Anda di halaman 1dari 45

LAPORAN PRAKTIKUM NUTRISI TERNAK DASAR

Penetapan Kadar Air, Kadar Abu, Kadar Ekstrak Eter ( Lemak


Kasar ), Protein Kasar, Serat Kasar Dan Bahan Ekstrak Tanpa
Nitrogen ( BETN )

Disusun oleh :

Nama : Nurul Adiyan


NPM : E1C014112
Prodi : Peternakan
Kelas :C
Kelompok : 3 ( Tiga )
Tanggal Praktikum : 19 23 Oktober 2015
Dosen Pembimbing : 1. Dr. Ir. Yosi Fenita, MP
2. Dr. Ir. Irma Badarina, MP
3. Prof. Dr. Ir. Urip Santoso, M.Sc
Nama Co-ass : 1. Muhammad Inggit Fauzi
2. Gilang Ramadhan
3. Pinda Rahayu Ginting
4. Nursaadah Istiqamah

JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2015
ABSTRAK
Percobaan praktikum ini dilakukan untuk menentukan kadar pakan ternak, sampel
yang digunakan pada praktikum ini yaitu sample jagung yang sudah dihaluskan. Berdasarkan
analisis proksimat yaitu analisis penetapan kadar air, kadar abu, kadar ekstrak eter (lemak
kasar), protein kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) kelihatannya belum bisa
diterapkan dilapangan dan kurang praktis, hal ini di karenakan percobaan ini membutuhkan
waktu yang lumayan lama dan alatalat yang di gunakan belum lengkap seperti yang
seharusnya. Tujuan di lakukannya percobaan ini yaitu untuk mengetahui penetapan kadar air,
kadar abu, kadar ekstrak eter (lemak kasar), protein kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen
(BETN). Praktikum ini dilakukan di laboratorium Peternakan Universitas Bengkulu. Dalam
praktikum ini untuk penetapan kadar air dilakukan tiga kali pengulangan, hal ini dilakukan
untuk mendapatkan hasil yang mendekati dari standar yang digunakan. Hasil analisis yang
didapat yaitu pada penetapan kadar air percobaan 1 pada pengulangan 1 yaitu dengan KA (44)
13,026 % dan KA (33) 13,232 %, pengulangan 2 yaitu dengan KA (44) 13,026 % dan KA
(33) 13,306 % dan untuk pengulangan 3 yaitu dengan KA (44) 13,14131 % dan 13,2413 %.
Kadar abu pada percobaan 1 yaitu didapatkan hasil 1,6261 % dan pada pengulangan 2
didapatkan hasil 1,3101 %. Kadar lemak pada percobaan 1 yaitu 4,02 % dan pengulangan 2
didapatkan hasil 2,185 %. Kadar serat kasar pada percobaan 1 yaitu 3,69 % dan pengulangan
2 didapatakan hasil 4,135 % dan yang terakhir untuk nilai BETN diperoleh hasil yaitu
69,4259 %.
Kata kunci : Analisis Proksimat, jagung, penetapan kadar air, kadar abu, kadar ekstrak eter
(lemak kasar), protein kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN).
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dilakukannya percobaan praktikum nutrisi ternak dasar ini, dilatar belakangi dengan analisis
proksimat. Analisis proksimat ditunjukkan untuk mengetahui persentase nutrien dalam pakan
berdasarkan sifat kimianya, di antaranya kadar air, protein, lemak, serat, ekstrak bebas nitrogen dan
abu. Analisis proksimat banyak digunakan untuk menentukan kualitas pakan buatan karena
prosedurnya mudah dan relatif murah (Afrianto dan Liviawaty,2005), Kandungan nutrien pangan atau
pakan dapat diketahui dengan mengurai (menganalisis) komponen pangan dan pakan secara kimia.
Teknik analisis yang umum untuk mengetahui kadar nutrien dalam pangan atau pakan adalah Analisis
Proksimat (Proximate analysis) atau metode Weende. Analisis Proksimat ditemukan sekitar 100 tahun
yang lalu di pusat eksperimen Weende (Weende Experiment Station) Jerman oleh dua ilmuwan
Henneberg dan Stohmann. Metode ini tidak menguraikan kandungan nutrien secara rinci namun
berupa nilai perkiraan sehingga disebut analisis proksimat (Hernawati, 2011). Zat yang diamati dalam
analisis proksimat antara lain kadar air, kadar abu, kadar serat kasar, kadar lemak kasar, kadar protein
dan BETN. BETN adalah hasil pengurangan bahan kering dengan komponen , abu, lemak, nitrogen
total, dan serat (Hernawati, 2000)

Didalam praktikum ini kami melakukan percobaan untuk penetapan kadar air, kadar abu,
kadar ekstrak eter (lemak kasar), protein kasar, serat kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN),
percobaan ini dilakukan agar mahasiswa dapat mengetahui cara cara untuk menentukan kadar air,
kadar abu, kadar lemak kasar, kadar serat kasar, dan kadar protein serta cara menghitung hasil dari
data percobaan yang didapatkan dan juga untuk mengetahui kandungan pada sampel yang digunakan.
Pada percobaan ini, sampel yang kami gunakan khusus pada kelompok tiga yaitu sampel jagung yang
sudah dihaluskan. Jagung merupakan kebutuhan yang cukup penting bagi kehidupan manusia dan
hewan. Jagung mempunyai kandungan gizi dan serat kasar yang cukup memadai sebagai makanan
pokok.

Bahan pakan yang umum diberikan pada ternak dan diketahui kandungan protein
kasarnya yang berkualitas adalah bungkil jagung. Namun bungkil jagung memiliki nilai
biologis yang kurang bagi ternak ruminansia.Hal ini disebabkan karena sebagian besar protein
kasar bungkil jagung terurai dalam rumen dan kurang dapat dimanfaatkan bagi ternak.Agar
protein kasar bungkil jagung yang tersusun dari susunan asam amino yang berkualitas dan
cukup lengkap tidak mengalami perombakan dalam rumen dan dapat bermanfaat bagi
kepentingan ternak maka perlu mendapat perlindungan (Mathius et al,2001). Tepung jagung
dimanfaatkan sebagai bahan pakan karena sumber energi yaitu 3370 Kkal/kg, protein berkisar
8-10%, namun rendah kandungan lysin dan tryptophan, tepung jagung digunakan sebagai
sumber energi utama dan sumber xantofil (Rasyaf,1990).

Berdasarkan komposisi kimia 100 gram biji jagung dengan berat kering mengandung
kadar air yaitu 12 14%, mengandung pati yaitu 60 65%, mengandung protein kasar yaitu
8,3 8,5%, mengandung lemak kasar yaitu 4,4 4,5%, mengandung kadar abu yaitu 1,5%
1,6% dan mengandung serat kasar yaitu 2,3 2,4%. Komposisi kimia diatas
menunjukkan bahwa kadar protein jagung secara umum kurang dari 9% baik jagung pakan
maupun jagung pangan. Jagung yang berkembang di Indonesia saat ini memiliki kelemahan
dari segi nutrisi. Perbaikan kandungan protein pada jagung sangatlah penting untuk
daerah-daerah yang mengkonsumsi jagung sebagai makanan pokok dan bahan untuk
ternak, (Balai Penelitian Pangan Sukarami, 2001).

Biji jagung berbentuk bulat dan tumbuh melekat di tongkol jagung. Susunan biji
jagung pada tongkol jagung berbentuk spiral. Jumlah biji jagung dalam satu tongkol
berkisar antara 300-1000 biji jagung. Bagian rambut dari tongkol jagung merupakan tangkai
putik yang muncul melalui sela-sela deret biji dan tumbuh menjulur keluar dari
kelebot. Rambut memiliki cabang-cabang yang halus yang berfungsi untuk menangkap
tepung sari pada saat pembuahan , (Freddy. K. S, 2012).

Karakterisasi biji jagung merupakan jenis serealia dengan ukuran biji terbesar dengan
berat rata-rata 250-300 mg. Biji jagung memiliki bentuk tipis dan bulat melebar yang
merupakan hasil pembentukan dari pertumbuhan biji jagung. Biji jagung diklasifikasika
sebagai kariopsi, hal ini disebabkan biji jagung memiliki struktur embrio yang sempurna serta
nutrisi yang dibutuhkan oleh calon individu baru untuk pertumbuhan dan perkembangan
menjadi tanaman jagung, (Fenny. A, 2008).

Sifat Morfologi dan Anatomi biji jagung tersusun dari 4 bagian terbesar yaitu:
perikarp (5%), endosperm (82%), lembaga (12%) dan tip cap (1%). Endosperm merupakan
bagian biji jagung yang mengandung pati. Endosperm jagung terdiri atas endosperm
keras (horny endosperm) dan endosperm lunak (floury endoperm). Endosperm keras
terdiri-dari sel-sel yang lebih kecil dan rapat demikian pula halnya dengan susunan
granula pati didalamnya sedangkan endoperm lunak mengandung pati yang lebih banyak
dengan susunan tidak serapat pada bagian endosperm keras, (Freddy. K. S, 2012).

