Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Fosil yang berukuran mikro mempunyai peranan yang sangat penting dalam

menentukan biostratigrafi suatu daerah. Dari berbagai jenis fosil mikro yang terdapat

pada di permukaan Bumi, Foraminifera merupakan yang paling luas penyebarannya.

Foraminifera merupakan salah satu ordo dari filum protozoa. Ordo ini

memiliki spesies yang sangat bervariasi, mulai dari yang hidup plantonik sampai

bentonik. Disamping itu pada suatu fosil foraminifera memiliki umur relatif dan

kebiasaan hidup tertentu, sehingga ketepatan pendeskripsian fosil foraminifera tidak

boleh meleset.

Melalui ciri-ciri pada pada fosil foramninifera kita dapat mengetahui umur

relatif dan kebiasaan hidup fosil ini, apakah hidup secara plantonik atau bentonik.

Ciri-ciri fosil foraminifera dapat kita tentukan berdasarkan bentuk testnya, susunan

kamar, jumlah kamar, bentuk septanya, ornamentasi yang terdapat pada fosil dan

lain-lain.

Karena pentingnya penentuan ciri-ciri fosil foraminifera, padatanggal 30

september 2016, dilakukanlah prakitkum mengenai cara penentuan foraminifera

bentonik pada alat peraga, sebagai pengenalan awal terhadap fosil foraminifera yang

hidup secara bentonik.

1.2 Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan pembuatan laporan praktikum mengenai fosil

peraga bentonik ini adalah agar dapat melakukan pendeskrisian fosil foraminifera

bentonik.

1.3 Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum mengenai fosil

peraga bentonik ini adalah:

1. Alat tulis menulis


2. Tabel lingkungan pengendapan
3. Fosil peraga kayu
4. Range chart
5. Buku postuma and Cushman

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengenalan Foraminifera

Foraminifera (disingkat foram) adalah protista bersel tunggal dengan

cangkang. Cangkang foram juga disebut sebagai test karena dalam beberapa bentuk
protoplasma meliputi bagian luar cangkang. Cangkang foraminifera umumnya dibagi

menjadi beberapa kamar yang bertambah selama pertumbuhan, meskipun bentuk

yang paling sederhana adalah tabung terbuka atau bola berongga. Tergantung pada

spesies, cangkang dapat memiliki komposisi senyawa organik, porcelain dan partikel

lainnya disemen bersama-sama, atau kristal kalsit.

Foraminifera ditemukan di semua lingkungan laut, mungkin hidup secara

plantonik atau bentonik. Klasifikasi yang berlaku umum dari foraminifera didasarkan

pada klasifikasi oleh Loeblich dan Tappan (1964). Ordo Foraminiferida (informal

foram) masuk Kingdom Protista, subkingdom Protozoa, Filum Sarcomastigophora,

Subfilum Sarcodina, Superclass Rhizopoda, Kelas Granuloreticulosea. Nama

Foraminiferida berasal dari foramen, yang berarti lubang yang menghubungkan

melalui dinding (septa) antara masing-masing ruang.

2.2 Waktu Hidup Foraminifera

Dalam skala waktu geologi, foraminifera ditemukan dari kambrium awal

sampai recent. Bentuk paling awal yang muncul dalam catatan fosil (allogromiine)

memiliki dinding test organik atau tabung aglutinasi sederhana. Istilah "agglutinasi"

mengacu pada test terbentuk dari partikel asing "terrekatkan" bersama-sama dengan

oleh semen.

