Anda di halaman 1dari 5

1.

SELISIH KOMPOSISI BAHAN BAKU DAN SELISIH HASIL (MATERIALS MIX


AND YIELD VARIANCE)

Bahan baku yang dipakai dalam perusahaan seringkali terdiri atas berbagai macam jenis dan
mutu. Dalam perusahaan-perusahaan tertentu, sering kali terdapat kemungkinan untuk mengubah
komposisi bahan baku yang dipakai dengan tujuan untuk merendahkan biaya, dengan mutu dan
kuantitas hasil produk yang tetap memuaskan. Penurunan biaya juga dapat dilakukan dengan
perbaikan hasil bahan baku yang dipakai. Daalm perusahaan semacam ini, manajemen
memerlukan analisis selisih komposisi dan hasil bahan baku.

a. Selisih Komposisi Bahan Baku

Jika spesifikasi bahan baku menurut standar telah ditentukan dan komposisi jenis bahan baku
yang digunakan dalam proses produksi telah ditetapkan, maka bila terjadi penyimpangan antara
komposisi standar dengan komposisi sesungguhnya bahan yang dipakai, penyimpangan ini
disebut selisih komposisi. Dalam perusahaan tertentu, seperti perusahaan tekstil, karet dan
perusahaan kimia, yang produknya harus memenuhi mutu fisik dan kimia tertentu, terdapat
kemungkinan untuk menggunakan berbagai kombinasi bahan baku yang berbeda, dengan hasil
produk yang tetap memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan. Dalam banyak hal komposisi
bahan baku yang baru akan diikuti dengan timbulnya selisih hasil yang menguntungkan atau
merugikan.

b. Selisih Hasil

Hasil dapat didefinisikan sebagai jumlah produk utama yang dihasilkan dari pengolahan
sejumlah bahan baku tertentu. Jika untuk menghasilkan 10 satuan produk dibutuhkan 20 kg
bahan baku, maka persentase hasil dalam hal ini adalah 50% (10/20 x 100%). Jika persentase
hassil sesungguhnya menyimpang dari standar, maka penyimpangan ini disebut selisih hasil

GAMBAR 1

1. Penghitungan Selisih Komposisi Bahan


GAMBAR 2
2. Penghitungan Selisih Bahan Baku
Untuk menghasilkan 5 satuan produk selesai dibutuhkan 10 kg bahan baku (X dan
Y) atau persentasse hasilnya sebesar 50%. Jadi kalau jumlah bahan baku X dan Y yang
diolah dalam periode akuntansi tersebut sebanyak 9.000 kg, menurut persentase hasil
standar harus menghasilkan 50% x 9.000 = 4.500 unit produk selesai. Padahal hasil
sesungguhnya berjumlah 4.550 satuan, sehingga selisih hasil (dalam unit) sebesar 50
satuan. Perhitungan selisih hasil bahan baku dapat diringkas sebagai berikut :
Hasil sesungguhnya 4.550 satuan
Hasil menurut standar 50% x 9.000 satuan 4.500
Selisih hasil (dalam kuantitas) 50 satuan
Selisih hasil dalam rupiah 50 x Rp 34 Rp 1.700
Karena setiap 5 satuan produk membutuhkan biaya bahan baku Rp 170, maka biaya
bahan yang terkandung salam setiap 1 satuan produk selesaai adalah sebesar Rp 34 (Rp
170/5). Jadi selisih hasil dalam rupiah adalah 50 x Rp 34 = Rp 1.700 (laba).
Karena harga pokok produk selesai tidak hanya terdiri dari biaya bahan baku,
tetapi juga meliputi biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik, maka
timbulnya selisih hasil tidak saja menyebabkan terjadinya selisih hasil bahan baku,
namun juga menimbulkan selisih hasil upah dan selisih hasil biaya overhead pabrik.
Kedua selisih hasil yang terakhir ini dihitung dengan cara mengalikan selisih hasil dalam
satuan dengaan biaya tenaga kerja langsung atau biaya overhead pabrik standar yang
terkandung dalam setiap satuan produk selesai.
Misalkan dari contoh tersebut untuk menghasilkan 5 satuan produk dibutuhnab biaya
tenaga kerja standar Rp 150 dan biaya overhead pabrik standar Rp 200 maka selisih hasil
dapat dhitung sebagai berikut :
3. Selisih Hasil Biaya Tenaga Kerja
Hasil sesungguhnya x biaya tenaga kerja standar per satuan produk
(4.550 x Rp 30) = Rp 136.500
Hasil standar x biaya tenaga kerja standar per satuan produk
(4.500 x Rp 30) = Rp 135.000
Selisih hasil biaya tenaga kerja = Rp 1.500 L
4. Selisih Hsil Overhead Pabrik
Hasil sesungguhnya x biaya overhead pabrik per satuan produk
(4.550 x Rp 40) = Rp 182.000
Hasil standar x biaya overhead pabrik per satuan produk
(4.500 x Rp 40) = Rp 180.000
Selisih hasil overhead pabrik = Rp 2.000 L
A. Pencatatan Selisih Komponen Bahan Baku dan Selisih Hasil
Perbedaan antara selisih komposisi dan selisih hasil bahan baku merupakan selisih
pemakaian bahan. Dala contoh yang telah dikemukakan, selisih pemakaian bahan sebesar
Rp 700 (Rp 1.700-Rp 1.000) sama dengan :
Selisih hasil bahan baku Rp 1.700 L
Selisih komposisi bahan baku 1.000 R
Rp 700 L
Selisih komposisi bahan baku dicatat pada saat bahan baku dipakai dalam
produksi. Dalam hal ini rekening Barang dalam Proses didebit sebesar hasil kali kuantitas
sesungguhnya bahan baku yang dipakai menurut komposisi standar dengan harga standar
bahan baku per satuan dan rekening Persediaan Bahan Baku dikredit sebesar hasil kali
kuantitas sesungguhnya bahan baku yang dipakai menurut komposisi sesunggunya
dengan harga standar bahan baku per satuan. Selisih pendebitan rekening Barang dalam
Proses dengan pengkreditan rekening Persediaan Bahan Baku tersebut dicatat dalam
rekening Selisih Komposisi Bahan Baku.
Dari contoh yang telah dikemukakan pencatatn Selisih Komposisi Bahan Baku adalah
sebagai berikut :
Barang dalam Proses Biaya Bahan Baku Rp 153.000
Selisih Komposisi Bahan Baku 1.000
Persediaan Bahan Baku Rp 154.000
Untuk mencatat seisih hasil bahan baku, rekening Barang dalam Proses dengan hasil
produk sesuai dengan persentase hasil standar kali biaya bahan baku per satuan prosuk
selesai, sedangkan rekening Persediaan Produk Jadi didebit dengan hasil produk selesai
sesungguhnta kali Biaya Bahan Baku per satuan produk selesai, Dari contoh di atas,
jurnal pencatatan Selisih Hasil Bahan adalah sebagai beerikut :
Persediaan Produk Jadi Rp 154.700 *)
Selisih Hasil Bahan Baku Rp 1.700

