Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya

perubahan fisik, emosi, dan psikis. Pada masa remaja terjadi pematangan

organ reproduksi manusia dan sering disebut dengan masa pubertas. Masa

pubertas merupakan tahap perkembangan dan kematangan alat seksual serta

tercapai kemampuan reproduksi (Widyastuti, Rahmawati, Purnamaningrum,

2009).

Perubahan yang terjadi pada masa remaja adalah hormon reproduksi

yang belum stabil sehingga menyebabkan remaja putri rentan mengalami

keputihan. Keputihan berisiko terjadi pada remaja, karena pada masa ini

remaja mengalami pubertas yang ditandai dengan datangnya menstruasi. Pada

sebagian wanita, saat menjelang menstruasi akan mengalami keputihan.

Masalah yang sering terjadi pada remaja adalah masalah tentang kesehatan

reproduksi. Masalah keputihan merupakan masalah kesehatan reproduksi yang

sering muncul pada remaja (Kusmiran, 2011, dikutip dalam Setyorini, 2015).

Angka kejadian penyakit keputihan mencapai 75% pada remaja dan

hampir mengenai semua umur di Indonesia. Jika dibandingkan dengan Eropa

angka ini sangat berbeda, karena di Eropa wanita yang menderita keputihan

hanya 25%. Perbedaan prevalensi ini disebabkan oleh keadaan iklim yang

berbeda. Keadaan iklim yang lembab di Indonesia mengakibatkan lebih

mudah terinfeksi jamur candida albicans dan trichomonas sebagai penyebab

1
2

keputihan, sedangkan iklim di Eropa yang bersifat kering kemungkinan

terinfeksi jamur ini lebih kecil (Elistiawaty, 2006, dikutip dalam Pitriani,

2014).

Data penelitian yang didapat tentang kesehatan reproduksi wanita

menunjukkan 75% wanita di dunia pasti menderita keputihan paling tidak

sekali seumur hidup dan 45% di antaranya bisa mengalaminya sebanyak dua

kali atau lebih (Pribakti, 2014).

Sebenarnya dalam alat genital wanita terdapat mekanisme pertahanan

tubuh berupa bakteri yang menjaga kadar keasaman pH vagina. Normalnya

angka keasaman pada vagina berkisar antara 3,8-4,2. Sebagian besar, hingga

95% adalah bakteri laktobasilus dan selebihnya adalah bakteri pathogen (yang

menimbulkan penyakit). Biasanya ketika ekosistem dalam keadaan seimbang,

bakteri patogen tidak akan mengganggu. Masalah baru timbul ketika kondisi

asam ini turun alias lebih besar dari 4,2. jamur akan berkembang dan

terjadilah keputihan (Pribakti, 2014).

Keputihan bisa bersifat fisiologis (dalam keadaan normal), namun bisa

juga bersifat patologis (karena infeksi kuman penyakit). Keputihan fisiologis

dapat terjadi pada masa sebelum dan sesudah menstruasi. Biasanya cairan

yang keluar bening, sedikit, tidak berbau dan tidak terasa gatal sedangkan

keputihan patologis terjadi karena di sebabkan oleh infeksi, kuman, jamur.

Akibatnya, timbul gejala-gejala yang sangat menganggu, seperti berubahnya

cairan yang berwarna jernih menjadi kekuningan sampai kehijuan, jumlahnya

berlebihan, kental, berbau, terasa gatal atau panas dan menimbulkan luka

didaerah mulut vagina (Pribakti, 2014).

Kejadian keputihan dapat dihindari dengan memperhatikan kesehatan


3

lingkungan yaitu dengan memperhatikan kualitas air untuk membasuh organ

genitalia. Penggunaan air yang tidak memenuhi persyaratan dapat

menimbulkan terjadinya gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan tersebut

dapat berupa penyakit menular maupun penyakit tidak menular. Hal ini dapat

terjadi karena air merupakan media yang baik tempat bersarangnya bibit

penyakit. Kesehatan lingkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi atau

keadaan lingkungan yang optimal sehingga berpengaruh positif terhadap

terwujudnya status kesehatan yang optimal pula (Notoatmodjo, 2003, dikutip

dalam Pitriani, 2014).

Berdasarkan hasil penelitian Olivia pada tahun (2009), yang berjudul

gambaran pengetahuan remaja putri tentang keputihan di SMA Handayani

Pekanbaru di dapatkan mayoritas pengetahuan remaja putri tentang keputihan

adalah cukup yaitu sebanyak 36 responden murid (45%).

