Anda di halaman 1dari 14

PROPOSAL TUGAS AKHIR

ANALISIS DESAIN SEPARATOR UNTUK OPTIMALISASI HASIL


PROSES PEMISAHAN FLUIDA DI STASIUN PENGUMPUL
PT. PERTAMINA EP ASSET 1 FIELD JAMBI

Diajukan Untuk Penelitian Tugas Akhir Mahasiswa


Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik
Universitas Sriwijaya

Oleh:
Elvina Widya Lase
03021381320057

UNIVERSITAS SRIWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
2016
IDENTITAS DAN PENGESAHAN USULAN PENELITIAN

TUGAS AKHIR MAHASISWA

1. Judul : ANALISIS DESAIN SEPARATOR UNTUK OPTIMALISASI


HASIL PROSES PEMISAHAN FLUIDA DI STASIUN PENGUMPUL
PT. PERTAMINA ASSET 1 FIELD JAMBI.

2. Pengusul
a. Nama : Elvina Widya Lase
b. Jenis Kelamin : Perempuan
c. NIM : 03021381320057
d. Semester : 7 (Tujuh)
e. Fakultas/Jurusan : Teknik/Teknik Pertambangan
f. Institusi : Universitas Sriwijaya

3. Lokasi Penelitian : PT. Pertamina EP Asset 1 Field Jambi.

Palembang, Agustus 2016


Pembimbing Proposal, Pengusul,

Ir. Ubaidillah Anwar P., M.S. Elvina Widya Lase


NIP 195510181988031001 NIM. 03021381320057

Menyetujui :
Ketua Jurusan Teknik Pertambangan

Hj.RR.Harminuke Eko Handayani,ST.,MT


NIP.196902091997032001
A. JUDUL
ANALISIS DESAIN SEPARATOR UNTUK OPTIMALISASI HASIL
PROSES PEMISAHAN FLUIDA DI STASIUN PENGUMPUL PT.
PERTAMINA ASSET 1 FIELD JAMBI.
B. LOKASI
PT. Pertamina EP Asset 1 Field Jambi.
C. BIDANG ILMU
Teknik Pertambangan
D. LATAR BELAKANG
Pemerintah Indonesia selalu berupaya keras untuk meningkatkan kapasitas
produksi minyak bumi nasional. PT. Pertamina Asset 1 Field Jambi merupakan
perusahaan yang memproduksi atau menghasilkan minyak dan gas bumi yang
komersil, yang mana perusahaan Pertamina ini dimiliki oleh pemerintah
Indonesia. Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kapasitas produksi
minyak bumi, diantaranya dengan meningkatkan kegiatan eksplorasi minyak bumi
untuk mencari lapangan baru dan mengoptimalkan produksi lapangan minyak
yang sudah ada. Untuk lapangan minyak baru ataupun yang sudah beroperasi,
efisiensi dan optimasi terus dilakukan dengan mengkaji dan melakukan penelitian
untuk mencapai target pemerintah tersebut.
Salah satu kajian untuk meningkatkan optimasi yaitu mengenai fasilitas
permukaan terutama tentang separator. Fluida hidrokarbon yang terproduksi tidak
murni minyak seperti yang diharapkan. Minyak dari sumur biasanya berupa
campuran, apa yang ada dalam sumur dan reservoir sangatlah heterogen dan pada
umumnya terdapat air, minyak, gas serta partikel padatan. Menurut Risdayanti
(2011), untuk mendapatkan produk hidrokarbon dengan kemurnian yang tinggi
maka dilakukan operasi pemisahan bertingkat, karena itu dalam proses tersebut
diperlukan konfigurasi separator.
Fungsi separator adalah memisahkan minyak bumi yang terproduksi dari
sumur menjadi komponen gas, minyak dan air. Separator memegang peranan
penting untuk menghasilkan kualitas minyak sesuai dengan spesifikasi yang
diinginkan oleh pasar. Agar dapat menghasilkan kualitas minyak yang sesuai
dengan pasar tentunya diawali dengan perancangan seperator yang baik.
Desain separator yang tepat diperlukan karena vessel pemisahan merupakan
awal dari keseluruhan proses. Ukuran separator yang kecil menyebabkan kapasitas
produksi minyak bumi maupun gas alam yang dihasilkan juga kecil. Hal ini akan
berkaitan terhadap pencapaian target produksi. Ketika terjadi peningkatan target
produksi, ukuran separator sebelumnya tidak mampu untuk memisahkan fluida
berdasarkan target produksi yang diinginkan, dan desain komponen proses yang
tidak tepat bisa menyebabkan bottleneck dan mereduksi kapasitas keseluruhan
fasilitas pada proses.
Maka dari itu untuk upaya peningkatan optimalisasi separator dapat dilakukan
dengan cara pendesainan ulang sehingga didapatkan desain ukuran unit separator
yang ideal. Hasil dari perhitungan nantinya diharapkan menjadi suatu hasil ukuran
desain separator yang ideal dan efisien sehingga target produksi yang telah
ditetapkan oleh perusahaan tercapai.