Selain jagung kuning, masih ada 2 warna lagi, pada jagung (Zea mays), yaitu jagung putih
dan jagung merah. Diantara ketiga warna itu, jagung merah dan jagung putih jarang terlihat di
Indonesia. Jagung kuning merupakan bahan baku ternah dan ikan yang populer digunakan di
Indonesia dan di beberapa negara. Jagung kuning digunakan sebagai bahan baku penghasil
energi, tetapi bukan sebagai bahan sumber protein, karena kadar protein yang rendah (8,9%),
bahkan defisien terhadap asam amino penting, terutama lysin dan triptofan.
Kandungan nutrisi jagung :

Bahan kering : 75 90 %
Serat kasar : 2,0 %
Protein kasar : 8,9 %
Lemak kasar : 3,5 %
Energi gross : 3918 Kkal/kg
Niacin : 26,3 mg/kg
TDN : 82 %
Calcium : 0,02 %
Fosfor : 3000 IU/kg
Asam Pantotenat : 3,9 mg/kg
Riboflavin : 1,3 mg/kg
Tiamin : 3,6 mg/kg (Adi,2012).

Jagung merupakan tanaman semusim dengan siklus hidup 80-150 hari. Pada umumnya
tinggi tanaman jagung mencapai 1-3m bahkan ada yang mencapai 6m. jagung meerupakan
energi utama bagi ternak karena kandungan pati jagung lebih dari 60-80% dan mudah dicerna
karena kandungan serat kasar relatif rendah. Pati jagung berbentuk amilosa amilopektin.
Jagung mengandung xantofil yang berguna untuk meningkatkan kepekatan warna kuning
pada kaki ayam dan kuning telur. Kandungan lemak jagung lebih tinggi 3% disbanding
sorgum, gandum, gaplek dan beras. Protein pada jagung hanya 8,5%.Berikut adalah besarnya
persentase jagung dalam ransum : Jagung 55% (Intannursiam,2009).

Penetapan kadar air bahan pangan dapat dilakukan dengan beberapa cara tergantung
dari sifat bahannya. Pada umumnya penentuan kadar air dilakukan dengan mengeringkan
sejumlah sampel dalam oven pada suhu 105-110 C selama 3 jam atau hingga didapat berat
yang 6 konstan. Selisih berat sebelum dan sesudah pengeringan adalah banyaknya air
yang diuapkan. Penentuan kadar air untuk berbagai bahan berbeda-beda metodenya
tergantung pada sifat bahan. Misalnya:

1. Untuk bahan yang tidak tahan panas, berkadar gula tinggi, berminyak dan lain-lain
penentuan kadar air dapat dilakukan dengan menggunakan oven vakum dengan suhu
rendah.
2. Untuk bahan yang mempunyai kadar air tinggi dan mengandung senyawa volatil (mudah
menguap) penentuan kadar air dilakukan dengan cara destilasi dengan pelarut tertentu
yang berat jenisnya lebih rendah daripada berat jenis air. Untuk bahan cair yang
berkadar gula tinggi, penentuan kadar air dapat dilakukan dengan menggunakan
reflaktometer,dsb (Winarno, 1997).

Kadar air dalam suatu bahan seperti kacang hijau, kacang tanah, kacang merah, dan susu
termasuk juga tepung-tepungan. Metode yang digunakan adalah oven pengering.
Pengeringan adalah suatu metode untuk mengeluarkan atau menghilangakan sebagian air
dari suatu bahan dengan cara menguapkan air tersebut dengan menggunakan energi
panas. Biasanya kandungan air bahan tersebut dikurangi sampai suatu batas agar
mikroba tidak dapat tumbuh lagi didalamnya. Prinsip dari metode oven pengering
adalah bahwa air yang terkandung dalam suatu bahan akan menguap bila bahan
tersebut dipanaskan 7 pada suhu 105oC selama waktu tertentu. Perbedaan antara berat
sebelum dan sesudah dipanaskan adalah kadar air (Astuti. 2010: 9).

Kadar abu merupakan bagian serat mineral dari bahan yang didasarkan atas berat
keringnya. Abu adalah zat organic yang tidak menguap, sisa dari proses pembakaran atau
hasil oksidasi. Penentuan kadar abu ada hubungannya dengan mineral suatu bahan
(Amrullah.I.K.2002).

Kandungan abu ditentukan dengan cara mengabukan atau membakar bahan pakan dalam
tanur, pada suhu 6000 C sampai semua karbon hilang dari sampel, dengan suhu tinggi ini
bahan organik yang ada dalam bahan pakan akan terbakar dan sisanya merupakan abu yang
dianggap mewakili bagian inorganik makanan. Abu juga mengandung bahan organik seperti
sulfur dan fosfor dari protein, dan beberapa bahan yang Mudah terbang seperti natrium,
klorida, kalium, fosfor dan sulfur akan hilang selama pembakara. Kandungan abu dengan
demikian tidaklah sepenuhnya mewakili bahan inorganik pada makanan baik secara kualitatif
maupun secara kuantitatif (Anggorodi, 2005).

Kandungan lemak suatu bahan pakan dapat ditentukan dengan metode soxhlet, yaitu proses
ekstraksi suatu bahan dalam tabung soxhlet (Utomo dan Soejono, 1999). Kadar lemak dalam
analisis proksimat ditentukan dengan jalan mengekstraksi bahan pakan dengan pelarut dietil
eter atau bisa juga dengan n-hexan. Penetapan kandungan lemak dilakukan dengan larutan n-
hexan sebagai pelarut (Tillman et al., 1998). Kandungan yang ada pada lemak kasar
merupakan bukanlah lemak murni melainkan campuran dari beberapa zat yang terdiri dari
klorofil, xantofil dan karoten (Yunus, 2008).

Langkah pertama metode pengukuran kandungan serat kasar adalah menghilangkan semua
bahan yang terlarut dalam asam dengan pendidihan dengan asam sulfat bahan yang larut
dalam alkali dihilangkan dengan pendidihan dalam larutan sodium alkali. Residu yang tidak
larut adalah serat kasar (Soelistyono, 1976). Fraksi serat kasar mengandung selulosa, lignin,
dan hemiselulosa tergantung pada species dan fase pertumbuhan bahan tanaman (Anggorodi,
1994). Serat kasar adalah semua zat organik yang tidak larut dalam H 2SO4 0,3 N dan dalam
NaOH 1,5 N yang berturur-turut dimasak selama 30 menit (Legowo, 2004).

1.2 Tujuan Praktikum


Untuk mengetahui kandungan kadar air pada Jagung
Untuk mengetahui kandungan kadar abu pada Jagung
Untuk mengetahui kandungan kadar ekstrak eter (lemak kasar) pada Jagung
Untuk mengetahui kandungan kadar serat kasar pada Jagung

BAB II

METODE PRAKTIKUM
Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Peternakan dan dilaksanakan pada waktu 08 : 00
16 : 00 Wib.

2.1 Penetapan Kadar Abu


Alat yang digunakan :
Cawan
Oven
Timbangan analitik listrik
Desikator
Tang penjepit
Spatula
Cara Kerja :
1. Mengeringkan cawan di dalam oven pengering pada suhu 105oC selama 1 jam.
2. Kemudian mendinginkan di dalam desikator selama 1 jam.
3. Sesudah dingin, menimbang dalam keadaan tertutup (X gram).
4. Menimbang contoh bahan (sampel) sebanyak 2 gram dalam cawan (Y gram) dan
mengeringkan dalam oven pengering pada suhu 105oC selama 8 jam.
5. Kemudian mendinginkan ke dalam desikator selama 1 jam. Setelah dingin, menimbang
sampel (Z gram).
6. Setelah menimbang, memasukkan sampel ke dalam oven pada suhu 105 oC selama 1 jam
dan mendinginkan kembali dalam desikator selama 1 jam. Kemudian menimbang
kembali sampel (Z gram). Mengulangi cara kerja 6 sampai 2 kali.

2.2 Penetapan Kadar Abu


Alat yang digunakan :
Silica disk
Tanur
Timbangan analitik listrik
Desikator
Tang penjepit
Spatula
Cara Kerja :
1. Mengeringkan silica disk di dalam oven pada suhu 105oC selama 1 jam.
2. Mendinginkan di dalam desikator selama 1 jam. Selanjutnya menimbang (X gram).
3. Menimbang ke dalam silica disk contoh bahan (sampel) sebanyak 1,5 2 gram (Y
gram) dan memasukkan ke dalam tanur. Menyalakan tanur sampai 550oC selama 1 jam.
4. Mendinginkan tanur, sehingga suhunya turun menjadi 105oC, lalu memasukkan ke
dalam desikator selama 1 jam.
5. Sesudah dingin,menimbang (Z gram).

