Anda di halaman 1dari 35

Bagian Obstetri dan Ginekologi Laporan Kasus

Fakultas kedokteran Januari 2017


Universitas Halu Oleo

INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)


PADA KEHAMILAN

Oleh
Andi Fahrianti, S.ked
K1A1 10 012

Pembimbing :

dr. Juminten Saimin, Sp.OG (K)

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017

LAPORAN KASUS
1
I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. NA

Umur : 24 tahun

Alamat : JL. Ahmad Yani N.11, Bonggoeya, Wua-Wua

Agama : Islam

Suku : Buton

Pendidikan : S-1

Pekerjaan : IRT

No. RM : 48 98 92

Tanggal perawatan : 27 November 2016 -

Ruang perawatan : Delima kelas I

II. ANAMNESIS

Keluhan utama : Luka Operasi Basah dan Berlubang

Anamnesis Terpimpin :

III. PEMERIKSAAN FISIK (16 November 2016, pukul 09.28)


1. Status Generalis
Keadaan umum : Sakit Sedang
Kesadaran : Compos mentis, E4 M6 V5
TB : 147 cm
BB : 55 kg
IMT : 25,45
Tanda-tanda vital :
Tekanan darah : 120/90 mmHg
Nadi : 80x/menit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,7oC

2
Kepala : Normocephaly
Mata : Conjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
Hidung : Septum deviasi -/-, sekret -/-
Telinga : Liang telinga lapang, serumen -/-
Mulut , Perioral sianosis (-), caries (-), stomatitis (-)
Leher : KGB tidak teraba membesar
Tenggorok : Faring tidak hiperemis, Tonsil T1/T1
Jantung : Bunyi jantung I dan II murni, reguler
Paru : Vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
Abdomen :
Inspeksi : Perut cembung, luka operasi basah 10 cm,

terbuka sebagian pada sebelah kanan


Auskultasi : peristaltic (+), kesan normal
Palpasi : Nyeri tekan (
Perkusi : timpani
Alat genitalia : tidak ada kelainan vulva (-), lendir (+), air-air
(-),darah (+)

Punggung :

Palpasi : nyeri tekan (-), massa tumor (-)

Nyeri ketok : (-)

Auskultasi : BP vesikuler

Gerakan : Dalam batas normal

Ekstremitas : Edema (-/-), varises (-)


Refleks : Tidak dilakukan pemeriksaan
2. Status Obstetrik
Pemeriksaan luar :
Palpasi :
Leopold 1 :
Leopold 2 :
Leopold 3 :
Leopold 4 :
HIS :
DJJ :
TBJ :
Pemeriksaan dalam vagina :
a. Vulva/vagina :
b. Portio :
c. Pembukaan :

3
d. Ketuban :
e. Presentasi :
f. Penurunan :-
g. UUK :-
h. Panggul :
i. Pelepasan :

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan Laboratorium ( 25 November 2016 )
WBC : 13,4
RBC : 3,96
HGB : 10,0
PLT : 347
V. DIAGNOSIS

VI. PERENCANAAN
IVFD RL 18 tpm
Inj Cefotaxim 1 gr /12 jam/ IV
Inj dexametason amp/ 6 jam/IM
Nifedipin 3x1
Bed rest

VII. PERKEMBANGAN PASIEN

Hari / Tgl Perjalanan Penyakit Rencana Terapi

4
S : P1A0 -GV + Peras
-Catat obat Antibiotik
27/11/2016 Ibu masuk VK rujukan RS Ismoyo
sebelumnya
(09.29) dengan dehisensi luka Ops.
-Ciproflokxasin tab 3x1
Ibu riwayt Ops. Tanggal 20 Nov 2016 -Cek kultur
dengan KPD + Malposisi + Anemia
Ibu post transfusi WB 2 unit di RS
Ismoyo
O : KU : baik
TD : 110/70 mmHg
N : 78 x/ menit
P : 20 x / menit
S: 36,8C
Tampak luka Ops. Basah ( Bernanah +
Berlubang )
Lochia sanguilenta (+) sedikit
Hasil lab tanggal 25 Nov 2016 Ismoyo
(+) terlampir
A : Post Ops. SC 7 hari + dehisensi

luka ops.
P : Menyampaikan hasil pemeriksaan

kepada ibu
Mengobservasi TTV
Melapor dokter jaga

, S : Luka Ops terbuka 6cm -Cefadroxil tab 2x1


-Metronidazole tab 3x1
28/11/2016 O : TD : 110/70 mmHg
-Asam mefenamat tab
(09.00) N : 80x/ menit
3x1
P : 18x / menit -Vip Albumin 3x2
-Emebion tab 2x1
S : 36,5C
A : Dehisensi Luka Operasi
29/11/2016 S : Luka Ops terbuka 6cm - Ganti Verban
-Cefadroxil tab 2x1

5
O : TD : 120/80 mmHg -Metronidazole tab 3x1
-Asam mefenamat tab
N : 84 x/ menit
3x1
P : 20 x / menit
-Vip Albumin 3x2
S : 36,7C -Emebion tab 2x1
A : Dehisensi Luka Post. Ops
, S : Luka Ops terbuka 6cm - Ganti Verban
-Cefadroxil tab 2x1
30/11/2016 O : TD : 130/90 mmHg
-Metronidazole tab 3x1
N : 72x/ menit -Asam mefenamat tab
P : 18 x / menit 3x1
-Vip Albumin 3x2
S : 36,7C
-Emebion tab 2x1
A : Dehisensi Luka Post Ops
01/12/2016 S : KU baik, kesadaran Compos - Ganti Verban
-Cefadroxil tab 2x1
Mentis, Luka Ops terbuka 6cm dan
-Metronidazole tab 3x1
basah -Asam mefenamat tab
O : TD : 130/90 mmHg 3x1
-Vip Albumin 3x2
N : 72x/ menit
Emebion tab 2x1
P : 18 x / menit
S : 36,7C
A : Dehisensi Luka Post Ops + Infeksi

Luka Ops
2/12/2016 S : KU baik, kesadaran Compos - Ganti Verban
- Nabacetin
Mentis, Luka Ops terbuka 6cm dan
basah
O : TD : 130/90 mmHg
N : 72x/ menit
P : 18 x / menit
S : 36,7C
A : Dehisensi Luka Post Ops + Infeksi
Luka Ops
P : Rencana Operasi( Repair Hecting )
S: keluhan nyeri perut post ops repair, - Injeksi Ceftriaxone
- Injeksi Metronidazole
03/12/2016 KU Baik, kesadaran Compos Mentis

6
O : TD : 100/70 mmHg
N : 72 x/ menit
P : 18 x/ menit
S : 36,5 oC
A : Post Repair

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pendahuluan

Infeksi saluran kemih (ISK) sering ditemukan pada kehamilan, dengan

prevalensi rerata sekitar 10%.1 Infeksi saluran kemih dibagi menjadi ISK bagian

bawah (bakteriuria asimtomatik, sistitis akut), dan ISK bagian atas (pielonefritis).

