Anda di halaman 1dari 34

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MASALAH KEAMANAN

DAN KESELAMATAN

Perawat memberikan perawatan kepada klien dan keluarga di dalam komunitas mereka dan
tempat pelayanan kesehatan. Untuk memastikan lingkungan yang aman, perawat perlu
memahami hal-hal yang memberikan kontribusi keamanan rumah, komunitas, atau lingkungan
pelayanan kesehatan, dan kemudian mengkaji berbagai ancaman terhadap keamanan klien dan
lingkungan. Pengkajian yang dilakukan pada klien antara lain pengkajian terhadap riwayat dan
pemeriksaan fisik. Pengkajian terhadap lingkungan, termasuk rumah klien dan tempat pelayanan
kesehatan, mencakup inspeksi pada fasilitas tersebut.

a. Data Subjective

Pengkajian difokuskan pada masalah riwayat kesehatan klien yang terkait dengan kebutuhan
keamanan seperti: pernahkah klien jatuh, mengalami patah tulang, pembatasan aktivitas, dan
sebagainya. Klien perlu ditanyakan tentang tindakan pengamanan di mobil, perhatian terhadap
tanda bahaya, tindakan pengamanan anak atau bayi di rumah, status imunisasi, pengertian dan
pemahaman klien tentang kesehatan dan keamanan. Perlu digali juga tentang perubahan
lingkungan, support sistem, tahap tumbuh kembang.

Perawat perlu mengidentifikasi adanya faktor risiko untuk keamanan klien mencakup: kondisi
dewasa, fisiologi, kognitif, pengobatan, lingkungan, dan kondisi anak-anak.

1. Dewasa seperti, riwayat terjatuh, usia yang lebih tua pada wanita, penggunaan alat bantu (alat
bantu jalan, tongkat), prosthesis anggota badan bagian bawah, umur lebih 65 tahun, dan hidup
sendiri.
2. Fisiologi seperti: kehadiran penyakit akut, kondisi post operasi, kesulitan penglihatan,
kesulitan pendengaran, arthritis, orthostatik hipotensi, tidak dapat tidur, pusing ketika memutar
kepala atau menegakkan kepala, anemia, penyakit vaskuler, neoplasma, kesulitan mobilitas fisik,
kerusakan keseimbangan dan neuropati.
3. Kognitive, seperti: penurunan status mental (kebingungan, delirium, dimensia, kerusakan
orientasi orang, tempat dan waktu)
4. Pengobatan, seperti obat anti hipertensi, penghambat ACE, antidepresan trisiklik, obat anti
cemas, hipnotik atau transquilizer, diuretik, penggunan alkohol, dan narkotika.
5. Lingkungan, seperti: adanya restrain, kondisi cuaca atau lingkungan, pencahayaan,
kelembaban, ventilasi, penataan lingkungan.
6. Anak-anak, seperti: umur dibawah 2 tahun, penggunaan pengaman, penataan ruang,
penggunaan mainan.

b. Data Objective

data objective dapat diperoleh perawat dengan melakukan pemeriksaan fisik terkait dengan
sistem: neurologis, cardiovaskuler dan pernafasan, integritas kulit dan mobilitas. Pengkajian juga
mencakup prosedur test diagnostik.

1. Sistem Neurologis
* Status mental
* Tingkat kesadaran
* Fungsi sensori
* Sistem reflek
* Sistem koordinasi
* Test pendengaran, penglihatan dan pembauan
* Sensivitas terhadap lingkungan
2. Sistem Cardiovaskuler dan Respirasi
* Toleransi terhadap aktivitas
* Nyeri dada
* Kesulitan bernafas saat aktivitas
* Frekuensi nafas, tekanan darah dan denyut nadi
3. Integritas kulit
* Inspeksi terhadap keutuhan kulit klien
* Kaji adanya luka, scar, dan lesi
* Kaji tingkat perawatan diri kulit klien
4. Mobilitas
* Inspeksi dan palpasi terhadap otot, persendian, dan tulang klien
* Kaji range of motion klien
* Kaji kekuatan otot klienkaji tingakt ADLs klien

Test diagnostik mencakup: pengukuran tekanan darah, ECG, pengukuran kadar gula darah dan
kolesterol, pemeriksaan darah lengkap, dan sebagainya.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang dapat muncul terkait dengan pemenuhan kebutuhan keamanan dan
keselamatan, berdasarkan NANDA 2004-2006 adalah sebagai berikut:

1. Risiko cedera atau risiko jatuh yang berhubungan dengan perubahan mobilisasi, dan penataan
lingkungan fisik di rumah.
2. Risiko keracunan yang berhubungan dengan kontaminasi zat kimia pada makanan atau air,
penyimpanan obat-obatan yang mudah dijangkau oleh anak-anak, dan penurunan penglkihatan.
3. Risiko trauma yang berhubungan dengan kontak dengan udara dingin yang ekstrem, dan
obstruksi jalan nafas.
4. Gangguan proses pikir yang berhubungan dengan kehilangan memori, kesulitan tidur, dan efek
samping obat.
5. Perubahan manajemen pemeliharaan rumah yang berhubungan dengan keuangan yang tidak
memadahi, dan perubahan fungsi kognitif.
6. Defisit pengetahuan yang berhubungan dengan salah interprestasi informasi, dan tidak terbiasa
dengan tindakan pencegahan untuk anak-anak.
7. Risiko perubahan suhu tubuh yang berhubungan dengan paparan terhadap lingkuingan panas
atau dingin yang ekstrem, dan mekanisme kontrol suhu tubuh yang tidak matang.

3. Perencanaan

Perawat merencanakan intervensi terapeutik untuk klien dengan risiko atau aktual mengalami
gangguan keamanan. Tujuan keseluruhan untuk klien yang mengalami ancaman keamanan
adalah klien terbebas dari cedera. Perawat merencanakan intervensi yang individual dengan
berdasarkan pada beratnya risiko yang dihadapi klien, tahap perkembangan, status kesehatan,
dan gaya hidup.

Intervensi keperawatan dirancang untuk memberikan perawatan yang aman dan efisien. Berikut
ini adalah tujuan yang berfokus pada kebutuhan klien terhadap keamanan:

1. Bahaya yang dapat dimodifikasi dalam lingkungan rumah akan berkurang


2. Klien akan menggunakan obat-obatan dan peralatan dengan benar dan melakukan tindakan
pengobatan.
3. Klien mengidentifikasi dan menghindari risiko yang mungkin dialami dalam komunitas.

Peting memperhatikan kondisi rumah klien ketika merencanakan terapi untuk mempertahankan
atau meningkatkan tingkat keamanan klien. Perencanaan keperawatan juga melibatkan
pemahaman kebutuhan klien untuk mempertahankan kemandiriannya. Perawat dan klien bekerja
sama dalam membuat cara mempertahankan keterlibatan klien dalam menciptakan lingkungan
yang aman di rumah sakit dan di rumah. Pendidikan klien dan keluarga merupakan intervensi
keperawatan utama untuk menurunkan kecelakaan.

Perencanaan keperawatan yang dapat disusun oleh perawat berdasarkan NOC/NIC untuk
mengatasi masalah keperawatan yang terkait denmgan kebutuhan keamanan adalah:

NOC (Nursing Outcomes Classification):

1. Abuse protection: protection of self or dependent others from abuse.


2. Balance: ability to maintain body equilibrium
3. Knowledge: Personal safety: extent of understanding conveyed about preventing unintentional
injuries.
4. Risk control: actions to eliminate or reduce actual, personal, and modifiable health threats.
5. Risk detection: actions taken to identify personal health threats
6. Safety behavior: Fall prevention: individual or caregiver actions to minimize risk factors that
might precipitate falls.
7. Safety behavior: Home physical environment: individual or caregiver actions to minimize
environment factors that might cause physical harm or injury in the home.
8. Safety behavior: Personal: individual or caregivers efforts to control behaviors that might
cause physical injury.
9. Safety status: Falls occurrence: number of falls in the past week.
10. Safety status: Physical injury: severity of injury from accidents and trauma.

NIC (Nursing Interventions Classification):

1. Environmental management: Safety; monitoring and manipulation of the physical


environment to promote safety.
2. Enviromental management: Worker safety; monitoring and manipulatuion of the worksite to
promote safety and health of workers.
3. Fall prevention: instituting special precautions with patient at risk for injury from falling.
4. Health education; developing and providing instruction and learning experiences to facilitate
voluntary adaptation of behavior conductive to health in individuals, families, groups, or
community.
5. Laser precautions: limiting the risk of injury to the patient related to use of a laser.
6. Peripheral sensation management: prevention or minimization of injury or discomfort in the
patient with altered sensation.
7. Physical restraint: application, monitoring, and removal of mechanical restraining devices or
manual restraints which are used to limit physical mobility of a patient.
8. Positioning: deliberative placement of the patient or a body part to promote physiological
and/or psychological well-being.
9. Pressure management: minimizing pressure to body part.
10. Radiation theraphy management: assisting the patient to understand and minimize the side
effects of radiation treatments.
11. Seizure precautions; care of a patient during seizure and the postictal state.
12. Skin surveillance: collection and analysis of patient data to maintain skin and mucous
membrane integrity.
13. Surgical precautions: minimizing the potensial for iantrogenic injury to the patient related to
surgical prossedure.
14. Surveillance: purposefull and ongoing acquisition, interpretation, and syntesis of patient data
for clinical decision-making.
15. Surveillance safety: purposefull and ongoing acquisition, interpretation, and analysis of
information about the patient and environment for use in promoting and maintaining patient
safety.
16. Teaching: Disease process; assisting the patient to understand information related to specific
disease process.
17. Teaching: Individual; planning, implementation, and evaluation of the teaching program
designed to address a patients particular needs.
18. Teaching: Infant care; instruction on nurturing and physical care needed during the first year
of life.
19. Vital sign monitoring: collections and analysis of cardiovaskuler, respiratory, and body
temperature data to determine and prevent complications.
20. Positioning: Wheelchair:; placement of a patient in a properly selected wheelchair to enhance
comfort, promote skin integrity, and foster independence.

4. Tindakan Keperawatan

Tindakan keperawatan dilakukan berdasarkan perencanaan yang telah disusun sesuai dengan
permasalahan keamanan yang dihadapi oleh klien. Perawat melakukan tindakan untuk mencapai
NOC yang telah ditetapkan mellaui pelaksanaan NIC yang telah disusun.

Implementasi keperawatan ditujukan untuk meningkatkan dan mempertahankan keamanan klien.


Karena sebagian besar tindakan keperawatan dapat diterapkan pada semua lingkungan, maka
intervensi tersebut harus terdiri dari dua bagian: pertimbangan tahap perkembangan dan
perlindungan lingkungan.