Foraminifera dengan tes keras jarang ditemukan sampai zaman Devon,

selama fusulinids mulai berkembang berpuncak pada test fusulinid kompleks pada

zaman Karbon dan Permian; dan punah pada akhir Palaeozoikum. Miliolids pertama

kali muncul pada awal Carboniferous, kemudian pada masa Mesozoikum rotalinids

muncul dan berkembang, dan di zaman Jurassic yang textularinids muncul. Semua
fosil awal foraminifera adalah bentonik, bentuk plantonik mulai muncul pada masa

jura tengah, namun hanya berupa meroplantonik (plantonik hanya selama tahap akhir

dari siklus hidup mereka). Naiknya sea level dan efek rumah kaca pada kepunahan

besar yang terjadi diakhir zaman kapur membuat foram plantonik banyak yang

punah. Ledakan evolusi yang cepat terjadi selama Paleosen terutama foram plantonik

globigerinids dan globorotalids dan juga di Eosen yaitu foraminifera bentonik besar

seperti Nummulites, soritids dan orbitoids. Orbitoids mati di Miosen, ketika

foraminifera besar telah menyusut. Keragaman bentuk plantonik juga umumnya

menurun sejak akhir Kapur dengan kenaikan singkat selama periode iklim hangat

dari Eosen dan Miosen.

2.3 Karakteristik Foraminifera Bentonik

Foraminifera benthonik memiliki habitat pada dasar laut dengan cara hidup

secara vagil (merambat/merayap) dan sessil (menambat). Alatyang digunakan untuk

merayap pada benthos yang vagile adalah pseudopodia. Terdapat yang semula sesil

dan berkembang menjadi vagil serta hidup sampai kedalaman 3000 meter di bawah

permukaan laut. Material penyusun test merupakan agglutinin, arenaceous, khitin,

dan gampingan.

Foraminifera bentonik tinggal di hampir semua kedalaman laut dan

dibedakan menjadi, bentonik kecil dan besar. Perbedaan antara keduanya didasarkan

pada seberapa rumit struktur internalnya. Untuk lebih jelas mengenai perbedaan

antara dua foraminifera ini perlu dipelajari pada sayatan tipis. foraminifera bentik

dapat hidup vagil atau sessil dan menunjukkan berbagai struktur yang berbeda yang

disesuaikan dengan lingkungan di mana mereka tinggal. Foraminifera bentonik besar


dapat ditemukan di laut tropika yang kaya akan karbonat dan cenderung ditemukan

di zona neritik, sedangkan foramnifera bentonik kecil ditemukan pada brackish

water, dan pada daerah yang rendah alkalinya.

2.4 Genus Foraminifera Bentonik

Adapun macam-macam genus dari foraminifera benthos yang sering dijumpai

yaitu:

1. Genus Ammobaculites Chusman 1910

Termasuk famili Lituolidae, dengan cirri-ciri test pada awalnya terputar,

kemudian menjadi uniserial lurus, komposisi test pasiran, aperture bulat dan terletak

pada puncak kamar akhir. Muncul pada karbon -resen.

Gambar 2.1 Genus Ammobaculites Chusman 1910

2. Genus Amondiscus Reuses 1861

Termasuk famili Ammodiscidae dan ciri ciri test monothalamus, terputar

palnispiral, kompisisi test pasiran, aperture pada ujung lingkaran. Muncul Silur

Resent.

Genus Amphistegerina d Orbigny 1826 Famili yang memiliki

bentuk lensa, trochoid, terputar involut, pada ventral terlihat surture bercabang tak
teratur, komposisi test gampingan, berpori halus, aperture kecil pada bagian ventral

kecil pada bagian ventral

Gambar 2.2 Genus Amondiscus Reuses 1861

3. Genus Bathysiphon Sars 1972

Termasuk famili Rhizamminidae dengan test silindris, kadang kadang lurus,

monothalamus, komposisi test pasiran, aperture di puncak berbentuk pipa. Muncul

Silur Resent.

Gambar 2.3 Genus Bathysiphon Sars 1972

4. Genus Bolivina
Termasuk famili Buliminidae dengan test memanjang, pipih agak runcing,

beserial, komposisi gampingan, berposi aperture pada kamar akhir, kadang berbentuk

lope, muncul Kapur Resent.

Gambar 2.4 Genus Bolivina

5. Genus d Orbigny 1826

Termasuk famili Buliminidae, test memanjang, umunya triserial, berbentuk

kamar sub globular, komposisi gampingan berpori.

