Anda di halaman 1dari 4

BAB II

RANGKUMAN
MANUSIA DI HADAPAN ALLAH
Menurut Kejadian 1:2 keadaan bumi pada mulanya masih kacau. Keadaan
bumi tersebut diungkapkan demikian : Bumi belum berbentuk dan
kosong, gelap gulita menutupi samudera raya; dan Roh Allah melayang-
layang di atas permukaan air. Jadi bumi masih dikuasai oleh kuasa-kuasa
khaotis (khaos = kekacauan), yaitu daya-daya perusak sehingga tidak
memungkinkan kehidupan dapat berlangsung.

Cara Allah menaklukkan kuasa-kuasa khaotis itu hanyalah dengan


firmanNya saja. Bila Allah berfirman : Jadilah terang, maka terang itu
pun jadi. Demikian pula Allah berfirman : Jadilah benda
penerang-penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari
malam, maka benda-benda penerang itu akan jadi. Jadi dapat dikatakan
bahwa TUHAN Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya hanya
melalui kuasa firmanNya. Dan melalui kuasa FirmanNya pulalah Allah
mengubah kuasa khaotis menjadi kuasa kehidupan. Tujuan peciptaan
TUHAN Allah adalah menciptakan kehidupan yang serba selamat
dan sejahtera. Allah menghendaki terciptanya syaloom dalam
hidup manusia dan alam semesta.

2. Manusia Sebagai Mandataris Allah

Kejadian 1:26 berkata demikian : Baiklah kita menjadikan manusia


menurut gambat dan rupa kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di
laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi
dan atas segala binatang yang merayap di bumi. Kesan tersebut adalah
bahwa untuk menciptakan manusia, TUHAN Allah terlebih dahulu telah
melakukan suatu pertimbangan dan perencanaan yang masak. Dan yang
terpenting, kitab Kejadian menyaksikan Allah meciptakan manusia
menurut gambar (tselem) dan rupa (demut) Allah sendiri. Meskipun arti
kata tselem (gambar) dan demut (rupa) tidaklah sama, namun keduanya
sangat berdekatan satu sama lain. Pada jaman dahulu kedua kata
tersebut dipakai untuk menyebut patung atau arca dewa. Sedangkan oleh
penulis Kitab Kejadian diterapkan untuk penciptaan manusia oleh Allah.
Kesan arti dari Kejadian 1:27 adalah bahwa pengertian tselem
dan demut menunjuk pada manusia sebagai manusia laki-laki dan
perempuan. Bila memang demikian, manusia menurut Kitab
Kejadian adalah serentak laki-laki dan perempuan menjadi demut
(rupa) Allah. Dalam kedua kodrat itu terdapat kesamaan tingkat
(derajat), hanya berbeda dalam hal fungsi (peranan). Keduanya yaitu laki-
laki dan perempuan menghadirkan wajah Allah dalam kehidupan pribadi
mereka, namun dengan cara yang berbeda sambil mereka saling
melengkapi. Jadi, Allah menciptakan manusia baik sebagai laki-laki
maupun perempuan agar mereka mencerminkan kehidupan ilahi
sesuai dengan fungsi kodratnya masing-masing.

Maksud penciptaan manusia menurut gambar dan rupa Allah itu


jelas ditempatkan dalam rangka suatu penugasan. Dari ayat
Kejadian 1:26 kita dapat melihat bahwa TUHAN Allah memberi mandat
(wewenang) kepada manusia. Tafsiran kata-kata supaya mereka
berkuasa sering diartikan sebagai suatu wewenang (mandat) manusia
untuk menguasai (mendominasi) alam.

Pengertian manusia sebagai mandataris Allah bukan


dimaksudkan bahwa manusia berhak untuk menguras habis-habisan isi
alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kata berkuasa (rada) lebih
menunjuk pada pengertian menaungi atau mengayomi. Ini berarti
manusia sebagai mandataris Allah mempunyai tugas untuk melindungi
atau mengayomi isi alam ini dengan penuh tanggung jawab (Kejadian
1:31), maka kita berkewajiban untuk menjaga, melestarikan dan
mengayomi isi alam. Dan yang terpenting manusia menjadi manusia
apabila dia berada dalam tempatnya di dalam alam.