Kategori pertama dari intervensi mencakup intervensi yang spesifik untuk mengurangi risiko
pada setiap kelompok perkembangan usia. Intervensi lingkungan bertujuan untuk memodifikasi
lingkungan sehingga dapat megeliminasi atau meminimalkan bahaya yang ada atau berpotensial.

5. Evaluasi

Rencana perawatan, yang dirancang untuk mengurangi risioko pada klien dievaluasi dengan cara
membandingkan criteria hasil dengan tujuan yang ditetapkan selama tahap perencanaan. Jika
tujuan telah tercapai, maka intervensi keperawatan dianggap efektif dan tepat. Jika tidak tercapai,
maka perawat harus menentukan apakah ada risiko baru yang berkembang pada klien atau
apakah risiko sebelumnya tetap ada.

Klien dan keluarga harus berpartisipasi untuk menentukan cara permanent untuk mengurangi
risiko yang mengancam keamanan. Perawat mengkaji kebutuhan klien dan keluarga secara terus
menerus untuk menentukan dukungan tambahan seperti perawatan di rumah, terapi fisik, dan
konseling, dan pendidikan kesehatan lanjutan.

Lingkungan yang aman berperan penting dalam meningkatkan , mempertahankan dan


memulihkan kesehatan. Dengan menggunakan proses keperawatan, perawat mengkaji klien dan
lingkungannya untuk menentukan factor risiko cedera, megelompokkan factor-faktor risiko
tersebut, membuat diagnosa keperawatan, dan merencanakan intervensi yang spesifik, termasuk
pendidikan kesetan klien. Hasil yang diharapkan meliputi lingkungan fisik yang aman,
pengetahuan klien tentang factor-faktor yang menunjang keamanan dan tindakan pencegahan,
dank lien terbebas dari cedera
askep keamanan dan keselamatan

ASKEP KEBUTUHAN KEAMANAN DAN KESELAMATAN

Adalah suatu keadaan seseorang atau lebih yang terhindar dari ancaman bahaya / kecelakaan.
Sedang kecelakaan merupakan kejadian tidak dapat diduga dan tidak diharapkan yang dapat
menimbulkan cedera fisik maupun psikologis.
Tugas seorang perawat :
a. Tugas utamanya adalah meningkatkan kesehatan dan mencegah terjadinya sakit
b. Mengurangi resiko terjadinya kecelakaan yang mungkin terjadinya di RS
c. Lingkungan adalah semua faktor baik fisik maupun psikososial yang mempengaruhi hidup dan
keadaan klien
A. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keselamatan & Keamanan
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk melindungi diri dari
bahaya kecelakaan yaitu usia, gaya hidup, status mobilisasi, gangguan sensori persepsi, tingkat
kesadaran, status emosional, kemampuan komunikasi, pengetahuan pencegahan kecelakaan, dan
faktor lingkungan. Perawat perlu mengkaji faktor-faktor tersebut saat merencanakan perawatan
atau mengajarkan klien cara untuk melindungi diri sendiri.

1. Usia
Individu belajar untuk melindungi dirinya dari berbagai bahaya melalui pengetahuan dan
pengkajian akurat tentang lingkungan. Perawat perlu untuk mempelajari bahaya-bahaya yang
mungkin mengancam individu sesuai usia dan tahap tumbuh kembangnya sekaligus tindakan
pencegahannya.
2. Gaya Hidup
Faktor gaya hidup yang menempatkan klien dalam resiko bahaya diantaranya lingkungan kerja
yang tidak aman, tinggal didaerah dengan tingkat kejahatan tinggi, ketidakcukupan dana untuk
membeli perlengkapan keamanan,adanya akses dengan obat-obatan atau zat aditif berbahaya.
3. Status mobilisasi
Klien dengan kerusakan mobilitas akibat paralisis, kelemahan otot, gangguan
keseimbangan/koordinasi memiliki resiko untuk terjadinya cedera.
4. Gangguan sensori persepsi
Sensori persepsi yang akurat terhadap stimulus lingkungan sangat penting bagi keamanan
seseorang. Klien dengan gangguan persepsi rasa, dengar, raba, cium, dan lihat, memiliki resiko
tinggi untuk cedera.
5. Tingkat kesadaran
Kesadaran adalah kemampuan untuk menerima stimulus lingkungan, reaksi tubuh, dan berespon
tepat melalui proses berfikir dan tindakan. Klien yang mengalami gangguan kesadaran
diantaranya klien yang kurang tidur, klien tidak sadar atau setengah sadar, klien disorientasi,
klien yang menerima obat-obatan tertentu seperti narkotik, sedatif, dan hipnotik.
6. Status emosional
Status emosi yang ekstrim dapat mengganggu kemampuan klien menerima bahaya lingkungan.
Contohnya situasi penuh stres dapat menurunkan konsentrasi dan menurunkan kepekaan pada
simulus eksternal. Klien dengan depresi cenderung lambat berfikir dan bereaksi terhadap
stimulus lingkungan.
7. Kemampuan komunikasi
Klien dengan penurunan kemampuan untuk menerima dan mengemukakan informasi juga
beresiko untuk cedera. Klien afasia, klien dengan keterbatasan bahasa, dan klien yang buta huruf,
atau tidak bisa mengartikan simbol-simbol tanda bahaya.
8. Pengetahuan pencegahan kecelakaan
Informasi adalah hal yang sangat penting dalam penjagaan keamanan. Klien yang berada dalam
lingkungan asing sangat membutuhkan informasi keamanan yang khusus. Setiap individu perlu
mengetahui cara-cara yang dapat mencegah terjadinya cedera.
9. Faktor lingkungan
Lingkungan dengan perlindungan yang minimal dapat beresiko menjadi penyebab cedera baik di
rumah, tempat kerja, dan jalanan.

B. Macam-macam Bahaya / Kecelakaan


Beberapa bahaya yang sering mengancam klien baik yang berada di tempat pelayanan kesehatan,
rumah, maupun komunitas diantaranya:
1. Api /kebakaran
Api adalah bahaya umum baik di rumah maupun rumah sakit. Penyebab kebakaran yang paling
sering adalah rokok dan hubungan pendek arus listrik. Kebakaran dapat terjadi jika terdapat tiga
elemen sebagai berikut: panas yang cukup, bahanbahan yang mudah terbakar, dan oksigen yang
cukup.
2. Luka bakar (Scalds and burns)
Scald adalah luka bakar yang diakibatkan oleh cairan atau uap panas, seperti uap air panas. Burn
adalah luka bakar diakibatkan terpapar oleh panas tinggi, bahan kimia, listrik, atau agen
radioaktif. Klien dirumah sakit yang berisiko terhadap luka bakar adalah klien yang mengalami
penurunan sensasi suhu dipermukaan kulit.
3. Jatuh
Terjatuh bisa terjadi pada siapa saja terutama bayi dan lansia. Jatuh dapat terjadi akibat lantai
licin dan berair, alat-alat yang berantakkan, lingkungan dengan pencahayaan yang kurang.
4. Keracunan
Racun adalah semua zat yang dapat mencederai atau membunuh melalui aktivitas kimianya jika
dihisap, disuntikkan, digunakan, atau diserap dalam jumlah yang cukup sedikit. Penyebab utama
keracunan pada anak-anak adalah penyimpanan bahan berbahaya atau beracun yang
sembarangan, pada remaja adalah gigitan serangga dan ular atau upaya bunuh diri. Pada lansia
biasanya akibat salah makan obat (karena penurunan pengelihatan) atau akibat overdosis obat
(karena penurunan daya ingat).
5. Sengatan listrik
Sengatan listrik dan hubungan arus pendek adalah bahaya yang harus diwaspadai oleh perawat.
Perlengkapan listrik yang tidak baik dapat menyebabkan sengatan listrik bahkan kebakaran,
contoh: percikan listrik didekat gas anestesi atau oksigen konsentrasi tinggi. Salah satu
pencegahannya adalah dengan menggunakan alat listrik yang grounded yaitu bersifat
mentransmisi aliran listrik dari suatu objek langsung kepermukaan tanah.
6. Suara bising
Suara bising adalah bahaya yang dapat menyebabkan hilangnya fungsi pendengaran, tergantung
dari: tingkat kebisingan, frekuensi terpapar kebisingan, dan lamanya terpapar kebisingan serta
kerentanan individu. Suara diatas 120 desibel dapat menyebabkan nyeri dan gangguan
pendengaran walaupun klien hanya terpapar sebentar. Terpapar suara 85-95 desibel untuk
beberapa jam per hari dapat menyebabkan gangguan pendengaran yang progressive. Suara bising
dibawah 85 desibel biasanya tidak mengganggu pendengaran.

7. Radiasi
Cedera radiasi dapat terjadi akibat terpapar zat radioaktif yang berlebihan atau pengobatan
melalui radiasi yang merusak sel lain. Zat radioaktif digunakan dalam prosedur diagnoostik
seperti radiografi, fluoroscopy, dan pengobatan nuklir. Contoh isotop yang sering digunakan
adalah kalsium, iodine, fosfor.
8. Suffocation (asfiksia) atau Choking (tersedak)
Tersedak (suffocation atau asphyxiation) adalah keadaan kekurangan oksigen akibat gangguan
dalam bernafas. Suffocation bisa terjadi jika sumber udara terhambat/terhenti contoh pada klien
tenggelam atau kepalanya terbungkus plastik. Suffocation juga bisa disebabkan oleh adanya
benda asing di saluran nafas atas yang menghalangi udara masuk ke paru-paru. Jika klien tidak
segera ditolong bisa terjadi henti nafas dan henti jantung serta kematian.

9. Lain-lain
kecelakaan bisa juga disebabkan oleh alat-alat medis yang tidak berfungsi dengan baik
(equipment-related accidents) dan kesalahan prosedur yang tidak disengaja (procedure-related
equipment).

D. Pencegahan Kecelakaan di Rumah Sakit


a) Mengkaji tingkat kemampuan pasien untuk melindungi diri sendiri dari kecelakaan.
b) Menjaga keselamatan pasien yang gelisah selama berada di tempat tidur
a) Menjaga keselamatan klien dari infeksi dengan mempertahankan teknik aseptik, menggunakan
alat kesehatan sesuai tujuan.
b) Menjaga keselamatan klien yang dibawa dengan kursi roda
c) Menghindari kecelakaan :
Mengunci roda kereta dorong saat berhenti
Tempat tidur dalam keadaan rendah dan ada penghalang pada pasien yang gelisah
Bel berada pada tempat yang mudah dijangkau
Meja yang mudah dijangkau
Kereta dorong ada penghalangnya
d) Mencegah kecelakaan pada pasien yang menggunakan alat listrik misalnya suction, kipas
angin, dan lain-lain.
e) Mencegah kecelakaan pada klien yang menggunakan alat yang mudah meledak seperti tabung
oksigen dan termos.
f) Memasang lebel pada obat, botol, dan obat-obatan yang mudah terbakar
g) Melindungi semaksimal mungkin klien dari infeksi nosokomial seperti penempatan klien
terpisah antara infeksi dan non-infeksi
h) Mempertahankan ventilasi dan cahaya yang adekuat
i) Mencegah terjadinya kebakaran akibat pemasangan alat bantu penerangan
j) Mempertahankan kebersihan lantai ruangan dan kamar mandi
k) Menyiapkan alat pemadam kebakaran dalam keadaan siap pakai dan mampu
menggunakannya.
l) Mencegah kesalahan prosedur : identitas klien harus jelas.

E. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemanan dan keselamatan klien adalah


1. Faktor Fisiologis
Sistem pada tubuh manusia bekerja secara terkoordinasi dengan baik, apabila salah satu sistem
tidak bekerja maka hal tersebut akan mengancam keamanan seseorang. Misalnya orang akan
menarik tangannya jika menyentuh sesuatu benda yang terasa panas, dan sebagainya.
Sistem Muskoloskeletal
Kesatuan muskoloskeletal merupakan hal yang sangat esensial dalam pembentukan postur dan
pergerakan yang normal. Kerusakan yang terjadi pada mobilitas dan kemampuan untuk
merespon terhadap hal yang membahayakan, dan ini meningkatkan risiko terhadap injuri.
Masalah muskoloskeletal yang mengganggu keamanan dapat diakibatkan oleh keadaan seperti
fraktur, osteoporosis, atropi otot, artritis, atau strains dan sprains.
Sisetem Neurologis
Koordinasi yang baik dalam sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi akan menciptakan sistem
yang baik pada individu. Rangsangan yang diterima dari saraf tepi akan diteruskan ke sistem
saraf pusat melalui proses persepsi kognisi yang baik sehingga seseorang dapat memutuskan
dalam melakukan proses berfikir. Hal tersebut akan menciptakan seseorang mampu melakukan
orientasi dengan baik terhadap orang, tempat dan waktu sehingga orang akan merasa nyaman.
Gangguan neurologis yang dapat mengancam keamanan seperti cedera kepala,
medikasi/pengobatan, alkohol dan obat-obatan, stroke, injuri tulang belakang, penyakit
degeneratif (seperti Parkinson dan Alzaimer), dan tumor kepala.
Sistem Kardiorespirasi
Sistem kardiorespirasi yang baik memungkinkan tubuh untuk dapat beristirahat karena suplai O2
dan nutrisi untuk sel, jaringan dan organ tercukupi dengan baik. Adapun kondisi gangguan sistem
kardiovaskuler yang mengganggu keamanan adalah hipertensi, gagal jantung, kelainan jantung
bawaan, atau penyakit vaskuler bagian tepi. Penyakir respirasi atau pernafasan yang
mengganggu keamanan seperti kesulitan bernafas, wheezing, danm kelelahan yang diakibatkan
oleh tidak toleransi terhadap aktivitas, keterbatasan mobilitas.
Aktivitas dan Latihan
Kondisi aktivitas dan latihan tubuh bereaksi secara cepat pada kedaruratan. Keterbatasan dalam
aktivitas dan latihan akan mengganggu seseorang dalam mengenali hal yang mengancam dirinya
dari luar.
Kelelahan (Fatigue)
Fatigue akan mengakibatkan keterbatasan dalam persepsi terhadap bahaya, kesulitan mengambil
keputusan dan ketidakadekuatan dalam pemecahan masalah. Fatigue dapat diakibatkan karena
kurang tidur, gaya dan pola hidup, jam pekerjaan, stress, atau karena berbagai macam
pengobatan, yang dapat mengancam keamanan.

2. Faktor Toleransi tehadap stress dan Mekanisme Koping


Faktor seperti kecemasan dan depresi merupakan permasalahan yang akan mengganggu
keamanan seseorang, dimana seseorang akan kesulitan dalam mengekspresikan sesuatu. Contoh,
seseorang yang mengalami kecemasan mengenai prosedur operasi, maka seseorang tersebut akan
mengalami miskomunikasi tentang informasi apa yang akan dia lakukan setelah operasi sehingga
akan mengancam keamanan dia waktu pulang ke rumah sehingga akan muncul masalah
komplikasi setelah operasi.
Mekanisme koping seseorang tehadap stress berhubungan langsung dengan keamanan. Faktor
kepribadian seseorang memainkan peranan dalam keamanan. Menarik diri, pemalu dan
ketidakpercayaan berpengaruh pada peningkatan keamanan, sehingga seseorang perlu untuk
belajar kembali atau mereka akan mengalami masalah gangguan jiwa/mental.

3. Faktor Lingkungan
Rumah
Keamanan di rumah menyangkut tentang ventilasi, pencahayaan, pengaturan panas dan
sebagainya. Pengaturan perabot rumah tangga merupakan bagian penting dari keamanan di
dalam rumah. Penataan yang baik dari peralatan dapur, kursi, penempatan ruangan, tangga sangat
menentukan keselamatan dan keamanan seseorang. Penggunaan senjata tajam, rokok, lantai
rumah dari bahan kimia dan penyimpanan bahan kimia akan membantu dalam pencegahan baya
dalam rumah termasuk sumber listrik dan api.
Masalah utama yang dapat terjadi dalam rumah adalah adanya risiko adanya untuk jatuh.
Tempat kerja
Tempat kerja akan mengakibatkan gangguan keamanan dengan adanya risiko untuk terjadi injuri
pada seseorang. Bahaya yang dapat ditimbulkan dari jenis pekerjaan dan tempat seseorang
bekerja, baik secara fisik, mekanik, ataupun kimia. Dalam bekerja maka seseorang sangat
membutuhkan adanya suatu kondisi yang ergonomis, sehingga perlu adanya pendidikan tentang
kesehatan dan keselamatan kerja dalam mencegah terjadinya injuri atau kecelakaan kerja.
Komunitas
Seting tempat komunitas dapat mengakibatkan gangguan keamanan seperti kegaduhan,
kebisingan, pencahayaan yang kurang baik di tempat umum maupun pusat bermain. Sanitasi
lingkungan juga sangat berperan dalam peningkatan keamanan individu dalam komunitas.
Tempat pelayanan kesehatan
Pusat pelayanan kesehatan dapat mengganggu keamanan seseorang baik bagi petugas kesehatan
maupun pasiennya. Bahaya dapat ditimbulkan karena peralatan, kesalahan prosedur dan
sebagainya. Hal ini perlu adanya standar operasional prosedur yang baku dan diperbaharui di RS
sehingga kebutuhan akan keamanan dapat terpenuhi untuk semua yang ada dalam rumah sakit.
Temperatur
Perubahan suhu dan cuaca sangat berpengaruh terhadap keamanan seseorang. Perlu adanya
penyesuaian diri terhadap perubahan temperatur/suhu yang ada sehingga kebutuhan keamanan
seseorang dapat terpenuhi.
Polusi
Polutan yang bebas terdapat di lingkungan ataupun di udara bebas akan menggangu keamanan
seeorang. Bahan kimia dalam produk kimia yang terdapat baik di udara, air dan tanah akan
menganggu ekosistem yang ada.
Sumber listrik
Pengaturan sumber-sumber listrik yang ada di rumah ataupun dimanapun sanagt muttlak
diperlukan untuk mencegah terjadinya sengatan listrik ataupun kebakaran.
Radiasi
Radiasi yang ada akan mengakibatkan terjadinya mutasi gen ataupun kematian sel sehingga
mengakibatkan tubuh seseorang menjadi rentan sehingga keamanan seseorang dapat mengalami
masalah.
4. Faktor Penyakit
Penyakit sanagt mempengaruhi seseorang untuk mengalami masalah dalam pemenuhan
kebutuhan keamanan. Penyakit seperti HIV/AIDS, hepatitis merupakan penyakit yang dapat
menjadikan tubuh untuk mengalami penurunan yang drastis. Perlu adanya kewaspadaan yang
baik dalam pengenalan hal tersebut, termasuk tindakan pencegahan sehingga infeksi nosokomial
tidak terjadi atau dapat dicegah baik dalam seting RS, klinik ataupun keluarga.

5. Faktor Ketidakpengindahan tentang Keamanan


Hal ini berkaitan dengan kesadaran diri individu dalam pemenuhan kebutuhan keamanan.
Apabila standar prosedur telah dilakukan sesuai dengan kepatuhan yang ada maka keamanan
seseorang dapat tercipta.

F. Fungsi Sistem Saraf


1. menerima informasi dari dalam maupun luar melalui afferent sensory pathway (sensorik)
2. mengkomunikasikan informasi antara sistem saraf perifer dan sistem saraf pusat
3. mengolah informasi yang diterima baik di tingkat saraf (refleks) maupun di otak untuk
menentukan respon yang tepat dengan situasi yang di hadapi
4. menghantarkan informasi secara cepat melalui efferent pathway tadi (motorik) keorgan-organ
tubuh sebagai kontrol atau memodifikasi tindakan.

G. kebijakan rumah sakit terkait keselamatan pada pasien


keselamatan pasien juga dapat menurangi berdampaknya terhadap peningkatan biaya pelayanan,
dengan meningkatnya pasien rumah sakit, harapkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan
rumah sakit dapat meningkat utamanya di RS Haji Surabaya.
Pelaksanaan keselamatan pasien di rumah sakit ini agar terciptanya budaya keselamatan pasien
di rumah sakit dan meningkatkan akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat yang
tidak mampu.
saat ini ada lima isu penting yang terkait dengan keselamatan di rumah sakit. Yakni, keselamatan
pasien, keselamatan petugas kesehatan, keselamatan bangunan dan peralatan di rumah sakit yang
bisa berdampak terhadap keselamatan pasien dan petugas, keselamatan lingkungan yang
berdampak terhadap pencemaran lingkungan, serta keselamatan bisnis rumah sakit yang terkait
dengan kelangsungan hidup rumah sakit itu sendiri.
Kelima aspek keselamatan tersebut, menurut Sukamto, sangatlah penting untuk dilaksanakan.

