Anda di halaman 1dari 20

BAB I

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PENDERITA
Nama : An.J
Umur : 24 bulan
Jenis kelamin : Laki laki
Alamat : Jatimulya 6/1 tegal
Agama : Islam
Bangsal : mawar
No RM : 034686
Tanggal Masuk 27-05-2016

B. DATA DASAR
1. Anamnesis (Alloanamnesis)
Alloanamnesis dengan ibu dan ayah penderita tanggal 3 Desember 2013
pukul 11.00 WIB dan didukung catatan medis.
a. Keluhan Utama : Mencret/ BAB Cair
b. Riwayat Penyakit Sekarang :
Satu hari SMRS pasien dikeluhkan orang tuanya demam sejak pukul
10.00 hari ini. demam sangat tinggi, menggigil(-). batuk (-), pilek (-)
nyeri di telinga (-), sesak (-), pasien kejang kejang kurang dari 5 menit,
sebelum kejang sadar, saat kejang tidak sadar dan setelah kejang sadar.
kejang di seluruh tubuh, berhenti sendiri, kejang tidak berulang dalam 24
jam. Kemudian pasien dibawa oleh orang tuanya ke RSUD SURADADI
TEGAL
Riwayat pola makan: Minum ASI eksklusif hingga 4 bulan
Riwayat pemberian MP ASI sejak usia 4 bulan

1
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat kejang : disangkal pasien tidak memiliki riwayat kejang.
Riwayat pernah sakit panas, batuk, pilek tapi tidak sampai mondok di
rumah sakit.

Riwayat tertusuk paku atau besi berkarat di sangkal

Riwayat keluar cairan dari telinga disangkal

Riwayat trauma kepala disangkal


d. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga penderita yang mengalami penyakit seperti ini.
Riwayat Epilepsi disangkal

e. Riwayat Sosial Ekonomi


Biaya pengobatan di tanggung oleh sendiri. Pasien dirawat di bangsal
mawar.
Kesan sosial ekonomi : cukup

f. Riwayat pemeliharaan prenatal


Pemeriksaan kehamilan :
Ibu biasa memeriksakan kandungannya secara teratur 1x setiap bulannya
ke bidan terdekat selama kehamilannya.
Imunisasi selama kehamilan : 2 x suntik TT
Penyakit kehamilan : disangkal
Perdarahan selama kehamilan : disangkal
Riwayat trauma saat hamil : disangkal
Obat selama kehamilan : vitamin dan tablet besi
Kesan: ANC cukup

g. Riwayat kelahiran
Persalinan : Lahir secara spontan di bidan
Usia dalam kandungan : 9 bulan
Berat badan lahir : 3300 gram

2
Panjang badan : 47 cm
Kesan : Neonatus berat badan lahir cukup, cukup
bulan, sesuai masa kehamilan

h. Riwayat Imunisasi
BCG : 1x umur 1 bulan
DPT : 3 x (2,4,6) bulan
Polio : 4 x (0,2,4,6) bulan
Hepatitis B : 3x umur (0,1,4) bulan
Kesan : Imunisasi lengkap dan tepat bulan
i. Riwayat Gizi
ASI : Diberikan ASI ekslusif sejak lahir sampai usia 4 bulan
MP ASI : Makanan pendamping ASI diberikan sejak usia
4 bulan
Kesan : ASI Ekslusif diberikan selama 4 bulan
Riwayat Gizi diberikan tidak sesuai usia

Status Gizi menurut Z-score


Jenis Kelamin : Perempuan
Berat Badan : 6.5 kg
Tinggi badan : 68 cm
Usia : 6 bulan
Status gizi menurut Z-score = nilai real nilai median
SD upper atau SD lower

WAZ ( BBU )= 6,57,6


0,9
=1.2(gizi normal)

TB 6867.8
HAZ ( )= =0,07(normal)
U 2,7
BB 6,58
WHZ (
TB )
= =1.8(normal)
0,8
Kesan : Status gizi baik, perawakan medium

j. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan anak

3
Pertumbuhan :
Berat badan lahir 3300 gram, panjang badan lahir 47 cm, berat badan
sekarang 6,5 kg, panjang badan sekarang 79 cm
Kesan : Normal Growth
Perkembangan :
o Usia 2 bulan : Tersenyum
o Usia 3 bulan : Memiringkan badan
o Usia 4 bulan : Tengkurap, memperhatikan mainan dan
merespon suara
o Usia 6 bulan : Duduk dengan dibantu
Kesan : Perkembangan sesuai usia.

