Anda di halaman 1dari 27

SKENARIO

Klien Tn. S usia 26 tahun,agama islam,suku bangsa Makassar,Pendidikan


terakhir SMT,alamat Limbung Kabupaten Gowa.Klien anak ke-4 dari
empat bersaudara,klien tinggal bersama kakaknya. Ayah klien meninggal
19 tahun yang lalu dan ibunya meninggal 12 tahun lalu. Tidak ada
riwayat hereditar.No.RM 015435.Klien mengamuk melempar
kakaknya,membanting barang-barang,bicara sendiri,berjalan mondar-
mandir,mendengar suara-suara yang menyuruh klien mengamuk,klien
melihat bayangan-bayangan orang. Hal ini dialami klien 3 tahun sebelum
masuk RS,sejak mendaftar dan lulus PT. Semen Tonasa tetapi terlambat
diberi tahu sehingga klien digantikan oleh orang lain.Klien pernah bekerja
di Plaza tetapi berhenti karena sakit.Klien pernah berobat jalan di
poliklinik RS Dadi Makassar tapi tidak teratur minum obat.
Keluhan utama saat pengkajian tanggal 31 Mei 2003 di ruang Nyiur
yaitu klien mengeluh tidak bisa bergaul dengan orang lain,karena merasa
dirinya akan diganggu oleh klien lain,klien suka menyendiri. Klien
mengatakan dirinya tidak berguna karena tidak bekerja,tidak bisa
menghasilkan uang,serta hanya merepotkan saudara-saudaranya. Klien
merasa sejak sakit dijauhi oleh teman-temannya. Saat interaksi klien
nampak merespon pertanyaan yang diberikan dan menjawab
singkat,kontak mata kurang,klien sering menunduk memainkan jari-jari
tangannya,kadang melamun dan tatapan mata tampak kosong. Klien
mengatakan sejak dirawat di rumah sakit jarang dibesuk oleh
keluarganya. Klien nampak sedih saat menceritakan bahwa dia lulus PT.
Semen Tonasa tetapi terlambat di beritahu.
STEP I
KATA SULIT
Hereditar = faktor keturunan
STEP II
KATA KUNCI
1. Klien mengeluh tidak bisa bergaul dengan orang lain,karena merasa
dirinya akan diganggu oleh klien lain,klien suka menyendiri
2. Klien mengatakan dirinya tidak berguna karena tidak bekerja,tidak
bisa menghasilkan uang,serta hanya merepotkan saudara-saudaranya
3. Klien merasa sejak sakit dijauhi oleh teman-temannya
4. Saat interaksi klien nampak merespon pertanyaan yang diberikan dan
menjawab singkat,kontak mata kurang,klien sering menunduk
memainkan jari-jari tangannya,kadang melamun dan tatapan mata
tampak kosong
5. Klien nampak sedih saat menceritakan bahwa dia lulus PT. Semen
Tonasa tetapi terlambat di beritahu
FOKUS MASALAH
MENARIK DIRI
STEEP III
PERTANYAAN
Askep menarik diri dan strategi palaksanaan.
STEEP IV
JAWABAN PERTANYAAN

Menarik diri (withdrawal) adalah suatu tindakan melepaskan diri, baik


perhatian maupun minatnya terhadap lingkungan sosial secara langsung
( isolasi diri ). Pada mulanya klien merasa dirinya tidak berharga lagi
sehingga merasa tidak aman dalam berhubungan dengan orang lain.

Pada klien dengan menarik diri diperlukan rangsangan/ stimulus yang


adequat untuk memulihkan keadaan yang stabil. Stimulus yang positif dan
terus menerus dapat dilakukan oleh perawat. Apabila stimulus tidak
dilakukan / diberikan kepada klien tetap menarik diri yang akhirnya dapat
mengalami halusinasi, kebersihan diri kurang dan kegiatan hidup se hari
hari kurang adequat.

Menyadari pentingnya stimulus yang adequat tersebut serta melihat


kenyataan bahwa selama beberapa hari kami amati banyak kasus kasus
dengan menarik diri di ruang Jiwa C , maka kami terdorong untuk
menerapkan asuhan keperawatan klien Tn. S dengan masalah utama
menarik diri dengan tujuan :
1. Mempelajari kasus menarik diri disesuaikan dengan teori dan konsep
yang telah diterima
2. Memberikan asuhan keperawatan pada klien menarik diri dengan
pendekatan proses keperawatan
3. Mendesiminasikan asuhan keperawatan klien menarik diri.
Daftar Masalah Keperawatan
1. Isolasi sosial
2. Harga diri rendah
3. Perubahan persepsi sensori : Halusinasi dengar
4. Resiko mencederai diri dan orang lain
5. Ketidakefektifan pelaksanaan regimen teraupetik
6. Defisit perawatan diri
7. Kurangnya pengetahuan keluarga dalam perawatan klien

