Anda di halaman 1dari 28

FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN SALEP ASAM SALISILAT

1. DASAR TEORI
1.1 DEFINISI SALEP
Menurut Farmakope Indonesia Edisi III: Salep adalah sediaan
setengah padat berupa massa lunak yang mudah dioleskan dan digunaka untuk
pemakaian luar. Menurut farmakope Indonesia edisi IV sediaan setengah padat
ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Menurut DOM
Salep adalah sediaan semi padat dermatologis yang menunjukkan aliran dilatan
yang penting. Menurut Scovilles salep terkenal pada daerah dermatologi dan
tebal, salep kental dimana pada dasarnya tidak melebur pada suhu tubuh, sehingga
membentuk dan menahan lapisan pelindung pada area dimana pasta digunakan.
Menurut Formularium Nasional salep adalah sedian berupa masa lembek, mudah
dioleskan, umumnya lembek dan mengandung obat, digunakan sebagai obat luar
untuk melindungi atau melemaskan kulit, tidak berbau tengik. Salep tidak boleh
berbau tengik. Kecuali dinyatakan lain kadar bahan obat dalam salep yang
mengandung obat keras atau narkotik adalah 10 % ( Anief, 2005).

1.2 KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN SALEP


Keuntungan Salep
Misalnya salep dengan dasar salep lanonin yaitu, walaupun masih
mempunyai sifat-sifat lengket yang kurang menyenangkan, tetapi mempunyai
sifat yang lebih mudah tercuci dengan air dibandingkan dasar salep berminyak.
Kerugian salep
1) Misalnya pada salep basis hidrokarbon, sifatnya yang berminyak dapat
meninggalkan noda pada pakaian serta sulit tercuci oleh air sehingga sulit
dibersihkan dari permukaan kulit. Hal ini menyebabkan penerimaan pasien
yang rendah terhadap basis hidrokarbon jika dibandingkan dengan basis yang
menggunakan emulsi seperti krim dan lotion.
2) Sedangkan pada basis lanonin, kekurangan dasar salep ini ialah kurang tepat
bila dipakai sebagai pendukung bahan-bahan antibiotik dan bahan-bahan lain
yang kurang stabil dengan adanya air.
1.3 FUNGSI SALEP
Fungsi salep adalah sebagai berikut. (Anief, 2005)
1) Sebagai bahan pembawa substansi obat untuk pengobatan kulit.
2) Sebagai bahan pelumas pada kulit.
3) Sebagai pelindung untuk kulit yaitu mencegah kontak permukaan kulit dengan
larutan berair dan rangsang kulit.

1.4 SIFAT SALEP YANG BAIK


Salep yang baik mempunyai sifat-sifat sebagai berikut. (Saifullah, 2008)
1) Stabil : baik selama distribusi, penyimpanan, maupun pemakaian. Stabilitas
terkait dengan kadaluarsa, baik secara fisik (bentuk, warna, bau, dll) maupun
secara kimia ( kadar/kandungan zat aktif yang tersisa ). Stabilitas dipengaruhi
oleh banyak factor, seperti suhu, kelembaban, cahaya, udara, dan lain
sebagainya.
2) Lunak : walaupun salep pada umumnya digunakan pada daerah/wilayah kulit
yang terbatas, namun salep harus cukup lunak sehingga mudah untuk
dioleskan.
3) Mudah digunakan: supaya mudah dipakai, salep harus memiliki konsistensi
yang tidak terlalu kental atau terlalu encer. Bila terlalu kental, salep akan sulit
dioleskan, bila terlalu encer maka salep akan mudah mengalir/meleleh ke
bagian lain dari kulit.
4) Protektif : salep salep tertentu yang diperuntukkan untuk protektif, maka
harus memiliki kemampuan melindungi kulit dari pengaruh luar misal dari
pengaruh debu, basa, asam, dan sinar matahari.
5) Memiliki basis yang sesuai : basis yang digunakan harus tidak menghambat
pelepasan obat dari basis, basis harus tidak mengiritasi, atau menyebabkan efek
samping lain yang tidak dikehendaki.
6) Homogen : kadar zat aktif dalam sediaan salep cukup kecil, sehingga
diperlukan upaya/usaha agar zat aktif tersebut dapat terdispersi/tercampur
merata dalam basis. Hal ini akan terkait dengan efek terapi yang akan terjadi
setelah salep diaplikasikan.

1.5 GOLONGAN SALEP


Dasar salep digolongkan kedalam 4 kelompok besar, yaitu sebagai berikut. (????)
1) Dasar Salep Hidrokarbon
Bersifat lemak (bebas air), preparat yang berair mungkin dapat
dicampurkan hanya dalam jumlah sedikit saja. Dasar Hidrokarbon dipakai
terutama untuk efek emolien.
2) Dasar Salep Absorpsi
Dapat menjadi dua tipe :
Memungkinkan percampuran larut berair
Yang sudah menjadi emulsi air minyak
3) Dasar Salep Yang Dapat Dibersihkan Dengan Air
Merupakan emulsi minyak dalam air yang dapat dicuci dari kulit dan
pakaian dengan air.
4) Dasar Salep Larut Air
Basis yang larut dalam air, biasanya disebut sebagai Grea Seless
karena tidak mengandung bahan berlemak.

