Anda di halaman 1dari 26

BAB 1

PENDAHULUAN

Tuberkulosis (TB) dan campak masih menjadi masalah yang menonjol di Indonesia.
Bahkan Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai negara dengan jumlah kasus TB
terbanyak di dunia. 1
Lebih dari 4000 orang meninggal perhari karena penyakit yang disebabkan oleh TB di
seluruh dunia. TB juga merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak di
negara berkembang.1,2
Laporan mengenai TB anak jarang didapatkan. Diperkirakan jumlah kasus TB anak
pertahun adalah 5% sampai 6% dari seluruh kasus TB. Tuberkulosis pada anak berusia
kurang dari 15 tahun di negara berkembang adalah sebesar 15% dari seluruh kasus TB,
sedangkan di negara maju sekitar 5-7%. Di Indonesia, 10% dari seluruh kasus terjadi pada
anak di bawah usia 15 tahun. Jumlah seluruh kasus TB anak dari 7 Rumah Sakit Pusat
Pendidikan di Indonesia selama 5 tahun (1998-2002) adalah 1086 penderita dengan angka
kematian antara 0% sampai 14.1%. Kelompok usia terbanyak adalah 12-60 bulan (42.9%)
sedangkan untuk bayi (usia kurang 12 bulan) sebanyak 16.5%.1
Tingginya kasus TB di berbagai tempat diduga disebabkan oleh berbagai hal. Salah
satunya adalah diagnosis yang tidak tepat. Diagnosis pasti TB ditegakkan dengan
ditemukannya M. tuberculosis pada pemeriksaan sputum, bilasan lambung atau cairan dan
biopsi jaringan tubuh lainnya. Kesulitan menegakkan diagnosis pasti pada anak diakibatkan
oleh dua hal, yaitu sedikitnya jumlah kuman dan sulitnya pengambilan spesimen (sputum).
Karena alasan demikian, maka diagnosis TB anak bergantung pada penemuan klinis dan
radiologis, sedangkan keduanya seringkali tidak spesifik. 1
Dalam Program Pemberantasan TB Nasional, Departemen Kesehatan (Depkes)
menetapkan sistem skoring untuk membantu menegakkan diagnosis TB pada anak. Dalam
sistem skoring ini adanya pembesaran kelenjar limfe menjadi salah satu penilaian selain
tampilan klinis, uji tuberkulin, dan foto Rontgen thoraks. 1,3,4
Begitupun dengan kasus campak. Campak cukup endemik pada sebagian besar dunia.
Campak sangat menular, sekitar 90% kontak keluarga yang rentan mendapat penyakit.1
Morbili sangat menular, sekitar 90% kontak keluarga yang rentan mendapat penyakit
tersebut.5

1
Didunia secara global 10 % dari semua penyebab kematian balita disebabkan oleh
morbili (kira-kira 800.000 kematian setiap tahun). Telah diketahui bahwa akhir-akhir ini
penyakit morbili merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara kita, yakni dengan
dilaporkannya kejadian wabah penyakit morbili di beberapa daerah dengan angka
kesakitan dan kematian yang cukup tinggi. Di Indonesia menurut survei kesehatan rumah
tangga tahun 2001, campak menduduki urutan ke-5 dari 10 macam penyakit utama pada bayi
(0,7%) dan urutan ke-5 dari 10 macam penyakit utama pada anak-anak umur 1-
4 tahun (0,77%).6
Berikut akan dijelaskan sebuah laporan kasus dari pasien di Rumah Sakit pelamonia
tentang kasus Morbili dan Limfadenitis TB.

2
BAB II
LAPORAN KASUS
A. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. M. R
No. Register RS : 20 24 34
Tanggal Lahir : 10-02-2000
Umur : 15 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Jl. Garuda Aslob
Tanggal MRS : 20 Januari - 2015
Ruangan : Dahlia

B. IDENTITAS ORANG TUA


Ayah
Nama : Basri
Umur : 46 tahun
Pekerjaan : TNI AD
Ibu
Nama : Nur Syam
Umur : 43 tahun
Pekerjaan : IRT

C. ANAMNESIS
Tipe Anamnesis : Alloanamnesis dan Autoanamnesis
Keluhan utama : Demam
Riwayat penyakit sekarang : Anak laki-laki masuk rumah sakit diantar oleh
keluarganya dengan keluhan demam yang sudah dialami sejak 3 hari yang lalu,
demam dirasakan terus menerus dan timbul mendadak. Pasien juga mengeluhkan
batuk berlendir (+), mual (+), muntah (+), nyeri perut (+) sejak 3 hari yang lalu. 1 hari
sebelum diantar ke rumah sakit, pasien mengeluhkan timbul bintik-bintik kemerahan
pada seluruh wajah dan dada. BAB : Normal, BAK : Normal. Makan dan Minum
menurun. Riwayat Thyphoid beberapa bulan lalu. Pasien tidak memiliki riwayat ke
luar kota sebelumnya.