E. PERUMUSAN MASALAH
Adapun perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah kinerja separator yang tersedia sudah optimal.
2. Apakah desain ukuran separator yang ada pada stasiun pengumpul masih
mampu menampung kapasitas produksi yang di targetkan perusahaan.
3. Berapa hasil perhitungan ulang ukuran separator sehingga didapatkan desain
separator yang ideal dan efisien.
4. Bagaimana perbandingan produksi yang didapatkan ketika dilakukan
perhitungan desain ulang pada separator.

F. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui kinerja alat separator yang tersedia.
2. Mengetahui desain ukuran separator yang ada pada stasiun pengumpul masih
mampu menampung kapasitas produksi yang di targetkan perusahaan.
3. Memberikan rekomendasi ukuran separator sehingga didapatkan desain
separator yang ideal dan efisien.
4. Memberikan perbandingan produksi yang didapatkan ketika dilakukan
perhitungan desain ulang pada separator.

G. PEMBATASAN MASALAH
Dalam penelitian ini hanya dilakukan perhitungan ukuran desain alat
separator yang digunakan berdasarkan data data yang didapat dari lapangan
sehingga dari hasil analisa dan perhitungan akan dapat diketahui kemampuan alat
alat produksi tersebut sesuai target produksi yang ingin dicapai dan bermanfaat
bagi perusahaan.

H. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam menyelesaikan permasalahan ini
dengan mengkombinasikan antara teori yang ada dengan data-data lapangan.
Sehingga dari keduanya didapat pendekatan penyelesaian masalah.
Adapun urutan pekerjaan penelitian, yaitu :
1. Studi Literatur
Studi ini dilakukan dengan mempelajari bahan-bahan pustaka yang menunjang
dalam penelitian ini, yang dapat diperoleh dari:
a. Instansi yang terkait
b. Perpustakaan
c. Buletin dan jurnal
d. Prosiding
2. Pengumpulan data
Data yang diperlukan dalam penelitian ini yaitu:
a. Data primer, yaitu data yang diambil dari pengamatan lapangan dengan
mencatat secara sistematis data yang dibutuhkan, terdiri dari :
1. Data-data fluida meliputi flowrate minyak, air dan gas
2. Data-data komposisi hidrokarbon dalam sampel minyak dan gas
3. Data-data kondisi operasi meliputi suhu dan tekanan pada separator
b. Data sekunder, yaitu data yang diambil dari literatur dan referensi
referensi yang berhubungan dengan penelitian ini.
1. Data Produksi dan rencana produksi
2. Sifat fisik minyak, antara lain viskositas kinematik, density, API Gravity,
berat molekul, Spesific Gravity
3. Pengolahan data
Data yang telah dikumpulkan diolah kedalam perhitungan desain separator.
4. Analisa data hasil dari perhitungan desain separator
5. Hasil dan Pembahasan
6. Penentuan kesimpulan dan rekomendasi desain separator yang optimal
Berikut ini merupakan bagan alir metode penelitian yang akan dilakukan oleh
Penulis (Gambar 1).

Studi Literatur

Pengumpulan Data

Data Primer / Data sekunder


Aktual

Pengolahan Data eksperimental


Desain Separator

Analisa Data Perhitungan


Desain Separator

Hasil Dan Pembahasan

Kesimpulan dan Saran

Gambar 1. Bagan Alir Rencana Metode Penelitian


I. TINJAUAN PUSTAKA
1. Separator
Separator adalah bejana tekan yang digunakan untuk memisahkan campuran
fluida berdasarkan perbedaan densitasnya. Mengikuti hukum alam tentang
pemisahan berdasarkan densitas, maka gas sudah pasti berada di atas cairan. Dan
pada umumnya, minyak atau kondensat akan berada di atas air (Rubiandini,
2010). Proses pemisahan minyak, air dan gas dapat dilihat pada (Gambar 2).