1.6 CARA PEMBUATAN SALEP


Baik adalam ukuran besar maupun kecil, salep dibuat dengan dua
metode umum, yaitu sebagai berikut. (Ansel, 1989)
1) Pencampuran
Dalam metode pencampuran, komponen dari salep dicampur bersama-
sama dengan segala cara sampai sediaan yang rata tercapai. Pada sekala kecil
seperti resep yang dibuat tanpa persiapan, ahli farmasi dapat mencampur
komponen-komponen dari salep dalam lumpang dengan sebuah alu atau dapat
juga menggunakan sudip dan lempeng salep (gelas yang besar atau porselen)
untuk menggerus bahan bersama-sama. Beberapa lempeng salep dari gelas adalah
gelas penggiling, supaya dapat lebih hancur pada proses penggerusan.
2) Peleburan
Dengan metode peleburan, semua atau beberapa komponen dari salep
dicampurkan dengan melebur bersama dan didinginkan dengn pengadukan yang
konsten sampai mengental. Komponen-komponen yang tidak dicairkan biasanya
ditambahkan pada campuran yang telah mengental setelah didinginkan dan
diaduk. Tentu saja bahan-bahan yang mudah menguap ditambahkan terakhir bila
temperature dari campuran telah cukup rendah tidak meyebabkan penguraian atau
penguapan dari komponen. Banyak bahan-bahan ditambahkan pada campuran
yang membeku dalam bentuk larutan, yang lain penambahan sebagai serbuk yang
tidak larut, biasanya digerus dengan sebagian dasar salep. Dalam skala kecil
proses peleburan dapat dilakukan pada cawan porselen atau gelas beker; pada skla
besar umumnya dilaksanakan hetel uap berjaket; sesaat setelah membeku; salep
dimasukkan melalui gilingan salep (dalam pabrik skala besar) atau digosok-
gosokan dengan lumpang (pada pembuatan skala kecil) untuk memastikan
homogenitasnya.
3) Pengawetan Salep
Sering memerlukan penambahan pengawet kimia sebagai antimikroba
pada formulasi untuk mencegah prtumbuhan mikroorganisme yang
terkontaminasi. Pengawet-pengawet ini termasuk hidroksibenzoat, fenol-fenol,
asam benzoat, asam sorbet, garam ammonium kuartener, dan campuran lainnya.

2. TINJAUAN BAHAN
2.1 TINJAUAN BAHAN AKTIF
1) Asam Salisilat
a. Uraian Bahan
Rumus senyawa :

Rumus molekul : C7H6O3


Nama IUPAC : 2-Hydroxybenzoic acid
Titik lebur : 158,6C
Berat molekul : 138,121 g/mol
Kepadatan : 1,44 g/cm
Titik didih : 211C
Pemerian : Hablur ringan tidak berwarna atau serbuk berwarna putih;
hampir tidak berbau; rasa agak manis dan tajam (FI III,
1979)
Kelarutan : Larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol
(95%) P; mudah larut dalam kloroform P dan dalam eter P;
larut dalam larutan amonium asetat P, dinatrium
hidrofenfosfat P, kalium sitrat P dan natrium sitrat P (FI III,
1979).
PKa : 2,97
b. Efek Farmakologi
Asam salisilat merupakan kelompok senyawa obat yang telah
dipergunakan secara luas karena memiliki efek sebagai analgesik, antipiretik, dan
antiinflamasi. Turunan asam salisilat yang paling umum digunakan adalah asam
asetil salisilat (asetosal). Asetosal sering digunakan untuk mengurangi sakit
kepala, inflamasi, nyeri sendi, juga beberapa pengobatan serangan jantung dan
stroke pada orang tua (Fadeyi et al., 2004).
Asam salisilat dan turunannya termasuk dalam golongan obat
antiinflamasi non steroid (Non Steroidal Anti-inflammatory Drugs = NSAIDs).
Obat-obatan NSAIDs bekerja dengan cara menghambat enzim siklooksigenase
(COX) sehingga menyebabkan konversi asam arakidonat menjadi prostaglandin
terganggu. Selain COX, 5-lipoksigenase (5-LO) merupakan salah satu enzim
penting yang terlibat dalam proses metabolisme asam arakidonat. Derivat
hidrazon memiliki karakter farmakoforik untuk menghambat COX dan tipe
hidrazon merupakan dual inhibitor terhadap enzim COX dan 5-LO. Oleh karena
itu senyawa ini dipelajari sebagai agen analgesik dan antiinflamasi yang lebih
poten dibandingkan NSAIDs (Wilmana & Gan, 2007).
Mekanisme kerja asam salisilat mempunyai aktifitas antiseptik dan
germisida sehubungan dengan adanya gugus fenol. Daya ini diperkuat lagi oleh
adanya gugus karboksilnya. Interaksi pemberian bersama sediaan akne topikal
lainnya atau sediaan mengandung keratolitik lain (misalnya benzoilperoksid,
resorsinol, atau tretinoin) dapat menyebabkan iritasi kulit yang berlebihan. Pada
pemberian bersama senyawa merkuri topikal, sulfur dapat melepaskan H2S yang
berbau busuk, dapat mengiritasi dan memberi warna hitam pada kulit (PT. Kimia
Farma, 2000)

c. Efek Samping dan Toksisitas


Efek samping yang dapat terjadi meliputi iritasi kulit yang tidak
ada sebelum pemakaian obat. Tanda-tanda salisilisme: pusing kepala,
kebingungan mental, pernafasan cepat, tinitus, sakit kepala yang hebat atau terus
menerus. Data toksisitas pada manusia LDLo (kulit, pria) = 57 mg/kgBB; LDLo
(intermittent skin, wanita) = 111 mg/kgBB/ 10 hari. Dosis terapeutik moderat
salisilat menyebabkan kerusakan janin pada manusia, namun bayi yang lahir dari
ibu yang mengkonsumsi salisilat dalam jangka waktu lama mungkin memiliki
massa yang berkurang secara signifikan pada saat lahir. Selain itu, terjadi
peningkatan kematian prenatal, anemia, perdarahan antepartum dan postpartum.
Efek ini terjadi bila salisilat diberikan selama trimester ketiga, oleh karena itu
penggunaannya selama masa kehamilan harus dihindari (International Programme
on Chemical Safety Poisons Information Monograph 642 Pharmaceutical)
d. Efek Klinis
Efek Klinis meliputi Keracunan akut dan keracunan kronik.
Keracunan akut meliputi terhirup iritasi disertai batuk, bersin dan sesak napas.
Paparan berat dapat menyebabkan keracunan sistemik; gejala meliputi sakit
kepala, pusing, nadi cepat, dan tinnitus. Kontak dengan kulit Telah dilaporkan
terjadinya keracunan parah akibat penggunaan salep asam salisilat untuk
mengatasi masalah dermatologi dan untuk perawatan kulit luka bakar. Kontak
dengan mata Iritasi. Tertelan, gejala awal keracunan salisilat antara lain mual dan
muntah, nyeri epigastrium dan kadang-kadang hematemesis. Pada intoksikasi
ringan hingga sedang dapat menimbulkan gejala hiperventilasi, berkeringat,
demam, iritabilitas, tinnitus dan hilangnya pendengaran. Pada keracunan berat
kemungkinan terjadi hipoventilasi, pingsan, halusinasi, kejang, papiloedema dan
koma terutama pada anak-anak. Dapat pula terjadi metabolik asidosis, non-
kardiogenik paru edema, hepatotoksisitas dan disritmia jantung. (International
Programme on Chemical Safety Poisons Information Monograph 642
Pharmaceutical).
Sedangkan keracunan kronik meliputi terhirup, kontak dengan kulit
Penggunaan asam salisilat dan atau metil salisilat pada kulit dan penyakit rematik
dapat menyebabkan keracunan melalui penyerapan perkutan. Telah dilaporkan
kejadian keracunan salisilat yang mengancam jiwa akibat penyerapan perkutan
asam salisilat (salep 10%) pada anak laki-laki usia 7 tahun dengan vulgaris
ichthyosis. Penggunaan gel yang mengandung asam salisilat pada gigi dapat
menyebabkan keracunan (International Programme on Chemical Safety Poisons
Information Monograph 642 Pharmaceutical).

