Anda di halaman 1dari 17

RADANG DAN PROSES PENYEMBUHAN LUKA

LUKA DAN PERAWATANNYA

A. Pengertian
Luka adalah suatu gangguan dari kondisi normal pada kulit ( Taylor, 1997). Luka adalah
kerusakan kontinyuitas kulit, mukosa membran dan tulang atau organ tubuh lain

(Kozier, 1995). Ketika luka timbul, beberapa efek akan muncul :

1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ

2. Respon stres simpatis

3. Perdarahan dan pembekuan darah

4. Kontaminasi bakteri

5. Kematian sel

B. Jenis-Jenis Luka

Luka sering digambarkan berdasarkan bagaimana cara mendapatkan luka itu dan

menunjukkan derajat luka (Taylor, 1997).

1. Berdasarkan tingkat kontaminasi

a. Clean Wounds (Luka bersih), yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana tidak terjadi

proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem pernafasan, pencernaan, genital dan
urinari tidak terjadi. Luka bersih biasanya menghasilkan luka yang tertutup; jika diperlukan
dimasukkan drainase tertutup (misal; Jackson Pratt). Kemungkinan terjadinya infeksi luka
sekitar 1% - 5%.

b. Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi), merupakan luka

pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau perkemihan dalam

kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi, kemungkinan timbulnya infeksi

luka adalah 3% - 11%.

c. Contamined Wounds (Luka terkontaminasi), termasuk luka terbuka, fresh, luka

1
2

akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik aseptik atau

kontaminasi dari saluran cerna; pada kategori ini juga termasuk insisi akut, inflamasi

nonpurulen. Kemungkinan infeksi luka 10% - 17%.

d. Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi), yaitu terdapatnya

mikroorganisme pada luka.

2. Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka

a. Stadium I : Luka Superfisial (Non-Blanching Erithema) : yaitu luka yang terjadi

pada lapisan epidermis kulit.

b. Stadium II : Luka Partial Thickness : yaitu hilangnya lapisan kulit pada lapisan

epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka superficial dan adanya tanda

klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang dangkal.

c. Stadium III : Luka Full Thickness : yaitu hilangnya kulit keseluruhan meliputi

kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah tetapi

tidak melewati jaringan yang mendasarinya. Lukanya sampai pada lapisan

epidermis, dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot. Luka timbul secara klinis

sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya.

d. Stadium IV : Luka Full Thickness yang telah mencapai lapisan otot, tendon dan

tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas.

3. Berdasarkan waktu penyembuhan luka

a. Luka akut : yaitu luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep

penyembuhan yang telah disepakati.

Gambat luka akut

b. Luka kronis yaitu luka yang mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan,

dapat karena faktor eksogen dan endogen.


3

Gambat luka kronis

C. Mekanisme terjadinya luka :

1. Luka insisi (Incised wounds), terjadi karena teriris oleh instrumen yang tajam. Misal

yang terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptik) biasanya tertutup oleh sutura

seterah seluruh pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi)

2. Luka memar (Contusion Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan

dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak.

3. Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang

biasanya dengan benda yang tidak tajam.

4. Luka tusuk (Punctured Wound), terjadi akibat adanya benda, seperti peluru atau pisau

yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil.

5. Luka gores (Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh kaca atau

oleh kawat.

6. Luka tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ tubuh biasanya

pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung biasanya

lukanya akan melebar.

7. Luka Bakar (Combustio)

Radang merupakan respons biologis kompleks jaringan vaskular pada rangsangan


berbahaya, seperti patogen, sel rusak, atau iritasi. Peradangan adalah upaya perlindungan
organisme untuk menghilangkan rangsangan berbahaya serta memulai proses penyembuhan
jaringan. Peradangan bukan sinonim untuk infeksi. Bahkan dalam kasus di mana peradangan
disebabkan oleh infeksi, keduanya tidak sama: infeksi disebabkan oleh patogen eksogen,
sementara peradangan adalah respon organism pada patogen. Tanda-tanda radang (Cardinal
symptom), meliputi:
Kemerahan (Rubor)
Bengkak (Tumor)
Panas (Calor)
4

Rasa sakit (Dolor)


