Anda di halaman 1dari 30

KONSEP TEORI PENYAKIT JANTUNG KORONER

2.1. Pengertian Penyakit Jantung Koroner


American heart association (AHA), mendefinisikan penyakit jantung
koroner adalah istilah umum untuk penumpukan plak di arteri jantung yang
dapat menyebabkan serangan jantung.penumpukan plak pada arteri koroner
ini disebut dengan aterosklerosis. (AHA, 2012)
Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan keadaan dimana terjadi
penimbunan plak pembuluh darah koroner. Hal ini menyebabkan arteri
koroner menyempit atau tersumbat.arteri koroner merupakan arteri yang
menyuplai darah otot jantung dengan membawa oksigen yang
banyak.terdapat beberapafactor memicu penyakit ini, yaitu: gaya hidup, factor
genetik,usia dan penyakit pentyerta yang lain. (Norhasimah, 2010)

2.2. Etiologi Penyakit Jantung Koroner


Etiologi penyakit jantung koroner adalah adanya penyempitan,
penyumbatan, atau kelainan pembuluh arteri koroner. Penyempitan atau
penyumbatan pembuluh darah tersebut dapat menghentikan aliran darah ke
otot jantung yang sering ditandai dengan nyeri. Dalam kondisi yang parah,
kemampuan jantung memompa darah dapat hilang. Hal ini dapat merusak
sistem pengontrol irama jantung dan berakhir dan berakhir dengan kematian.
(Hermawati,2014)
Penyempitan dan penyumbatan arteri koroner disebabkan zat lemak
kolesterol dan trigliserida yang semakin lama semakin banyak dan
menumpuk di bawah lapisan terdalam endothelium dari dinding pembuluh
arteri. Hal ini dapat menyebabkan aliran darah ke otot jantung menjadi
berkurang ataupun berhenti, sehingga mengganggu kerja jantung sebagai
pemompa darah. Efek dominan dari jantung koroner adalah kehilangan
oksigen dan nutrient ke jantung karena aliran darah ke jantung berkurang.
Pembentukan plak lemak dalam arteri memengaruhi pembentukan bekuan
aliran darah yang akan mendorong terjadinya serangan jantung. Proses
pembentukan plak yang 2menyebabkan pergeseran arteri tersebut dinamakan
arteriosklerosis. (Hermawati, 2014)
Awalnya penyakit jantung di monopoli oleh orang tua. Namun, saat ini
ada kecenderungan penyakit ini juga diderita oleh pasien di bawah usia 40
tahun. Hal ini biasa terjadi karena adanya pergeseran gaya hidup, kondisi
lingkungan dan profesi masyarakat yang memunculkan tren penyakit baru
yang bersifat degnaratif. Sejumlah prilaku dan gaya hidup yang ditemui pada
masyarakat perkotaan antara lain mengonsumsi makanan siap saji yang
mengandung kadar lemak jenuh tinggi, kebiasaan merokok, minuman
beralkohol, kerja berlebihan, kurang berolahraga, dan stress. (Hermawati,
2014)

2.3. Patofisiologi Penyakit Jantung Koroner


Aterosklerosis atau pengerasan arteri adalah kondisi pada arteri besar dan
kecil yang ditandai penimbunan endapan lemak, trombosit, neutrofil, monosit
dan makrofag di seluruh kedalaman tunika intima (lapisan sel endotel), dan
akhirnya ke tunika media (lapisan otot polos). Arteri yang paling sering
terkena adalah arteri koroner, aorta dan arteri-arteri sereberal.(Ariesty, 2011).
Langkah pertama dalam pembentukan aterosklerosis dimulai dengan
disfungsi lapisan endotel lumen arteri, kondisi ini dapat terjadi setelah cedera
pada sel endotel atau dari stimulus lain, cedera pada sel endotel meningkatkan
permeabelitas terhadap berbagai komponen plasma, termasuk asam lemak
dan triglesirida, sehingga zat ini dapat masuk kedalam arteri, oksidasi asam
lemak menghasilkan oksigen radikal bebas yang selanjutnya dapat merusak
pembuluh darah. (Ariesty, 2011).
Cedera pada sel endotel dapat mencetuskan reaksi inflamasi dan imun,
termasuk menarik sel darah putih, terutama neutrofil dan monosit, serta
trombosit ke area cedera, sel darah putih melepaskan sitokin proinflamatori
poten yang kemudian memperburuk situasi, menarik lebih banyak sel darah
putih dan trombosit ke area lesi, menstimulasi proses pembekuan,
mengaktifitas sel T dan B, dan melepaskan senyawa kimia yang berperan
sebagai chemoattractant (penarik kimia) yang mengaktifkan siklus inflamasi,
pembekuan dan fibrosis. Pada saat ditarik ke area cedera, sal darah putih akan
menempel disana oleh aktivasi faktor adhesif endotelial yang bekerja seperti
velcro sehingga endotel lengket terutama terhadap sel darah putih, pada saat
menempel di lapisan endotelial, monosit dan neutrofil mulai berimigrasi di
antara sel-sel endotel keruang interstisial. Di ruang interstisial, monosit yang
matang menjadi makrofag dan bersama neutrofil tetap melepaskan sitokin,
yang meneruskan siklus inflamasi. Sitokin proinflamatori juga merangsan
ploriferasi sel otot polos yang mengakibatkan sel otot polos tumbuh di tunika
intima. (Ariesty, 2011).
Selain itu kolesterol dan lemak plasma mendapat akses ke tunika intima
karena permeabilitas lapisan endotel meningkat, pada tahap indikasi dini
kerusakan teradapat lapisan lemak diarteri. Apabila cedera dan inflamasi terus
berlanjut, agregasi trombosit meningkat dan mulai terbentuk bekuan darah
(tombus), sebagian dinding pembuluh diganti dengan jaringan parut sehingga
mengubah struktur dinding pembuluh darah, hasil akhir adalah penimbunan
kolesterol dan lemak, pembentukan deposit jaringan parut, pembentukan
bekuan yang berasal dari trombosit dan proliferasi sel otot polos sehingga
pembuluh mengalami kekakuan dan menyempit. Apabila kekakuan ini
dialami oleh arteri-arteri koroner akibat aterosklerosis dan tidak dapat
berdilatasi sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan oksigen, dan
kemudian terjadi iskemia (kekurangan suplai darah) miokardium dan sel-sel
miokardium sehingga menggunakan glikolisis anerob untuk memenuhi
kebutuhan energinya. Proses pembentukan energi ini sangat tidak efisien dan
menyebabkan terbentuknya asam laktat sehinga menurunkan pH miokardium
dan menyebabkan nyeri yang berkaitan dengan angina pectoris. Ketika
kekurangan oksigen pada jantung dan sel-sel otot jantung berkepanjangan dan
iskemia miokard yang tidak tertasi maka terjadilah kematian otot jantung
yang di kenal sebagai miokard infark. Patofisiologi Penyakit Jantung Koroner
zat masuk arteri Arteri Proinflamatori Permeabelitas Reaksi inflamasi Cedera
sel endotel Sel darah putih menempel di arteri imigrasi keruang interstisial
pembuluh kaku & sempit Aliran darah Pembentukan Trombus monosit
makrofag Lapisan lemak sel otot polos tumbuh Nyeri Asam laktat terbentuk
MCI Kematian. (Ariesty, 2011)