Alasan pemilihan :
- Asam salisilat dapat memberikan afek keratolitikum, antifungi, dan dapat
digunakan untuk pemakaian topical, hiperkeratolitikum, dan kulit bersisik.
- Untuk pengobatan antifungi hanya dikhususkan pada mikosis superficial,
seperti panu, kadas kurap, kutu air, jadi bahan aktif asam salisilat sangat
cocok karena punya efek keratolitikum (mengelupaskan keratin yang
menginfeksi jamur secara perlahan)
- Asam salisilat diabsorbsi cepat dari kulit sehat, terutama bila, dipakai
sebagai obat gosok atau krim,. Keracunan dapat terjadi dengan olesan pada
kulit yang luas.

2) Sulfur atau Belerang


a. Uraian Bahan

Simbol : 16S
Titik lebur : 115,2C
Massa atom : 32,065 u 0,005 u
Titik didih : 444,6C
Pemerian : Tidak berbau; tidak berasa (FI III, 1979)
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air; sangat mudah karut dalam
karbondisulfida P; sukar larut dalam minyak zaitun P,
sangat sukar larut dalam etanol (95%) P (FI III, 1979).

b. Efek Farmakologi
Sulfur diindikasikan untuk pengobatan topical acne vulgaris
(mengatasi masalah jerawat), ance rosarea, dermatitis seborrheic. Sulfur memiliki
khasiat bakterisid dan fungisid lemah berdasarkan dioksidasinya menjadi asam
pentathionat (H2S5O6) oleh kuman tertentu dikulit. Zat ini juga bersifat
keratolitis( melarutkan kulit tanduk), sehingga banyak digunakan bersama asam
salisilat dalam salep dan lotion (2-10%) untuk pengobatan jerawat dan kudis.
Sulfur precipitatum adalah yang paling aktif, karena serbuknya yang terhalus.
Dahulu zat ini digunakan sebagai laksans lemah berkat perombakan dalam usus
menjadi sulfide (natrium/kalium) yang merangsang peristaltic usus (Tjay dan
Rahardja, 2008).
Selain itu, sulfur juga biasa digunakan untuk terapi acne, dandruff atau
ketombe, scabies, seborroic condition atau kelebihan minyak pada kulit kepala,
dan infeksi jamur permukaan. Scabies merupakan infeksi parasit pada kulit yang
disebabkan oleh Sarcoptes scabiei (kompedia). Gejala utamanya adalah pruritus,
dimana disebabkan karena reaksi alergi pada parasit. Sulfur juga digunakan
sebagai mild irritant laxative dan obat homoeopathic medicine (Sweetman,2002).

e. Efek Samping
Pemakaian sulfur secara topikal dapat mengakibatkan iritasi dan
dilaporkan pula adanya dermatitis setelah pemakaian berulang-ulang. Kontak
dengan mata, mulut, dan membran mukosa lain sebaiknya dihindari. Kontak
dengan sulfur dapat merubah warna logam tertentu seperti misalnya perak, dan
pemakaian sulfur dengan komponen merkurial secara topikal dapat menghasilkan
turunan hidrogen sulfida yang berbau busuk dan dapat dapat menimbulkan noda
hitam pada kulit (Sweetman, 2002). Hidrogen peroksida dapat mengakibatkan
iritasi pada saluran pernafasan atas dan konjungtiva. Udime pada paru-paru,
dengan sesak nafas parah dan sianosis dapat meningkat dengan tiba-tiba sampai
36 jam setelah pemaparan. Kematian juga dilaporkan dapat terjadi (Martin, 2007).

2.2 TINJAUAN BAHAN TAMBAHAN


1) Parafin Cair (Liquid Paraffin)
(Handbook of Pharmaceutical Exipients. Hal 314-315)
a. Sinonim :Avatech, Citation; heavy liquid petrolatum; heavy mineral oil;
liquid petrolatum; paraffin oil; white mineral oil.
b. Nama Kimia : Mineral Oil
c. Paraffin Cair adalah campuran dari cairan jenuh hidrokarbon yang diperoleh
dari petroleum
d. Fungsi : Emolien, solvent, lubrikan tablet dan kapsul, agen terapetis.
e. Paraffin cair digunakan terutama sebagai eksipien pada sediaan farmasi
topical sebagai bahan pada basis salep. Secara terapetis, paraffin cair
digunakan padasediaan untuk matakarena efek lubrikannya.
f. Batas Penggunaan : 3-60%
g. Pemerian : Transparan, tidak berwarna, cairan kental, bebas dari flouresensi.
Praktis tidak berasa dan tidak berbau ketika didinginkan, dan mempunyai bau
yang lemah ketika dipanaskan.
h. Sifat-sifat Fisika :
Titik didih : >3600C
Densitas : 0.827-0.890g/cm3
Viskositas (Dinamik) : 110-230 mPa s (20C)
i. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam etanol 95%, gliserin dan air, larut
diaseton, benzene, kloroform, karbon disulfide, eter dan petroleum eter.
Kelarutan meningkat dengan peningkatan suhu; praktis tidak larut dalam air.
Misibel ketika meleleh dengan lemak, paraffin padat dan cair, dan isopropyl
miristat.
j. Indeks Refraksi : nD
79 =1.4756-1.4800 untuk bahan murni
k. Stabilitas dan Penyimpanan : Paraffin cair teroksidasi ketika terpapar panas
dan cahaya. Paraffin cair disterilisasi dengan panas kering. Paraffin cair
sebaiknya disimpan dalam wadah kedap udara, terlindung dari cahaya, pada
tempat yang sejuk dan kering.
l. Inkompabilitas : Inkompatibel dengan bahan pengoksidasi kuat.