ISK tidak bergejala (bakteriuria asimtomatik) dan ISK bergejala (sistitis akut dan

pielonefritis) masing-masing ditemukan pada 2-13% dan 1-2% ibu hamil.2 Di

Indonesia, prevalensi bakteriuria asim-tomatik pada kehamilan adalah 7,3%. 1

Penelitian yang dilakukan terhadap wanita hamil

menunjukanbahwasekitar7% memberikan hitungbakteridalam urine>100.000cfu

(colonyformingunit/ml).Sedangkan pada wanitayang tidak hamil

7
frekuensinyaberkisar antara 2,8%-22%.Infeksinyataterjadipada kehamilan

antara26hingga36 minggudengan puncakinsidenpadakehamilan30-32minggu. 2

Perubahan fisiologis pada saluran kemih sepanjang kehamilan

meningkatkan risiko ISK. Pengaruh hormone progesteron dan obstruksi oleh

uterus menyebabkan dilatasi sistem pelviokalises dan ureter, serta peningkatan

refluks vesikoureter. Tekanan oleh kepala janin juga menghambat drainase darah

dan limfe dari dasar vesika, sehingga daerahtersebut mengalami edema dan rentan

terhadap trauma.1

ISK telah diketahui berhubungan dengan kesudahan kehamilan yang

buruk, seperti persalinan preterm, pertumbuhan janin terhambat, bahkan janin

lahir mati (stillbirth). Komplikasi ini bukan hanya akibat ISK bergejala, tetapi

bakteriuria asimtomatik juga dapat menyebabkan komplikasi tersebut.1 Bakteri

patogen dari vesika dapat membentuk koloni pada saluran genitalia bagian bawah,

dan menyebabkan korioamnionitis.Oleh sebab itu, sangat penting bagi seorang

dokter dapat melakukan upaya skrining, diagnosis, serta pemberian terapi yang

sesuai pada ibu hamil dengan ISK.1

B. Definisi

Infeksi saluran kemih merupakan infeksi yang paling mengganggu. Ini

terjadi karena saluran kemih berdilatasi akibat dilatasi otot-otot ureter dan

kandung kemih sewaktu hamil menyebabkan statis urin.3

Bakteriuria asimtomatik umumnya didefinisikan denganadanya lebih dari

100.000 organisme/mL di 2 sampel urin berturut-turut tanpa adanya gejala yang

dirasakan.4

8
Bakteriuriaasimtomatikadalah kolonisasi bakterialyang persisten

padatraktusurinarius tanpagejalasimtomatik/klinis atau biasa didefinisikan sebagai

bakteri dalam urin tanpa disertai gejala. Hal ini merujuk pada bakteri yang

persisten dan secara aktif bermultiplikasi di dalam saluran kemih tanpa

menimbulkan gejala.6,7,8

B. Epidemiologi
Prevalensi Bakteriuria asimtomatik pada wanita tidak hamil adalah kira-kira

2%. Prevalensi ini pada kehamilan meningkat menjadi 3-8% karena perubahan

fisiologik, dan 30% wanita hamil yang mengalami Bakteriuria asimtomatik akan

mengalami infeksi saluran kemih simtomatik. Jika infeksi ini tidak diobati, wanita

ini mempunyai kemungkinan sedikit lebih besar untuk mendapat hipertensi pada

kehamilan dan resiko melahirkan bayi dengan berat badan rendah menjadi dua

kali lipat. 3
Bakteriuria asimtomatik terjadi kira-kira 2-12% dari semua wanita hamil.

Lebih sering terjadi pada wanita kulit hitam, pasien multipara dengan bawaan sel

bulan sabit, tetapi bisa juga dijumpai pada wanita dengan diabetes, kegemukan,

riwayat infeksi saluran , anomali saluran kencing, batu ginjal, dan kateterisasi

uretra. Kira-kira seperempat wanita yang menderita bakteriuria asimtomatik

kemudiannya akan menjadi penderita infeksi saluran kencing simtomatik.

Bakteriuria bisa merupakan manifestasi dari penyakit ginjal kronik dan disertai

oleh insidensi yang tinggi dari mortalitas perinatal dan bayi berat badan lahir

rendah. Kenaikan risiko dari partus prematurus bisa dikaitkan dengan pelepasan

prostaglandin dari dinding sel bakteri. 9

9
Prevalensi bakteriuria asimtomatik adalah5%sampai 10%padawanitahamil.

Frekuensi bakteriuria tanpa gejala kira-kra 2-10% dan dipengaruhi oleh paritas, ras,

sosioekonomi wanita hamil tersebut. Di Amerika Serikat paling tinggi ditemukan

pada wanita Negro. Di RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, frekuensi bakteriuria

tanpa gejala dalam kehamilan sangat tinggi, yaitu 25%.2,10

Menurut Cardozo et al (1993) terdapat dua puncak prevalensi ISK pada wanita

yang pertama terjadi pada kelompok usia 30-40 tahun dan yang kedua pada

kelompok usia antara 55 da 65 tahun

Beberapa peneliti mendapatkan adanya hubungan kejadian bakteriuria ini

dengan peningkatan kejadian anemia dalam kehamilan, persalinan premature,

gangguan pertumbuhan janin dan preeklamsia. Oleh karena itu pada wanita hamil

dengan bakteriuria harus diobati dengan seksama sampai air kemih bebas dari bakteri

yang dibuktikan dengan pemeriksaan beberapa kali.10

C. Etiologi
Organisme yang dapat menyebabkan infeksi kemih adalah organisme yang

berasal dari flora perineum

normal.Padasebuahstudiyangmelibatkan4290sampelkultur

urinpositifdilaporkanbahwabakteripatogenterseringpada

ISKadalahEscherichiacoli,diikutidengan Klebsiella pneumoniae. 85%-90%

infeksi saluran kemih disebabkan oleh E. koli dan Klebsiela Enterobakter. Jarang

sekali disebabkan oleh bakteri anaerob. 8,11,12,13

D. Mikrobiologi

Bakteriuria asimtomatis merupakan bentuk infeksi carrier karena tidak

disertai gejala klinis bagi ibu hamil, tetapi dapat menimbulkan infeksi

10
berkelanjutan secara asenden. Sejumlah bakteri yang dapat menimbulkan infeksi

urinarius asimtomatis wanita diantaranya:14

1. Escherichia coli 80-90%

2. Proteus mirabilis

3. Klebsiella pneumonia

4. Streptokokus hemolitikus grup B

Penentu virulensi tertentu dalam strain uropatogenik dari E.coli yang

berhubungan dengan infeksi invasif dan pielonefritis pada kehamilan. Hal ini

termasuk toxin dan adhesi, villi atau fimbria yang memungkinkan kepatuhan

terhadap sel uroepithelial dan mencegah bakteri dari traktus urinarius, untuk

bermultiplikasi dan menginvasi jaringan. Frekuensi virulensi terkait dengan faktor

