Anda di halaman 1dari 29

UNIVERSITAS INDONESIA

PERANCANGAN BANGUNAN TINGGI DAN STRUKTUR BETON


PRATEGANG
PERANCANGAN BANGUNAN PERKANTORAN DAERAH JAKARTA

Wisnu Pratama Putra


0806329691

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
DEPOK
JUNI 2012
1. PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Indonesia merupakan daerah yang tinggi aktivitas kegempaannya, relatif lebih
besar dibanding banyak negara-negara lain. Oleh karena itu, pembangunan gedung di
Indonesia diwajibkan mengikuti tata cara yang berlaku (SNI 03-1726-2002) mengenai
ketahanan terhadap beban gempa. Hal ini bertujuan agar sekiranya jikalau terjadi gempa
besar sekalipun, struktur tak akan runtuh dan tak akan memakan nyawa.
Di samping itu, sebagai negara berkembang, Indonesia membutuhkan banyak
gedung sebagai fasilitas dijalankannya roda ekonomi bangsa. Di kota-kota besar seperti
Jakarta, bangunan tingkat tinggi adalah sebuah hal yang lazim. Bangunan-bangunan ini
pada umumnya berfungsi sebagai perkantoran karena letaknya yang memang strategis
terhadap alur urbanisasi penduduk Jakarta.
Dalam tugas ini, sebuah gedung perkantoran baru, akan didesain untuk dibangun di
Jakarta. Kehadiran gedung perkantoran baru ini diharapkan dapat menambah aktifitas
perekonomian bangsa serta mampu menjadi wadah bagi instansi atau perusahaan yang
ingin tinggal di jantung ibukota. Bentuk denah kantor juga dibuat tidak simetris
melainkan berbentuk seperti salib dengan tujuan menarik minat para pelanggan
nantinya. Bangunan ini akan diberikan pembebanan gravitasi, gempa, dan angin lalu
akan dianalisa karakteristik serta performanya.

b. Tujuan Pembuatan Tugas


Adapun tujuan dari dilakukannya tugas ini ialah :
- Mengetahui karakteristik dinamik dari bangunan yang bersangkutan
(periode getar, pola ragam getar, partisipasi massa).
- Mengetahui performa layan dan performa ultimit bangunan berdasarkan
nilai simpangan antar lantai (interstory drift).
- Mencari luas tulangan untuk komponen utama struktur (balok induk,
kolom, dan dinding geser).

2. PERMODELAN
Bangunan yang akan dianalisis ialah bangunan perkantoran 12 lantai dengan
menggunakan sistem ganda (sistem kombinasi rangka pemikul momen menengah dan
dinding geser). Dalam peninjauan beban gempa, sistem struktur seperti ini memiliki faktor

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


reduksi R = 6,5. Nantinya bangunan akan dianalisis dengan menggunakan program
ETABS V9.6. Adapun spesifikasi dari bangunan tersebut ialah :
Luas : 624 m2
Panjang : 24 m
Lebar : 32 m
Tinggi : 4 m (lantai pertama) dan 3,6 m (lantai berikutnya)
Ukuran kolom :
 Kolom Biasa (persegi) : 800 x 800 mm2
 Kolom Ujung (persegi) : 1000 x 1000 mm2
 Kolom Depan (silinder) : D 1000 mm
Ukuran balok induk : 400 x 600 mm2
Ukuran balok anak : 250 x 500 mm2
Tebal shear wall : 250 mm
Tebal pelat : 120 mm

Sementara itu, spesifikasi material yang digunakan ialah :


Beton
o Kuat tekan fc = 33 Mpa
o Modulus elastis E = 4700 fc = 27000 Mpa
o Berat jenis : 2400 kg/m3
Baja tulangan
o Fy = 400 Mpa.