2) Vaselin Kuning (Yellow soft paraffin)


(Handbook of Pharmaceutical Exipients. Hal 331)
a. Sinonim : Mineral jelly; petroleum jelly; snow white; soft white; vaselimun
favum; yellowpetrolatum;yellow petroleum jelly.
b. Nama Kimia : Heksadekan-i-ol
c. Rumus Empirik : CnH2n+2
d. Fungsi : emolien, basis salep
e. Batas Penggunaan : <100%
f. Pemerian : kuning atau kuning pucat, translusen, membentuk masa lunak
palsu, tidak berbau, tidak berwarna.
g. Sifat-sifat Fisika :
Densitas : 0.815-0.880 g/cm3
Titik leleh : 36-600C
h. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam etanol, aseton, etanol (95%) panas atau
kering, gliserin dan air: larut di benzene, karbon disulfide, kloroform, eter,
heksana dan banyak minyak lemak dan minyak atsiri.
i. Indeks Refraksi : Nd
j. 79 = 1.460-1.474
k. Stabilitas dan Penyimpanan : Vaselin kuning adalah bagian stabil dari
komponen hidrokarbon alam non-reaktif, banyak masalah stabilitas terjadi
karena adanya sejumlah kecil kontaminan. Vaselin dapat disterilisasi
menggunakan panas. Walaupun vaselin kuning dapat disterilisasi dengan
radiasi sinar gamma, proses ini berpengaruh kepada fisik vaselin kuning
seperti swelling, perubahan warna, baud an sifat rheologi.
l. Inkompabilitas : vaselin kuning adalah material inert dengan beberapa
inkompabilitas.

3. BENTUK SEDIAAN TERPILIH


Bentuk sediaan terpilih: salep
Alasan:

4. SPESIFIKASI PRODUK
4.1 PERSYARATAN UMUM SEDIAAN
1) Pemerian tidak boleh berbau tengik.
2) Kadar, kecuali dinyatakan lain dan untuk salep yang mengandung obat
keras atau narkotik, kadar bahan obat adalah 10 %.
3) Dasar salep, kecuali dinyatakan lain, sebagai bahan dasar salep (basis
salep) digunakan vaselin putih (vaselin album).
4) Homogenitas, Jika salep dioleskan pada sekeping kaca atau bahan
transparan lain yang cocok, harus menunjukkan susunan yang homogen.
5) Penandaan,pada etiket harus tertera obat luar

4.2 RENCANA SPESIFIKASI SEDIAAN


Bentuk sediaan Salep
Kadar bahan aktif 2 % (as.salisilat), 4%
(sulfur)
Ph sediaan 6-7
Viskositas Cukup
Warna Putih Kekuningan
Bau Tidak Tengik
5. RANCANGAN FORMULA
5.1 BAGAN ALUR FIKIR