E. PENGKAJIAN

Pengkajian klien dengan resiko injuri meliputi: pengkajian resiko (Risk assessment tools) dan
adanya bahaya dilingkungan klien (home hazards appraisal). Pengkajian Resiko

a) Jatuh
- Usia klien lebih dari 65 tahun
- Riwayat jatuh di rumah atau RS
- Mengalami gangguan penglihatan atau pendengaran
- Kesulitan berjalan atau gangguan mobilitas
- Menggunakan alat bantu (tongkat, kursi roda, dll)
- Penurunan status mental (disorientasi, penurunan daya ingat)
- Mendapatkan obat tertentu (sedatif, hypnotik, tranquilizers, analgesics, diuretics, or laxatives)
b) Riwayat kecelakaan
Beberapa orang memiliki kecenderungan mengalami kecelakaan berulang, oleh karena itu
riwayat sebelumnya perlu dikaji untuk memprediksi kemungkinan kecelakaan itu terulang
kembali
c) Keracunan
Beberapa anak dan orang tua sangat beresiko tinggi terhadap keracunan. Pengkajian meliputi
seluruh aspek pengetahuan keluarga tentang resiko bahaya keracunan dan upaya pencegahannya.

d) Kebakaran
Beberapa penyebab kebakaran dirumah perlu ditanyakan tentang sejauh mana klien
mengantisipasi resiko terjadi kebakaran, termasuk pengetahuan klien dan keluarga tentang upaya
proteksi dari bahaya kecelakaan akibat api.

Pengkajian Bahaya

Meliputi mengkaji keadaan: lantai, peralatan rumah tangga, kamar mandi, dapur, kamar tidur,
pelindung kebakaran, zat-zat berbahaya, listrik, dll apakah dalam keadaan aman atau dapat
mengakibatkan kecelakaan.

Pengkajian Keamanan (spesifik pada lansia di rumah)

Gangguan keamanan berupa jatuh di rumah pada lansia memiliki insidensi yang cukup tinggi,
banyak diantara lansia tersebut yang akhirnya cedera berat bahkan meninggal. Bahaya yang
menyebabkan jatuh cenderung mudah dilihat tetapi sulit untuk diperbaiki, oleh karena itu
diperlukan pengkajian yang spesifik tentang keadaan rumah yang terstuktur. Contoh pengkajian
checklist pencegahan jatuh pada lansia yang dikeluarkan oleh Departemen kesehatan dan
pelayanan masyarakat Amerika.

F. DIAGNOSA

Diagnosa umum sering muncul pada kasus keamanan fisik menurut NANDA adalah
Resiko tinggi terjadinya cedera (High risk for injury). Seorang klien dikatakan mengalami
masalah keperawatan resiko tinggi terjadinya cidera bila kondisi lingkungan dan adaptasi atau
pertahanan seseorang beresiko menimbulkan cedera.

Diagnosa umum tersebut memiliki tujuh subkatagori yang memungkinkan perawat menjelaskan
cedera secara lebih spesifik dan atau untuk memberikan intervensi yang tepat (Wilkinson, 2000):

Resiko terjadinya keracunan: adanya resiko terjadinya kecelakaan akivat terpapar, atau
tertelannya obat atau zat berbahaya dalam dosis yang dapat menyebabkan keracunan.
Resiko terjadinya sufokasi: adanya resiko kecelakaan yang menyebabkan tidak adekuatnya
udara untuk proses bernafas.
Resiko terjadinya trauma: adanya resiko yang menyebabkan cedera pada jaringan (ms. Luka,
luka bakar, atau fraktur).
Respon alergi lateks: respon alergi terhadap produk yang terbuat dari lateks.
Resiko respon alergi lateks: kondisi beresiko terhadap respon alergi terhadap produk yang
terbuat dari lateks.
Resiko terjadinya aspirasi: klien beresiko akan masuknya sekresi gastrointestinal, sekresi
orofaringeal, benda padat atau cairan kedalam saluran pernafasan.
Resiko terjadinya sindrom disuse (gejala yang tidak diinginkan): klien beresiko terhadap
kerusakan sistem tubuh akibat inaktifitas sistem muskuloskeletal yang direncanakan atau tidak
dapat dihindari.

Contoh kasus:
Tn. ED, 70 tahun tinggal seorang diri dirumahnya. Klien memiliki riwayat glaukoma sehingga
klien harus menggunakan obat tetes mata dua kali sehari. Klien mengatakan sulit memfokuskan
penglihatan, kehilangan penglihatan sebelah, dan tidak bisa melihat dalam gelap.

Diagnosa yang muncul adalah:


Resiko tinggi cedera: jatuh berhubungan dengan penurunan sensori (tidak mampu melihat)
G. PERENCANAAN
Secara umum rencana asuhan keperawatan harus mencakup dua aspek yaitu: Pendidikan
kesehatan tentang tindakan pencegahan dan memodifikasi lingkungan agar lebih aman.

Contoh rencana asuhan keperawatan: (sesuai kasus pada bagian E)


Diagnosa: Resiko tinggi cedera: jatuh berhubungan dengan penurunan sensori (tidak mampu
melihat)
Tujuan: Klien memperlihatkan upaya menghindari cedera (jatuh) atau cidera (jatuh) tidak terjadi
Kriteria hasil: Setelah dilakukan tindakan keperawatan berupa modifikasi lingkungan dan
pendidikan kesehatan dalam 1 hari kunjungan diharapkan Klien mampu:
1. Mengidentifikasi bahaya lingkungan yang dapat meningkatkan kemungkinan cidera
2. Mengidentifikasi tindakan preventif atas bahaya tertentu,
3. Melaporkan penggunaan cara yang tepat dalam melindungi diri dari cidera.

Intervensi:
1. Kaji ulang adanya faktor-faktor resiko jatuh pada klien.
2. Tulis dan laporkan adanya faktor-faktor resiko
3. Lakukan modifikasi lingkungan agar lebih aman (memasang pinggiran tempat tidur, dll)
sesuai hasil pengkajian bahaya jatuh pada poin 1
4. Monitor klien secara berkala terutama 3 hari pertama kunjungan rumah
5. Ajarkan klien tentang upaya pencegahan cidera (menggunakan pencahayaan yang baik,
memasang penghalang tempat tidur, menempatkan benda berbahaya ditempat yang aman)
6.Kolaborasi dengan dokter untuk penatalaksanaan glaukoma dan gangguan penglihatannya,
serta pekerja sosial untuk pemantauan secara berkala.

Secara umum kriteria hasil paling penting pada kasus resiko tinggi cidera adalah membantu klien
untuk mengidentifikasi bahaya, dan mampu melakukan tindakan menjaga keamanan. Kriteria
hasil yang lebih spesifik diantaranya Klien mampu: mengidentifikasi bahaya lingkungan yang
dapat meningkatkan kemungkinan cidera, mengidentifikasi tindakan preventif atas bahaya
tertentu, melaporkan penggunaan cara yang tepat dalam melindungi diri dari cidera.

H. IMPLEMENTASI
Implementasi berikut bersifat spesifik untuk beberapa bahaya tertentu (tidak berhubungan
dengan kasus):

1. Meningkatkan keamanan sepanjang hayat manusia


Memastikan keamanan klien pada semua usia berfokus pada: obsevasi atau prediksi situasi yang
mungkin membahayakan sehingga dapat dihindari dan memberikan pendidikan kesehatan yang
memberikan kekuatan bagi klien untuk menjaga dirinya dan keluarganya dari cedera secara
mandiri. Aspek pendidikan kesehatan yang lebih spesifik sesuai rentang usia klien dapat anda
lihat pada Kozier, 2004: 674-675.
2. Mempertahankan kondisi aman dari api dan kebakaran
Upaya pencegahan yang bisa dilakukan perawat adalah memastikan bahwa ketiga elemen
tersebut dapat dihilangkan. Jika kebakaran sudah terjadi ada dua tujuan yang harus dicapai yaitu:
melindungi klien dari cedera dan membatasi serta memadakan api.

Di pusat pelayanan kesehatan


Upaya pencegahan: Memastikan nomor telpon darurat ada disemua pesawat, Mengatur situasi
sehingga alat-alat atau benda-benda yang tidak perlu tidak berada di lorong jalan, Menempatkan
prosedur evakuasi dan penanganan kebakaran disemua tempat, Mengorientasikan seluruh
karyawan tentang jenis-jenis kebakaran dan penanganannya.
Jika kebakaran terjadi: Mengevakuasi klien kearea yang aman, aktifkan alarm, jika api kecil
lakukan pemadaman dengan alat pemadam yang ada, tutup pintu dan jendela jika perlu ketahui
derajat kebakaran untuk menentukan jenis pemadam yang tepat.
3. Mencegah terjadinya jatuh pada klien
- Orientasikan klien pada saat masuk rumah sakit dan jelaskan sistem komunikasi yang ada
- Hati-hati saat mengkaji klien dengan keterbatasan gerak
- Supervisi ketat pada awal klien dirawat terutama malam hari
- Anjurkan klien menggunakan bel bila membutuhkan bantuan
- Berikan alas kaki yang tidak licin
- Berikan pencahayaan yang adekuat
- Pasang pengaman tempat tidur terutama pada klien dengan penurunan kesadaran dan gangguan
mobilitas
- Jaga lantai kamar mandi agar tidak licin
- Lengkapnya bisa dilihat pada Kozier, 2004:679
4. Melakukan tindakan pengamanan pada klien kejang:
- Pasang pengaman tempat tidur dengan dilapisi kain tebal (mencegah nyeri saat terbentur)
- Pasang spatel lidah untuk mencegah terhambatnya aliran udara
- Longgarkan baju dan ikatan leher (kerah baju)
- Kolaborasi pemberian obat antikonvulsi.
- Berikan masker oksigen jika diperlukan
5. Memberikan pertolongan bila terjadi keracunan
Perawat dapat memberikan pendidikan kesehatan pada masyarakat bila terjadi keracunan melalui
identifikasi adanya zat-zat beracun dirumah yang terkonsumsi, segera laporkan ke institusi
kesehatan terdekat serta menyebutkan nama dan gejala yang dialami klien, jaga klien pada posisi
tenang ke satu sisi atau dengan kepala ditempatkan diantara kedua kaki untuk mencegah aspirasi.

6. Memberikan pertolongan bagi klien yang terkena sengatan listrik


Jika seseorang terkena macroshock (sengatan listrik yang cukup besar) jangan sentuh klien
tersebut sampai pusat listrik dimatikan dan klien aman dari arus listrik. Macroshock sangat
berbahaya karena dapat menyebabkan luka bakar, kontraksi otot, dan henti nafas serta henti
jantung. Untuk mencegah macroshock gunakan mesin/alat listrik yang berfungsi dengan baik,
pakai sepatu dengan alas karet, berdirilah diatas lantai nonkonduktif, dan gunakan sarung tangan
non konduktif.
7. Melakukan penanganan bagi klien yang terpapar kebisingan
Kebisingan memiliki efek psikososial dan efek fisiologis. Efek psikososial seperti rasa jengkel,
tidur dan istirahat terganggu, serta gangguan konsentrasi dan pola komunikasi. Efek fisiologis
meliputi peningkatan nadi dan respirasi, peningkatan aktifitas otot, mual, dan kehilangan
pendengaran jika intensitas suara tepat. Kebisingan dapat diminimalisir dengan memasang
genting, dinding, dan lantai yang kedap suara; memasang gorden; memasang karpet; atau
memutar background music.
8. Melakukan Heimlich maneuver pada klien yang mengalami tersedak.