Riwayat Penyakit Sebelumnya : Limfadenitis TB (fase pengobatan)

3
Riwayat Penyakit dalam Keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang menderita
penyakit sama dengan pasien.
Riwayat Kehamilan, Kelahiran, serta Tumbuh kembang : Pasien dikandung cukup
bulan dan ibunya sering memeriksakan diri ke bidan selama masa kehamilan. Ibunya
tidak pernah mengalami kelainan selama masa kehamilan. Pasien lahir spontan, cukup
bulan, langsung menangis, tidak terdapat badan biru maupun kuning saat lahir. Berat
badan lahir panjang badan Ibu tidak ingat. Pasien mendapat ASI ekslusif sampai usia
6 bulan. Riwayat imunisasi lengkap (+). Saat ini pasien makan tiga kali sehari. Pasien
makan nasi dengan berbagai lauk setiap harinya. Pasien tumbuh seperti anak
seusianya, termasuk aktif bermain. Saat ini pasien berusia 15 tahun dan telah masuk
kelas 3 SMP.

Status imunisasi Belum Pernah 1 2 3 Tidak Tahu


Campak
Polio

Difteri

Tetanus

BCG

D. PEMERIKSAAN FISIS
Keadaan Umum : Sakit sedang/ Composmentis/gizi normal
Status Gizi : Normal -2SD sampai dengan 1SD
Berat Badan : 46 kg
Umur : 15 tahun
Tinggi Badan : 160 cm
IMT : 17,96 Kg/m2
Tanda Vital
Nadi : 144 x/menit
Pernafasan : 40 x/mnt (Takipnea)
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Suhu : 38,3 oC

4
KEPALA LEHER

o Rambut : Hitam, lurus, tidak mudah di o Deviasi trachea (-)


cabut o Pembesaran KGB (+)
o Sklera ikterus (-) o Pembesaran kelenjar thyroid (-)
o Conjungtiva : Anemis (-), merah (+)
o Bengkak pada wajah (-)
o Edema palpebra (-)
o Sianosis (-)
o Lidah kotor (-)

THORAKS CARDIOVASCULAR

Inspeksi : Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak


o Simetris kanan dan kiri Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
o Deformitas thoraks (-) Perkusi :
o Retraksi (-), pernapasan cuping hidung o Batas jantung kiri, linea midclavicularis

(-) sinistra
Palpasi : o Batas jantung kanan, linea parasternalis
o Massa (-) dekstra

o Sela iga kanan dan kiri Auskultasi :

Perkusi : o Bunyi jantung I dan II murni regular

o Sonor hemithoraks kanan dan kiri o Bising (-)

Auskultasi :
o Bunyi pernapasan : vesikuler
o Bunyi tambahan : Rh -/-, Wh -/-

5
ABDOMEN EKSTREMITAS
Inspeksi : o Scoliosis (-), Gibbus (-)
o Datar, mengikuti gerakan napas
o Acites (-)
Palpasi :
o Hepar dan lien tidak teraba
o Massa Tumor (-)
o Nyeri tekan (-)
Perkusi : Tymphani (+)
Auskultasi : Peristaltik (+), kesan normal

DIAGNOSIS KERJA DIAGNOSIS BANDING


o Morbili o Demam dengue
o Lympadenitis TB o Demam thyphoid

PENATALAKSANAAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


o IVFD RL Pemeriksaan Lab.:
o Ondansentron 1 amp/ extra o DR
o Paracetamol infus 500 mg/iv/8 jam o Widal
o Difenhidramin syrup 3x2 C
o Betafort syrup 2x1 C

E. HASIL FOLLOW UP DAN PEMERIKSAAN PENUNJANG

6
Tanggal
Perjalanan Penyakit Instruksi Dokter
Dan TTV
KU : Lemas IVFD RL 20 tpm
S : Demam (+), menggigil (-), kejang (-), Paracetamol infus 500 mg/iv/8
batuk (-), flu (-), lendir (-), mual (-), jam
muntah (+) 1 kali tadi pagi, sakit kepala (-), Difenhidramin syrup 3x2 C
21 Jan 2015 sakit perut (-). Betafort syrup 2x1 C
Nafsu makan : berkurang Bedak salicyl
N : 100x/menit Nafsu minum : baik OAT RHZE lanjut : 1x3
BAB : Normal Rifampicin 150 mg
P : 28 x/menit
BAK : Normal Isoniazid 75 mg
o Pyrazinamid 400 mg
S : 37,5 C O : Paru : BP : Vesicular
Etambutol 275 mg

TD:120/80 BT : Rh -/-, Wh -/-


mmHg
CV : BJ I/II Murni reguler

Bising (-)
4
Abd : Peristaltik (+) kesan normal

Rumple Leed Test : (-)

Kulit : ruam kemerahan

Hasil laboratorium :
Jenis Hasil Satuan Nilai normal
RBC 5,59 106/mm3 4,00-5,40
HGB 13,1 g/dl 10,3-15,7
HCT 37,1 % 32,0-44,0
MCV 66 um3 73-89
MCH 23,5 Pg 24,0-31,0
MCHC 35,3 g/dl 32,0-36,0
PLT 261 103/mm3 150-450
WBC 3,1 103/mm3 4,8-10,8
LED 54 mm/jam 0-10

7
Tanggal
Perjalanan Penyakit Instruksi Dokter
Dan TTV
KU : Lemas IVFD RL 20 tpm
S : Demam (-), menggigil (-), kejang (-), Paracetamol infus 500
batuk (+), flu (+), lendir (+), mual (-), mg/iv/8 jam
22 Jan - 2015 muntah (-), sakit kepala (-), sakit perut (-). Histapan 2x1 tab
Nafsu makan : berkurang Betafort syrup 2x1 C
Nafsu minum : baik Lavidryl syrup 3x2 C
BAB : Normal Isprinol syrup 2x1 C
N : 100x/menit
BAK : Normal Bedak salicyl
P : 28x/menit OAT RHZE
O : Paru : BP : Vesicular
o
S : 36,4 C BT : Rh -/-, Wh -/-