6. Genus Cibicides Monfort 1808

Termasuk famili Amonalidae, dengan cirri cirri test planoconvex rotaloid,

bagian dari dorsal lebih rata, komposisi gampingan berpori kasar, aperture di bagian

ventral, pemukaan akhir sempit dan memanjang.


Gambar 2.5 Genus Cibicides Monfort 1808

7. Genus Decalina d Orbigny 1826

Termasuk famili Lageridae, dengan ciri ciri test pilythalamus, uniserial,

curvilinier, suture menyudut, komposisi test gampingan berpori halus, aperture

memancar, terletak pada ujung kamar akhir.

Gambar 2.6 Genus Cibicides Monfort 1808

8. Genus Elphidium Monfort 1808

Termasuk famili Nonionidae dengan ciri cirri test planispiral, bilateral

simetris, hampir seluruhnya involute, hiasan suture bridge dan umbilical, komposisi

test gampingan berpori, aperture merupakan sebuah lubang/lebih pada dasar

pemukaan kamar akhir. Eosen holocene.


Gambar 2.7 Genus Cibicides Monfort 1808

9. Genus Nodogerina Chusman 1927

Termasuk famili Heterolicidae, degan test memanjang, kamar tersusun

uniserial lurus, kompisi test gampingan berpori halus, aperture terletak di puncak

membulat mempunyai leher dan bibir. Muncul Kapur Resen.

10. Genus Nodosaria Lamark 1812

Termasuk famili Lagenidae degan test lurus memajang, kamar tersusun

uniserial, suturenya tegak lurus, terhadap sumbu, pada pemulaaan agak bengkok

kemudian lurus, komposisi gampingan berpori, aperture di puncak berbentuk radier,

muncul Karbon Resent.

11. Genus Nonion Monfort 1888

Termasuk famili Nonionidae dengan test cenderung involute, bagian tepi

membulat, umumnya dijumpai umbilical yang dalam, komposisi gampingan berpori ,

aperture melengkung pada kamar akhir. Muncul Yura Resent.

12. Genus Rotalia Lanmark 1804


Umumnya suture menebal pada bagian dorsal, bagian ventral suturenya

tertekan ke dalam, komposisi test gampingan berpori, aperture pada bagian ventral

membuka dari umbilical pinggir.

13. Genus Saccamina M. Sars 1869

Termasuk famili Sacanidae degan test globular, komposisi test dari material kasar,

biasanya oleh khitin berwarna coklat, aperture di puncak umumnya degan leher.

Muncul Silur Resent.

14. Genus Textularia Derance 1824

Termasuk famili Textularidae test memanjang kamar tersusun biserial,

morfologi kasar, komposisi pasiran, aperture sempit memanjang pada permukaan

kamar akhir. Muncul Devon Resent.

15. Genus Uvigerina d Obigny 1826

Termasuk famili uvigeridae degan test fusiform, kamar triserial, komposisi

berpori, aperture di ujung dengan leher dan bibir. Muncul Eosen Resent.
Gambar 2.7 Genus Uvigerina d Obigny 1826

2.5 Peranan Foraminifera

Penelitian tentang fosil foraminifera mempunyai beberapa penerapan yang

terus berkembang sejalan dengan perkembangan mikropaleontologi dan geologi.

Fosil foraminifera bermanfaat dalam biostratigrafi, paleoekologi, paleobiogeografi,

dan eksplorasi minyak dan gas bumi.

1. Biostratigrafi

Foraminifera memberikan data umur relatif batuan sedimen laut. Ada

beberapa alasan bahwa fosil foraminifera adalah mikrofosil yang sangat berharga

khususnya untuk menentukan umur relatif lapisan-lapisan batuan sedimen laut. Data

penelitian menunjukkan foraminifera ada di bumi sejak jaman Kambrium, lebih dari

500 juta tahun yang lalu. Foraminifera mengalami perkembangan secara terus-

menerus, dengan demikian spesies yang berbeda diketemukan pada waktu (umur)
yang berbeda-beda. Foraminifera mempunyai populasi yang melimpah dan

penyebaran horizontal yang luas, sehingga diketemukan di semua lingkungan laut.