Barang dalam Proses Biaya Bahan Baku Rp 153.000 **)

Catatan :
*) 4.550 satuan x Rp 34 = Rp 154.700
**) 5.400 satuan x Rp 15 = Rp 81.000
3.600 satuan x Rp 20 = Rp 72.000
Rp 153.000
Begitu pula pencatatan selisih hasil biaya tenaga kerja dan selisih hasil overhead pabrik
adalah sebagai berikut :
Untuk mencatat selisih hasil upah dibuat jurnal sebagai berikut ini :
Produk Jadi Rp 136.500
Selisih Hasil Biaya Tenaga Kerja Rp 1.500
Barang dalam Proses Biaya Tenaga Kerja Rp 135.000
Untuk mencatat selisih hasil biaya overhead pabrik
Persediaan Produk Jadi Rp 182.000
Selisih Hasil Overhead Pabrik Rp 2.000
Barang dalam Proses Biaya Overhead Pabrik Rp 180.000
2. PERLAKUAN TERHADAP SELISIH
Selisih yang terjadi dapat diperlakukan dengan cara :

a. Ditutup ke rekening Rugi Laga


b. Dipakai untuk menyesuaikan rekening-rekening Harga Pokok Penjualan, Persediaan
Produk Jadi dan Persediaan Barang dalam Proses.

Perlakuan terhadap selisih yang terjadi tergantung pada :

1. Jenis selisih biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik.
2. Besarnya selisih
Jika jumlah selisih reatif kecil, disajikan langsung dalam laporan rugi laba, sedangkan
jika jumlahnya relative besar, diperlakukan sebagai adjustment terhadap persediaan dan
harga pokok penjualan.
3. Pengalaman penggunaan biaya standar
4. Sebab-sebab terjadinya selisih (misalnya : apakah selidih terjadi karena kesalahan dalam
penentuan standar).
5. Waktu terjadinya selisih (misalnya: apakah selisih yang terjadi merupakan selisih yang
tidak biasa, yang sidebabkan karena fluktuasi musim)

Selisih Ditutup ke Rekening Rugi Laba

Selisih Dibagikan ke Rekening-Rekening Persediaan dan Harga Pokok Penjualan

3. PERBAIKAN TERHADAP STANDAR

Standar baru diubah hanya apabila kondisi yang mendasari penentuannya telah mengalami
perubahan. Mengenai kapan standar harus diubah, ada dua pendapat. Pendapat yang pertama
mengatakan bahwa standar harus diubah dalam eriode akuntansi, yaitu segera setelah diketahui
bahwa standar tersebut keliru ditetapkan.

Pendapat yang kedua mengatakan bahwa jika standar diperbaiki dalam akuntansi, perubahan
tersebut akan menghancurkan standar sebagai alat pengukur efisien, Oleh karena itu meskipun
standar yang ditetapkan telah mengalami kekeliruan, perbaikan standar harus ditunda sampai
akhir periode akuntansi.

Jalan tengah yang diambil dalam pertentangan dua pendapat tersebut adlaah ditinjau dari segi
praktisnya, apabila terjadi perubahn yang penting dalam metode produksi, tenaga kerja atau
bahan baku yang dipakai baik kuantitas maupun kualitasnya, maka standar harus segera diubah,
Baik standar harga bahan maupun standar tarif upah harus diubah bila terjadi perubahan yang
penting pada harga pasar bahan baku dan tariff upah. Setiap system harga pokok standar harus
ditinjau secara periodic sehingga bias dilakukan perbaikan jika standar tersebut ternyata keliru
atau menjadi ketinggalan terhadap metode produksi. Bagian akuntansi biaya harus selalu
mengadakan penyesuaian dan perbaikan biaya standar agar supaya standar tersebut tidak
menyesatjan manajemen, Perubahan hendaknya ditetapkan pada standar tertentu tanpa
mengganggu system harga pokok standar secara keseluruhan.