POHON MASALAH

Resiko mencederai diri


Dan orang lain

Penatalaksanana
regimen
Defisit perawatan diri Teraupetik
inefektif

Perubahan persepsi sensori :


Halusinasi lihat dengar

Kurangnya motivasi dalam Isolasi sosial : Menarik diri Kurang


Perawatan diri pengetahuan
keluarga
dalam
merawat klien
di
rumah

Harga diri rendah


DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah

2. Perubahan persepsi sensori : Resiko halusinasi lihat dan dengar


berhubungan dengan menarik diri

3. Penatalaksanaan regimen teraupetik inefektif berhubungan dengan


kurangnya pengetahuan keluarga dalam merawat klien di rumah

4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kurangnya motivasi dalam


perawatan dirI.
A. PROSES TERJADINYA MASALAH KEPERAWATAN
5. Gangguan hubungan sosial adalah keadaan dimana
individu kurang berpartisipasi dalam jumlah berlebihan atau
hubungan sosial yang tidak efektif (Rawlins, 1993). Sedangkan definisi
dari isolasi sosial adalah keadaan dimana individu/kelompok
mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk
meningkatkan keterlibatannya dengan orang lain tetapi tidak mampu
untuk membuat kontak.(Carpenito, 1998). Dari dua definisi tersebut
terlihat bahwa individu menarik diri mengalami gangguan dan
kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain.
6. Salah satu gangguan berhubungan sosial diantaranya
perilaku menarik diri atau isolasi yang disebabkan oleh perasaan tidak
berharga, yang biasanya dialami klien dengan latar belakang
lingkungan yang penuh dengan permasalahan,
ketegangan,kekecewaan dan kecemasan.
7. Menurut Stuart dan Sundeen (1995), faktor predisposisi
dari gangguan hubungan sosial adalah : 1) faktor perkembangan
dimana setiap gangguan dalam pencapaian tugas perkembangan akan
menyebabkan seseorang mempunyai masalah respon sosial yang
maladaptif. Untuk faktor perkembangan, setiap tahap tumbuh
kembang memiliki tugas yang harus dilalui individu dengan baik. Bila
tugas perkembangan ini tidak dapat dilalui dengan baik maka akan
menghambat tahap perkembangan selanjutnya, 2) faktor genetik
dimana salah satu faktor yang menunjang adalah adanya respon sosial
yang maladaptif dari orang tua atau garis keturunan diatas, 3) faktor
komunikasi dalam keluarga dimana masalah komunikasi dalam
keluarga dapat menjadi kontributor untuk mengembangkan gangguan
tingkah laku. Masalah komunikasi tersebut antara lain sikap
bermusuhan , selalu mengkritik, menyalahkan, kurang kehangatan,
kurang memperhatikan anak, emosi yang tinggi. Komunikasi dalam
keluarga amatlah penting dengan memberikan pujian,adanya tegur
sapa dan komunikasi terbuka.
8. Kurangnya stimulasi, kasih sayang dan perhatian dari
ibu/pengasuh pada bayi akan memberikan rasa tidak aman yang akan
menghambat terbentuknya rasa percaya diri. 4)faktor sosio kultural
yaitu norma yang tidak mendukung terhadap pendekatan orang lain
atau norma yang salah yang dianut keluarga, seperti anggota keluarga
yang gagal diasinglan dari lingkungan sosial.
9. Perasaan tidak berharga menyebabkan klien makin sulit
dalam mengembangkan hubungan dengan orang lain, akibatnya klien
menjadi regresi, mengalami penurunan dalam aktivitas dan kurangnya
perhatian terhadap penampilan dan kebersihan diri. Klien semakin
tenggelam dalam pengalaman dan pola tingkah laku masa lalu serta
tingkah laku primitif antara lain pembicaraan yang austik dan tingkah
laku yang tidak sesuai dengan kenyataan sehingga dapat berakibat
lanjut terjadinya halusinasi dan gangguan komunikkasi verbal karena
klien tidak mau berinteraksi secara verbal dengan orang lain.
Halusinasi pada klien dapat menimbulkan resiko mencederai diri dan
orang lain apabila halusinasinya menyuruh klien untuk melakukan
kekerasan pada diri maupun orang lain dan lingkungan sekitarnya.
10. Klien dengan harga diri rendah akan membuat dirinya
enggan berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Tidak adanya
dukungan untuk berinteraksi membuat klien semakin menarik diri dari
lingkungannya. Akibat menarik diri, klien akan mengalami halusinasi.
Halusinasi pada akhirnya akan menguasai klien, pada tahapan lebih
lanjut, sehingga memunculkan resiko kekerasan. Harga diri rendah
juga akan menimbulkan koping mekanisme pada klien di mana ia
mengkompensasikan perasaannya dengan waham kebesaran untuk
mengatasi harga dirinya yang rendah. Waham akan mempengaruhi
komunikasi klien dimana setiap berkomunikasi klien selalu terarah
pada wahamnya sendiri sehingga terjadi gangguan komunikasi verbal.
11. Masalah klien yang biasa muncul pada klien menarik diri
adalah koping individu tidak efektif, koping keluarga tidak efektif,
harga diri rendah,isolasi sosial menarik diri, resiko tinggi
halusinasi,kerusakan interaksi sosial, intoleransi aktivitas dan defisit