Menurut data dari Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru tahun 2016, dari

18 SMA Negeri yang ada di Pekanbaru. SMA Negeri 7 mempunyai jumlah

murid seabanyak 734 orang. SMA Negeri 7 berada didekat sungai dan jumlah

murid perempuan lebih banyak yaitu 444 orang dari pada jumlah murid laki-

laki hanya 290 orang.

Berdasarkan survei pendahuluan yang peneliti lakukan di SMAN 7

Pekanbaru, didapatkan hasil dari 10 orang responden, 61% diantaranya

berpengetahuan cukup tentang keputihan. Berdasarkan keterangan yang

diperoleh dari bagian kesiswaan didapatkan bahwa sekolah sudah pernah

mendapatkan penyuluhan tentang keputihan.

Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik mengambil


4

judul penelitian Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Tentang Keputihan

di SMA Negeri 7 Pekanbaru tahun 2016.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan atas masalah yang ditemui peneliti, maka rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah Pengetahuan Remaja

Putri Tentang Keputihan di SMA Negeri 7 Pekanbaru tahun 2016?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum :

Untuk mengetahui pengetahuan remaja putri tentang keputihan

di SMA Negeri 7 Pekanbaru

2. Tujuan Khusus :

a. Untuk mengetahui pengetahuan remaja putri tentang pengertian

keputihan

b. Untuk mengetahui pengetahuan remaja putri tentang penyebab

keputihan

c. Untuk mengetahui pengetahuan remaja putri tentang tanda dan

gejala keputihan.

d. Untuk mengetahui pengetahuan remaja putri tentang cara

mencegah keputihan.

D. Manfaat Penelitian
5

1. Bagi Peneliti

Dapat menambah pengalaman dan wawasan dalam penelitian

khususnya tentang keputihan.

2. Bagi SMA Negeri 7 Pekanbaru

Dapat menjadi bahan tambahan informasi bagi sekolah dalam

memberikan informasi kepada siswinya mengenai keputihan.

3. Bagi Peneliti Lain

Untuk dijadikan tambahan informasi dan perbandingan bagi

peneliti lain untuk melakukan peneliti yang berhubungan dengan

keputihan dan organ-organ reproduksi lainnya.

P
6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritis

1. Konsep Dasar Pengetahuan

a. Defenisi Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah

orang melakukan pengindraan tePPrhadap suatu objek tertentu. Pada

umumnya, pengetahuan memiliki kemampuan prediktif terhadap

sesuatu sebagai hasil pengenalan atas suatu pola (Notoatmodjo, 2010).

b. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan antara lain :

1) Pendidikan

Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan

kepribadian dan kemampuan didalam dan diluar sekolah (baik

formal maupun nonformal), berlangsung seumur hidup. pendidikan

adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang

atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui

upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan mempengaruhi proses

belajar, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang

tersebut untuk menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi,

maka seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi,


7

baik dari orang lain maupun dari media massa. Semakin banyak

informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang

didapat tentang kesehatan.

2) Informasi atau Media Massa

Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal

maupun nonformal dapat memberikan pengetahuan jangka pendek

(Immediate Impact) sehingga menghasilkan perubahan atau

peningkatan pengetahuan. Majunya teknologi akan tersedia

bermacam-macam media massa yang dapat mempengaruhi

pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru. Sebagai sarana

komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio,

surat kabar, majalah dan lain lain mempunyai pengaruh besar

terhadap pembentukan opini dan kepercayaan orang. Dalam

penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa

membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat

mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi yang mengenai

suatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya

pengetahuan terhadap hal tersebut.

3) Sosial budaya dan Ekonomi

Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa

melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk. Dengan

demikian seseorang akan bertambah pengetahuannya walaupun

tidak melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan menentukan


8

tersedianya suatu fasilitas yang diperoleh untuk kegiatan tertentu,

sehingga status sosial ekonomi ini akan dipengaruhi pengetahuan

sesorang.

4) Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar

individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial.

Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan

ke dalam individu yang berdeda dalam lingkungan tersebut. Hal ini

terjadi karena adanya interaksi timbal balik ataupun yang direspon

sebagai pengetahuan oleh setiap individu.

5) Pengalaman

Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara

untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang

kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah

yang dihadapi masa lalu. Pengalaman belajar dalam bekerja yang

dikembangkan pengetahuan dan keterampilan profesional serta

pengalaman belajar selama bekerja akan dapat mengembangkan

kemampuan mengambil keputusan yang merupakan manifestasi

dari keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang bertolak

belakang dari masalah nyata dalam bidang kerjanya.

