Anda di halaman 1dari 38

DEPARTEMEN SURGICAL

LAPORAN PENDAHULUAN STRIKUR URETRA


UNTUK MEMENUHI TUGAS PROFESI NERS DI RUANG 19
DI RSUD dr. SAIFUL ANWAR MALANG

OLEH:
YESSIE ROHAN
NIM. 125070218113036
KELOMPOK 4

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
A Pengertian
Striktur uretra adalah penyempitan lumen uretra akibat adanya jaringan parut
dan kontraksi.(C. Smeltzer, Suzanne;2002 hal 1468).
Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria daripada wanita terutama karena
perbedaan panjang uretranya. (C. Long , Barbara;1996 hal 338)

B Anatomi dan Fisiologi


Uretra adalah saluran yang dimulai dari orifisium uretra interna dibagian buli-
buli sampai orifisium uretra eksterna glands penis, dengan panjang yang
bervariasi. Uretra pria dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian anterior dan
bagian posterior. Uretraposterior dibagi menjadi uretra pars prostatika dan uretra
pars membranasea. Uretra anterior dibagi menjadi meatus uretra, pendulare
uretra dan bulbus uretra. Dalam keadaan normal lumen uretra laki-laki 24 ch,
dan wanita 30 ch. Kalau 1 ch = 0,3 mm maka lumen uretra laki-laki 7,2 mm dan
wanita 9 mm.

1. Uretra bagian anterior


Uretra anterior memiliki panjang 18-25 cm (9-10 inchi). Saluran ini dimulai dari
meatus uretra, pendulans uretra dan bulbus uretra. Uretra anterior ini berupa tabung
yang lurus, terletak bebas diluar tubuh, sehingga kalau memerlukan operasi atau
reparasi relatif mudah.

2. Uretra bagian posterior


Uretra posterior memiliki panjang 3-6 cm (1-2 inchi). Uretra yang dikelilingi kelenjar
prostat dinamakan uretra prostatika. Bagian selanjutnya adalah uretra
membranasea, yang memiliki panjang terpendek dari semua bagian uretra, sukar
untuk dilatasi dan pada bagian ini terdapat otot yang membentuk sfingter. Sfingter ini
bersifat volunter sehingga kita dapat menahan kemih dan berhenti pada waku
berkemih. Uretra membranacea terdapat dibawah dan dibelakang simpisis pubis,
sehingga trauma pada simpisis pubis dapat mencederai uretra membranasea.

C Etiologi
Striktur uretra dapat terjadi pada:
1. Infeksi
Merupakan faktor yang paling sering menimbulkan striktur uretra, seperti infeksi
oleh kuman gonokokus yang menyebabkan uretritis gonorrhoika atau non
gonorrhoika telah menginfeksi uretra beberapa tahun sebelumnya namun
sekarang sudah jarang akibat pemakaian antibiotik, kebanyakan striktur ini
terletak di pars membranasea, walaupun juga terdapat pada tempat lain; infeksi
chlamidia sekarang merupakan penyebab utama tapi dapat dicegah dengan
menghindari kontak dengan individu yang terinfeksi atau menggunakan kondom.

2. Trauma
Fraktur tulang pelvis yang mengenai uretra pars membranasea, trauma tumpul
pada selangkangan (straddle injuries) yang mengenai uretra pars bulbosa, dapat
terjadi pada anak yang naik sepeda dan kakinya terpeleset dari pedal sepeda
sehingga jatuh dengan uretra pada bingkai sepeda pria, trauma langsung pada
penis, instrumentasi transuretra yang kurang hati-hati (iatrogenik) seperti
pemasangan kateter yang kasar, fiksasi kateter yang salah.

3. Iatrogenik
a. Operasi rekonstruksi dari kelainan kongenital seperti hipospadia, epispadia
b. Post operasi
Beberapa operasi pada saluran kemih dapat menimbulkan striktur uretra, seperti
operasi prostat, operasi dengan alat endoskopi.
4. Tumor
5. Kelainan Kongenital,misalnya kongenital meatus stenosis, klep uretra
posterior
Penyebab paling umum dari striktur uretra saat ini adalah traumatik atau
iatrogenik. Penyebab yang lebih jarang ditemui adalah peradangan atau infeksi,
keganasan, dan kongenital. Striktur akibat infeksi biasanya merupakan gejala
sekunder dari urethritis gonococcal, yang masih umum di beberapa populasi
berisiko tinggi.
Penyebab yang paling penting adalah idiopati, reseksi transurethral,
kateterisasi uretra, fraktur panggul dan operasi hipospadia. Penyebab iatrogenik
keseluruhan (reseksi transurethral, kateterisasi uretra, sistoskopi, prostatektomi,
operasi brachytherapy dan hipospadia) adalah 45,5% dari kasus striktur. Pada
pasien yang lebih muda dari 45 tahun penyebab utama adalah idiopati, operasi
hipospadia dan fraktur panggul. Pada pasien yang lebih tua dari 45 tahun
penyebab utama adalah reseksi transurethraldan idiopathy. Penyebab utama
penyakit penyempitan multifokal/panurethral adalah kateterisasi uretra anterior,
sedangkan fraktur panggul adalah penyebab utama dari striktur uretra posterior.

Etiologi striktur pada wanita berbeda dengan laki-laki, etiologi striktura


uretra pada wanita radang kronis. Biasanya di derita wanita usia diatas 40 tahun
dengan sindroma sistitis berulang yaitu disuria, frekuensi dan urgensi. Diagnosis
striktur uretra dibuat dengan bougie aboule, tanda khas dari pemeriksaan
bougie aboule adalah pada waktu dilepas terdapat flik/hambatan. Pengobatan
dari striktura uretra pada wanita dengan dilatasi, kalo gagal dengan otis
uretrotomi.

D Drajat Penyempitan Uretra


Sesuai dengan derajat penyempitan lumennya, striktur uretra dibagi menjadi tiga
tingkatan:
1. Ringan : jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen uretra
2. Sedang: jika terdapat oklusi 1/3 sampai dengan diameter lumen uretra
3. Berat : jika terdapat oklusi lebih besar dari diameter lumen uretra
Pada penyempitan derajat berat kadangkala teraba jaringan keras di korpus
spongiosum yang dikenal dengan spongiofibrosis.
E Manifestasi Klinis

Adanya obstruksi saluran kemih bawah akan memberikan sekumpulan gejala yang
populer diistilahkan sebagai LUTS (lower urinary tract symptoms). Patofisiologi
LUTS didasarkan atas 2 kelompok gejala, yaitu :

1. Voiding symptom; yaitu gejala yang muncul sebagai akibat kegagalan buli untuk
mengeluarkan sebagian atau seluruh isi kandung kemih, antara lain: weakness of
stream (pancaran kencing melemah), abdominal straining (mengejan), hesitancy
(menunggu saat akan kencing), intermittency (kencing terputus-putus), disuria (nyeri
saat kencing), incomplete emptying (kencing tidak tuntas), terminal dribble ( kencing
menetes).

2. Storage symptom; yaitu gejala yang muncul sebagai akibat gangguan pengisian
kandung kemih, bias karena iritasi atau karena perubahan kapasitas kandung kemih,
antara lain : frekuensi, urgensi, nocturia, incontinensia (paradoxal), nyeri
suprasimfisis.