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


Denah lantai 1 bangunan dapat dilihat pada gambar berikut :

6000 8000 6000

6000

6000

6000

6000

Gambar 1 Denah Bangunan Lantai 1

Denah bangunan lantai 2-11 tipikal dapat dilihat pada gambar berikut :

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


6000 8000 6000

6000

6000

6000

6000

Gambar 2 Denah Bangunan Lantai 2-11

Denah bangunan lantai atap dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 3 Denah Lantai Atap

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


Bentuk 3D bangunan dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 4 Bentuk 3D Bangunan

Beberapa tampak bangunan dapat dilihat pada gambar berikut :

Depan bangunan

Gambar 5 Tampak Kiri secara 3D

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


Depan bangunan

Gambar 6 Tampak Kanan secara 3D

Dalam perencanaan bangunan terhadap beban gempa, momen inersia penampang


dari setiap komponen struktur direduksi oleh karena mempertimbangkan penampang akan
retak saat terjadi gempa. Besarnya faktor reduksi dan permodelan tiap elemen tersebut
yakni :
- Balok : dimodelkan sebagai elemen beam biasa dimana distribusi
tegangan masih elastis. Reduksi momen inersia menghasilkan Ie = 35%
dari Ig untuk arah lenturnya. Torsional constant juga diisi dengan angka
25%.
- Kolom : dimodelkan sebagai line element biasa, reduksi momen inersia
menghasilkan Ie = 70% Ig untuk kedua arah.
- Dinding Geser : dimodelkan sebagai shell element karena memiliki DOF
terlengkap. Dinding geser juga didiskritisasi dengan membaginya
sebanyak 16 elemen dalam satu lantai. Reduksi kekakuan diambil 70%
baik untuk kekakuan bending maupun membrane.
- Pelat : dimodelkan sebagai membrane element karena asumsi pelat sangat
kaku dalam arah bidangnya dan hanya mentransfer gaya gravitasi ke

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


sistem penahan gaya gravitasi (tidak berkontribusi dalam menahan gaya
gravitasi). Reduksi kekakuan diambil sebesar 25% untuk kekakuan
membrane.
Berdasarkan peraturan SNI 03-1726-2002, massa bangunan yang berkontribusi
dalam analisa beban gempa ialah WDL + WLL dimana = 0,3. Pendefinisian kontribusi
massa ini dilakukan dengan mendefinisikan fitur mass source pada ETABS

Gambar 7 Definisi Sumber Massa Struktur

Selain itu, dalam analisa bangunan tinggi, fenomena P- juga harus


diperhitungkan. P- adalah suatu efek tambahan pada gaya-gaya dalam, momen guling,
dan displacement struktur akibat adanya displacement lateral () yang menjadi
eksentrisitas bagi beban gravitasi pada bangunan tinggi. Efek ini kemudian menimbulkan
pertambahan yang akumulatif dan dikenal sebagai second order effect. Untuk dapat
mengetahui efek order kedua dengan akurat, dipakai cara iterasi dalam analisa P-.

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


Gambar 8 Parameter P-

Menurut peraturan bangunan (ACI 1999, AISC 1994) efek P- dapat disebabkan
oleh dua hal yakni pergoyangan dari seluruh struktur dan deformasi antara ujung-ujung
dari setiap komponen. Efek pergoyangan lebih signifikan; dan bisa dihitung secara cukup
akurat dengan mengikutsertakan beban-beban gravitasi total dari setiap lantai bangunan
dan tidak terpengaruhi sama sekali oleh beban lateral. Efek deformasi hanya signifikan
bila kolom yang ada sangat langsing atau kolom berdefleksi secara single curvature;
analisis ini membutuhkan gaya-gaya dalam tiap komponen akibat beban gravitasi dan
beban lateral. Oleh karena itu, load case yang dimasukkan di ETABS hanyalah beban
gravitasi sesuai dengan mass source.

3. PEMBEBANAN
a. Gravitasi : pembebanan gravitasi pada struktur bangunan 12 lantai ini meliputi
- Berat sendiri struktur : dalam permodelan, berat sendiri dinamakan
sebagai Dead Load dengan self weight multiplier sebesar 1.
- Beban mati tambahan : berdasarkan Pedoman Perencanaan Pembebanan
untuk Rumah dan Gedung, beban mati tambahan diambil sebesar 1,8
kN/m2 untuk atap (screed dan CME) dan 2,4 kN/m2 untuk pelat lantai
(screed, CME, partisi). Dalam model, beban mati tambahan dimodelkan
sebagai SuperDeadLoad (SDL).
- Beban hidup : diambil sebesar 1 kN/m2 untuk atap dan 2,5 kN/m2 untuk
pelat lantai.