CV : BJ I/II Murni reguler

Bising (-)

Abd : Peristaltik (+) kesan normal

5 Kulit : ruam kemerahan bertambah

disertai rasa gatal dan perih

8
IVFD RL 20 tpm
KU: Membaik
Paracetamol infus 500
mg/iv/8 jam
Demam (-), menggigil (-), kejang (-),
Histapan 2x1 tab
nyeri kepala (+), Pusing (+), batuk (+),
Betafort syrup 2x1 C
lendir (-), sesak (-), mual (-), muntah(-),
Lavidryl syrup 3x2 C
nyeri perut (-).
23 Jan 2015 Isprinol syrup 2x1 C
Nafsu Makan : Berkurang Bedak salicyl
N : 92x/menit OAT RHZE
Nafsu Minum : Baik
P : 24 x/menit
BAB : normal
o
S : 36,6 C
BAK : normal

O : Paru : Bp : Vesicular

6 B t : Rh -/-, Wh -/-

CV : Bj 1 dan 2 Murni reguler

Bising (-)

Abd : Peristaltik (+) kesan normal

Kulit: ruam kemerahan menebal

Tanggal
Perjalanan Penyakit Instrkusi Dokter
Dan TTV

9
Aff infus
Ku: Membaik
Histapan 2x1 tab
Betafort syrup 2x1 C
Demam (-), menggigil (-), kejang (-),
Lavidryl syrup 3x2 C
nyeri kepala (+), Pusing (-), batuk (+),
Isprinol syrup 2x1 C
lendir (-),mual (-), muntah(-), nyeri perut
Bedak salicyl
(-).
24 Jan - 2015 Yudafit 1x1 tab
Nafsu Makan : Berkurang OAT RHZE
N : 92x/menit
P : 24 x/menit Nafsu Minum : Baik

S : 36,3oC BAB : Hari ini belum BAB

BAK : Baik, warna teh

O : Paru : Bp : Vesicular

7 B t : Rh -/-, Wh -/-

CV : Bj 1 dan 2 Murni reguler

Bising (-)

Abd : Peristaltik (+) kesan normal

Kulit : ruam hiperpigmentasi


25 Jan - 2015 Aff infus
S : Demam (-), menggigil (-), kejang (-),
Histapan 2x1 tab
N : 100x/menit nyeri kepala (-), Pusing (-), batuk (+), flu
Betafort syrup 2x1 C
P : 24 x/menit (-), lendir (+), sesak (-), mual (-),
Lavidryl syrup 3x2 C
muntah(-), nyeri perut (-), nyeri
Isprinol syrup 2x1 C
S : 36,5oC
tenggorokan (+)
Bedak salicyl
Yudafit 1x1 tab
Nafsu Makan : baik
OAT RHZE
8
Nafsu Minum : Kuat Boleh pulang

10
BAB : normal

BAK : normal

O : Paru : BP : Vesicular

BT : Rh -/-, Wh -/-

CV : BJ I/II Murni reguler

Bising (-)

Abd : Perislatltik (+) kesan normal

Kulit :Ruam hiperpigmentasi menipis


BAB III
PEMBAHASAN

Definisi : Morbili suatu penyakit akut menular di tandai 3 stadium, (1) stadium
inkubasi sekitar 10 12 hari dengan sedikit, jika ada, tanda tanda, atau gejala gelaja, (2)
stadium prodromal dengan bercak kolpik pada mukosa bukal dan faring, demam ringan
sampai sedang, konjungtivitis ringan, koryza, dan batuk yang semakin berat. Dan (3) stadium
akhir dengan ruam makuler yang muncul berturut- turut pada muka, tubuh, lengan dan
disertai oleh demam tinggi. 5,6

Etiologi : Virus campak merupakan virus RNA family paramyxoviridae dengan


genus Morbilivirus. Sampai saat ini hanya diketahui 1 tipe antigenik yang mirip dengan virus
Parainfluenzadan Mumps. Virus bisa ditemukan pada sekret nasofaring, darah dan urin paling
tidak selamamasa prodromal hingga beberapa saat setelah ruam muncul. Virus campak adalah
organisme yang tidak memiliki daya tahan tinggi apabila berada di luar tubuh manusia. Pada
temperatur kamar selama 3-5 hari virus kehilangan 60% sifat infektifitasnya. Virus tetap aktif
minimal 34 jam pada temperatur kamar, 15 minggu di dalam pengawetan beku, minimal 4
minggu dalam temperatur 35C, beberapa hari pada suhu 0C, dan tidak aktif pada pH
rendah. 7

11
Epidemiologi : Di Indonesia menurut survei kesehatan rumah tangga tahun 2001,
campak menduduki urutan ke-5 dari 10 macam penyakit utama pada bayi (0,7%) dan urutan
ke-5 dari 10 macam penyakit utama pada anak-anak umur 1-4 tahun (0,77%). Umur
terbanyak menderita campak adlah <12 bulan, diikuti kelompok umur 1-4 tahun dan 5-14
tahun. Biasanya penyakit ini timbul pada masa kanak-kanak dan kemudian akan membentuk
kekebalan terhadap diri seumur hidup. 6
Pada kasus, umur pasien masih termasuk dalam kategori umur yang rentan terkena penyakit
morbili. Dan pasien mengakui bahwa ini adalah pertama kalinya terkena penyakit seperti ini.