Terganggunya fungsi organ (Fungsio laesa).
Radang dapat dibagi menjadi 2, yaitu radang akut dan radang kronis.
Radang akut
Respon terhadap gangguan sifatnya cepat dan langsung
Radang terjadi selama 2-3 hari
Gejala lain :
Demam
Pulsus meningkat
Peningkatan jumlah sel darah putih dalam sirkulasi terutama polymorphonuclear
Radang kronis
merupakan proses lanjut dari radang akut (>48 jam) atau sejak awal berlangsung kronis
karena jejas ringan tapi persisten, Sedangkan pada rongga mulut itu sendiri seringkali
ditemukan inflamasi dalam keadaan kronis, karena mulut adalah port dentry dari
makanan. Sehingga pada saat terjadi luka di rongga mulut sering terjadi iritasi mekanik
yang berulang ulang
Hitungan minggu-bulan
Perubahan jaringan mengarah ke ireversibel
Sel mayoritas mononuclear, bersama-sama proliferasi fibroblast

2.2.1 Proses penyembuhan luka


Penyembuhan luka adalah suatu kualitas dari kehidupan jaringan hal ini juga berhubungan
dengan regenerasi jaringan. Ada beberapa prinsip dalam penyembuhan luka menurut Taylor
(1997) yaitu:
(1)Kemampuan tubuh untuk menangani trauma jaringan dipengaruhi oleh luasnya
kerusakan dan keadaan umum kesehatan tiap orang,
(2) Respon tubuh pada luka lebih efektif jika nutrisi yang tepat tetap dijaga,
(3) Respon tubuh secara sistemik pada trauma,
(4) Aliran darah ke dan dari jaringan yang luka,
(5) Keutuhan kulit dan mukosa membran disiapkan sebagai garis pertama untuk
mempertahankan diri dari mikroorganisme, dan
5

(6) Penyembuhan normal ditingkatkan ketika luka bebas dari benda asing tubuh termasuk
bakteri.
Fase penyembuhan luka digambarkan seperti yang terjadi pada luka pembedahan
(Kozier,1995).
Menurut Kozier, 1995
a. Fase Inflamatori
Fase ini terjadi segera setelah luka dan berakhir 3 4 hari. Dua proses utama terjadi pada
fase ini yaitu hemostasis dan pagositosis. Hemostasis (penghentian perdarahan) akibat fase
konstriksi pembuluh darah besar di daerah luka, retraksi pembuluh darah, endapan fibrin
(menghubungkan jaringan) dan pembentukan bekuan darah di daerah luka. Bekuan darah
dibentuk oleh platelet yang menyiapkan matrik fibrin yang menjadi kerangka bagi pengambilan
sel. Scab (keropeng) juga dibentuk dipermukaan luka. Bekuan dan jaringan mati, scab membantu
hemostasis dan mencegah kontaminasi luka oleh mikroorganisme. Dibawah scab epithelial sel
berpindah dari luka ke tepi. Epitelial sel membantu sebagai barier antara tubuh dengan
lingkungan dan mencegah masuknya mikroorganisme

Gambar 2.3.1.4.1 fase inflamatori pada penyembuhan luka


Fase inflamatori juga memerlukan pembuluh darah dan respon seluler digunakan untuk
mengangkat benda-benda asing dan jaringan mati. Suplai darah yang meningkat ke jaringan
membawa bahan-bahan dan nutrisi yang diperlukan pada proses penyembuhan. Pada akhirnya
daerah luka tampak merah dan sedikit bengkak. Selama sel berpindah lekosit (terutama
neutropil) berpindah ke daerah interstitial. Tempat ini ditempati oleh makrofag yang keluar dari
monosit selama lebih kurang 24 jam setelah cidera/luka. Makrofag ini menelan mikroorganisme
dan sel debris melalui proses yang disebut pagositosis. Makrofag juga mengeluarkan faktor
angiogenesis (AGF) yang merangsang pembentukan ujung epitel diakhir pembuluh darah.
6