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


b. Gempa : pembebanan gempa dilakukan dengan memasukkan kurva respon
spektrum untuk wilayah Jakarta dengan kondisi tanah yang sesuai. Berdasarkan
SNI 03-1726-2002, kurva respon seismik untuk wilayah Jakarta (wilayah 3) ialah :

Gambar 9 Kurva Respon Seismik wilayah 3 SNI 03-1726-2002

Sistem penahan gaya lateral yang digunakan yakni sistem ganda yang terdiri dari
Sistem Dinding Geser dengan Sistem Pemikul Momen Menengah dan memiliki faktor
reduksi R = 6,5. Wilayah Jakarta merupakan wilayah tanah lunak, sehingga nilai respon
seismik maksimum pada periode predominant adalah 0,75. Pembebanan gempa yang
dimasukkan ke dalam ETABS ialah :

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


Gambar 10 Kurva Respon Spektrum yang Dimasukkan ke ETABS

Untuk menkonversi nilai respon seismik C menjadi spektral percepatan SA, nilai
scale factor yang dimasukkan dalam load case harus sesuai. Scale factor dapat dihitung
berdasarkan faktor keutamaan (I), faktor reduksi beban gempa (R), dan percepatan
gravitasi. Diketahui I = 1, R = 6,5, dan g = 9,81, scale factor = I x g / R = 1,509.
Eksentrisitas rencana diambil nilai pendekatan rata-rata sebesar 7%.

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


Setelah permodelan seluruh komponen dan pembebanan sudah selesai
dilaksanakan, model yang ada kemudian di cek untuk mengetahui keberadaan komponen
yang tidak tersambung, line element yang menindih elemen lainnya, dan sebagainya. Hasil
pengecekan dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 11 Pengecekan Model

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


Gambar 12 Hasil Pengecekan Model

Setelah hasil pengecekan menunjukkan tidak ada yang bermasalah, analisis siap
dilaksanakan.

4. HASIL ANALISA
a. Partisipasi Massa Bangunan
Pastisipasi massa ialah jumlah massa bangunan yang dibawa oleh tiap pola ragam
getar (modes). Sesuai dengan SNI 03-1726-2002, partisipasi massa akumulatif dari
bangunan untuk ketiga arah DOF (translasi x, translasi y, dan rotasi z) haruslah melebihi
90%. Nilai parstisipasi massa dapat dilihat pada tabel berikut :

Mode Period UX UY SumUX SumUY RZ SumRZ


1 1,264406 0 69,9816 0 69,9816 0 0
2 0,995985 70,4091 0 70,4091 69,9816 0,008 0,008
3 0,935775 0,0002 0 70,4092 69,9816 69,2546 69,2626
4 0,308314 0 17,744 70,4092 87,7256 0 69,2626
5 0,246737 19,6554 0 90,0646 87,7256 0,0081 69,2707
6 0,220622 0,0067 0 90,0713 87,7256 19,467 88,7377
7 0,156239 0 5,3539 90,0713 93,0795 0 88,7377
8 0,126076 4,9143 0 94,9856 93,0795 0,1221 88,8598
9 0,11123 0,1616 0 95,1472 93,0795 3,7421 92,6019
10 0,10479 0 2,4389 95,1472 95,5184 0 92,6019
11 0,089318 2,1926 0 97,3398 95,5184 0,2295 92,8314
12 0,077666 0 1,3217 97,3398 96,8401 0 92,8314
13 0,064878 1,7441 0 99,0838 96,8401 0,0294 92,8608
14 0,063747 0 0,7298 99,0838 97,5699 0 92,8608
15 0,053202 0 0,9546 99,0838 98,5245 0 92,8608

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


16 0,039432 0 0,9768 99,0838 99,5013 0 92,8608
17 0,038237 0,7934 0 99,8772 99,5013 0,0577 92,9185
18 0,023161 0 0,4647 99,8772 99,9661 0 92,9185

Dapat dilihat dari tabel diatas, dengan 18 pola ragam getar partisipas massa untuk
ketiga arah DOF (Ux, Uy, Rz) sudah mencapai angka 90%. Berarti kita tidak perlu
menambah jumlah pola ragam getar kembali.

