Anda di halaman 1dari 6

Tugas Mandiri IMTKG III

RESTORASI GIGI TIRUAN JEMBATAN

Oleh :

LISA PRIHASTARI
020610010

ILMU MATERIAL DAN TEKNIK KEDOKTERAN GIGI III


Fakultas Kedokteran Gigi- UNAIR
Semester Gasal 2007/2008
Rencana pembuatan restorasi
pada kasus hilangnya gigi M1 RB

Alternatif 1:
Dengan menggunakan fixed semi movable bridge atau gigi tiruan jembatan
setengah tegar, yaitu gigi tiruan jembatan dengan penghubung tegar pada satu sisi dan sisi
lainnya tidak tegar sehingga memungkinkan gerakan terbatas pada satu sisi oleh ligamen
periodontal.
Alasan pemakaian fixed semi movable bridge adalah karena salah satu
indikasinya, jika kemiringan calon gigi penyangga berbeda. Seperti kasus pada soal ini,
yaitu gigi penyangga M2 RB-nya miring kerah diastema sedangkan gigi penyangga yang
lain yaitu P2 RB-nya normal (tidak miring ke arah diastema).
Indikasi lain yaitu jika salah satu calon gigi penyangga sudah ada restorasi atau
calon gigi penyangganya lemah.
GTJ ini bersifat khusus karena mempunyai dua pemaut:
Pemaut (retainer) mayor, bagian yang melekat langsung dengan pontik
Pemaut (retainer) minor, bagian yang masuk ke dovetail-slot (konektor
setengah tegar)
Pada kasus ini gigi yang diganti adalah M1 RB maka yang perlekatannya atau
bagian dovetail-slot ada pada P2 RB, karena
P2 lebih lemah
Gigi cenderung bergerak ke arah anterior, Slotnya dapat menahan
pergerakan gigi, bila dilekatkan pada M2 RB maka perlekatannya akan
terlepas atau patah
Bahan yang digunakan bisa logam saja (karena gigi posterior, secara estetik
tidak mengganggu), logam berlapis akrilik, porselen atau porselen taut logam.
Keuntungan pemakaian Fixed semi movable bridge adalah
1. Mengatasi kesulitan arah pasang gigi penyangga
2. Meredam beban pada gigi penyangga yang lemah
3. Penyemenan dapat dilakukan tidak bersamaan

Kerugian pemakaian Fixed semi movable bridge adalah


1. GTJ jenis ini jarang digunakan dan pekerjaan laboratoriumnya lebih sulit
2. Sukar untuk gigi anteror karena dimensi gigi yang kecil
3. Pembuatan GTJ sementaranya sulit

Sebelum pembuatan Fixed semi movable bridge dilakukan, karena pada daerah
M1 RB yang hilang terdapat poket, poket harus disembuhkan atau dilakukan perawatan
terlebih dahulu. Yaitu dengan menggunakan kuretase (kuret poket). Jaringan periodontal
yang terlalu rusak(turun) bisa diperbaiki dengan pemberian bubuk tulang.
Langkah selanjutnya, yaitu persiapan pembuatan Fixed semi movable bridge.
Ada Lima azas tata cara persiapan GTJ secara umum, yaitu:
1. Pengamanan jaringan gigi harus sesuai dengan rencana perawatan/ desain
retainer (pemaut)-Preservation of Tooth Structure
Jika terjadi pengambilan jaringan gigi yang berlebihan akan
menyebabkan kepekaan terhadap suhu meningkat dan kematian pulpa, bentuk
menjadi kerucut sehingga menurunkan retensi. Rencana desain retainer harus
dibuat secara hati-hati dan terencana.

2. Bentuk Pegangan dan penahan mahkota tiruan GTJ Retension &


Resistance
Retension adalah kemampuan bagian gigi penyangga untuk menahan
lepasnya restorasi lewat arah pasang. Sedangkan resistance adalah kemampuan
bagian gigi penyangga yang berfungsi menghalangi lepasnya restorasi karena
daya kekuatan ke arah akar gigi, miring atau horizontal. Untuk mendapatkan
Retension dan resistance dapat dilakukan dengan derajat kemiringan dinding
aksial tak lebih dari 60 (makin kerucut makin tidak retentif), pemulasan tidak
boleh sampai mengkilap, dibuat tambahan berupa axial groove (alur),
box(kotak), dan pin hole (lubang susuk).

3. Keawetan bahan restorasi-Structural durability


Supaya restorasi tahan lama harus mempunyai ketebalan tertentu,
preparasi gigi penyangga diperhatikan terutama pada tonjol fungsional
(functional cusp), fossa sentral (central fossa) dan lingkar tepi (marginal ridge),
pada gigi anterior, aspek incisal harus diperhatikan.