9. Melakukan perlindungan terhadap radiasi


Tingkat bahaya radiasi tergantung dari: lamanya, kedekatan dengan sumber radioaktif, dan
pelindung yang digunakan selama terpapar radiasi. Upaya yang harus dilakukan oleh perawat
dalam hal ini adalah memakai baju khusus, memakai sarung tangan, mencuci tangan sebelum
dan sesudah memakai sarung tangan, dan membuang semua benda yang terkontaminasi.
10. Melakukan pemasangan restrain pada klien
Restrain adalah alat atau tindakan pelindung untuk membatasi gerakan/aktifitas fisik klien atau
bagian tubuh klien. Restrain diklasifikasikan menjadi fisikal(physical) dan kemikal(chemical)
restrain. Fisikal restrain adalah restrain dengan metode manual atau alat bantu mekanik, atau lat-
alat yang dipasang pada tubuh klien sehingga klien tidak dapat bergerak dengan mudah dan
terbatas gerakannya. Kemikal restrain adalah restrain dalam bentuk zat kimia neuroleptics,
anxioulytics, sedatif, dan psikotropika yang digunakan untuk mengontrol tingkahlaku sosial yang
merusak.
Restrain sebaiknya dihindari sebab berbagai komplikasi sering dikeluhkan akibat pemasangan
restrain. Komplikasi fisik diantaranya luka tekan, retensi urin, inkontinensia, dan sulit BAB,
bahkan kematian pun dilaporkan. Komplikasi psikologisnya adalah penurunan harga diri,
bingung, pelupa, depresi, takut, dan marah. Restrain hendaknya digunakan sebagai alternatif
terakhir. Bila dilakukan maka haruslah (a) dibawah pengawasan dokter dengan perintah tertulis,
apa penyebabnya, dan untuk berapa lama (b) klien setuju dengan tindakan tersebut.
Implikasi legal pemasangan restrain
Untuk melindungi klien dan mencegah masalah legal, perawat perlu mengikuti aturan berikut:
1. Perhatikan panduan tiap-tiap restrain yang akan digunakan
2. Gunakan restrain hanya bila dibutuhkan untuk kesehatan dan keselamatan klien
3. Jika dilakukan pemasangan restrain, dokumentasikan: penyebab, tipe, informed consent yang
diberikan, respon klien, waktu pemasangan dan pelepasan, asuhan keperawatan yang diberikan,
tanda-tangan dokter dan perawat
4. Lakukan evaluasi secara periodik
Memilih restrain
Dalam memilih restrain perlu memenuhi lima kriteria berikut:
1. Membatasi gerak klien sesedikit mungkin
2. Paling masuk akal/bisa diterima oleh klien dan keluarga
3. Tidak mempengaruhi proses perawatan klien
4. Mudah dilepas/diganti
5. Aman untuk klien
Macam-macam restrain
1. limb restraints (restrain pergelangan tangan), elbow restraints (khusus untuk
daerah sikut)
2. mummy restraints (pada bayi), crib nets (box bayi dengan penghalang)
3. Jacket restraints (jaket),
4. belt restraints (sabuk),
5. mitt or hand restraints (restrain tangan),

III. EVALUASI
Melalui data yang dikumpulkan selama pemberian asuhan keperawatan perawat dapat menilai
apakah tujuan asuhan telah tercapai. Jika belum tercapai maka perawat perlu melakukan
eksplorasi penyebabnya. Diantaranya perawat dapat menanyakan beberapa hal berikut pada
klien:
- Sudahkan anda melakukan semua tindakan pencegahan?
- Tindakan pencegahan apa yang klien tahu?
- Apakah klien menyetujui semua tindakan pencegahan yang diajarkan?
- Sudahkah perawat menulis dan mengimplementasikan rencana pendidikan kesehatan pada
klien?

INFEKSI
Infeksi adalah proses invasif oleh mikroorganisme dan berpoliferasi di dalam tubuh yang
menyebabkan sakit (Potter & Perry, 2005).
Infeksi adalah invasi tubuh oleh mikroorganisme dan berproliferasi dalam jaringan tubuh.
(Kozier, et al, 1995). Dalam Kamus Keperawatan disebutkan bahwa infeksi adalah invasi dan
multiplikasi mikroorganisme dalam jaringan tubuh, khususnya yang menimbulkan cedera seluler
setempat akibat metabolisme kompetitif, toksin, replikasi intraseluler atau reaksi antigen-
antibodi. Munculnya infeksi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan dalam rantai
infeksi. Adanya patogen tidak berarti bahwa infeksi akan terjadi.
Penyebab Infeksi
Penyebab infeksi dibagi menjadi 4 kategori, yaitu:
Bakteri
Bakteri merupakan penyebab terbanyak dari infeksi. Ratusan spesies bakteri dapat menyebabkan
penyakit pada tubuh manusia dan dapat hidup didalamnya, bakteri bisa masuk melalui udara, air,
tanah, makanan, cairan dan jaringan tubuh dan benda mati lainnya.
Virus
Virus terutama berisi asam nukleat (nucleic acid), karenanya harus masuk dalam sel hidup untuk
diproduksi.
Fungi
Fungi terdiri dari ragi dan jamur

Parasit
Parasit hidup dalam organisme hidup lain, termasuk kelompok parasit adalah protozoa, cacing
dan arthropoda.
Tipe Infeksi
Kolonisasi merupakan suatu proses dimana benih mikroorganisme menjadi flora yang
menetap/flora residen. Mikroorganisme bisa tumbuh dan berkembang biak tetapi tidak dapat
menimbulkan penyakit. Infeksi terjadi ketika mikroorganisme yang menetap tadi sukses
menginvasi/menyerang bagian tubuh host/manusia yang sistem pertahanannya tidak efektif dan
pathogen menyebabkan kerusakan jaringan.
1. Infeksi lokal : spesifik dan terbatas pada bagain tubuh dimana mikroorganisme tinggal.
2. Infeksi sistemik : terjadi bila mikroorganisme menyebar ke bagian tubuh yang lain dan
menimbulkan kerusakan.
Bakterimia : terjadi ketika dalam darah ditemukan adanya bakteri
Septikemia : multiplikasi bakteri dalam darah sebagai hasil dari infeksi sistemik
Infeksi akut : infeksi yang muncul dalam waktu singkat
Infeksi kronik : infeksi yang terjadi secara lambat dalam periode yang lama (dalam hitungan
bulan sampai tahun)

Tahap-tahap Infeksi
Proses terjadinya infeksi seperti rantai yang saling terkait antar berbagai
faktor yang mempengaruhi, yaitu agen infeksi, reservoir, portal of
exit, cara penularan, portal of entry dan host/ pejamu yang rentan.
Agen Infeksi
Host/ Pejamu
Portal de Entry
Cara Penularan
Portal de Exit
Reservoir

AGEN INFEKSI
Microorganisme yang termasuk dalam agen infeksi antara lain bakteri, virus, jamur dan protozoa.
Mikroorganisme di kulit bisa merupakan flora transient maupun resident. Organisme transient
normalnya ada dan jumlahnya stabil, organisme ini bisa hidup dan berbiak di kulit. Organisme
transien melekat pada kulit saat seseorang kontak dengan obyek atau orang lain dalam aktivitas
normal. Organisme ini siap ditularkan, kecuali dihilangkan dengan cuci tangan. Organisme
residen tidak dengan mudah bisa dihilangkan melalui cuci tangan dengan sabun dan deterjen
biasa kecuali bila gosokan dilakukan dengan seksama. Mikroorganisme dapat menyebabkan
infeksi tergantung pada: jumlah microorganisme, virulensi (kemampuan menyebabkan penyakit),
kemampuan untuk masuk dan bertahan hidup dalam host serta kerentanan dari host/penjamu.

RESERVOAR (sumber mikroorganisme)


Reservoar adalah tempat dimana mikroorganisme patogen dapat hidup baik berkembang biak
atau tidak. Yang bisa berperan sebagai reservoir adalah manusia, binatang, makanan, air,
serangga dan benda lain. Kebanyakan reservoir adalah tubuh manusia, misalnya di kulit, mukosa,
cairan maupun drainase. Adanya microorganisme patogen dalam tubuh tidak selalu
menyebabkan penyakit pada hostnya. Sehingga reservoir yang di dalamnya terdapat
mikroorganisme patogen bisa menyebabkan orang lain menjadi
sakit (carier). Kuman akan hidup dan berkembang biak dalam reservoar jika karakteristik
reservoarnya cocok dengan kuman. Karakteristik tersebut yaitu oksigen, air, suhu, pH, dan
pencahayaan.
PORTAL OF EXIT (jalan keluar)
Mikroorganisme yang hidup di dalam reservoir harus menemukan jalan keluar (portal of exit
untuk masuk ke dalam host dan menyebabkan infeksi. Sebelum menimbulkan infeksi,
mikroorganisme harus keluar terlebih dahulu dari reservoarnya. Jika reservoarnya manusia,
kuman dapat keluar melalui saluran pernapasan, pencernaan, perkemihan, genitalia, kulit dan
membrane mukosa yang rusak serta darah.
Metode Penyebaran
Kuman dapat menular atau berpindah ke orang lain dengan berbagai cara seperti kontak
langsung dengan penderita melalui oral, fekal, kulit atau darahnya;kontak tidak langsung melalui
jarum atau balutan bekas luka penderita; peralatan yang terkontaminasi; makanan yang diolah
tidak tepat; melalui vektor nyamuk atau lalat.

PORTAL MASUK
Sebelum seseorang terinfeksi, mikroorganisme harus masuk dalam tubuh. Kulit merupakan
barier pelindung tubuh terhadap masuknya kuman infeksius. Rusaknya kulit atau ketidakutuhan
kulit dapat menjadi portal masuk. Mikroba dapat masuk ke dalam tubuh melalui rute atau jalan
yang sama dengan portal keluar. Faktor-faktor yang menurunkan daya tahan tubuh memperbesar
kesempatan patogen masuk ke dalam tubuh.
DAYA TAHAN HOSPES (MANUSIA)
Seseorang terkena infeksi bergantung pada kerentanan terhadap agen infeksius.Kerentangan
bergantung pada derajat ketahanan tubuh individu terhadap patogen. Meskipun seseorang secara
konstan kontak dengan mikroorganisme dalam jumlah yang besar, infeksi tidak akan terjadi
sampai individu rentan terhadap kekuatan dan jumlah mikroorganisme tersebut. Beberapa
faktor yang mempengaruhi kerentanan tubuh terhadap kuman yaitu usia,keturunan,stress (fisik
dan emosional),status nutrisi, terapi medis,pemberian obat dan penyakit penyerta.