Gambar 2. Proses pemisahan minyak, air, dan gas (Rubiandini, 2010)

Prinsip pemisahan yang dilakukan didalam separator yaitu dimulai dari fluida
yang berasal dari sumur produksi terangkat ke permukaan yang mana tekanan
dipermukaan lebih rendah daripada tekanan reservoir, sehingga kapasitas cairan
melarutkan gas akan menurun kemudian terpisah karena perbedaan specific
gravity. Fluida yang mempunyai specific gravity lebih berat akan jatuh sedangkan
lebih ringan akan berada di atas (Rubiandini, 2010).

2. Tipe-Tipe Separator
Separator diklasifikasikan menurut fasa hasil pemisahannya separator dibagi
menjadi 2 (dua) macam (Mokhatab et al, 2006), yaitu :
a. Separator dua fasa, jenis separator ini memisahkan fluida menjadi cairan dan
gas. Gas akan keluar melalui outlet gas yang terletak pada bagian atas separator
dan cairan akan keluar melalui outlet yang terletak bagian bawah separator.
b. Separator tiga fasa, jenis separator ini memisahkan fluida formasi menjadi
minyak, air, dan gas. Gas akan tetap keluar pada outlet gas yang terletak pada
bagian atas separator sedangkan minyak akan keluar dari outlet minyak yang
terletak pada bagian tengah dan air akan keluar dari outlet air yang terletak
pada bagian bawah.
Menurut Chillingarian (1987) separator dapat dibagiberdasarkan tekanan
kerjanya (pressure) menjadi 3 (tiga) jenis yaitu :
a. High Pressure Separator dengan pressure sebesar 650-1500 psig.
b. Medium Pressure Separator dengan pressure sebesar 225-650 psig.

c. Low Pressure Separator dengan pressure sebesar 10-225 psig.


Sedangkan jika dikelompokkan menurut bentuknya separator terbagi atas 3
(tiga) macam (Akpan, 2013), yaitu :
a. Separator Vertikal
Separator vertikal merupakan separator yang berbentuk vertikal atau jenis
separator tegak. Separator vertikal dapat menangani liquid slugs yang relatif besar
tanpa terjadi liquid carryover pada outlet gas dan dapat menangani pasir dan
meminimalisasi turbulensi pada bagian gas di separator untuk memastikan
pengendapan yang baik (Akpan, 2013). Pada separator vertikal fluida sumur
masuk ke separator melalui inlet separator dan menabrak centrifugal device,
selanjutnya cairan akan turun karena memiliki berat jenis yang tinggi melalui
centrifugal devicesedangkan gas akan naik karena berat jenisnya ringan dan akan
ditangkap oleh mist extractor.

Gambar 3. Separator Vertical (Akpan, 2013)


b. Separator Horizontal
Separator horizontal adalah jenis separator yang berbentuk horizontal atau
mendatar. Pada separator horizontal fluida akan masuk melalui inlet. Setelah
berada didalam separator fluida yang masuk akan menabrak deflector plates yang
merupakan bagian pemisah antara cairan dan gas, gas akan terpisah dari cairan
dan cairan akan turun ke daerah akumulasi cairan, dan gas akan masuk ke
straightening vanes. Dari bagian straightening, gas dimurnikan lagi dari butir-
butir cairan dan dialirkan ke bagian pemisah kedua, dan akhirnya gas dialirkan ke
mist extractor untuk dilakukan penyaringan terhadap butir cairan yang masih
terikut pada gas (Akpan, 2013).

Gambar 4. Separator Horizontal (Akpan, 2013)

c. Separator Bulat (Spherical)


Separator spherical merupakan jenis separator yang berbentuk bulat. Aliran
fluida yang masuk separator akan dipecah melalui inlet flow diverter dan dilempar
ke dinding separator. Setelah bergerak dibagian dinding maka cairan akan
bergerak turun ke tempat akumulasi dan gas akan naik ke mist extractor untuk
penyaringan dari butir cairan yang masih terikut pada gas (Akpan, 2013).