Makrofag dan AGF bersama-sama mempercepat proses penyembuhan. Respon inflamatori ini
sangat penting bagi proses penyembuhan.
b. Fase Proliferatif
Fase kedua ini berlangsung dari hari ke-3 atau 4 sampai hari ke-21 setelah pembedahan.
Fibroblast (menghubungkan sel-sel jaringan) yang berpindah ke daerah luka mulai 24 jam
pertama setelah pembedahan. Diawali dengan mensintesis kolagen dan substansi dasar yang
disebut proteoglikan kira-kira 5 hari setelah terjadi luka. Kolagen adalah substansi protein yang
menambah tegangan permukaan dari luka. Jumlah kolagen yang meningkat menambah kekuatan
permukaan luka sehingga kecil kemungkinan luka terbuka. Selama waktu itu sebuah lapisan
penyembuhan nampak dibawah garis irisan luka.

Gambar 2.3.1.4.2 terbentuknya jaringan granulasi pada fase proliferatif

Kapilarisasi tumbuh melintasi luka, meningkatkan aliran darah yang memberikan oksigen
dan nutrisi yang diperlukan bagi penyembuhan. Fibroblast berpindah dari pembuluh darah ke
luka membawa fibrin. Seiring perkembangan kapilarisasi jaringan perlahan berwarna merah.
Jaringan ini disebut granulasi jaringan yang lunak dan mudah pecah.
c. Fase maturasi/ remodeling
Fase maturasi dimulai hari ke-21 dan berakhir 1-2 tahun setelah pembedahan. Fibroblast
terus mensintesis kolagen. Kolagen menjalin dirinya, menyatukan dalam struktur yang lebih
kuat. Bekas luka menjadi kecil, kehilangan elastisitas dan meninggalkan garis putih.
7

Gambar 2.3.1.4.3 Fase maturasi/remodeling

Menurut Taylor (1997):


a. Fase Inflamatory
Fase inflammatory dimulai setelah pembedahan dan berakhir hari ke 3 4 pasca operasi.
Dua tahap dalam fase ini adalah Hemostasis dan Pagositosis. Sebagai tekanan yang besar, luka
menimbulkan lokal adaptasi sindrom. Sebagai hasil adanyasuatu konstriksi pembuluh darah,
berakibat pembekuan darah untuk menutupi luka. Diikuti vasodilatasi menyebabkan peningkatan
aliran darah ke daerah luka yang dibatasi oleh sel darah putih untuk menyerang luka dan
menghancurkan bakteri dan debris. Lebih kurang 24 jam setelah luka sebagian besar sel fagosit
(makrofag) masuk ke daerah luka dan mengeluarkan faktor angiogenesis yang
merangsangpembentukan anak epitel pada akhir pembuluh luka sehingga pembentukan kembali
dapat terjadi.
b. Fase Proliferative
Dimulai pada hari ke 3 atau 4 dan berakhir pada hari ke-21. Fibroblast secara cepat
mensintesis kolagen dan substansi dasar. Dua substansi ini membentuk lapisan perbaikan luka.
Sebuah lapisan tipis dari sel epitel terbentuk melintasi luka dan aliran darah ada didalamnya,
sekarang pembuluh kapiler melintasi luka (kapilarisasi tumbuh). Jaringan baru ini disebut
granulasi jaringan, adanya pembuluh darah, kemerahan dan mudah berdarah.

c. Fase Maturasi
8

Fase akhir dari penyembuhan, dimulai hari ke-21 dan dapat berlanjut selama 1 2 tahun
setelah luka. Kollagen yang ditimbun dalam luka diubah, membuat penyembuhan luka lebih kuat
dan lebih mirip jaringan. Kollagen baru menyatu, menekan pembuluh darah dalam penyembuhan
luka, sehingga bekas luka menjadi rata, tipis dan garis putih.