perawatan diri ( Depkes 1995 ). Sedangkan masalah keperawatan
yang terjadi pada Tn S adalah : Isolasi sosial menerik diri, harga diri
rendah, resiko halusinasi, , koping keluarga tidak efektif :
penatalaksanaan regimen teraupeutik in efektif, defisit perawatan diri.
.
12.
A. TINDAKAN KEPERAWATAN
13. Dalam menyusun tindakan keperawatan untuk mengatasi
masalah keperawatan di atas digunakan beberapa sumber antara lain :
Carpenito (1998 ) , Stuart dan Sundeen (1995 ).
14. ISOLASI SOSIAL : Menarik diri
15. Prinsip tindakan
1. Bina hubungan saling percaya
2. Interaksi sering dan singkat
3. Dengarkan dengan sikap empati
4. Beri umpan balik yang positif
5. Ciptakan suasana yang ramah dan bersahabat
6. Jujur dan menepati semua janji
7. Susun dan tulis daftar kegiatan harian bersama klien sesuai dengan
jadwal ruangan, minat serta kemampuan klien
8. Bimbing klien untuk meningkatkan hubungan sosial secara bertahap
mulai dari klien-perawat, klien dua orang perawat, klien-dua perawat-
dan klien lain, klien dengan kelompok kecil, klien dengan kelompok
besar
9. Bimbing klien untuk ikut ambil bagian dalam aktivitas kelompok
seperti dalam terapi aktivitas kelompok : sosialisasi
10. Berikan pujian saatklien mampu berinteraksi dengan orang lain
11. Diskusikan dengan keluarga untuk mengaktifkan support system
yang ada
12. Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian obat anti depresan
16.
17. HARGA DIRI RENDAH
18. Prinsip Tindakan :
1. Perluas kesadaran klien
- Bina hubungan saling percaya
- Berikan pekerjaan pada klien pada tingkat kemampuan yang
dimiliki
19. Maksimalkan peran serta klien dalam hubungan
terapeutik
2. Dukung ekplorasi diri klien
- Bantu klien untuk menerima perasaan danpikiran- pikirannya
- Bantu mengklarifikasi konsep diri dan hubungan denganorang lain
melalui keterbukaan
- Berikan respon empati bukan simpati dan tekankan bahwa
kekuatan untuk berubah ada pada diri klien
3. Bantu klien merumuskan perencanaan yang realistik
- Bantu klien mengidentifikasi alternatif pemecahan masalah
- Bantu mengkonseptualkan tujuan yang realistik.
20.
21. PERUBAHAN PERSEPSI SENSORI ; Resiko halusinasi lihat dan dengar
22. Prinsip tindakan :
1. Tetapkan hubungan saling percaya dan lakukan dengan kontak sering
dan singkat
2. Kaji gejala halusinasi
3. Fokus pada gejala dan minta klien untuk menjelaskan apa yang terjadi
4. Tidak mendukung atau menentang halusinasi
5. Bantu klien menjelaskan dan membandingkan halusinasi saat ini dan
yang baru saja dialami
6. Dorong klien untuk mengobservasi dan menjelaskan pikiran, perasaan
dan tindakan yang berhubungan dengan halusinasi ( saat ini maupun
yang lalu )
7. Bantu klien menjelaskan kebutuhan yang mungkin direfleksikan dalam
isi halusinasi
8. Hadirkan realitas
9. Gunakan bahasa yang jelas dan komunikasi secara langsung serta
pertahankan kontak mata
10. Diskusikan penyebab, isi, waktu terjadi dan cara untuk memutus
halusinasi
11. Berikan tugas dan aktivitas yang dapat dilakukan
12. Diskusikan manfaat dari taerapi medis dengan klien
23.
24. DEFISIT PERAWATAN DIRI
25.
26. Prinsip Tindakan :
1. Ciptakan lingkungan yang tenang
2. Fasilitasi peralatan perawatan diri klien
3. Motivasi klien dalam melakukan perawatan diri
4. Dorong klien untuk mengungkapkan keuntungan dan manfaat dari
perawatan diri
5. Beri reinforcemen positif atas tindakan klien yang mendukung ke arah
perawatan diri.
27.
28. PENATALAKSANAAN REGIMEN TERAPEUTIK IN EFEKTIF
29.
30. Prinsip tindakan :
1. Tingkatkan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit dan
terapi yang diperlukan.
2. Libatkan keluarga dalam rencana perawatan klien.
3. Optimalkan penggunaan sumber dan sistem pendukung.
4.
5. P E L A K S A N A A N
6.
7. Asuhan keperawatan terhadap Tn S dilaksanakan dalam 10 kali
pertemuan. Di bawah ini akan diuraikan tindakan keperawatan yang
dilakukan untuk setiap diagnosa, evaluasi serta tindak lanjutnya.
8.
9. Diagnose keperawatan
10. Perubahan sensori persepsi : Resiko halusinasi lihat dan
dengar berhubungan dengan menarik diri
11. Tujuan Umum :
12. Klien dapat berinteraksi dengan orang lain di lingkungannya sehingga
halusinasi lihat dan dengar tidakterjadi.
13. Implementasi :
14. Pada pertemuan pertama , perawat membina hubungan saling
percaya dengan klien dengan cara : mengucapkan salam dan menyapa
klien dengan ramah, memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan
pertemuan, menunjukkan sikap tenang dan penuh perhatian dengan
menemani klien dan membuat kontrak yang jelas. Melakukan interaksi
sering dan singkat. Membicarakan dengan klien penyebab menarik diri.
Mendiskusikan akibat menarik diri,mendiskusikan keuntungan dalam
berinteraksi dengan orang lain. Memotivasi klien untuk bersosialisasi
dengan perawatlain, klien lain secara bertahap. Memberikan pujian saat