6) Usia

Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula

daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang


9

diperoleh semakin membaik. Pada usia madya, individu akan lebih

banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya menyelesaikan

diri menuju usia tua, selain itu orang usia madya akan lebih banyak

menggunakan waktu untuk membaca. Kemampuan intelektual,

pemecahan masalah dan kemampuan verbal dilaporkan hampir

tidak ada penurunan pada usia ini.

(Budiman & Riyanto, 2014)

c. Cara Mengukur Pengetahuan

Pengukuran dapat dilakukan dengan wawancara atau angket

yang menanyakan tentang isi materi yang diukur dari subjek penelitian

atau responden. Dalam mengukur pengetahuan harus diperhatikan

rumusan kalimat pertanyaan menurut tahapan pengetahuan (Budiman

& Riyanto, 2014).

Menurut Arikunto (2013), pengetahuan seseorang dapat

diketahuai dan diinterprestasikan dengan skala yang bersifat kualitatif

yaitu :

1) Baik : Hasil persentase > 75%

2) Cukup : Hasil persentase 60-75%.

3) Kurang : Hasil persentase < 60%.

2. Konsep Dasar Remaja

a. Definisi Remaja

Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh

adanya perubahan fisik, emosi, dan psikis. Pada masa remaja terjadi
10

pematangan organ reproduksi manusia dan sering disebut dengan masa

pubertas. Masa pubertas merupakan tahap perkembangan dan

kematangan alat seksual serta tercapai kemampuan reproduksi

(Widyastuti, Rahmawati, Purnamaningrum, 2009).

b. Tahap Perkembangan Remaja

Tahap perkembangan pada masa remaja sebagai berikut :

1) Masa remaja awal (10-13 tahun)

a) Tampak dan memang merasa lebih dekat dengan teman

sebaya.

b) Tampak dan merasa ingin bebas.

c) Tampak dan memang lebih banyak memerhatikan keadaan

tubuhnya dan mulai berfikir khayal (absrak).

2) Masa remaja tengah (14-16 tahun)

a) Tampak dan merasa ingin mencari identitas diri.

b) Ada keinginan untuk berkencan atau tertarik pada lawan

jenis.

c) Timbul perasaan cinta yang mendalam.

d) Kemampuan berfikir absrak (berkhayal) makin berkembang.

e) Berkhayal mengenai hal-hal yang berkaitan dengan seksual.

3) Masa remaja akhir (17-19 tahun).

a) Menampakkan pengungkapan kebebasan diri.

b) Dalam mencari teman sebaya lebih selektif.

c) Memiliki citra (gambaran, keadaan, peranan) terhadap


11

dirinya.

d) Dapat mewujudkan perasaan cinta.

e) Memiliki kemampuan berfikir khayal atau absrak.

(Setiyaningrum & Aziz, 2014)

3. Konsep Dasar Keputihan

a. Definisi Keputihan

Menurut Pribakti (2014), keputihan adalah penyakit yang khas

diderita kaum wanita yang ditandai keluarnya cairan yang bukan

berupa darah dari vagina.

Menurut Sibagariang, Pusmaika, Rismalinda, (2010), fluor

albus adalah cairan yang keluar berlebihan dari vagina bukan

merupakan darah.

Menurut Saydam dan Syafni (2012), keputihan adalah satu

nama penyakit reproduksi kaum wanita, yang berupa keluarnya cairan

berwarna putih dari vaginanya, yang berupa lendir.

Keputihan fisiologis adalah cairan yang keluar dari vagina

disebabkan pengaruh perubahan hormon. Biasanya cairan yang keluar

sedikit, tidak berbau dan tidak terasa gatal, berwarna bening, putih,

cerah, sedikit berwarna kuning di pakaian dalam. sedangkan keputihan

patologis adalah cairan yang keluar dari vagina yang disebabkan oleh

infeksi, kumann, dan jamur. Akibatnya, timbul gejala-gejala yang

sangat mengganggu, seperti berubahnya cairan yang berwarna jernih

menjadi kekuningan sampai kehijauan, jumlahnya berlebihan, kental,

berbau, terasa gatal atau panas dan menimbulkan luka didaerah mulut
12

vagina (Pribakti, 2014).

b. Penyebab Keputihan

Penyebab terjadinya keputihan terdapat dari dua bagian yaitu :