3. Miction post symptom; yaitu gejala yang muncul pasca miksi, antara lain tidak
lampias, terminal dribbling, inkontinensia paradoks.
Gejala dari striktur uretra yang khas adalah pancaran buang air seni kecil dan
bercabang. Gejala yang lain adalah iritasi dan infeksi seperti frekuensi, urgensi,
disuria, inkontinensia, urin yang menetes, kadang-kadang dengan penis yang
membengkak, infiltrat, abses dan fistel. Gejala lebih lanjutnya adalah retensi urine.
F Patofisiologi

Kongenital Didapat infeksi, spasme otot, tekanan


G dari luar tumor, cedera uretra, cedera
Anomali saluran kemih yang lain
H peregangan, uretritis gonorhoe
I
J Lesi Pada Epitel / Putusnya
K Kontinuitas pd Urethra
L
M
N Ekstravasasi Urin
O
P
Q Reaksi peradangan / reaksi fibroblastik

R
Reaksi Fibroblastik Meningkat
S
T
Jaringan parut
U Penyempitan lumen uretra
V Total tersumbat
W Kekuatan pancaran dan jumlah
X urine berkurang
Y Obstruksi saluran kemih yang
Z bermuara ke VU
AA Perubahan pola eliminasi
AB
AC
AD
AE Refluk urine Peningkatan tekanan
VU
AF
AG Hidroureter
Penebalan dinding Gangguan rasa nyaman:
AH VU nyeri
Hidronefrosis
AI
AJ Penurunan kontraksi
Pyelonefritis otot VU
AK
AL Kesulitan berkemih Ansietas
Gagal ginjal kronik
AM
AN Retensi urine
Defisiensi
pengetahuan
AO
AP Risiko Infeksi Sitostomi
AQ
AR Luka insisi Perubahan pola berkemih
AS
Gangguan rasa nyaman: Retensi urine
Nyeri

Gangguan pola tidur


AT
AUPemeriksaan

1. Pemeriksaan Fisik
a. Anamnesa:
AV
Untuk mencari gejala dan tanda adanya striktur uretra dan juga
mencari penyebab striktur uretra.
b. Pemeriksaan fisik dan local:
AW Untuk mengetahui keadaan penderita dan juga untuk meraba
fibrosis di uretra, infiltrat, abses atau fistula.
2. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
- Urin dan kultur urin untuk mengetahui adanya infeksi
- Ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal
b. Uroflowmetri
AX Uroflowmetri adalah pemeriksaan untuk menentukan kecepatan
pancaran urin. Volume urin yang dikeluarkan pada waktu miksi dibagi
dengan lamanya proses miksi. Kecepatan pancaran urin normal pada
pria adalah 20 ml/detik dan pada wanita 25 ml/detik. Bila kecepatan
pancaran kurang dari harga normal menandakan ada obstruksi.
3. Radiologi
AY Diagnosa pasti dibuat dengan uretrografi, untuk melihat letak
penyempitan dan besarnya penyempitan uretra. Teknik pemeriksaan
uretrogram adalah pemeriksaan radiografi ureter dengan bahan
kontras.uretra.
AZ Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai panjang striktur
adalah dengan membuat foto bipolar sistouretrografi dengan cara
memasukkan bahan kontras secara antegrad dari buli-buli dan secara
retrograd dari uretra. Dengan pemeriksaan ini panjang striktur dapat
diketahui sehingga penting untuk perencanaan terapi atau operasi.
BA
BB
BC
BD
BE
BF
BG
BH
BI
BJ GAMBAR: Retrograde urethrogram menunjukkan striktur uretra bulbar
4. Instrumentasi
BK Pada pasien dengan striktur uretra dilakukan percobaan dengan
memasukkan kateter Foley ukuran 24 ch, apabila ada hambatan dicoba
dengan kateter dengan ukuran yang lebih kecil sampai dapat masuk ke buli-
buli. Apabila dengan kateter ukuran kecil dapat masuk menandakan adanya
penyempitan lumen uretra.
5. Uretroskopi
BL Untuk melihat secara langsung adanya striktur di uretra. Jika
diketemukan adanya striktur langsung diikuti dengan uretrotomi interna
(sachse) yaitu memotong jaringan fibrotik dengan memakai pisau sachse.
BM
BNPrognosis
BO
Striktur uretra kerap kali kambuh, sehingga pasien harus sering
menjalani pemeriksaan yang teratur oleh dokter. Penyakit ini dikatakan sembuh
jika setelah dilakukan observasi selama satu tahun tidak menunjukkan tanda-
tanda kekambuhan.
BP Striktura uretra seringkali kambuh, sehingga pasien harus sering
menjalani pemeriksaan/kontrol secara teratur minimal sampai 1 tahun setelah
operasi dan tidaka menunjukkan tanda-tanda kekambuhan.
BQ Setiap kontrol dilakukan pemeriksaan pancaran urine yang
langsung dilihat oleh dokter atau menggunakan rekaman uroflowmetri. Beberapa
tindakan yang dapat dilakukan tiap control adalah sebagai berikut.
1. Dilatasi berkala dengan menggunakan busi
2. CIC (clean intermitten catheterization) atau kateterisasi bersih mandiri
berkala yaitu pasien dianjurkan untuk melakukan kateterisasi secara
periodik pada waktu tertentu dengan kateter yang bersih( tidak perlu
steril) guna mencegah kekambuhan striktura.
BR
BS
BT Penatalaksanaan
BU Striktur uretra tidak dapat dihilangkan dengan jenis obat-obatan
apapun.Pasien yang datang dengan retensi urin, secepatnya dilakukan
sistostomi suprapubik untuk mengeluarkan urin, jika dijumpai abses periuretra
dilakukan insisi dan pemberian antibiotika. Pengobatan striktur uretra banyak
pilihan dan bervariasi tergantung panjang dan lokasi dari striktur, serta derajat
penyempitan lumen uretra. Tindakan khusus yang dilakukan terhadap striktur
uretra adalah:
BV 1. Bougie (Dilatasi)
BW Sebelum melakukan dilatasi, periksalah kadar hemoglobin
pasien dan periksa adanya glukosa dan protein dalam urin.
BX Tersedia beberapa jenis bougie. Bougie bengkok merupakan
satu batang logam yang ditekuk sesuai dengan kelengkungan uretra pria;
bougie lurus, yang juga terbuat dari logam, mempunyai ujung yang tumpul
dan umumnya hanya sedikit melengkung; bougie filiformis mempunyai
diameter yang lebih kecil dan terbuat dari bahan yang lebih lunak.
BY Berikan sedatif ringan sebelum memulai prosedur dan mulailah
pengobatan dengan antibiotik, yang diteruskan selama 3 hari. Bersihkan
glans penis dan meatus uretra dengan cermat dan persiapkan kulit dengan
antiseptik yang lembut. Masukkan gel lidokain ke dalam uretra dan
dipertahankan selama 5 menit. Tutupi pasien dengan sebuah duk lubang
untuk mengisolasi penis.
BZ Apabila striktur sangat tidak teratur, mulailah dengan
memasukkan sebuah bougie filiformis; biarkan bougie di dalam uretra dan
teruskan memasukkan bougie filiformis lain sampai bougie dapat melewati
striktur tersebut. Kemudian lanjutkan dengan dilatasi menggunakan bougie
lurus.
CA
CB
CC
CD
CE
Apabila striktur sedikit tidak teratur, mulailah dengan bougie
bengkok atau lurus ukuran sedang dan secara bertahap dinaikkan
ukurannya.
CF Dilatasi dengan bougie logam yang dilakukan secara hati-hati.
Tindakan yang kasar tambah akan merusak uretra sehingga menimbulkan
luka baru yang pada akhirnya menimbulkan striktur lagi yang lebih berat.
Karena itu, setiap dokter yang bertugas di pusat kesehatan yang terpencil
harus dilatih dengan baik untuk memasukkan bougie. Penyulit dapat
mencakup trauma dengan perdarahan dan bahkan dengan pembentukan
jalan yang salah (false passage). Perkecil kemungkinan terjadinya
bakteremi, septikemi, dan syok septic dengan tindakan asepsis dan dengan
penggunaan antibiotik.
CG
GAMBAR:
Dilatasi uretra pada pasien pria
(lanjutan). Bougie lurus dan bougie
bengkok (F); dilatasi strikur anterior
dengan sebuah bougie lurus (G)
dilatasi dengan sebuah bougie
bengkok (H-J)