penentu yang lebih rendah pada E.coli berhubungan dengan bakteriuria

asimtomatik dibandingkan dengan pielonefritis. Hanya 22% dari strain E.coli

yang diisolasi dari wanita dengan bakteriuria asimtomatik memiliki kapasitas

untuk sel uroepitelial dibandingkan dengan 75% pada kelompok perempuan yang

mengalami pielonefritis akut. Penanda tersering berhubungan dengan progresifitas

untuk menjadi pielonefritis. Meskipun diusulkan saran untuk mengidentifikasi

kelompok wanita yang memiliki risiko invasiv, skrining untuk strain virulensi

masih hanya sebatas teoritis.15

Streptokokus grup B (streptococcus agalactiae) yang diisolasi dari urin ibu

hamil, telah dilaporkan berhubungan dengan rupturnya selaput membrane

sebelum kelahiran, persalinan prematur dan sepsis neonatal. Salah satu uji coba

secara acak antara pengobatan streptokokus grup B dengan penisilin ditemukan

11
adanya penurunan pecahnya membran sebelum kelahiran dan kelahiran prematur

yang diberi pengobatan. Dalam penelitian ini, perempuan akan dilibatkan jika

ditemukan jumlah koloni streptokokus grup B yang diisolasi dari urinnya,

menunjukkan adanya penurunan dari laporan sebelumnya untuk bakteriuria

asimtomatik (105 koloni unit (cfu)/mL) mungkin penting untuk organism ini.

Akibat adanya kolonisasi di vagina, wanita dengan bakteriuria streptokokus grup

B pada kehamilan harus mendapatkan perawatan yang tepat pada saat didiagnosis

serta profilaksis intrapartum untuk mencegah infeksi neonatal.15

12
Organisme anaerobik dan mikroorganisme lainnya telah diidentifikasi dalam

urin dari presentasi besar pada wanita hamil tetapi hasil signifikan dari organism

yang diisolasi dari urin dan hasilnya untuk perinatal tidakk diketahui. Saat ini,

tidak ada bukti untuk secara ruitn memeriksa urin untuk organism ini. 15

E. Patofisiologi

Pada kehamilan, terjadi perubahan fisiologik dan struktur traktus urinarius,

berupa pelebaran kalises, pelvis ginjal dan ureter di sebelah atas tulang pelvis.

Kapasitas ureter yang di luar kehamilan sekitar 2 - 4 ml akan meningkat sampai

50 ml atau lebih selama kehamilan, kapasitas kandung kemih juga meningkat

sampai 2 kali lipat pada kehamilan aterm. Pelebaran tersebut terjadi akibat

berkurangnya tonus otot polos traktus urinarius akibat kerja progesteron dan

kompresi ureter akibat pembesaran uterus, sehingga mekanisme pengosongan

vesika urinaria tidak sempurna dan terjadi stasis urine. Hal ini menyebabkan

mudahnya bakteri berkembang biak dengan cepat pada vesika urinaria. Perubahan

traktus urinarius pada wanita hamil di mulai kehamilan 7 minggu dan keadaan

menjadi normal setelah 8 minggu kelahiran. Uretra pada wanita relatif pendek,

panjangnya antara 3-4 cm dan letaknya di ujung depan atas vagina di mana

terdapat kolonisasi bakteri dari traktus gastrointestinal. Bakteri tersebut

(uropatogens) umumnya dapat diisolasi pada bakteriuria asimtomatik, sistitis dan

pielonefritis. Escherichia coli merupakan bakteri patogen utama pada 65% sampai

80% kasus, bakteri lainnya Klebsiella pneumoniae, Proteus mirabilis,

Enterobacter species, Staphylocooccus saprophyticus dan Streptoccus grup B.16

F. Kriteria Diagnosis

13
1. Diagnosis ISK pada kehamilan

Pemeriksaan yang paling ideal untuk deteksi adanya ISK adalah kultur

urin. Untuk menegakkan diagnosis ISK

bergejala(sistitisakutdanpielonefritis),nilaiambangbatas

yangdigunakanadalah103

colonyformingunits/ml(cfu/mL).UntukISKtakbergejala(bakteriuriaasimtomatik)

,nilai ambangbatasyangdigunakanadalah105cfu/mL.

Dalamdiagnosisbakteriuriaasimtomatikpadaperempuan,termasuk ibu hamil,

harus digunakan sampel yang berasal dari urin

pancartengahyangdiambilsecarabersih(midstream,clean- catch urine

sample).Masalahyangadadinegarayang sedang berkembang umumnya adalah

layanan kesehatan dengan fasilitas yang terbatas. Pada layanan tersebut,

umumnyafasilitasuntukkultururintidakada.Masalahlain dalam penggunaan

kultur urin sebagai teknik skrining

bakteriuriaasimtomatikadalahbiayayangcukuptinggidan

waktuyangcukuplamauntukmendapatkanhasil.12

DiagnosisISKdapatditegakkandenganmetodetidak langsung untuk

deteksi bakteri atau hasil reaksi inflamasi.

Metodeyangseringdipakaiadalahtescelupurin,yangdapat digunakan untuk

deteksi nitrit, esterase leukosit, protein, dandarahdidalamurin. 12

Telah dilakukan berbagai penelitian terhadap nilai diagnostik uji nitrit

dengan tes celup urin dalam deteksi bakteriuria asimtomatik. Hasil penelitian

tersebut sangat beragam, dengan didapatkannya sensitivitas, spesifisitas,

14
nilaiprediksipositif,dannilaiprediksinegatifujinitritsecara berturut-

turutberkisarantara15-57%,78-99%,50-94%,dan 23-97%.

Hasiltelaahsistematikterhadapbeberapapenelitianmenyimpulkanbahwatescelupu

rintidakcukupsensitif untukdeteksibakteriuriaasimtomatikpadaibuhamil.Studi

lainmenemukanbahwakombinasiujiesteraseleukositdan uji nitrit memiliki

akurasi yang lebih rendah dibandingkan kultur urin dan pemeriksaan tersebut

memang sebaiknya hanya dilakukan pada pelayanan kesehatan yang tidak

memilikifasilitaskultururin.Idealnya,semuaujinitritpositif untuk diagnosis ISK

pada kehamilan harus dilanjutkan

denganpemeriksaankultururinpancartengahyangdiambil

secarabersih.MengingatkomplikasiakibatISKpada

kehamilan,makapadapelayanankesehatanyangsarananya terbatas untuk dapat

melakukan kultur urin, hasil uji nitrit sudah dapat dijadikan dasar diagnosis

dan terapi ISK pada kehamilan.12

Adapun diagnosis bakteriuria asimtomatik apabila ditemukan:12

a. 100.000 bakteri/mL dengan <20 sel darah putih, umumnya

menunjukkan bakteriuria asimtomatik.


b. A hitung >100.000, dengan 2 atau lebih organisme, menunjukkan

kontaminasi daripada bakteriuria.