Patofisiologi :

12
Gambar 1 : Patofisiologi Morbili

Manifestasi klinis : Masa inkubasi sekitar 10-12 hari jika gejala-gejala prodromal
pertama dipilih sebagai waktu mulai, atau sekitar 14 hari jika munculnya ruam yang dipilih,
jarang masa inkubasi dapat sependek 6-10 hari. Kenaikan ringan pada suhu dapat terjadi 9-10
hari dari hari infeksi dan kemudian menurun selama sekitar 24 jam. 7,8,9
Penyakit ini dibagi dalam 3 stadium, yaitu :

13
1. Stadium Kataral (Prodromal).
Biasanya stadium ini berlangsung selama 4- 5 hari disertai panas (38,5 C), malaise,
batuk, nasofaringitis, fotofobia, konjungtivitis dan koriza. Menjelang akhir stadium
kataral dan 24 jam sebelum timbul enantema, timbul bercak koplik yang
patognomonik bagi morbili, tetapi sangat jarang dijumpai. Bercak koplik berwarna
putih kelabu, sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh eritema. Lokalisasinya di
mukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah. Jarang ditemukan di bibir bawah
tengah atau palatum. Kadang-kadang terdapat makula halus yang kemudian
menghilang sebelum stadium erupsi. Gambaran darah tepi ialah limfositosis dan
leukopenia. Secara klinis, gambaran penyakit menyerupai influenza dan sering
didiagnosis sebagai influenza. Diagnosis perkiraan yang besar dapat dibuat bila ada
bercak koplik dan penderita pernah kontak dengan penderita morbili dalam waktu 2
minggu terakhir. 7,8,9

Gambar 2 : bercak koplik berwarna putih kelabu pada mucosa buccal fase prodromal morbili

2. Stadium Erupsi.
Koriza dan batuk-batuk bertambah. Timbul enantema atau titik merah di palatum
durum dan palatum mole. Kadang-kadang terlihat pula bercak koplik. Terjadinya
eritema yang berbentuk makula-papula disertai menaiknya suhu badan. Diantara
makula terdapat kulit yang normal. Mula-mula eritema timbul dibelakang telinga, di
bagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah. Kadang-
kadang terdapat perdarahan ringan pada kulit. Rasa gatal, muka bengkak. Ruam
mencapai anggota bawah pada hari ketiga dan akan menghilang dengan urutan seperti
terjadinya. Terdapat pembesaran kelenjar getah bening di sudut mandibula dan di
daerah leher belakang. Terdapat pula sedikit splenomegali. Tidak jarang disertai diare

14
dan muntah. Variasi dari morbili yang biasa ini adalah black measles, yaitu morbili
yang disertai perdarahan pada kulit, mulut, hidung dan traktus digestivus. 8,9,10

Gambar 3 : Makulaeritema pada kulit pasien morbili fase erupsi


3. Stadium Konvalesensi.
Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpigmentasi)
yang lama-kelamaan akan hilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada anak Indonesia
sering ditemukan pula kulit yang bersisik. Hiperpigmentasi ini merupakan gejala
patognomonik untuk morbili. Pada penyakit-penyakit lain dengan eritema dan
eksantema ruam kulit menghilang tanpa hiperpigmentasi. Suhu menurun sampai
8,9
menjadi normal kecuali bila ada komplikasi.

Gambar 4 : Makula hiperpigmentasi pada pasien morbili fase konvalesensi

15
Pada kasus ini didiagnosa sebagai Morbilli karena dari anamnesis dan pemeriksaan
fisik berdasarkan oleh criteria dari World Health Organization (WHO) Tahun 2009 dan
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Tahun 2004.8

1. WHO Tahun 2009 :


Gejala awal adalah demam tinggi yang dimulai 10-12 hari setelah pajanan terhadap
virus, dan bertahan selama 4-7 hari
Coryza, batuk dan konjungtivitis, bercak Koplik pada mukosa bucal pada stadium
inisial
Setelah beberapa hari, timbul ruam biasanya pada muka dan leher
Dalam 3 hari, ruam menyebar ke tangan dan kaki
Ruam menetap selama 5 hingga 6 hari dan kemudian menghilang. 9
2. Berdasarkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Tahun 2004, campak, measles atau
rubeola adalah suatu penyakit virus akut yang menular yang disebabkan olehvirus
RNA dari Famili Paramixoviridae, gejala klinis terjadi setelah masa inkubasi 10-12
hari, terdiri dari tiga stadium:
a. Stadium prodromal, berlangsung 2-4 hari, ditandai demam yang diikuti batuk dan
pilek, faring merah, nyeri menelan, stomatitis, dan konjungtivitis. Tanda patognomonik
timbulnya eksantema mukosa pipi di depan molar tiga disebut bercak Koplik
b. Stadium erupsi, ditandai dengan timbulnya ruam makulo-papular yang bertahan
selama 5-6 hari. Timbulnya ruam dimulai dari batas rambut belakang telinga,
kemudian menyebar ke wajah, leher, dan akhirnya ke ekstermitas
c. Stadium penyembuhan (konvalesens), setelah 3 hari ruam berangsur-
angsur menghilang sesuai urutan timbulnya. Ruam kulit menjadi kehitaman dan
mengelupas yang akan menghilang setelah 1-2 minggu. 8