Alasan terakhir, karena ukuran fosil foraminifera yang kecil dan pengumpulan atau

cara mendapatkannya relatif mudah meskipun dari sumur minyak yang dalam.

2. Paleoekologi dan Paleobiogeografi

Foraminifera memberikan data tentang lingkungan masa lampau (skala

Geologi). Karena spesies foraminifera yang berbeda diketemukan di lingkungan yang

berbeda pula, seorang ahli paleontologi dapat menggunakan fosil foraminifera untuk

menentukan lingkungan masa lampau tempat foraminifera tersebut hidup. Data

foraminifera telah dimanfaatkan untuk memetakan posisi daerah tropik di masa

lampau, menentukan letak garis pantai masa lampau, dan perubahan perubahan suhu

global yang terjadi selama jaman es. Jika sebuah perconto kumpulan fosil

foraminifera mengandung banyak spesies yang masih hidup sampai sekarang, maka

pola penyebaran modern dari spesies-spesies tersebut dapat digunakan untuk

menduga lingkungan masa lampau - di tempat kumpulan fosil foraminifera diperoleh

- ketika fosil foraminifera tersebut masih hidup. Jika sebuah perconto mengandung

kumpulan fosil foraminifera yang semuanya atau sebagian besar sudah punah, masih

ada beberapa petunjuk yang dapat digunakan untuk menduga lingkungan masa

lampau. Petunjuk tersebut adalah keragaman spesies, jumlah relatif dari spesies

plangtonik dan bentonik (prosentase foraminifera plangtonik dari total kumpulan

foraminifera plangtonik dan bentonik), rasio dari tipe-tipe cangkang (rasio


Rotaliidae, Miliolidae, dan Textulariidae), dan aspek kimia material penyusun

cangkang.

Aspek kimia cangkang fosil foraminifera sangat bermanfaat karena mencerminkan

sifat kimia perairan tempat foraminifera ketika tumbuh. Sebagai contoh, perban-

dingan isotop oksigen stabil tergantung dari suhu air. Sebab air bersuhu lebih tinggi

cenderung untuk menguapkan lebih banyak isotop yang lebih ringan. Pengukuran

isotop oksigen stabil pada cangkang foraminifera plangtonik dan bentonik yang

berasal dari ratusan batuan teras inti dasar laut di seluruh dunia telah dimanfaatkan

untuk meme-takan permukaan dan suhu dasar perairan masa lampau. Data tersebut

sebagai dasar pemahaman bagaimana iklim dan arus laut telah berubah di masa

lampau dan untuk memperkirakan perubahan-perubahan di masa yang akan datang

(keakurasiannya belum teruji).

3. Eksplorasi Minyak

Foraminifera dimanfaatkan untuk menemukan minyak bumi. Banyak spesies

foraminifera dalam skala biostratigrafi mempunyai kisaran hidup yang pendek. Dan

banyak pula spesies foraminifera yang diketemukan hanya pada lingkungan yang

spesifik atau ter-tentu. Oleh karena itu, seorang ahli paleontologi dapat meneliti

sekeping kecil perconto batuan yang diperoleh selama pengeboron sumur minyak

dan selanjutnya menentukan umur geologi dan lingkungan saat batuan tersebut

terben-uk. Sejak 1920-an industri perminyakan memanfaatkan jasa penelitian

mikropaleontologi dari seorang ahli mikrofosil. Kontrol stratigrafi dengan

menggunakan fosil foraminifera memberikan sumbangan yang berharga dalam


mengarahkan suatu pengeboran Eorizon samping pada Eorizon yang mengandung

minyak bumi guna meningkatkan produktifikas minyak.