klien mau berinteraksi dengan perawat lain dan klien lain. Mendampingi
klien saat memulai interaksidengan perawat lain atau klienlain,
menyusun aktivitas sehari-hari klien sesuai kemampuannya,
kesanggupannya serta dengan perencanaandi ruangan.
15. Evaluasi :
16. Pada pertemuan ke 3 hubungan saling percaya sudah dapat
terbina dengan lebih baik. Tetapi klien masih belum bisa menyebutkan
penyebab menarik dirinya. Klien juga belum mampu menyebutkan
keuntungan berinteraksi denganorang lain. Pada pertemuan ke 4 sudah
bisa bersosialisasi dengan perawat lain dan klien lain., tapi masih belum
bisa menyebutkan penyebab tidak maubergaul dengan orang lain, Pada
pertemuan ke 5 klien dapat menjelaskan keuntungan berhubungan
dengan orang lain dan klien sudah mau berinteraksi dengan klien
lain,bahkan bergandengan tangan dengan klien lain.
17. Tindak lanjut
18. Mempertahankan implementasi yang telah diberikan. Melakukan
kerja sama dengan perawat ruangan untuk melatih aktifitas yang teratur
dan mendiskusikan mengenai partisipasi keluarga dalam merawat klien .
19.
20. Isolasi sosial : menarik diri berhubungandengan harga diri
rendah
21.
22. Tujuan Umum :
23. Klien dapat meningkatkan harga dirinya, sehingga klien dapat
berhubungan dengan orang lain.
24. Implementasi :
25. Mempertahankan hubungan saling percaya antara perawat klien
melalui cara : menyapa klien dengan ramah dan mengucapkan salam.,
menjelaskan tujuan pertemuan, menunjukkan sikap empati, membuat
kontrak yang jelas untuk pertemuan selanjutnya . Menunjukkan sikap
penuh perhatian dan penghargaan dengan menemani klien walaupun
klien menolak untuk berinteraksi . Mendorongklien untuk menyebutkan
aspek/ kemampuan positif yang dimiliki klien dan memberikan pujian
terhadap kemampuan positif klien yang menonjol. Mendiskusikan dan
memotivasi klien untuk mengungkapkan perasaan, pikiran dan
mendengarkan klien dengan perhatian
26. Evaluasi
27. Pada pertemuan ke 5 klien mulai mau menyebutkan kemampuan
yang dimilikinya dan klien mau menunjukkan kemampuannya di depan
perawat yaitu klien dapat menyanyi dan pandai bermain gitar. Namun
klien masih sulit untuk memulai pembicaraan. Pertemuan ke 6 klien lebih
dapat berinteraksi dengan klien lain dan dapat tersenyum membalas
sapaan perawat.
28. Tindak lanjut :
29. Mempertahankan interaksi yang sudah dicapai klien dan
merencanakan untuk diikutkan dalam terapi aktivitas kelompok.
30.
31. Penatalaksanaan regimen teraupetik in efektif berhubungan
dengan kopingkeluarga inefektif
32.
33. Tujuan Umum :
34. Penatalaksanaan regimen teraupetik efektif
35. Implementasi :
36. Mengajak keluarga untuk mengidentifikasi perilaku klien yang mal
adaftif usaha memberi perawatan pada klien,memberi pujian atas
tindakan keluarga yang adaptif, mendiskusikan dengan keluarga tindakan
yang dapat dalakukan terhadap keluarga untuk menunjang kesembuhan
klien ( memberikan aktivitas, memotivasi melakukan hobinya mengajak
klien pada realitas ),mendiskusikan tentang pentingnya peran
keluarga,menganjurkan bersikap hangat, menghargai dan tidak
memarahi klien, serta memberi pujian terhadap perilaku klien yang
adaptif , memberikan kesempatan kepada keluarga untuk mengambil
keputusan tentang koping yang efektif dalam merawat klien,
menanyakan kepada keluarga bagaimana persepsi dan penerimaan
linkungan dengan adanya anggota keluarga yang mengalami gangguan
jiwa, mendiskusikan dengan keluarga cara penyampaian pada
masyarakat tantang anggota keluarga yang mengalami gangguan
jiwa,menganjurkan keluarga untuk konsultasi ke fasilitas bila menemukan
kesulitan, memotivasi klien dan keluarga untuk kontrol teratur
37. Evaluasi
38. Pada pertemuan ke 6 sampai ke 10 terlihat keluarga mencoba
menerapkan apa yang telah didiskusikan dengan perawat dan akan
melaksanakannya ketika klien harus pulang.
39.
40. Tindak lanjut
41. Memberikan dorongan kepada keluarga dan merencanakan
untuk kunjungan rumah
42.
43. Defisit Perawatan diri berhubungan dengan kurang motivasi
dalam perawtan diri
44.
45. Tujuan Umum :
46. Klien dapat meningkatkan motivasi tentang kebersihan diri, sehingga
kebutuhan klien terjaga dan terpelihara
47. Implementasi :
48. Mempertahankan hubungan saling percaya yang telah terbina,
dengan cara mengucapkan salam dan menunjukkan sikap ramah saat
berinteraksi dengan klien. Menciptakan lingkungan yang tenang saat
berinteraksi. Memberikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan
perasaannya dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Memotivasi
klien untuk mandi memakai sabun, menggosok gigi, mengganti pakaian
setiap hari, memotivasi klien untuk memotong kuku seminggu sekali bila
terlihat kotor dan panjang, mendorong klien untuk mengungkapkan
perasaannya setelah melakukan perawatan diri, memberikan pujian atas
perilaku klien yang mendukung pada perawatan diri.