5.2 KOMPONEN PENYUSUN FORMULA


FUNGSI MACAM BAHAN KARAKTERISTIK
BAHAN
Basis Hidrokarbon Basis diperoleh melalui pemurnian
(Soft Paraffin) hidrokarbon semisolid dari minyak
bumi. Jenis soft paraffin yaitu:
-berwarna kuning, digunakan untuk zat
aktif yang berwarna
-berwarna putih (melalui proses
pemutihan), digunakan untuk zat aktif
yang tidak berwarna, berwarna putih,
atau berwarna pucat. Proses pemutihan
menyebabkan sebagian pasien sensitif
terhadap soft paraffin yang berwarna
putih.
Hidrokarbon Merupakan campuran bahan-bahan
(Hard Paraffin) hidrokarbon solid yang diperoleh dari
minyak bumi.
Sifat fisik :
tidak berwarna s/d berwarna putih,
tidak berbau, memiliki tekstur
berminyak seperti wax, dan memiliki
struktur kristalin.
Hard paraffin biasanya digunakan
untuk memadatkan basis salep.
Hidrokarbon -merupakan campuran hidrokarbon cair
(Liquid Paraffin) dari minyak bumi. Umumnya
transparan dan tidak berbau.
-mudah mengalami oksidasi sehingga
dalam penyimpanannya ditambahkan
antioksidan seperti Butil hidroksi
toluene (BHT).
-digunakan untuk menghaluskan basis
salep
-stabil pada perubahan suhu,
kompatibel terhadap banyak zat aktif,
mudah digunakan, mudah disebar,
melekat pada kulit, tidak terasa
berminyak dan mudah dibersihkan.
Hidrokarbon Vaselin putih adalah campuran yang
(Vaselin Putih) dimurnikan dari hidrokarbon setengah
padat, diperoleh dari minyak bumi dan
keseluruhan atau hampir keseluruhan
dihilangkan warnanya. Dapat
mengandung stabilisator yang sesuai.
Hidrokarbon Vaselin kuning adalah campuran yang
(Vaselin Kuning) dimurnikan dari hidrokarbon setengah
padat yang diperoleh dari minyak bumi.
Dapat mengandung zat penstabil yang
sesuai.
Absorpsi/Serap Pemerian : Lanolin anhidrat berwarna
(Anhydrous Lanolin) kuning pucat, lengket, berupa bahan
seperti lemak, dengan bau yang khas
dan mencair pada suhu 38-44oC.
Lanolin anhidrat cair berwarna jernih
atau hampir jernih berupa cairan
berwarna kuning. Anhydrous lanolin
atau lanolin anhidrat merupakan lanolin
yang mengandung air tidak lebih dari
0.25%.
Kelarutan:
Lanolin anhidrat tidak larut dalam air
tapi dapat larut dalam air dengan
jumlah dua kali berat lanolin, sedikit
larut dalam etanol (95%) dingin, lebih
larut dalam etanol (95%) panas dan
sangat larut dalam eter, benzene, dan
kloroform.
Kestabilan dan Syarat Penyimpanan:
Lanolin dapat mengalami autooksidasi
selama dalam penyimpanan.
Dasar Salep yang Dasar Salep Emulsi M/A (vanishing
dapat dicuci dengan cream)
air/Emulsi Fase minyak (fase internal) terdiri dari
petrolatum bersamaan dengan satu
atau lebih alkohol BM tinggi, seperti
cetyl atau stearyl alcohol.
Fase air (fase eksternal) dari basis tipe
ini terdiri dari:
bahan pengawet : metilparaben,
propilparaben, benzil alkohol, dan asam
sorbat
humektan : gliserin, propilen glikol,
atau polietilen glikol.
emulsifier (biasanya menjadi bagian yg
paling banyak), bisa non-ionik,
kationik, anionik, atau amfoter. juga
terdiri dari komponen yg larut dalam
air, stabilizer, pengontrol pH, atau
bahan lain yang berhubungan dengan
sistem air
Dasar Salep Larut Kelompok ini disebut juga dasar salep
Dalam Air tak berlemak dan terdiri dari konstituen
larut air. Dasar salep ini lebih tepat
disebut gel. Dasar salep jenis ini
memberikan banyak keuntungan seperti
dasar salep yang dapat dicuci dengan
air dan tidak mengandung bahan tak
larut dalam air, seperti paraffin, lanolin
anhidrat atau malam.
Pengawet Metil paraben Pemerian: Kristal tidak berwarna atau
kristal putih, tidak berbau dan memiliki
sedikit rasa terbakar. (HOPE 6th ed. p.
442)
Kelarutan: Etanol 1 : 2, etanol (95%)
1 : 3, etanol (50%) 1 : 6, eter 1 : 10,
gliserin 1 : 60, minyak mineral praktis
tidak larut, minyak kacang 1 : 200,
propilenglikol 1 : 5, air 1 : 400 (1 : 5 di
5o C, 1 : 30 di 80o C)
Stabilitas: Larutan air dari Metil
Paraben pada pH 3-6 disterilisasi oleh
autoklaf pada suhu 120 C selama 20
menit, tanpa dekomposisi. Larutan air
pada pH 3-6 stabil (kurang dari 10%
dekomposisi) sampai sekitar 4 tahun
pada suhu kamar, sedangkan larutan air
pada pH 8 di atas dikenakan hidrolisis
cepat (10% atau lebih setelah
penyimpanan).
Inkompabilitas: Tidak kompatibel
dengan bahan lain seperti bentonit,
magnesium trisilikat, talk, tragakan,
natrium alginat, minyak esensial,
sorbitol dan atropin.
(HOPE 6th ed. p. 443)
Propil paraben Pemerian: Putih, kristal, tidak berbau
dan tidak berasa. (HOPE 6th ed. p. 596)
Kelarutan: Aseton bebas larut, etanol
(95%) 1 : 1,1, etanol (50%) 1 : 5,6, eter
bebas larut, gliserin 1 : 250, mineral
minyak 1 : 3330, minyak kacang 1 : 70,
propilenglikol 1 : 3,9, propilenglikol
(50%) 1 : 110, air 1 di 4350 di 15 o C,
1 : 2500, 1 : 225 di 80o C.
Stabilitas: Larutan Propil Paraben
berair pada pH 3-6 dapat disterilisasi
oleh autoklaf, tanpa dekomposisi. Pada
pH 3-6, larutan berair yang stabil
(kurang dari 10% dekomposisi) sampai
sekitar 4 tahun pada suhu kamar,
sementara larutan pada pH 8 atau di
atas mudah terhidrolisis cepat (10%
atau lebih setelah sekitar 60 hari di
suhu kamar).
Inkompabilitas: Aktivitas antimikroba
dari Propil Paraben berkurang jauh
dengan adanya surfaktan non ionik.
(HOPE 6th ed. p. 597)
Softner Liquid Paraffin (lihat di basis hidrokrbon)
Antioksidan Butylated Nama lain : butilate hydroxytoluen
Hydroxytoluene RM/BM : C15H24O / 220,35
(BHT) Pemerian : hablur padat, putih bau
khas
Kelarutan : tidak larut dalam air
dan dalam propilen glikol, mudah larut
dalam etanol, dalam kloroform, dan
dalam eter
Inkompabilitas : tidak bercampur
dengan kalium permanganat
Butylated Merupakan suatu bahan tambahan yang
Hydroxyanisole dalam produk lemak atau minyak
(BHA) fungsinya untuk mencega oksidasi oleh
oksigen, sehingga minyak tidak berbau
tengik. Bahan ini Larut dalam metanol,
propilen glikol, etanol.
Emollient Aquadest Pemerian: Cairan jernih, tidak
berwarna, tidak berbau, dan tidak
berasa
Kelarutan: Dapat bercampur dengan
pelarut polar lainnya.
Stabilitas: Air secara kimiawi stabil di
semua keadaan fisiknya (es, cair dan
uap)
Inkompabilitas: Dalam formulasi
farmasetika air dapat bereaksi dengan
obat-obatan dan eksipien lain yang
rentan terhadap hidrolisis
(terdekomposisi dengan adanya air atau
uap air) pada peningkatan suhu. Air
bereaksi secara kuat dengan logam
alkali dan bereaksi cepat dengan alkali
tanah dan oksidasinya seperti kalsium
oksida dan magnesium oksida.
(HOPE 6th edition p. 766)
Humectant Propilen glikol Pemerian: Bening, tidak berwarna,
kental-praktis encer, tidak berbau,
manis, mempunyai rasa yang agak
tajam mirip dengan Gliserin.
Kelarutan: Dapat tercampur dengan
aseton, kloroform, etanol 95%, gliserin
dan air. Kelarutan di 1 dari 6 bagian
eter, tidak tercampur dengan sedikit
minyak atau dengan minyak, tetapi
akan larut dengan beberapa minyak
yang diperlukan.
Stabilitas: Pada suhu dingin stabil di
tempat tertutup rapat, tetapi di suhu
panas terbuka, menjadi mudah
teroksidasi, menghasilkan produk baru
seperti propionaldehid, lactic acid,
pyrovic acid dan acetic acid.
Propilenglikol secara kimiawi stabil
bila dicampur dengan etanol 95%,
gliserin atau air, larutan air bisa
disterilisasi dengan autoklaf.
Inkompabilitas: Dengan reaksi oksidasi
seperti Kalium Permanganat.
(HOPE 6th ed. p. 592-594)
Pengompleks Na2EDTA Pemerian: Kristal putih, serbuk tidak
berwarna, rasa sedikit asam.
Kelarutan: Praktis tidak larut dalam
kloroform dan eter, sedikit larut dalam
etanol (95%), larut dalam air 1:11
bagian.
Stabilitas: Garam EDTA lebih stabil
dari asam edetic. Namun, dinatrium
EDTA dihidrat kehilangan air dari
kristalisasi ketika dipanaskan sampai
120o C. Larutan dinatrium EDTA dapat
disterilkan dengan autoklaf.
Inkompabilitas: Dinatrium EDTA
bersifat seperti asam lemah,
menggantikan karbon dioksida dari
karbonat dan bereaksi dengan logam
untuk membentuk hydrogen.
Kompatibel dengan oksidator kuat,
basa kuat, ion logam dan paduan
logam. (HOPE 6th ed. p. 243)