1) Penyebab keputihan normal (fisilogis)

a) Pengaruh sisa estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina

janin sehingga bayi baru lahir sampai umur 10 hari

mengeluarkan keputihan.

b) Pengaruh estrogen yang meningkat pada saat menarche.

c) Rangsangan saat koitus sehingga menjelang persetubuhan

seksual menghasilkan secret, yang merupakan akibat adanya

pelebaran pembuluh darah di vagina atau vulva, secresi

kelenjar serviks yang bertambah sehingga terjadi pengeluaran

transudasi dari dinding vagina.

d) Kelelahan dan stress.

e) Adanya peningkatan produksi kelenjar-kelenjar pada mulut

rahim saat masa ovulasi.

f) Mukus servik yang padat pada masa kehamilan sehingga

menutup lemen serviks yang berfungsi mencegah kuman

masuk ke rongga uterus.

g) Selalu memakai celana dalam yang ketat dan terbuat dari bahan

yang tidak menyerap keringat.

2) Penyebab keputihan tidak normal (patologis)

a) Jamur

Jenis jamur candida albicans adalah jamur yang paling


13

sering menyebabkan keputihan.

b) Bakteri

Bakteri-bakteri yang dapat menyebabkan keputihan

adalah gonokokus, klamidia trakomatis, grandnerella, dan

treponema pallidium.

c) Parasit

Yang sering menyebabkan keputihan adalah trikomonas

vaginalis. Salah satu penularan trikomonas vaginalis yang

paling sering adalah dengan koitus.

d) Virus

Sering disebabkan oleh human papilloma virus (HPV)

dan herfes simpleks. HPV ditandai dengan kondiloma

akuminata, cairan berbau dan tanpa rasa gatal.

e) Neoplasma Jinak

Keputihan yang timbul disebabkan oleh peradangan

yang terjadi karena pertumbuhan tumor jinak ke dalam lumen.

f) Kelainan alat kelamin didapat atau bawaan

g) Kanker

Gejala keputihan yang timbul karena kanker adalah

cairan yang banyak berbau busuk serta terdapat bercak darah

yang tidak segar.

(Sibagariang, Pusmaika, Rismalinda, 2010).


14

c. Tanda dan Gejala Keputihan

Tanda dan gejala keputihan terbagi dari dua bagian yaitu :

1) Tanda dan gejala keputihan yang bukan karena penyakit

(fisiologis)

a) Cairan berwarna bening.

b) Cairan yang keluar tidak terasa gatal.

c) Jumlah cairan yang keluar sedikit dan tidak berbau.

d) Keluarnya cairan sebelum dan sesudah menstruasi.

(Pribakti, 2014)

2) Tanda dan gejala keputihan karena penyakit (patologis)

a) Sekret yang berlebihan berwarna putih kehijauan atau

kekuningan dan berbau tak sedap.

b) Keputihan yang disertai nyeri perut di bagian bawah atau nyeri

panggul belakang.

c) Sekret sedikit atau banyak berupa nanah, rasa sakit dan panas

saat berkemih atau terjadi saat hubungan seksual.

d) Sekret yang berlebihan seperti susu dan dapat menyebabkan

labia menjadi terasa gatal.

(Sibagariang. Pusmaika, Rismalinda, 2010)

d. Cara Mencegah Keputihan

Keputihan merupakan suatu penyakit yang mengganggu

kesehatan bagi setiap perempuan. Bakteri yang bersenbunyi karena

kondisi vagina yang kurang bersih dalam memeliharanya. Oleh karena

itu, setiap perempuan hendaknya dapat mencegah terjadinya keputihan


15

dengan cara sebagai berikut :

1) Organ intim harus selalu bersih dan terawat dengan baik sehingga

kuman penyakit tidak bersarang.

2) Biasakan sering mengganti pembalut saat menstruasi minimal 2-3

kali sehari.

3) Biasakan membasuh vagina dengan cara yang benar tiap kali buang

air kecil yaitu dari arah depan ke belakang.

4) Hindari pemakaian bedak pada organ dengan tujuan agar vagina

tetap kering sepanjang hari. Sebab bedak memiliki partikel harus

yang mudah terselip yang mengundang jamur atau bakteri ikut

bersarang.

5) Gunakan celana dalam yang bersih dan kering. Dan terbuat dari

bahan katun dan lembut.

6) Gunakan celana dalam yang bahannya mudah menyerap keringat.

