Anda di halaman 1dari 5

Laporan Kegiatan Promosi Kesehatan

Program Internsip Dokter Indonesia


(PIDI)

PENYULUHAN KESEHATAN
HIPERTENSI DI DESA KOTA RADEN HULU

Pembimbing :
dr. Richard Lawalata
NIP. 19600515 198802 1 003

Disusun oleh :
dr. Strata Pertiwi

PUSKESMAS SUNGAI MALANG


Jalan Negara Dipa RT VII Sungai Malang Amuntai 71418
2017
PROGRAM PROMOSI KESEHATAN
LAPORAN PENYULUHAN KESEHATAN HIPERTENSI
DI DESA KOTA RADEN HULU

PENDAHULUAN
Hipertensi adalah meningkatnya tekanan darah sistolik lebih besar dari 140
mmHg dan atau diastolik lebih besar dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan
selang waktu 5 menit dalam keadaan cukup istirahat (tenang). Hipertensi didefinisikan
oleh Joint National Committee on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood
Pressure sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140 / 90 mmHg.
Hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya interaksi berbagai
faktor resiko yang dimiliki seseorang. Faktor pemicu hipertensi dibedakan menjadi yang
tidak dapat dikontrol seperti riwayat keluarga, jenis kelamin, dan umur. Faktor yang
dapat dikontrol seperti obesitas, kurangnya aktivitas fisik, perilaku merokok, pola
konsumsi makanan yang mengandung natrium dan lemak jenuh. Hipertensi dapat
mengakibatkan komplikasi seperti stroke, kelemahan jantung, penyakit jantung koroner
(PJK), gangguan ginjal yang dapat berakibat kecacatan bahkan kematian.
Prevalensi hipertensi atau tekanan darah di Indonesia cukup tinggi. Hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan, sebagian besar kasus hipertensi di
masyarakat belum terdiagnosis. Hal ini terlihat dari hasil pengukuran tekanan darah
pada usia 18 tahun ke atas ditemukan prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 31,7%,
dimana hanya 7,2% penduduk yang sudah mengetahui memiliki hipertensi dan hanya
0,4% kasus yang minum obat hipertensi. Hal ini menunjukkan, 76% kasus hipertensi di
masyarakat belum terdiagnosis atau 76% masyarakat belum mengetahui bahwa mereka
menderita hipertensi.
Penelitian di 15 Kabupaten/ Kota di Indonesia, yang dilakukan pada tahun 2011-
2012 oleh Badan Kemkes, memberikan fenomena 17,7% kematian disebabkan oleh
Stroke dan 10,0% kematian disebabkan oleh Ischaemic Heart Disease. Dua penyakit
penyebab kematian teratas ini, faktor penyebabnya adalah Hipertensi.
Untuk mengelola penyakit hipertensi termasuk penyakit tidak menular lainnya,
Kemenkes membuat kebijakan yaitu:
1. Mengembangkan dan memperkuat kegiatan deteksi dini hipertensi secara aktif
(skrining)
2. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan deteksi dini melalui
kegiatan seperti posyandu usila
3. Meningkatkan akses penderita terhadap pengobatan hipertensi melalui
revitalisasi Puskesmas untuk pengendalian PTM melalui Peningkatan
sumberdaya tenaga kesehatan yang profesional dan kompenten dalam upaya
pengendalian PTM khususnya tatalaksana PTM di fasilitas pelayanan kesehatan
dasar seperti Puskesmas; Peningkatan manajemen pelayanan pengendalian PTM
secara komprehensif (terutama promotif dan preventif); serta Peningkatkan
ketersediaan sarana dan prasarana promotif-preventif, maupun sarana prasarana
diagnostik dan pengobatan.
Upaya pencegahan dan penanggulangan hipertensi dimulai dengan
meningkatkan kesadaran masyarakat dan perubahan pola hidup ke arah yang lebih
sehat. Untuk itu Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan dasar perlu melakukan
pencegahan primer yaitu kegiatan untuk menghentikan atau mengurangi faktor risiko
hipertensi sebelum penyakit hipertensi terjadi, melalui promosi kesehatan seperti diet
yang sehat dengan cara makan cukup sayur-buah, rendah garam dan lemak, rajin
melakukan aktifitas dan tidak merokok.
Puskesmas juga perlu melakukan pencegahan sekunder yang lebih ditujukan
pada kegiatan deteksi dini untuk menemukan penyakit. Bila ditemukan kasus, maka
dapat dilakukan pengobatan secara dini. Sementara pencegahan tertier difokuskan pada
upaya mempertahankan kualitas hidup penderita. Pencegahan tertier dilaksanakan
melalui tindak lanjut dini dan pengelolaan hipertensi yang tepat serta minum obat
teratur agar tekanan darah dapat terkontrol dan tidak memberikan komplikasi seperti
penyakit ginjal kronik, stroke dan jantung. Penanganan respon cepat juga menjadi hal
yang utama agar kecacatan dan kematian dini akibat penyakit hipertensi dapat
terkendali dengan baik. Pencegahan tertier dilaksanakan agar penderita hipertensi
terhindar dari komplikasi yang lebih lanjut serta untuk meningkatkan kualitas hidup dan
memperpanjang lama ketahanan hidup.
Sarana dan prasarana untuk diagnosis dan mengobati hipertensi, termasuk
mendeteksi kemungkinan terjadi kerusakan organ target atau komplikasi sudah tersedia
di fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas. Untuk mendeteksi dan menegakkan
diagnosis penyakit hipertensi digunakan tensimeter. Hipertensi ditegakkan bila tekanan
darah lebih dari 140/90 mmHg. Pengobatan dan penatalaksanaan hipertensi
membutuhkan waktu lama, seumur hidup dan harus terus menerus. Jika modifikasi gaya
hidup tidak menurunkan tekanan darah ke tingkat yang diinginkan, maka harus
diberikan obat.
Selain upaya pencegahan dan pengobatan di puskesmas, dapat dilakukan
kegiatan lain seperti Posyandu Usila ke desa-desa. Keberadaan Posyandu Usila
memberikan kemudahan akses kepada masyarakat utuk mendeteksi dan monitoring
tekanan darahnya. Kegiatan deteksi dini pada Posyandu Usila dilakukan melalui
monitoring faktor risiko secara terintegrasi, rutin dan periodik. Kegiatan monitoring
mencakup kegiatan memantau masalah konsumsi sayur/buah dan lemak, aktifitas fisik,
indeks massa tubuh (IMT), dan tekanan darah, dan kegiatan monitoring lengkap yaitu
memantau kadar glukosa darah, dan kolesterol darah. Hasil monitoring ini dicatat pada
kartu menuju sehat (KMS) lanjut usia.
Tindak lanjut dini berupa peningkatan pengetahuan masyarakat tentang cara
mencegah dan mengendalikan faktor risiko hipertensi dilakukan melalui penyuluhan /
dialog interaktif secara massal dan / atau konseling faktor risiko secara terintegrasi pada
individu dengan faktor risiko, sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