Pada kasus ini dari anamnesa dan pemeriksaan fisik di dapatkan:


Demam 3 hari sebelum masuk rumah sakit
Batuk disertai pilek
Timbul ruam merah wajah yang menjalar ke daerah leher, punggung, dada,
perut dan tangan 1 hari sebelum masuk rumah sakit
Sakit kepala
Mata merah
Nafsu makan menurun
Keadaan pasien sangat sesuai dengan stadium dari penyakit morbili yang dijelaskan oleh
literatur-literatur diatas.

Hasil laboratorium untuk Morbilli berdasarkan sumber:


1. EmedicineTahun 2009

16
Pemeriksaan darah lengkap
Pemeriksaan serologi (measles complement fixation(CF) or Hemaglutinasi
Inhibisi antibody) positif dan kultur virus untuk diagnosa pasti9
2. Nelson Ilmu Kesehatan Anak :
Konfirmasi laboratorium jarang diperlukan
Pemeriksaan darah lengkap: leucopenia, limfositosis relative dan
kadar glukosa normal. 8
Pada kasus ini, didapatkan hasil laboratorium yang dilakukan pada tanggal 21 januari 2015
adalah sebagai berikut :
Leukosit menurun : leukopeni
Laboratorium sederhana untuk kasus morbili tidak memberikan diagnosis pasti, namun
membantu para dokter untuk mengevaluasi keadaan pasien.
Terapi : Terapi yang diberikan pada kasus ini bersifat suportif dan simptomatis.
Pasien diberikan cairan infus berupa cairan RL, untuk mengganti cairan yang hilang karena
pasien mengeluhkan muntah dan juga nafsu makan yang menurun serta sebagai jalan masuk
dari obat-obatan yang diberikan secara intravena.
Ondansentron yang diberikan pada hari pertama merupakan obat antagonis 5-HT3 yang
sangat selektif dalam menekan mual dan muntah, karena pasien mengeluhkan rasa mual dan
muntah. 11
Paracetamol merupakan metabolit fenasetin dengan efek antipiretik. Dalam kasus ini
pasien diberikan 500 mg/iv/8 jam sesuai kebutuhan pasien, karena pasien masuk dalam
keadaan demam sehingga perlu diberikan antipiretik. 11
Difenhidramin merupakan antihistamin generasi 1 yang diberikan pada pasien ini
dengan dosis 3x2 sendok makan. Antihistamin ini menghambat efek histamin pada pembuluh
darah, bronkus dan bermacam-macam otot polos, selain itu AH1 bermanfaat untuk mengobati
reaksi hipersensitivitas atau keadaan lain yang disertai pelepasan histamin endogen
berlebihan. 11
Betafort syrup juga diberikan pada pasien ini sebagai multivitamin yang sangat baik
dalam fase penyembuhan dan sebagai pencegahan serta pengobatan pada kasus defisiensi
vitamin. 12
Lavidryl syrup, isinya adalah dekstrometorfan antitusif non opioid yang berfungsi
untuk meningkatkan ambang rangsang refleks batuk secara sentral. Obat ini tidak
menimbulkan kantuk dan gangguan saluran cerna, diberikan dalam 3 kali pemberian. 11
Isprinol syrup, isinya methisoprinol yang merupakan imunomodulator untuk penyakit virus
dan defisiensi sitem imun. Obat ini diberikan untuk membantu kesembuhan pasien dan
menangani keluhan pasien. 11
Bedak salicyl juga diberikan pada pasien ini sebagai pengurang rasa gatal pada kulit
pasien. Dengan komposisi talcum, acidum salicylum, parfum dan mentholum. 11

17
Prognosis : untuk kasus ini sangat baik dengan penyembuhan sempurna tanpa
jaringan parut dan tanpa komplikasi. Pada umumnya angka kematian telah menurun pada
tahun-tahun ini sampaitingkat rendah pada semua kelompok umur, terutama karena keadaan
sosioekonomi membaik, tetapi juga karena terapi antibacterial efektif untuk pengobatan
infeksi sekunder.8.9

Selain menderita penyakit morbili, pasien pada kasus ini setelah dilakukan
pemeriksaan fisis didapatkan pembesaran kelenjar limfe pada leher. Dan pasien sudah
melakukan pemeriksaan sitopatologi di RS Awal Bros pada tanggal 24 desember 2014
dengan jenis pemeriksaan Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) dan hasilnya adalah :

Fisik/aspirat : Benjolan pada regio colli lateral kiri dan kanan, teraba beberapa, berpaket,
diambil pada lateral kiri, terbesar ukuran diameter 2 cm, mobil, permukaan
rata, aspirat putih kemerahan.
Mikroskopik : Sediaan menunjukkan sebaran padat sel-sel radang limfohistiositik, plasma
sel, ada yang berkelompok diantara populasi limfois, tampak sel-sel epiteloid
histiositik, sel-sel spindel matriks fibrous, latar belakang massa debris
nekrosis dengan sel-sel eritrosit.
Kesimpulan : LIMFADENITIS KRONIK GRANULOMATOSA DENGAN KAUSA TB
(Data pemeriksaan pasien terlampir)

