 hari.

Keuntungan lain dari penerbitan saham preferen biasa (yang tidak dapat dikonversi) adalah
saham tersebut tidak memiliki waktu jatuh tempo akhir. Intinya, saham tersebut adalah
utang yang kekal. Walaupun biaya eksplisit setelah pajak saham preferen lebih tinggi dari
pada obligasi, keuntungan yang baru saja dibahas dapat menetralkan biaya ini.
Selain itu, biaya implisit pendanaan saham preferen, dari sudut pandang penaltinya atas
rasio harga pasar terhadap laba (pricelearnings-P/E ratio) saham biasa, dapat lebih rendah
daripada untuk pendanaan utang. Yang dimaksud rasio harga pasar terhadap laba adalah
harga pasar per lembar saham biasa perusahaan dibagi dengan laba per lembar saham 12
bulan terakhir, yang biasa disebut juga dengan trailing P/E ratio.

2.5 Saham Biasa dan Berbagai Fiturnya


Pemegang saham biasa perusahaan adalah pemilik terakhir perusahaan. Secara kolektif, mereka
memiliki perusahaan dan menanggung risiko akhir yang berkaitan dengan kepemilikan. Saham
biasa (common stock) adalah sekuritas yang menunjukkan posisi kepemilikan (dan risiko) terakhir
atas suatu perusahaan.

- Saham Dasar, Saham Diterbitkan, dan Saham Beredar

Anggaran Dasar (AD)/ Anggaran Rumah Tangga (ART) perusahaan menyebutkan jumlah lembar
saham biasa dasar (authoriezed shares), yaitu jumlah maksimum yang dapat diterbitkan
perusahaan tanpa harus mengubah AD/ART perusahaan. Ketika saham biasa dijual, maka saham
tersebut menjadi saham yang diterbitkan (issued shares). Saham beredar (outstanding shares)
merujuk pada jumlah saham yang diterbitkan dan yang sebenarnya dimiliki oleh publik.
Perusahaan dapat membeli kembali sebagian dari saham yang diterbitkan dan menahannya sebagai
saham yang diperoleh kembali atau saham treasury (treasury stock). Yang dimaksud saham
treasury adalah saham biasa yangh telah dibeli kembali dan dimiliki oleh perusahaan yang
menerbitkannya.

- Nilai Nominal

Nilai nominal atau nilai pari (par value) merupakan nilai nominal saham atau obligasi. selembar
saham biasa dapat menjadi saham dasar dengan atau tanpa nilai nominal atau nilai pari (par value).
Nilai nominal selembar saham hanya merupakan angka tercatat dalam AD/ART perusahaan dan
memiliki nilai ekonomis yang kecil. Akibatnya, nilai nominal dari sebagian besar saham (jika
memiliki nilai nominal) ditetapkan cukup rendah dari nilai pasarnya.

Contoh 2 :

Fawlty pacemakers, Inc. mengasumsikan bahwa siap untuk memulai usaha pertama kali setelah
baru saja menjual 10.000 lembar saham biasa dengan nilai nominal $5 pada harga $45 per lembar.
Bagian ekuitas pemegang saham dalam neraca adalah :
Saham biasa (nilai nominal $5; 10.000 lembar diterbitkan dan beredar $ 50.000

Tambahan modal disetor $ 400.000

Total ekuitas pemegang saham $ 450.000

Saham biasa dasar tanpa nilai nominal (saham tanpa nilai nominal) akan dicatat dalam pembukuan
dengan harga pasar awal atau berdasarkan nilai yang ditetapkan [atau dinyatakan] (assigned [or
ststed] value). Selisih antara harga penerbitan dengan nilai nominal dicerminkan sebagai tambahan
modal disetor (additional paid-in capital). Yang dimaksud dengan nilai yang ditetapkan (atau
dinyatakan) adalah nilai nominal yang ditetapkan untuk kepemilikan saham biasa yang tidak
memiliki nilai nominal, yang biasanya jauh di bawah harga penerbitan actual. Sedangkan yang
dimaksud dengan tambahan modal disetor merupakan dana yang dikumpulkan oleh perusahaan
dengan menjual saham biasa yang lebih tinggi dari nilai nominal saham tersebut.

- Nilai Baku dan Nilai Likuidasi

Nilai buku per lembar saham biasa adalah ekuitas pemegang saham, total aktiva dikurangi total
kewajiban dan saham preferen seperti yang tercantum dalam neraca dibagi dengan jumlah lembar
saham yang beredar.

Contoh 3 : Di asumsikan bahwa Fawlty Pacemakers kini berusia satu tahun dan telah
menghasilkan laba setelah pajak sebesar $80.000, tetapi tidak membayar dividen. Jadi, laba
ditahannya adalah $80.000; ekuitas pemegang saham sekarang adalah $450.000 + $80.000 =
$530.000; dan nilai buku per lembar saham adalah $530.000 / 10.000 lembar = $53.