2.4. Manifestasi Klinis Penyakit Jantung Koroner


Menurut Hermawati (2014), gejala penyakit jantung koroner:
1. Timbulnya rasa nyeri di dada (Angina Pectoris)
2. Sesak nafas (Dispnea)
3. Keanehan pada irama denyut jantung
4. Pusing
5. Rasa lelah berkepanjangan
6. Sakit perut, mual dan muntah
Penyakit jantung koroner dapat memberikan manifestasi klinis yang
berbeda-beda. Untuk menentukan manifestasi klinisnya perlu melakukan
pemeriksaan yang seksama. Dengan memperhatikan klinis penderita, riwayat
perjalanan penyakit, pemeriksaan fisik, elektrokardiografi saat istirahat, foto
dada, pemeriksaan enzim jantung dapat membedakan subset klinis PJK.

2.5. Klasifikasi Penyakit Jantung Koroner


Faktor risiko terjadinya penyakit jantung antara lain: hiperlipidemi,
hipertensi, merokok, diabetes mellitus, kurang aktifitas fisik, stress, jenis
kelamin, obesitas dan genetik.
Menurut Putra S, dkk (2013), klasifikasi PJK :
1. Angina Pektoris Stabil/Stable Angina Pectoris
Penyakit Iskemik disebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan
dan suplai oksigen miokard. Di tandai oleh rasa nyeri yang terjadi jika
kebutuhan oksigen miokardium melebihi suplainya. Iskemia Miokard
dapat bersifat asimtomatis (Iskemia Sunyi/Silent Ischemia), terutama
pada pasien diabetes.8 Penyakit ini sindrom klinis episodik karena
Iskemia Miokard transien. Laki-laki merupakan 70% dari pasien dengan
Angina Pektoris dan bahkan sebagian besar menyerang pada laki-laki
50 tahun dan wanita 60 tahun.
2. Angina Pektoris Tidak Stabil/Unstable Angina Pectoris
Sindroma klinis nyeri dada yang sebagian besar disebabkan oleh
disrupsi plak ateroskelrotik dan diikuti kaskade proses patologis yang
menurunkan aliran darah koroner, ditandai dengan peningkatan
frekuensi, intensitas atau lama nyeri, Angina timbul pada saat melakukan
aktivitas ringan atau istirahat, tanpa terbukti adanya nekrosis Miokard.
a. Terjadi saat istirahat (dengan tenaga minimal) biasanyaberlangsung
> 10 menit,
b. Sudah parah dan onset baru (dalam 4-6 minggu sebelumnya), dan
c. Terjadi dengan pola crescendo (jelas lebih berat, berkepanjangan,
atau sering dari sebelumnya).
3. Angina Varian Prinzmetal
Arteri koroner bisa menjadi kejang, yang mengganggu aliran darah
ke otot jantung (Iskemia). Ini terjadi pada orang tanpa penyakit arteri
koroner yang signifikan, Namun dua pertiga dari orang dengan Angina
Varian mempunyai penyakit parah dalam paling sedikit satu pembuluh,
dan kekejangan terjadi pada tempat penyumbatan. Tipe Angina ini tidak
umum dan hampir selalu terjadi bila seorang beristirahat -sewaktu tidur.
Anda mempunyai risiko meningkat untuk kejang koroner jika anda
mempunyai : penyakit arteri koroner yang mendasari, merokok, atau
menggunakan obat perangsang atau obat terlarang (seperti kokain). Jika
kejang arteri menjadi parah dan terjadi untuk jangka waktu panjang,
serangan jantung bisa terjadi.
4. Infark Miokard Akut/Acute Myocardial Infarction
Nekrosis Miokard Akut akibat gangguan aliran darah arteri koronaria
yang bermakna, sebagai akibat oklusi arteri koronaria karena trombus
atau spasme hebat yang berlangsung lama. Infark Miokard terbagi 2 :
a. Non ST Elevasi Miokardial Infark (NSTEMI)
b. ST Elevasi Miokardial Infark (STEMI)

2.6. Komplikasi Penyakit Jantung Koroner


Menurut Karikaturijo (2010), adapun komplikasi PJK adalah:
1. Disfungsi ventricular
2. Aritmia pasca STEMI
3. Gangguan hemodinamik
4. Ekstrasistol ventrikel Sindroma Koroner Akut Elevasi ST tanpa Elevasi
ST Infark miokard Angina tak stabil
5. Takikardi dan fibrilasi atrium dan ventrikel
6. Syok kardiogenik
7. Gagal jantung kongestif
8. Perikarditis
9. Kematian mendadak (Karikaturijo, 2010)