Proses Infeksi
Infeksi terjadi secara progresif dan beratnya infeksi pada klien tergantung dari tingkat infeksi,
patogenesitas mikroorganisme dan kerentanan penjamu. Dengan proses perawatan yang tepat,
maka akan meminimalisir penyebaran dan meminimalkan penyakit. Perkembangan infeksi
mempengaruhi tingkat asuhan keperawatan yang diberikan.
Efek dan gejala nyata yang berhubungan dengan kelainan pertahanan hospes bervariasi
berdasarkan pada sistem imun yang rusak. Ciri-ciri umum yang berkaitan dengan hospes yang
melemah adalah: infeksi berulang, infeksi kronik, ruam kulit, diare, kerusakan pertumbuhan dan
meningkatnya kerentanan terhadap kanker tertentu.
Secara umum proses infeksi adalahsebagai berikut:
Periode inkubasi
Interval antara masuknya patogen ke dalam tubuh dan munculnya gejala pertama.Contoh: flu 1-3
hari, campak 2-3 minggu, mumps/gondongan 18 hari
Tahap prodromal
Interval dari awitan tanda dan gejala nonspesifik (malaise, demam ringan,keletihan) sampai
gejala yang spesifik. Selama masa ini, mikroorganisme tumbuh dan berkembang biak dan klien
lebih mampu menyebarkan penyakit ke orang lain.
Tahap sakit
Klien memanifestasikan tanda dan gejala yang spesifik terhadap jenis infeksi.
Contoh: demam dimanifestasikan dengan sakit tenggorokan, mumps dimanifestasikan dengan
sakit telinga, demam tinggi, pembengkakan kelenjar parotid dan saliva.

TRANSMISI KUMAN
Transmisi kuman merupakan proses masuknya kuman kedalam tubuh manusia yang dapat
menimbulkan radang atau penyakit.
Beberapa unsur yang melibatkan proses transmisi kuman, yaitu:
Reservoir = habitat bagi pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme, dapat berupa
manusia, hewan, tumbuhan, maupun tanah.
Jalan masuk = jalan masuknya mikroorganisme ketempat penampungan dari berbagai kuman,
seperti saluran pernapasan, pencernaan, kulit dan lain- lain.
Inang (host) = tempat berkembangnya suatu mikroorganisme, yang dapat didukung oleh
ketahanan kuman.
Jalan keluar = tempat keluar mikroorganisme dari reservoir, seperti system pernapasan, system
pencernaan, alat kelamin, dan lain- lain.
Jalur penyebaran = jalur yang dapat menyebarkan berbagai kuman mikroorganisme ke
berbagai tempat, seperti air, makanan, udarah dan lain- lain.

CARA PENULARAN MIKROORGANISME
Beberapa cara penularan / penyebaran mikroorganisme kedalam tubuh :
Kontak tubuh = kuman masuk kedalam tubuh melalui proses penyebaran secara langsung,
maupun tidak langsung. Misalnya secara langsung sentuhan dengan kulit, sedangkan secara tidak
langsung melalui benda- benda yang berkontaminasi.
Makan dan minuman = hal ini terjadi akibat dari kontaminasi misalnya, penyakit tifus
abdominalis, penyakit infeksi cacing dan lainnya.
Serangga = misalnya penyebaran penyakit malaria oleh plasmodium pada nyamuk Anopheles
dan beberapa penyakit saluran pencernaan yang dapat ditularkan melalui lalat.
Udarah = penyebaran kuman ini sering kali dijumpai pada penyakit system pernapasan.

FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES INFEKSI :
a. sumber penyakit,
b. kuman penyebab,
c. cara membebaskan sumber dari kuman,
d. cara penularan,
e. cara masuknya kuman,
f. daya tahan tubuh.

INFEKSI NASOKOMIAL

Infeksi nasokomial adalah infeksi yang terjadi di RS atau dalam sistem pelayanan kesehatanyang
berasal dari proses penyebaran di sumber pelayanan kes.,baik melalui pasien, petugas kes.,
pengunjung maupun sumber lain.

Infeksi Nasokomial dapat terjadi pada


Penderita
Tenaga kesehatan dan
Setiap orang yang datang di RS

Manifestasi penyakit dapat juga terjadi di:


Rumah sakit
Di luar rumah sakit

Sumber infeksi nosokomial dapat bersifat


Endogen
berasal dari penderita sendiri yang membawa dari luar RS
Autogen
di dapat di RS
Eksogen
berasal dari luar RS

Revew rantai proses infeksi


Rantai proses infeksi adalah rangkai proses masuknya kuman kedalam tubuh mc, diantaranya:
a. Reservoir, merupakan habitat pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme, dapat berupa
mc, binatang, tumbuhan, maupun tanah.
b. Port de entre, merupakan jalan masuknya mikroorganisme ketempat penampungan dari
berbagai kuman, seperti saluran pernafasan, pencernaan, kulit, dsb.
c. Inang (host), merupakan tempat keluarnya mikroorganisme yang dapat didikung oleh
ketahanan kuman
d. Jalan keluar, merupakan tempat keluarnya mikroorganisme dari reservoir, seprti sistem
pernafasan,sistem pencernaan, alat kelamin, dsb.
e. Jalur penyebaran, merupakan jalur yang dapat menyebarkan berbagai kuman mikroorganisme
keberbagai tempat, seperti air, makanan, udara,dsb

faktor- faktor yang mempengaruhi terjadinya IN


a. Agen penyakit
macam-macam agen penyakit dapat berupa kuman,virus,jamur, dan parasit.
b. Reservoir/sumber
semua kuman ada reservoirnya, seperti virus reservoirnya mc.
c. Linkungan
keadaan udara sangat mempengaruhi. Seperti kelembaban udara, suhu dan pergerakan udara atau
tekanan udara.
c. Cara penularan
ada TIGA jalan yang dapat ditempuh yaitu:
-kontak langsung
-alat
-udara

Cara penularan mikroorganisme


Proses penyebaran mikroorganisme kedalam tubuh, baik kepada mc maupun hewan dapat
melalui berbagai cara, diantaranya:
a. Makanan dan minuman
b. SeranggaKontak tubuh
e. Hospes
tergantung Port de Entre atau tempat masuknya kuman penyakit
Melalui kulit seperti leptospira, staphylococcus
Melalui traktus digestivus seperti Escheria Coli,Shingella,Salmonella.

Beberapa sumber penyebab terjadinya IN adalah:


1. Pasien
pasien merupakan unsur pertama yang dapat menyebabkan infeksi pada pasien lainnya, petugas
kes., pengunjung, atau benda dan alat kes.
2. Petugas kesehatan
Petugas kes. Dapat menyebabkan infeksi melalui kontak langsung, dapat menularkan berbagai
kuman ketempat lain.
3. Pengunjung
pengunjung dapat menyebabkan, infeksi yang didapat dari luar ke dalam lingkungan RS.
4. Sumber lain
sumber lain yang dimaksud adalah lingkungan RS meliputi kebersihan RS, alat yang ada di RS
yang di bawah oleh pengunjung atau petugas kesehatan pada pasien dan sebaliknya.

Pencegahan IN
beberapa tindakan pencegahan IN yang dapat di lakukan yaitu:
1. Mengurangi jumlah atau menghilangkan bakteri yang berada di ruang, alat, personil RS.
2. Isolasai sumber infeksi (pasien yang menderita) maupun yang mempunyai resiko tinggi yang
sifatnya proteksi misalnya: pasien pasca operasi, penderita leukimia dll.

IN yang sering terjadi


Infeksi saluran kemih
Infeksi luka operasi
Infeksi luka bakar
Endometritis post partum

Daerah di RS yang rentang INF


Unit pelayanan khemoterapi
Laboratorium
Ruang perawatan, intensif, bayi, geriatari
Pelayanan bedah
Unit pelayanan gigi dan bedah

Tingginya resiko IN pada unit rawat intensif di pengarihi oleh:


Penyakit yang berat
Penggunaan antibiotik
Prosedur invasif
Jarak dekat penderita terhadap sumber penyakit

Sumber sumber infeksi nosokomial :


Pasien = unsur pertama yang dapat menyabarkan infeksi kepasien lainnya, petugas kesehatan,
pengunjung, atau benda dan alat lainnya.
Petugas kesehatan = menyebarkan infeksi melalui kontak langsung yang dapat menularkan
berbagai kuman ketempat lain.
Pengunjung = menyebarkan infeksi yang didapat dari luar kedalam lingkungan rumah sakit
atau sebaliknya.
Sumber lain = penyebaran yang meliputi lingkungan umum yang berada di sekitar rumah sakit
yang mencakup semuanya.

PENCEGAHAN INFEKSI
Tindakan pencegahan infeksi :
a. aseptik = tindakan yang dilakukan dalam pelayanan kesehatan. Usaha ini dilakukan untuk
mencegah masuknya mikroorganisme kedalam tubuh yang kemungkinan besar akan
mengakibatkan infeksi.
b. Antiseptik = upaya pencegahan infeksi dengan cara pembunuhan atau menghambat
pertumbuhan mikroorganisme pada kulit dan jaringan tubuh lainnya.
c. Dekontraminasi = tindakan yang dilakukan agar benda mati dapat ditangani oleh petugas
kesehatan secara aman, terutama petugas pembersihan medis sebelum pencucian dilakukan.
d. Pencucian = tindakan menghilangkan semua darah, cairan tubuh, atau setiap benda asing
seperti debu dan kotoran.
e. Desinfeksi = tindakan kepada benda mati denganmenghilangkan tindakan pada benda mati
dengan menghilangkan sebagian besar (tidak semua) mikroorganisme penyebab penyakit.
f. Sterilisasi = tindakan untuk menghilangkan semua mikroorganisme (mbakteri, jamur, parasit,
dan virus) termasuk bakteri endospora.
Pedoman pencegahan infeksi
Beberapa upaya yang dilakukan untuk menghalang penyebaran infeksi :
Pencucian tangan
Penggunaan sarung tangan (kedua tangan), baik pada saat melakukan tindakan, maupun saat
memegang benda- benda yang terkontaminasi (alat kesehatan/ kain tenunan bekas pakai).
Penggunaan cairan antiseptik untuk membersihkan luka pada kulit.
Pemrosesan alat bekas pakai (dekonyaminasi, cuci dan bilas, serta desinfeksi tingkat tinggi atau
sterilisasi).
Pembuangan sampah

Mencuci tangan
Mencuci kedua tangan merupakan prossedur awal yang dilakukan petugas kesehatan dalam
memberikan tindakan. Hal tersebut bertujuan untuk membersihkan tangan dari segala kotoran,
mencegah terjadinya infeksi silang melalui tangan, dan persiapan beda atau tindakan
pembedahan.
o Beberapa tehnik mencuci tangan :
- Tehnik mencuci biasa
- Tehnik mencuci dengan desinfeksi
- Tehnik mencuci steril

PERLINDUNGAN DIRI
Menggunakan sarung tangan. Sarugn tangan digunakan dalam melakukan posedur tindakan,
dengan tujuan mencegah terjadinya penularan kuman dan mengurangi resiko teretuarnya
penyakit.
Menggunakan masker. Tindakan pengamanan yang menutup hidung dan mulut dengan
menggunakan masker, bertujuan untuk mencegah atau mengurangi transmisi droplet
mikroorganisme saat merawat pasien.