7) Penggunaan cairan antiseptik pembersih vagina sebaiknya tidak

berlebihan karena dapat mematikan flora normal vagina.

8) Pola hidup sehat yaitu diet yang seimbang, olahraga rutin, itirahat

cukup, hindari rokok dan alcohol serta hindari stress

berkepanjangan.

9) Hindari penggunaan bedak talcum, sabun dengan pewangi pada

daerah vagina karena dapat menyebabkan iritasi.

10) Hindari pemakaian barang-barang yang memudahkan penularan

seperti meminjam perlengkapan mandi. Sedapat mungkin tidak

duduk di atas kloset WC umum atau biasakan mengelap dudukan

kloset sebelum menggunakannya.

11) Hindari menggunakan antiseptic yang berlebihan.


16

(Sibagariang, Pusmaika, Rismalinda, 2010)

B. Penelitian Terkait

1. Berdasarkan hasil penelitian Heliza pada tahun (2015), yang berjudul

gambaran pengetauhan remaja putri tentang keputihan di SMA Negeri 5

Pekanbaru di dapatkan mayoritas pengetahuan remaja putri tentang

keputihan adalah cukup yaitu sebanyak 47 responden (50,37%).

2. Berdasarkan hasil penelitian Olivia pada tahun (2009), yang berjudul

gambaran pengetahuan remaja putri tentang keputihan di SMA Handayani

Pekanbaru di dapatkan mayoritas pengetahuan remaja putri tentang

keputihan adalah cukup yaitu sebanyak 36 responden (45%).

C. Kerangka Konsep

Adapun kerangka koonsep dalam penelitian ini adalah :

Skema 2.1
Kerangka Konsep
Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Tentang Keputihan
Variabel
Kategori :
Gambaran Pengetahuan Baik : >75%
Remaja Putri Tentang Cukup : 60-75%
Keputihan Kurang : <60%
subvariabel

Tentang :
1 Pengertian keputihan
2 Penyebab keputihan
3 Tanda dan gejala keputihan
4 Cara mencegah keputihan

Keterangan:
17

_ _ _ _ _ _ _= Kategori pengetahuan yang digunakan


__________= Dimensi gambaran pengetahuan remaja putri tentang keputihan
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah Kuantitatif dan desain penelitian adalah

Deskriptif. Metode ini digunakan sesuai dengan tujuan penelitian yakni


mengetahui gambaran pengetahuan remaja putri tentang keputihan di SMA

Negeri 7 Pekanbaru.

B. Lokasi Dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian akan dilakukan di SMA Negeri 7 Pekanbaru.

2. Waktu Penelitian

Penelitian akan dilakukan pada bulan Desember Tahun 2016. Jadwal

penelitian secara rinci dapat dilihat pada tabel 3.1.

Tabel 3.1
Rencana Jadwal Kegiatan Penelitian

Jadwal Kegiatan Penelitian


Uraian Kegiatan Sept Okt Nov Des Jan
No
2016 2016 2016 2016 2017
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Persiapan (Pengajuan Judul KTI)
2 Seminar Proposal KTI
3 Pelaksanaan dan Pengumpulan Data
18

4 Pengolahan Data (Analisa Data)


5 Penyusun Laporan KTI
6 Presentasi Seminar Hasil KTI
C. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling

1. Populasi

Populasi merupakan seluruh subjek atau objek dengan karakteristik

tertentu yang akan diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh

siswi kelas X dan IX di SMA Negeri 7 Pekanbaru Tahun 2016 berjumlah

317 orang.

2. Sampel

Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian

jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Sampel dalam

penelitian ini adalah siswi kelas X dan IX SMA Negeri 7 Pekanbaru.

Rumusan penarikan sampel :

1+ (d )2


n=
keterangan :

N : Besar populasi

n : Besar sampel

d : Tingkat kepercayaan (0,1)

N
n=
1+ N ( d)2

317
n= 2
1+317(0,1)

317
n=
1+317(0,01)
19

317
n=
1+3,17

317
n=
4,17

n= 76,0

n= 76,0 dibulatkan menjadi 76

Jadi, sampel dalam penelitian ini berjumlah 76 orang.

3. Teknik sampling

Teknik pengumpulan sampel yang digunakan peneliti adalah secara

acak stratifikasi (Stratified Random Sampling) yaitu dilakukan dengan cara

mengidentifikasi karakteristik umum dari anggota populasi kemudian

menentukan strata atau lapisan dari jenis karakteristik unit tersebut

(Notoatmodjo, 2012).