CH

2.
Uretrotomi interna
CI Tindakan ini dilakukan dengan menggunakan alat endoskopi
yang memotong jaringan sikatriks uretra dengan pisau Otis atau dengan
pisau Sachse, laser atau elektrokoter.
CJ Otis uretrotomi dikerjakan pada striktur uretra anterior terutama
bagian distal dari pendulans uretra dan fossa navicularis, otis uretrotomi juga
dilakukan pada wanita dengan striktur uretra.
CK Indikasi untuk melakukan bedah endoskopi dengan alat Sachse
adalah striktur uretra anterior atau posterior masih ada lumen walaupun kecil
dan panjang tidak lebih dari 2 cm serta tidak ada fistel, kateter dipasang
selama 2-3 hari pasca tindakan. Setelah pasien dipulangkan, pasien harus
kontrol tiap minggu selama 1 bulan kemudian 2 minggu sekali selama 6
bulan dan tiap 6 bulan sekali seumur hidup. Pada waktu kontrol dilakukan
pemeriksaan uroflowmetri, bila pancaran urinnya < 10 ml/det dilakukan
bouginasi.
CL
3. Uretrotomi eksterna
CM Tindakan operasi terbuka berupa pemotongan jaringan fibrosis
kemudian dilakukan anastomosis end-to-end di antara jaringan uretra yang
masih sehat, cara ini tidak dapat dilakukan bila daerah strikur lebih dari 1
cm. Cara Johansson; dilakukan bila daerah striktur panjang dan banyak
jaringan fibrotik.
- Stadium I: daerah striktur disayat longitudinal dengan menyertakan
sedikit jaringan sehat di proksimal dan distalnya, lalu jaringan fibrotik
dieksisi. Mukosa uretra dijahit ke penis pendulans dan dipasang
kateter selama 5-7 hari.
- Stadium II: beberapa bulan kemudian bila daerah striktur telah
melunak, dilakukan pembuatan uretra baru.
CN
4. Uretroplasty
CO
Dilakukan pada penderita dengan panjang striktur uretra lebih
dari 2 cm atau dengan fistel uretro-kutan atau penderita residif striktur pasca
Uretrotomi Sachse. Operasi uretroplasty ini bermacam-macam, pada
umumnya setelah daerah striktur di eksisi, uretra diganti dengan kulit
preputium atau kulit penis dan dengan free graft atau pedikel graft yaitu dibuat
tabung uretra baru dari kulit preputium/kulit penis dengan menyertakan
pembuluh darahnya.

CP

CQ

CR

CS
CT Pencegahan
1. Menghindari terjadinya trauma pada uretra dan pelvis
2. Tindakan transuretra dengan hati-hati, seperti pada pemasangan
kateter
3. Menghindari kontak langsung dengan penderita yang terinfeksi
penyakit menular seksual seperti gonorrhea, dengan jalan setia pada
satu pasangan dan memakai kondom
4. Pengobatan dini striktur uretra dapat menghindari komplikasi seperti
infeksi dan gagal ginjal.

CU
Melihat beberapa faktor yang telah dijelaskan diatas, terdapat
solusi untuk mencegah terjadinya striktur uretra atau paling tidak menurunkan
angka morbiditasnya, terutama akibat pemasangan kateter uretra. Salah
satunya yang paling mudah adalah melakukan program pendidikan kepada
tenaga medis. Sebuah studi yang mencoba melakukan intervensi kepada
kelompok sampel guna mencegah terjadinya striktur uretra. Studi ini
dilakukan selama 13 bulan. Pada bualan ke-1 sampai ke-6 injuri yang
diakibatkan oleh kateter dicatat dan dianalisis. Pada bulan ke-7, dilakukan
program pendidikan bagi tenaga medis mengenai anatomi dasar urologi,
teknik pemasangan kateter uretra, dan kateter yang aman. Bulan ke-8 sampai
ke-13 dilihat insiden injuri terkait kateter. Data sebelum intervensi dan
sesudah kemudian dibandingkan. Didapatkan hasil bahwa sebelum intervensi
injuri terjadi dengan insiden 3,2/1000 pasien dengan 1 pasien yang
mengalami striktur uretra yang berulang. Setelah dilakukan intervensi
didapatkan data bahwa inseden terjadinya injuri berkurang menjadi 0,7/1000
pasien (p=0,006) dan tidak didapatkan striktur uretra. Ini menunjukkan injuri
iatrogenik pada pemasangan kateter dapat dicegah sehingga angka
morbiditas pasien di rumah sakit turun.
CV
Infeksi sebagai salah satu pencetus terjadinya striktur juga
dapat dicegah. Pencegahan dapat diawali dengan sebuah sistem dimana
tenaga medis yang melakukan kateterisasi diingatkan bahwa kateter masih
terpasang dan bila tidak diperlukan dapat dilepas. Selain itu tenaga medis
diingatkan untuk mengganti kateter yang telah terpasang pada interval
tertentu dan bila tenaga medis itu bukan dokter dapat menggantinya tanpa
persetujuan dokter. Pada sebuah studi metanalisa mendapatkan hasil dengan
dilakukan intervensi angka kejadian infeksi saluran kencing terkait kateter
berkurang sebesar 52% (P=0,001). Secara keseluruhan durasi pemasangan
kateter berkurang 37%, 2,61 hari lebih sedikit pada pasien dengan intervensi.
Sedangkan pada studi dengan intervensi penggantian kateter tidak ditemukan
perbedaan sebelum dan sesudah intervensi. 23 Bahan kateter juga dijadikan
pertimbangan. Kateter yang dilapisi silver mengurangi angka kejadian infeksi
terkait kateter. Dengan berkurangnya durasi kateterisasi dan angka kejadian
infeksi saluran kemih terkait kateter maka kemungkinan pasien menjadi
striktur uretra juga berkurang.
CW
Pada guideline eropa dan asia menyebukan langkah-langkah
untuk mencegah infeksi terkait kateter. Langkah-langkah tersebut adalah (1)
sistem kateter harus tetap tertutup, (2) durasi pemasangan kateter haruslah
seminimal mungkin, (3) antiseptik atau antibiotik topical pada kateter, uretra,
atau meatus tidak direkomendasikan, (4) walaupun keuntungan profilaksis
antibiotik dan antiseptik telah terbukti, tidak direkomendasikan, (5) pelepasan
kateter sebelum tengah malam setelah prosedur operasi non-urologi mungkin
bermakna, (6) pada pemasangan jangka panjang sebaiknya kateter diganti
secara teratur, walaupun belum ada bukti ilmiah interval penggantian kateter,
dan (7) terapi antibiotik kronis tidak disarankan.
CX Tidak ada konsensus mengenai waktu kapan penggantian
kateter rutin harus dilakukan. Hal ini dapat dilihat pada instruksi pabrik.
Periode yang lebih pendek mungkin diperlukan jika ada kerusakan atau
kebocoran kateter. Secara umum, pemakaian jangka panjang kateter harus
diganti sebelum terjadi penyumbatan. Waktu untuk melakukan penggantian
berbeda dari satu pasien ke pasien lain.
CY Berbagai macam tindakan medis dapat menyebabkan striktur
uretra, salah satunya adalah internal urethrotomy. Striktur dapat dicegah
dengan melakukan kateterisasi sendiri secara periodik. Pasien diminta
melakukan kateterisasi sendiri secara berkala setiap hari atau tiap seminggu
sekali. Studi menyebutkan, dengan melakukan ini secara signifikan (P<0,01)
striktur uretra berulang lebih sedikit pada tahun pertama post-operasi. Tidak
terdapat komplikasi yang tercatat pada studi ini. Mitomycin C disebut dapat
mencegah striktur uretra pula. Mitomycin C memiliki sifat antifibroblast dan
anticollagen dan dalam laporan pada hewan disebutkan mampu
meningkatkan tingkat keberhasilan trabeculectomy dan miringotomi. Dengan
menyuntikkan mitomycin C pada submukosa uretra pada saat internal
urethrotomy didapatkan penurunan striktur uretra berulang (p=0,006).29
Penggunaan alat seperti sumpit yang terbuat dari baja telah dilaporkan di
Cina. Metode ini merupakan metode dimana pasien melakukan dilatasi uretra
sendiri. Pemakaian sumpit ini dilakukan setelah dilakukan urethrotomy
dengan ukuran 18 French. Seberapa dalam penggunaan sumpit ini ditentukan
oleh lokasi striktur. Tidak ada striktur uretra berulang yang dilaporkan pada
laporan ini.
CZ
Beberapa tindakan dapat dilakukan untuk mencegah trauma
uretra iatrogenik. Rekomendasi yang diberikan eropa adalah mencegah
kateterisasi yang beresiko trauma, durasi pemasangan kateter dilakukan
seminimal mungkin, dan pada saat melakukan operasi abdomen atau pelvis
harus dilakukan dengan kateter uretra terpasang sebagai struktur protektif.
DA
DBKomplikasi
a Trabekulasi, sakulasi dan divertikel
DC Pada striktur uretra kandung kencing harus berkontraksi lebih kuat,
maka otot kalau diberi beban akan berkontraksi lebih kuat sampai pada
suatu saat kemudian akan melemah. Jadi pada striktur uretra otot buli-buli
mula-mula akan menebal terjadi trabekulasi pada fase kompensasi, setelah
itu pada fase dekompensasi timbul sakulasi dan divertikel. Perbedaan antara
sakulasi dan divertikel adalah penonjolan mukosa buli pada sakulasi masih
di dalam otot buli sedangkan divertikel menonjol di luar buli-buli, jadi
divertikel buli-buli adalah tonjolan mukosa keluar buli-buli tanpa dinding otot.
a Residu urine
DD Pada fase kompensasi dimana otot buli-buli berkontraksi makin kuat
tidak timbul residu. Pada fase dekompensasi maka akan timbul residu.
Residu adalah keadaan dimana setelah kencing masih ada urine dalam
kandung kencing. Dalam keadaan normal residu ini tidak ada.
a Refluks vesiko ureteral
DE Dalam keadaan normal pada waktu buang air kecil urine dikeluarkan
buli-buli melalui uretra. Pada striktur uretra dimana terdapat tekanan
intravesika yang meninggi maka akan terjadi refluks, yaitu keadaan dimana
urine dari buli-buli akan masuk kembali ke ureter bahkan sampai ginjal.
a Infeksi saluran kemih dan gagal ginjal
DF Dalam keadaan normal, buli-buli dalam keadaan steril. Salah satu cara
tubuh mempertahankan buli-buli dalam keadaan steril adalah dengan jalan
setiap saat mengosongkan buli-buli waktu buang air kecil. Dalam keadaan
dekompensasi maka akan timbul residu, akibatnya maka buli-buli mudah
terkena infeksi.Adanya kuman yang berkembang biak di buli-buli dan timbul
refluks, maka akan timbul pyelonefritis akut maupun kronik yang akhirnya
timbul gagal ginjal dengan segala akibatnya.
a Infiltrat urine, abses dan fistulas
DG Adanya sumbatan pada uretra, tekanan intravesika yang meninggi
maka bisa timbul inhibisi urine keluar buli-buli atau uretra proksimal dari
striktur. Urine yang terinfeksi keluar dari buli-buli atau uretra menyebabkan
timbulnya infiltrat urine, kalau tidak diobati infiltrat urine akan timbul abses,
abses pecah timbul fistula di supra pubis atau uretra proksimal dari striktur.
DH
E. ASUHAN KEPERAWATAN PADA STRIKTUR URETRA