2.3 Penetapan Kadar Ekstrak Eter (Lemak Kasar)


Alat yang digunakan :
Soklet sistim HT 2 Ekxtraction Unit Teactor dan selonsongnya
Labu penampung
Alat pendingin
Penangas atau waterbath
Timbangan analitik
Spatula
Gelas arloji
Kertas saring bebas lemak
Oven
Reagenetia :
N- Heksana/Petroleun Benzene Pa atau dapat juga digunakan pelarut lemak yang lain
seperti alcohol, petroleum ether, ethyl ether dan lain sebagainya.
Cara Kerja :
1. Menimbang kertas saring bebas lemak (a gram). Kemudian menambahkan sampel yang
akan dianalisa sebanyak 2 gram (b gram) dan kemudian membungkus sampel tersebut
dengan baik sehingga tidak ada ceceran sampel (sepertimembungkus obat puyer).
2. Oven bungkusan sampel tersebut dengan temperatur 105oC, selama 6 jam.
3. Setelah melakukan meng-oven-an, kemudian menimbang (dalam keadaan panas)
dengan cepat (c gram), kemudian memasukkan sampel ke dalam soklet.
4. Memasang labu penampung, alat ekstraksi dan alat pendingin dan meletakkannya diatas
penangas air. Kemudian memasukkan petroleum benzen (pelarut lemak) melalui lubang
pendingin sampai petroleum benzen seluruhnya turun dan masuk kedalam labu
penampung. Kemudian mengisinya lagi sampai setengah bagian dari alat ekstraksi.
5. Mengalirkan air pada labu pendingin, baru kemudian diikuti dengan memanasan labu
penampung (penangas atau waterbath).
6. Mengekstraksi sampel selama 16 jam (sampai petroleum benzen yang ada di dalam alat
ekstraksi menjadi jernih atau tidak berwarna).
7. Setelah ekstraksi dihentikan, mengeluarkan sampel dan meletakkannya diatas gelas
arloji, kemudian anginkan sampai kering.
8. Mengoven bungkusan sampel tersebut dengan temperatur 105oC selama 6 jam.
9. Setelah pengovenan dilakukan, kemudian menimbang (dalam keadaan panas) dengan
cepat (d gram).

2.4 Penetapan Kadar Serat Kasar


Alat yang digunakan :
Beaker glass 600 ml
Saring dari linen
Serat gelas (glass wool)
Alat penyaring Buchner atau Gooch crucible
Desikator
Tanur
Pompa vacum
Tang penjepit
Timbangan analitik listrik
Gelas ukur 100 ml
Corong gelas diameter 10 cm
Bahan yang digunakan :
H2SO4 1.25%
NaOH 1,25%
Aquadest
Aceton
Etyl Alkohl 95
Cara Kerja :
1. Menimbang sebanyak 2 gram, lalu memasukkannya ke dalam beaker glass 600 ml dan
menambahkan 200 ml H2SO4 1,25% dan meletakkannya pada pemanas, kemudian
didihkan selama 30 menit.
2. Kemudian menyaring sampel tadi dengan menggunakan saringan linnen atau serat
gelas, dengan bantuan pompa vacum. Memasukkan hasil saringan kedalam beaker
glass dengan mencuci saringan linen.
3. Mencuci beaker glass, Memasukkan hasil saringan beserta serat kasar (kalau digunakan)
kedalam beaker glass dan Menambahkan larutan NaOH 1,25% dan mendidihkan larutan
tersebut selama 30 menit.
4. Kemudian melakukan penyaringan dengan menggunakan Gooch crucible yang sudah
dilapisi glasswool. Selanjutnya, mencuci Gooch crucible dengan beberapa ml air panas
dan kemudian dengan 15 ml etyl alkohol 95%.
5. Hasil saringan termasuk serat gelas dalam Gooch crucible dianginkan sampai kering
kemudian memasukkan sampel ke dalam alat pengering dengan suhu 105oC selama satu
malam. Setelah itu, Mendinginkan sampel dengan jalan dimasukkan dalam desikator
selama 1 jam, setelah dingin menimbang sampel (Y gram).
6. Kemudian Mengabukan sampel didalam tanur dengan suhu 600oC selama 2 jam atau
sampel berwarna putih (bebas karbon).
7. Mengeluarkan dan membiarkan sampel beberapa menit sampai suhunya turun menjadi
120oC, kemudian mendinginkan sampel dengan cara memasukkan sampel kedalam
desikator selama 1 jam, Menimbang sampel setelah dingin (Z gram).

2.5 Penetapan Kadar Protein Kasar


Alat yang digunakan :
Labu kejdahl 650 ml
Labu Erlenmeyer 300 ml
Buret
Pipet volume 25 ml/50 ml
Labung Erlenmeyer 650 ml
Gelas ukur 100 ml
Corong
Alat destruksi dan destilasi
Reagentia
H2SO4
Kjel tab
50%
HCL 0,1 N
H3BO4 0,1 N
Indicator mix
Cara Kerja :
A. Destruksi
1. Menimbang contoh bahan (1gram untuk konsentrat, 2 gram untuk hijauan),memasukkan
ke dalan labu Kejdhal yang telas bersih dan mengeringkan.
2. Menambahkan dalam alat destruksi dengan urutan sebagai berikut :
a. Menghidupkan kipas angina.
b. Menghidupkan pemanas, mulai dengan api kecil kemudian membesarkan sedikit
demi sedikit (pada skala 4).
c. Setelah larutan berwarna hitam (rata), memutar labu sampai larutan menjadi jernih.
d. Menghentikan destruksi setelah warna jernih diperoleh selama 30 menit. Mematikan
pemanas,setelah asap habis baru menghentikan kipas.
B. Destilasi
1. Mengencerkan dengan air sampai volumenya + 300 ml, digojok agar larutan
homogen.

2. Menyiapkan Erlenmeyer 650 ml yang telah berisi 50 ml H3BO4 0,1 N ditambah 100 ml
air dan 3 tetes indicator mix.

3. Memasang penampung dan labu kejdahl dalam alat destilasi.

4. Mengalirkan pendingin (panas pendingin maksimum 800 F).

5. Menaambah kedalam labu kejdahl Zn logam dan 75 ml NaOH 32%. Penambahan


NaOH harus melalui dinding labu.

6. Menyalakan pemanas mulai dengan api kecil, maksimum pada skala 4.

7. Destilasi berakhir setelah volume penampung 300 ml.

8. Penampung digeser/diturunkan, ujung alat penyuling dicuci sedemikian rupa


sehinggga air pencuci masuk ke dalam labu penampung.

9. Menganti penampung denagan erlemeyer 250 ml yang berisi 250 ml air, dipasang
seperti semula.

10. Mematikan berturut-turut pemanas dan pendingin.

11. Mentitrasi hasil distrilasi dengan HCL 0,1 N, sampai timbul warna kuning.
12. Membuat blanko dan mngerjakan seperti cara di atas.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Hasil Pengamatan

Kelompok 1 (Bungkil Kelapa)


1. Penetapan Kadar Air

Nama Sampel (Ulangan) Bungkil Kelapa (I) Bungkil Kelapa (II) Bungkil Kelapa
(III)

Kode Sampel 18 50 18 50 18 50

Berat cawan timbangan 16,3923 21,3877 16,3923 21,3877 16,3923 21,3877


kosong kering (Xg)

Berat cawan timbangan + 18,3933 23,3874 18,3933 23,3874 18,3933 23,3874


sampel (Yg)

Berat cawan timbangan + 18,0586 23,0526 18,0595 23,0523 18,0577 23,0523


sampel kering (Zg)

Kadar air (%) 16,7266 16,6592 16,6817 16,4875 16,7666 16,7575


% % % % % %

Perhitungan :
(Y Z)
Kadar Air 100
(Y X)

Perlakuan I Perlakuan I

Kode Sampel 18 Kode Sampel 50


18,393318,0586
100 23,3874 23,0526
Kadar air = 18,393316,3923 100
Kadar air = 23,3874 21,3877

0,3347 0,3348
100 100
Kadar air = Kadar air = 2,0097
2,001

Kadar air = 16,7266 % Kadar air = 16,6592 %

Perlakuan II Perlakuan II
Kode Sampel 18 Kode Sampel 50
18,393318,0595
100 Kadar air =
Kadar air = 18,393316,3923

