Anda di halaman 1dari 4

MASALAH ETIKA DAN HUKUM YANG BISA TERJADI

DALAM PENGELOLAAN BENCANA

Oleh : Angga Perdana Kesuma


Npm : 1606955132

Pengelolaan dan pengendalian bencana adalah tanggung jawab yang harus menjadi
perhatian serius dari pemerintahan suatu Negara. Besarnya dampak yang timbul saat peristiwa
bencana melanda suatu daerah akan memperlambat pembangunan di daerah tersebut dan ini akan
berimbas kepada kesejahteraan warga Negara, sehingga mempengaruhi stabilitas dan
produktifitas Negara dalam membangun daerahnya. Memang seharusnya, peristiwa atau
rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat
yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia menjadi
tanggung jawab pemerintah. Namun, pelaksanaan pengelolaan dan pengendalian bencana
merupakan kewajiban masyarakat bersama untuk mengulurkan tangan memberikan kontribusi
sehingga mengurangi atau menghilangkan kemungkinan timbulnya korban jiwa manusia,
kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Maka dari itulah
Pemerintah RI merancang landasan hukum yang mengatur mengenai penanggulangan bencana,
yang telah disahkan pada 26-april-2007 menjadi Undang-Undang No. 24/2007 tentang
penyelenggaraan penanggulangan bencana. UU ini diharapkan dapat membangun sinergi
berrbagai pihak dalam usaha penanggulangan bencana di Indonesia.

Pada UU No.24/2007 tentang penyelenggaraan penanggulangan bencana telah dibahas


mengenai definisi dan nilai dasar, distribusi kewenangan, lembaga pemerintah dalam
penanggulangan bencana, peran masyarakat dan entitas non pemerintah, penyelenggaraan
penanggulangan bencana, aturan pendanaan, pengawasan, serta hukum dan aturan pelengkap.
Hal ini seharusnya sudah dapat menjadi pedoman baku dalam penanggulangan bencana di
Indonesia. Meskipun tidak jarang kita temukan ada oknum yang mencoba mendulang emas dari
jeritan masyarakat yang terdampak bencana, ada pula yang mengambil keuntungan politik
berkedok penyelamat dari bencana, serta pihak-pihak yang tidak memperdulikan kultur dan
budaya dalam hal penanggulangan bencana. Hal inilah yang rawan menimbulkan masalah etika
dan hukum dalam penanggulangan bencana.

Beberapa masalah etik dan hukum akan dapat kita temukan dalam penaggulangan bencana.
Salah satunya adalah kurangnya batasan penggunaan istilah gagal modernisasi dalam UU
No.24/2007 yang memang belum diberi penjelasan rinci, sehingga akan menjadi celah bagi
oknum yang terlibat dalam penyebab terjadinya bencana untuk menghindar dari tuntutan.
Sebagai contoh, tahun 2015 bencana kabut asap yang melanda akibat terjadinya kebakaran hutan
di riau sangat meresahkan masyarakat. Isu yang berkembang telah terjadi sabotase pembakaran
lahan dengan cara sengaja oleh pihak perusahaan sehingga pihak yang diduga terkait sebagai
penyebab terjadinya kebakaran hutan dilaporkan kepada petugas berwajib. Tetapi mengejutkan,
kasus dihentikan atau SP3 oleh Polda Riau. Dan kini terlihat wajah baru hutan yang dibakar
menjadi perkebunan sawit yang subur makmur.

Masalah etik dan hukum yang bisa terjadi juga bisa dikarenakan peran-peran pemerintah
dengan lembaga internasional, NGO internasional dan NGO/LSM lokal dan lembaga-lembaga
kerelawanan serta perusahaan dalam pemberian bantuan pada korban bencana. Hal ini
berdasarkan kisah nyata yang terjadi saat peristiwa tsunami di aceh 2015 silam. Beberapa orang
mengatakan bahwa distribusi bantuan tidak merata, dengan daerah pedesaan dan daerah yang
terkena dampak konflik yang cenderung mengalami bantuan. Dikutip dari pernyataan Asrida
seorang suka relawan (Ride & Bretherton, 2011) Ada beberapa tumpang tindih bantuan. . .
karena tidak ada koordinasi antara LSM, tidak secara harfiah tidak ada komunikasi, sehingga
bantuan diberikan lagi ke wilayah itu dan mungkin ada beberapa daerah yang tidak punya
bantuan sama sekali. Itu dari apa yang saya dengar tetapi data real tidak diketahui.
Ditambahlagi oknum yang dengan sadarnya menjual barang-barang bantuan kepada masyarakat
yang membutuhkan.