DI Perawat melakukan asuhan keperawatan


dengan menggunakan proses keperawatan. Dengan proses keperawatan,
perawat memakai latar belakang, pengetahuan yang komprehensif untuk
mengkaji status kesehatan klien, mengidentifikasi masalah dan diagnosa
merencanakan intervensi, mengimplementasikan rencana dan mengevaluasi
intervensi keperawatan.
DJ
1. PENGKAJIAN
DK
DL Pengkajian merupakan tahap awal dan
landasan proses keperawatan. pengumpulan data yang akurat dan sistematis
akan membantu penentuan status kesehatan dan pola pertahanan klien,
mengidentifikasi kekuatan dan kebutuhan klien, serta merumuskan diagnosis
keperawatan.
DM Pengkajian dibagi menjadi 2 tahap, yaitu
pengkajian pre operasi Sachse dan pengkajian post operasi Sachse
a) Pengkajian pre operasi Sachse
DN Pengkajian ini dilakukan sejak klien ini MRS
sampai saat operasinya, yang meliputi :
DO Pengkajian fokus :
DP Inspeksi :
Memeriksa uretra dari bagian meatus dan jaringan sekitarnya
Observasi adanya penyempitan, perdarahan, mukus atau cairan
purulent ( nanah )
Observasi kulit dan mukosa membran disekitar jaringan
Perhatikan adanya lesi hiperemi atau keadaan abnormal lainnya pada
penis, scrotom, labia dan orifisium Vagina.
Iritasi pada uretra ditunjukan pada klien dengan keluhan ketidak
nyamanan pada saat akan mixi.
DQ Pengkajian Psikososial :
Respon emosional pada penderita sistim perkemihan, yaitu : menarik
diri, cemas, kelemahan, gelisah, dan kesakitan.
Respon emosi pada pada perubahan masalah pada gambaran diri,
takut dan kemampuan seks menurun dan takut akan kematian.
DRPengkajian Diagnostik
Sedimen urine untuk mengetahui partikel-partikel urin yaitu sel,
eritrosit, leukosit, bakteria, kristal, dan protein.
DS
DT 1. Identitas klien
DU Meliputi nama, jenis kelamin, umur, agama /
kepercayaan, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, suku/ Bangsa,
alamat, no. rigester dan diagnosa medis.
DV 2 . Riwayat penyakit sekarang
DW Pada klien striktur urethra keluhan-keluhan
yang ada adalah frekuensi , nokturia, urgensi, disuria, pancaran
melemah, rasa tidak lampias/ puas sehabis miksi, hesistensi,
intermitency, dan waktu miksi memenjang dan akirnya menjadi retensio
urine.
DX 3 . Riwayat penyakit dahulu .
DY Adanya penyakit yang berhubungan dengan
saluran perkemihan, misalnya ISK (Infeksi Saluran Kencing ) yang
berulang. Penyakit kronis yang pernah di derita. Operasi yang pernah
di jalani kecelakaan yang pernah dialami adanya riwayat penyakit DM
dan hipertensi .
4 Riwayat penyakit keluarga .
DZ adanya riwayat keturunan dari salah satu
anggota keluarga yang menderita penyakit striktur urethra Anggota
keluarga yang menderita DM, asma, atau hipertensi.
5. Riwayat psikososial
a. Intra personal
EA Kebanyakan klien yang akan menjalani
operasi akan muncul kecemasan. Kecemasan ini muncul karena
ketidaktahuan tentang prosedur pembedahan. Tingkat kecemasan
dapat dilihat dari perilaku klien, tanggapan klien tentang sakitnya.
b. Inter personal
EB Meliputi peran klien dalam keluarga dan
peran klien dalam masyarakat.
EC
6. Pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
ED Klien ditanya tentang kebiasaan merokok,
penggunaan tembakau, penggunaan obat-obatan, penggunaan
alkhohol dan upaya yang biasa dilakukan dalam
mempertahankan kesehatan diri (pemeriksaan kesehatan berkala,
gizi makanan yang adekuat )
b. Pola nutrisi dan metabolisme
EE Klien ditanya frekuensi makan, jenis
makanan, makanan pantangan, jumlah minum tiap hari, jenis
minuman, kesulitan menelan atau keadaan yang mengganggu
nutrisi seperti nause, stomatitis, anoreksia dan vomiting. Pada
pola ini umumnya tidak mengalami gangguan atau masalah.
c. Pola eliminasi
EF Klien ditanya tentang pola berkemih,
termasuk frekuensinya, ragu ragu, jumlah kecil dan tidak lancar
menetes - netes, kekuatan system perkemihan. Klien juga ditanya
apakah mengedan untuk mulai atau mempertahankan aliran
kemih. Klien ditanya tentang defikasi, apakah ada kesulitan
seperti konstipasi akibat dari p[enyempitan urethra kedalam
rectum.
d. Pola tidur dan istirahat .
EG Klien ditanya lamanya tidur, adanya waktu
tidur yang berkurang karena frekuensi miksi yang sering pada
malam hari ( nokturia ). Kebiasaan tidur memekai bantal atau
situasi lingkungan waktu tidur juga perlu ditanyakan. Upaya
mengatasi kesulitan tidur.
e. Pola aktifitas .
EH Klien ditanya aktifitasnya sehari hari,
aktifitas penggunaan waktu senggang, kebiasaan berolah raga.
Apakah ada perubahan sebelum sakit dan selama sakit. Pada
umumnya aktifitas sebelum operasi tidak mengalami gangguan,
dimana klien masih mampu memenuhi kebutuhan sehari hari
sendiri.
f. Pola hubungan dan peran
EI Klien ditanya bagaimana hubungannya
dengan anggota keluarga, pasien lain, perawat atau dokter. Bagai
mana peran klien dalam keluarga. Apakah klien dapat berperan
sebagai mana seharusnya.
g. Pola persepsi dan konsep diri
EJ Meliputi informasi tentang perasaan atau
emosi yang dialami atau dirasakan klien sebelum pembedahan .
Biasanya muncul kecemasan dalam menunggu acara operasinya.
Tanggapan klien tentang sakitnya dan dampaknya pada dirinya.
Koping klien dalam menghadapi sakitnya, apakah ada perasaan
malu dan merasa tidak berdaya.
h. Pola sensori dan kognitif
EK Pola sensori meliputi daya penciuman, rasa,
raba, lihat dan pendengaran dari klien. Pola kognitif berisi tentang
proses berpikir, isi pikiran, daya ingat dan waham. Pada klien
biasanya tidak terdapat gangguan atau masalah pada pola ini.
i. Pola reproduksi seksual
EL Klien ditanya jumlah anak, hubungannya
dengan pasangannya, pengetahuannya tantangsek sualitas.
Perlu dikaji pula keadaan seksual yang terjadi sekarang, masalah
seksual yang dialami sekarang (masalah kepuasan, ejakulasi dan
ereksi ) dan pola perilaku seksual.
j. Pola penanggulangan stress
EM Menanyakan apa klien merasakan stress,
apa penyebab stress, mekanisme penanggulangan terhadap
stress yang dialami. Pemecahan masalah biasanya dilakukan
klien bersama siapa. Apakah mekanisme penanggulangan
stressor positif atau negatif.
k. Pola tata nilai dan kepercayaan
EN Klien menganut agama apa, bagaimana
dengan aktifitas keagamaannya. Kebiasaan klien dalam
menjalankan ibadah.
EO
7. Pemeriksaan fisik
a. Status kesehatan umum
EP Keadaan penyakit, kesadaran, suara bicara,
status/ habitus, pernafasan, tekanan darah, suhu tubuh, nadi.
b. Kulit
EQ Apakah tampak pucat, bagaimana
permukaannya, adakah kelainan pigmentasi, bagaimana keadaan
rambut dan kuku klien ,
c. Kepala
ER Bentuk bagaimana, simetris atau tidak,
adakah penonjolan, nyeri kepala atau trauma pada kepala.
d. Muka
ES Bentuk simetris atau tidak adakah odema,
otot rahang bagaimana keadaannya, begitu pula bagaimana otot
mukanya.
e. Mata
ET Bagainama keadaan alis mata, kelopak mata
odema atau tidak. Pada konjungtiva terdapat atau tidak hiperemi
dan perdarahan. Slera tampak ikterus atau tidak.
f. Telinga
EU Ada atau tidak keluar secret, serumen atau
benda asing. Bagaimana bentuknya, apa ada gangguan