Gambar 5. Separator Spherical (Akpan, 2013)


3. Perhitungan Desain Separator
Desain separator merupakan bagian yang penting dalam sebuah fasilitas
minyak dan gas, jika desain separator tidak tepat akan mengurangi kualitas dari
produk yang dihasilkan (Yudiastuti, 2011). Untuk membuat performansi desain
separator, perlu dipertimbangkan beberapa hal antara lain:
a. Flow rate gas dan liquid
b. Tekanan dan temperatur saat beroperasi
c. Tekanan dan temperatur desain
d. Properti fluida, seperti densitas fluida dan komperibilitasnya
e. Kadar impurities
Perhitungan desain separator yang optimal untuk pemisahan fluida dapat
ditentukan melalui 4 kriteria (Arnold dan Stewart, 1998) antara lain:
a. Oil Thickness Constraint (OTC).
2
-3 t ro x SG x d mw
h o max 1.28 x 10
o Pada perhitungan desain separator,
perlu diketahui tinggi maksimum dari lapisan minyak (oil pad) yang dapat
dihitung melalui persamaan (1), agar molekul air dapat settle sesuai waktu yang
diinginkan (trw). Hal ini perlu dipertimbangkan sebagai batasan, apabalia terlalu
tinggi maka minyak kemungkinan besar masih memiliki banyak sekali kandungan
air, karena molekul molekul air perlu waktu yang lebih lama untuk turun ke
lapisan air. Berikut persamaan untuk menentukan oil thickness constraint (Arnold
dan Stewart, 1998):

........................................................(1)

dimana:
ho = ketebalan lapisan minyak, inch
tro = retention time, menit
SG = selisih specific gravity minyak dan air
dmw = diameter minimum butiran air yang mengendap, inch
o ..........................................................................................................................................=

Viskositas minyak
b. Maximum Diameter Constraint (MDC)
Dari informasi terkait tinggi oil pad maksimum, kita dapat memperkirakan
diameter maksimum (dmax) yang ditunjukkan pada persamaan (2). Hal ini
berkaitan dengan luasan cross sectional dari separator yang terisi minyak dan air.
Berikut persamaan untuk menentukan maximum diameter constraint (Arnold dan
Stewart, 1998):
h o max
d max

................................................................................................(2)
dimana:
dmax = diameter maximum separator, inch
= koefisien beta
c. Gas Capacity Constraint (GCC)
0.5
T x Z x Qg g CD
d x L eff 420
P 1 g d m
Ketika fluida reservoir masuk
ke dalam separator, fluida yang terdiri dari molekul minyak dan air akan settle
dari Gravity Settling Section (GGS) menuju ke Liquid Collecting Section (LCS),
sehingga GCC harus memiliki ruangan yang memadai agar waktu yang
diinginkan tercapai yang dapat dihitung melalui persamaan (3).Berikut persamaan
untuk menentukan Gas Capacity Constraint (Arnold dan Stewart, 1998):

..................................................(3)
dimana:
d = diameter separator, in
Leff = panjang efektif separator, ft
T = temperatur operasi, oR
Qg = laju alir gas, MMSCFD
P = tekanan operasi, Psia
Z = kompresibilitas gas
g = densitas gas, kg/m3
1 = densitas liquid, kg/m3
CD = koefisien drag
Dm = ukuran butiran liquid yang akan dipisahkan, micron
d. Oil and Water Retention Time Constraint (RTC)
d 2 x L eff 1.42 Q o t ro Q w t rw Kriteria ini untuk menentukan ruangan

yang memadai pada Liquid Collecting Section (LCS) agar waktu untuk molekul
air turun dan waktu untuk molekul minyak terapung yang diinginkan tercapai.
Berikut persamaan untuk menentukan Oil and Water Retention Time Constraint
(Arnold dan Stewart, 1998):
....................................................................(4)
dimana:
Qo = laju alir minyak, BOPD
tro = retention time air, menit
Qw = laju alir air, BWPD
trw = retention time minyak, menit
d
Lss L eff
12 Pada perhitungan tersebut, kita perlu mencari kombinasi yang
tepat antara diameter penampang separator d (inchi) dan panjang efektif dari
separator (Leff). Dengan cara menghitung Leff yang memenuhi GCC dan hitung Leff
yang memenuhi RTC, dengan menentukan nilai d terlebih dahulu. Nilai d tidak
boleh melebihi kriteria MDC dmax. Kemudian menghitung panjang keseluruhan
dari separator (Arnold dan Stewart, 1998). Panjang ini biasa disebut sebagai seam
to seam length (Lss) yang dapat dihitung melalui persamaan (5).