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


3.1. Pengkajian Keperawatan
1. Identitas
Meliputi nama pasien, umur, jenis kelamin, suku bangsa, pekerjaan,
pendidikan, alamat, tanggal MRS dan diagnosa medis. (Wantiyah, 2010)
2. Keluhan utama
Pasien pjk biasanya merasakan nyeri dada dan dapat dilakukan dengan
skala nyeri 0-10, 0 tidak nyeri dan 10 nyeri palig tinggi. Pengakajian
nyeri secara mendalam menggunakan pendekatan PQRST, meliputi
prepitasi dan penyembuh, kualitas dan kuatitas, intensitas, durasi, lokasi,
radiasi/penyebaran,onset. (Wantiyah, 2010)
3. Riwayat kesehatan lalu
Dalam hal ini yang perlu dikaji atau di tanyakan pada klien antara lain
apakah klien pernah menderita hipertensi atau diabetes millitus, infark
miokard atau penyakit jantung koroner itu sendiri sebelumnya. Serta
ditanyakan apakah pernah MRS sebelumnya. (Wantiyah, 2010)
4. Riwayat kesehatan sekarang
Dalam mengkaji hal ini menggunakan analisa systom PQRST. Untuk
membantu klien dalam mengutamakan masalah keluannya secara
lengkap. Pada klien PJK umumnya mengalami nyeri dada. (Wantiyah,
2010)
5. Riwayat kesehatan keluarga
Mengkaji pada keluarga, apakah didalam keluarga ada yang menderita
penyakit jantung koroner. Riwayat penderita PJK umumnya mewarisi
juga faktor-faktor risiko lainnya, seperti abnormal kadar kolestrol, dan
peningkatan tekanan darah. (A. Fauzi Yahya, 2010)
6. Riwayat psikososial
Pada klien PJK biasanya yang muncul pada klien dengan penyakit
jantung koroner adalah menyangkal, takut, cemas, dan marah,
ketergantungan, depresi dan penerimaan realistis. (Wantiyah, 2010)
7. Pola aktivitas dan latihan
Hal ini perlu dilakukan pengkajian pada pasien dengan penyakit jantung
koroner untuk menilai kemampuan dan toleransi pasien dalam
melakukan aktivitas. Pasien penyakit jantung koroner mengalami
penurunan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. (Panthee
& Kritpracha, 2011)
8. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Keadaan umum klien mulai pada saat pertama kali bertemu dengan
klien dilanjutkan mengukur tanda-tanda vital. Kesadaran klien juga
diamati apakah kompos mentis, apatis, samnolen, delirium, semi
koma atau koma. Keadaan sakit juga diamati apakah sedang, berat,
ringan atau tampak tidak sakit.
b. Tanda-tanda vital
Kesadaran compos mentis, penampilan tampak obesitas, tekanan
darah 180/110mmHg,frekuensi nadi 88x/menit, frekuensi nafas 20
kali/menit, suhu 36,2 oC. (Gordon, 2015)
c. Pemeriksaanfisikpersistem
1) Sistem persyarafan, meliputi kesadaran, ukuran pupil,
pergerakan seluruh ekstermitas dan kemampuan menanggapi
respon verbal maupun non verbal. (Aziza, 2010)
2) Sistem penglihatan, pada klien PJK mata mengalami
pandangankabur. (Gordon, 2015)
3) Sistem pendengaran, pada klien PJK pada sistem pendengaran
telinga , tidak mengalami gangguan. (Gordon, 2015)
4) Sistem abdomen, bersih, datar dan tidak ada pembesaran hati.
(Gordon, 2015)
5) Sistem respirasi, pengkajian dilakukan untuk mengetahui secara
dinit tanda dan gejala tidak adekuatnya ventilasi dan oksigenasi.
Pengkajian meliputi persentase fraksi oksigen, volume tidal,
frekuensi pernapasan dan modus yang digunakan untuk
bernapas. Pastikan posisi ETTtepat pada tempatnya,
pemeriksaan analisa gas darah dan elektrolit untuk mendeteksi
hipoksemia. (Aziza, 2010)
6) Sistem kardiovaskuler, pengkajian dengan tekhnik inspeksi,
auskultrasi, palpasi, dan perkusi perawat melakukan pengukuran
tekanan darah; suhu; denyut jantung dan iramanya; pulsasi
prifer; dan tempratur kulit. Auskultrasi bunyi jantung dapat
menghasilkan bunyi gallop S3 sebagai indikasi gagal jantung
atau adanya bunyi gallop S4 tanda hipertensi sebagai
komplikasi. Peningkatan irama napas merupakan salah satu
tanda cemas atau takut (Wantiyah, 2010)
7) Sistem gastrointestinal, pengkajian pada gastrointestinal
meliputi auskultrasi bising usus, palpasi abdomen (nyeri,
distensi). (Aziza, 2010)
8) Sistem muskuluskeletal, pada klien PJK adanya kelemahan dan
kelelahan otot sehinggah timbul ketidak mampuan melakukan
aktifitas yang diharapkan atau aktifitas yang biasanya dilakukan.
(Aziza,2010)
9) Sistem endokrin, biasanya terdapat peningkatan kadar gula
darah. (Aziza,2010)
10) Sistem Integumen, pada klien PJK akral terasa hangat, turgor
baik. (Gordon, 2015)
11) Sistem perkemihan, kaji ada tidaknya pembengkakan dan nyeri
pada daerah pinggang, observasi dan palpasi pada daerah
abdomen bawah untuk mengetahui adanya retensi urine dan kaji
tentang jenis cairan yang keluar. (Aziza,2010)