b. Pengecekan Gaya Geser Dasar


Hal selanjutnya yang perlu untuk diketahui ialah perbandingan antara gaya geser
dasar dinamik dengan gaya geser dasar statik, dimana menurut SNI 03-1726-2002 harus
memenuhi persamaan :
Vdinamik > 0,8 Vstatik
V dinamik didapatkan dari ETABS dengan mempertimbangkan seluruh kontribusi pola
ragam getar yang di kombinasikan dengan metode CQC :
Spec Mode Dir F1 F2 F3 M1 M2 M3
EQX 1 U1 0 0 0 0 0 0
EQX 2 U1 7460,08 0 0 0 235434 -89488
EQX 3 U1 0,24 0 0 0 7,684 -3,048
EQX 4 U1 0 0 0 0 0 0
EQX 5 U1 2096,26 0 0 0 12520,2 -25251
EQX 6 U1 0,16 0 0 0 0,787 -2,767
EQX 7 U1 0 0 0 0 0 0
EQX 8 U1 412,51 0 0 0 1697,24 -5105
EQX 9 U1 2,45 0 0 0 3,362 -35,241
EQX 10 U1 0 0 0 0 0 0
EQX 11 U1 140,15 0 0 0 281,071 -1778,5
EQX 12 U1 0 0 0 0 0 0
EQX 13 U1 83,39 0 0 0 146,344 -1124
EQX 14 U1 0 0 0 0 0 0
EQX 15 U1 0 0 0 0 0 0
EQX 16 U1 55,13 0 0 0 60,793 -820,93
EQX 17 U1 0 0 0 0 0 0
EQX 18 U1 0 0 0 0 0 0
EQX All All 7771,9 0 0 0 235823 93272,9
EQY 1 U2 0 5882,86 0 186342 0 94125,8
EQY 2 U2 0 0 0 0 0 0
EQY 3 U2 0 0 0 0 0 0
EQY 4 U2 0 1928,3 0 -12067 0 30852,8

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


EQY 5 U2 0 0 0 0 0 0
EQY 6 U2 0 0 0 0 0 0
EQY 7 U2 0 510,02 0 -2581,6 0 8160,36
EQY 8 U2 0 0 0 0 0 0
EQY 9 U2 0 0 0 0 0 0
EQY 10 U2 0 180,78 0 -509,56 0 2892,5
EQY 11 U2 0 0 0 0 0 0
EQY 12 U2 0 81,37 0 -207,21 0 1301,98
EQY 13 U2 0 0 0 0 0 0
EQY 14 U2 0 43,2 0 -76,571 0 691,173
EQY 15 U2 0 27 0 -47,796 0 431,997
EQY 16 U2 0 0 0 0 0 0
EQY 17 U2 0 22,76 0 -31,482 0 364,199
EQY 18 U2 0 12,46 0 -16,516 0 199,415
EQY All All 0 6224,79 0 186793 0 99596,6

Sedangkan V statik dapat dicari dengan rumus



 = 


Massa bangunan dapat dilihat pada tabel berikut :


Story Diaphragm MassX MassY
STORY12 D1 648,1321 648,1321
STORY11 D1 801,6103 801,6103
STORY10 D1 801,6103 801,6103
STORY9 D1 801,6103 801,6103
STORY8 D1 801,6103 801,6103
STORY7 D1 801,6103 801,6103
STORY6 D1 801,6103 801,6103
STORY5 D1 801,6103 801,6103
STORY4 D1 801,6103 801,6103
STORY3 D1 801,6103 801,6103
STORY2 D1 801,6103 801,6103
STORY1 D1 678,6129 678,6129
Total (ton) 9342,848 9342,848

Tx 0,9959 s Ty 1,26 s
Cx 0,75 Cy 0,595238
I 1 I 1
R 6,5 R 6,5
Wt 91653,34 kN Wt 91653,34 kN
VstatikX 10575,39 kN VstatikY 8393,163 kN
0,8 VstatikX 8460,308 kN 0,8 VstatikY 6714,53 kN

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


Gaya Geser arah X
12
11
L 10
a 9
8
n 7
6 V dinamik x
t
5
a 4 V statik x
i 3
2 0,8 V statik x
1
0 2000 4000 6000 8000 10000 12000
Gaya Geser

Gaya Geser arah Y


12
11
L 10
9
a 8
n 7
6 V dinamik y
t
5
a 4 V statik y
i 3 0,8 V statik y
2
1
0 2000 4000 6000 8000 10000
Gaya Geser

Dapat dilihat perbandingan VdinamikX < daripada 0,8 VstatikX (7771,9 < 8460,308) sehingga
dibutuhkan faktor pembesaran gaya gempa sebanyak 0,8 VstatikX/ VdinamikX =
8460,308/7771,9 = 1,088. Pada akhirnya gaya gempa arah x yang harus diassign kedalam
ETABS harus memiliki scale factor = 1,088 x 1,509 = 1,642. Begitu juga dengan gaya
geser arah y, butuh faktor pembesaran sebesar 1,078 x 1,509 = 1,628.
Keseluruhan analisa selanjutnya sudah menggunakan gaya gempa arah x dan y
yang sudah dimodifikasi faktor pembesarannya.