................................................................................................(5)
dimana:
Lss = Panjang keseluruhan separator, ft
Desain separator yang optimal apabila nilai Slenderness Ratio (SR) pada
persamaan (6) memenuhi syarat > 3 atau < 5 (Arnold dan Stewart, 1998).
Lss
SR 12 x
d ................................................................................................(6)
dimana:
SR = slenderness ratio

4. Stasiun Pengumpul
Stasiun pengumpul merupakan tempat mengumpulkan fluida hasil produksi
dari tiap sumur untuk dilakukan proses pemisahan antara gas, minyak dan air atau
antara gas dan liquid yang kemudian minyak tersebut akan disimpan ke dalam
tangki produksi untuk selanjutnya dikirim akan dikirim ke SPU (Stasiun
Pengumpul Utama) melalui media pipa atau pengangkutan dengan menggunakan
vacum truck.
Didalam stasiun pengumpul ini terdapat fasilitas-fasilitas permukaan (surface
facilities) yang berfungsi untuk memisahkan dan mengolah fluida yang telah
terangkat dari sumur produksi kepermukaan. Jenis fasilitas permukaan yang
digunakan di stasiun pengumpul terkadang berbeda dengan stasiun pengumpul
lainnya karena menyesuaikan dengan karakteristik fluida yang terdapat di
lapangan produksi tersebut.
Fasilitas permukaan (surface facilities) yang terdapat di stasiun pengumpul
pada umumnya adalah terdiri dari pipa yang menyalurkan minyak ke fasilitas
pemisah untuk dilakukan pemisahan terhadap fluida yang terangkat dari sumur
produksi menjadi 2 (dua) atau 3 (tiga) fasa umumnya alat pemisah fluida tersebut
menggunakan separator dan beberapa fasilitas lainnya yang berfungsi untuk
mengolah fluida agar didapatkan minyak dan gas yang baik.

J. JADWAL KEGIATAN
Kegiatan penelitian ini dilaksanakan selama 6 minggu dari tanggal 5
September 2016 sampai dengan 17 Oktoberr 2016 dengan perincian kegiatan
sebagai berikut :
Tabel 1. Jadwal Rencana Kegiatan Penelitian
Waktu Pelaksanaan
No. Kegiatan Minggu ke-
1 2 3 4 5 6
1 Administrasi dan orientasi lapangan
2 Pengumpulan Data
3 Pengolahan Data
4 Konsultasi dan Bimbingan
5 Penyusunan Draft Laporan

K. PENUTUP
Demikianlah proposal ini dibuat untuk dijadikan acuan pelaksanaan Tugas
Akhir dan sebagai pertimbangan bagi PT. Pertamina Asset 1 Field Jambi, dengan
harapan perusahaan dapat memberikan kesempatan pada pelaksana untuk
melaksanakan penelitian atau Tugas Akhir tersebut.

L. DAFTAR PUSTAKA
Akpan, D. G. 2013. Performance of Internals in Three-Phase Tank Separators.
Department of Petroleum Engineering Norwegian University: Norwegian.

Arnold, K. dan Stewart, M. 1998. Surface Production Operations Handbook, 2nd


Edition. Huoston: Gulf Publishing Company.

Chilingarian, G.V., Gorfunkel, M.V., dan Knoring, L. 1987. Surface Operation In


Petroleum Production I. Amsterdam: Elsevier Science Publisher BV.

Mokhatab, S., Poe, W.A., dan Speight, J.G. 2006. Handbook of Natural Gas
Transmission and Processing. Burlington: Gulf Professional Publishing.

Sukaryo, D.D.A. 2015. Optimalisasi Hasil Produksi Minyak dan Gas dengan
Perhitungan Ulang Ukuran Separator pada Oil Plant SG-09 PT. Energi
Mega Perada (EMP) Gelam-Jambi. Tugas Akhir, Fakultas Teknik:
Universitas Sriwijaya.

Risdiyanta. 2011. Kajian Keekonomian Desain Separator Surface Facilities pada


Lapangan X. Jurnal Forum Teknologi Vol. 2 No. 1. Diakses pada tanggal
5 Agustus 2016.

Rubiandini, R. 2010. Petroleum Industry & Operation for Non-Petroleum


Background. Bandung : Institut Teknologi Bandung (ITB).

Yudiastuti, U. 2011. Analisis Kapasitas Slug Catcher di Stasiun Bojonegara pada


Proyek South Sumatra-West Java Gas Pipeline. Jurnal Teknik Vol 2.
No.2. Diakses pada tanggal 6 Agustus 2016.

Beri Nilai