pendengaran.
g. Hidung
EV Bentuknya bagaimana, adakah pengeluaran
secret, apa ada obstruksi atau polip, apakah hidung berbau dan
adakah pernafasan cuping hidung.
h. Mulut dan faring
EW Adakah caries gigi, bagaimana keadaan gusi
apakah ada perdarahan atau ulkus. Lidah tremor ,parese atau
tidak. Adakah pembesaran tonsil.
i. Leher
EX Bentuknya bagaimana, adakah kaku kuduk,
pembesaran kelenjar limphe.
j. Thoraks
EY Betuknya bagaimana, adakah gynecomasti.
k. Paru
EZ Bentuk bagaimana, apakah ada pencembungan atau
penarikan. Pergerakan bagaimana, suara nafasnya. Apakah ada
suara nafas tambahan seperti ronchi , wheezing atau egofoni.
l. Jantung
FA Bagaimana pulsasi jantung (tampak atau
tidak).Bagaimana dengan iktus atau getarannya.
m. Abdomen
FB Bagaimana bentuk abdomen. Pada klien dengan
keluhan retensi umumnya ada penonjolan kandung kemih pada
supra pubik. Apakah ada nyeri tekan, turgornya bagaimana. Pada
klien biasanya terdapat hernia atau hemoroid. Hepar, lien, ginjal
teraba atau tidak. Peristaklit usus menurun atau meningkat.
n. Genitalia dan anus
FC Pada klien biasanya terdapat hernia. Pembesaran prostat
dapat teraba pada saat rectal touch. Pada klien yang terjadi
retensi urine, apakah trpasang kateter, Bagaimana bentuk
scrotum dan testisnya. Pada anus biasanya ada haemorhoid.
o. Ekstrimitas dan tulang belakang
FD Apakah ada pembengkakan pada sendi. Jari jari tremor
apa tidak. Apakah ada infus pada tangan. Pada sekitar
pemasangan infus ada tanda tanda infeksi seperti merah atau
bengkak atau nyeri tekan. Bentuk tulang belakang bagaimana.
FE
b) Pengkajian post operasi Sachse
FF Pengkajian ini dilakukan setelah klien menjalani operasi, yang
meliputi:
1. Keluhan utama
FG Keluhan pada klien berbeda beda antara klien yang satu
dengan yang lain. Kemungkinan keluhan yang bisa timbul pada klien
post operasi Sachse adalah keluhan rasa tidak nyaman, nyeri karena
spasme kandung kemih atau karena adanya bekas insisi pada waktu
pembedahan. Hal ini ditunjukkan dari ekspresi klien dan ungkapan dari
klien sendiri.
2. Keadaan umum
FH Kesadaran, GCS, ekspresi wajah klien, suara bicara.
3. Sistem respirasi
FI Bagaimana pernafasan klien, apa ada sumbatan pada jalan
nafas atau tidak. Apakah perlu dipasang O2. Frekuensi nafas , irama
nafas, suara nafas. Ada wheezing dan ronchi atau tidak. Gerakan otot
Bantu nafas seperti gerakan cuping hidung, gerakan dada dan perut.
Tanda tanda cyanosis ada atau tidak.
4. Sistem sirkulasi
FJ Yang dikaji: nadi ( takikardi/bradikardi, irama ), tekanan darah,
suhu tubuh, monitor jantung ( EKG ).
5. Sistem gastrointestinal
FK Hal yang dikaji: Frekuensi defekasi, inkontinensia alvi,
konstipasi / obstipasi, bagaimana dengan bising usus, sudah flatus apa
belum, apakah ada mual dan muntah.
6. Sistem neurology
FL Hal yang dikaji: keadaan atau kesan umum, GCS, adanya nyeri
kepala.
7. Sistem muskuloskleletal
FM Bagaimana aktifitas klien sehari hari setelah operasi.
Bagaimana memenuhi kebutuhannya. Apakah terpasang infus dan
dibagian mana dipasang serta keadaan disekitar daerah yang
terpasang infus. Keadaan ekstrimitas.
8. Sistem eliminasi
FN Apa ada ketidaknyamanan pada supra pubik, kandung kemih
penuh . Masih ada gangguan miksi seperti retensi. Kaji apakah ada
tanda tanda perdarahan, infeksi. Memakai kateter jenis apa. Irigasi
kandung kemih. Warna urine dan jumlah produksi urine tiap hari.
Bagaimana keadaan sekitar daerah pemasangan kateter.
9. Terapi yang diberikan setelah operasi
FO Infus yang terpasang, obat obatan seperti antibiotika,
analgetika, cairan irigasi kandung kemih.
FP
c. Analisa data
FQ Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisa untuk menentukan
masalah klien. Analisa merupakan proses intelektual yang meliputi
kegiatan mentabulasi, menyeleksi, mengklasifikasi data,
mengelompokkan, mengkaitkan, menentukan kesenjangan informasi,
membandingkan dengan standart, menginterpretasikan serta akhirnya
membuat kesimpulan. Penulis membagi analisa menjadi 2, yaitu analisa
sebelum operasi dan analisa setelah operasi.
FR
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
FS Tahap akhir dari pengkajian adalah merumuskan diagnosa
keperawatan yang merupakan penilaian atau kesimpulan yang diambil
dari pengkajian keoerawatan. Dari analisa data diatas dapat dirumuskan
suatu diagnosis keperawatan yang dibagi menjadi 2, yaitu diagnosa
sebelum operasi dan diagnosa setelah operasi.
1. Diagnosa sebelum operasi
a. Perubahan eliminasi urine: frekuensi, urgensi, hesistancy,
inkontinensi, retensi, nokturia atau perasaan tidak puas setelah
miksi sehubungan dengan obstruksi mekanik : pembesaran prostat.
b. Nyeri sehubungan dengan penyumbatan saluran kencing sekunder
terhadap struktur urethra
c. Cemas sehubungan dengan hospitalisasi, prosedur pembedahan,
kurang pengetahuan tantang aktifitas rutin dan aktifitas post operasi
d. Gangguan tidur dan istirahat sehubungan dengan sering terbangun
sekunder terhadap kerusakan eliminasi: retensi disuria, frekuensi,
nokturia.
FT
2. Diagnosa setelah operasi
a. Nyeri sehubungan dengan spasme kandung kemih dan insisi
sekunder pada Sachse
b. Perubahan eliminasi urine sehubungandengan obstruksi sekunder
dari Sachse bekuan darah odema
c. Potensial infeksi sehubungan dengan prosedur invasif : alat selama
pembedahan, kateter,
d. Potensial untuk menderita cedera: perdarahan sehubungan dengan
tindakan
e. Potensial disfungsi seksual sehubungan dengan ketakutan akan
impoten akibat dari Sachse
f. Kurang pengetahuan: tentang Sachse sehubungan dengan kurang
informasi .
g. Gangguan tidur dan istirahat sehubungan dengan nyeri.
FU
FV 3. PERENCANAAN .
FW Setelah merumuskan diagnosis keperawatan, maka intervensi
dan aktifitas keperawatan perlu di tetapkan untuk untuk mengurangi,
menghilangkan dan mencegah masalah keperawatan klien. Tahap ini disebut
sebagai perencanaan keperawatan yang terdiri dari: menentukan prioritas
diagnosa keperawatan, menetapkan sasaran ( goal ), dan tujuan (obyektif ),
menetapkan kriteria evaluasi, merumuskan intervensi dan aktivitas
keperawatan. (5) Selanjutnya dibuat perencanaan dari masing masing
diagnosa keperawatan sebagai berikut :
FX 1 . Sebelum operasi
FY a . Perubahan eliminasi urine: frekuensi, urgensi, resistancy,
inkontinensi, retensi, nokturia atau perasaan tidak puas setelah miksi
sehubungan dengan obtruksi mekanik: striktur urethra
FZ Tujuan: Pola eliminasi normal .
GA Kriteria hasil :
Klien dapat berkemih dalam jumlah normal, tidak teraba distensi
kandung kemih
Residu pasca berkemih kurang dari 50 ml
Klien dapat berkemih volunter
Urinalisa dan kultur hasilnya negatif
Hasil laboratorium fungsi ginjal normal
GB
GC Rencana tindakan :
1. Jelaskan pada klien tentang perubahan dari pola eliminasi .
2. Dorong klien untuk berkemih tiap 2 4 jam dan bila dirasakan .
3. Anjurkan klien minum sampai 3000 ml sehari, dalam toleransi
jantung bila diindikasikan
4. Perkusi / palpasi area supra pubik