23,3874 23,0577
0,3338 100
100 23,3874 21,3877
Kadar air = 2,001

0,3297
Kadar air = 16,6817% 100
Kadar air = 1,9997

Kadar air = 16,4875%

Perlakuan III Perlakuan III


Kode Sampel 18 Kode Sampel 50
Kadar air =
Kadar air =
18,3933 18,0577
100 23,3874 23,0523
18,3933 16,3923 100
23,3874 21,3877

0,3356
100 0,3351
Kadar air = 2,001 100
Kadar air = 1,9997

Kadar air = 16,7666%


Kadar air = 16,7575%

2. Penetapan Kadar Abu

Nama sampel (kode) 24 31

Pengamatan/ ulangan I

Berat cawan kosong kering (Xg) 16,1141 21,069

Berat cawan + sampel (Yg) 18,1126 23,0626

Berat cawan + sampel abu (Zg) 16,2359 21,1865

Kadar Abu (%) 6,0946 % 5,8639 %

Perhitungan :

(ZX )
Kadar Abu (%) 100
(Y X)

Kode Sampel 24 Kode Sampel 31


Kadar abu =
Kadar abu =
16,2359 16,1141
100 21,1865 21,069
18,1126 16,1141 100
23,0626 21,069

0,1218
100
Kadar abu = 1,9985
0,1175
100
Kadar abu = 6,0946% Kadar abu = 1,9936

Kadar abu = 5,8939 %

3. Penetapan Kadar Ekstrak Eter (Lemak Kasar)

Nama sampel (kode) Bungkil Kelapa Bungkil Kelapa


(K.1:1) (K.1:2)

Pengamatan/ulangan I II

Berat kertas saring (a gram) 0,0425 0,0742

Berat kertas saring + sampel (b gram) 2,0423 2,0742

Berat kertas sampel + sampel oven (c gram) 2,2542 2,2826

Berat kertas saring + sampel (d gram) 2,1542 2,1801

Kadar Lemak (EE) (%) 5,0005% 5,125%

Perhitungan :

(cd)
Kadar Lemak Kasar EE (ba) 100

Kode Sampel K.1:1 Kode Sampel K.1:2


Kadar lemak EE =
Kadar lemak EE=
2, 25422,1542
100 2, 28262,1801
2, 04230, 0425 100
2, 07420,0742

0,1
100 0,1025
Kadar lemak EE = 1,9998 100
Kadar lemak EE = 2

Kadar lemak EE = 5,0005%


Kadar lemak EE = 5,125%

4. Penetapan Kadar Serat Kasar


Nama sampel (kode) Bungkil Kelapa Bungkil Kelapa

Pengamatan/ulangan I

Berat sampel (Xg) 2 2

Berat penyaring + residu kering (Yg) 30,2776 26,0498

Berat penyaring + abu (Zg) 30,0842 25,8553

Kadar serat kasar (SK) (%) 9,67% 9,725%

Perhitungan :

Y Z
100
Kadar Serat Kasar (SK) X

Kode Sampel Kode Sampel


30,277630,0842 26,049825,8553
100 100
SK = 2 SK = 2

0,1934 0,1945
100 100
SK = 2 SK = 2

SK = 9,67% SK = 9,725%

Penetapan Bahan Ekstra Tanpa Nitrogen (BETN)

Kadar BETN = 100% - (% Air + % Abu + % Pk + % Sk + EE)

Kadar Air = 13,181%

Kadar Abu = 1,4781%

Kadar Lemak = 3,1025%

Kadar Serat Kasar = 3,9129%

Kadar BETN = 100% - (13,181% + 1,4781% + 3,1025% + 3,9129%) = 69,4259 %

Kelompok 2 (Onggok)
1. Penetapan Kadar Air

Nama Sampel (Ulangan) Onggok (I) Onggok (II) Onggok (III)

Kode Sampel 6 12 6 12 6 12

Berat cawan timbangan kosong 19,1314 18,3686 19,1314 18,3686 19,1314 18,3686
kering (Xg)

Berat cawan timbangan + 21,1341 20,3678 21,1341 20,3678 21,1341 20,3678


sampel (Yg)

Berat cawan timbangan + 20,8828 20,1185 20,8828 20,1185 20,8866 20,1208


sampel kering (Zg)

Kadar air (%) 25,077% 12,47% 25,077% 12,47% 12,358% 12,355%

Perhitungan :

(Y Z)
Kadar Air (Y X) 100

Perlakuan I Perlakuan I

Kode Sampel 6 Kode Sampel 12


Kadar air =
Kadar air =
21,134120,8828
100 20,367820,1185
21,134119,1314 100
20,367818,3686

0,2513
100 0,2493
Kadar air = 1,0021 100
Kadar air = 1,9992

Kadar air = 25,077 %


Kadar air = 12,47 %

Perlakuan II Perlakuan II
Kode Sampel 6 Kode Sampel 12

Kadar air =
21,134120,8828 20,367820,1185
100 100
Kadar air = 21,134119,1314 20,367818,3686

0,2513 0,2493
100 100
Kadar air = 1,0021 Kadar air = 1,999

Kadar air = 25,077 %


Kadar air = 12,47 %

Perlakuan III Perlakuan III


Kode Sampel 6 Kode Sampel 12
Kadar air =
Kadar air =
21,134120,8866
100 23,720023,4657
21,134119,1314 100
23,720021,7200

0,2475
100 0,247
Kadar air = 2,0027 100
Kadar air = 1,999

Kadar air = 12,358 %


Kadar air = 12,355 %

1. Penetapan Kadar Abu

Nama sampel (kode) 2 5

Pengamatan/ ulangan I

Berat cawan kosong kering (Xg) 19,8780 19,4528

Berat cawan + sampel (Yg) 21,8753 21,4599

Berat cawan + sampel abu (Zg) 20,0303 19,6102

Kadar Abu (%) 7,625 % 2,862%

Perhitungan :

(ZX )
Kadar Abu (%) 100
(Y X)
Kode Sampel 2 Kode Sampel 5
Kadar abu =
Kadar abu=
2 o ,0303 19,8780
100 19,610219,4528
21,875319,8780 100
21,459919,4528

0,1523
100 0,1578
Kadar abu = 1,9973 100
Kadar abu = 2,0071

Kadar abu = 7,625 %


Kadar abu = 7,862 %

1. Penetapan Kadar Ekstrak Eter (Lemak Kasar)

Nama sampel (kode) Onggol (2:1) Onggol (2:2)

Pengamatan/ulangan I

Berat kertas saring (a gram) 0,7056 0,6944

Berat kertas saring + sampel (b gram) 2,7099 2,6975

Berat kertas sampel + sampel oven (c gram) 2,3774 2,3921

Berat kertas saring + sampel (d gram) 2,3704 2,3902

Kadar Lemak (EE) (%) 0,349 % 0,095 %

Perhitungan :

(cd)
Kadar Lemak Kasar EE (ba) 100

Kode Sampel K.2:1 Sampel K.2:2


Kadar lemak EE =
2,39212,3902
100
Kadar lemak EE= 2,69750,694
2,37742,3704
100
2,70990,7056
0,0019
100
Kadar lemak EE = 2,0031
0,007
100
Kadar lemak EE = 2,0043

Kadar lemak EE = 0,095 %


Kadar lemak EE = 0,349 %

2. Penetapan Kadar Serat Kasar

Nama sampel (kode) 3 7

Pengamatan/ulangan I

Berat sampel (Xg) 2 2

Berat penyaring + residu kering (Yg) 28,5142 29,1386

Berat penyaring + abu (Zg) 28,1912 28,7872

Kadar serat kasar (SK) (%) 16,145 % 17,57%

Perhitungan :

Y Z
100
Kadar Serat Kasar (SK) X

Kode Sampel 3 Kode Sampel 7


28,514228,1912
100 29,138628,7872
SK = 2 100
SK = 2

0,3229
100 0,3514
SK = 2 100
SK = 2

SK = 16,145 %
SK = 17,57 %

Penetapan Bahan Ekstra Tanpa Nitrogen (BETN)

Kadar BETN = 100% - (% Air + % Abu + % Pk + % Sk + EE)

Kadar Air = 16,6345%

Kadar Abu = 7,7435%

Kadar Lemak = 0,222%

Kadar Serat Kasar = 16,8575%


Kadar BETN = 100% - (16,6345% + 7,7435% + 0,222% + 16,8575%)

= 61,4325 %

Kelompok 3 (Jagung)

1. Penetapan Kadar Air

Nama Sampel (Ulangan) Jagung (I) Jagung (II) Jagung (III)

Kode Sampek 44 33 44 33 44 33

Berat cawan timbangan 17,8135 19,4744 17,8135 19,4744 17,8135 19,4744


kosong kering (Xg)

Berat cawan timbangan + 19,8133 21,4732 19,8133 21,4732 19,8133 21,4732


sampel (Yg)

