Anda di halaman 1dari 10

Pemeriksaan Fisik Dan Penegakan Diagnosis Pada Apendisitis

Diposkan oleh MEDICAL and PUBLIC INFO / dr. Virgo di | 3:34 PM Label:
Gastro Enterohepatobillier, kedokteran

Abstrak
Apendisitis merupakan peradangan yang terjadi pada apendiks vermiformis, dan
merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Apendiks disebut juga
umbai cacing. Istilah usus buntu yang selama ini dikenal dan digunakan di
masyarakat kurang tepat, karena yang merupakan usus buntu sebenarnya adalah
sekum. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti apa fungsi apendiks
sebenarnya. Namun demikian, organ ini sering sekali menimbulkan masalah
kesehatan. Selain itu, nyeri abdomen yang dirasakan memberikan kemungkinan
diagnosis yang beragam sehingga penegakan diagnosis sangat penting pada
kasus tersebut. Pasien pada kasus ini didiagnosis apendisitis kronis eksaserbasi
akut dan dilakukan apendiktomi sebagai penanganan.
Keyword: apendisitis, diagnosis

History
Seorang pasien laki-laki, 29 tahun, datang ke Poli Bedah RSUD Wirosabandengan
keluhan utama rasa tidak enak pada ulu hati dan menjalar ke perut kanan bawah
yang bersifat terus menerus sejak 3 hari yang lalu. Pasien juga mengeluh demam
dan tidak nafsu makan, tidak ada keluhan mual muntah. Gangguan seperti ini
sudah pernah dikeluhkan pasien 3 minggu yang lalu. Pada pemeriksaan fisik
keadaan umum pasien sedang dengan tanda vital hipertermia. Pemeriksaan lokal
pada abdomen ditemukan nyeri tekan titik Mc. Burney dan adanya tanda rovsing.
Sedangkan pada pemeriksaan rectal tocher ditemukan nyeri pada jam 9 dan 11.
Pemeriksaan penunjang laboratorium darah rutin ditemukan leukositosis.
Diagnosis
Apendisitis kronik eksaserbasi akut.

Terapi
Pasien dirawatinapkan dan dilakukan apendiktomi pada pasien sebagai
penanganan. Ditemukan apendik yang telah mengalami peradangan, hiperemis,
udem, namun belum mengalami perforasi.

Diskusi
Nyeri abdomen yang dijadikan sebagai keluhan utama pada pasien ini masih
memberikan banyak kemungkinan diagnosis karena nyeri dapat berasal baik dari
organ dalam abdomen (nyeri viseral) maupun dari lapisan dinding abdomennya
(nyeri somatik). Nyeri akut abdomen yang timbul bisa tiba-tiba atau sudah
berlangsung lama. Namun, penentuan lokasi dari nyeri abdomen mampu
membantu dokter untuk mengarahkan lokasi pada organ yang menyebabkan nyeri
tersebut, walaupun nyeri yang dirasakan mungkin akibat dari penjalaran organ
lain. Salah satu lokasi nyeri abdomen yang paling sering terjadi yaitu pada titik
Mc Burney. Nyeri pada titik ini mengarah pada infeksi di apendiks (apendisitis).
Untuk menegakkan diagnosis apendisitis tersebut, diperlukan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang jika perlu. Lebih jelasnya akan
diuraikan dibawah ini.
Anamnesis
Gejala awal yang khas, yang merupakan gejala klasik apendisitis adalah nyeri
samar (nyeri tumpul) di daerah epigastrium di sekitar umbilikus atau
periumbilikus. Keluhan ini biasanya disertai dengan rasa mual muntah, dan pada
umumnya nafsu makan menurun. Kemudian dalam beberapa jam, nyeri akan
beralih ke kuadran kanan bawah, ke titik Mc Burney. Di titik ini nyeri terasa lebih
tajam dan jelas letaknya, sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Namun
terkadang, tidak dirasakan adanya nyeri di daerah epigastrium, tetapi terdapat
konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan ini
dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Terkadang
apendisitis juga disertai dengan demam derajat rendah sekitar 37,5 -38,5 derajat
celcius.
Selain gejala klasik, ada beberapa gejala lain yang dapat timbul sebagai akibat
dari apendisitis. Timbulnya gejala ini bergantung pada letak apendiks ketika
meradang. Berikut gejala yang timbul tersebut.
1. Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, yaitu di belakang sekum
(terlindung oleh sekum), tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas
dan tidak ada tanda rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih kearah perut
kanan atau nyeri timbul pada saat melakukan gerakan seperti berjalan,
bernapas dalam, batuk, dan mengedan. Nyeri ini timbul karena adanya
kontraksi m.psoas mayor yang menegang dari dorsal.
2. Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada rektum, akan timbul
gejala dan rangsangan sigmoid atau rektum, sehingga peristalsis
meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-
ulang (diare).
3. Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada kandung kemih, dapat
terjadi peningkatan frekuensi kemih, karena rangsangannya dindingnya.