1) Adapun

metodepengambilanspesimenurinpancartengahyangdiambilsecaraber

sih

Untukpemeriksaankultururindantescelupurin,sampel

urinharusdiambildenganteknikpancartengahyangdiambil

15
secarabersihuntukmenghindarikontaminasi.Khususuntuk

pemeriksaanujinitritdengantescelupurin,sampelurinyang digunakan harus

berasal dari urin pertama pada pagi hari segera sesudah pasien bangun

tidur. Kalau pemeriksaan

bukanpagihari,ibudimintauntukmenahanbuangairkecil

minimal2jamsebelumurindiambiluntukdiperiksa.Inipenting diingat karena

diperlukan waktu yang cukup untuk

berubahnyanitratmenjadinitritdidalamkandungkemih. 12

Tahapanpengambilansampelurinpancartengahyangdiambil

secarabersihadalahsebagaiberikut : 12

a. Cucilabiadanperineumdenganairdansabun.
b. Dudukataujongkokditoiletdenganposisikaki

mengangkang,bukalabiadenganduajari.
c. Gunakankapas,kasa,atautisuyangsudahdibasahi

denganairsterilataudesinfeksitingkattinggi(DTT,air yang sudah dimasak

selama minimal 30 menit) untuk

membersihkandaerahsekitarorifisiumuretradanbagian

dalamlabia.Kasa/kapas/tisudiusapkansatukalisajadari

arahorifisiumuretrakearahvagina.Biladiperlukan,harus digunakan

kasa/kapas/tisu yang baru dengan arah

pengusapanyangsama(Gambar1a).
d. Keluarkansedikitkemihtanpaditampung,lalutahan

sesaatsebelummelanjutkanberkemihkedalamwadah urin yang diletakkan

sedekat mungkin dengan muara

uretratanpamenyentuhdaerahgenitalia(Gambar1b&1c).Pastikanwadahurin

16
minimalterisiseparuhnya.
e. Setelahwadahurinterisi,sisihkanwadahtersebutdan selesaikanberkemih.

Gambar1.Pengambilansampelurinpancartengahyangdiambilsecarabersih.
(Dikutip dari kepustakaan 11)

(a) Pasien membersihkan vulva dengan kapas/kasa/tisu steril/DTT dari arah


orifisium uretra ke vagina. (b) Pasien
membukalabiadenganduajarisebelummengeluarkansedikiturintanpaditampung.
(c)Menampung urin pada
wadahyangdiletakkansedekatmungkindenganmuarauretratanpamenyentuhdaerahge
nitalia

2) Pemeriksaan Bakteriologi

Pemeriksaan mikroskopislangsung dilakukan terhadap sediaanhapus

yangdibuat darisampelurine yang tidak disentrifugasi,dipulas dengan

pewarnaanGram dandihitungjumlahkuman

yangtampakperlapanganpandangan besar (LPB)sertadicatatadaatau

tidaknyalekosit. PewarnaanGram adalahmetode pemeriksaan

penyaringyang cepatdan sering dilakukan

denganhasilsensitivitas90%dansepesifisitas88%. Bilamana pada

pemeriksaan mikroskopikurinedarisubyek wanita didapatkan banyak sel

17
epitel skuamosadengan floranormalvaginamakasampelurinetersebut

menggambarkanadanyakontaminasi. 1

Biakan kuman carakonvensional untuk hitung koloni dilakukan

secara kuantitatif untuk biakan ini, 0,00l ml urin yang tidak di

sentrifugasi diambil dengan memakai sengkelit baku(1/1000)

ataudengancara pengenceran urin terlebih dahulu dengan

bufferedwaterdan kemudian ditanamkan pada lempengagar darahdomba

danMacConkey. Urine padalempeng agartersebutdisebar

meratadenganspatelgelasdanlempengagar itukemudian diinkubasikan

0
padasuhu37 C selama18-20jam.Koloni-koloniyang tumbuh dihitung dan

dicatat.Identifikasi koloni-koloni kuman dilakukan menurut metode baku

yang berlaku.2

Interpretasihitungkolonibakteri: jikapadalempengagardarahdidapatkan

jumlah koloni bakteri <10, kemungkinan besar ini karena suatu

kontaminasi dan identifikasi bakteritidakdilakukan.Dalam halinisediaan

pulasan Gram urin harus memberikan

hasilkumanGramnegatif.Jikaterdapat bakteri pada sediaanGrammaka

lempengagar diinkubasi kembaliuntuk semalamkarena mungkinbakteri

tumbuh lambat. Jumlahkolonipada lempeng agar di antara 10-100 juga

tidak dianggap suatubakteriuri,melainkan mungkin karena pengambilan

dan penanganan sampel yang tidakbetul.Hitungkoloni kumanyang

menghasilkan jumlah kuman pada lempeng agar>100 dianggap

18
bermaknasebagai bakteriuriadan organisme yang tumbuh akan

diidentifikasi.2

Biakan kuman dapat juga dilakukan dengan

caraFilterPaperDilutionsystemdari Novel.Caranyadenganmenggunakan3

lapis filteryang dibawahnyaadalah agaruntuk pembiakan kuman.Caraini

dapatuntuk mendeteksikuman Gram positif dan Gram negatifdengan

hasilyang memuaskan.Untuk kuman Gram negatifhasilnyadibandingkan

dengan kulturkonvensional, ternyatasensitivitasnya98,2%

danspesifisitasnya87,4%.SedangkanuntukkumanGrampositif,

sensitivitasnya91,2%dan spesifisitasnya99,2%.2

3) Pemeriksaan Lekosit dalam Urin


Sepuluh ml sampel urin yang telah dikocok meratadan

disentrifugasi dengan kecepatan1500-2000 rpmselama5menit. Cairan

yang terdapatdi atastabung pemusing dibuang,ditinggalkan

endapannya.Satu tetes dari endapan diletakkan di ataskacaobjek, kemudian

ditutup dengan kaca penutup. Pertama kali dilihat di bawah

mikroskop dengan lapangan pandang kecil (LPK), kemudiandengan

lapangan pandang besar (LPB). Penilaian dilakukan dengan melihat

beberapakalidalam beberapaLapangan Pandang Besar (LPB). Laporan

didasarkan padasedikitnya 3LPB yangdianggapdapat mewakili

sediaan.Piuriaterjadi biladijumpai lebihdari 5lekosit/LPB. 2


4) Tehnik Pemeriksaan Lain

Teknikpemeriksaanbarudengan teknik penyaring

cepatyaituUricultdipslidepaddle (Orion

19
Diagnostica,Helsinki,Finland),Cult-Dip Plus (Merck, Gemany), Uristat

test (ShieldsDiagnosticsLtd,Scotland) dan Bioluminescenceassay.