STERILISASI DAN DESINFEKSI


Sterilisasi merupakan upaya pembunuhan atau penghancuran semua bentuk kehidupan
mikroba yang dilakukan di rumah sakit melalui proses fisik maupun kimiawi. Sterilisasi juga
dikatakan sebagai tindakan untuk membunuh kuman patogen atau apatogen beserta spora yang
terdapat pada alat perawatan atau kedokteran dengan cara merebus, stoom, panas tinggi, atau
bahan kimia. Jenis jenis sterilisasi antara lain :
o Sterilisasi cepat
o Sterilisasi panas kering
o Sterilisasi gas (formalin, H2O2)
Desinfeksi adalah proses pembuangan semua mikroorganisme patogen pada ojek yang tidak
hidup dengan pengecualian terhadap endospora bakteri. Cara desinfeksi :
Cara desinfeksi dengan mencuci
Cara desinfeksi dengan merendam
Cara desinfeksi dengan menjemur
Cara membuat larutan desinfeksi (sabun)
Cara membuat larutan desinfeksi (lisol dan kreolin)
Cara membuat larutan desinfeksi (savion)

PENANGANAN SAMPAH
Sampah merupakan suatu bahan yang berasal dari kegiatan manusia dan sudah tidak dipakai atau
suda dibuang oleh manusia.
Sampah dibagi atas 2 menurut karakteristiknya :
Kandungan zat/ kimia. Berdasarkan kandungan zatnya, sampah terdiri atas sampah anorganik
dan sampah oraganik. Sampah anorganik merupakan sampah tidak membusuk, misalnya : logam,
pecahan gelas, plastik, dan lainnya. Sedangkan sampah organik merupakan sampah yang dapat
busuk, seperti sisa makanan.
Dapat dan tidaknya terbakar. Sampah ini tebagi atas dua yaitu : sampah mudah terbakar
misalnya, kertas, karet, plastik dan lainnya. Sedangkan sampah tidak dapat terbakar seperti,
kaleng bekas, logam atau besi, kaca, dan lainnya.

PENGELOLAAN SAMPAH
Pengumpulan dan pengangkuan sampah
Pada tahap ini, sampah dikumpulkan berdasarkan kelompoknya, seperti sampah basah sendiri,
sampah kering sendiri, dan sampah benda tajam tersendiri, dan selanjutnya dilakukan
pengangkutan.
Pemusnahan dan pengelolaan sampah.
Pada tahap ini, samapah dimusnakan atau dikelolah dengan cara sebagai berikut : ditanam
( dengan memasukkan / menimbun dalam tanah) dan dibakar (dengan melakukan pembakaran
melalui tungku pembakaran). Sampah tersebut kemudian dijadikan pupuk, biasanya jenis sampah
ini sampah organik, seperti sisa makanan yang dapat membusuk.

PROSEDUR PEMBERIAAN OBAT

PENTINGNYA PEMBERIAN OBAT


Obat merupakan sebuah substansi yang diberikan kepada manusia atau binatang sebagai
perawatan,pengobatan,atau bahkan pencegahan terhadap berbagai gangguan yang terjadi didalam
tubuh.
Farmakologi menjadi penting karena mempelajari tentang efek dari obat,sehingga diharapkan
mampu mengevaluasi efek pengobatan.Pda aspek obat,ada beberapa istilah yang penting kita
ketahui diantaranya:nama generik merupakan nama pertama dari pabrik yang sudah
mendapatkan lisensi salah satu publikasi yang resmi,nama kimiawi merupakan nama yang
berasal dari susunan zat kimianya seperti acetylsalicylic acid atau Aspirin,kemudian nama
dagang (trade mark) merupakan nama yang keluar sesuai dengan perusahaan atau pabrik dalam
menggunakan symbol seperti ecortin,bufferin,empirin,analgesic,dan lain-lain.

STANDAR OBAT
Obat yang digunakan sebaiknya memenuhi berbagai standar persyaratan obat,di antaranya
kemurnian,yaitu suatu keadaan yang dimiliki obat karena unsure keasliannya,tidak ada
percampuran,dan standar potensi yang baik.Selain kemurnian,obat juga harus memiliki
biovailabilitas berupa keseimbangan obat,keamanan, dan efektivitas.Standar-standar tersebut
harus dimiliki obat agar menghasilkan efek yang baik akan obat itu sendiri.

REAKSI OBAT
Sebagai bahan atau benda asing yang masuk kedalam tubuh,obat akan bekerja sesuai dengan
proses kimiawi melalui suatu reaksi obat.Reaksi obat dapat dihitung dalam satuan waktu
paruh,yakni suatu interval waktu yang diperlukan dalam tubuh untuk proses eliminasi,sehingga
terjadi pengurangan konsentrasi setengah dari kadar puncak obat dalam tubuh.

Faktor Yang Memengaruhi Reaksi Obat

Beberapa factor yang dapat memengaruhi reaksi pengobatan diantarranya absorpsi obat,distribusi
obat dalam tubuh,metabolisme (biotranformasi) obat dan ekskresi.

1. Absorpsi obat
Absorpsi obat merupakan proses pergerakan obat dari sumber kedalam tubuh melalui aliran
darah kecuali dari jenis topical.Hal ini dipengaruhi oleh cara dan jalur pemberian obat,jenis
obat,keadaan tempat,makanan dan keadaan pasien.

2. Distribusi obat kedalam tubuh


Setelah obat diabsopsi,kemudian obat didistribusikan ke dalam darah melalui vascular dan
system limfatis menuju sel dan masuk kedalam jaringan tertentu.Proses ini dapat dipengaruhi
oleh keseimbangan cairan,elektrolik,dan keadaan patologis.

3. Metabolisme obat
Setelah melalui sirkulasi,obat akan mengalami proses metabolisme.Obat akan ikut sirkulasi ke
dalam jaringan,kemudian berinteraksi dengan sel dan melakukan sebuah perubahan zat kimia
hingga menjadi lebih efektif.Obat yang tidak bereaksi akan diekskresikan.
4. Ekskresi sisa
Setelah obat mengalami metabolisme atau pemecahan,akan terdapat sisa zat yang tidak dapat
dipakai.Sisa zat ini tidak bereaksi kemudian keluar melalui ginjal dalam bentuk urine,dari
intestinal dalam bentuk feses,dan dari paru-paru dalam bentuk udara.

Obat memiliki dua efek yakni efek terapeutik dan efek samping.Efek terapeutik obat memiliki
kesesuaian terhadap efek yang diharapkan sesuai kandungan obatnya seperti paliatif (berefek
untuk mengurangi gejala),kuratif (memiliki efek pengobatan);suportif(berefek untuk menaikkan
fungsi atau respons tubuh),subtitutif (berefek sebagai pengganti,efek kemoterapi (berefek untuk
mematikan atau menghambat),dan restotatif
(berefek pada memulihkan fungsi tubuh yang sehat ).Efek samping merupakan dampak yang
tidak diharapkan,tidak bisa diramal,dan bahkan kemungkinan dapat membahayakan seperti
adanya alergi,toksisitas (keracunan),penyakit iatrogenik,kegagalan dalam pengobatan dan lain-
lain.

PERSIAPAN PEMBERIAN OBAT


Sebelum memberikan obat kepada pasien,ada beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan
untuk menjamin keamanan dalam pemberian obat,diantaranya:
1. Tepat obat
Sebelum mempersiapkan obat ke tempatnya petugas medis harus memerhatikan kebenaran obat
sebanyak tiga kali,yakni:ketika memindahkan obat dari tempat penyimpanan obat,saat obat
diprogramkan,dan saat mengembalikan obat ketempat penyimpanan.
2. Tepat dosis
Untuk menghindari kesalahan dalam pemberian obat,maka penentuan dosis harus diperhatikan
dengan menggunakan alat standar seperti obat cair harus di lengkapi alat tetes,gelas ukur,spuit
atau sendok khusus ;alat untuk membelah tablet;dan lain-lain.Dengan demikian,penghitungan
dosis benar untuk dibarikan ke pasien.
3. Tepat pasien
Obat yang akan diberikan hendaknya benar pada pasien yang diprogramkan.Hal ini dilakukan
dengan mengidentifikasi identitas kebenaran obat yaitu mencocokkan nama,nomor
register,alamat,dan program pengobatan pada pasie.
4. Tepat jalur pemberian
Kesalahan rute pemberian dapat menimbulkan efek sistemik yang fatal pada pasien.Untuk
itu,cara pemberiannya adalah dengan melihat cara pemberian/jalur obat pada label yang ada
sebelum memberikannya ke pasien.
5. Tepat waktu
Pemberian obat harus benar-benar sesuai dengan waktu yang diprogramkan,karena berhubungan
dengan kerja obat yang dapat menimbulkan efek terapi dari obat.

PENGHITUNGAN DOSIS OBAT

Dosis pada Bayi dan Anak Balita


Pemberian dosis obat pada bayi dan balita sering kali menimbulkan perbedaan,mengingat anak
masih dalam tahap prises pertumbuhan dan perkembangan.Khususnya untuk anak yang lahir
prematur,akan sangat kesulitan dalam penetapan dosis obat mengingat organ belum berfungsi
dengan sempurna seperti fungsi ginjal,susunan saraf pusat atau lainnya sehingga proses
absorpsi,distribusi,metabolisme,dan ekskresiobat akan terganggu atau tidak maksimal.Terdapat
perbedaan penentuan pemberian dosis obat pada anak.Banyak para ahli yang membedakan,tetapi
pada prinsipnya,penentuan dosis dapat disimpulkan oleh dua standar,yakni berdasarkan luas
permukaan tubuh dan berat badan.