5. Observasi aliran dan kekuatan urine, ukur residu urine pasca
berkemih. Jika volume residu urine lebih besar dari 100 cc maka
jadwalkan program kateterisasi intermiten.
6. monitor laboratorium: urinalisa dan kultur, BUN, kreatinin.
7. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat: antagonis Alfa -
adrenergik (prazosin)
GD Rasional :
GE1 . Meningkatkan pengetahuan klien sehingga klien kooperatif
dalam tindakan keperawatan.
GF 2 . Meminimalkan retensi urine, distensi yang berlebihan pada
kandung kemih
GG 3 . Peningkatan aliran cairan, mempertahankan perfusi ginjal
dan membersihkan ginjal dan kandung kemih dari pertumbuhan
bakteri.
4. Distensi kandung kemih dapat dirasakan di area supra pubik.
5. - Observasi aliran dan kekuatan urine untuk mengevaluasi
adanya obstruksi
GH - Mengukur residu urine untuk mencegah urine statis
karena dapat beresiko infeksi
GI 6. Statis urinarias potensial untuk pertumbuhan bakteri,
peningkatan resiko ISK. Pembesaran prostat dapat menyebabkan
dilatasi saluran kemih atas (ureter dan ginjal), potensial merusak
fungsi ginjal dan menimbulkan uremia.
GJ 7. Mengurangi obstruksi pada buli-buli, relaksasi didaerah prostat
sehingga gangguan aliran air seni dan gejala-gejala berkurang.
GK
b. Nyeri sehubungan dengan penyumbatan saluran kencing sekunder
terhadap striktur urethra
GL Tujuan : Klien menunjukan bebas dari ketidaknyamanan
GM Kriteria hasil :
GN - Klien melaporkan nyeri hilang / terkontrol
GO - Ekspresi wajah klien rileks
GP - Klien mampu untuk istirahat dengan cukup
GQ - Tanda-tanda vital dalam batas normal
GR Rencana tindakan :
1. Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas ( skala 1-10 ), dan
lamanya.
2. Beri tindakan kenyamanan, contoh: membantu klien
melakukan posisi yang nyaman, mendorong penggunaan
relaksasi / latihan nafas dalam.
3. Beri kateter jika diinstruksikan untuk retensi urine yang
akut : mengeluh ingin kencing tapi tidak bisa.
4. Observasi tanda tanda vital.
5. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat sesuai
indikasi, contoh: kaltrofen ( Dumerol )
GS Rasional :
GT 1. Memberi informasi untuk membantu dalam menentukan pilihan
Intervensi
GU 2. Meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian
dan dapat meningkatkan kemampuan koping.
GV3 Retensi urine menyebabkan infeksi saluran kemih, hidro ureter
dan hidro nefrosis
GW 4. Mengetahui perkembangan lebih lanjut
GX5. Untuk menghilangkan nyeri hebat / berat, memberikan relaksasi
mental dan fisik.
GY
c. cemas sehubungan dengan hospitalisasi, prosedur pembedahan,
kurang pengetahuan tentang aktifitas rutin dan aktifitas post operasi.
GZ Tujuan: Cemas berkurang / hilang sehingga klien mau
kooperatif dalam tindakan perawatan.
HA Kriteria hasil :
Klien melaporkan cemas menurun / berkurang.
Klien memahami dan mau mendiskusikan rasa cemas.
Klien dapat menunjukan dan mengidentifikasi cara yang sehat
dalam menghadapi cemas.
Klien tampak rileks dan dapat beristirahat yang cukup.
Tanda tanda vital dalam batas normal
HB Rencana tindakan :
1. Bina hubungan saling percaya
dengan klien atau keluarga.
HC 2. Dorong klien atau keluarga untuk menyatakan perasaan /
masalah.
3. Beri informasi tentang prosedur / tindakan yang akan dilakukan,
contoh: kateter, urine berdarah, iritasi kandung kemih. Ketahui
seberapa banyak informasi yang diinginkan klien.
HD 4. Jelaskan pentingnya peningkatan asupan cairan.
HE 5. Jelaskan pembatasan aktifitas yang diharapkan :
HF a. tirah baring untuk hari pertama post operasi
HG b.ambulasi progresif yang dimulai hari pertama post
operasi
HH c.hindari aktifitas yang mengencangkan daerah kandung
kemih
HI 6. Observasi tanda - tanda vital.
HJ Rasional :
HK 1. Menunjukan perhatian dan keinginan untuk membantu.
Membantu dalam mendiskusikan tentang subyek sensitif.
HL 2. Mengidentifikasi masalah, memberikan kesempatan untuk
menjawab pertanyaan, memperjelas kesalahan konsep dan solusi
pemecahan masalah.
HM 3. Membantu klien memahami tujuan dari
apa yang dilakukan dan mengurangi masalah karena
ketidaktahuan.
HN4. Urine yang encer dapat menghambat pembentukkan klot.
HO 5. Pemahaman klien dapat membantu
mengurangi cemas yang berhubungan dengan kecemasan akibat
ketidaktahuan.
6. Perubahan tanda tanda vital mungkin menunjukkan
tingkat kecemasan yang dialami klien.
HP
d. Gangguan tidur dan istirahat sehubungan dengan sering terbangun sekunder
terhadap kerusakan eliminasi: retensi, disuria, frekuensi, nokturia.
HQ Tujuan: Kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi.
HR Kriteria hasil:
Klien mampu istirahat / tidur dengan waktu yang cukup.
Klien mengungkapkan sudah bisa tidur.
Klien mampu menjelaskan faktor penghambat tidur.
HS Rencana tindakan:
1. Jelaskan pada klien dan keluarga
penyebab gangguan tidur / istirahat
dan kemungkinan cara untuk
menghindarinya.
HT 2. Ciptakan suasana yang mendukung dengan mengurangi
kebisingan.
HU3. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan penyebab
gangguan tidur.
4. Batasi masukan cairan waktu malam hari dan berkemihsebelum tidur.
HV 5. Batasi masukan minuman yang mengandung kafein.
HW Rasional :
1. Meningkatkan pengetahuan klien sehingga klien mau
kooperatif terhadap tindakan keperawatan.
2. Suasana yang tenang akan mendukung istirahat klien.
HX 3. Menentukan rencana untuk mengatasi gangguan.
4. Mengurangi frekuensi berkemih malam hari.
5. Kafein dapat merangsang untuk sering berkemih.
HY
2. Sesudah operasi
a. Nyeri sehubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada
Sachse
HZ Tujuan: Nyeri berkurang atau hilang.
IA Kriteria hasil :
Klien mengatakan nyeri berkurang / hilang.
Ekspresi wajah klien tenang.
Klien akan menunjukkan ketrampilan relaksasi.
Klien akan tidur / istirahat dengan tepat.
Tanda tanda vital dalam batas normal.
Keluarnya urine melalui sekitar kateter sedikit.
IB Rencana tindakan :
1. Jelaskan pada klien tentang gejala dini spasmus
kandung kemih.
2. Pemantauan klien pada interval yang teratur selama 48
jam, untuk mengenal gejala gejala dini dari spasmus
kandung kemih.
3. Jelaskan pada klien bahwa intensitas dan frekuensi akan
berkurang dalam 24 sampai 48 jam.
4. Beri penyuluhan pada klien agar tidak berkemih ke
seputar kateter.
5. Anjurkan pada klien untuk tidak duduk dalam waktu yang
lama sesudah tindakan TUR-P.
6. Ajarkan penggunaan teknik relaksasi, termasuk latihan
nafas dalam, visualisasi.
7. Jagalah selang drainase urine tetap aman dipaha untuk
mencegah peningkatan tekanan pada kandung kemih.
Irigasi kateter jika terlihat bekuan pada selang.
8. Observasi tanda tanda vital
9. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat obatan (
analgesik atau anti spasmodik )
IC lRasional :
1. Kien dapat mendeteksi gajala dini
spasmus kandung kemih.
2. Menentukan terdapatnya spasmus
sehingga obat obatan bisa
diberikan.
3. Meberitahu klien bahwa
ketidaknyamanan hanya temporer.
4. Mengurang kemungkinan spasmus.
ID 5. Mengurangi tekanan pada luka insisi
6. Menurunkan tegangan otot, memfokuskan kembali perhatian dan dapat