Walaupun dengan cepatdapatmendiagnosis bakteriuria,namum

masihadakekurangan dan tidak memenuhi tes

penyaringyangbaik.Teslainyaitu Uriscreen (Diatech

DiagnosticsLtd,KiryatWeizmann,

NessZiona,Israel),denganenzymaticrapid screening test ini dalam

beberapa menit hasilnya dapatdibaca.Hasilnyadibandingkan dengan

biakan positif. TernyataUriscreen

mempunyaisensitivitas100%danspesifisitas 81%,Cara inibaik

untukscreeningsampel dalamjumlahyangbesar. 2

2. Diagnosis persalinan premature


Sering terjadi kesulitan dalam mendiagnosa ancaman persalinan

premature. Tidak jarang kontraksi yang timbul selama kehamilan tidak

benar-benar merupakan ancaman proses persalinan.


Beberapa kriteria yang dapat dipakai sebagai diagnosis ancaman

persalinan preterm yaitu (1) kontraksi yang berulang sedikitnya setiap 7-8

menit sekali atau 2-3 kali dalam 10 menit (2) adanya nyeri pada punggung

bawah LBP (low back pain) (3) bercak pendarahan (4)perasaan menekan pada

daerah serviks (5) pemeriksaan servks menunjukkan telah terjadi pembukaan

setidaknya 2 cm dan penipisan 50-80% (6) presentasi janin rendah sampai

mencapai spina ischiadica (7)selaput ketuban pecah dapat merupakan tanda

awal terjadinya persalinan preterm (8) dimana hal-hal tersebut diatas terjadi

pada usia kehamilan 22-37 minggu.

20
G. Penatalaksanaan
1. ISK pada kehamilan

SemuaISKpadakehamilan,baikbergejalamaupuntidak,

harusditerapi.Olehsebabitu,skriningbakteriuria

asimtomatikpadakehamilandilakukanminimalsatukalipada

setiaptrimester.PilihanterapipadaISKkehamilansertalama terapidapatdilihatpada

Tabel2.Nitrofurantoinharus

dihindaripadatrimesterketigakarenaberisikomenyebabkan

anemiahemolitikpadaneonatus.12

Bakteriuria berespon terhadap terapi empiris dengan salah satu dari

regimen antimikroba yang tercantum pada table 2. Meskipun pemilihan

dapat didasarkan pada pemeriksaan sensitivitas in vitro, namun berdasarkan

pengalaman kami yang cukup banyak, terapi oral empiris selama 10 hari

dengan makrokristal nitrofurantoin, 100 mg sebelum tidur malam, biasanya

efektif. Lumbiganon dkk., (2009) melaporkan hasil memuaskan dengan

nitrofurantoin 100 mg dua kali sehari selama seminggu. Terapi antimikroba

dosis-tunggal juga pernah dilaporkan keberhasilannya untuk bakteriuria.

Peringatan yang penting diketahui adalah bahwa, apapun regimen yang

diberikan, angka kekambuhan adalah sekitar 30%. Hal ini mungkin

menunjukkan infeksi saluran atas yang tersamar dan perlunya terapi yang

21
lebih lama. Untuk kasus yang kambuh, kami memperoleh hasil baik dengan

nitrofurantoin, 100 mg per oral menjelang tidur selama 21 hari (Lucas dan

Cunningham, 1994). Bagi wanita dengan bakteriuria yang sering kambuh,

dapat diberikan terapi supresif sepanjang kehamilan. Kami secara rutin

menggunakan nitrofurantoin, 100 mg per oral menjelang tidur. Meskipun

jarang, obat ini dapat menyebabkan reaksi paru akut yang mereda setelah

obat dihentikan (Boggess dkk., 1996). 8

Tabel 2. Obat Antimikroba Oral untuk terapi Wanita Hamil dengan Bakteriuria

Asimtomatik (Dikutip dari kepustakaan 8,14)

Terapi dosis-tunggal

Amoksisilin 3 g

Ampisilin 2 g

Sefalosporin 2 g

Nitrofurantoin 200 g

Trimetoprim-sulfametoksazol 320/1600 mg

Pemberian 3 hari

Amoksisilin 500 mg 3x sehari

Ampisilin 250 mg 4x sehari

Sefalosporin 250 mg 4x sehari

Siprofloksasin 250 mg 2x sehari

Levofloksasin 250 mg setiap hari

Nitrofurantoin 50 100 mg 4x sehari; 100 mg 2x sehari

Trimetoprim-sulfametoksazol 160/800 mg 2x sehari

22
Lain-lain

Nitrofurantoin 100 mg 4x sehari selama 10 hari

Nitrofurantoin 100 mg 2x sehari selama 7 hari

Nitrofurantoin 100 mg menjelang tidur selama 10 hari

Kegagalan terapi

Nitrofurantoin 100 mg 4x sehari selama 21 hari

Supresi untuk bakteriuria yang persisten atau rekuren

Nitrofurantoin 100 mg menjelang tidur hingga kehamilan selesai

Penelitian lainnya bahwa dengan adanya pengurangan insiden ISK

akut pada bakteriuria asimtomatik maka para ahli menganjurkan untuk

memberikan terapi antibiotik. Beberapa kajian terapi antibiotika untuk bakteriuria

asimtomatik, adalah:12

Nama Obat Dosis Angka Keberhasilan

Amoksilin + asam klavulanat 3 x 500 mg/hari 92%

Amoksilin 4 x 250 mg/hari 80%

Nitrofurantoin 4 x 50-100 mg/hari 72%

Terapi antibiotika untuk pengobatan bakteriuria asimtomatik, biasanya

diberikan untuk jangka waktu 5-7 hari secara oral. Sebagai control hasil

pengobatan, dapat dilakukan pemeriksaan ulangan biakan bakteriologik air

kemih.13

23
2. Persalinan preterm
Beberapa langkah yang dapat dilakukan pada persalinan preterm, terutama

mencegah morbiditas dan mortalitas neonates preterm adalah:17


a. Menghambat proses persalinan preterm dengan pemberian tokolisis
1) Nifedipin

Nifedipin adalah antagonis kalsium diberikan per oral. Dosis 20 mg,

dilanjutkan 10-20 mg, 3-4 kali perhari, disesuaikan dengan aktivitas

uterus sampai jam. Dosis maksimal 60mg/hari, komplikasi dapat

adalah sakit kepala dan hipotensi

2) COX (cyclo-oxygenase)-2 inhibitors


Indomethacin

Dosis awal 100 mg, dilanjutkan 50 mg per oral setiap 6 jam untuk 8

kali pemberian. Jika dapat menimbulkan oligohidramnion penurunan

blood flow janin. Indometachin direkomendasikan kehamilan >32

rninggu karena dapat mempercepat penutupan duktus arteriosus

(PDA).