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


c. Pengecekan Kinerja Layan dan Kinerja Ultimit Struktur Berdasarkan SNI
03-1726-2002 (simpangan antar lantai)
Kinerja batas layan struktur ditentukan oleh simpangan antar lantai bangunan
akibat pengaruh gempa rencana, yaitu untuk membatasi terjadinya pelelehan baja dan
peretakan beton yang berlebihan juga untuk mencegah kerusakan non-struktur dan
ketidaknyamanan penghuni. Sedangkan kinerja ultimit struktur juga ditentukan oleh
simpangan antar tingkat, bertujuan untuk mencegah keruntuhan struktur dan mencegah
terjadinya tumbukan antara kedua gedung yang berdekatan. Perhitungan drift dapat dilihat
pada tabel berikut :
Akibat gempa arah x :
Drift Drift drift batas
drift x drift y batas layan drift ultimit
Story Load index index ultimit x ultimit
(mm) (mm) (mm) y (mm)
X Y (mm) (mm)
STORY12 EQX 0,001 4,864 0,000 16,615 20,340 0,000 72,000
STORY12 EQX 0,000 0,000 0,918 16,615 0,000 3,839 72,000
STORY11 EQX 0,001 5,090 0,000 16,615 21,288 0,000 72,000
STORY11 EQX 0,000 0,000 0,950 16,615 0,000 3,975 72,000
STORY10 EQX 0,001 5,227 0,000 16,615 21,860 0,000 72,000
STORY10 EQX 0,000 0,000 0,968 16,615 0,000 4,050 72,000
STORY9 EQX 0,001 5,310 0,000 16,615 22,206 0,000 72,000
STORY9 EQX 0,000 0,000 0,979 16,615 0,000 4,095 72,000
STORY8 EQX 0,001 5,306 0,000 16,615 22,191 0,000 72,000
STORY8 EQX 0,000 0,000 0,976 16,615 0,000 4,080 72,000
STORY7 EQX 0,001 5,206 0,000 16,615 21,770 0,000 72,000
STORY7 EQX 0,000 0,000 0,958 16,615 0,000 4,005 72,000
STORY6 EQX 0,001 4,986 0,000 16,615 20,851 0,000 72,000
STORY6 EQX 0,000 0,000 0,918 16,615 0,000 3,839 72,000
STORY5 EQX 0,001 4,637 0,000 16,615 19,391 0,000 72,000
STORY5 EQX 0,000 0,000 0,857 16,615 0,000 3,583 72,000
STORY4 EQX 0,001 4,147 0,000 16,615 17,344 0,000 72,000
STORY4 EQX 0,000 0,000 0,763 16,615 0,000 3,192 72,000
STORY3 EQX 0,001 3,503 0,000 16,615 14,649 0,000 72,000
STORY3 EQX 0,000 0,000 0,641 16,615 0,000 2,680 72,000
STORY2 EQX 0,001 2,869 0,000 16,615 11,999 0,000 72,000
STORY2 EQX 0,000 0,000 0,479 16,615 0,000 2,002 72,000
STORY1 EQX 0,000 1,652 0,000 18,462 6,909 0,000 80,000
STORY1 EQX 0,000 0,000 0,256 18,462 0,000 1,069 80,000

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


Kinerja Layan akibat Gempa x
12
11
L 10
9
a 8
n 7
6 Drift x (mm)
t
5 Drft y (mm)
a 4
i 3 Batas Layan (mm)
2
1
0 5 10 15 20
Drift (mm)

Kinerja Ultimit akibat Gempa x


12
11
L 10
9
a 8
n 7
6 Drift Ultimit x (mm)
t
5 Drift Ultimit y (mm)
a 4
i 3 Batas Ultimit (mm)
2
1
0 20 40 60 80 100
Drift (mm)

Akibat gempa arah y :