Berat cawan timbangan + 19,5528 21,2087 19,5528 21,2087 19,5528 21,2087


sampel kering (Zg)

Kadar air (%) 13,026% 13,232% 13,141% 13,306% 13,1413 13,2413


% %

Perhitungan :

(Y Z)
Kadar Air 100
(Y X)

Perlakuan I Perlakuan I

Kode Sampel 44 Kode Sampel 33


Kadar air =
Kadar air =
19,813319,5528
100 21,473221,2087
19,813317,8135 100
21,473219,4744

0,2605
100
Kadar air = 1,9998
0,2645
100
Kadar air = 13,026 % Kadar air = 1,9988

Kadar air = 13,232 %

Perlakuan II Perlakuan II
Kode Sampel 44 Kode Sampel 33
19,813319,5528
100 Kadar air =
Kadar air = 19,813317,8135

21,473221,2071
0,2620 100
100 21,473219,4744
Kadar air = 1,9998

0,2661
Kadar air = 13,141 % 100
Kadar air = 1,9998

Kadar air = 13,306 %

Perlakuan III Perlakuan III


Kode Sampel 44 Kode Sampel 33
Kadar air =
Kadar air =
19,813319,5505
100 21,473221,2087
19,813317,8135 100
21,4732194744

0,2628
100 0,2648
Kadar air = 1,9998 100
Kadar air = 1,9998

Kadar air = 13,1413 %


Kadar air = 13,2413 %

2. Penetapan Kadar Abu

Nama sampel (kode) Jagung Jagung


Pengamatan/ ulangan I

Berat cawan kosong kering (Xg) 17,6997 17,4997

Berat cawan + sampel (Yg) 19,6984 19,4995

Berat cawan + sampel abu (Zg) 17,7326 17,5259

Kadar Abu (%) 1,6461 % 1,3101 %

Perhitungan :

(ZX )
Kadar Abu (%) 100
(Y X)

Kode Sampel Kode Sampel


Kadar abu =
Kadar abu=
17,732617,4997
100 17,525917,4997
19,698417,4997 100
19,499519,4997

0,0329
100 0,0262
Kadar abu = 1,9987 100
Kadar abu = 1,9998

Kadar abu = 1,6461%


Kadar abu = 1,3101 %

3. Penetapan Kadar Ekstrak Eter (Lemak Kasar)

Nama sampel (kode) Jagung(K.3:1) Jagung(K.3:2)

Pengamatan/ulangan I

Berat kertas saring (a gram) 0,6840 06793

Berat kertas saring + sampel (b gram) 2,6840 2,6793

Berat kertas sampel + sampel oven (c gram) 2,3488 2,3364

Berat kertas saring + sampel (d gram) 2,2684 2,2927

Kadar Lemak (EE) (%) 4,02 % 2,185 %


Perhitungan :

(cd)
Kadar Lemak Kasar EE 100
(ba)

Kode Sampel K.3:1 Kode Sampel K.3:2


Kadar lemak EE =
2,33642,2927
100
Kadar lemak EE= 2,67930,6793
2,34882,2684
100
2,68400,6840
0,0437
100
Kadar lemak EE = 2
0,0804
100
Kadar lemak EE = 2

Kadar lemak EE = 2,185%


Kadar lemak EE = 4,02%

4. Penetapan Kadar Serat Kasar

Nama sampel (kode) Jagung Jagung

Pengamatan/ulangan I

Berat sampel (Xg) 2 2

Berat penyaring + residu kering (Yg) 27,8981 26,4071

Berat penyaring + abu (Zg) 27,8243 26,3244

Kadar serat kasar (SK) (%) 3,69% 4,135%

Perhitungan :

Y Z
100
Kadar Serat Kasar (SK) X

Kode Sampel Kode Sampel


27898127,8243
100 26,407126,
SK = 2 100
SK = 2

0,0738
100 0,0827
SK = 2 100
SK = 2
SK = 3,69% SK = 4,135%

Penetapan Bahan Ekstra Tanpa Nitrogen (BETN)

Kadar BETN = 100% - (% Air + % Abu + % Pk + % Sk + EE)

Kadar Air = 13,181%

Kadar Abu = 1,4781%

Kadar Lemak = 3,1025%

Kadar Serat Kasar = 3,9129%

Kadar BETN = 100% - (13,181% + 1,4781% + 3,1025% + 3,9129%)

= 69,4259 %

Kelompok 4 (Dedak)
1. Penetapan Kadar Air

Nama Sampel (Ulangan) Dedak (I) Dedak (II) Dedak (III)

Kode sampel 21 29 21 29 21 29

Berat cawan timbangan


18,5456 20,9970 18,5456 20,9970 18,5456 20,9970
kosong kering (Xg)

Berat cawan timbangan +


20,5456 22,9967 20,5456 22,9967 20,5456 22,9967
sampel (Yg)

Berat cawan timbangan +


20,3567 22,8054 20,3560 22,8021 20,3549 22,8020
sampel kering (Zg)

Kadar air (%) 9,445% 9,5664% 9,4800% 9,7314% 9,5350% 9,7364%


Perhitungan :

(Y Z)
Kadar Air 100
(Y X)

Perlakuan I Perlakuan I

Kode Sampel 21 Kode Sampel 29


20,545620,3567
100 Kadar air =
Kadar air = 20,545618,5456

22,996722,8054
0,1889 100
100 22,996720,9970
Kadar air = 2 = 9,4450

% 0,1913
100
Kadar air = 1,9997 = 9,5664

Perlakuan II Perlakuan II
Kode Sampel 21 Kode Sampel 29
20,545620,3560
100 Kadar air =
Kadar air = 20,545618,5456

22,996722,8021
0,1896 100
100 22,996720,9970
Kadar air = 2

0,1948
Kadar air = 9,4800% 100
Kadar air = 1,9997

Kadar air = 9,7314%

Perlakuan III Perlakuan II


Kode Sampel 21 Kode Sampel 29
20,545620,3549
100 22,996722,8020
Kadar air = 20,545618,5456 100
Kadar air = 22,996720,9970

0,1907
100 0,1947
Kadar air = 2 100
Kadar air = 1,9997

Kadar air = 9,5350%


Kadar air = 9,7364%
2. Penetapan Kadar Abu

Nama sampel (kode) Dedak (42) Dedak(22)

Pengamatan/ ulangan I

Berat cawan kosong kering (Xg) 20,6710 15,5286

Berat cawan + sampel (Yg) 22,6709 17,5284

Berat cawan + sampel abu (Zg) 20,9621 15,8234

Kadar Abu (%) 14,5622% 14,7414%

Perhitungan :

(ZX )
Kadar Abu (%) 100
(Y X)

Kode Sampel 42 Kode Sampel 22


Kadar abu =
Kadar abu=
20,962120,6110
100 15,823415,5286
22,670920,6710 100
17,528415,5286

0,2911
100 0,2948
Kadar abu = 1,999 100
Kadar abu = 1,9998

Kadar abu = 14,5622%


Kadar abu = 14,7414 %
3. Penetapan Kadar Ekstrak Eter (Lemak Kasar)

Nama sampel (kode) Dedak (K.4:1) Dedak(K.4:2)

Pengamatan/ulangan I

Berat kertas saring (a gram) 0,6812 0,7000

Berat kertas saring + sampel (b gram) 2,6824 2,7089

Berat kertas sampel + sampel oven (c gram) 2,4292 2,4584

Berat kertas saring + sampel (d gram) 2,3681 2,3916

Kadar Lemak (EE) (%) 3,0531% 2,6679 %

Perhitungan :

(cd)
Kadar Lemak Kasar EE (ba) 100

Kode Sampel K.4:1 Kode Sampel K.4:2


Kadar lemak EE =
Kadar lemak EE=
2,42922,3681
100 2,45842,3916
2,68240,6812 100
2,70890,7000

0,0611
100 0,0668
Kadar lemak EE = 2,0012 100
Kadar lemak EE = 2,0089

Kadar lemak EE = 3.0531%


Kadar lemak EE = 3,4297%

4. Penetapan Kadar Serat Kasar

Nama sampel (kode) Dedak (12) Dedak (23)

Pengamatan/ulangan I

Berat sampel (Xg) 2 2

Berat penyaring + residu kering (Yg) 24,0729 26,4892

Berat penyaring + abu (Zg) 23,3468 25,8296


Kadar serat kasar (SK) (%) 36,305 % 32,980%

Perhitungan :

Y Z
100
Kadar Serat Kasar (SK) X

Kode Sampel 12 Kode Sampel 23


24,072923,3468
100 26,489225,8296
SK = 2 100
SK = 2

0,7261
100 0,5948
SK = 2 100
SK = 2

SK = 36,305%
SK = 32,980%

Penetapan Bahan Ekstra Tanpa Nitrogen (BETN)