9. Pemeriksaan penunjang
Untuk mendiagnosa PJK secara lebih tepat maka dilakukan pemeriksaan
penunjang diantaranya:
a. EKG memberi bantuan untuk diagnosis dan prognosis, rekaman
yang dilakukan saat sedang nyeri dada sangat bermanfaat.
b. Chest X-Ray (foto dada)
Thorax foto mungkin normal atau adanya kardiomegali, CHF (gagal
jantung kongestif) atau aneurisma ventrikiler (Kulick, 2014).
c. Latihan tes stres jantung (treadmill)
Treadmill merupakan pemeriksaan penunjang yang standar dan
banyak digunakan untuk mendiagnosa PJK, ketika melakukan
treadmill detak jantung, irama jantung, dan tekanan darah terus-
menerus dipantau, jika arteri koroner mengalami penyumbatan pada
saat melakukan latihan maka ditemukan segmen depresi ST pada
hasil rekaman (Kulick, 2014).
d. Ekokardiogram
Ekokardiogram menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan
gambar jantung, selama ekokardiogram dapat ditentukan apakah
semua bagian dari dinding jantung berkontribusi normal dalam
aktivitas memompa. Bagian yang bergerak lemah mungkin telah
rusak selama serangan jantung atau menerima terlalu sedikit oksigen,
ini mungkin menunjukkan penyakitarteri koroner (Mayo Clinik,
2012).
e. Kateterisasi jantung atau angiografi adalah suatu tindakan invasif
minimal dengan memasukkan kateter (selang/pipa plastik) melalui
pembuluh darah ke pembuluh darah koroner yang memperdarahi
jantung, prosedur inidisebut kateterisasi jantung. Penyuntikkan
cairan khusus ke dalam arteri atau intravena ini dikenal sebagai
angiogram, tujuan dari tindakan kateterisasi ini adalah untuk
mendiagnosa dan sekaligus sebagai tindakan terapi bila ditemukan
adanya suatu kelainan (Mayo Clinik, 2012).
f. CT scan (Computerized tomography Coronary angiogram)
Computerized tomography Coronary angiogram/CT Angiografi
Koroner adalah pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk
membantu memvisualisasikan arteri koroner dan suatu zat pewarna
kontras disuntikkan melalui intravena selama CT scan, sehingga
dapat menghasilkan gambar arteri jantung, ini juga disebut sebagai
ultrafast CT scan yang berguna untuk mendeteksi kalsium dalam
deposito lemak yang mempersempit arteri koroner. Jika sejumlah
besar kalsium ditemukan, maka memungkinkan terjadinya PJK
(Mayo Clinik, 2012).
g. Magnetic resonance angiography (MRA)
Prosedur ini menggunakan teknologi MRI, sering dikombinasikan
dengan penyuntikan zat pewarna kontras, yang berguna untuk
mendiagnosa adanya penyempitan atau penyumbatan, meskipun
pemeriksaan ini tidak sejelas pemeriksaan kateterisasi jantung (Mayo
Clinik, 2012).
10. Penatalaksaan
Penatalaksanaan Menurut Hermawati (2014):
a. Hindari makanan kandungan kolesterol yang tinggiKolesterol jahat
LDL di kenal sebgai penyebab utana terjadinya proses aterosklerosis,
yaitu proses pengerasan dinding pembuluh darah, terutama di
jantung, otak, ginjal, dan mata.
b. Konsumsi makanan yang berserat tinggi.
c. Hindari mengonsumsi alcohol.
d. Merubah gaya hidup, memberhentikan kebiasaan merokok
e. Olahraga dapat meningkatkan kadar HDL kolesterol dan
memperbaiki kolateral koroner sehingga PJK dapat dikurangi,
olahraga bermanfaat karena
Memperbaiki fungsi paru dan pemberian O2 ke miokard
Menurunkan berat badan sehingga lemak lemak tubuh yang
berlebih berkurang bersama-sama dengan menurunnya LDL
kolesterol
Menurunkan tekanan darah
Meningkatkan kesegaran jasman

3.2. Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri Akut
Definisi:
Pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya
kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dengan
istilah seperti (internasional asosiation for the study of pain) ; awitan
yang tiba-tiba atau perlahan dengan intensitas ringan sampai berat
dengan akhir yang dapat di antisipasi atau dapat diramalkandan durasinya
kurang dari 6 bulan.
Batasan karakteristik :
a. Mengungkapakan secara verbal atau melaporkan (nyeri)dengan
isyarat
b. Posisi untuk menghindari nyeri
c. Perubahan tonus otot
d. Perubahan tekanan darah, pernafasan,atau nadi, dilatasi pupil
e. Perubahan selera makan
f. Perilaku distrasi
g. Perilaku ekspresif
h. Perilaku menjaga atau sikap melindungi
i. Fokus menyempit
j. Bukti nyeri yang dapat diamati
k. Berfokus pada diri sendiri
l. Gangguan tidur
Faktor yang berhubungan:
Agens-agens penyebab cedera misalnya: biologis, kimia, fisik, dan
psikologis.
2. Penurunan Curah Jantung
Definisi:
Ketidakadekuatan pompa darah oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan
metabolisme tubuh.
Batasan karakteristik:
a. Gangguan Frekuensi dan Irama Jantung
b. Gangguan Preload
c. Gangguan Afterload
d. Gangguan kontraktilitas
e. Perilaku/Emosi
Faktor yang berhubungan:
a. Gangguan frekuensi atau irama jantung
b. Gangguan volume sekuncup
c. Gangguan preload
d. Gangguan aferload
e. Gangguan kontraktifitas
3. Intoleransi Aktivitas
Definisi:
Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologisuntuk melanjutkan atau
menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang ingin atau harus dilakukan.
Batasan karakteristik :
a. Ketidak nyamanan atau dispnea saat beraktivitas melaporkan
keletihan atau kelemahan secara verbal.Frekuensi jantung atau
tekanan darah tidak normal sebagai respon terhadap aktivitas
b. Perubahan EKG yang menunjukkan artitmia atau iskemia
Faktor yang berhubungan:
a. Tirah dan baring dan imobilitas.
b. Kelemahan umum
c. Ketidak seimbangan anatara suplai dan kebetuhan okisgen
d. Gaya hidup yang kurang gerak

3.3 Intervensi Keperawatan


Tujuan & Kriteria Hasil
No Diagnosa Intervensi (NIC)
(NOC)