49. Evaluasi :
50. Pada pertemuan 1 dan 2 klien belum bersedia untuk melakukan
perawatan diri, klien selalu menunggu ayahnya untuk perawatan diri,
klien terlihat kusam ,rambut acak-acakan, baju lusuh karena klien
menolak untuk perawtan diri.Pertemuan ke 3 klien sudah bersedia ke
kamar mandi di antar ayahnya, sudah bersedia mandi tetapi belum
bersedia memakai baju yang rapi dan menyisir rambut. Pertemuan ke 3,
4 ,5
51. Klien sudah mandi sendiri tapi tidak bersedia memakai handuk
sehingga baju terlihat basah. Sampai pertemuan terakhir klien bersedia
mandi bila disuruh , bukan atas kemauan sendiri, tapi klien sudah bisa
melakukan sendiri dengan pengawasan
52. Tindak lanjut :
53. Mempertahankan pemberian motivasi kepada klien dalam
melakukan perawatan diri, membuat jadual kegiatan klien sehari-hari.
Meningkatkan kualitas ADL klien dengsn mendorong klien untuk
melaksanakan semua ADL yang telah dibuat dan mengikut sertakan
keluarga dalam memonitor ADL klien.
54. PEMBAHASAN
55.
56. Dalam bab ini akan dijelaskan sejauh mana keberhasilan
tindakan keperawatan secara teoritis yang telah diaplikasikan pada kasus
Tn. S, dimana proses terjadinya menarik diri pada klien hampir sama
dengan teori yakni disebabkan oleh harga diri rendah. Harga diri rendah
disebabkan beberapa kegagalan dan kekecewaan yang pernah dialami
pada masa lalu hingga menyebabkan klien mengisolasi diri dari
lingkungannya,tidak mau bergaul dengan lingkungannya, tidak peduli
dengan aktivitas.
57.
58. Untuk diagnosa perubahan persepsi sensori : resiko halusinasi
dengar, berhubungan dengan menarik diri, sesuai dengan teori. Tindakan
keperawatan yang paling utama dan pertama adalah membina hubungan
saling percaya, meskipun tidak ada respon dari klien. Tindakan yang
dilakukan perawat antara lain kontak sering dan singkat, memberi
dukungan,mendengarkan ungkapan klien. Kontak sering dan singkat pada
klien dapat diterima oleh klien dan tindakan tersebut dapat berhasil. Aplikasi
teori mendiskusikan dengan klien penyebab menarik diri, akibat menarik
diri, melibatkan klien untuk berinteraksi dengan perawat dan klien lain serta
memberikan pujian atas kemampuan klien. Melibatkan klien dalam aktivitas
kelompok, berinteraksi dengan perawat dan sesama klien , dapat
menjadikan klien lebih ceria.
59.
60. Untuk diagnosa keperawatan menarik diri berhubungan dengan
harga diri rendah telah di aplikasikan teori tindakan keperawatan. Klien
mampu berinteraksi dengan lingkungan tetapi klien belum mampu untuk
membuat jadual kegiatan sesuai kemampuannya. Hal ini bisa disebabkan
tugas tugas sudah dikerjakan oleh petugas kesehatan dan klien merasa
enggan untuk melakukannya.
61.
62. Untuk diagnosa penatalaksanaan regimen teraupetik inefektif
berhubungan dengan koping keluarga yang tidak efektif telah dilakukan
tindakan keperawatan dengan mendiskusikan bersama keluarga hal hal
yang dapat menyebabkan kekambuhan , upaya yang bisa dilakukan oleh
keluarga untuk menanggulangi permasalahan, serta respon dari anggota
keluarga yang lain terhadap anggota keluarga yang mengalami gangguan
jiwa serta mendiskusikan upaya penerimaan oleh anggota keluarga dan
lingkungannya.
63. Keluarga berjanji akan memperlakukan dan mengupayakan sesuai
dengan hasil diskusi dengan perawat.
64. Dukungan positif dari keluarga dan lingkungan akan mempercepat
kesembuhan klien.
65.
66. Defisit perawatan diri timbul akibat klien menarik diriyang
menyebabkan klien tidak berminat dan tidak mempunyai kemauan dalam
hal perawtan diri. Terhadap masalah ini perawat telah berusaha untuk
memotivasi klien dalam melakukan perawatan diri yaitu dengan
membandingkan keadaan klien sebelum dan sesudah klien melakukan
perawatan diri. Dengan upaya ini perawat telah menemukan beberapa
perubahan positif pada diri klien. Usaha yang telah dilakukan belum
memberi hasil yang maksimal. Oleh karena itu diharapkan perawat dan
keluarga selalu memberimotivasi kepada klien.
67.
68. Keberhasilan asuhan keperawatan pada klien Tn. S ada beberapa
faktor yang berpengaruh antara lain : kerja sama yang baik antara
mahasiswa dengan perawat ruangan dalam memberikan asuhan
keperawatan, pemberian obat yang teratur, serta peran serta keluarga
dalam merawat klien dan kooperatif dengan perawat. Sedangkan
hambatan yang ditemui adalah asuhan keperawatan diberikan tidak
secara kontinyu,mengingat tidak setiap hari selama 2 minggu
mahasiswa praktek. Hambatan lain , keluarga dan klien ingin segera
pulang walaupun klien belum mampu melaksanakan adl secara mandiri
dengan alasan dana yang terbatas. Perawat dapat memberikan motivasi
untuk kontrol dan meminum obat secara teratur serta melanjutkan
perawatan di rumah sesuai dengan kemampuan keluarga.
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN MENARIK DIRI INTERAKSI