5.3 PEMILIHAN BAHAN KOMPONEN PENYUSUN UNTUK MENCAPAI


SPESIFIKASI
NO. NAMA BAHAN FUNGSI
1. Asam salisilat Bahan Aktif (Keratolitik)
2. Sulfur Bahan Aktif (Antiskabies)
3. Butylated Antioksidan
Hydroxytoluene (BHT)
4. Liquid Paraffin Basis Salep (emollient)
5. Vaselin Basis Salep
5.4 FORMULA
NO. NAMA BAHAN FUNGSI % RENTANG % YANG YANG
PEMAKAIAN DIBUAT DIAMBIL (g)
(2 TUBE @10 g)
1
1. Asam salisilat Bahan Aktif 1-2% 2% 0,440
(Keratolitik)
2. Sulfur Bahan Aktif 4-20% 1 4% 0,880
(Antiskabies)
3. Butylated Antioksidan 0.0075% 0,001551
2
0.00750.1%
Hydroxytoluene
(BHT)
4. Liquid Paraffin Basis Salep - - 2,068
5. Vaselin Basis Salep 4-25% - 18,612
NB: 1 Handoko, Rony P. 2010. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Keenam.
Jakarta: FKUI
2
Ebook Pharmaceutical Excipient

6. PERHITUNGAN DAN CARA PEMBUATAN


6.1 PERHITUNGAN
No Nama bahan Fungsi % Rentang % yang
pemakaian dibuat
1 Asam salisilat Bahan aktif 1-2% 2%
2 Belerang Bahan aktif 4-20% 4%
3 Vaseline Basis 4-25 % 0,846%
4 Paraffin cair Basis - 0,094%
5 BHT Antioksidan 0,0075-0,1 % 0, 0075 %

Perhitungan Skala Kecil


Dibuat salep asam salisilat belerang 10 gram.
1. Asam salisilat
2 % x 10 gram = 0,2 gram + 10% = 0,22 gram = 220 mg
2. Belerang
4% x 10 gram = 0,4 gram + 10% = 0,44 gram = 440 mg
3. Basis
{100% - (2% + 4%)} x 10 mg = 9,4 gram
9,4 gram + 10%
= 9,4 + 0, 94
= 10, 34 gram
a. Vaseline
9/10 x 10,34 gram = 9,306 gram
b. Paraffin cair
1/10 x 10,34 gram = 1,034 gram
4. BHT
0,0075% x 10,34 gram = 0,0007755 gram = 0,7755 mg

Perhitungan skala besar


1. Asam salisilat
220 mg x 2 = 440 mg
2. Belerang
440 mg x 2 = 880 mg
3. Basis
10, 34 gram x 2 = 20,68 gram
a. Vaseline
9,306 gram x 2 = 18,612 gram
b. Paraffin cair
1,034 gram x 2 = 2,068 gram
4. BHT
0,7755 mg x 2 = 1,551 mg

6.2 CARA PEMBUATAN


Metode triturasi
1) Asam salisilat ditimbang sebanyak 440 mg dan belerang sebanyak 880 mg
kemudian dilarutkan dengan etanol 95%
2) Dilarutkan dengan etanol 95% secukupnya (ad larut)
3) Vaseline, paraffin cair, dan BHT ditimbang berturut turut sebanyak 18,612
gram, 2,068 gram, dan 1,551 mg.
4) Pembuatan basis salep di cawan penguap, kemudian dipindahkan ke mortar
gerus dan ditimbang sebesar 20,68 gram.
5) Zat aktif yang telah ditimbang dimasukkan kedalam mortar, digerus sampai
halus sambil ditambahkan sedikit demi sedikit basis salep hingga homogen.
6) Salep yang sudah jadi ditimbang sebanyak 10 gram (dua kali) dan dimasukkan
kedalam tube secara aseptis.
7) Ujung tube ditutup dengan alat penekuk (gunting) lalu diberi etiket dan
dikemas didalam kotak disertai brosur.