Gejala apendisitis terkadang tidak jelas dan tidak khas, sehingga sulit
dilakukan diagnosis, dan akibatnya apendisitis tidak ditangani tepat pada
waktunya, sehingga biasanya baru diketahui setelah terjadi perforasi.
Berikut beberapa keadaan dimana gejala apendisitis tidak jelas dan tidak
khas.
1. Pada anak-anak gejala awalnya sering hanya menangis dan tidak
mau makan. Seringkali anak tidak bisa menjelaskan rasa nyerinya.
Dan beberapa jam kemudian akan terjadi muntah- muntah dan
anak menjadi lemah dan letargik. Karena ketidakjelasan gejala ini,
sering apendisitis diketahui setelah perforasi. Begitupun pada bayi,
80-90 % apendisitis baru diketahui setelah terjadi perforasi.
2. Pada orang tua berusia lanjut gejala sering samar-samar saja dan
tidak khas, sehingga lebih dari separuh penderita baru dapat
didiagnosis setelah terjadi perforasi.
3. Pada wanita gejala apendisitis sering dikacaukan dengan adanya
gangguan yang gejalanya serupa dengan apendisitis, yaitu mulai
dari alat genital (proses ovulasi, menstruasi), radang panggul, atau
penyakit kandungan lainnya. Pada wanita hamil dengan usia
kehamilan trimester, gejala apendisitis berupa nyeri perut, mual,
dan muntah, dikacaukan dengan gejala serupa yang biasa timbul
pada kehamilan usia ini. Sedangkan pada kehamilan lanjut, sekum
dan apendiks terdorong ke kraniolateral, sehingga keluhan tidak
dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan.

Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi
Kadang sudah terlihat waktu penderita berjalan sambil bungkuk dan
memegang perut. Penderita tampak kesakitan. Pada inspeksi perut tidak
ditemukan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat pada penderita
dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat
pada massa atau abses appendiculer
2. Palpasi
Dengan palpasi di daerah titik Mc. Burney didapatkan tanda-tanda
peritonitis lokal yaitu:

Nyeri tekan di Mc. Burney.

Nyeri lepas.

Defans muscular lokal. Defans muscular menunjukkan adanya rangsangan


peritoneum parietal. Pada appendix letak retroperitoneal, defans muscular
mungkin tidak ada, yang ada nyeri pinggang .

Tanda-tanda khas yang didapatkan pada palpasi appendicitis yaitu:


Nyeri tekan (+) Mc.Burney

Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan kuadran kanan bawah atau titik Mc
Burney dan ini merupakan tanda kunci diagnosis

Nyeri lepas (+)

Rebound tenderness (nyeri lepas tekan ) adalah rasa nyeri yang hebat (dapat
dengan melihat mimik wajah) di abdomen kanan bawah saat tekanan secara tiba-
tiba dilepaskan setelah sebelumnya dilakukan penekanan yang perlahan dan dalam
di titik Mc Burney.

Defens musculer (+)

Defence muscular adalah nyeri tekan seluruh lapangan abdomen yang


menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale.