PERTAMA/AWAL

A. KONDISI PASIEN

Klien suka menyendiri di kamar tidur

Klien selalu menutup muka dengan selimut dari kaki hingga kepala

Bila didekati selalu menutup muka dan membalikkan punggung

membelakangi perawat

Penampilan rambut klien acak-acakan, kuku panjang dan kotor, kulit

berdaki, baju tidak rapi dan tidak mau mandi

B. MASALAH DIAGNOSA KEPERAWATAN

Resiko perubahan sensori persepsi b.d menarik diri

C. TUJUAN KEPERAWATAN

Membina hubungan saling percaya

D. TINDAKAN KEPERAWATAN

Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip

komunikasi

terapeutik

a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun nonverbal

b. Perkenalkan diri dengan sopan

c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien

d. Jelaskan tujuan pertemuan

e. Jujur dan menepati janji

f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya

g. Beri perhatian pada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien

E. STRATEGI KOMUNIKASI

1. Orientasi

a. Salam terapeutik
Assalamu Alaikum/selamat pagi! Perkenalkan nama saya Sudarman, saya

senangnya dipanggil Darman, Saya perawat disini, saya bertugas disini

pada sifh pagi ini yang akan merawat Bapak mulai jam 07.00 pagi sampai

jam 02.00 siang. Nama anda siapa? Senangnya dipanggil apa?

b. Evaluasi/validasi

Apa yang terjadi di rumah sampai bapak datang kemari ?

c. Kontrak

1. Topik
Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang kejadian di rumah ,

agar saya dapat membantu mengatasinya.