7. CARA EVALUASI
1) Alat-alat yang digunakan untuk evaluasi sediaan salep antara lain :
a. Kaca objek e. Seperangkat alat penyulingan
b. Indikator universal f. Neraca analitik
c. Kertas grafik g. Stopwatch
d. Penetrometer h. Viscometer Ostwald
i. Alat tes beban l. Media agar
j. Kertas penyerap m. Jarum ose
k. Alat uji sentrifugasi
n.
2) Evaluasi umum sediaan salep:
A. Evaluasi Fisik
a) Kandungan air
o. Ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk menentukan
kandungan air dalam salep. Penentuan kehilangan akibat pengeringan.
Sebagai kandungan air digunakan ukuran kehilangan massa maksimum
(%) yang dihitung pada saat pengeringan disuhu tertentu (umumnya 100-
110oC).
p. Cara penyulingan. Prinsip metode ini terletak pada
penyulingan menggunakan bahan pelarut menguap yang tidak dapat
bercampur dengan air. Dalam hal ini digunakan trikloretan, toluen, atau
silen yang disuling sebagai campuran azeotrop dengan air.
q. Cara titrasi menurut Karl Fischer. Penentuannya
berdasarkan atas perubahan Belerang Oksida dan Iod serta air dengan
adanya piridin dan metanol menurut persamaan reaksi berikut:
r. I2 + SO2 + CH3OH + H2O -> 2 HI + CH3HSO4
s. Adanya pirin akan menangkap asam yang terbentuk dan
memungkinkan terjadinya reaksi secara kuantitatif.Untuk menghitung
kandungan air digunakan formula berikut :
t. % Air = f . 100 (a-b) P
u. f = harga aktif dari larutan standar (mg air/ml),
v. a = larutan standar yang dibutuhkan (ml),
w. b = larutan standar yang diperlukan dalam penelitian blanko
(ml),
x. P = penimbangan zat (mg)
y.
b) Homogenitas (FI IV, hal 33)
z. Tujuan: untuk mengetahui sediaan itu homogen apa tidak
aa. Prosedur:
a. Dioleskan salap mata pada kaca objek
b. Diamati ada tidaknya partikel kasar
ab. Jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok
harus menunjukkan susunan yang homogen.
ac.
c) Konsistensi, dengan penetrometer
ad. Tujuan: menguji apakah sediaan salep mudah dikeluarkan dari tube dan
mudah dioleskan.
ae. Konsistensi/rheologi dipengaruhi suhu. Sediaan non Newtonian
dipengaruhi oleh waktu istirahat, oleh karena itu harus dilakukan pada
keadaan identik.
af.
d) Bentuk, bau dan warna
ag. Tujuan: untuk melihat terjadinya perubahan fasa.
ah. Prosedur: Diamati bau dan warna secara organoleptis. Pengamatan
organoleptik meliputi bentuk, warna, bau dari sediaan salep (Anief, 1997).
ai. Sediaan yang stabil tidak berubah baik bentuk, warna dan
baunya. Perubahan warna umumnya terjadi pada sediaan parenteral yang
o
disimpan pada suhu tinggi (> 40 C).Suhu tinggi menyebabkan
penguraian. Pemeriksaan bau dilakukan secara periodik terutama untuk
sediaan yang mengandung sulfur atau anti oksidan.
aj.
e) pH
ak. Berhubungan dengan stabilitas zat aktif, efektifitas pengawet, keadaan
kulit.
al. Tujuan: untuk mengetahui pH pada salep sesuai apa tidak agar tidak terjadi
iritasi
am.Prosedur
an. 1. Dioleskan salap mata pada kertas pH universal
ao. 2. Diamati dan dicocokkan dengan warna pH pada kemasan
ap. Syarat dari pH sediaan topical yaitu antara 4,5 6,5
aq.
f) Pengujian difusi bahan aktif dari sediaan salep (Jika dipersyaratkan
dalam monografi/pustaka sediaan)
ar. Tujuan: Menguji difusi bahan aktif dari sediaan salep menggunakan suatu
sel difusi dengan cara mengukur konsentrasi bahan aktif dalam cairan
penerima pada selang waktu tertentu.
as. Prosedur :
1. Sejumlah salep dioleskan pada pelat difusi sampai rata, ditutup dengan
membran, diusahakan tidak terjadi rongga udara, antara permukaan salep dan
membran. Plat dipasang pada penyangga bawah dan ditutup dengan cincin,
kemudian dihubungkan dengan penyangga atas.
2. Sel difusi dimasukkan ke dalam penangas air bersuhu 37 oC, dihubungkan
dengan pompa peristaltic, wadah penerima dan tabung pencegah masuknya
udara dengan memakai selang
3. Cairan penerima disirkulasikan dengan kecepatan 10mL per menit memakai
pompa peristaktik
4. Cairan penerima dipipet pada waktu-waktu tertentu dan diganti dengan cairan
yang sama bersuhu 37o
5. Kadar zat aktif ditentukan dengan metode yang sesuai.
g) Uji Daya Sebar
at. Tujuan: Mengetahui kemampuan sediaan menyebar pada kulit
au. Prosedur:
1. Ditimbang 0,5 gram salep
2. Diletakkan hati-hati diatas kertas grafik yang dilapisi plastik transparan
3. Dibiarkan 60 detik dan luas daerah yang diberikan oleh sediaan dihitung
kemudian ditutup lagi dengan plastik yang diberi beban tertentu masing-
masing 50 gram, 100 g, dan 150 g
4. Dibiarkan selama 60 detik pertambahan luas yang diberikan oleh sediaan dapat
dihitung (Astuti,dkk.,2010)
av. Uji daya sebar pada salep dilakukan untuk melihat
kemampuan sediaan menyebar pada kulit, dimana suatu basis salep
sebaiknya memiliki daya sebar yang baik untuk menjamin pemberian
bahan obat yang memuaskan (Naibaho dkk., 2013). Syarat daya sebar
untuk sediaan topikal adalah sekitar 5 7 cm (Ulaen dkk., 2012)
aw.
h) Viskositas
ax. Tujuan: menguji kekentalan sediaan salep
ay. Prosedur
1. Dimasukkan sediaan salap mata pada viscometer Ostwald
2. Dihisap sampai tanda batas atas
3. Dibiarkan mengalir hingga batas bawah dan dihitung lama waktu yang
dibutuhkan sediaan untuk mencapai batas bawah
az.
i) Uji daya Lekat
ba. Tujuan: mengetahui daya lekat salep
bb. Prosedur:
1. Diletakkan sediaan salap mata pada 2 kaca objek yang telah ditentukan
2. Ditekan dengan beban 1 kg selama 5 menit
3. Dipasang alat test beban, diberikan beban 80 gram dan kemudian dicatat waktu
pelepasan dari gelas objek
bc.Syarat untuk daya lekat pada sediaan topikal adalah tidak
kurang dari 4 detik (Ulaen dkk., 2012).
bd.
j) Uji Kebocoran
be. Tujuan: untuk mengetahui apakah sediaan steril yang dibuat ada
kebocoran atau tidak
bf. Prosedur:
1. Pilih 10 tube salep, dengan segel khusus jika disebutkan. Bersihkan dan
keringkan baik baik permukaan luar tube dengan kain penyerap.
2. Letakkan tube pada posisi horizontal di atas lembaran kertas penyerap dalam
oven dengan suhu yang diatur pada 60 C 3 C selama 8 jam.