meningkatkan kemampuan koping.
7. Sumbatan pada selang kateter oleh bekuan darah dapat menyebabkan
distensi kandung kemih dengan peningkatan spasme.
8. Mengetahui perkembangan lebih lanjut.
9. Menghilangkan nyeri dan mencegah spasmus kandung kemih.
IE
b. Perubahan pola eliminasi urine sehubungan
dengan obstruksi sekunder dari Sachse: bekuan
darah, edema.
IF Tujuan: Eliminasi urine normal dan tidak terjadi retensi urine.
IG Kriteria hasil:
Klien akan berkemih dalam jumlah normal tanpa retensi.
Klien akan menunjukan perilaku yang meningkatkan kontrol
kandung kemih.
Tidak terdapat bekuan darah sehingga urine lancar lewat kateter.
IH Rencana tindakan:
II 1. Kaji output urine dan karakteristiknya
3. Pertahankan irigasi kandung kemih yang konstan selama 24 jam pertama
4. Pertahankan posisi dower kateter dan irigasi kateter.
5. Anjurkan intake cairan 2500-3000 ml sesuai toleransi.
6. Setalah kateter diangkat, pantau waktu, jumlah urine dan ukuran aliran.
Perhatikan keluhan rasa penuh kandung kemih, ketidakmampuan berkemih,
urgensi atau gejala gejala retensi.
IJ Rasional:
1. Mencegah retensi pada saat dini.
2. Mencegah bekuan darah karena
dapat menghambat aliran urine.
3. Mencegah bekuan darah
menyumbat aliran urine.
4. Melancarkan aliran urine.
5. Mendeteksi dini gangguan miksi.
IK
c. Potensial infeksi sehubungan dengan prosedur
invasif: alat selama pembedahan, kateter,
IL Tujuan: Klien tidak menunjukkan tanda tanda infeksi .
IM Kriteria hasil:
Klien tidak mengalami infeksi.
Dapat mencapai waktu penyembuhan.
Tanda tanda vital dalam batas normal dan tidak ada tanda
tanda shock.
IN Rencana tindakan:
1. Pertahankan sistem kateter steril,
berikan perawatan kateter dengan
steril.
2. Anjurkan intake cairan yang cukup
( 2500 3000 ) sehingga dapat
menurunkan potensial infeksi.
3. Pertahankan posisi urobag dibawah.
4. Observasi tanda tanda vital,
laporkan tanda tanda shock dan
demam.
5. Observasi urine: warna, jumlah, bau.
6. Kolaborasi dengan dokter untuk
memberi obat antibiotik.
IO Rasional:
1. Mencegah pemasukan bakteri dan infeksi .
IP 2. Meningkatkan output urine sehingga resiko terjadi ISK dikurangi
dan mempertahankan fungsi ginjal.
IQ 3. Menghindari refleks balik urine yang dapat memasukkan bakteri
ke kandung kemih.
4. Mencegah sebelum terjadi shock.
IR 5. Mengidentifikasi adanya infeksi.
6. Untuk mencegah infeksi dan membantu proses penyembuhan
IS .
IT d. Potensial untuk menderita cidera: perdarahan sehubungan dengan
tindakan pembedahan .
IU Tujuan: Tidak terjadi perdarahan.
IV Kriteria hasil:
Klien tidak menunjukkan tanda tanda perdarahan .
Tanda tanda vital dalam batas normal .
Urine lancar lewat kateter .
IW Rencana tindakan:
1. Jelaskan pada klien tentang sebab
terjadi perdarahan setelah
pembedahan dan tanda tanda
perdarahan .
IX 2. Irigasi aliran kateter jika terdeteksi gumpalan dalm saluran
kateter .
IY 3. Sediakan diet makanan tinggi serat dan memberi obat untuk
memudahkan defekasi .
IZ 4. Mencegah pemakaian termometer rektal, pemeriksaan rektal
atau huknah, untuk sekurang kurangnya satu minggu .
JA 5. Pantau traksi kateter: catat waktu traksi di pasang dan kapan
traksi dilepas .
JB 6. Observasi:
JC - Tanda tanda vital tiap 4 jam
JD - Masukan dan haluaran
JE - Warna urine
JF Rasional :
1. Menurunkan kecemasan klien dan mengetahui tanda tanda
perdarahan .
2. Gumpalan dapat menyumbat kateter, menyebabkan peregangan
dan perdarahan kandung kemih
3. Dengan peningkatan tekanan pada fosa prostatik yang akan
mengendapkan perdarahan .
4. Dapat menimbulkan perdarahan prostat .
5. Traksi kateter menyebabkan pengembangan balon ke sisi fosa
prostatik, menurunkan perdarahan. Umumnya dilepas 3 6 jam
setelah pembedahan .
6. Deteksi awal terhadap komplikasi, dengan intervensi yang tepat
mencegah kerusakan jaringan yang permanen .
JG
JH e. Potensial disfungsi seksual sehubungan dengan ketakutan
akan impoten akibat dari Sachse
JI Tujuan: Fungsi seksual dapat dipertahankan
JJ Kriteria hasil:
Klien tampak rileks dan melaporkan kecemasan menurun .
Klien menyatakan pemahaman situasi individual .
Klien menunjukkan keterampilan pemecahan masalah .
Klien mengerti tentang pengaruh sachse pada seksual.
JK Rencana tindakan :
JL 1 . Beri kesempatan pada klien untuk memperbincangkan tentang
pengaruh TUR P terhadap seksual .
JM 2 . Jelaskan tentang :
JN a . Kemungkinan kembali ketingkat tinggi seperti semula .
JO b . Kejadian ejakulasi retrograd (air kemih seperti susu)
JP 3 . Mencegah hubungan seksual 3-4 minggu setelah operasi .
JQ 4 . Dorong klien untuk menanyakan kedokter salama di rawat di
rumah sakit dan kunjungan lanjutan .
JR Rasional :
JS 1 . Untuk mengetahui masalah klien .
JT 2 . Kurang pengetahuan dapat membangkitkan cemas dan
berdampak disfungsi seksual.
JU 3 . Bisa terjadi perdarahan dan ketidaknyamanan
JV 4 . Untuk mengklarifikasi kekhatiran dan memberikan akses
kepada penjelasan yang spesifik.
JW
JX f . Kurang pengetahuan: tentang TUR-P sehubungan dengan kurang
informasi
JY Tujuan: Klien dapat menguraikan pantangan kegiatan serta
kebutuhan berobat lanjutan .
JZ Kriteria hasil:
Klien akan melakukan perubahan perilaku.
Klien berpartisipasi dalam program pengobatan.
Klien akan mengatakan pemahaman pada pantangan kegiatan dan
kebutuhan berobat lanjutan .
KA
KB Rencana tindakan:
KC1. Beri penjelasan untuk mencegah aktifitas berat selama 3-4
minggu .
KD2. Beri penjelasan untuk mencegah mengedan waktu BAB selama
4-6 minggu; dan memakai pelumas tinja untuk laksatif sesuai
kebutuhan.
KE 3. Pemasukan cairan sekurangkurangnya 2500-3000 ml/hari.
KF 4. Anjurkan untuk berobat lanjutan pada dokter.
KG 5. Kosongkan kandung kemih apabila kandung kemih sudah
penuh .
KHRasional:
KI 1. Dapat menimbulkan perdarahan .
KJ 2. Mengedan bisa menimbulkan perdarahan, pelunak tinja bisa
mengurangi kebutuhan mengedan pada waktu BAB .
KK3. Mengurangi potensial infeksi dan gumpalan darah .
KL 4. Untuk menjamin tidak ada komplikasi .
KM 5. Untuk membantu proses penyembuhan .
KN
KO g . Gangguan tidur sehubungan dengan nyeri
KP Tujuan: Kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi.
KQ Kriteria hasil:
Klien mampu beristirahat / tidur dalam waktu yang cukup.
Klien mengungkapan sudah bisa tidur .
Klien mampu menjelaskan faktor penghambat tidur .
KRRencana tindakan:
1. Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab gangguan
tidur dan kemungkinan cara untuk menghindari.
2. Ciptakan suasana yang mendukung, suasana tenang
dengan mengurangi kebisingan .
3. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan penyebab
gangguan tidur.
4. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat yang
dapat mengurangi nyeri ( analgesik ).
KS Rasional:
1. meningkatkan pengetahuan klien
sehingga mau kooperatif dalam
tindakan perawatan
2. Suasana tenang akan mendukung
istirahat .
3. Menentukan rencana mengatasi
gangguan .
4. Mengurangi nyeri sehingga klien
bisa istirahat dengan cukup .
KT