1 Nyeri akut berhubungan Setelah diberikan asuhan 1. Pemberian analgesik


- Tentukan lokasi,
dengan iskemia jaringan keperawatan selama 1 x 24 jam
karakteristik, kualita
atau sumabtan pada arteri diharapkan :
keparahan nyeri seb
koronaria yang ditandai
1. Kontrol nyeri memberikan obat.
dengan pasien mengatakan 1) Mengenali nyeri - Cek perintah pengob
2) Menggunakan tindakan
nyeri dada sebelah kiri, meliputi obat, dosis,
pencegahan
pasien kelihatan frekuensi obat analg
3) Melaporkan nyeri dapat
menyeringai kesakitan, yang diresepkan.
dilakukan
- Cek adanya riwayat
pasien tampak pucat, TD : 2. Tingkat nyeri
1) Ekpresi nyeri pada wajah obat
160/100 mmHg, P :
2) Gelisah atau ketegangan - Berikan analgesik se
96x/mnt, skala nyeri 5
otot dengan waktu paruh
3) Durasi episode nyeri
terutama pada nyeri
4) Merintih dan menangis
5) Gelisah berat.
2. Manajement nyeri
Kriteria Hasil NOC :
- Observasi petunjuk
f. Tingkat Kenyamanan:
verbal mengenai
tingkat persepsi positif
ketidaknyamanan te
terhadap kemudahan fisik
pada mereka yang ti
dan psikologis
dapat berkomunikas
g. Pengendalian nyeri:
efektif.
tindakan individu untuk
- Pastikan perawatan
mengendalikan nyeri
analgesik bagi pasie
h. Tingkat nyeri keparahan
dilakukan dengan
yang dapat di amati atau
pemantauan ketat.
dilaporkan
- Gunakan strategi ter
untuk mengetahui
pengalamaan nyeri d
sampaikan penerima
pasien terhadap nye
3. Bantuan pasien untuk
mengontrol pemberian
analgesik
- Kolaborasi dengan d
pasien dan anggota
dalam memilih jenis
narkotik yang akan
digunakan.
- Instruksikan pasien
keluarga untuk mem
laju pernapasan dan
darah.
2 Penurunan cardiac output Setelah diberikan asuhan 1. Perawatan jantung akut
- Monitoring vital sig
berhubungan dengan keperawatan selama 1 x 24
- Evaluasi nyeri dada
menutunnya kontraksi otot jam diharapkan :
(intensitas, lokasi, ra
yang ditandai dengan pasien
1. Keefektifan pompa jantung durasi, faktor pemic
mengeluh lemah, sesak - Keadekuatan yang mengurangi)
napas, sulit melakukan - Volume darah yang - Instruksikan pasien
aktivitas yang berlebih, diejeksikan dari ventrikel pentingnya melapor
sering terbangun pada kiri untuk mendukung jika merasa
malam hari karena sesak tekanan perfusi sistemik ketidaknyamanan di
2. Status sirkulasi
dan nyeri dada, TD : - Tingkat pengaliran darah dada.
- Monitor EKG sebag
160/100 mmHg, P : yang tidak terhambat.
- Perfuisi jaringan mestinya, apakah te
96x/mnt, kulit dingin, N :
- Perfusi jaringan serebral perubahan segmen S
22 x/mnt - Perfusi jaringan perifer - Monitor irama jantu
- Perfusi jaringan
kecepatan denyut ja
pulmonal - Auskultasi suara jan
- Status tanda vital 2. Pengaturan hemodinam
- Kurangi kecemasan
memberikan inform
akurat.
- Tentukan status perf
(yaitu apakah pasien
dingin, suam-suam k
atau hangat)
- Monitor efek obat
- Tinggikan kepala te
tidur
- Tinggikan tempat tid
3 Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan tindakan 1. Terapi aktifitas
-Bantu klien untuk
berhubungan dengan keperawatan selama 1 X24 jam
mengeksplorasi tujuan p
ketidakseimbangan antara diharapkan : dari aktifitas-aktifitas ya
suplai dan kebutuhan dilakukan dan aktifitas-a
1. Toleransi aktifitas
oksigen yang ditandai yang disukai.
- Bantu klien untuk mem
dengan pasien mengeluh - Saturasi oksigen saat
aktifitas dan pencapaian
sesak bila bangun dari aktivitas
- Frekuensi pernapsan saat melalui aktifitas yg kons
posisi tidur, berkeringat
beraktivitas dengan kemampuan fisi
dingin bila merubah posisi
- Kemampuan untuk
fisiologis dan sopsial.
dari tidur langsung duduk,
berbicara saat beraktivitas -Bantu klien untuk tetap
Tanda vital setelah bangun
fisik pada kekuatan yang dim
tidur TD : 170/100 mmHg,
2. Manajemen energi dibandingkan dengan
P : 100x/mnt. N : 28x/mnt
kelemahan yang dimilik
- Meyadari keterbasan energi -Identifikasi strategi unt
- Menyeimbangkan aktivtas
meningkatkan partisipas
dan istirahat
- Mengatur jadwal aktivitas dengan aktifitas yang
untuk menghemat energy diinginkan.
2. Manajement energi
Kriteria hasil : - Kaji status fisiologis klien

a. Tolereransi aktivitas menyebabkan kelelahan ses


b. Ketahanan dengankonteks usia dan
c. Penghematan energi
d. Kebugaran fisik perkembangan.
e. Energi psikomotorik -Anjurkan pasien mengung
f. Perawatan diri perasaan secara verbal men
g. Perawatan diri
keterbatasan yang dialami.
-Perbaiki defisit status fisio
-Monitor intake nutrisi untu
mengetahui sumber energi y
adekuat.

3.4. Implementasi Keperawatan

3.5. Evaluasi

DAFTAR PUSTAKA
Hermawati, Risa dan Haris Candra Dewi. 2014. Penyakit Jantung Koroner.
Jakarta: Kandas Media (Imprint Agromedia Pustaka).
Annisa dan Anjar. Jurnal GASTER Vol. 10 No. 1/Februari 2013.
Wilkison, Judith. M. dan Nancy. R. 2013. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Ed
9. Jakarta: EGC.
Putra S, Panda L, Rotty. 2013. Profil Penyakit Jantung Koroner. Manado:
Fakultas Kedokteran.
Rochmayanti. 2011. Analis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Hidup
Pasien Dengan Penyakit Jantun Koroner. Jakarta: Fakultas Ilmu
Keperawatan.
Yahya. A. Fauzi. 2010. Penaklukan No.1: Mencegah Dan Mengatasi Penyakit
Jantung Koroner. Bandung: Qanita.