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Fosil Peraga 01

V D S

Gambar 3.1 Bolivina subaenariensis Cushman

Fosil peraga 01 dengan nomor sampel 20 memiliki susunan kamar

Polithalamus, dimana Polithalamus merupakan susunan kamar yang lebih dari satu

susunan kamar. Bentuk test dari fosil ini ialah konikal, dan bentuk kamarnya ialah

angular. Adapun suture (garis pemisah antar kamar) pada ventral fosil ini tertekan

kuat sedangkan dorsalnya tertekan kuat. Jumlah kamar pada ventral ialah 2, dorsal 3

kamar dan samping 20. Aperturnya ialah bentuk bulat, Pada peraga fosil ini dijumpai

hiasan smooth pada permukaan test, Lip pada aperture, yakni bibir aperture yang

menebal. Pada umbilicus, dan peri-peri tidak terdapat hiasan.

Berdasarkan ciri-ciri fisiknya, fosil peraga 01 termasuk dalam Filum Protozoa,

Kelas Sarcodina, Ordo Foraminifera, Family Bolivinanidae, Genus Bolivina, dan

Spesies Bolivina subaenariensis Cushman, var. Mexicana Cushman. Berdasarkan

Klasifikasi Natland (1933) maka lingkungan pengendapan dari fosil Bolivina

subaenariensis Cushman, var. Mexicana Cushman berada pada zona 4 dengan

kedalaman 300 100 meter dengan temperatur laut 5 8 oC.


3.2 Fosil Peraga 02

V D S
V
Gambar 3.2 Cassidulina laevigata dOrbigny

Fosil peraga 02 dengan nomor sampel 43 memiliki susunan kamar

Monothalamus, dimana Monothalamus merupakan susunan kamar yang terdiri dari

satu susunan kamar. Bentuk test dari fosil ini ialah hemispherical, dan bentuk

kamarnya ialah globular. Jumlah kamar pada ventral ialah 1, dorsal 1 kamar dan

samping 2. Aperturnya ialah bentuk crescentic, dimana apertur ini merupakan

aperture yang berbentuk bulan sabit. Pada peraga fosil ini dijumpai hiasan smooth

pada permukaan test, Lip pada aperture (bibir aperture yang menebal). Pada

umbilicus, dan peri-peri tidak terdapat hiasan.

Berdasarkan ciri-ciri fisiknya, fosil peraga 01 termasuk dalam Filum Protozoa,

Kelas Sarcodina, Ordo Foraminifera, Family Cassidulinanidae, Genus Cassidulina,

dan Spesies Cassidulina laevigata dOrbigny. Berdasarkan Klasifikasi Natland

(1933) maka lingkungan pengendapan dari fosil Bolivina subaenariensis Cushman,

var. Mexicana Cushman berada pada zona 4 dengan kedalaman 300 100 meter

dengan temperatur laut 5 8 oC


3.3 Fosil Peraga 03

V D S

Gambar 3.3 Schenckiella nodulosa (Cushman).

Fosil peraga 03 dengan nomor sampel 11 memiliki susunan kamar

Polithalamus, dimana Polithalamus merupakan susunan kamar yang lebih dari satu

susunan kamar. Bentuk test dari fosil ini ialah konikal, dan bentuk kamarnya ialah

globular. Adapun suture ialah garis pemisah antar kamar, suture pada ventral fosil ini

tertekan kuat dan juga dorsalnya tertekan kuat. Jumlah kamar pada ventral ialah 1

dorsal 3 kamar dan samping 4 kamar. Aperturnya memiliki bentuk bulat. Pada peraga

fosil ini dijumpai hiasan smooth (halus) pada permukaan test, sedangkan pada

aperture, suture, umbilicus, dan peri-peri tidak terdapat hiasan

Berdasarkan ciri-ciri fisiknya, fosil peraga 03 termasuk dalam Filum Protozoa,

Kelas Sarcodina, Ordo Foraminifera, Family Schenckiellanidae, Genus Schenckiella,

dan Spesies Schenckiella nodulosa (Cushman). Berdasarkan Klasifikasi Natland

(1933) maka lingkungan pengendapan dari fosil Schenckiella nodulosa (Cushman)

berada pada zona 4 dengan kedalaman 300 100 meter dengan temperatur laut 5 8
o
C.
3.4 Fosil Peraga 04

V D s
Gambar 3.4 Textularia flintii Cushman

Fosil peraga 04 memiliki susunan kamar Polithalamus, dimana Polithalamus

merupakan susunan kamar yang lebih dari satu susunan kamar. Bentuk test dari fosil

ini ialah konikal, dan bentuk kamarnya ialah angular. Adapun suture (garis pemisah

antar kamar) pada ventral fosil ini tertekan lemah sedangkan dorsalnya tertekan kuat.