Drift Drift batas drift batas
drift x drift y drift ultimit
Story Load index index layan ultimit x ultimit
(mm) (mm) y (mm)
X Y (mm) (mm) (mm)
STORY12 EQY 0,000 0,742 0,000 16,615 3,101 0,000 72,000
STORY12 EQY 0,002 0,000 6,239 16,615 0,000 26,091 72,000
STORY11 EQY 0,000 0,767 0,000 16,615 3,207 0,000 72,000
STORY11 EQY 0,002 0,000 6,505 16,615 0,000 27,205 72,000
STORY10 EQY 0,000 0,781 0,000 16,615 3,267 0,000 72,000
STORY10 EQY 0,002 0,000 6,700 16,615 0,000 28,018 72,000
STORY9 EQY 0,000 0,788 0,000 16,615 3,297 0,000 72,000
STORY9 EQY 0,002 0,000 6,840 16,615 0,000 28,605 72,000
STORY8 EQY 0,000 0,788 0,000 16,615 3,297 0,000 72,000
STORY8 EQY 0,002 0,000 6,883 16,615 0,000 28,785 72,000

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


STORY7 EQY 0,000 0,774 0,000 16,615 3,237 0,000 72,000
STORY7 EQY 0,002 0,000 6,797 16,615 0,000 28,424 72,000
STORY6 EQY 0,000 0,745 0,000 16,615 3,116 0,000 72,000
STORY6 EQY 0,002 0,000 6,548 16,615 0,000 27,385 72,000
STORY5 EQY 0,000 0,695 0,000 16,615 2,906 0,000 72,000
STORY5 EQY 0,002 0,000 6,113 16,615 0,000 25,564 72,000
STORY4 EQY 0,000 0,623 0,000 16,615 2,605 0,000 72,000
STORY4 EQY 0,002 0,000 5,458 16,615 0,000 22,824 72,000
STORY3 EQY 0,000 0,522 0,000 16,615 2,183 0,000 72,000
STORY3 EQY 0,001 0,000 4,550 16,615 0,000 19,030 72,000
STORY2 EQY 0,000 0,410 0,000 16,615 1,716 0,000 72,000
STORY2 EQY 0,001 0,000 3,355 16,615 0,000 14,031 72,000
STORY1 EQY 0,000 0,224 0,000 18,462 0,937 0,000 80,000
STORY1 EQY 0,000 0,000 1,609 18,462 0,000 6,730 80,000

Kinerja Layan akibat Gempa y


12
11
L 10
9
a 8
n 7
6 Drift x (mm)
t
5 Drift y (mm)
a 4
i 3 Batas Layan (mm)
2
1
0 5 10 15 20
Drift (mm)

Kinerja Ultimit akibat Gempa y


12
11
L 10
9
a 8
n 7
6 Drift Ultimit x (mm)
t
5 Drift Ultimit y (mm)
a 4
i 3 Batas Ultimit (mm)
2
1
0 20 40 60 80 100
Drift (mm)

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


Dapat dilihat dari tabel dan grafik diatas, nilai simpangan antar lantai baik akibat pengaruh
gempa x dan gempa y masih berada di dalam batas layan dan ultimit. Oleh karena itu,
tidak perlu dilakukan perbesaran komponen struktur untuk menambah kekakuan.

d. Pengecekan Sistem Ganda


Meski didesain dengan memakai sistem ganda Dinding Geser dan SRPMM
sehingga memiliki R = 6,5, harus di cek pula berapa gaya geser yang masuk ke frame dan
berapa kapasitas gaya geser frame. Hasil perbandingan menghasilkan :

Arah x
Gaya Geser Struktur 8456,94 kN
Gaya Geser Shear Wall 7844,17 kN
Gaya Geser Frame 612,77 kN
Persentase Shear Wall 92,75423498 %
Persentase Frame 7,245765017 %

Arah y
Gaya Geser Struktur 6715,67 kN
Gaya Geser Shear Wall 5895,01 kN
Gaya Geser Frame 820,66 kN
Persentase Shear Wall 87,77992 %
Persentase Frame 12,22008 %

Dapat dilihat bahwa gaya geser yang masuk pada portal (frame) belum mencapai
25% oleh karena itu, kapasitas portal harus dicek apakah mampu menahan 25% gaya
gempa nominal. Permodelan yang awal kembali di analisis dengan menghilangkan dinding
geser lalu memberikan gaya gempa sebesar dari gaya gempa awal.