Kadar BETN = 100% - (% Air + % Abu + % Pk + % Sk + EE)

Kadar Air = 9,5824%

Kadar Abu = 14,7518%

Kadar Lemak = 3,2414%

Kadar Serat Kasar = 34,6425%

Kadar BETN = 100% - (9,5824% + 14,7518% + 3,2414% +34,6425 %)

= 47,7821 %

Kelompok 5 (Bungkil Kedelai)


1. Penetapan Kadar Air

Nama Sampel (Ulangan) (I) (II) (III)

Kode sampel 43 10 43 10 43 10
Berat cawan timbangan 21,6181 17,7936 21,6181 17,7936 21,6181 17,7936
kosong kering (Xg)

Berat cawan timbangan 23,6180 19,7935 23,6180 19,7935 23,6180 19,7935


+ sampel (Yg)

Berat cawan timbangan 23,3729 19,5464 23,3728 19,5469 23,3732 19,5466


+ sampel kering (Zg)

Kadar air (%) 12,2556 12,3556 12,2606 12,3306 12,2406 12,3456


% % % % % %

Perhitungan :

(Y Z)
Kadar Air 100
(Y X)

Perlakuan I Perlakuan I

Kode Sampel 43 Kode Sampel 10


Kadar air =
Kadar air =
23,618023,3729
100 19,793519,5464
23,618021,6181 100
19,793517,7936

0,2451
100 0,2471
Kadar air = 1,9999 100
Kadar air = 1,9999

Kadar air = 12,2556 %


Kadar air = 12,3556 %

Perlakuan II Perlakuan II
Kode Sampel 43 Kode Sampel 10
Kadar air =
Kadar air =
23,618023,3728
100 19,793519,5469
23,618021,6181 100
19,793517,7936

0,2452
100 0,2161
Kadar air = 1,9999 100
Kadar air = 1,999

Kadar air = 12,2606%


Kadar air = 12,3306%

Perlakuan III Perlakuan III


Kode Sampel 43 Kode Sampel 10
Kadar air =
Kadar air =
23,618023,3732
100 19,793519,5466
23,618021,6181 100
19,793517,7936

0,2448
100 0,2469
Kadar air = 1,9999 100
Kadar air = 1,9999

Kadar air = 12,2406%


Kadar air = 12,3456%

2. Penetapan Kadar Abu

Nama sampel (kode) 39 34

Pengamatan/ ulangan I

Berat cawan kosong kering (Xg) 21,8433 18,9879

Berat cawan + sampel (Yg) 23,8433 20,9872

Berat cawan + sampel abu (Zg) 21,8904 19,0447

Kadar Abu (%) 2,355 % 2,840 %

Perhitungan :
(ZX )
Kadar Abu (%) 100
(Y X)

Kode Sampel 39 Kode Sampel 34


22,367522.2500
100 19,044718,9879
Kadar abu = 24,250022,2500 100
Kadar abu= 20,987218,9879

0,1175
100 0,0568
Kadar abu = 2 100
Kadar abu = 1,999

Kadar abu = 2,355%


Kadar abu = 2,840 %

3. Penetapan Kadar Ekstrak Eter (Lemak Kasar)

Nama sampel (kode) K.5:1 K.5:2

Pengamatan/ulangan I

Berat kertas saring (a gram) 0,6899 0,6771

Berat kertas saring + sampel (b gram) 2,891 2,6764

Berat kertas sampel + sampel oven (c gram) 2,4009 2,4125

Berat kertas saring + sampel (d gram) 2,3230 2,3510

Kadar Lemak (EE) (%) 3,881 % 3,076 %

Perhitungan :

(cd)
Kadar Lemak Kasar EE 100
(ba)
Kode Sampel K.5:1 Kode Sampel K.5:2
Kadar lemak EE =
Kadar lemak EE=
2,40062,3230
100 2,41252,3510
2,68910,6899 100
2,67640,6771

0,0776
100 0,0615
Kadar lemak EE = 1,9992 100
Kadar lemak EE = 1,9999

Kadar lemak EE = 3,881%


Kadar lemak EE = 3,076%

4. Penetapan Kadar Serat Kasar

Nama sampel (kode) 22 13

Pengamatan/ulangan I

Berat sampel (Xg) 2 2

Berat penyaring + residu kering (Yg) 24,4081 25,8713

Berat penyaring + abu (Zg) 23,6431 25,0446

Kadar serat kasar (SK) (%) 58,25 % 41,335 %

Perhitungan :

Y Z
100
Kadar Serat Kasar (SK) X
Kode Sampel 22 Kode Sampel 13
24,408123,6431
100 25,871325,0446
SK = 2 100
SK = 2

0,765
100 0,8267
SK = 2 100
SK = 2

SK = 38,25%
SK = 41,335%

Penetapan Bahan Ekstra Tanpa Nitrogen (BETN)

Kadar BETN = 100% - (% Air + % Abu + % Pk + % Sk + EE)

Kadar Air = 12,2981%

Kadar Abu = 2,5975%

Protein Kasar = 28,36%

Kadar Lemak = 39,7925%

Kadar Serat Kasar = 3,4785%

Kadar BETN = 100% - (12,2981% + 2,5975% + 28,36% + 39,7925% + 3,4785%)

= 13,5234 %

Kelompok 6 (Pur)
1. Penetapan Kadar Air

Nama Sampel (Ulangan) 1 2 3

Kode sampel 23 30 23 30 23 30

Berat cawan timbangan 16,3902 17,1592 16,3902 17,1592 16,3902 17,1592


kosong kering (Xg)

Berat cawan timbangan 18,3902 19,1573 18.3902 19,1573 18,3902 19,1573


+ sampel (Yg)
Berat cawan timbangan 18,1560 18,9253 18,1581 18,9256 18,1577 18,9252
+ sampel kering (Zg)

Kadar air (%) 11,68 % 11,61 % 11,60 % 11,59 % 11,62 % 11,61 %

Perhitungan :

(Y Z)
Kadar Air 100
(Y X)

Perlakuan I Perlakuan I

Kode Sampel Kode Sampel


Kadar air =
Kadar air =
18,390218,1560
100 19,157318,9253
18,390216,3902 100
19,157317,1592

0,2336
100 0,232
Kadar air = 2 100
Kadar air = 1,9981

Kadar air = 11,68 %


Kadar air = 11,61 %

Perlakuan II Perlakuan II
Kode Sampel Kode Sampel
18,390218,1581
100 Kadar air =
Kadar air = 18,390216,3902

19,157318,9256
0,2321 100
100 19,157317,1592
Kadar air = 2

0,2317
Kadar air = 11,60 % 100
Kadar air = 1,9981

Kadar air = 11,59 %

Perlakuan III Perlakuan III


Kode Sampel Kode Sampel
Kadar air = Kadar air =

18,390218,1577 18,390218,1577
100 100
18,390216,3902 18,390216,3902

0,2325 0,2325
100 100
Kadar air = 2 Kadar air = 2

Kadar air = 11,62 %


Kadar air = 11,61 %

2. Penetapan Kadar Abu

Nama sampel (kode) 28 25

Pengamatan/ ulangan I

Berat cawan kosong kering (Xg) 16,6009 16,7931

Berat cawan + sampel (Yg) 18,6007 18,7930

Berat cawan + sampel abu (Zg) 16,7087 16,8992

Kadar Abu (%) 5,39 % 5,30 %

Perhitungan :

(ZX )
Kadar Abu (%) (Y X) 100

Kode Sampel Kode Sampel 13


Kadar abu =
Kadar abu=
16,708716,6009
100 16,899216,7931
18,600716,6009 100
18,793016,7931

0,1078
100 0,1061
Kadar abu = 1,9998 100
Kadar abu = 1,9999

Kadar abu = 5,39 %


Kadar abu = 5,30 %
3. Penetapan Kadar Ekstrak Eter (Lemak Kasar)

Nama sampel (kode) K.6:1 K.6:2

Pengamatan/ulangan I

Berat kertas saring (a gram) 0,7100 0,61215

Berat kertas saring + sampel (b gram) 2,7920 2,6531

Berat kertas sampel + sampel oven (c 2,4100 2,4383


gram)

Berat kertas saring + sampel (d gram 2,3028 2,3273

Kadar Lemak (EE) (%) 5,148 % 5,415 %

Perhitungan :

(cd)
Kadar Lemak Kasar EE (ba) 100

Kode Sampel K.6:1 Kode Sampel K.6:2


Kadar lemak EE =
Kadar lemak EE=
2,41002,3028
100 2,43832,3273
2,79200,7100 100
2,65310,61215