22 x 76
Siswi Kelas X 1 = = 5,2 (5 siswi)
317

24 x 76
Siswi Kelas X 2 = = 5,7 (6 siswi)
317

23 x 76
Siswi Kelas X 3 = = 5,5 (6 siswi)
317

19 x 76
Siswi Kelas X 4 = = 4,5 (5 siswi)
317

22 x 76
Siswi Kelas X 5 = = 5,2 (5 siswi)
317

22 x 76
Siswi Kelas X 6 = = 5,2 (5 siswi)
317

20 x 76
Siswi Kelas X 7 = = 4,7 (5 siswi)
317
20

27 x 76
Siswi Kelas XI IPA 1 = = 6,4 (6 siswi)
317

28 x 76
Siswi Kelas XI IPA 2 = = 6,7 (7 siswi)
317

28 x 76
Siswi Kelas XI IPA 3 = = 6,7 (7 siswi)
317

20 x 76
Siswi Kelas XI IPS 1 = = 4,7 (5 siswi)
317

18 x 76
Siswi Kelas XI IPS 2 = = 4,3 (4 siswi)
317

22 x 76
Siswi Kelas XI IPS 3 = = 5,2 (5 siswi)
317

22 x 76
Siswi Kelas XI IPS 4 = = 5,2 (5 siswi)
317

Jadi jumlah responden untuk masing-masing kelas yaitu: kelas X 1

sebanyak 5 orang, kelas X 2 sebanyak 6 orang, kelas X 3 sebanyak 6

orang, kelas X 4 sebanyak 5 orang, kelas X 5 sebanyak 5 orang, kelas X 6

sebanyak 5 orang, kelas X 7 sebanyak 5 orang, kelas XI IPA 1 sebanyak 6

orang, kelas XI IPA 2 sebanyak 7 orang, kelas XI IPA 3 sebanyak 7 orang,

kelas XI IPS 1 sebanyak 5 orang, kelas XI IPS 2 sebanyak 7 orang, kelas

XI IPS 3 sebanyak 5 orang, kelas XI IPS 4 sebanyak 5 orang. Pemilihan

responden diambil dengan membuat undian dimasing-masing kelas dan

siapa yang mendapatkan undian maka dialah yang menjadi responden.

D. Instrument Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat-alat yang akan digunakan untuk

pengumpulan data. Instrumen pada penelitian dengan menggunakan


21

kuesioner. Kuesioner terdiri dari beberapa pernyataan tertutup yang tersusun

dengan baik, sudah matang, dimana responden tinggal memberikan jawaban

benar atau salah (Notoatmodjo, 2012).

Pernyataan yang diberikan kepada responden adalah mengenai

gambaran pengetahuan remaja putri tentang keputihan. Peneliti membagikan

kuesioner kepada responden berjumlah 16 pernyataan yang sudah disediakan

jawabannya sehingga responden tinggal memilih jawaban (benar atau salah)

yang sesuai dengan pengetahuan responden.

Tabel 3.2
Kisi Kisi Kuesioner
Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Tentang Keputihan

Pernyataan
No Indikator Jumlah Soal
Favorable Unfavorabel

1Pengertian Keputihan 1,3 2,4 4

2Penyebab Keputihan 5,7 6,8 4

3Tanda dan Gejala Keputihan 11,12 9,10 4

4Cara Mencegah Keputihan 13,16 14,15 4

Jumlah 8 8 16

E. Definisi Operasional

Definisi Operasional berfungsi untuk mambatasi ruang lingkup atau

pengertian variabel-variabel diamati atau diteliti. Definisi operasional ini juga

bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap

variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrumen (alat

ukur). (Notoatmodjo, 2012).

Tabel 3.3
22

Definisi Operasional
Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Tentang Keputihan
di SMA Negeri 7 Pekanbaru tahun 2016

Definisi Skala
Variabel Sub Variabel Alat Ukur Hasil Ukur
Operasional Ukur
Pengetahuan Adalah segala Kuesioner Ordinal 1. Baik >75%, jika
remaja putri sesuatu yang responden
tentang diketahui oleh menjawab > 12
keputihan remaja putri pernyataan.
tentang keputihan 2. Cukup 60-75%,
jika responden
menjawab 10-12
pernyataan.
3. Kurang <60%,
jika responden
menjawab < 10
pernyataan.
Definisi Pemahaman Kuesioner Ordinal 1. Baik >75%, jika
keputihan remaja putri responden
tentang keputihan menjawab > 3
pernyataan.
2. Cukup 60-75%,
jika responden
menjawab 3
pernyataan.
3. Kurang <60%, jika
responden
menjawab < 3
pernyataan.
Penyebab Segala sesuatu Kuesioner Ordinal 1. Baik >75%, jika
keputihan yang bisa responden
menimbulkan menjawab > 3
keputihan pernyataan.
2. Cukup 60-75%,
jika responden
menjawab 3
pernyataan.
3. Kurang <60%, jika
responden
menjawab < 3
pernyataan.
23