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


Gambar 13 Model Struktur tanpa Dinding Geser

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


Setelah dianalisis, model kemudian dicek dengan menggunakan fitur concrete design pada
ETABS. Dari hasil pengecekan, didapat bahwa tidak ada elemen portal yang mengalami
overstress setelah diberikan gaya gempa sebesar gempa awal. Ini berarti bahwa
kapasitas portal mampu menahan 25% gaya geser total struktur, sehingga sistem penahan
gaya lateral tetaplah merupakan sistem ganda dengan Dinding Geser dan SRPMM dan
tidak perlu dilakukan perubahan nilai faktor reduksi beban gempa R pada analisa awal.

5. PERANCANGAN TULANGAN
Perancangan tulangan dilakukan dengan memanfaatkan fitur concrete design pada
ETABS V.9.6. Setelah mengaktifkan fasilitas ini, kita bisa mencari tahu berapa luas
tulangan yang dibutuhkan pada tiap komponen struktur baik itu tulangan longitudinal
maupun tulangan geser.
a. Penulangan Balok serta Detail
Balok yang dijelaskan detail penulangannya ialah balok yang memiliki persentase
tulangan longitudinal terbesar, yakni balok B66 dan B68 pada lantai 8 bangunan.

Berdasarkan konfigurasi penulangan yang dikeluarkan program ETABS,


didapatkan bahwa :

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


Luas tulangan (mm2)
2171 656 1257
1805 695 1680

Tumpuan Kiri
2
As Top 2171,00 mm Kapasitas Momen (Intermediate Frames)
As Bottom 1805,00 mm2 Jumlah Tulangan As 2455,36 mm2 As 1964,29 mm2
Diameter 25,00 mm Digunakan fy 400,00 Mpa fy 400,00 Mpa
As 1
491,07 mm2 a 87,54 mm a 70,03 mm
tulangan
n Top 4,42 buah 5,00 buah d 534,50 mm d 534,50 mm
n Bottom 3,68 buah 4,00 buah Mn- 481,97 kNm Mn+ 392,45 kNm
Mn+ >
1/3 Mn- 160,66 kNm OK!
1/3 Mn-

Tengah Bentang
2
As Top 656,00 mm Kapasitas Momen (Intermediate Frames)
2
As Bottom 695,00 mm Jumlah Tulangan As 982,14 mm2 As 982,14 mm2
Diameter 25,00 mm Digunakan fy 400,00 Mpa fy 400,00 Mpa
As 1
491,07 mm2 a 35,01 mm a 35,01 mm
tulangan
n Top 0,01 buah 2,00 buah d 534,50 mm d 534,50 mm
n Bottom 0,01 buah 2,00 buah Mn- 203,10 kNm Mn+ 203,1 kNm

Tumpuan Kanan
2
As Top 1257,00 mm Kapasitas Momen (Intermediate Frames)
2
As Bottom 1680,00 mm Jumlah Tulangan As 1473,21 mm2 As 1964,29 mm2
Diameter 25,00 mm Digunakan fy 400,00 Mpa fy 400,00 Mpa
As 1
491,07 mm2 a 52,52 mm a 70,03 mm
tulangan
n Top 2,56 buah 3,00 buah d 534,50 mm d 534,500 mm
n Bottom 3,42 buah 4,00 buah Mn+ 299,50 kNm Mn- 392,45 kNm
Mn+ >
1/3 Mn- 134,09 kNm OK!
1/3 Mn-

Selain itu, pada sembarang titik di sepanjang bentang balok, kuat momen positif
atau negatif tidak boleh kurang dari 1/5 kuat momen maksimum pada join (1/5 x 481,97 =
96,393 kNm). Bisa dilihat bahwa kuat momen minimum pada tengah bentang ialah 203,1
kNm dimana sudah melebihi 1/5 kuat momen maksimum pada join. Berarti persyaratan ini
sudah dipatuhi.