0,1072
100 0,111
Kadar lemak EE = 2,082 100
Kadar lemak EE = 2,0495

Kadar lemak EE = 5,148 %


Kadar lemak EE = 5,415 %

4. Penetapan Kadar Serat Kasar

Nama sampel (kode) 20 8

Pengamatan/ulangan I

Berat sampel (Xg) 2 2


Berat penyaring + residu kering (Yg) 29,5006 23,8304

Berat penyaring + abu (Zg) 29,4257 23,1912

Kadar serat kasar (SK) (%) 3,745 % 3,145 %

Perhitungan :

Y Z
100
Kadar Serat Kasar (SK) X

Kode Sampel Kode Sampel


29,500929,4257
100 23,830423,7675
SK = 2 100
SK = 2

0,0749
100 0,0629
SK = 2 100
SK = 2

SK = 3,745 %
SK = 3,145 %

1. Penetapan Bahan Ekstra Tanpa Nitrogen (BETN)

Nama Sampel

Pengamatan ke I

Kadar Air (%) 11,620342

Kadar Abu (%) 5,347902

Kadar Ekstrak Eter 5,2824252

Kadar Serat Kasar 3,445

Kadar Protein Kasar 17

Kadar Bahan Tanpa Nitrogen 57,304331

Kadar BETN = 100% - (% Air + % Abu + % Pk + % Sk + EE)

Kadar BETN = 100% - (11,620342 % + 5,347902 % + 17 % + 3,445 % + 5,2824252 %)


= 100% - 42,6956692 %
= 57,304331 %

3.2 Pembahasan

Analisis Proksimat merupakan suatu sistem analisis kuantitatif yang hasilnya


mendekati nilai sebenarnya dan dapat dijabarkan secara rasional. Pada praktikum ini, kami
melakukan percobaan tentang penetapan kadar air, penetapan kadar abu, penetapan kadar
ekstrak eter (lemak kasar), penetapan protein kasar, penetapan protein kasar, penetapan serat
kasar, dan penetapan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN). Pada percobaan ini, sampel yang
kami gunakan yaitu sampel jagung yang sudah dihaluskan. Untuk penetapan kadar air
dilakukan tiga kali percobaan, pada percobaan pertama, kedua dan ketiga digunakan sampel
sebanyak 2 gram. Pada percobaan pertama didapatkan hasil kadar air (44) yaitu 13,026 %
dan kadar air (33) 13,232 %. Percobaan kedua didapatkan hasil kadar air (44) yaitu 13,141 %
dan kadar air (33) 13,306 %. Dan pada percobaan ketiga didapatkan hasil kadar air (44)
yaitu13,14131 % dan kadar air (33) 13,2913 %. Dari hasil literatur yang di dapatkan, ternyata
kadar air pada tanaman jagung yaitu berkisar 12 gram (Intannursiam,2009). Hal ini
membuktikan bahwa hasil data yang kami gunakan tidak jauh berbeda dengan literatur yang
ada. Untuk data kelompok lain, mengenai data tentang penetapan kadar air didapatkan hasil
yaitu pada kelompok satu dengan percobaan pertama yaitu kadar air (18) 16,7266 % dan
kadar air (50) yaitu 16,6592 %. Untuk percobaan kedua didapatkan hasil kadar air (18)
16,61817 % dan kadar air (50) 16,4875 % dan untuk percobaan ketiga didapatkan hasil kadar
air (18) 16,7666 % dan kadar air (50) 16,7575 %. Pada kelompok dua, didapatkan hasil kadar
air (6) pada percobaan pertama yaitu 25,077 % dan kadar air (12) 12,47 %. Pada percobaan
kadar air yang kedua didapatkan hasil yaitu 25,077 % dan 12,47 %. Dan percobaan yang
ketiga didapatkan kadar air yaitu dengan kode (6) 12,358 % dan kode (12) 12,355 %. Pada
kelompok empat, untuk percobaan pertama kadar airnya dengan kode (21) didapatkan hasil
yaitu 9,4450 % dan kode (29) didapatkan hasil 9,5664 %, untuk percobaan kedua dengan
kode (21) 9,1800 % dan kode (29) 9,7314 %. Dan percobaan yang ketiga didapatkan hasil
kadar airnya yaitu 9,5350 % dan 9,7364 %. Untuk data kelompok lima didapatkan hasil kadar
air yaitu pada percobaan pertama didapatkan hasil kadar air 12,2556 % dan 12,3556 %. Pada
percobaan kedua didapatkan hasil kadar air yaitu 12,2606 % dan 12,3306 %, dan pada
percobaan ketiga didapatkan hasil yaitu 12,2406 % dan 12,3456 5. Dan untuk data kelompok
enam didapatkan hasil kadar air pada percobaan pertama yaitu 11,68 % dan 11,61 %. Untuk
percobaan kedua kadar airnya yaitu 11,60 % dan 11,59 %, dan pada percobaan ketiga
didapatkan kadar air yaitu 11,62 % dan 11,61 %. Dari data tersebut dapat terlihat bahwa kadar
air yang kami dapatkan tidak sama dengan kelompok lain, hal ini disebabkan karena sampel
yang digunakan pada setiap kelompok berbeda sehingga kadar airnnya pun tidak sama.

Kandungan abu ditentukan dengan cara mengabukan atau membakar dalam tanur,
sejumlah berat tertentu makanan pada suhu 550 oC sampai semua karbon hilang dari bahan
makanan tersebut. Sisanya adalah abu dan dianggap mewakili bagian inorganik makanan.
Akan tetapi, abu bisa mengandung bahan yang berasal dari bahan organik seperti sulfur dan
fosfor dari protein, dan beberapa bahan yang mudah terbang seperti natrium, klorida, kalium,
fosfor dan sulfur akan hilang selama pembakaran. Kandungan abu dengan demikian tidaklah
sepenuhnya mewakili bahan inorganik pada makanan baik secara kualitatif maupun secara
kuantitatif. Jagung biasa digunakan sebagai pakan ternak, baik itu dikonsumsi dalam bentuk
butiran atau pun yang sudah dihaluskan. Dari hasil percobaan yang telah kami dapatkan
mengenai kadar abu pada jagung, kami melakukan dua kali percobaan. Dimana pada
percobaan pertama didapatkan kadar abu yaitu 1,6461 % dan untuk percobaan yang kedua
didapatkan hasil yaitu 1,3101 %. Dari literatur yang ada ternyata jagung mengandung kadar
abu yaitu 1,5% - 1,6% (Balai Penelitian Pangan Sukarami,2001). Dari hasil tersebut ternyata
data yang kami dapatkan tidak jauh berbeda dengan literature tersebut. Data dari kelompok 1
kandungan kadar abu pada pengamatan satu (I) adalah 6,09457 % dan pada pengamatan yang
kedua kandungan kadar abunya adalah 5,8938 %. Data dari kelompok 2 kandungan kadar abu
pada pengamatan satu (I) adalah 7,625 % dan pada pengamatan yang kedua kandungan kadar
abunya adalah 7,862 %. Data dari kelompok 3 kandungan kadar abu pada pengamatan satu (I)
adalah 1,6461 % dan pada pengamatan yang kedua kandungan kadar abunya adalah 1,3101
%. Data dari kelompok 4 kandungan kadar abu pada pengamatan pertama (I) adalah 14,5622
% dan pada pengamatan kedua (II) kandungan kadar abunya adalah 14,7414 %. Data dari
kelompok 5 kandungan kadar abu pada pengamatan satu (I) adalah 2,355 % dan pada
pengamatan yang kedua kandungan kadar abunya adalah 2,840 %. Data dari kelompok 6
kandungan kadar abu pada pengamatan satu (I) adalah 5,3905 % dan pada pengamatan yang
kedua kandungan kadar abunya adalah 5,3052 %. Dari 6 data yang diperoleh terdapat
perbedaan yang sangat jelas, hal ini disebabkan dari 6 data tersebut memiliki kandungan abu
yang berbeda karena menggunakan sampel yang berbeda seperti pada penetapan kadar air di
atas.