TUJUAN
1. Diharapkan agar masyarakat lanjut usia mengetahui pengertian dan penyebab
Hipertensi.
2. Diharapkan agar masyarakat lanjut usia mengetahui pencegahan dan pengobatan
Hipertensi.

MANFAAT
1. Melatih kemampuan dalam memberikan penyuluhan kepada sasaran.
2. Masyarakat mengetahui tentang pengertian, penyebab, pencegahan dan pengobatan
hipertensi.

SASARAN
Masyarakat usia lanjut di desa kota raden hulu berjumlah 24 orang yang datang
ke posyandu Usila

KEGIATAN
a. Topik : Hipertensi
b. Metode : Diskusi Kelompok dan tanya jawab
c. Media dan Alat : Famplet
d. Waktu : Sabtu,16 Januari 2017
e. Tempat : Rumah kepala desa kota raden hulu
f. Pendamping : perawat aulia dan bidan sofia

KESIMPULAN
Telah dilaksanakan kegiatan penyuluhan mengenai hipertensi kepada
masyarakat lanjut usia desa kota raden hulu hari Senin, 16 Januari 2017 di rumah kepala
desa kota raden hulu. Kegiatan berjalan tertib dan tenang. Sasaran memperhatikan
penyampaian materi dengan seksama dan diakhiri dengan sesi tanya jawab.

SARAN
1. Kegiatan penyuluhan sebaiknya dapat selalu dilakukan secara rutin setiap kali
diadakan posyandu lanjut usia.
2. Kegiatan penyuluhan mengenai penyakit lainnya sebaiknya sering dilakukan pada
kegiatan pusling atau posyandu.