2. Pemeriksaan Fisik
Tanggal 27 Mei 2016 , pukul 15.00 WIB
Status Present
Jenis kelamin : Laki-laki
Usia : 24 bulan
Berat badan : 10 kg.
Tanda vital : HR = 100 x/menit
: RR = 32 x/menit
:T = 38,50 C
SpO2 = 99
KU : Sakit sedang
Kesadaran : Composmentis
Kepala : Mesosephal, bentuk dan ukuran normal
Rambut : Hitam, tidak mudah dicabut
Mata :Conjungtiva palpebra anemis (-/-), sklera
ikterik (-/-), kornea jernih, pupil bulat, isokor, refleks
pupil (+/+), reflek kornea (+/+), refl1ek bulu mata (+/
+)
Telinga : Bentuk normal, simetris, discharge (-/-), nyeri tekan

4
tragus (-/-), nyeri tarik (-/-), tidak bengkak
Hidung : Simetris, nafas cuping (-),
sekret (-/-) serous, konka hiperemis (-/-), edem konka
(-/-) epistaksis (-/-)
Mulut : Bibir kering (-), sianosis (-), karies dentis (-), lidah
kotor (-), gusi berdarah (-), faring hiperemis (+), T1-1
hiperemis (-/-), permukaan rata (+), kripte melebar(-)
Leher : Simetris, tidak ada pembesaran kelenjar limfe,
kaku kuduk (-)
Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak
Palpasi : Iktus kordis teraba di sela iga IV, linea medioclavikula
sinistra, tidak kuat angkat, tidak melebar
Perkusi : Redup
Batas atas : ICS II linea parasternal kiri
Pinggang : ICS III linea parasternal kiri
Batas kiri bawah : ICS IV linea midclavicularis kiri
Batas kanan : ICS IV linea sternalis kanan
Auskultasi : Suara jantung I dan II normal, Suara tambahan (-)
Paru-paru
Inspeksi : Hemithorax dextra dan sinistra simetris saat statis dan
dinamis, tidak ada retraksi
Palpasi : Stem fremitus kanan = kiri
Perkusi : Sonor seluruh lapangan paru
Auskultasi : Suara dasar vesikuler. Suara tambahan: wh (-/-), rh (-/-)
Abdomen
Inspeksi : datar
Palpasi : nyeri tekan -.
Hepar : tidak teraba
Lien : tidak teraba
Perkusi : timpani
Auskultasi : bu normal

5
Genital : tidak ada kelainan
Ekstremitas : tidak ada deformitas
Superior Inferior
Sianosis -/- -/-
Akral dingin -/- -/-
Oedem -/- -/-
Capillary refill < 2 < 2
Pemeriksaan Neurologis
Nervus Cranialis : dbn
Refleks Fisiologis
Biceps : +/+, normal
Triceps : +/+, normal
Tendon achilles : +/+, normal
Patella : +/+, normal
Refleks Patologis
Babinski : -/-
Chaddock : -/-
Oppenheim : -/-
Gordon : -/-
Gerakan : Bebas Terbatas
Kekuatan : 5/5 baik superior ataupun inferior
Tonus : Normotonus
Klonus :-
Rangsang Meningeal
Kaku kuduk : -
Brudzinski I : -
Brudzinski II : -

3. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan darah rutin (27 mei 2016)
Hb 11,2 g/dl
Ht 33,7 %
Leukosit 15.000 /l
Trombosit 449.000 /l

6
C. DAFTAR ABNORMALITAS
SUBJEKTIF:
KU : Kejang
RPS : Satu hari SMRS pasien dikeluhkan orang tuanya demam sejak pukul
10.00 hari ini. demam sangat tinggi, menggigil(-). batuk (-), pilek (-) nyeri di
telinga (-), sesak (-), pasien kejang kejang kurang dari 5 menit, sebelum kejang
sadar, saat kejang tidak sadar dan setelah kejang sadar. kejang di seluruh tubuh,
berhenti sendiri, kejang tidak berulang dalam 24 jam. Kemudian pasien dibawa
oleh orang tuanya ke RSUD SURADADI TEGAL
RPD : Riwayat kejang sebelumnyadisangkal
RPK : Riwayat kejang disangkal
OBJEKTIF:
Status Generalis
o KU/Kesadaran: Sedang / komposmentis
o Mulut : faring hiperemis (+).
o Pemeriksaan Neurologis: dbn