Tanda dan Tanda dan gejala Kuesioner Ordinal 1. Baik >75%, jika
gejala dari keputihan responden
keputihan menjawab > 3
pernyataan.
2. Cukup 60-75%,
jika responden
menjawab 3
pernyataan.
3. Kurang <60%, jika
responden
menjawab < 3
pernyataan.
Cara mencegah Cara untuk Kuesioner Ordinal 1. Baik >75%, jika
keputihan menghindari dari responden
keputihan menjawab > 3
pernyataan.
2. Cukup 60-75%,
jika responden
menjawab 3
pernyataan.
3. Kurang <60%, jika
responden
menjawab < 3
pernyataan.

F. Etika Penelitian

Menurut Saryono (2011), prinsip etika penelitian yang diterapkan

dalam penelitian ini, antara lain:

1. Lembar Persetujuan Menjadi Responden (Informed consent)

Informed consent diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan

memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden.

2. Tanpa nama (Anonymity)

Seluruh responden hanya menuliskan kode pada lembar

pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disampaikan.

3. Kerahasiaan (Confidentially)

Semua informasi yang telah dikumpulkan di jamin kerahasiaannya


24

oleh peneliti.

G. Prosedur Pengumpulan Data

Menurut Notoatmojodjo (2012), data yang diolah secara manual

setelah data terkumpul kemudian diolah dengan langkah-langkah sebagai

berikut:

1. Penyunting Data (Editing)

Hasil wawancara atau angket yang diperoleh atau dikumpulkan

melalui kuesioner perlu disunting (edit) terlebih dahulu. Jika ternyata

masih ada data yang tidak lengkap, maka kuesioner tersebut dikeluarkan

2. Membuat Lembaran Kode (Coding Sheet)

Lembaran atau kartu kode adalah instrumen berupa kolom-kolom

untuk merekam data secara manual. Lembaran berisi nomor responden,

dan nomor-nomor pernyataan

3. Penyusunan Data (Tabulating )

Yakni membuat tabel-tabel data, sesuai dengan tujuan penelitian

atau yang diinginkan oleh peneliti.

H. Analisa Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis

univariate. Menurut Notoatmodjo (2012), analisis univariate adalah analisis

yang bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap

variabel penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan

distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variable. Dari data tentang hasil
25

pengukuran pengetahuan tersebut dapat dikategorikan dalam beberapa

kategori seperti baik, cukup dan kurang. Persentase data yang terkumpul dan

sajian bentuk tabel frekuensi dan dipersentasekan dari tiap-tiap variabel

dengan rumus sebagai berikut:

P = F x 100 %
N

Keterangan :

P : Presentase

F : Jumlah Jawaban Yang Benar Dari Responden

N : Jumlah Soal
26

Penentuan tingkat pengetahuan responden penelitian tentang sub

variable dan variable dengan cara mengkoferensikan nilai sub variable

maupun variable kedalam Kategori kualitatif, sebagai berikut :

Nilai > 75% : baik

Nilai 60-75% : cukup

Nilai < 60% : kurang

(Arikunto, 2013)
27

DAFTAR PUSTAKA

Sibagariang, Eva Ellya. et al. (2010). Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta:


Trans Info Media
.
Notoatmodjo, Soekidjo. (2010). Promosi Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

Wawan & Dewi. (2010). Pengetahuan, Sikap, Perilaku Manusia. Yogyakarta :


Nuha Medika

Pribakti. (2014). Menjaga Miss V tetap Sehat dan Seksi. Surabaya : Pena Semesta

Budiman & Agus Riyanto. (2014). Kapita Selekta Kuesioner Pengetahuan dan
Sikap dalam Penelitian Kesehatan. Jakarta : Salemba Medika

Kusmiran, Eny. (2012). Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita. Jakarta :


Salemba Medika

Kumalasari, Intan & Iwan Andiyantoro. (2012). Kesehatan Reproduksi. Jakarta :


