Anda di halaman 1dari 6

UJIAN TENGAH SEMESTER

PSIKOLOGI FAAL

HUBUNGAN OTAK DAN HORMON


YANG BERPERAN DALAM ALTRUISME

Dibuat Oleh:

JOVITA ELLORA 502014020


CINDY ARLINDA 502014023
STEPHANIE HOLLINA
502014036

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
JAKARTA
2014

Bagian Otak dan Hormon yang berperan dalam Altruisme

Definisi Altruisme

Kata altruisme berasal dari bahasa Italia yaitu altrui yang artinya Orang lain. Istilah
altruisme ini dikenal pada tahun 1851 oleh August Comte yang merujuk pada kebajikan.
Altruisme itu sendiri adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa
memperhatikan diri sendiri. Elemen yang terpenting di dalam altruisme adalah mementingkan
kesejahteraan. Tidak hanya itu tetapi ada beberapa aliran filsafat yang menilai lain tentang
altruisme, seperti Objektivisme berpendapat bahwa altruisme adalah suatu keburukan, altruisme
adalah lawan dari sifat egois yang mementingkan diri sendiri.

Tentu ada penjelasan lain dari berbagai bidang ilmu sehubungan dengan altruisme,
misalnya bidang neuroscience menjelaskan bahwa otak kita memiliki bagian yang disebut
reward centre, dimana bagian ini aktif ketika kita melakukan suatu tindakan altruistik
( Hinterthuer). Dengan kata lain, kita mendapatkan kesenangan karena membantu orang lain
Altruisme dibedakan dengan perasaan loyalitas dan kewajiban. Altruisme memusatkan
perhatian pada motivasi untuk membantu orang lain dan keinginan untuk melakukan kebaikan
tanpa memperhatikan ganjaran, sementara kewajiban memusatkan perhatian pada tuntutan moral
dari individu tertentu, seperti Tuhan, raja, organisasi khusus, seperti pemerintah, atau konsep
abstrak, seperti patriotisme, dsb

Altruisme merupakan sikap yang mengutamakan kepentingan orang lain dibanding


kepentingan pribadi dan memusatkan perhatian pada motivasi untuk membantu orang lain
tanpa memikirkan timbal baliknya ( imbalan). Dapat di artikan juga bahwa altruisme adalah
tindakan berkorban untuk menyejahterakan orang lain tanpa menghiraukan balasan sosial
maupun materi bagi dirinya sendiri. Dengan pengertian yang lebih sederhana, altruisme dapat
disamakan dengan menolong orang lain. Dengan demikian begitu baiknya konsep altruisme jika
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, apakah konsep altruisme juga dapat diterapkan
dalam paham agama tertentu, sampai harus mengorbankan diri orang lain selain dirinya sendiri.
Namun, bagaimana altruisme bekerja dalam otak manusia masih sulit dijelaskan. Saat manusia
mengabaikan egonya, bagian otak yang memproses penghargaan bekerja. Contohnya bagian ini
juga bekerja saat manusia merasa senang atau makan cokelat. Temuan yang dimuat dalam jurnal
Nature Neuroscience 23 Desember itu didasarkan atas penelitian pada otak monyet.

Tiga teori yang dapat menjelaskan tentang motivasi seseorang melakukan tingkah laku
altruisme adalah sebagai berikut;(1)Social exchange. Pada teori ini, tindakan menolong dapat
dijelaskan dengan adanya pertukaran sosial timbal balik (imbalan-reward). Altruisme
menjelaskan bahwa imbalan-reward yang memotivasi adalah inner-reward (distress). Contohnya
adalah kepuasan untuk menolong atau keadaan yang menyulitkan (rasa bersalah) untuk
menolong; (2)Social Norms. Alasan menolong orang lain salah satunya karena didasari oleh
sesuatu yang mengatakan pada kita untuk harus menolong. Dimana sesuatu tersebut
adalah norma sosial. Pada altruisme, norma sosial tersebut dapat dijelaskan dengan adanya
social responsibility. Adanya tanggungjawab sosial, dapat menyebabkan seseorang melakukan
tindakan menolong karena dibutuhkan dan tanpa menharapkan imbalan di masa yang akan
datang(
Otak berisi jaringan saraf yang sangat besar dan kompleks, dengan sekitar 100 miliar sel saraf.
Otak memantau dan mengatur fungsi utama tubuh seperti pernapasan dan detak jantung,
menerima informasi indrawi, mengelola gerak fisik, seperti berjalan dan berbicara, dan terlibat
dalam penalaran dan bermimpi.