3.6. Contoh Kasus Asuhan Keperawatan Pada Pasien Penyakit Jantung


Koroner
A. Pengkajian

Biodata
Nama : Ny. S No. Reg : 65-53-48
Umur : 50 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : GP. Rejo Kediri
Pendidikan : Tamat SD
Pekerjaan : Ibu RT
Diagnosa Medis : PJK
Tanggal MRS : 4 Maret 2010
Tanggal Pengkajian : 5 Maret 2010

Keluhan Utama
Pasien mengeluh dada nyeri sebelah kiri tembus punggung sejak 3 hari
yang lalu. Nyeri bertambah bila dibuat aktivitas dan berkurang bila dibuat
istirahat. Skala nyeri 5.

Riwayat Penyakit Sekarang


Tanggal 4 Maret 2010 pasien dibawa ke RS. Baptis Kediri. 3 hari yang lalu
pasian mengeluh dada nyeri sebelah kiri tembus punggung, mual, pusing keringat
dingin. Setelah periksa oleh dokter pasien di diagnosa dengan PJK. Oleh dokter
disuruh opname.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien pernag menderita / mempunyai riwayat HT dan DM 1 tahun yang lalu
dan pasien belum pernah poname.

Riwayat Kesehatan Keluarga


Keluarga pasien tidak mempunyai penyakit PJK.
Riwayat Psikososial Dan Spiritual
Psikososial : pasien dapat berhubungan baik denagn pasien, perawat maupun
anggota keluarga.
Spiritual : Pasien beragama islam dan rutin menjalankan sholat 5 waktu.
Di rumah sakit tidak pernah menjalankan sholat karena sedang sakit.

Pola Aktivitas Sehari Hari


Pola
Di Rumah Di RS
Aktivitas
Nutrisi Makan biasa 3 x/hari dengan Lunak jantung 3x/hari. Pasien
nasi, lauk dan sayur hanya menghabiskan 2-3 sendok
makan karena passion mengeluh
mual

Minum air putih 5-6 gelas/hari


Minum air putih 6-7 gelas/hari
BAK : 4-5 x/hari
BAK : 4-5 x/hari
BAB : 1-3 x/ hari konsistensi
Eliminas BAB : 3 x/hari konsistensi keras
i Tidur Siang 1 jan/hari lembek

Malam 7 jam/hari Siang 2 jam/hari

Mandi 2 x/hari, ganti baju dan Malam 6 jam/hari

Istirahat gosok gigi dilakukan sendiri Mandi 2 x/hari diseka ditempat


tidur, ganti baju dan gosok gigi
dibantu perawat / keluarga.
Hygiene Sebagai Ibu RT
Lebih banyak di tempat tidur
karena pasien bedrest

Aktivitas

Keadaan/Penampilan/Kesan Umum Pasien

Keadaan umum pasien kelihatan pucat, menyeringai kesakitan tapi sadar


baik.

Tanda Tanda Vital


Suhu tubuh : 37 C
Denyut nadi : 92 x/menit
Tensi / TD : 160 / 100 mmHg
Respirasi : 22 x/menit
TB/BB : -

Pemeriksaan Fisik ( diutamakan pada sistem yang terganggu sesuai dengan


penyakitnya)
1. Pemeriksaan Kepala Dan Leher
Kepala
Inspeksi : kulit kepala bersih, rambut warna hitam
Palpasi : tidak ada lesi, tidak ada nyeri tekan tapi pasien mengeluh pusing
Mata
Inspeksi : Conjungtiva merah muda, sclera putih
Telinga
Inspeksi : Telinga luar bersih, tidak ada lesi, kedua telinga simetris
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan atau massa
Hidung
Inspeksi : Lubang hidung simetris, tidak ada secret di lubang hidung,
pasien dapat mengidentifikasi bau dengan benar
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada sinus maksilaris, frontalis dan
etmoidalis
Mulut
Inspeksi : Membran mukosa bibir kering, pucat, gusi tidak ada lesi
Leher
Inspeksi : Tidak ada pembengkakan
Palpasi : Tidak ada pembesaran kelenjaran tiroid, tidak ada nyeri tekan

2. Pemeriksaan Integumen / Kulit dan Kuku


Kulit
Inspeksi : warna sawo matang, tidak ada kemerahan, kulit kering
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak terjadi pitting oedem

3. Pemeriksaan Payudara dan Ketiak


Tidak terkaji

4. Pemeriksaan Thorax / Dada


Inspeksi thorax : Pergerakan thoraks saat ekspirasi dan inspirasi kanan dan kiri
bersamaan, ada nyeri tekan karena pasien mengeluh nyeri dada
Paru : Perkusi : Bunyi sonor / timpani pada lapang kanan dan kiri
5. Pemeriksaan Jantung
Palpasi : tidak ada bunyi tambahan ronchi, wheezing, rales
Auskultasi : bunyi S1 dan S2 tunggal

6. Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi : Tidak terlihat adanya luka
Palpasi : Tidak teraba massa, turgor kulit kenyal, tidak terdapat nyeri tekan
Perkusi : bunyi abdomen timpani
Auskultasi : Terdengar bising usus 8 x/menit.

7. Pemeriksaan Muskuloskeletal
Tonus otot

MMT 5 4

5 4

Ket :
4 : Gerakan normal, mampu melawan gravitasi dan mampu menahan beban
minimal
5 : Gerakan normal penuh, dan mampu melawan gaya gravitasi dengan tekanan
penuh

8. Pemerikasaan Neurologi
Reflek patela : +/+
Reflek pupil : +/+
GCS : 4 5 6
Ket:
4 : Bingung
5 : Gerakan spontan atau mampu mengikuti perintah
6 : Mengikuti perintah