Rovsing sign (+)

Rovsing sign adalah nyeri abdomen di kuadran kanan bawah, apabila kita
melakukan penekanan pada abdomen bagian kiri bawah, hal ini diakibatkan oleh
adanya tekanan yang merangsang peristaltik dan udara usus, sehingga
menggerakan peritoneum sekitar appendix yang meradang sehingga nyeri
dijalarkan karena iritasi peritoneal pada sisi yang berlawanan (somatik pain)

Psoas sign (+)

Psoas sign terjadi karena adanya rangsangan muskulus psoas oleh peradangan
yang terjadi pada apendiks.
Ada 2 cara memeriksa :

1. Aktif :
Pasien telentang, tungkai kanan lurus ditahan pemeriksa, pasien
memfleksikan articulatio coxae kanan maka akan terjadi nyeri perut kanan
bawah.
2. Pasif :
Pasien miring kekiri, paha kanan dihiperekstensikan pemeriksa, nyeri
perut kanan bawah

Obturator Sign (+)

Obturator sign adalah rasa nyeri yang terjadi bila panggul dan lutut difleksikan
kemudian dirotasikan kearah dalam dan luar (endorotasi articulatio coxae) secara
pasif, hal tersebut menunjukkan peradangan apendiks terletak pada daerah
hipogastrium

3. Auskultasi
Peristaltik usus sering normal. Peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik pada
peritonitis generalisata akibat appendicitis perforata

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium

- Pemeriksaan darah : akan didapatkan leukositosis pada kebanyakan kasus


appendisitis akut terutama pada kasus dengan komplikasi. Pada appendicular
infiltrat, LED akan meningkat
- Pemeriksaan urin : untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan bakteri di dalam
urin. Pemeriksaan ini sangat membantu dalam menyingkirkan diagnosis banding
seperti infeksi saluran kemih atau batu ginjal yang mempunyai gejala klinis yang
hampir sama dengan appendicitis

Pemeriksaan Colok Dubur


Akan didapatkan nyeri kuadran kanan pada jam 9-12. Pada appendicitis pelvika
akan didapatkan nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur.

Abdominal X-Ray

Digunakan untuk melihat adanya fecalith sebagai penyebab appendicitis.


Pemeriksaan ini dilakukan terutama pada anak-anak

USG

Bila hasil pemeriksaan fisik meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan USG,


terutama pada wanita, juga bila dicurigai adanya abses. Dengan USG dapat
dipakai untuk menyingkirkan diagnosis banding seperti kehamilan ektopik,
adnecitis dan sebagainya

Barium enema

Yaitu suatu pemeriksaan X-Ray dengan memasukkan barium ke colon melalui


anus. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasi-komplikasi dari
appendicitis pada jaringan sekitarnya dan juga untuk menyingkirkan diagnosis
banding.

CT-Scan

Dapat menunjukkan tanda-tanda dari appendicitis. Selain itu juga dapat


menunjukkan komplikasi dari appendicitis seperti bila terjadi abses.

Laparoscopi

Yaitu suatu tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic yang dimasukkan


dalam abdomen, appendix dapat divisualisasikan secara langsung.Tehnik ini
dilakukan di bawah pengaruh anestesi umum. Bila pada saat melakukan tindakan
ini didapatkan peradangan pada appendix maka pada saat itu juga dapat langsung
dilakukan pengangkatan appendix

Kesimpulan
Diagnosis apendisitis dapat ditegakkan melalui tiga hal yaitu anamnesis,
pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang jika diperlukan. Penegakan
diagnosis yang tepat pada apendisitis dapat mengurangi komplikasi yang terjadi
serta mengurangi tingkat morbiditas dan mortalitas.
Referensi
1. Jong, Wim de dan R. Sjamsuhidayat. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi.
EGC : Jakarta.
2. Kumar. Et.al. 2007. Buku Ajar Patologi Robbins Volume 2 Edisi 7. EGC: Jakarta.
3. Price, Sylvia. 2006. Patofisiologi Edisi 6. EGC : Jakarta.
4. Reksoprodjo, S dkk. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Binarupa Aksara :
Jakarta.
5. Silbernagl, Stefan. 2007. Atlas Berwarna Patofisiologi. EGC : Jakarta.
PAPER KDDK

PEMERIKSAAN FISIK DAN PENEGAKAN DIAGNOSIS

PADA APENDISITIS

Di Susun Oleh :

Nama : PUTRI RIZKI HARIANI

NIM : 04.14.3868

Kelas : A/KP/III

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

STIKES SURYA GLOBAL

YOGYAKARTA

2015