Banyaknya bantuan yang mengalir kepada masyarakat yang tertimpa bencana menyebabkan
sebagian masyarakat tersebut menjadi malas dan mengandalkan bantuan yang ada(Ride &
Bretherton, 2011). Hal ini senada dengan pernyataan Fatma, manajer salah satu LSM,
mengatakan ada tanggapan yang berbeda untuk pemberian bantuan: Beberapa bantuan yang
memang benar-benar diperlukan seperti Pakaian untuk dipakai, makanan untuk dimakan. Tetapi
beberapa orang mengambil kesempatan dalam kondisi itu untuk menjamin hidupnya. disana ada
fenomena di mana. . . "Saya mendapat bencana, teruslah membantu saya. Aku tidak
membutuhkan pekerjaan apapun, saya mendapatkan jadup setiap bulan [jatah Hidup atau
persediaan hidup)" beberapa berpemikiran seperti itu. Jadi, itu bervariasi, beberapa ingin
mengakhiri kondisi sesegera mungkin, beberapa hanya ingin mengambil keuntungan.

Masalah etika dan hukum selanjutnya adalah bantuan bencana memiliki manfaat ekonomi
bagi mereka yang masih bernasib baik. Erni, bidan, menuturkan contoh : seorang dari LSM
ingin menyewa sebuah rumah: berapa ? 200 juta rupiah setahun. Dia menyewa itu dan
kemudian menemukan rumah yang lebih kecil. Seperti itu sampai mereka kaya. Tetapi untuk
orang miskin, mereka tidak memiliki uang untuk membeli pakaian. Hal ini tentu perlu menjadi
perhatian dari berbagai pihak. Sebagai mana yang diatur dalam UU No. 24/2007 pasa 3 point (f)
segala hal yang terjadi dalam penganggulangan bencana harus menggunakan asas kebersamaan
ini. Dalam pasal 32 ayat 1 juga disebutkan bahwa dalam penyelenggaraan penanggulangan
bencana pemerintah dapat mencabut atau mengurangi sebagian atau seluruh hak kepemilikan
setiap orang atas suatu benda sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu,
perlu kesadaran masyarakat untuk saling tolong menolong dalam menanggapi bencana.

Masalah etika dan hukum selanjutnya yang bisa terjadi adalah Pelaporan penerimaan dan
pendayagunaan sumbangan/bantuan yang dikoordinir oleh pihak non pemerintah butuh untuk
diatur agar menjamin transparansi dan ketersampaian bantuan tersebut. Harus ada kewajiban
bagi pihak-pihak yang melakukan penggalangan bantuan untuk melaporkan penerimaan dan
pendayagunaan bantuan bencana kepada publik. Sementara itu, orang-orang frustrasi bahwa
meskipun masuknya bantuan, beberapa hal tidak membaik, seperti layanan kesehatan. Edy
seorang korban bencana alam tsunami aceh, mengeluh Ada banyak pusat-pusat kesehatan
masyarakat dibangun oleh orang asing atau oleh pemerintah dalam negeri. Seperti RSU Zainal
Abidin, RS Meuraxa, dan lain-lain. Fasilitas ini didukung oleh bangunan besar tapi tidak dengan
layanan staf. Aku tidak tahu mengapa. Layanan tidak pernah mengubah, tidak efisien, dan aku
kecewa. Hal ini terjadi tidak hanya pada satu pusat kesehatan masyarakat, tetapi hampir semua
dari mereka(Ride & Bretherton, 2011). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun bantuan terus
dilayangkan dari berbagai sumber tetapi apa yang didapat oleh masyarakat yang terkena dampak
bencana tidak membaik.

Disamping masalah-masalah yang dikemukakakn diatas, masih banyak masalah etik dan
hukum bisa timbul dalam penaggulangan bencana. Contohnya, keamanan kaum wanita,
ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan untuk anak-anak, ketersinggungan kultur dan
budaya, pendanaan bantuan bencana, system koordinasi tanggap bencana, persiapan masyarakat
dalam menghadapi bencana, pelatihan kepada masyarakat tentang penaggulangan bencana,
menghapus oknum pemeras keringat dan air mata dalam keadaan bencana, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, asas dan prinsip dalam penanggulangan bencana harus dapat diterapkan serta
dipahami oleh setiap lapisan masyarakat sehingga tidak terjadi konflik yang merusak kesatuan
dan persatuan dalam berbangsa dan bernegara. Masyarakat harus semakin bersatu apabila
terkena dampak bencana.

Masalah etika dan hukum yang bisa terjadi dalam penerapan penanggulangan bencana dapat
kita temukan dengan mengorek luka lama saat terjadinya bencana tsunami diaceh pada tahun
2005. Meskipun, contoh masalah yang akan kita angkat merupakan permasalahan yang terjadi
sebelum disahkannya UU No.24/2007 hal ini tidak mengurangi makna dan pembelajaran kita
dalam menghadapi masalah bencana kedepannya. Harapanya, masalah etik dan hukum dalam
penanggulangan bencana dapat dikurangi atau dihilangkan agar tercapainya kesejahteraan
seluruh masyarakat.