9. Pemeriksaan Status Mental


Kesadaran composmentis

10. Pemeriksaan Penunjang Medis


Kimia darah tanggal 4 Maret 2010

B.U.N 11 N : 10-23 mg/dl

Glucose sesaat 92 mg/dl

Creatinine 0.72 mg/dl N : 0.5-1.1 mg/dl

Na+ 138 mEq/L N : 136-145 mg/dl

K+ 3.74 mEq/L N : 3.6-5.0 mEq/L

Uric Acid 3.4 mg/dl N : 3.4-7.0 mg/dl


Darah Lengkap tanggal 4 Maret 2010

WBC 6.3 K/Ul

RBC 4.69 M/Ul

HGB 12.1 G/Dl

HCT 35.4 %

MCV 75.5 Fl

MCH 25.8 pg

MCHC 34.2 g/dL


RDW 13.8 %

s
11. Pelaksanaan/Terapi

Vaclo 4 tab 1x

Vaclo 1 tab 1-0-0

Inj. Mufitrasi prn

Bisoptolol 2.5 mg -0-0

Adalat 30 mg -0-0

Simuastatin 0-0-10

Inj. Arixtra 0.6 v Qh

12. Harapan Klien / Keluarga Sehubungan Dengan Penyakitnya


Pasien dan keluarga berharap cepat sembuh dan bias cepat pulang

B. ANALISA DATA

Nama Pasien : Ny. S

Umur : 50 tahun

No. Reg : 65-53-40


DATA GAYUT
KEMUNGKINAN
DATA OBYEKTIF MASALAH
PENYEBAB
DATA SUBYEKTIF

Data Subyektif : Nyeri akut Iskemia jaringan jantung atau

Pasien menyatakan nyeri sumbatan pada arteri koronaria

pada dad sebelah kiri

Data Obyektif :

- Pasien kelihatan
menyeringai kesakitan

- Pasien tampak pucat

- TD : 160/100 mmHg

- Skala nyeri 5

Data Subyektif : Menurunnya kontraksi jantung


Penurunan cardiac output
Pasien mengeluh lemah,
sesak nafas, sulit melakukan
aktivitas yang berlebih,
sering terbangun pada
malam hari karena sesak dan
nyeri dada

Data Obyektif :

- TD : 160/100 mmHg

- P : 96 x/mnt
DATA GAYUT
KEMUNGKINAN
DATA OBYEKTIF MASALAH
PENYEBAB
DATA SUBYEKTIF
- Kulit dingin

- N : 22 x/mnt

Data Subyektif : Ketidakseimbangan antara

Pasien mengeluh sesak bila Intoleransi aktivitas suplai dan kebutuhan oksigen

bangun dari posisi tidur

Data Obyektif :

- Berkeringat dingin bila


merubah posisi dari tidur
langsung duduk

- tanda vital setelah bangun

TD : 170/100 mmHg

P : 100x/mnt

N : 28x/mnt

C.DIAGNOSA KEPERAWATAN

Nama Pasien : Ny. S


Umur : 50 tahun

No. Reg : 65-53-48

TANGGAL TANGGAL TTD


NO. DIAGNOSA KEPERAWATAN
MUNCUL TERATASI
1. 5-3-2010 Nyeri akut berhubungan dengan iskemia
jaringan atau sumabtan pada arteri
koronaria yang ditandai dengan pasien
mengatakan nyeri dada sebelah kiri, pasien
kelihatan menyeringai kesakitan, pasien
tampak pucat, TD : 160/100 mmHg, P :
96x/mnt, skala nyeri 5

Penurunan cardiac output berhubungan


dengan menutunnya kontraksi otot yang
ditandai dengan pasien mengeluh lemah,
2. 5-3-2010
sesak napas, sulit melakukan aktivitas
yang berlebih, sering terbangun pada
malam hari karena sesak dan nyeri dada,
TD : 160/100 mmHg, P : 96x/mnt, kulit
dingin, N : 22 x/mnt
4 5-3-2010
Ganguan pemenuhan oksigen
berhubungan dengan hipoksia ditandai
oleh sesak,tidak bebas bergerak,gelisah,
RR:28 x/I, berbaring ditempat tidur, os
cemas,
4. 5-3-2010
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen yang ditandai dengan
pasien mengeluh sesak bila bangun dari
TANGGAL TANGGAL TTD
NO. DIAGNOSA KEPERAWATAN
MUNCUL TERATASI
posisi tidur, berkeringat dingin bila
merubah posisi dari tidur langsung duduk,
Tanda vital setelah bangun tidur TD :
170/100 mmHg, P : 100x/mnt. N :
28x/mnt
D. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Nama Pasien : Ny. S

Umur : 50 Tahun

No. Reg : 65-53-48

DIAGNOSA
NO. TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN
1. Gangguan nyaman nyeri Setelah dilakukan 1. Monitor dan kaji 4. Variasi
berhubungan dengan tindakan keperawtan karakteristik dan lokasi penampilan dan
iskemia jaringan atau dalam waktu 2 x 24 jam nyeri perilaku passien karena
sumbatan pada arteri pasien mampu Monitor tanda-tanda nyeri terjadi sebagai
2.
koronaria yang ditandai menunjukkan rasa nyeri vital ( tekanan darah, temuan pengkajian
dengan pasien mengatakan dada dengan nadi) 5. Peningkatan
nyeri dada sebelah kiri, Kriteria hasil : tekanan darah dan nadi
pasien kelihatan meningklat sebagai
- Pasien tampak rileks
menyeringai kesakitan, akibat nyeri dan
pasien tampak pucat, TD : - Skala nyeri 0 berhubungan dengan
160/100 mmHg, P : - TD : 120/80 mmHg 3. Ciptakan suasana cemas
96x/mnt, skala nyeri 5 -P : 80 x/mnt lingkungan yang tenang 3. Menurunkan
dan nyaman rangsang eksternal
dimana ansietas dan
regangan jantung serta
keterbatasan
DIAGNOSA
NO. TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN
kemampuan koping dan

4. Ajarkan dan keputusan terhadap

anjurkan pada pasien situasi saat ini

untuk melakukan tehnik 4. Membantu dalam


relaksasi penurunan

5. Kolaborasi dengan persepsi/respon nyeri


deokter dalam pemberian 5. Pilihan untuk
analgesik menurunkan nyeri
hebat, memberikan
sadari dan mnegurangi
kerja miokard
Setelah dilakukan