3) Magnesium sulfat

Magnesium sulfat dipakai sebagai tokolitik secara parenteral. Dosis

awal 4-gr IV menit, 1-gram per jam tergantung dan kontraksi uterus.

Bila terjadi efek toksik, berikan kalsium glukonas 1 gram secara

perlahan-lahan.

4) Atosiban

Atosiban adalah suatu analog bekerja pada reseptor oksitosin dan

vasopresin.I8 Dosis 6,75mg dalam satu menit, 18mg/jam selama 3 jam

infus, kemudian jam 45 jam. Dosis maksimal 330mg.

24
5) Beta2-sympathomimetics

Saat ini sudah banyak ditinggalkan. Preparat biasa dipakai adalah

ritodrine, terbutaline,salbutamol, isoxsuprine, fenoterol and

hexoprenaline.

Contoh: Ritodrin (Yutopar)

Dosis: 50 mg dalam 500 ml larutan glukosa 5%. Dimulai dengan 10

tetes per menit dan dinaikkan 5 tetes setiap 10 menit sampai kontraksi

uterus hilang. Infus harus dilanjutkan 12 48 setelah kontraksi

hilang. Selanjutnya diberikan dosis

pemeliharaan satu tablet (10 mg) setiap 8 jam setelah makan.Nadi ibu,

tekanan darah dan denyut jantung janin harusdimonitor selama

pengobatan. Kontra indikasi pemberianadalah penyakit jantung pada

ibu, hipertensi atau hipotensi,hipertiroidi, diabetes dan perdarahan

antepartum.Efek samping yang dapat terjadi pada ibu adalah

palpitasi,rasa panas pada muka (flushing), mual, sakit kepala,

nyeridada, hipotensi, aritmia kordis, edema paru, hiperglikemia dan

hipokalenn. Efek samping pada janin antara lain fetal takhikardia.

Inpoglikemia, hipokalemi, ileus dan hipotensi

6) Progesteron
Progesteron dapat mencegah persalinan preterm. Injeksi alpha-

hi.drax-ffirogesterone caproate menurunkan persalinan preternz

berulang. 250 mg (1 mL) im tiap minggu sampai 37 minggu kehamilan

atau sampai persalinan. Pemberian dimulai 16-21 minggu kehamilan

25
7) Untuk menghambat proses persalinan preterm selain tokolitik, perlu

membatasi aktivitas atau tirah baring


b. Pematangan surfaktan paru janin dengan kotikosteroid

Pemberian kortikosteroid dimaksudkan untuk pematangan surfaktan

paru janin, menurunkan insiden RDS, mencegah perdarahan intraventrikular

yang akhirnya menurunkan kematian neonates. Dianjurkanpada kehamilan

24 34 minggu, namun dapat dipertimbangkansampai 36 minggu.

Pemberian siklus tunggal kortikosteroid adalah:

1) Betametason: 2x 12 mg i.m. dengan jarak pemberian 24 jam


2) Deksametason: 4 x 6 mg i.m. dengan jarak pemberian 12 jam
c. Bila perlu dilakukan pencegahan terhadap infeksi

H. Pencegahan

Sekitar 15% ibu hamil akan mengalami ISK berulang sehingga dibutuhkan

pengobatan ulang dan upaya pencegahan.

Beberapanegarasudahmengeluarkanpanduan untuk pencegahan ISK berulang

dengan antimikroba, baik secara terus-menerus maupun pascasanggama dan

dengan terapinon-antimikrobasepertikonsumsijuscranberry. 12

Pemberikanantibiotikprofilaksissecaraterus-menerus

hanyadianjurkanpadawanitayangsebelumhamilmemiliki riwayat ISK berulang atau

ibu hamil dengan satu episode

ISKyangdisertaidengansalahsatufaktorrisikoberikutini: riwayat ISK sebelumnya,

diabetes, sedang menggunakan obat steroid, dalam kondisi penurunan imunitas

tubuh, penyakitginjalpolikistik,nefropatirefluks,kelainansaluran

kemihkongenital,gangguankandungkemihneuropatikatau adanya batu pada saluran

kemih. 12

26
Antibiotik profilaksis pascasanggama diberikan pada

ibuhamildenganriwayatISKterkaithubunganseksual.Pada kondisi ini, ibu hamil

hanya minum antibiotik setelah

melakukanberhubunganseksual,sehinggaefeksampingobatyangditimbulkanakanleb

ihsedikitbiladibandingkan dengan antibiotik profilaksis yang digunakan secara

terus- menerus.12

Antibiotikprofilaksisyangdapatdigunakansecaraterus

menerussepanjangkehamilanadalahsefaleksinperoralsatu

kalisehari250mgatauamoksisilinperoralsatukalisehari

250mg.Antibiotikyangsamadapatdigunakansebagai

profilaksispascasanggamadengandosisyangsamasebagai dosistunggal. 12

Beberapapenelitianmenunjukkanmanfaatjuscranberry

dalammenurunkankejadianISK.Juscranberrydiperkirakan dapat mencegah adhesi

bakteri patogen, terutama E. coli, pada sel-sel epitel saluran kemih. Jus

cranberrydapat dikonsumsi dengan aman pada kehamilan, tetapi pada beberapa

pasien mungkin dapat muncul efek samping

gastrointestinalsepertimualdanmuntahkarenajusinibersifat asam. 12
I.
Skrining untuk Bakteriuria Asimtomatik

Tidak ada konsensus dalam beberapa literature tentang waktu optimal dan

frekuensi skrining untuk bakteriuria asimtomatik. Sebuah studi prospektif dari

3254 wanita hamil dari Swedia meneliti risiko akuisisi bakteriuria selama

kehamilan. Risiko tertular bakteriuria selama kehamilan meningkat dari 0-8%

pada minggu ke 12 kehamilan, 1-93% pada akhir kehamilan. Para penulis

27
menyimpulkan risiko akuisisi yang tertinggi antara minggu ke 9, 12 dan 16

kehamilan yang merupakan waktu optimal untuk skrining karena pengobatan pada

waktu ini akan medapatkan jumlah bakteriuria bebas selama minggu kehamilan.