Salemba Medika

Saydam, Syafni. (2012). Waspada Penyakit Reproduksi Anda.Bandung : Pustaka


Reka Cipta

Widyaastuti, Yani. et al. (2009). Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta : Fitramaya

Setiyaningrum, Erna & Zulfa .(2014). Pelayanan Keluarga Berencana &


Kesehatan Reproduksi. Jakarta : Trans Info Media

Riduwan & Akdon. (2013). Rumus dan Data dalam Aplikasi Statistik. Jawa
Barat : Alfabeta

Arikunto, Suharsimi. (2013). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik


Jakarta : Rineka Cipta

Notoatmodjo, Soekidjo. (2012) Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta :


Rineka Cipta.

Saryono, Ari Setiawan. (2011). Metodologi Penelitian Kebidanan DIII, DIV, S1


dan S2. Yogyakarta : Nuha Medika

Olivia. (2009). Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Tentang Keputihan. 35-36


.
28

Helizah. (2015). Gambran Pengetahuan Remaja Putri Tentang Fluor Albus


Patologis. 27-28.
Pitriani, Risa. (2014). Perawatan Vagina, Kesehatan Lingkungan dan Pendapatan
Keluarga dengan Kejadian keputihan pada remaja Putri. JIK Vol. II No. 2
Agustus 2014.

Wawan & Dewi. (2010). Teori dan Pengkuruan Pengetahuan, Sikap, Prilaku
Manusia

Setyorini, Asih. (2015). Hubungan Tingkat Pengetahuan Remaja tentang


Keputihan dengan Kejadian Keputihan. Diperoleh tanggal 03 desember
2016 dari http://e-journal.akbid-purworejo.ac.id

Machfoedz, I. (2009). Metodologi Penelitian Bidang Kesehatan, keperawatan,


kebidanan, kedokteran. Yogyakarta: Fitra Maya
29

LEMBAR KUESIONER
GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG
KEPUTIHAN DI SMA NEGERI 7 PEKANBARU

A. Petunjuk Pengisian Kuesioner


1. Untuk menjawab pernyataan pilih benar atau salah, yang menurut anda
paling benar dan beri tanda ().
2. Hanya boleh satu jawaban

B. Identitas Responden
1. Kode Responden :
2. Umur :

C. Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Tentang Keputihan

No Pernyataan Benar Salah

Pengertian Keputihan
Keputihan adalah keluarnya cairan berlebihan melalui
1
vagina yang bukan berupa darah.
Keluarnya cairan berwarna kekuningan sampai kehijauan
2 dan kental merupakan salah satu keputihan tidak normal
(patologis).
Keputihan normal (fisiologi) adalah keluarnya cairan dari
3
vagina karena infeksi, kuman, dan jamur.
Salah satu keputihan adalah keluarnya cairan berwarna
4
sedikit keruh.

Penyebab Keputihan
Keputihan di sebabkan karena pengaruh hormon estrogen
5
yang meningkat pada saat menarche.
Peningkatan produksi kelenjar-kelenjar pada mulut rahim
6 saat masa ovulasi merupakan salah satu penyebab
keputihan tidak normal (patologis).
7 Salah satu penyebab keputihan adalah kelelahan dan stress.
Memakai celana dalam yang lembut dan terbuat dari bahan
8 katun salah satu penyebab keputihan.
30

Tanda dan Gejala Keputihan


Tanda dan gejala keputihan normal (fisiologis) adalah
keluarnya cairan bercampur darah dan disertai bau tidak
9
sedap.
Tanda dan gejala keputihan tidak norma (patologis) adalah
10 Keluarnya cairan berwarna bening, sedikit, dan tidak terasa
gatal.
Salah satu tanda dan gejala keputihan adalah nyeri perut di
11
bagian bawah atau nyeri perut di bagian belakang.
Cairan berwarna putih jernih yang keluar melalui vagina
12
adalah salah satu tanda dan gejala keputihan.

Cara Mencegah Keputihan


Cara mencegah keputihan adalah pola hidup sehat seperti
13
diet yang seimbang,olahraga rutin dan istirahat yang
cukup.
Untuk mencegah terjadinya keputihan adalah
14
membersihkan vagina dari arah belakang ke depan.
Menggunakan antiseptic yang berlebihan adalah salah satu
15
cara mencegah keputihan.
Salah satu cara mencegah keputihan adalah menjaga
16
kebersihan organ genitalia (vagina).