2. Waktu

Berapa lama kita berbincang-bincang, bagaimana kalau 10 menit?

3. Tempat
Bagaimana kalau di ruangan ini ?

d. Kerja

Dirumah anda tinggal dengan siapa?

Siapa yang paling dekat dengan anda?

Apa yang membuat anda dekat dengannya?

Bagus sekali, anda dapat menyebutkan yang membuat dekat dengan

seseorang?

Dengan siapa anda tidak dekat?

Apa yang membuat anda tidak dekat?

Apa yang harus anda lakukan agar dekat dengan seseorang?

e. Terminasi

1). Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan

a). Evaluasi subyektif

Bagaimana perasaan ibu setelah kita bercakap-cakap tentang kejadian

di rumah

b). Evaluasi obyektif

Tersenyum menatap perawat


2. Rencana lanjut klien

Baik, bagaimana kalau anda ingat-ingat kembali yang menyebabkan anda

dekat dengan seseorang dan siapa lagi kira-kira yang dekat dengan anda

3. Kontrak yang akan datang (topic, waktu, tempat)

Bagaimana kalau nanti kita bercakap-cakap tentang penyebab tidak ingin

bergaul dengan orang lain dan mendiskusikan akibat yang dirasakan

apabila tidak bergaul dengan orang lain

Anda mau ketemu lagi jam berapa ? Bagaimana kalau jam 10 nanti

Anda mau bercakap-cakap di mana? bagaimana kalau di sini lagi

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN MENARIK DIRI INTERAKSI

KEDUA

A. KONDISI PASIEN

Klien suka menyendiri di kamar tidur

Klien selalu menutup muka dengan selimut dari kaki hingga kepala

Bila didekati selalu menutup muka dan membalikkan punggung

membelakangi perawat

Penampilan rambut klien acak-acakan,kuku panjang dan kotor, kulit

berdaki, baju tidak rapi dan tidak mau mandi

B. MASALAH DIAGNOSA KEPERAWATAN

Resiko perubahan sensori persepsi b.d menarik diri

C. TUJUAN KEPERAWATAN

Menyebutkan penyebab menarik diri

D. TINDAKAN KEPERAWATAN

1. Membicarakan dengan klien penyebab tidak ingin bergaul dengan orang

lain

2. Mendiskusikan dengan klien akibat yang dirasakan dari menarik diri

E. STRATEGI KOMUNIKASI
1. Orientasi

a. Salam terapeutik

Selamat pagi Tn S

b. Evaluasi/validasi

- Bagaimana perasaan anda pagi ini ?

- Bagaimana tidur anda tadi malam ?

c. Kontrak

- Topik

Anda masih ingat apa yang akan kita bicarakan pagi ini ?

Baik, pagi ini kita akan membicarakan tentang penyebab tidak ingin bergaul

dengan orang lain dan mendiskusikan akibat yang dirasakan apabila tidak

bergaul dengan orang lain

- Waktu

Bagaimana kalau kita bercakap-cakap selama 20 menit?

- Tempat

Di ruangan ini sesuai dengan janji sebelumnya.

d. Kerja

Apa yang menyebabkan anda tinggal terus di kamar tidur?

Bagaimana perasaan anda tinggal terus di kamar tidur?

Baik, apakah anda ingin bergaul dengan orang lain?

Bagaimana perasaan anda setelah bercerita dengan saya?

Bagus, nah sekarang anda tahu tanda-tanda orang yang tidak mau

bergaul?

Bagus sekali, anda sudah mengetahui beberapa tanda-orang yang tidak

mau bergaul?

Apakah masih ada yang anda ketahui tentang tanda-tanda orang yang

tidak mau bergaul dengan orang lain?


Setelah mengetahui tanda-tanda orang yang tidak mau bergaul, apa yang

anda ingin lakukan?

Baik sekali ..

e. Terminasi

1). Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan

a). Evaluasi subyektif

Bagaimana perasaan anda setelah kita bercakap-cakap tentang penyebab

tidak ingin bergaul dengan orang lain dan mendiskusikan akibat yang

dirasakan apabila tidak bergaul dengan orang lain?

b). Evaluasi obyektif

Tersenyum menatap perawat

2. Rencana lanjut klien

Baik, bagaimana kalau anda ingat-ingat tentang penyebab dan akibat

orang yang tidak mau bergaul?