4. Kerapatan batas akhir preparasi dan restorasi-marginal integrity


Kerapatan dapat mencegah kebocoran, batas akhir tidak rapat
menyebabkan karies kemudian gangguan periodonsium karena plak.
Sebaiknya bentuk batas akhir preparasi disesuaikan dengan bahan
restorasi dan pembulatan sudut-sudut tajam okluso aksial- insiso aksial. Macam-
macam batas akhir preparasi antara lain knife edge, shoulder (bahu siku) dan
chamfer (bahu liku).

5. Pengamanan jaringan periodonsium


Dilakukan dengan membuat batas akhir preparasi 1-1,5 mm diatas
servikal. Batas akhir preparasi yang masuk saku gusi hanya pada bagian
labial/bukal untuk nilai estetik.

Pada kasus ini, langkah-langkah yang dilakukan antara lain dilakukan


pengasahan dan pengurangan bentuk anatomi gigi untuk persiapan gigi penyangga dalam
hal ini P2 dan M2 rahang bawah, untuk dibuat mahkota selubung. Pengurangan tidak
boleh sampai terkena pulpa, dan dilakukan sampai gigi M2 bawah mempunyai bentuk
dasar M2 yang tegak (normal) dan terbebas dari kontak dengan gigi antagonisnya. Pada
gigi P2 dilakukan pula hal yang sama, hal yang harus ditekankan disini adalah Bentuk
dasar gigi asli harus masih tampak.
Untuk pontik (penyulih) yang digunakan ialah pontik jenis sanitary atau pontik
pelana. Karena kedua pontik inilah yang paling sesuai untuk penggunaan gigi posterior,
yang lebih mengutamakan unsur kebersihan daripada unsur estetik. Syarat pontik gigi
posterior adalah embrasur mesial dan distal-nya dibuat lebih terbuka, bidang bukal dan
lingual dibuat lebih mengerucut, bidang yang menghadap ginggiva membulat(menyentuh
atau tidak, sama saja) dan bidang oklusal dikurangi untuk mengurangi beban oklusal.
Pontik sanitary dan pontik pelana sama-sama tidak menyinggung mukosa.
Pontik sanitary digunakan untuk kasus dengan jaringan periodontal yang terlalu turun
(jarak vertikal rongga besar), bagian yang menghadap ginggiva membulat supaya mudah
dibersihkan. Sedangkan pontik pelana estetiknya lebih bagus karena tampak seperti gigi
asli, tetapi bila ada sisa makanan yang larut dalam saliva akan sulit dibersihkan.
Jika GTJ sudah selesai dibuat dan dilakukan penyemenan, untuk menyelesaikan
masalah trauma oklusi pada gigi antagonis M1 bawah, dilakukan oclusal grinding pada
gigi M1 RA yang turun. Oclusal grinding harus dilakukan secara hati-hati dan sesedikit
mungkin (tidak sampai mencapai lapisan dentin) dan sampai tinggi gigit serta oklusi
kembali normal.
Pada gigi M1 RA yang turun menuju diastema dan P2 RB yang mengalami
resesi ginggiva menyebabkan bagian akarnya terlihat. Masalah ini dapat dibantu dengan
melakukan perawatan ginggival flat untuk mengembalikan posisi dan fungsi ginggiva
(gusi) secara normal.
Pada gigi-gigi yang karies dapat dilakukan penumpatan, bisa berupa amalgam
atau komposit, dll.
Jika GTJ berfungsi dengan baik akan mengembalikan loss contact antara P2 dan
P1 RB, mengembalikan kesehatan gigi sekitarnya dan jaringan periodontal serta proses
pengunyahan akan lebih sempurna tanpa ada sisa makanan yang terselip.

Alternatif ke 2:
Yaitu dengan membuat GTJ tegar atau fixed-fixed bridge 4 unit dengan
mencabut gigi M2 RB yang miring dan menjadikan M3 dan P2 RB sebagai calon-calon
gigi penyangga. Dengan begitu karies pada gigi M3 RB akan hilang akibat pengasahan
untuk dibuat mahkota selubung.
Juga dilakukan oklusal grinding pada gigi M1 RA yang turun, perawatan
ginggival flat, dan tumpatan pada gigi-gigi yang karies.
Keuntungan pemakaian GTJ tegar ini adalah
Retensi dan kekuatan maksimal
Sebagai splint (belat) untuk memegang gigi yang goyang agar tidak goyang
Tahapan pekerjaan lebih singkat
Kerugiannya, adalah
Pasien harus kehilangan gigi M2 RB yang sebenarnya masih sehat atau
masih vital
Pengasahan gigi penyangga harus sejajar
Pengasahan gigi penyangga relatif lebih banyak
Penyemenan bersama-sama