Berikut penjelasan tentang kasus limfadenitis TB pada pasien;


Definisi : Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium
tuberculosis complex. 13
Klasifikasi Tuberkulosis :
1. TB Paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, tidak termasuk
pleura (selaput paru)
2. Tuberkulosis Ekstra Paru
Batasan : Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura,
selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar limfe, tulang, persendian, kulit,
usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dll. Diagnosis sebaiknya didasarkan atas
kultur spesimen positif, atau histologi, atau bukti klinis kuat konsisten dengan TB

18
ekstraparu aktif, yang selanjutnya dipertimbangkan oleh klinisi untuk diberikan obat
anti tuberkulosis siklus penuh. TB di luar paru dibagi berdasarkan pada tingkat
keparahan penyakit, yaitu :
a. TB di luar paru ringan
Misalnya : TB kelenjar limfe, pleuritis eksudativa unilateral, tulang (kecuali
tulang belakang), sendi dan kelenjar adrenal.
b. TB diluar paru berat
Misalnya : meningitis, millier, perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudativa
bilateral, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kencing dan alat kelamin. 13

Diagnosis : Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinik,


pemeriksaan fisik/jasmani, pemeriksaan bakteriologik, radiologik dan pemeriksaan
penunjang lainnya.
Gejala klinik : Gejala klinik tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu
gejala respiratorik (atau gejala organ yang terlibat) dan gejala sistemik. 13

1. Gejala respiratorik
batuk = 3 minggu
batuk darah
sesak napas
nyeri dada
Gejala respiratorik ini sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala sampai gejala
yang cukup berat tergantung dari luas lesi. Kadang penderita terdiagnosis pada saat medical
check up. Bila bronkus belum terlibat dalam proses penyakit, maka penderita mungkin tidak
ada gejala batuk. Batuk yang pertama terjadi karena iritasi bronkus, dan selanjutnya batuk
diperlukan untuk membuang dahak ke luar.
Gejala tuberkulosis ekstra paru tergantung dari organ yang terlibat, misalnya pada
limfadenitis tuberkulosa akan terjadi pembesaran yang lambat dan tidak nyeri dari kelenjar
getah bening, pada meningitis tuberkulosa akan terlihat gejala meningitis, sementara pada
pleuritis tuberkulosa terdapat gejala sesak napas & kadang nyeri dada pada sisi yang rongga
pleuranya terdapat cairan.

b. Gejala sistemik
Demam
gejala sistemik lain: malaise, keringat malam, anoreksia, berat badan menurun. 13

19
Pada kasus ini keluhan dari limfadenitis TB pada pasien kurang terpantau karena
pasien datang ke RS Pelamonia sudah dalam fase pengobatan OAT. Keluhan batuk dan
demam yang dialami pasien merupakan keluhan dari penyakit morbili yang sedang diderita
pasien, bukan dari keluhan limfadenitis TB sesuai dari penjelasan literatur diatas. 13
Pemeriksaan Jasmani : Pada pemeriksaan jasmani kelainan yang akan dijumpai
tergantung dari organ yang terlibat.
Pada tuberkulosis paru, kelainan yang didapat tergantung luas kelainan struktur paru. Pada
permulaan (awal) perkembangan penyakit umumnya tidak (atau sulit sekali) menemukan
kelainan. Kelainan paru pada umumnya terletak di daerah lobus superior terutama daerah
apex dan segmen posterior , serta daerah apex lobus inferior. Pada pemeriksaan jasmani
dapat ditemukan antara lain suara napas bronkial, amforik, suara napas melemah, ronki
basah, tanda-tanda penarikan paru, diafragma & mediastinum.
Pada pleuritis tuberkulosa, kelainan pemeriksaan fisik tergantung dari banyaknya
cairan di rongga pleura. Pada perkusi ditemukan pekak, pada auskultasi suara napas yang
melemah sampai tidak terdengar pada sisi yang terdapat cairan.
Pada limfadenitis tuberkulosa, terlihat pembesaran kelenjar getah bening, tersering di daerah
leher (pikirkan kemungkinan metastasis tumor), kadang-kadang di daerah ketiak. Pembesaran
13
kelenjar tersebut dapat menjadi cold abscess.
Pemeriksaan fisis yang dilakukan pada pasien, didapatkan pembesaran kelenjar limfe
regio colli, yang merupakan tanda dari limfadenitis TB yang telah didiagnosis pasti oleh
pemeriksaan penunjang FNAB.
Terapi : Pasien mendapatkan terapi OAT yang sudah berjalan selama 1 bulan. Pasien
rutin mengontrol di DOTS RS Pelamonia untuk kasus limfadenitis TB yang diderita pasien.
Dukungan dari keluarga sangat membantu penyembuhan pasien, karena pengobatan ini harus
rutin dilaksanakan dengan masa waktu yang cukup lama. Obat yang dikonsumsi pasien
adalah OAT dengan kombinasi dosis tetap yang berisi empat obat antituberkulosis dalam satu
tablet, yaitu rifampisin 150 mg, isoniazid 75 mg, pirazinamid 400 mg dan etambutol 275 mg
yang akan dikonsumsi dalam waktu kurang lebih 6 bulan dan selalu dikontrolkan ke dokter
yang menangani TB serta DOTS. 13
Berikut penjelasan obat yang dikonsumsi oleh pasien ;
Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
Obat yang dipakai:
1. Jenis obat utama (lini 1) yang digunakan adalah:
Rifampisin

