Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pendapatan asli daerah adalah penerimaan yang diperoleh
dari sektor pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik
daerah, hasil pengeloalaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan
lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Pendapatan Asli Daerah
(PAD) merupakan salah satu komponen sumber pendapatan daerah
sebagaimana yang telah diatur dalam pasal 79 undang-undang
nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah, berdasarkan
pasal 79 UU 22/1999 disimpulkan bahwa sesuatu yang diperoleh
pemerintah daerah yang dapat diukur denga uang karena
kewenangan (otoritas) yang diberikan masyarakat dapat berupa
hasil pajak daerah dan retribusi daerah. Sumber pendapatan
daerah terdiri dari: Pendapatan asli daerah, yaitu:
Hasil Pajak Daerah

Hasil Retribusi Daerah

Hasil Perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan


kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain
pendapatan asli daerah yang sah
Dana Perimbangan
Pinjaman Daerah
Lain-lan pendapatan daerah yang sah

1
Dalam pasal 79 mengisyaratkan bahwa dalam penyelenggaraan
fungsi-funsi pemerintahan daerah, kepala daerah Kabupaten/Kota.
Dengan kata lain, hiharapkan kepada kepala daerah Kabupaten/Kota
didalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan
daerah tidak terus menerus selalu menggantungkan dana (anggaran) dari
pusat melalui pembangian dana perimbangan. Dalam administrasi
keuangan daerah PAD adalah pendapatan daerah yang diurus dan
diusahakan sendiri oleh daerah yang dimaksud sebagai sumber PAD guna
pembangunan. Berdasarkan ketentuan maka PAD dapat disimpulkan
sebagai:

a. PAD merupakan sumber pendekatan daerah dengan mengelola


dan memanfaatkan potensial daerahnya.

b. Di dalam mengelola, mengolah dan memanfaatkan potensi


daerah, PAD dapat berupa pemungutan pajak, retribusi dan lain-lain
pendapatan daerah yang sah.

2
Dalam pelaksanaan otonomi daerah, sumber keuangan yang
berasal dari pendapatan asli daerah lebih penting dibandingkan
dengan sumber-sumber diluar pendapatan asli daerah, karena
pendapatan asli daerah dapat dipergunakan sesuai dengan
prakarsa dan inisiatif daerah sedangkan bentuk pemberian
pemerintah (non PAD) sifatnya lebih terikat. Dengan penggalian
dan peningkatan pendapatan asli daerah diharapkan pemerintah
daerah juga mampu meningkatkan kemampuannya dalam
penyelenggaraan urusan daerah.

1.2.1 Maksud dan Tujuan


Dalam pelaksanaan otonomi daerah, sumber keuangan yang
berasal dari pendapatan asli daerah lebih penting dibandingkan
dengan sumber-sumber diluar pendapatan asli daerah, karena
pendapatan asli daerah dapat dipergunakan sesuai dengan
prakarsa dan inisiatif daerah sedangkan bentuk pemberian
pemerintah (non PAD) sifatnya lebih terikat. Dengan penggalian
dan peningkatan pendapatan asli daerah diharapkan pemerintah
daerah juga mampu meningkatkan kemampuannya dalam
penyelenggaraan urusan daerah.

BAB II
TINJAUAN TEORI

3
2.1 Tinjauan Teori Kependudukan
a. Pendapatan Asli daerah
Menurut Abdul Halim (2004:94), Pendapatan Asli Daerah (PAD)
adalah penerimaan yang diperoleh daerah dari sumber-sumber dalam
wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sektor pendapatan
daerah memegang peranan yang sangat penting, karena melalui sektor
ini dapat dilihat sejauh mana suatu daerah dapat membiayai kegiatan
pemerintah dan pembangunan daerah.

Sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Menurut Abdul Halim (2007:96), kelompok Pendapatan Asli Daerah (PAD)


dipisahkan menjadi empat jenis pendapatan, yaitu:

1) Pajak Daerah
a) Pajak Provinsi
b) Pajak Kabupaten/ Kota
2) Retribusi Daerah, terdiri dari Retribusi Jasa Umum, Retribusi Jasa
Usaha, dan Retribusi Perijinan Tertentu.
3) Hasil Perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan
daerah yang dipisahkan.
4) Lain-lain Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sah, yaitu:

Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan, hasil


pemanfaatan atau pendayagunaan kekayaan daerah yang tidak
dipisahkan, jasa giro, pendapatan bunga, tuntutan ganti rugi, keuntungan
selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, dan

komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/
atau pengadaan barang dan atau jasa oleh daerah.

b. Kontribusi Pajak Daerah

a. Pengertian Pajak Daerah

Menurut Kesit Bambang Prakosa (2005:2), Pajak Daerah adalah


iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah
tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan

4
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang
digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan
pembangunan daerah.

Jenis-jenis Pajak Daerah

Pajak Daerah menurut Kesit Bambang Prakosa (2005:77) dibagi menjadi


dua bagian, yaitu:

1) Pajak Propinsi, terdiri dari:

a) Pajak Kendaran Bermotor dan Kendaraan di Atas Air.


b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air.
c) Pajak Bahan Bakar Kendaran Bermotor.
d) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air di Bawah Tanah dan Air
Permukaan.

2) Pajak Kabupaten/ Kota

a) Pajak Hotel
b) Pajak Restoran
c) Pajak Hiburan
d) Pajak Reklame
e) Pajak Penerangan Jalan
f) Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C
g) Pajak Parkir

Sedangkan jenis-jenis pajak daerah Kabupaten/ Kota menurut


Undangundang

nomor 28 tahun 2009 antara lain:

1) Pajak Hotel
2) Pajak Restoran
3) Pajak Hiburan
4) Pajak Reklame
5) Pajak Penerangan Jalan
6) Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan
7) Pajak Parkir
8) Pajak Air Tanah
9) Pajak Sarang Burung Walet

5
10) Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan

11) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan

BAB III
GAMBARAN UMUM

3.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Barat

3.1.1 Letak Wilayah Provinsi Kalimantan Barat


Provinsi Kalimantan Barat terletak di bagian barat pulau Kalimantan
atau di antara garis 2008 LU serta 3002 LS serta di antara 108030 BT dan
114010 BT pada peta bumi. Berdasarkan letak geografis yang spesifik ini
maka, daerah Kalimantan Barat tepat dilalui oleh garis Khatulistiwa (garis
lintang 00) tepatnya di atas Kota Pontianak. Karena pengaruh letak ini pula,

6
maka Kalimantan Barat adalah salah satu daerah tropik dengan suhu udara
cukup tinggi serta diiringi kelembaban yang tinggi.
Ciri-ciri spesifik lainnya adalah bahwa wilayah Kalimantan Barat
termasuk salah satu Provinsi di Indonesia yang berbatasan langsung dengan
negara asing, yaitu dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia Timur. Bahkan
dengan posisi ini, maka daerah Kalimantan Barat kini merupakan satu-
satunya Provinsi di Indonesia yang secara resmi telah mempunyai akses jalan
darat untuk masuk dan keluar dari Negara asing. Hal ini dapat terjadi karena
antara Kalimantan Barat dan Sarawak telah terbuka jalan darat antar negara
dari Pontianak Entikong Kuching (Sarawak, Malaysia) sepanjang sekitar
400 km dan dapat ditempuh sekitar enam sampai delapan jam perjalanan.

3.1.2 Luas Penggunaan Lahan


Sebagian besar wilayah Kalimantan Barat adalah merupakan daratan
berdataran rendah dengan luas sekitar 146.807 km2 atau 7,53 persen dari
luas Indonesia atau 1,13 kali luas pulau Jawa. Wilayah ini membentang lurus
dari Utara ke Selatan sepanjang lebih dari 600 km di sekitar 850 km dari
Barat ke Timur.
Dilihat dari besarnya wilayah, maka Kalimantan Barat termasuk
provinsi terbesar keempat di Indonesia. Pertama dalah Provinsi Papua
(319.036 km2), kedua adalah Provinsi Kalimantan Timur (204.534 km2) dan
ketiga adalah Provinsi Kalimantan Tengah (153.564 km2). Dilihat dari luas
menurut kabupaten/kota, maka yang terbesar adalah Kabupaten Ketapang
(31.240,74 km2 atau 21,28 persen) kemudian diikuti Kabupaten Kapuas
Hulu (29.842 km2 atau 20,33 persen), dan Kabupaten Sintang (21.635 km2
atau 14,74 persen), sedangkan sisanya tersebar pada 11 (sebelas)
kabupaten/kota lainnya.
3.1.3 Perekonomian
Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Kalbar hingga medio
Oktober 2015, baru mencapai Rp1,41 triliun atau 74,21 persen. Prosentase