Bagian-bagian utama otak adalah otak belakang, yang memiliki otak kecil dan batang otak, otak
tengah dan otak depan yang memiliki diencephalon dan otak besar. Selama sebagian besar era
modern ini, tendensi ilmu pengetahuan telah menghindari pemusatan pada spiritualitas dalam
penelitian neurologis.
Bagian otak yang berperan dalam altruisme / kecerdasan emosional seseorang adalah
Bagian Lobus Frontal yang terdapat dibagian depan dalam otak sangat berpengaruh akan
altruism. Lobus-frontal terkait dengan penalaran, perencanaan, bagian bicara, gerakan, emosi,
dan pemecahan masalah merupakan bagian lobus yang ada dipaling depan dari Otak Besar.

Hasil scan otak juga menunjukkan aktivitas di temporoparietal junction yang terletak di
sisi kanan otak. Hal ini terjadi karena setiap orang mencapai batas maksimum pemberian yang
bisa diberikan kepada orang lain. Mendeteksi titik maksimal ini memungkinkan peneliti untuk
memeringkat kemurahan hati para relawan secara obyektif.

"Struktur temporoparietal junction sangat memprediksi titik awal seseorang untuk


melakukan tindakan dermawan ketika aktivitas di wilayah otak lainnya memprediksi berapa
banyak kerugian yang bisa dialami akibat tindakannya tersebut. Temuan ini menjelaskan
hubungan antara hardware dan software dari perilaku altruistik manusia," kata peneliti, Yosuke
Morishima seperti dilansir Medical Daily

Salah satu faktor yang mempengaruhi munculnya Altruisme adalah kecerdasan


emosional.Seseorang yang mempunyai kecerdasan emosional biasanya optimal pada
nilai - nilai belas kasihan (empati), yang dengannya seseorang bisa merasakan apa
yang dirasakan oleh orang lain.

Menurut beberapa penelitian, empati bisa meningkatkan altruistik seseorang. Toi &
Boston (Dalam Sears, 1997) melakukan penelitian terhadap sejumlah mahasiswa tentang
bagaimana reaksi mereka terhadap kisah yang menyedihkan. Empati dimanipulasi dengan
memberikan instruksi yang berbeda - beda untuk Didengarkan.

Jadi empati dan emosi seseorang sangat mempengaruhi perkembangan altruisme setiap
orang yang bisa mengerti satu dengan yang lainnya. Mayoritas orang dengan kepribadian
altruistik, yakni orang yang peduli pada sekitar, mempunyai ukuran lebih besar di area
bawah cingulated cortex, (daerah medial orbitofrontal cortex) wilayah otak yang terlibat dalam
memahami keyakinan orang lain. Ukuran yang lebih besar pada area ini diasumsikan bekerja
lebih kuat.Selain itu, melalui asimilasi dan perpaduan proses persepsi, kehendak, kognitif, dan
emosional, lobus frontal biasanya terlibat dalam pengambilan keputusan dan pembentukan
tujuan, memodulasi dan bentuk karakter dan kepribadian dan mengarahkan perhatian, menjaga
konsentrasi, dan berpartisipasi dalam penyimpanan informasi dan pengambilan memori setiap
orang.