Jumlah kamar pada ventral ialah 2 dorsal 9 kamar dan samping 15 kamar.

Aperturnya memiliki bentuk bulat. Pada peraga fosil ini dijumpai hiasan smooth

(halus) pada permukaan test, sedangkan pada aperture, suture, umbilicus, dan peri-

peri tidak terdapat hiasan

Berdasarkan ciri-ciri fisiknya, fosil peraga 04 termasuk dalam Filum Protozoa,

Kelas Sarcodina, Ordo Foraminifera, Family Textularianidae, Genus Textularia, dan

Spesies Textularia flintii Cushman. Var, caroliana Cushman. Berdasarkan Klasifikasi

Natland (1933) maka lingkungan pengendapan dari fosil Textularia flintii Cushman.

Var, caroliana Cushman berada pada zona 3 dengan kedalaman 90 - 300 meter

dengan temperatur laut 9 13 oC.


3.5 Fosil Peraga 05

V D S

Gambar 3.5 Dentalina coorperensis CUSHMAN

Fosil peraga 05 memiliki susunan kamar Polithalamus, dimana Polithalamus

merupakan susunan kamar yang lebih dari satu susunan kamar. Bentuk test dari fosil

ini ialah konikal, dan bentuk kamarnya ialah angular. Adapun suture (garis pemisah

antar kamar) pada ventral fosil ini tertekan kuat dan pada dorsalnya juga tertekan

kuat. Jumlah kamar pada ventral ialah 5 dorsal 7 kamar dan samping 10 kamar.

Aperturnya memiliki bentuk bulat. Pada peraga fosil ini dijumpai hiasan smooth

(halus) pada permukaan test, sedangkan pada aperture, suture, umbilicus, dan peri-

peri tidak terdapat hiasan

Berdasarkan ciri-ciri fisiknya, fosil peraga 06 termasuk dalam Filum Protozoa,

Kelas Sarcodina, Ordo Foraminifera, Family Dentalinanidae, Genus Dentalina, dan

Spesies Dentalina coorperensis CUSHMAN. Berdasarkan Klasifikasi Natland

(1933) maka lingkungan pengendapan dari fosil Dentalina coorperensis

CUSHMAN berada pada zona 3 dengan kedalaman 90 - 300 meter dengan

temperatur laut 9 13 oC.


3.6 Fosil Peraga 06

V D S

Gambar 3.6 Uvigerina laeviapicata BERMUDEZ

Fosil peraga 06, dan nomor sampel 16 memiliki susunan kamar Polithalamus,

dimana Polithalamus merupakan susunan kamar yang lebih dari satu susunan kamar.

Bentuk test dari fosil ini ialah konikal, dan bentuk kamarnya ialah angular. Adapun

suture (garis pemisah antar kamar) pada ventral fosil ini tertekan kuat sedangkan

dorsalnya juga tertekan sedang. Jumlah kamar pada ventral ialah 1 kamar dorsal 1

kamar dan samping 3 kamar. Aperturnya memiliki bentuk phyalline. Pada peraga

fosil ini dijumpai hiasan smooth (halus) pada permukaan test, Lip (Seperti bibir) pada

aperture sedangkan pada, suture, umbilicus, dan peri-peri tidak terdapat hiasan

Berdasarkan ciri-ciri fisiknya, fosil peraga 06 termasuk dalam Filum Protozoa,

Kelas Sarcodina, Ordo Foraminifera, Family Uvigerinanidae, Genus Uvigerina, dan

Spesies Uvigerina laeviapicata BERMUDEZ. Berdasarkan Klasifikasi Natland

(1933) maka lingkungan pengendapan dari fosil Uvigerina laeviapicata

BERMUDEZ berada pada zona 3 dengan kedalaman 90 - 300 meter dengan

temperatur laut 9 13 oC.