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


Bisa dilihat bahwa konfigurasi penulangan lentur yang ada sudah memenuhi
persyaratan SRPMM. Sedangkan untuk penulangan geser untuk diameter sengkang 13 mm
ialah :
Spasi Maks
d/4 136,75 mm Governs!
8 D25 200 mm
24 D sengkang 312 mm
300 mm

Sehingga dipasang sengkang D13 dengan spasi 125 mm. Sedangkan nilai V yang
diperlukan ialah
Ve perlu
Goyangan ke kiri
291,47 kN Governs!
Goyangan ke kanan
230,6505185 kN

Dan V yang disediakan oleh sengkang :


Av (3 kaki) 398,3571 mm2
fy 400 Mpa
s 125 mm
d 534,5 mm
V sengkang 681,3501 kN

Dapat dilihat bahwa V yang disediakan sengkang melebihi V perlu. Oleh karena
itu, desain tulangan transversal sudah oke. Lokasi pendetailan penulangan balok dapat
dilihat pada gambar berikut ini :

Gambar 14 Detail Tulangan Balok

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


Gambar 15 Detail Spasi Sengkang dalam 1 Balok

b. Penulangan Kolom serta Detail


Hampir mirip dengan pencarian tulangan untuk balok, penulangan kolom juga
dilakukan dengan memanfaatkan fitur concrete design pada ETABS. Dicari kolom dengan
rasio penulangan geser dan lentur terbesar, kemudian kita cari tahu berapa buah jumlah
tulangan yang diperlukan. Jumlah tulangan yang diperlukan untuk setiap jenis kolom dapat
dilihat pada tabel di bawah :

Kol biasa 800 x 800 Kol Perimeter 1000 x 1000


Lokasi C37, C32 Lokasi C12,C18,C28,C31
Diameter Tulangan 32 mm Diameter 32 mm
As 804,5714 mm2 As 804,5714 mm2
As needed 14044 mm2 As needed 10000 mm2
n tulangan 17,45526 buah n tulangan 12,42898 buah
Digunakan 18 buah Digunakan 14 buah

Kolom Silinder D1000


Lokasi C2, C4,C33,C34
Diameter 25 mm
As 491,0714286 mm2
As needed 7854 mm2
n tulangan 15,9936 buah
Digunakan 16 buah

Sedangkan untuk penulangan geser, jarak maksimum dan panjang penulangan


dapat dilihat pada tabel berikut :
Spasi Maksimum Kolom 800x800
8 Diameter Tul Longitudinal 256 mm Governs!
24 Diameter Sengkang 456 mm
0,5 smallest column 400 mm

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


dimension
300 mm 300 mm
Panjang Lo
Highest column dimension 800 mm Governs!
Ln/6 600 mm
500 mm 500 mm

Spasi Maksimum Kolom 1000x1000


8 Diameter Tul Longitudinal 256 mm Governs!
24 Diameter Sengkang 456 mm
0,5 smallest column
mm
dimension 500
300 mm 300 mm
Panjang Lo
Highest column dimension 1000 mm Governs!
Ln/6 600 mm
500 mm 500 mm

Spasi Maksimum Kolom C1000


8 Diameter Tul Longitudinal 256 mm Governs!
24 Diameter Sengkang 456 mm
0,5 smallest column
mm
dimension 500
300 mm 300 mm
Panjang Lo
Highest column dimension 1000 mm Governs!
Ln/6 600 mm
500 mm 500 mm

Berarti untuk tulangan geser, digunakan D19-250 hanya sepanjang lo kolom. Namun
untuk simplifikasi, tulangan geser dipasang dengan spasi 250 mm di sepanjang kolom tiap
lantai.
Pendetailan penulangan kolom dapat dilihat pada gambar berikut :

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012
Gambar 16 Detail Penulangan Geser Kolom

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012


6. PENUTUP
a. Kesimpulan
Dari analisa yang sudah dilakukan, kesimpulan yang didapatkan ialah :
- Partisipasi massa bangunan sudah baik.
- Gaya geser dinamik bangunan belum mencapai 80% gaya statik. Oleh
karena itu diperlukan suatu faktor pembesaran kembali agar gaya geser
dinamik mencapai 80% gaya statik.
- Kinerja layan dan ultimit bangunan berdasarkan simpangan antar lantai
sudah oke.
- Sistem penahan gaya lateral berupa sistem ganda karena portal mampu
menahan 25% gaya geser, meskipun pada analisis yang dilakukan, tidak
sampai 25% gaya geser struktur masuk pada portal.
- Detail penulangan dapat dilakukan dengan lancar untuk memenuhi
persyaratan SRPMM.
b. Saran
- Waktu pengerjaan tugas yang ditambah agar hasil tugas bisa menjadi
lebih lengkap.
- Menggunakan SRPMK untuk sistem penahan gaya lateral.

Perancangan Struktur Bangunan Tinggi Departemen Teknik Sipil 2012