20
INH
Pirazinamid
Streptomisin
Etambutol
2. Kombinasi dosis tetap (Fixed dose combination)
Kombinasi dosis tetap ini terdiri dari :
Empat obat antituberkulosis dalam satu tablet, yaitu rifampisin 150 mg, isoniazid 75
mg, pirazinamid 400 mg dan etambutol 275 mg dan
Tiga obat antituberkulosis dalam satu tablet, yaitu rifampisin 150 mg, isoniazid 75
mg dan pirazinamid 400 mg
3. Jenis obat tambahan lainnya (lini 2)
Kanamisin
Kuinolon
Obat lain masih dalam penelitian ; makrolid, amoksilin + asam klavulanat
Derivat rifampisin dan INH 13

Dosis OAT
1. Rifampisin . 10 mg/ kg BB, maksimal 600mg 2-3X/ minggu atau
BB > 60 kg : 600 mg
BB 40-60 kg : 450 mg
BB < 40 kg : 300 mg
Dosis intermiten 600 mg / kali
2. INH 5 mg/kg BB, maksimal 300mg, 10 mg /kg BB 3 X seminggu, 15 mg/kg BB 2 X
semingggu atau 300 mg/hari untuk dewasa. lntermiten : 600 mg / kali
3. Pirazinamid : fase intensif 25 mg/kg BB, 35 mg/kg BB 3 X semingggu, 50 mg /kg
BB 2 X semingggu atau :
BB > 60 kg : 1500 mg
BB 40-60 kg : 1 000 mg
BB < 40 kg : 750 mg
4. Etambutol : fase intensif 20mg /kg BB, fase lanjutan 15 mg /kg BB, 30mg/kg BB 3X
seminggu, 45 mg/kg BB 2 X seminggu atau :
BB >60kg : 1500 mg
BB 40 -60 kg : 1000 mg
BB < 40 kg : 750 mg
Dosis intermiten 40 mg/ kgBB/ kali

21
5. Streptomisin:15mg/kgBB atau
BB >60kg : 1000mg
BB 40 - 60 kg : 750 mg
BB < 40 kg : sesuai BB 13

Kombinasi dosis tetap


Rekomendasi WHO 1999 untuk kombinasi dosis tetap, penderita hanya minum obat 3-4
tablet sehari selama fase intensif, sedangkan fase lanjutan dapat menggunakan kombinasi
dosis 2 obat antituberkulosis seperti yang selama ini telah digunakan sesuai dengan pedoman
pengobatan. 13
Pada kasus yang mendapat obat kombinasi dosis tetap tersebut, bila mengalami efek samping
serius harus dirujuk ke rumah sakit / fasiliti yang mampu menanganinya.

Paduan Obat Anti Tuberkulosis


Pengobatan tuberkulosis dibagi menjadi:
1. TB paru (kasus baru), BTA positif atau lesi luas
Paduan obat yang diberikan : 2 RHZE / 4 RH
Alternatf : 2 RHZE / 4R3H3
atau
(program P2TB) 2 RHZE/ 6HE
Paduan ini dianjurkan untuk
a. TB paru BTA (+), kasus baru
b. TB paru BTA (-), dengan gambaran radiologik lesi luas (termasuk luluh paru)
c. TB di luar paru kasus berat
Pengobatan fase lanjutan, bila diperlukan dapat diberikan selama 7 bulan, dengan
paduan 2RHZE / 7 RH, dan alternatif 2RHZE/ 7R3H3, seperti pada keadaan:
a. TB dengan lesi luas
b. Disertai penyakit komorbid (Diabetes Melitus, Pemakaian obat imunosupresi /
kortikosteroid)
c. TB kasus berat (milier, dll)
Bila ada fasiliti biakan dan uji resistensi, pengobatan disesuaikan dengan hasil uji
resistensi

22
2. TB Paru (kasus baru), BTA negatif
Paduan obat yang diberikan : 2 RHZ / 4 RH
Alternatif : 2 RHZ/ 4R3H3 atau 6 RHE
Paduan ini dianjurkan untuk :
a. TB paru BTA negatif dengan gambaran radiologik lesi minimal
b. TB di luar paru kasus ringan
3. TB paru kasus kambuh
Pada TB paru kasus kambuh minimal menggunakan 4 macam OAT pada fase intensif
selama 3 bulan (bila ada hasil uji resistensi dapat diberikan obat sesuai hasil uji
resistensi). Lama pengobatan fase lanjutan 6 bulan atau lebih lama dari pengobatan
sebelumnya, sehingga paduan obat yang diberikan : 3 RHZE / 6 RH
Bila tidak ada / tidak dilakukan uji resistensi, maka
alternatif diberikan paduan obat : 2 RHZES/1 RHZE/5. R3H3E3 (Program P2TB)