7
tersebut tentu jauh dari target yang ditetapkan sebelumnya. Pendapatan Lain-
lain dan Bagi Hasil Dispenda Provinsi Kalbar merupakan faktor yang
menyebabkan terhambatnya realisasi penerimaan PAD 2015. Penerimaan
PAD tersebut berasal dari penerimaan pajak daerah sebesar Rp1,2 triliun
atau 72,85 persen, retribusi daerah Rp94,56 miliar atau 71,29 persen, hasil
pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan Rp66,06 miliar atau 98,86
persen serta PAD lain-lain yang sah sebesar Rp44,08 miliar atau 95,67
persen.
Secara eksternal, kondisi tersebut dipengaruhi krisis global. Yang
ditandai dengan naik turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika.
Tak pelak, kondisi ini membuat perekonomian Indonesia pun menjadi
berfluktuasi sehingga berdampak pada turunnya daya beli masyarakat.
Kondisi perekonomian yang tak menentu ini membuat pemerintah pusat
maupun daerah harus bekerja keras untuk mengembalikan perekonomian
masyarakat menjadi stabil kembali. Selain itu, masih ada tarif beberapa
objek retribusi daerah yang belum sesuai dengan kondisi dan keadaan pasar.
Akibatnya pemasukan yang diperoleh lebih kecil dari pada biaya operasional
yang dikeluarkan.

BAB IV
ANALISIS

Analisis PAD Provinsi Kalimantan Barat menggunaka Eviews

Pad 1 = Kabupaten Sambas


Pad 2 = Kabupaten Bengkayang
Pad 3 = Kabupaten Landak
Pad 4 = Kabupaten Sekadau
Pad 5 = Kabupaten Melawi

8
Berdasarkan hasil analisis panel data diatas bahwa
1. Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai koefisien determinasi atau
R- Square (R) sebesar 0,930 yang berarti 93 persen Pendapaatn Asli
Daerah di Kabupaten Sambang, Bengkayang, Landak, Sekadau dan
Melawi secara bersama-sama dapat dijelaskan oleh variabel dari
kelima variabel independen pajak hotel, pajak jasa hotel, jumlah
hotel, jumlah penduduk dan PDRB. Sedangkan sisanya 0,7 persen
dijelaskan oleh variabel lain di luar model yang tidak termasuk dalam
penelitian.

9
2. Hasil yang diperoleh dari Adjust R-squaed yaitu nilai (9,99) >(9,01),
keputusannya adalah Hipotesis nol (Ho) ditolak dan Hipotesis
alternative (Ha) diterima. Artinya bahwa seluruh variable terikat
memiliki pengaruh terhadap variable bebas yaitu, berpengaruh
sebesar 93% terhadap resiko sistematis. Sedangkan 5% nya adalah
pada variable lain diluar dari variable kajian.

PAD =-
1453.247C+2.251347PD+4.219173RD+7.338682DAU+3.696717DAK+
(4.1)
t-stat 5,92 0,78 1,33 0,60
Prob 0,00 0,46 0,23 0,56
R-squared 0.93
Keterangan :
PD : Pajak Daerah
RD : Retribusi Daerah
DAU : Dana Alokasi Umum
DAK : Dana Alokasi Khusus
: eror

Hasil Fixxed Effect Model Pendapatan Asli Daerah


N
Variabel Slope Keterangan
o.
C - Coefisien bernialai negatif, artinya
1. 1453.247 semakin kecil nilai coefisien maka
semakin besar nilai PAD
Pendapatan 2.251347 Nilai Pendapatan Daerah bernialai
Daerah positif, artinya semakin besar nilai
2.
pendapatan daerah maka semakin
besar nilai PAD
Retribusi Daerah 4.219173 Nilai retribusi daerah bernialai positif,
3. artinya semakin besar nilai retribusi
daerah maka semakin besar nilai PAD
Dana Alokasi 7.338682 Nilai dana alokasi umum bernialai
Umum positif, artinya semakin besar nilai
4.
dana alokasi umum maka semakin
besar nilai PAD
5. Dana Alokasi 3.696717 Nilai dana alokasi khusus bernialai
Khusus positif, artinya semakin besar nilai