Berikut ini ada rumus penghitungan dosis obat untuk anak antara lain:
1. Young

n
Da= Dd (mg) tidak untuk anak >12 tahun
n + 12

Keterangan:n= umur anak dalam tahun

2.Dilling

n
Da= + (mg)
20

3. Gaubius

1
Da= +Dd (mg) (untuk anak sampai umur 1 tahun)
12
1
Da= + Dd(mg) (untuk anak 1 2 tahun)
8
1
Da= + Dd(mg) (untuk anak 2-3 tahun)
6
1
Da= + Dd(mg) (untuk anak 3-4 tahun )
4
1
Da= + Dd (mg) (untuk anak 4-7 yahun)
3

4. Fried
m
Da= Dd (mg)
150

Keterangan: m=umur anak dalam bulan


5. Sagel

(13w + 15)
Da= +Dd (mg) (umur 0-20 minggu)
100

(8w + 7)
Da= + Dd (mg) (umur 20-52 minggu)
100

(3w + 12)
Da= + Dd (mg) 9umur 1-9 minggu)
100

6.Clark
w anak
Da= Dd (mg)
w dewasa
Keterangan :w = berat badan / kg

7. Berdasarkan area permukaan tubuh.

Area permukaan tubuh anak


Dosis anak = x Dosis dewasa normal1,7 m

Penghitungan denagn rumus ketika menentukan dosis tidak semuanya tepat dalam menentukan
kerja dan efek dari obat tersebut.Cara yang lebih tepat adalah dengan menentukan berdasarkan
ukuran fisik atau waktu paruh dari jenis obat yang akan diberikan.
Dalam penerapan penghitungan dosis,khususnya ketika mempersiapkan obat dalam bentuk
padat,cara penghitungan yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:

Dosis yang diprogramkan


x Jumlah yang tersedia = jumlah yang diberikan
Dosis yang tersedia

TEKNIK PEMBERIAN OBAT


Pemberian obat kepada pasien dapat dilakukan melalui beberapa cara diantaranya: oral,
parenteral, rectal, vaginal, kulit, mata, telinga, dan hidung.Pemberian dilakukan dengan
menggunakan prinsip lima tepat yakni tepat nama pasien, tepat nama obat, tepat dosis obat, tepat
cara pemberian,dan tepat waktu pemberian.
Pemberian Obat Melalui Oral
Pemberian obat melalui mulut dilakukan dengan tujuan mencegah,mengobati, dan mengurangi
rasa sakit sesuai dengan efek terapi dari jenis obat.

Pemberian Obat Melalui Jaringan Intrakuta.


Memberikan atau memasukkan obat kedalam jaringan kulit dilakukan sebagai tes reaksi alergi
terhadap jenis obat yang akan digunakan.Pemberian obat melalui jaringan intrakutan ini
dilakukan dibawah dermis atau epidermis.Secara umum,dilakukan pada daerah lengan,tangan
bagian ventral.

Pemberian Obat Melalui Jaringan Subkutan


Pemberian obat melalui suntikan dibawah kulit dapat dilakukan pada daerah lengan atas sebelah
luar atau 1/3 bagin dari bahu,paha sebelah luar,daerah dada, dan daerah sekitar umbilicus
(abdomen).Umumnya,pemberian obat melalui jaringan subkutan ini dilakukan dalam program
pemberian insulin yang digunakan untuk mengontrol kadar gula darah.Terdapat dua tipe larutan
insulin yang diberikan, yaitu jernih dan keruh.Larutan jernih dimaksudkan sebagai insulin tipe
reaksi cepat (insulin regular).Larutan yang keruh termasuk tipe lambat karena adanya
penambahan protein sehingga memperlambat absorpsi obat.

Pemberian Obat Melalui Intravena (secara langsung)


Memberikan obat melalui vena secara langsuns, diantaranya vena mediana cubitus/cephalika
(daerah lengan),Vena saphenous (tungkai),vena jugularis (leher),vena frontalis/temporalis
didaerah frontalis dan temporal dari kepala.Tujuannya agar reaksi berlangsung cepat dan
langsung masuk pada pembuluh darah.

Pemberian Obat Melalui Wadah Intravena (secara tidak langsung )


Memberikan obat intravena melalui wadah merupakan pemberian obat dengan menambahkan
atau memasukkan obat kedalam wadah cairan intravena.Tujuannya untuk meminimalkan efek
samping dan mempertahankan kadar terapeutik dalam darah.

Pembarian Obat Melalui Selang Intravena

Pemberian Obat Melalui Intramuskular


Memberikan obat melalui intramuscular merupakan pemberian obat dengan memasukkannya
kedalam jaringan otot.Lokasi penyuntikan dapat dilakukan di dorsogluteal (posisi tengkurap),
ventrogluteal (posisi berbaring), vastus lateralis ( daerah paha), atau deltoid (lengan
atas).Tujuannya agar absorpsi obat dapat lebih cepat.

Pemberian Obat Melalui Rektum


Memberikan obat melalui rektun merupakan pemberian obat dengan memasukkan obat melalui
anus dan kemudian rectum,dengan tujuan memberikan efek local dan sistemik.Tindakan
pengobatan ini disebut pemberian obat supositoria yang bertujuan untuk mendapatkan efek terapi
obat, menjadikan lunak pada daerah feses, dan merangsang buang air besar.
Pemberian obat yang memiliki efek local,seperti obat Dulcolac Supositoria, berfungsi untuk
meningkatkan defekasi secara local. Pemberian obat dengan efek sistemik, seperti obat
Aminofilin Supositoria, berfungsi mendilatasi bronchus.Pemberian obat Supositoria ini
diberiakan tepat pada dinding rectal yang melewati sphincter ani interna.Kontraindikasi pada
pasien yang mengalami pembedahan rectal.

Pemberian Obat Per Vagina


Pemberian obat melalui vagina merupakan tindakan memasukkan obat melalui vagina,yang
bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat dan mengobati saluran vagina atau serviks.Obat
ini tersedia dalam bentuk krim dan Supositoria yang digunakan untuk mengobati infeksi local.

Pemberian Obat Pada Kulit


Memberikan obat pada kulit merupakan pemberian obat dengan mengoleskannya di kulit yang
bertujuan mempertahankan hidrasi, melindungi permukaan kulit, mengurangi iritasi kulit,atau
mengtasi infeksi. Jenis obat kulit yang diberikan dapat bermacam-macam seperti krim,, losion,
aerosol, dan spray.

Pemberian Obat Pada Mata


Pemberian obat pada mata dengan obat tetes mata atau salep mata digunakan untuk persiapan
pemeriksaan struktur internal mata dengan medilatasi kupil, pengukuran refraksi lensa dengan
melemahkan otot lensa, serta penghilangan iritasi mata.

Pemberian Obat Pada Telinga


Memberiakn obat pada telingan dilakukan dengan obat tetes telinga atau salep. Pada
umumnya,obat tetes telinga yang dapat berupa obat antibiotic diberikan pada gangguan infeksi
telinga, khususnya otitis media pada telinga tengah.

Pemberian Obat Pada Hidung


Memberikan obat tetes hidung dapat dilakukan pada hidung seseorang dengan keradangan
hidung (rhinitis) atau nasofaring.

MANAJEMEN NYERI

Ada beberapa cara untuk mengatasi nyeri yang dapat dilaksanakan oleh petugas
kesehatan,diantaranya:

1. Mengurangi factor yang dapat menambah nyeri misalnya ketidakpercayaan, kesalapahaman,


ketakutan, kelelahan, dan kebosanan.
a. Ketidakpercayaan
Pengakuan akan rasa nyeri yang di derita pasien dapat mengurangi nyeri.
b. Kesalapahaman
Mengurangi kesalahpahaman pasien tentang nyerinya akan membantu mengurangi nyeri
c. ketakutan
memberikan informasi yang tepat dapat membantu mengurangi ketakutan pasien dengan
menganjurkan pasien untuk mengekspresikan bagaimana mereka menangani nyeri.
d. kelelahan
kelelahan dapat memperberat nyeri. Untuk mengatasinya, kembangkan pola aktifitas yang dapat
memberikan istirahat yang cukup.
e. kebosanan
kebosanan dapat meningkatkan rasa nyeri. Untuk mengurangi nyeri, dapat digunakan prengalih
perhatian yang bersifat terapeutik.
2. Memodifikasi stimulus nyeri dengan menggunakn teknik-teknik seperti:
Teknik latihan pengalihan:
a. televise
b. beerbincang-bincang dengan orang lain
c. mendengarkan musik

teknik relaksasi:
a. menganjurkan pasien untuk menarik napas dalam dan mengisi paru-paru dengan udara;
menghembuskannya secara perlahan; melemaskan otot- otot tangan, kaki, perut, dan punggung;
serta mengulangi hal yang sama sambil terus berkonsentrasi hingga pasien merasa nyaman,
tenang dan rileks.

Stimulus kulit:
a. menggosok dengan halus pada daerah nyeri.
b. Menggosok punggung
c. Menggunakan air hangat dan dingin
d. Memijat dengan air mengalir

3. pemberian obat analgesik


Pemberian obat analgesik di lakukan guna mengganggu atau memblok transmisi stimulus nyeri
agar terjadi perubahan persepsi dengan cara mengurangi kortikal terhadap nyeri.Jenis
Analgesiknya adalah Narkotika dan bukan Narkotika.Jenis Narkotika digunakan untuk
menurunkan tekanan darah dan menimbulkan depresi pada fungsi vital, seperti respirasi. Jenis
bukan narkotik yang paling banyak dikenal di masyarakat adalah Aspirin, Asetaminofen, dan
bahan antiinflamasi nonsteroid.
4. pemberian stimulator listrik, yaitu dengan memblok atau mengubah stimulus nyeri dengan
stimulus yang kurang dirasakan. Bentuk stimulator metode stimulus listrik meliputi:
a. transcutaneus electrical nerve stimulato (TENS), yang digunakan untuk mengendalikan
stimulus manual daerah nyeri tertentu dengan menempatkan beberapa electrode diluar.
b. percutaneus implanted spinal cord epidural stimulator merupakan alat stimulator yang
diimplan dibawah kulit dengan transistor timah penerima pada daerah epidural colomnna
vertebrae.
c. stimulator columna vertebrae, sebuah stimulator dengan stimulus alat penerima transistor yang
dicangkok melalui kantong kulit intraklavicula atau abdomen,yakni elektroda yang ditanam
dengan cara bedah pada dorsum sum sum tulang belakang.

Terapi Kompres Hangat


Merupakan tindakan dengan memberikan kompres hangat untuk memenuhi kebutuhan rasa
nyaman, mengurangi atau membebaskan nyeri, mengurangi atau mencegah terjadinya spasme
otot, dan memberikan rasa hangat.

Terapi Kompres Dingin


Merupakan tindakan dengan menberikan kompres dingin untuk memenuhi kebutuhan rasa
nyama, menurunkan suhu tubuh, mengurangi rasa nyeri, mencegah edema dan mengontrol
peredaran darah dengan meningkatkan vasokonstriksi.