Dalam penelitian ini specimen urin diambil antara usia kehamilan 12 dan 16

minggu dan diidentifikasi 80% perempuan yang terkena bakteriuria asimtomatik.

Meskipun banyak penelitian yang menyarankan untuk mengkultur urin pada saat

kunjungan prenatal pertama, dua penelitian terbaru menyimpulkan bahwa urin

harus diperiksa setiap trimester kehamilan untuk meningkatkan tingkat deteksi

bakteriuria asimtomatik. Belum pernah dilakukan pengujian perspektif berulang

selama kehamilan.15

Dengan metode analisi keputusan, skrining dan pengobatan bakteriuria

asimtomatik untuk mencegah pielonefritis telah terbukti efektif untuk biaya

berdasarkan beberapa pertimbangan, tingkat bakteriuria asimtomatik juga kurang

dari 2%. Kedua penelitian dievaluasi dengan tes kultur urin/dipstick tunggal. Tidak

ada biaya untuk pemeriksaan berulang.15

J. Komplikasi

Dampak komplikasinya pada ibu hamil diantaranya; dapat meningkatkan

morbiditas dan mortalitas pada ibu hamil dan komplikasinya untuk janinnya.14

1. Dapat terjadi komplikasi kehamilannya:


a. ketuban pecah dini, persalinan premature.
b. Terjadi infeksi asenden:
Sistitis akut
Komplikasi bakteriuriapada kehamilanberupasistitis,yang

berkisarantara 0,35%-1,3%.Laporan mengenai sistitis pada kehamilan

sangat kurang. Lokalisasi infeksibakterialpadasistitis adalah tractus

28
urinariusbagianbawah.Belum jelaskapan sistitisdapatberlanjutdengan

meningkatnya lahirprematur,lahirberatbadan rendah atau

pielonefritis.Diagnosis padapenderitasistitis dapatditegakkan dengan

adanyakeluhan disuria, hematuria, sering miksi atau merasa tidak enak

padadaerahsuprapubic.Sistitis seringberulang timbul padakehamilan

namun tanpaadanyagejalainfeksi.Pemeriksan urine seringpositif dengan

piuriadan bakteriuria. Yangterbaik adalah biakan urine,sebab10%

sanmpai 15% piuriapadakehamilan terjadi tanpagejalainfeksi.2


Pielonefritis
Padakehamilanterdapatsebanyak1%-2%

pielonefritisakut.Insiden pada populasi bervariasi dan tergantung

padaprevalensi ASB dalam komunitasdanpenderitasecararutin

diberipengobatanpadaASB.Wanitadengan

riwayatpielonefritis,malformasisaluran kemih

ataubatuginjalmeningkatkan risikoterjadinya

pielonefritis.Penelitianprospectivepada 656 wanitadengan

pielonefritis,di antaranya73% terjadi padaantepartum,8%

padaintrapartum dan 19%terjadi padapostpartum..Pada antepartum

9%terjadipadatrimesterpertama, 46%terdapatpadatrimesterkeduadan

45% terdapatpadatrimesterketiga.MenurutHarrisdengan pemeriksaan

penyaring rutin dan pengobatan padaASB dapatmenekan

pielonefritsdari 4%mejadi0,8%.2
Komplikasi pielonefritispadakehamilan terutamadisebabkan

endotoksin yang menyebabkan kerusakanjaringan. Seringkali

secarabersamaanterjadi kerusakan pada beberapaorgan.Sejumlah 10%

29
- 15% pielonefritis pada kehamilan denganbakteriemia,manifestasike

septicshock.Kehamilan dengansepsisdandemam tinggimenyebabkan

cardiacoutputturun.2
Insufisiensipernafasan terdapat2%-8%

padapielonefritispadakehamilan,hal ini disebabkan oleh karenatoksin

dari bakteri dapat mengubah permeabilitas membran alveoli-kapiler

danmenyebabkanedemapada paru-paru. Gejalaklinisberupasesaknafas,

nafascepat,kekurangan oksigen, edemaparu atau respiratory distress

syndrome, denyut nadimeningkat110x/menit atau lebih,suhu badan

meningkatlebih dari 39C,nafascepat lebih28x/menit.2


Sepsis
2. Pada masa postpartum dapat terjadi:14
a. Endometritis akut-menahun.
b. Komplikasi endometritisnya dalam bentuk:
Pelvic imflammatory diseases
Pembentukan abses d parametrium, ovarium, kavum

dauglas, dan peritonitis.


c. Syok sepsis-gangguan fungsi alat vital terjadi sampai dengan

kematiannya.
3. Komplikasi terhadap bayinya.
a. Infeksi neonatorum
b. Meningitis
c. sepsis nonatorum sampai kematian dan meninggalkan gejala sisa sistem

saraf pusat.
K. Pembahasan

Pada laporan kasus berikut diajukan suatu kasus seorang wanita berusia 36

tahun dengan diagnosa ISK. Diagnosa ISK pada kehamilan ditegakkan

berdasarkan hasil anamnesa, pemeriksaan fisik obstetri, serta pemeriksaan

penunjang berupa pemeriksaan urin.

30
Berdasarkan anamnesis pasien umur 6 tahun datang dengan keluhan utama

keluar darah disertai lendir dari jalan lahir. Keluar darah disertai lendir dari jalan

lahir sejak 4 jam SMRS, air-air (-). Keluhan disertai nyeri perut tembus

belakang sejak 1 hari SMRS dan memberat sejak 13 jam SMRS. Demam (-),

nyeri saat kencing (-), kencing berpasir(-), kencing batu (-), keputihan (-).

Berdasarkan teori menurut Cardozo et al (1993) terdapat dua puncak prevalensi ISK

pada wanita yang pertama terjadi pada kelompok usia 30-40 tahun dan yang kedua

pada kelompok usia antara 55 da 65 tahun. ISK Bakteriuriaasimtomatikadalah

kolonisasi bakterialyang persisten padatraktusurinarius

tanpagejalasimtomatik/klinis atau biasa didefinisikan sebagai bakteri dalam urin

tanpa disertai gejala. Hal ini merujuk pada bakteri yang persisten dan secara aktif

bermultiplikasi di dalam saluran kemih tanpa menimbulkan gejala. Pada

pemeriksaan penunjang yaitu Pemeriksaan urin pada pasien ini di dapatkan

adanya bakteri + serta albumin +1 pada urin. Pada teori dinyatakan bahwa

UntukISKtakbergejala(bakteriuriaasimtomatik),Nilai

ambangbatasyangdigunakanadalah105cfu/mL.

Dalamdiagnosisbakteriuriaasimtomatikpadaperempuan,termasuk ibu hamil, harus

digunakan sampel yang berasal dari urin

pancartengahyangdiambilsecarabersih(midstream,clean- catch urine sample.