10
dana alokasi khusus maka semakin
besar nilai PAD

Hubungan Variabel Bebas Terhadap PAD


Hubungan yang
Variabel Keterangan
ditentukan
C Negatif (-) Signifikan
Pendaptan Daerah Positif (+) Signifikan
Retribusi Daerah Positif (+) Signifikan
Dana Alokasi Umum Positif (+) Signifikan
Dana Alokasi Khusus Positif (+) Signifikan

Nilai sensitifitas Kecamatan Terhadap Pendapatan Asli Daerah di


Kota Tanjungpinang
N Kabupate Simbol Individual Keterangan
o. n Effect
Kabupaten Sambas
memberikan pengaruh
positif terhadap perubahan
1. Sambas _1 175.0398
PAD, dengan rata rata
perubahan 175.039,80
milyar rupiah
Kabupaten Bengkayang
memberikan pengaruh
Begkayan positif terhadap perubahan
2. _2 669.2713
g PAD, dengan rata rata
perubahan 669.271,30
milyar rupiah
Kabupaten Landak
memberikan pengaruh
positif terhadap perubahan
3. Landak _3 3.224078
PAD, dengan rata rata
perubahan 3.224,07 milyar
rupiah
Kabupaten Sekadau
memberikan rata rata
perubahan PAD paling kecil,
4. Sekadau _4 -365.7564
dengan rata rata
perubahan 365.756,40
milyar rupiah
Kabupaten Melawi
memberikan rata rata
perubahan PAD paling kecil,
5. Melawi _5 -481.7788
dengan rata rata
perubahan 481.778,80
milyar rupiah

11
Estimation Command:
=====================
LS PAD? PD? RD? DAU? DAK?

Estimation Equations:
=====================
PAD_1 = C(1)*PD_1 + C(2)*RD_1 + C(3)*DAU_1 + C(4)*DAK_1

PAD_2 = C(1)*PD_2 + C(2)*RD_2 + C(3)*DAU_2 + C(4)*DAK_2

PAD_3 = C(1)*PD_3 + C(2)*RD_3 + C(3)*DAU_3 + C(4)*DAK_3

PAD_4 = C(1)*PD_4 + C(2)*RD_4 + C(3)*DAU_4 + C(4)*DAK_4

PAD_5 = C(1)*PD_5 + C(2)*RD_5 + C(3)*DAU_5 + C(4)*DAK_5

Substituted Coefficients:
=====================
PAD_1 = 0.16331682309*PD_1 + 1.36023322134*RD_1 + 2.84113251901*DAU_1 -
3.80212105701*DAK_1

PAD_2 = 4.02335386307*PD_2 + 3.58025332933*RD_2 + 5.44123211601*DAU_2 -


3.80212105701*DAK_2

PAD_3 = 3.11321392308*PD_3 + 6.48015232953*RD_3 + 4.54111251001*DAU_3 -


3.80212105701*DAK_3

PAD_4 = 1.12331382306*PD_4 + 4.68015322911*RD_4 + 1.94111251101*DAU_4 -


3.80212105701*DAK_4

PAD_5 = 6.14174040737*PD_5 + 11.9368145203*RD_5 + 3.6691084657*DAU_5 -


2.07807481814*DAK_5

Dari model diatas dapat disimpulkan bahwa :

1. Model Efek Tetap (MET) menunjukan adanya hubungan positif


antara perubahan pendapatan daerah, retribusi daerah, dana
alokasi umum, dan dana alokasi khusus dengan perubahan PAD
2. Kabupaten yang memiliki rata rata perubahan PAD terbesar
adalah Kabupaten Melawi.
3. Sedangkan yang memiliki rata rata perubahan PAD kecil adalah
Kabupaten Sambas.

12
13