7
D. DIAGNOSA BANDING

I. Observasi kejang dengan demam


Kejang Demam Simpleks
Kejang Demam kompleks
Meningitis

E. DIAGNOSA SEMENTARA
1. Kejang demam simpleks

F. RENCANA PEMECAHAN MASALAH


1. KEJANG DEMAM
Ass: Kejang Demam Simpleks
Ip Dx:
S:-
O : Pemeriksaan darah lengkap dan gula darah
Pemeriksaan Pungsi Lumbal
Ip Tx:
I. ivfd futrolit 20 tpm makro

II. injj sanmol 15mg/kgbb/6 jam = 4x150mg

II. In diazepam 0,3mg/kgbb/8jam = 3x3mg

III. Injj cefxon 50mg/kgbb/12jam = 2x500 mg

Ip Mx:
- Monitor KU dan tanda vital
- Pengawasan jika kejang berulang
Ip Ex:
- Tirah baring

8
- Edukasi untuk minum obat rumatan sebagai pencegahan resiko kejang
yang berulang
- Edukasi untuk memperhatikan perkembangan kognitif dan perilaku
anak akibat efek samping dari terapi
- Edukasi pada ibu/ keluarga untuk tatalaksana kejang berulang di rumah

9
G. PROGNOSA
- Quo ad vitam : ad Bonam
- Quo ad sanam : ad Bonam
- Quo ad fungsionam : ad Bonam

10
BAB II
PEMBAHASAN

A. KEJANG DEMAM
1. Definisi
Kejang demam berdasarkan definisi dari The International League
Againts Epilepsy (Commision on Epidemiology and Prognosis, 1993) adalah
kejang yang disebabkan kenaikan suhu tubuh lebih dari 38,4 oC tanpa adanya
infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut pada anak berusia di
atas 1 bulan tanpa riwayat kejang tanpa demam sebelumnya.
Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh (suhu rektal lebih dari 38C) yang disebabkan oleh suatu proses
ekstrakranium.
Ismael S. KPPIK-XI, 1983
Soetomenggolo T. Buku Ajar Neurologi Anak.1999.
Keterangan :
Biasanya terjadi pada anak Umur 6 bulan - 5 tahun
Pernah kejang tanpa demam tidak termasuk KD
KD pada umur < 1 bulan tidak termasuk KD
KD pada umur < 6 bln atau > 5 th pikirkan infeksi SSP, Epilepsi disertai
demam
KD 2 - 4% populasi anak 6 bln -5 thn

2. Klasifikasi
Klasifikasi kejang demam umumnya dibagi menjadi 2 golongan.
Kriteria di bawah ini dikemukakan oleh berbagai pakar dimana terdapat
perbedaan kecil dalam hal penggolongan tersebut.
Livingston membagi kejang demam menjadi 2 golongan yaitu :
b. Kejang demam sederhana
c. Epilepsi yang dicetuskan oleh demam
Ciri kejang demam sederhana menurut Livingston yaitu kejang bersifat
sederhana, lama kejang berlangsung singkat ( < 15 menit ), usia waktu
kejang demam pertama muncul < 6 tahun, frekuensi serangan 1 4 kali

11
dalam satu tahun, EEG normal. Kejang demam yang tidak sesuai dengan
ciri-ciri tersebut oleh Livingston disebut sebagai epilepsi yang dicetuskan
oleh demam.
Sedangkan menurut Fukuyama, kejang demam dibagi menjadi :
a. Kejang demam sederhana
b. Kejang demam kompleks
Kejang demam sederhana menurut Fukuyama harus memenuhi semua
kriteria berikut yaitu :
1. Di keluarga penderita tidak ada riwayat epilepsi
2. Sebelumnya tidak ada riwayat cedera otak oleh penyebab apapun
3. Serangan kejang demam yang pertama terjadi antara usia 6 bulan
6 tahun
4. Lamanya kejang berlangsung tidak lebih dari 20 menit
5. Kejang tidak bersifat fokal
6. Tidak didapatkan gangguan atau abnormalitas pasca kejang
7. Sebelumnya juga tidak didapatkan abnormalitas neurologis atau
abnormalitas perkembangan
8. Kejang tidak berulang dalam waktu singkat
Bila tidak memenuhi kriteria di atas, maka digolongkan ke dalam kejang
demam komplek.