4. TB Paru kasus gagal pengobatan


Pengobatan sebaiknya berdasarkan hasil uji resistensi, dengan minimal menggunakan
4 -5 OAT dengan minimal 2 OAT yang masih sensitif ( seandainya H resisten, tetap
diberikan). Dengan lama pengobatan minimal selama 1 2 tahun . Menunggu hasil
uji resistensi dapat diberikan dahulu 2 RHZES , untuk kemudian dilanjutkan sesuai uji
resistensi
- Bila tidak ada / tidak dilakukan uji resistensi, maka alternatif diberikan paduan obat
: 2 RHZES/1 RHZE/5. H3R3E3 (Program P2TB)
- Dapat pula dipertimbangkan tindakan bedah untuk mendapatkan hasil yang optimal
- Sebaiknya kasus gagal pengobatan dirujuk ke ahli paru
5. TB Paru kasus lalai berobat
Penderita TB paru kasus lalai berobat, akan dimulai pengobatan kembali sesuai
dengan kriteria sebagai berikut :
Penderita yang menghentikan pengobatannya < 2 minggu, pengobatan OAT
dilanjutkan sesuai jadual
Penderita menghentikan pengobatannya = 2 minggu
1) Berobat = 4 bulan , BTA negatif dan klinik, radiologik negatif, pengobatan
OAT STOP

23
2) Berobat > 4 bulan, BTA positif : pengobatan dimulai dari awal dengan
paduan obat yang lebih kuat dan jangka waktu pengobatan yang lebih lama
3) Berobat < 4 bulan, BTA positif : pengobatan dimulai dari awal dengan paduan
obat yang sama
4) Berobat < 4 bulan , berhenti berobat > 1 bulan , BTA negatif, akan tetapi
klinik dan atau radiologik positif : pengobatan dimulai dari awal dengan
paduan obat yang sama
5) Berobat < 4 bulan, BTA negatif, berhenti berobat 2-4 minggu pengobatan
diteruskan kembali sesuai jadual.
6. TB Paru kasus kronik
Pengobatan TB paru kasus kronik, jika belum ada hasil uji resistensi, berikan
RHZES. Jika telah ada hasil uji resistensi, sesuaikan dengan hasil uji
resistensi (minimal terdapat 2 macam OAT yang masih sensitif dengan H tetap
diberikan walaupun resisten) ditambah dengan obat lain seperti kuinolon,
betalaktam, makrolid
Jika tidak mampu dapat diberikan INH seumur hidup
Pertimbangkan pembedahan untuk meningkatkan kemungkinan
penyembuhan
Kasus TB paru kronik perlu dirujuk ke ahli paru. 13

Pengobatan TB pada keadaan khusus


TB di luar paru
Paduan obat 2 RHZE/ 1 0 RH.
Prinsip pengobatan sama dengan TB paru menurut ATS, misalnya pengobatan untuk TB
tulang, TB sendi dan TB kelenjar, meningitis pada bayi dan anak lama pengobatan 12 bulan.
Pada TB diluar paru lebih sering dilakukan tindakan bedah. Tindakan bedah dilakukan
untuk :
Mendapatkan bahan / spesimen untuk pemeriksaan (diagnosis)
Pengobatan : * perikarditis konstriktiva
* kompresi medula spinalis pada penyakit Pott's
Pemberian kortikosteroid diperuntukkan pada perikarditis TB untuk mencegah konstriksi
jantung, dan pada meningits TB untuk menurunkan gejala sisa neurologik. 13

24
DAFTAR PUSTAKA

1. Kelompok Kerja TB Anak Depkes-IDAI. Diagnosis dan Tatalaksana Tuberkulosis


Anak. Departemen Kesehatan RI, 2008.
2. Wright CA, Van der Burg M, Geiger D, Noordzij JG, Burgess SM, Marais BJ.
Diagnosing Mycobacterial Lymphadenitis In Children Using Fine Needle Aspiration
Biopsy: Cytomorphology, ZN Staining and Autofluorescence-making more of less
[abstract]. [cited 2009 August 14] . Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15452909
3. Departeman Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis. Cetakan ke-8. Departemen Kesehatan RI. 2002.
4. Departeman Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis. Edisi ke-2, Cetakan pertama. Departemen Kesehatan RI. 2007.
5. Nelson E waldo, et.al, Morbili dalam Bab infeksi virus Buku ilmu Kesehatan Anak
Volume 2, Edisi 15, EGC, 1999, hal 1068 1071.
6. Jamil AA. Morbili . 26 feb 2013. Aviable from:
http://www.scribd.com/doc/127311715/MORBILI. di akses: 14 februari 2015.
7. Soegeng Soegijanto. 2002. Campak. dalam: Sumarmo S. Poorwo Soedarmo, dkk. (ed.)
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Infeksi & Penyakit Tropis. Edisi I. Jakarta. Balai
Penerbit FKUI. Hal. 125
8. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.1985. Ilmu Kesehatan Anak 2. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
9. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak, edisi I.
Jakarta: IDAI, 2004.

25
10. Soedarmo SS, Gama H, Hadinegoro SR, Eds. Campak. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
anak : infeksi dan penyakit tropis, ed 2. Jakarta: BP IDAI FKUI, 2010 : 109 14
11. Gunawan GS, Nafriadi RS, Elisabeth. Farmakologi Dan Terapi Edisi 5. Jakarta.
Badan Penerbit FKUI. 2011.
12. Andi D. Dkk ed. 2006. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi. Edisi 6. Jakarta :
Infomaster lisensi dari CMP Medica.
13. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksaan
Tuberkulosis di Indonesia. Departemen Kesehatan RI. Diakses 4 november 2014.

26