Selain itu, kelainan lobus frontal sering mengakibatkan gangguan kognitif, persepsi, dan
emosional besar, seperti skizofrenia, catatonia, mania, depresi, dorongan obsesif, aphasia, dan
kepribadian lobus frontal.
Lobus Forntal Kanan dan lobus frontal kiri akan muncul untuk mengerahkan pengaruh yang
berbeda atas gairah, perhatian, seksual, emosional, dan serta fungsi memori setiap orang

Hormon berfungsi untuk mengatur alat-alat tubuh. Berbeda dengan kerja saraf dalam
mengatur alat-alat tubuh, hormon bekerja secara perlahan-lahan.bagian Hormon yang sangat
berperan dalam Altruisme adalah Hormon Testosteron. Hormon ini akan mempengaruhi
perubahan fisik dan emosi setiap orang.Kekurangan testosteron dapat berakibat terjadinya
disfungsi ereksi.

Ketika kita melakukan Altruisme ada kesenangan sendiri bisa menolong orang lain tapa
memikirkan imbalan yang akan diberikan. Dan Faktanya ternyata ketika kita melakukan
altrusime ini, tubuh merespon. Tubuh akan memproduksi hormon endorphin( Senyawa kimia
yang timbul dari rasa Bahagia)

Hormon endorphin adalah senyawa kimia yang membuat seseorang merasa senang.
Endorfin diproduksi oleh kelenjar pituitary yang terletak di bagian bawah otak. Hormon ini
bertindak seperti morphine, bahkan dikatakan 200 kali lebih besar dari morphine.Zat Endorfin
atau Zat Endorphine mampu menimbulkan perasaan senang dan nyaman hingga membuat
seseorang berenergi.
Altruisme tidak hanya terjadi pada manusia namun bisa juga terjadi pada hewan
contohnya:Altruisme justru mengarahkan suatu spesies untuk melakukan pengorbanan meskipun
dapat membahayakan nyawa sendiri. Dalam contoh ini adalah induk jantan A. forsteri yang
berpuasa selama 4 bulan dan masih memberi makan anaknya dengan cadangan makanan yang ia
miliki.

Selain itu, altruisme dapat bertahan jika sifat ini (yang cenderung mengorbankan suatu individu)
mampu memberi manfaat yang lebih besar pada kelangsungan jenis. Jika dilihat, terdapat
kemungkinan individu yang melakukan perilaku altruisme mengalami kematian dan tidak
menurunkan gen tersebut kepada keturunannya karena tidak lolos seleksi alam. Namun,
nampaknya gen altruisme lebih dipengaruhi oleh seleksi alam yang terjadi pada skala gen, bukan
organisme sehingga menghasilkan inclusive fitness (Hamilton, 1964 dalam Sabini, 1995).

Secara umum, bentuk altruisme pada penguin emperor berlaku pada:

1. Tahap pra-fertilisasi (provisioning dan perlindungan oleh induk betina).


2. Tahap pra-tetas (provisioning oleh induk betina, perlindungan oleh induk jantan).
3. Tahap pra-dewasa atau tahap fledging (provisioning dan perlindungan oleh kedua induk).

Aktivitas altruisme ini dipengaruhi oleh hormon oksitosin yang merupakan suatu hormon
mamalia dan neurotransmiter yang diketahui berhubungan dengan perilaku maternal dan ikatan,
juga modulasi kepercayaan sosial. Secara metabolis yang langsung berhubungan dengan proses
puasa induk jantan, diketahui bahwa mekanisme puasa dipertahankan dengan cara mengurangi
tingkat metabolisme, menguragi pemanfaatan protein dan pemakaian cadangan lemak

Jadi Altruisme terjadi tidak hanya pada manusia saja melainkan binatang pun bisa terjadi ketika
ia mulai lebih peduli dan mementingkan binatang-binatang lainnya.
Daftar Pusaka
http://neuroscience-neuropsychology.blogspot.com/p/kuliah-5-lobus-frontal.html

http://kapsulkecerdasan.com/zat-endorphin-hormon-kebahagiaan/

http://arumsekartaji.wordpress.com/2013/01/02/sel-otak-pemicu-altruisme-ditemukan/