3.7 Fosil Peraga 07

Gambar 3.7 Textularia flintii CUSHMAN

Fosil peraga 07, memiliki nomor sampel 9 memiliki susunan kamar

Polithalamus, dimana Polithalamus merupakan susunan kamar yang lebih dari satu

susunan kamar. Bentuk test dari fosil ini ialah konikal, dan bentuk kamarnya ialah

angular. Adapun suture (garis pemisah antar kamar) pada ventral fosil ini tertekan

sedang dan juga pada dorsalnya juga tertekan sedang. Jumlah kamar pada ventral

ialah 5 kamar dorsal 9 kamar dan samping 9 kamar. Aperturnya memiliki bentuk

radiate (menyebar). Pada peraga fosil ini dijumpai hiasan pustoluse (tonjolan

tonjolan bulat) pada permukaan test, retral processe s pada suture, dan ventral umbo

pada umbilicus, sedangkan aperture dan peri-peri tidak memiliki hiasan..

Berdasarkan ciri-ciri fisiknya, fosil peraga 06 termasuk dalam Filum Protozoa,

Kelas Sarcodina, Ordo Foraminifera, Family Textularianidae, Genus Textularia, dan

Spesies Textularia flintii CUSHMAN. Berdasarkan Klasifikasi Natland (1933) maka

lingkungan pengendapan dari fosil Textularia flintii CUSHMAN berada pada zona 3

dengan kedalaman 90 - 300 meter dengan temperatur laut 9 - 13 oC


3.8 Fosil Peraga 08

Gambar 3.8 Nonion mesonense Cole

Fosil peraga 08, memiliki nomor sampel 43 memiliki susunan kamar

Polithalamus, dimana Polithalamus merupakan susunan kamar yang lebih dari satu

susunan kamar. Bentuk test dari fosil ini ialah irregular, dan bentuk kamarnya ialah

angular. Adapun suture (garis pemisah antar kamar) pada ventral fosil ini tertekan

kuat dan juga pada dorsalnya juga tertekan kuat. Jumlah kamar pada ventral ialah 6

kamar dorsal 6 kamar dan samping 10 kamar. Aperturnya memiliki bentuk Slite like

(lubang lapisan yang panjang). Pada peraga fosil ini dijumpai hiasan pustoluse

(tonjolan tonjolan bulat) pada permukaan test, retral processes pada suture, dan

ventral umbo pada umbilicus, sedangkan aperture dan peri-peri tidak memiliki

hiasan.

Berdasarkan ciri-ciri fisiknya, fosil peraga 06 termasuk dalam Filum Protozoa,

Kelas Sarcodina, Ordo Foraminifera, Family Nonionidae, Genus Nonion, dan

Spesies Nonion mesonense Cole and Gillpesie. Berdasarkan Klasifikasi Natland

(1933) maka lingkungan pengendapan dari fosil Nonion mesonense Cole and

Gillpesie berada pada zona 3 sampai zona 4 dengan kedalaman 90 300 untuk zona

3, dan 300 - 1000 meter untuk zona 4 dengan temperatur laut 3 - 16 oC


BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dalam pembuatan laporan mengenai

fosil peraga bentonik ini, yaitu cara pendeskripsian fosil bentonik adalah dengan

mendeskripsi ciri-ciri fisik yang terdapat pada fosil foraminifera tersebut, misalnya

deskripsi apertur, ataupun ornamentasi

4.2 Saran

Adapun saran untuk praktikum mengenai fosil peraga bentonik, yaitu :

1. Sebaiknya waktu mendeskripsi peraga di tambah


2. Sebaiknya masing-masing asisten mendampinigi setiap kelompok agar tidak

terjadi kesalahan pendeskripsian

Anda mungkin juga menyukai