3. Insiden
Dari penelitian oleh berbagai pakar didapatkan bahwa sekitar 2,2 5 %
anak pernah mengalami kejang demam sebelum mereka mencapai usia 5
tahun.
Insiden kejang demam sering dijumpai pada anak laki-laki daripada
perempuan dengan perbandingan berkisar antara 1,4 : 1 dan 1,2 : 1.
Berdasarkan penelitian Lumbantobing pada 297 anak dengan kejang demam,
sebanyak 165 adalah anak laki-laki dan 132 anak perempuan dengan
perbandingan 1,25 : 1.

4. Etiologi demam pada kejang demam


Beberapa faktor yang mungkin berperan dalam menyebabkan kejang
demam adalah :
1. Demam itu sendiri

12
2. Efek produk toksik dari mikroorganisme (kuman atau virus) terhadap
otak
3. Respon alergik atau keadaan imun yang abnormal oleh infeksi
4. Perubahan keseimbangan cairan atau elektrolit
5. Ensefalitis viral yang ringan yang tidak diketahui
6. Gabungan semua faktor tersebut di atas

5. Patofisiologi kejang demam pada anak

13
Kejang demam

6. Pemeriksaan Penunjang

14
1. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium rutin tidak dianjurkan, tapi dapat dikerjakan
untuk mengevaluasi sumber infeksi atau mencari penyebab, seperti darah
perifer, elektrolit dan gula darah.
2. Pungsi Lumbal
Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau
menyingkirkan kemungkinan meningitis. Resiko terjadinya meningitis
bakterialis adalah 0,6%-6,7%.
Pada bayi kecil sering manifestasi meningitis tidak jelas secara klinis,
oleh karena itu pungsi lumbal dianjurkan pada:
a. Bayi kurang dari 12 bulan sangat dianjurkan dilakukan
b. Bayi antara 12-18 bulan dianjurkan
c. Bayi >18 bulan tidak rutin
Bila yakin bukan meningitis secara klinis tidak perlu dilakukan pungsi
lumbal.
3. Elektroensefalografi
Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) tidak dapat memprediksi
berulang kejang, atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi
pada pasien kejang demam. Oleh karenanya tidak direkomendasikan.
Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan kejang demam
yang tidak khas. Misalnya kejang demam kompleks pada anak usia lebih
dari 6 tahun, atau kejang demam fokal.
4. Pencitraan
Foto X-ray kepala dan neuropencitraan seperti CT atau MRI jarang sekali
dikerjakan, tidak rutin dan atas indikasi, seperti a. kelainan neurologik
fokal yang menetap (hemiparesis) b. parese nervus VI c. Papiledema

7. Penatalaksanaan
a. Terapi pada fase akut
- Penderita dimiringkan agar jangan terjadi aspirasi ludah atau lendir
dari mulut
- Jalan nafas dijaga agar tetap terbuka, bila perlu beri oksigen
- Monitor tanda vital, keadaan umum dan kesadaran

15
- Bila penderita belum sadar dan berlangsung lama, perhatikan
kebutuhan dan keadaan cairan, kalori dan elektrolit
- Suhu yang tinggi harus diturunkan dengan kompres hangat
- Selimut dan pembungkus badan harus dibuka agar pendinginan badan
berlangsung dengan baik
- Berikan obat penurun demam
- Berikan obat antikonvulsan
b. Pengobatan profilaksis terhadap kambuhnya kejang demam
- Profilaksis intermiten, pada waktu demam
- Profilaksis terus menerus dengan obat antikonvulsan tiap hari
- Mengatasi segera bila terjadi serangan kejang

Antikonvulsan pada saat kejang demam


Pemberian diazepam rektal pada saat kejang sangat efektif dalam
menghentikan kejang. Diazepam rektal diberikan segera saat kejang
berlangsung, dan dapat diberikan di rumah. Diazepam rektal yang dianjurkan
adalah 0,3-0,5mg/kgBB. Untuk memudahkan dapat digunakan dosis: 5 mg
untuk berat badan kurang dari 10 kg, 10 mg untuk berat badan lebih dari 10
kg. Atau diazepam rektal dengan dosis 5 mg untuk anak di bawah usia 3
tahun atau dosis 7,5 mg untuk anak di atas usia 3 tahun.
Kejang yang belum berhenti dengan diazepam rektal dapat diulang lagi
dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. Bila 2 kali
dengan diazepam masih kejang, dianjurkan ke rumah sakit. Dan disini dapat
diberikan diazepam intravena dengan dosis 0,3-05 mg/kgBB.
Bila kejang tetap belum berhenti diberikan fenitoin secara intravena
dengan dosis awal 10-20 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1 mg/kgBB/menit
atau kurang dari 50 mg/menit. Bila kejang berhenti dosis selanjutnya adalah
4-8 mg/kgBB/hari, yaitu 12 jam setelah dosis awal.
Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti maka pasien harus dirawat
di ruang intensif (ICU).