DiagnosisISK juga dapatditegakkandenganmetodetidak langsung untuk deteksi

bakteri atau hasil reaksi inflamasi.

Metodeyangseringdipakaiadalahtescelupurin,yangdapat digunakan untuk deteksi

nitrit, esterase leukosit, protein, dandarahdidalamurin.

31
Berdasarkan anamnesis hari pertama haid terakhir adalah bulan Mei 2016

dan taksiran persalinan bulan Februari 2017 . jadi usia kehamilan pasien adalah

26-27 minggu dimana. Menurut Penelitian yang dilakukan terhadap wanita hamil

menunjukanInfeksinyataterjadipada kehamilan antara26hingga36 minggudengan

puncakinsidenpadakehamilan30-32minggu. Perubahan fisiologis pada saluran

kemih sepanjang kehamilan meningkatkan risiko ISK. Pengaruh hormone

progesteron dan obstruksi oleh uterus menyebabkan dilatasi sistem pelviokalises

dan ureter, serta peningkatan refluks vesikoureter. Tekanan oleh kepala janin juga

menghambat drainase darah dan limfe dari dasar vesika, sehingga daerah tersebut

mengalami edema dan rentan terhadap trauma.

Penatalaksanaan pada pasien ini adalah pemberian terapi cairan IVFD RL

18 tpm, pemberian antibiotik berupa InjeksiCefotaxim 1 gr /12 jam/

IV.Berdasarkan teori penatalaksanaan pada ISK asimtomatik pada kehamilan

adalah

Terapi dosis-tunggal

Amoksisilin 3 g

Ampisilin 2 g

Sefalosporin 2 g

Nitrofurantoin 200 g

Trimetoprim-sulfametoksazol 320/1600 mg

Pemberian 3 hari

Amoksisilin 500 mg 3x sehari

Ampisilin 250 mg 4x sehari

Sefalosporin 250 mg 4x sehari

32
Siprofloksasin 250 mg 2x sehari

Levofloksasin 250 mg setiap hari

Nitrofurantoin 50 100 mg 4x sehari; 100 mg 2x sehari

Trimetoprim-sulfametoksazol 160/800 mg 2x sehari

Lain-lain

Nitrofurantoin 100 mg 4x sehari selama 10 hari

Nitrofurantoin 100 mg 2x sehari selama 7 hari

Nitrofurantoin 100 mg menjelang tidur selama 10 hari

Kegagalan terapi

Nitrofurantoin 100 mg 4x sehari selama 21 hari

Supresi untuk bakteriuria yang persisten atau rekuren

Nitrofurantoin 100 mg menjelang tidur hingga kehamilan selesai

Salah satu komplikasi dari isk pada kehamilan adalah persalinan premature.

Karena usai kehamilan pada pasien masih 26-27 minggu maka perlu

dipertahankan sehingga diberikan Injeksi dexametason amp/ 6 jam/IM dan

Nifedipin 3x1. Berdasarkan teori Beberapa langkah yang dapat dilakukan pada

persalinan preterm, terutama mencegah morbiditas dan mortalitas neonates preterm

adalah: Menghambat proses persalinan preterm dengan pemberian tokolisis berupa

Nifedipin. Nifedipin adalah antagonis kalsium diberikan per oral. Dosis 20 mg,

dilanjutkan 10-20 mg, 3-4 kali perhari, disesuaikan dengan aktivitas uterus sampai

jam. Dosis maksimal 60mg/hari, komplikasi dapat adalah sakit kepala dan

hipotensi. Pematangan surfaktan paru janin dengan kotikosteroid. Pemberian

kortikosteroid dimaksudkan untuk pematangan surfaktan paru janin, menurunkan

insiden RDS, mencegah perdarahan intraventrikular yang akhirnya menurunkan

33
kematian neonates. Dianjurkan pada kehamilan 24 34 minggu, namun dapat

dipertimbangkan sampai 36 minggu. Pemberian siklus tunggal kortikosteroid

adalah: Betametason: 2x 12 mg i.m. dengan jarak pemberian 24 jam atau

Deksametason: 4 x 6 mg i.m. dengan jarak pemberian 12 jam

DAFTAR PUSTAKA

1. Ocvianty, D. Fernando, D. Tata laksana & pencegahan infeksi saluran kemih

pada kehamilan. Artikel Pengembangan Pendidikan Berkelanjutan Volume

62. 2012.
2. Boekitwetan, P. Komplikasi bakteriuria padakehamilan. Jurnal Kedokteran

Trisakti Volume 19 No. 389. Jakarta. 2000.


3. Lkwellyn, D.J. Dasar-dasar obstetri dan ginekologi edisi 6. Jakarta. 2002.
4. Johnson, E.K. Urinary tract infections in pregnancy. 2016
5. Southy Australian Maternal & Neonatal Clinical Network. Urinary tract

infection in pregnancy. South Australian Perinatal Practice Guideline. 2010


6. Boekitwetan, P. Komplikasi bakteriuria padakehamilan. Jurnal Kedokteran

Trisakti Volume 19 No. 389. Jakarta. 2000


7. Sinclair, C. Buku saku kebidanan. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2010
8. Cuningham, Lenovo, Bloom, Hauth. Rouse, Spong. Obstetri williams

volume 2 edisi 23. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2013


9. William F. Rayburn, Carey Christopher. Obstetri dan Ginekologi. Penerbit

Widya Medika . Jakarta. 2001


10. Prawirhardjo, S. Ilmu kandungan edisi ketiga. PT. Bina Pustaka Sarwono

Prawirohardjo. Jakarta. 2005


11. Andrews, G. Buku ajar kesehatan reproduksi wanita edisi 2.Penerbit Buku

Kedokteran EGC. 2010.


12. Ocvianty, D. Fernando, D. Tata laksana & pencegahan infeksi saluran kemih

pada kehamilan. Artikel Pengembangan Pendidikan Berkelanjutan Volume

62. 2012.

34
13. Saifuddin, A.B. Adriaansz, G. Wiknjosastro, H.G. Pelayanan kesehatan

maternal & neonatal edisi 1. Tridasa Printer. Jakarta. 2006


14. Manuaba, Manuaba Chandranita. Pengantar Kuliah Obstetri.Penerbit Buku

Kedokteran EGC. 2007.


15. Schnarr, J. Smaill, E. Asymptomatic bacteriuria and symptomatic urinary

tract infections in pregnancy. European Journal of Clinical Investigation

Volume 38. 2008.


16. Wardhilah, R. Bakteriuria asimtomatik pada kehamilan. Fakultas Kedokteran

Universitas Riau. 2013.


17. Himpunan Kedokteran fetomaternal POGI, panduan pengelolaan persalinan

preterm Nasional. Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI. Surabaya.

2005

35