2. Penurunan cardiac output tindakan keperawtan 1. Lakukan


dalam waktu 224 jam pengukuran tekanan 1. Perubahan terjadi
berhubungan dengan
pada TD ( hipertensi
menutunnya kontraksi otot tidak terjadi penurunan darah ( bandingkan kedua
cardiac output dengan lengan pada posisi atau hipotensi) karena
yang ditandai dengan
criteria hasil : respon jantung
pasien mengeluh lemah, berdiri, duduk, dan
sesak napas, sulit - Pasien tampak tiduran jika
melakukan aktivitas yang semangat memungkinkan
berlebih, sering terbangun - tidak sesak napas 2. Kaji kualitas nadi
pada malam hari karena
- TD : 120/80 mmHg 3. auskultasi bunyi 2. Sirkulasi perifer
sesak dan nyeri dada, TD :
- P : 80 x/mnt nafas dan bunyi jantung menurun bila curah
160/100 mmHg, P :
96x/mnt, kulit dingin, N : - kulit normal tidak 4. Kolaborasi dengan jantung menurun
dokter dalam membuat kekuatan nadi
22 x/mnt dingin
pemeriksaan serial EGC, menungkat
- N : 20 x/mnt
foto thorax, pemberian 3. S3 dan S4 atau
obat-obatan anti disritmia krekels terjadi dengan
DIAGNOSA
NO. TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN
dekompensasi jantung
atau beberapa obat

1. Catat irama jantung, 4. Pemeriksaan

tekanan darah dan nadi dilakukan untuk


sebelum dan sesudah mengidentifikasi area

melalukan aktivitas iobstruksi atau


Setelah dialkukan kerusakan arteri korone
tindakan keperawtan yang memerlukan
dalam waktu 224 jam, intervensi bedah
pasien menunjukkan
4. Intoleransi aktivitas peningkatan 2. Anjurkan pasien 1. Kecenderungan
berhubungan dengan kemampuan dalam agar lebih banyak melakukan respon
ketidakseimbangan antara melakukan aktivitas
beristirahat terlebih pasien terhadap
suplai dan kebutuhan dengan criteria hasil ; dahulu aktivitas dan dapat
oksigen yang ditandai
- TD : 120/80 mmHg mengindikasikan
dengan pasien mengeluh
sesak bila angun dari posisi - P : 80 x/mnt penurunan oksigen

tidur, berkeringat dingin - N : 20 x/mnt miokardia yang


3. Anjurkan pasien
bila merubah posisi dari memerlukan penurunan
- Pasien nyaman dalam menghindari peningkatan
tidur langsung duduk, tingkat aktivitas
tidur tekanan abdomen contoh
Tanda vital setelah bangun mengejan saat defekasi 2. Menurunkan kerja
tidur TD : 170/100 mmHg, miokardia / konsumsi
P : 100x/mnt. N : 28x/mnt oksigen, menurunkan
resiko komplikasi

3. Aktifitas yang
memerlukan menahan

4. Jelaskan pada pasien napas dan menunduk

tentang taha-tahap ( manuvervalsalva)


DIAGNOSA
NO. TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN
aktivitas yang boleh dapat mengakibatkan
dilakukan oleh pasien bradikardi, juga
menurunkan curah
jantung dan takikardi
dengan peningkatan TD

4. Aktivitas yang maju


memberikan kontrol
jantung, meningkatkan
regangan dan mencegah
aktivitas berlebihan

D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Nama Pasien : Ny. S

Umur : 50 tahun

No. Reg : 65-53-48

Hari/tanggal/ja No Dx Implementasi Evaluasi Formatif Paraf


m
6 Maret 2010 1 1. menentukan lokasi nyeri, Pasien mengatakan nyeri
9.00
karakteristik, kualitas, dan pada bagian dada sebelah
keparahan nyeri pasien kiri dan pasien mengatakan
nyeri yang dirasakan seperti
6 Maret 2010 2 tembus ke punggung
9.00 2. Memantau tanda-tanda
vital S : 37oC N : 22
x/menit

6 Maret 2010 3. P : 96 x/menit TD :


9.00 160/100 mmHg
3. Mengeksplorasi aktifitas
pasien
6 Maret 2010 1. Pasien tidak banyak aktivitas
12.00
yang dilakukan ADL pasien
4. Pemberian obat analgesik dibantu
6 Maret 2010 2
12.00

5. Memonitor EKG pasien


6 Maret 2016 3. Pasien meminum obat, dan
12.00 pasien mengatakan setelah
6. Membantu klien untuk minum obat nyeri berkurang
6 Maret 2016s
memilih aktifitas klien
Tidak terdapat perubahan
segmen ST

Pasien bedrest dan pasien


mengatakan nyerinya sudah
berkurang

Pasien masih mengeluh nyeri


pada dada kirinya

No. No. DX TGL/JAM TINDAKAN TTD


1. 1 6-3-2010 1. Memantau tanda-tanda vital:
9 am

2. Membersihkan lingkungan tempat


tidur pasien dan merapikannya

3. Mengajarkan tehnik relaksasi napas


dalam

1. Melakukan auskultasi bunyi nafas dan


bunyi jantung pada pasien

2. Melakukan pengukuran tekanan


2 2 6-3-2010 darah :
10 am TD : 160/100 mmHg

P : 96 x/mnt

N : 22 x/mnt

1. Memberitahu pasien untuk beristirahat


lebih banyak

2. Memberitahu pasien untuk tidak

3 3 6-3-2010 mengejan saat BAB

11 am

E. EVALUASI

Nama Pasien : Ny. S

Umur : 50 tahun

Tanggal : 6-3-2010
No. NO. DX JAM EVALUASI TTD
1. 1 12 am S : Pasien mengatakan nyeri berkurang

O : Pasien tampak rileks

- Skala nyeri 0

- TD : 140/90 mmHg

A : Tujuan tercapai

P : Hentikan intervensi

2. 2 12 am S : Pasien mengatakan sesak berkurang

O : Pasien tampak
semangat

tidak sesak

- N : 20 x/mnt

A : Tujuan tercapai

P : Hentikan intervensi

3. 3 12 am
S : Pasien mengatakan sudah mengalami
peningkatandalam aktivitas

O : Pasien sudah nyaman dalam tidur

- Sudah bias duduk dengan tenang

A : Tujuan tercapai

P : Hentikan intervensi

INI WEBNYA: http://hanrayoung.blogspot.co.id/2015/05/askep-pjk-penyakit-


jantung-koroner.html