Pada percobaan praktikum mengenai penetapan kadar lemak dengan menggunakan


sampel jagung didapatkan hasil yaitu pada pengamatan pertama didapatkan hasil 4,02 % dan
pada percobaan kedua didapatkan hasil 2,185 %. Dari literatur yang kami dapatkan yaitu
Berdasarkan komposisi kimia 100 gram biji jagung dengan berat kering mengandung kadar
air yaitu 12 - 14%, mengandung pati yaitu 60 - 65%, mengandung protein kasar yaitu 8,3 -
8,5%, mengandung lemak kasar yaitu 4,4 - 4,5%, mengandung kadar abu yaitu 1,5% - 1,6%
dan mengandung serat kasar yaitu 2,3 - 2,4%. Komposisi kimia diatas menunjukkan
bahwa kadar protein jagung secara umum kurang dari 9% baik jagung pakan maupun jagung
pangan. Jagung yang berkembang di Indonesia saat ini memiliki kelemahan dari segi nutrisi.
Perbaikan kandungan protein pada jagung sangatlah penting untuk daerah-daerah yang
mengkonsumsi jagung sebagai makanan pokok dan bahan untuk ternak, (Balai
Penelitian Pangan Sukarami, 2001). Data dari kelompok 1 pada pengamtan satu (I)
kandungan kadar lemak kasar nya adalah 5,0005 % dan untuk pengamtan dua (II) kadar
lemak kasarnya adalah 5,1250 %. Data dari kelompok 2 pada pengamtan satu (I) kandungan
kadar lemak kasar nya adalah 0,349 % dan untuk pengamtan dua (II) kadar lemak kasarnya
adalah 0,095 %. Data dari kelompok 4 pada pengamtan satu (I) kandungan kadar lemak kasar
nya adalah 3,0531 % dan untuk pengamtan dua (II) kadar lemak kasarnya adalah 3,4297 %.
Data dari kelompok 5 pada pengamtan satu (I) kandungan kadar lemak kasar nya adalah
3,881 % dan untuk pengamtan dua (II) kadar lemak kasarnya adalah 3,076 %. Data dari
kelompok 6 pada pengamtan satu (I) kandungan kadar lemak kasar nya adalah 5,1488 % dan
untuk pengamtan dua (II) kadar lemak kasarnya adalah 5,4159 %. Jika sampel kelompok 3
dibandingkan dengan sampel kelompok lain terlihat jelas perbedaannya karena masing
masing sampel memiliki kandungan kadar lemak serat yang berbeda. Karena setiap kelompok
mengamati sampel yang berbeda-bada.
Dari hasil praktikum yang telah kami lakukan didapatkan kadar serat kasar dari jagung
yang sudah dihaluskan. Pada sampel I yang berat sampelnya yaitu 2 gram dan pada sampel 2
yang berat sampelnya 2 gram juga. Kemudian dipanaskan dengan campuran H2SO4 1,25 %
selama 30 menit lalu disaring dengan alat buchner dan dipanaskan lagi dengan menambah
campuran NaOH 1,25% selama 30 menit. Hasil tersebut diangkat dan diangin-anginkan
selama 1 malam dan disimpan dalam desikator selama 1 jam lalu ditimbang dengan berat
penyaring dan residu kering. Sampel I dengan berat penyaring + residu kering 27,8981 gram.
Pada sampel II berat penyaring+residu kering 26,4071 gram. Lalu di abukan dengan
menggunakan tanur dengan suhu 550OC selama 1 jam hingga adanya perubahan warna
sehingga hasil timbangannya yaitu pada sampel 1 yaitu 27,8243 gram dan sampel II yaitu
26,3244 gram, lalu dihitung dengan rumus penentuan kadar serat kasar SK maka didapat
hasilnya pada sampel I yaitu 3,69 % dan sampel II yaitu 4,135 %. Hasil tersebut tidak jauh
berbeda maka hasil tersebut konstan mungkin hal ini dikarenakan jumlah sampel yang
digunakan pada masing-masing pengamatan sama yaitu 2 gram. Data yang diperoleh oleh
kelompok 1 untuk sampel I yaitu 9,67 %, sedangkan untuk sampel II di dapat 9,725 %. Data
kelompok 2 pada sampel I di dapat 16,145 % dan untuk sampel II di dapat 17,57 %. Data
untuk kelompok 4 sampel I di dapat 36,305 % dan sampel II yaitu 32,980 %. Data untuk
kelompok 5 sampel I 38,25 % dan untuk sampel II di peroleh 41,33 %. Data 6 kelompok
tersebut sangat jauh berbeda karena sampel yang di gunakan berbeda-beda, sehingga kadar
serat kasar yang di peroleh juga berbeda-beda.
Untuk hasil penetapan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) kami mendapatkan hasil
dari perhitungan sebelumnya, yaitu 69,4259 %. Hasil ini kami peroleh dengan menggunakan
rumus kadar BETN. Data kelompok 1 didapatkan hasil BETN yaitu 41,69 %, data kelompok
2 didapatkan hasil yaitu 61,43 %, data 47,78 %, data kelompok didapatkan hasil yaitu 13,52
% dan yang terakhir untuk kelompok 6 didapatkan hasil yaitu 57,30 %. Dari hasil kelompok
tersebut, terlihat jelas bahwa nilai BETN yang kami dapatkan berbeda dengan nilai kelompok
lain, hal ini disebabkan karena sampel yang digunakan pada setiap kelompok berbeda.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dari hasil praktikum yang telah kami kerjakan maka dapat di simpulkan yaitu :

1. Hasil kadar air yang kami dapatkan dari sampel jagung yang sudah dihalus untuk
percobaan 1 pada pengulangan 1 yaitu dengan KA (44) 13,026 % dan KA (33) 13,232 %,
pengulangan 2 yaitu dengan KA (44) 13,026 % dan KA (33) 13,306 % dan untuk
pengulangan 3 yaitu dengan KA (44) 13,14131 % dan 13,2413 %.
2. Hasil penetapan kadar abu dengan sampel jagung didapatkan hasil yaitu pada percobaan 1
didapatkan hasil 1,6261 % dan pada pengulangan 2 didapatkan hasil 1,3101 %.
3. Untuk hasil penetapan kadar lemak pada percobaan 1 yaitu 4,02 % dan pengulangan 2
didapatkan hasil 2,185 %.
4. Untuk hasil penetapan kadar serat kasar pada percobaan 1 yaitu 3,69 % dan pengulangan 2
didapatakan hasil 4,135 %.
5. sedangkan yang terakhir untuk nilai penetapan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN)
diperoleh hasil yaitu 69,4259 %.

4.2 Saran
Saran yang dapat saya sampaikan pada praktikum ini yaitu diharapkan pada para
praktikan agar dapat lebih teliti lagi dan lebih berhati hati dalam melakukan percobaan saat
praktikum ini, terutama pada bahan bahan kimia yang akan digunakan dan alat alat yang
akan dipakai. Dan juga diharapkan agar para praktikan lebih bersungguh sungguh saat
melakukan praktikum, agar para praktikan dapat memahami dan mengerti apa yang sedang
dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Adi.2012. Kandungan Nutrisi Jagung. Gramedia : Jakarta.

Afrianto Eddy dan Evi Liviawaty.2005. Pakan Ikan. Kanisius (Anggota IKAPI) :Yogyakarta.

Amrullah.I.K.2002.Seri Beternak Mandiri Nutrisi Ayam Broiler.Satu Gunung Budi : Bogor.

Anggorodi. R. 2005. Ilmu Makanan Ternak Umum. Jogjakarta: Gadjah Mada University
Press.

Astuti.2010. Penetapan Kadar Air. Gramedia : Jakarta.

Balai Penelitian Pangan Sukarami.2001. Laporan Tahunan 2000/2001. Badan Penelitian dan

Pengembangan Tanaman Pangan : Sukarami.

Fenny. A.2008. Kajian Formulasi dan Isotemik Sorpsi Air Bubur Jagung Instan.
Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian : Bogor.

Freddy. K. S, 2012. Literatur Biji Jagung. Jurusan Keteknikan Pertanian Universitas

Sumatera Utara : Medan.

Hernawati. 2000. Teknik Analisis Nutrisi Pakan, Kecernaan Pakan dan Evaluasi Energi pada
Ternak. Jurusan Pendidikan Biolog : FMIPA Universitas Pendidikan Indonesia.
Hernawati.2011. Biologi. 2011.Diakses tanggal 24 Oktober 2011, pukul 19.30 WIB.

Intannursiam,2009. Kandungan pada Jagung. Penebar Swadaya : Jakarta.

Legowo AM, Nurwantoro. 2004. Diktat Kuliah Analisis Pangan. Semarang: Fakultas
Peternakan Universitas Diponegoro.
Mathius et al.2001.Bungkil Jagung. Erlangga : Jakarta.
Rasyaf.1990.Nutrisi pada tanaman Jagung. Gramedia : Jakarta.

Soelistiyono,1976. Ilmu Makanan Ternak : Intitut Pertanian Bogor.


Tillman,A. D, H, Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar.
Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada Press.
Utomo, R dan Soedjono, M. 1999. Bahan Pakan dan Formulasi Ransum. Fakultas Peternakan
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada Press

Winarno, 1997. Kadar Air. Pustaka Utama : Jakarta.

Yunus. 2008. Nutrisi Ternak I. Rangkuman. Lab. Jurusan Nutrisi dan Makanan Tenak.
Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada
Press.

Anda mungkin juga menyukai