Nilai likuidasi dapat lebih tinggi daripada nilai buku. Jadi, nilai buku tidak selalu sama dengan
nilai likuidasi, dan seperti yang akan dilihat, sering kali ini tidak sama dengan nilai pasar.

- Nilai Pasar

Nilai pasar per lembar adalah harga perdagangan saham saat ini. Dan merupakan fungsi dari
dividen saat ini dan dividen yang diharapkan di masa mendatang dari perusahaan serta persepsi
risikonya dari sudut pandang investor. Karena faktor-faktor ini hanya menyumbang sebagian dari
nilai buku dan nilai likuidasi perusahaan, nilai pasar per lembar saham mungkin tidak dapat
dikaitkan langsung dengan nilai-nilai ini.
Biasanya, saham perusahaan baru diperdagangkan di pasar over the counter (OTC), dengan satu
atau lebih dealer sekuritas memiliki persediaan saham biasa dan membeli serta menjualnya dengan
harga penawaran dan permintaan yang mereka berikan. Ketika kondisi keuangan, jumlah
pemegang saham, dan volume transaksi perusahaan tumbuh, perusahaan tersebut dapat memenuhi
kualifikasi untuk terdaftar (listing) di pasar saham, seperti New York Stock Exchange. Akan
tetapi, perusahaan lebih banyak menyukai bagian dari pasar OTC. Sistem National Association of
Securities Dealers Automated Quotations (NASDAQ) untuk banyak saham OTC yang
memberikan kemampuan pemasaran yang besar kepada investor. Maksud dari perusahaan dapat
memenuhi kualifikasi untuk terdaftar (listing) disini adalah Pencatatan yang mana dalam
pencatatan tersebut merupakan suatu izin masuk suatu sekuritas untuk diperdagangkan di bursa
yang terstruktur. Sekuritas yang di izinkan masuk dengan cara ini disebut sebagai sekuritas yang
terdaftar (listed security).

2.6 Hak-Hak Pemegang Saham Biasa

- Hak atas Laba

Para pemegang saham biasa berhak atas bagian laba perusahaan hanya jika dividen tunai dibayar.
Para pemegang saham juga dapat mengambil keuntungan dari apresiasi nilai pasar atas saham
mereka, tetapi secara keseluruhan mereka tergantung pada dewan komisaris dalam hal
pengumuman dividen yang akan memberi mereka laba dari perusahaan.

- Hak Suara

Kuasa dan perebutan kuasa. Pemungutan suara dapat dilakukan secara perorangan dalam rapat
umum pemegang saham atau melalui kuasa. Kuasa atau proksi (proxy) adalah formulir yang
ditandatangani pemegang saham untuk memberikan hak pilihnya kepada orang atau sekelompok
orang lain. Atau suatu dokumen hukum yang memberikan wewenang kepada seseorang untuk
bertindak bagi pemberi wewenang, dalam bisnis biasanya merujuk pada perintah yang diberikan
oleh para pemegang saham sehubungan dengan pemungutan suara untuk saham biasa.

Dalam perebutan kuasa, terdapat aturan pemungutan suara terbanyak yaitu metode untuk memilih
komisaris perusahaan, dimana setiap pemegang saham biasa memiliki satu suara untuk setiap
posisi komisaris yang belum terisi; yang bisa disebut juga sebagai pemungutan suara wajib
(statutory Voting) yang mendukung pihak manajemen.
Prosedur pemungutan suara. Tergantung pada AD/ART perusahaan, dewan komisaris dapat
dipilih berdasarkan sistem aturan pemungutan suara terbanyak (majority-rule voting) atau
sistem pemungutan suara kumulatif (cumulative voting). Yang dimaksud pemungutan suara
kumulatif adalah suatu metode memilih komisaris perusahaan, dimana pemegang saham biasa
mewakili suara sebanyak mungkin karena harus memilih komisaris, dan setiap pemegang saham
dapat mengakumulasikan suara-suara ini serta menyatukannya untuk satu atau lebih komisaris
tertentu.

Contoh 4 :

Jika seorang pemegang saham yang memiliki 100 lembar saham dan terdapat 12 komisaris yang
harus dipilih, berapa jumlah komisatis yang bisa didukung ?

Jawab : 100 x 12 = 1.200 suara.

Untuk kepemilikan minoritas memiliki peluang besar untuk memilih sejumlah komisarisJumlah
minimum lembar saham yang dibutuhkan untuk dapat memilih sejumlah komisaris yang
ditentukan melalui persamaan berikut :

Jumlah total saham berhak suara X Jumlah tertentu komisaris yang ingin dipilih +1

Jumlah total komisaris yang akan dipilih + 1

Contoh 5 :

Jika terdapat 3 juta lembar saham berhak suara, dan jika jumlah total komisarisnya yang akan
dipilih adalah 15, serta kelompok minoritas ingin memilih 2 komisaris, maka kelompok tersebut
akan membutuhkan paling tidak jumlah lembar saham berikut :

Jawab : 3.000.000 X 2 +1 = 375.001

15+1

Pada contoh tersebut, 375,001/3.000.000 = 12,5% saham berhak suara telah cukup untuk memilih
2/15 = 13,3% dewan komisaris.