bg. Syarat: Tidak boleh terjadi kebocoran yang berarti selama atau setelah
pengujian selesai.
bh.
k) Uji Partikel Kasar
bi. Tujuan: Untuk mengetahui adanya partikel kasar dalam sediaan.
bj. Prosedur:
1. Disiapkan 2 buah kaca preparat yang sudah dibersihkan dan steril.
2. Diambil sediaan salep lalu diletakan pada kaca preparat.
3. Setelah itu ditutup dengan kaca preparat lalu diamati secara visual.
bk.
l) Uji sentrifugasi
bl. Tujuan: untuk mengetahui masa kadaluarsa salep
bm. Prosedur: sampel disentrifugasi dengan kecepatan 3500 rpm
selama 5 jam atau 5000 10.000 rpm selama 30 menit.
bn.
bo. B. Evaluasi Kimia
a) Penetapan kadar zat aktif
bp. Tujuan: mengetahui kadar zat dalam sediaan
bq. Prosedur:
1. Penetapan Kadar Ditimbang 60 mg dengan seksama, lakukan penetapan
seperti yang tertera pada Pembakaran dengan Labu Oksigen (50 L)
menggunakan labu 1000 mL dan campuran 10 mL air dan 5,0 mL hydrogen
peroksida LP sebagai cairan penyerap.
2. Jika pembakaran telah sempurna isi bibir labu dengan air dan buku sumbat.
Panaskan isi labu sampai mendidih dan didihkan selama lebih kurang 2 menit.
Dinginkan sampai kamar dan titrasi dengan natrium hidroksida 0,1 N NV
menggunakan indikator fenolftalein LP. Lakukan penetapan blanko (Depkes
RI, 1995).
br.
B. Evaluasi Biologi
a) Uji Efektivitas Pengawet Antimikroba
bs. Pengujian berikut dimaksudkan untuk menunjukkan
efektivitas pengawet antimikroba yang ditambahkan pada sediaan dosis
ganda yang dibuat dengan dasar atau bahan pembawa berair seperti
produk-produk parenteral, telinga, hidung, dan mata, yang dicantumkan
pada etiket produk bersangkutan. Pengujian dan persyaratan hanya berlaku
pada produk di dalam wadah asli belum dibuka yang didistribusikan oleh
produsen.
bt. Mikroba uji: Gunakan biakan mikroba berikut: Candida
albicans (ATCC No.:0231), Aspergillus niger (ATCC No.16404),
Escherichia coli (ATCC No.8739), Pseudomonas aeruginosa (ATCC No.
9027) dan Staphylococcus aureus (ATCC No. 6538). Selain mikroba yang
disebut di atas, dapat digunakan mikroba lain sebagai tambahan terutama
jika dianggap mikroba bersangkutan dapat merupakan kontaminan selama
penggunaan sediaan tersebut. Media : Untuk biakan awal mikroba uji,
pilih media agar yang sesuai untuk pertumbuhan yang subur mikroba uji,
seperti Soybean-Casein Digest Agar Medium. Pembuatan inokula :
Sebelum pengujian inokulasi permukaan media agar bervolume yang
sesuai, dengan biakan persediaan segar mikroba yang akan digunakan.
Inkubasi biakan bakteri pada suhu 300 sampai 350 selama 18-24 jam,
biakan Candida albicans pada suhu 200 hingga 250 selama 48 jam dan
biakan Aspergillus niger pada suhu 200 hingga 250 selama 1 minggu.
Gunakan larutan natrium klorida P 0,9% steril untuk memanen biakan
bakteri dan Candida albicans, dengan mencuci permukaan pertumbuhan
dan hasil cucian dimasukkan ke dalam wadah yang sesuai dan tambahkan
larutan natrium klorida P 0,9% steril secukupnya untuk untuk mengurangi
angka mikroba hingga lebih kurang 100 juta per ml. Untuk memanen
Aspergillus niger, lakukan hal yang sama menggunakan larutan natrium
klorida P 0,9% steril yang mengandung polisorbat S0 P 0,03% dan atur
angka spora hingga lebih kurang 100 juta per ml dengan penambahan
larutan natrium klorida P 0,9% steril. Sebagai alternatif, mikroba dapat
ditumbuhkan di dalam media cair yang sesuai, dan panenan sel dilakukan
dengan cara sentrifugasi, dicuci, dan disuspensikan kembali dalam larutan
natrium klorida P 0,9% steril sedemikian rupa hingga dicapai angka
mikroba atau spora yang dikehendaki. Tetapkan jumlah satuan pembentuk
koloni tiap ml dari setiap suspensi, dan angka ini digunakan untuk
menetapkan banyaknya inokula yang digunakan pada pengujian. Jika
suspensi yang telah dibakukan tidak segera digunakan, suspensi dipantau
secara berkala dengan metode lempeng Angka Mikroba Aerob Total untuk
menetapkan penurunan viabilitas. Untuk memantau angka lempeng
sediaan uji yang telah diinokulasi, gunakan media agar yang sama seperti
media untuk biakan awal mikroba yang bersangkutan. Jika tersedia
inaktivator pengawet yang khas, tambahkan sejumlah yang sesuai ke
dalam media lempeng agar.
bu.Prosedur: Jika wadah sediaan dapat ditembus secara aseptik
menggunakan jarum suntik melalui sumbat karet, lakukan pengujian pada
5 wadah asli sediaan. Jika wadah sediaan tidak dapat ditembus secara
aseptik, pindahkan 20 ml sampel ke dalam masing-masing 5 tabung
bakteriologik bertutup, berukuran sesuai dan steril. Inokulasi masing-
masing wadah atau tabung dengan salah satu suspensi mikroba baku,
menggunakan perbandingan 0,10 ml inokula setara dengan 20 ml sediaan,
dan campur. Mikroba uji dengan jumlah yang sesuai harus ditambahkan
sedemikian rupa hingga jumlah mikroba di dalam sediaan uji segera
setelah inokulasi adalah antara 100.000 dan 1.000.000 per ml. Tetapkan
jumlah mikroba viabel di dalam tiap suspensi inokula, dan hitung angka
awal mikroba tiap ml sediaan yang diuji dengan metode lempeng. Inkubasi
wadah atau tabung yang telah diinokulasi pada suhu 200 hingga 250.
Amati wadah atau tabung pada hari ke 7, ke 14, ke 21 dan ke 28 sesudah
inokulasi. Catat tiap perubahan yang terlihat dan tetapkan jumlah mikroba
viabel pada tiap selang waktu tersebut dengan metode lempeng. Dengan
menggunakan bilangan teoritis mikroba pada awal pengujian, hitung
perubahan kadar dalam persen tiap mikroba selama pengujian. Penafsiran
Hasil : Suatu pengawet dinyatakan efektif di dalam contoh yang diuji, jika:
a. Jumlah bakteri viabel pada hari ke 14 berkurang hingga tidak lebih dari
0,1% dari jumlah awal.
b. Jumlah kapang dan khamir viabel selama 14 hari pertama adalah tetap atau
kurang dari jumlah awal.
c. Jumlah tiap mikroba uji selama hari tersisa dari 28 hari pengujian adalah
tetap atau kurang dari bilangan yang disebut pada a dan b (Depkes RI,
1995).
bv.
8. HASIL PRAKTIKUM
bw.
9. PEMBAHASAN
bx.