3. Menghadirkan Syaloom Allah

Kata syaloom adalah berasal dari bahasa Ibrani yang


menunjuk suatu keadaan ideal. Dalam Perjanjian Lama, penggunaan
kata syaloom dipergunakan sebanyak 237 kali. Kata syaloom dipakai
untuk ucapan selamat yaitu apabila bertemu dengan orang yang bukan
musuh atau untuk minta diri. Jadi, kata syaloom kadang-kadang
dimunculkan dalam relasi pergaulan. Umumnya, arti kata syaloom
dalam Perjanjian Lama mempunyai arti berlimpah, kenyang, rasa
puas, bahagia, utuh dan lengkap. Atau menunjuk pada suatu keadaan
yang utuh-lengkap meliputi manusia seluruhnya dan dari semua segi
kehidupan.

Kejadian 1:1-31 dan 2:1-5 tidak kita jumpai kata syaloom, namum
gambaran keadaan yang penuh syaloom (keadaan penuh selamat, damai-
sejahtera dan utuh) dilukiskan dengan sangat hidup. Sebab Allah
menciptakan langit dan bumi serta manusia adalah agar dalam kehidupan
itu tercpita suatu keadaan syaloom. Paling tidak ada 3 dimensi keadaan
syaloom, yaitu : dimensi vertikal, dimensi sosial, dimensi kosmis.
Dimenis vertikal, syaloom berarti : ada keselarasan antara Allah
dengan manusia. Dimensi sosial dari syaloom adalah bahwa
manusia membutuhkan penolong yang sepadan. Dimensi kosmis
juga lingkup dari syaloom. Sebab itu harus ada keselarasan antara
manusia dengan alam (dunia). Sebagai mandataris Allah (bukan sebagai
penguasa dunia), manusia harus mampu memberi perlindungan dan
pengayoman kepada seluruh makhluk dan isi alam.

Dari pembahasan di atas kita dapat mengatakan bahwa syaloom


yaitu keselamatan dan damai-sejahtera itu suatu keadaan yang
memungkinkan serta hubungan manusia menjadi baik dan lancar:
harmonis dengan TUHAN Allah, dengan sesama manusia dan
dengan dunia sekitarnya. Hidup manusia sebagai mandataris Allah
adalah untuk mewujudkan gambar dan rupa Allah.

4. Dosa dan Kegagalan Manusia

Tujuan TUHAN Allah menciptakan langit dan bumi dan


menempatkan manusia sebagai mandataris Allah adalah agar terciptanya
suatu keadaan syaloom, yaitu keselamatan dan damai-sejahtera.
Sebaliknya dengan perlawanan kepada Allah, keselamatan dan damai-
sejahtera (syaloom) itu berubah menjadi situasi kutuk. Namun bila kita
memperhatikan latar belakang (konteks) pemberontakan manusia
sehingga manusia jatuh ke dalam dosa, ternyata berhubungan erat
dengan :

1. Allah memberikan kebebasan kepada manusia


2. Iblis melalui ular menggoda manusia.

Persoalan tersebut berkaitan dengan tindakan Iblis yang menggoda


manusia. Jadi, argumentasi ini mengandaikan jika Iblis tidak menggoda,
maka manusia tidak mungkin berbuat dosa.

5. Paham Tentang Dosa

Antropologi sosial pada prinsipnya membedakan dua macam


masyarakat (kelompok sosial), yaitu :

a. STRONG GROUP-GRID
b. WEAK GROUP-GRID

Maksud dari strong group-grid adalah kelompok sosial yang


memiliki sistem organisasi yang sangat ketat. Keketatan kelompok
sosial strong group-grid terletak pada penerapan hukum-hukum,
aturan-aturan, norma-norma atau undangn-undang yang diakui oleh
masyarakat. Dan semua aturan itu dianggap sebagai aturan suci
atau aturan keramat. Segala norma-normanya dipercayai sebagai
sesuatu yang berasal dari Allah. Kewibawaan hukum atau aturan itu
tidak dapat diganggu-gugat, walaupun dalam perjalanan sejarah
pada masa depan menghendaki pemikiran ulang.

Masyarakat weak group-grid adalah kelompok sosial yang


memiliki sistem organisasi yang tidak terlalu ketat, tetapi lebih
longgar. Di sini paham dosa bukan dimengerti sebagai pelanggaran
obyektif terhadap keteraturan sebagaimana yang dianut oleh
masyarakat strong group-grid. Dalam masyarakat weak group-
grid suatu tindakan atau perbuatan dapat dikategorikan sebagai
dosa apabila maksud atau niat yaitu sikap batiniah seseorang tidak
benar. Itulah sebabnya masyarakat weak group-grid sangat
menekankan pada motivasi yang benar. Sehingga dapat saja
seseorang dipersalahkan walaupun secara lahirlah tidak melakukan
kehidupan rohaninya.