Contoh 6 :

Di asumsikan bahwa kelompok minoritas sebenarnya memiliki 375.001 saham seperti yang
disebutkan sebelumnya. Dengan komisaris 15 yang akan dipilih, kelomok tersebut memilih 2
komisaris. Akan tetapi, jika jumlah dewan dikurangi menjadi 6, kelompok minoritas tidak dapat
memilih komisaris karena jumlah minimum saham yang dibutuhkan untuk memilih seorang
komisaris adalah

Jawab : 3.000.000 X 1 +1 = 428.572

6+1

Metode lainnya untuk mencegah kepemilikan minoritas mendapatkan wakil adalah dengan
memperketat syarat-syarat komisaris sehingga hanya sebagian dari dewan tersebut yang dipilih
setiap tahun.

Hak untuk Membeli Saham Baru (Hanya Kemungkinan)

Jika hak prioritas diterapkan dalam perusahaan, pemegang saham biasa lama akan memiliki hak
untuk mempertahankan porsi kepemilikannya dalam perusahaan. Jadi, Jika perusahaan melakukan
emisi saham biasa, para pemegang saham biasa harus diberikan kesempatan untuk mendaftar
membeli saham biasa baru tersebut agar mereka dapat mempertahankan kepemilikan proratanya
dalam perusahaan.

2.7 Saham Biasa Kelas Ganda

Untuk mempertahankan pengendalian bagi pihak manajemen, pendiri perusahaan, atau beberapa
kelompok lainnya, perusahaan dapat saja memiliki lebih dari satu kelas saham biasa. Dua kelas
saham biasa, biasanya disebut kelas A dan kelas B. kelas A biasanya adalah kelas yang lebih
lemah suaranya atau tidak berhak member suara. Sedangkan kelas B biasanya lebih kuat
suaranya.

Contoh 7 :

Di asumsikan bahwa para pemegang saham kelas A dan kelas B berhak atas satu suara per lembar
saham tetapi saham kelas A diterbitkan dengan harga awal $20 per lembar. Jika dana selesai $2
juta dikumpulkan dalam penawaran awal melalui emisi 80.000 lembar saham biasa kelas senilai
$2,6 juta dan 200.000 lembar saham biasa kelas B senilai $400.000, para pemegang saham kelas B
akan memiliki dari dua kali lipat suara daripada yang dimiliki pemegang saham kelas A,
walaupun investasi awal mereka hanyalah seperempatnya. Jadi, para pemegang saham kelas
B memiliki

pengendalian yang aktif atas perusahaan. Memang, inilah sebenarnya tujuan dari saham biasa
kelas ganda (dual-class common stock).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Terdapat berbagai fitur Obligasi antara lain surat utang, surat utang subordinasi, obligasi
berdasar penghasilan, obligasi sampah, oblgasi hipotek, sertifikat perwalian peralatan, dan
sekuritisasi aset. Dalam pelunasan obligasi dibahas dana pelunasan, pembayaran berseri, dan
ketentuan penarikan. Saham preferen memiliki fitur deviden kumulatif, partisipasi, dan hak
suara, berbeda dengan saham preferen, saham biasa memiliki fitur saham dasar, saham
diterbitkan, dan saham beredar; nilai pari;nilai buku dan nilai likuidasi;nilai pasar. Sedangkan
Hak-hak bagi pemegang saham biasa yaitu hak atas laba, hak suara, dan hak membeli saham
baru.

Saham kelas biasa digunakan untuk mempertahankan pengendalian bagi pihak manajemen,
pendiri perusahaan, atau beberapa kelompok lainnya, perusahaan dapat saja memiliki lebih
dari satu kelas saham biasa.

3.2 Saran
Dalam pemilihan utang jangka panjang, saham preferen, dan saham biasa seorang investor
perlu mengetahui portofolio perusahaan, bagaimana kinerjanya, investor harus tahu berapa
deviden atau kupon yang didapatkan, dalam persetujuan investasi maupun yang akan membeli
surat utang, harus tahu kapan mereka akan mendapatkan imbal hasil atas investasi yang
mereka lakukan dengan mengetahui hak-hak apa saja yang investor miliki, karena tiap jenis
saham maupun obligasi memiliki ciri yang berbeda, termasuk dalam pembayaran imbal hasil.
Daftar Pustaka

Horne, James C. Van dan Wachowicz, John M. Jr. 2005. PrinsipPrinsip Manajemen
Keuangan. Edisi 13-Buku 2. Jakarta : Salemba Empat