KU
KV
KW
KX
KY
KZ
LA
LB
LC
LD
LE
LF
LG
LH
LI
LJ
LK
LL Daftar Pustaka
LM
LN
1. Carpenito, Lynda Juall. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, edisi 6.
Jakarta: Penerbit buku kedokteran, EGC.
LO
2. Carpenito, Lynda Juall. 1998. Rencana Asuhan dan Dokumentasi
Keperawatan, Diagnosa Keperawatan dan Masalah Kolaboratif, edisi 2.
Jakarta: Penerbit buku kedokteran, EGC
LP
3. Doenges, Marilyn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3. Jakarta:
Penerbit buku kedokteran, EGC
LQ
4. Lab UPF Ilmu Bedah, 1994. Pedoman Diagnosis dan Terapi. RSUD Dr.
Soetomo, Surabaya.
LR
5. Long, Barbara C. 1996. Pendekatan Medikal Bedah 3, Suatu pendekatan
proses keperawatan. Bandung: Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan
Keperawatan Padjajaran.
LS
6. Sjamsuhidayat, R ( et al ). 1997. Buku Ajar Bedah. Jakarta: Penerbit buku
kedokteran, EGC.
LT
7. Purnawan Junadi, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi ke 2. Media Aeskulapius,
FKUI 1982.
LU
LV
LW
LX
LY
LZ
MA
MB
MC
MD
ME
MF
MG
MH
MI
MJ
MK