3. Kontrak yang akan datang (topic, waktu, tempat)

Bagaimana kalau nanti kita bercakap-cakap tentang keuntungan bergaul

dengan orang lain

Anda mau ketemu lagi jam berapa ? Bagaimana kalau jam 10 besok

Anda mau bercakap-cakap di mana? bagaimana kalau di sini lagi?


STEEP V
PERTANYAAN TIDAK TERJAWAB
NB: TIDAK ADA PERTANYAAN
STEEP VI
INFORMASI TAMBAHAN
ASUHAN KEPERAWATAN ISOLASI SOSIAL

Pasien Keluarga
No.
SPIP SPIk
1. Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial Mendiskusikan masalah yang dirasakan
pasien keluarga dalam merawat pasien
2. Berdiskusi dengan pasien tentang Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala
keuntungan berinteraksi dengan orang lain isolasi sosial yang dialami pasien beserta
proses terjadinya.
3. Berdiskusi dengan pasien tentang kerugian Menjelaskan cara-cara merawat pasien isolasi
berinteraksi dengan orang lain sosial
4. Mengajarkan pasien cara berkenalan dengan
satu orang
5. Menganjurkan pasien memasukkan
kegiatan latihan berbincang-bincang dengan
orang lain dalam kegiatan harian
SPIIP SPIIk
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien Melatih keluarga mempraktekkan cara
merawat pasien dengan isolasi sosial
2. Memberikan kesempatan kepada pasien Melatih keluarga mempraktekkan cara
mempraktekkan cara berkenalan dengan merawat langsung kepada pasien isolasi sosial
satu orang
3. Membantu pasien memasukkan kegiatan
latihan berbincang-bincang dengan orang
lain sebagai salah satu kegiatan harian
SPIIIP SPIIIk
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas
di rumah termasuk minum obat (discharge
planning)
2. Memberikan kesempatan kepada pasien Menjelaskan follow up pasien setelah pulang
mempraktekkan cara berkenalan dengan
dua orang atau lebih
3. Menganjurkan pasien memasukkan dalam
jadwal kegiatan harian

STEEP VII
KLASIFIKASI INFORMASI

DEFENISI
Keadaan dimana seorang individu mengalami penurunan atau tidak mampu
berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya.

PENGKAJIAN TINDAKAN KEPERAWATAN


WAWANCARA Menarik Diri UNTUK PASIEN
Merasa sepi Tujuan: pasien mampu
Merasa tdk aman 1. Membina hubungan saling percaya
Hubungan tdk berarti 2. Menyadari penyebab isolasi sosial
Bosan dan waktu terasa lambat 3.Berinteraksi dengan orang lain
Tdk mampu konsentrasi Tindakan:
Merasa tdk berguna 1.Membina hubungan saling percaya
Tidak yakin hidup 2.Membantu pasien menyadari perilaku isolasi
Merasa ditolak sosial
OBSERVASI 3.Melatih pasien berinteraksi secara bertahap
Banyak diam
Tdk mau bicara
Menyendiri
Tdk mau berinteraksi
Tampak sedih
Ekspresi datar dan dangkal
Kontak mata kurang
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Alih Bahasa :


Yasmin Asih, Edisi 6, EGC, Jakarta, 1998.

Keliat, B. A., Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, EGC, Jakarta, 1999.

Rawlins, R.P. & Patricia Evans Heacock, Clinical Manual of Psychiatric


Nursing, 2 nd Edition, Mosby Year Book, St. Louis, 1993.

Stuart, G.W. & Michele T. Laraia, Principles and Practice of Psychiatric


Nursing, 6 th Edition, Mosby Company, St. Louis, 1998.

Towsend, Mary C., Buku Saku Diagnosa Keperawatan Psikiatri Untuk


Pembuatan Rencana Keperawatan, Alih Bahasa : Novy Helena
C.D., Edisi 3, EGC, Jakarta, 1998.

Stuart, G. W. & Sandra J. Sundeen, Principles and Practice of Psychiatric


Nursing, 1 st Edition, Mosby Company, St. Louis, 1995.

LAPORAN KELOMPOK TUTORIAL KEP. JIWA


FASILITATOR : LIDYARNI, S.KEP.

ASKEP MENARIK DIRI


KELOMPOK VI GROUP I

SUDARMAN
KHAIRUDDIN UNO
JABAL NUR
SYARIF HIDAYATULLAH
SUNARIO
ABD. MUIS
SYAMIKAR BARIDWAN
AKBAR ASFAR
RANDI KUARSA PUTRA
MURAT SUKE
HIDAYATULLAH

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2010