Pemberian obat pada saat demam


Pemberian antipiretik saat demam dianjurkan, walaupun tidak
ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi resiko terjadinya
kejang demam. Antipiretik diberikan setelah kejang teratasi. Dosis
acetaminofen adalah 10-15 mg/kgBB/kali, diberikan 4x sehari dan max

16
pemberian 5x. Dosis ibuprofen adalah 5-10 mg/kgBB/kali, diberikan 3-4x
sehari
Pemberian Anti Konvulsan dengan diazepam oral dosis 0,3 mg/kgBB
setiap 8 jam saat demam dapat menurunkan resiko berulangnya kejang, begitu
pula dengan diazepam rektal dosis 0,5 mg/kgBB setiap 8 jam pada suhu >
38,5 C.
Pemberian obat rumatan
Pemberian obat fenobarbital atau asam valproat setiap hari efektif
dalam menurunkan resiko berulangnya kejang. Obat pilihan saat ini adalah
asam valproat meskipun dapat menimbulkan hepatitis namun insidennya
kecil.
Dosis asam valproat 15-40 mg/kgbb/hari dalam 2-3 dosis, fenobarbital
3-4 mg/kgbb/hari dalam 1-2 dosis. Pengobatan rumat hanya diberikan bila
kejang demam menunjukkan ciri sebagai berikut (salah satu) :
- Kejang lama lebih dari 15 menit
- Adanya kelainan neurologist yang nyata sebelum atau sesudah kejang,
misalnya hemiparesis,cerebral palsy, retardasi mental, hidrosephalus
- Kejang fokal.
- Pengobatan rumat dipertimbangkan bila :
o Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam.
o Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan
o Kejang demam 4x atau lebih per tahun.
Lama pengobatan rumat
Pengobatan diberikan selama 1 tahun bebas kejang, kemudian dihentikan
secara bertahap selama 1-2 bulan.
Kejang demam yang harus dirawat inap:
Kejang >15 menit
Dengan penyulit (hiperpireksia), sesak dan diare
Anak panas tidak terlalu tinggi tetapi kejang
Kejang pertama kali
Usia <6 bulan dijumpai kelainan neurologis
Indikasi pasien kejang demam boleh pulang:
Tidak panas 2x24 jam tanpa antiperetik
Mau makan dan minum

17
Klinis+lab membaik
Tidak ada penyulit
Tidak ada komplikasi

8. Edukasi
- Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya dapat teratasi
-Memberikan cara penanganan kejang
a. Tetap tenang dan tidak panik
b. Kendorkan pakaian yang ketat terutama sekitar leher
c. Bila tidak sadar posisikan terlentang dengan kepala miring.
Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Jangan masukkan
sesuatu ke dalam mulut
d. Ukur suhu, catat berapa lama dan bentuk kejang
e. Tetap bersama pasien selama kejang
f. Beri diazepam rektal hanya saat kejang
g. Bawa ke dokter atau pelayanan kesehatan lain bila kejang > 5 menit.
h. Memberikan informasi kemungkinan kejang kembali

18
DAFTAR PUSTAKA

19
1. Anonim., http://www.idai.or.id/tips/artikel.asp?q=2009421101559, Kejang
Demam, IDAI
2. Lumbantobing SM. Kejang Demam (Febrile Convulsions). Jakarta : Balai
Penerbit FK UI. 2002 : 1-45
3. Standar Pelayanan Minimal Kesehatan Anak, 2004, IDAI
4. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak 2.
Jakarta: Balai Penerbit FK UI. 1985:847-54, 930-32
5. Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Konsensus
Penanganan Kejang Demam, Jakarta, 2005
6. Abdoerrachman. Affandi, Agusman, dkk, Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak.
Jilid 3. Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, Jakarta, 1985
7. Anonim, 2004, Diare Akut, http://www.sehatgroup.web.id/artikel/1401 dikutip
tanggal 08.06.2009
.

20