Gambar 2.3.1.4.4 Penyembuhan luka pada soket gigi

2.2.2 Macam penyembuhan luka


Luka adalah kerusakan kontinyuitas kulit, mukosa membran dan tulang atau organ tubuh
lain. Tubuh yang sehat mempunyai kemampuan alami untuk melindungi dan memulihkan
dirinya. Peningkatan aliran darah ke daerah yang rusak, membersihkan sel dan benda asing dan
perkembangan awal seluler bagian dari proses penyembuhan. Proses penyembuhan terjadi
secara normal tanpa bantuan, walaupun beberapa bahan perawatan dapat membantu untuk
mendukung proses penyembuhan. Sebagai contoh, melindungi area yang luka bebas dari kotoran
dengan menjaga kebersihan membantu untuk meningkatkan penyembuhan jaringan.
Menurut ciri-ciri dan waktunya, penyembuhan luka terbagi menjadi penyembuhan primer adalah
penyembuhan yang terjadi pada luka tanpa ada organisme patogen, reaksi peradangan minimal
dan ringan, luka bersih, trauma minimal dan jaringan pada posisi asal. Sedangkan penyembuhan
luka sekunder adalah penyembuhan luka yang terjadi pada luka dengan trauma yang luas dan
parah, adanya bakteri patogen, luka dengan jaringan, sehingga penyembuhan lambat.
(Clark,1959)s
1. Penyembuhan primer terjadi bila kehilangan jaringan minimal pada susunan anatomi
disekitar tepi luka sehingga segera memberikan jalan untuk penyembuhan luka tanpa
menimbulkan bekas luka. Pada metode ini terjadi sedikit reepitelisasi, minimal kolagen,
kontraksi dan remodeling, penyembuhan terjadi dengan cepat, resiko infeksinya rendah dan tidak
9

terjadi bekas luka. Contohnya antara lain adalah laserasi atau insisi dengan penyembuhan yang
baik, redaksi fraktur tulang yang baik, reanastomosis saraf secara anatomi.

2. Penyembuhan sekunder terjadi bila luka yang terjadi meninggalkan celah cukup luas
diantara tepi luka bekas insisi atau laserasi, pada tulang atau ujung saraf sesudah perbaikan
jaringan. Terjadi kehilangan jaringan disekitar luka sehingga dapat menghambat penutupan tepi
luka. Pada keadaan ini terdapat sejumlah besar epitel dan kolagen serta terjadi remodeling
selama perbaikan jaringan. Penyembuhan berjalan lambat dan terdapat bekas luka bila
dibandingkan dengan keadaan pada penyembuhan luka primer.

3. Penyembuhan tersier adalah penyembuhan yang terjadi pada luka dengan penutupan
primer yang tertunda (delayed primary closure) dilakukan pada luka yang terkontaminasi. Luka
dibiarkan terbuka selama 3 5 hari untuk penanganan kontaminasi dan infeksi. Bila tepi luka
telah sehat dilakukan penutupan dengan penjahitan maupun dengan graft. (Carson, 2005).

2.3 Kontrol pasca ondontektomi


Tujuan kontrol pasca tindakan ekstraksi adalah untuk mengevaluasi pasien mulai dari
keluhan utama, proses yang terjadi saat ini, dan kondisi jaringan saat ini, memberikan tindakan
yang diperlukan saat ini dan menjelaskan proses pelayanan untuk kasus yang dijalani oleh pasien
dan memberikan saran untuk hasil terbaik. Tindakan control dilakukan pasca tindakan bedah
mulut, infeksi, trauma, dan pasca rujukan dari dokter spesialis. Kontrol dilakukan pada hari
pertama dan ketujuh pasca tindakan bedah mulut. Adapun evaluasi waktu penyembuhan jaringan
lunak terjadi pada hari pertama, ke-3 dan ke-7 pascatindakan bedah mulut, dan jaringan keras
pada hari pertama, ke-7, ke-14, ke-30, ke-60, dan ke-90 pasca tindakan.

2.3.1 Pedoman umum pengisian status kontrol


S: anamnesa:
Meliputi: Keluhan utama, riwayat penyakit (perjalanan penyakit membaik atau menyembuh),
riwayat pengobatan, efek samping pengobatan
O: pemeriksaan klinis
Inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi
10

Keadaan umum, vital sign(T, N, RR, t)


Keadaan regional
Ekstra oral: (regio pemeriksaan)
I: pembengkakan/mass, ukuran, batas, permukaan, warna
P: pembengkakan/mass, ukuran, batas, permukaan konsistensi, suhu, nyeri tekan
Intra oral: (regio pemeriksaan)
I: pembengkakan/mass, ukuran, batas, permukaan, warna, gigikaries/sisa akar
P: pembengkakan/mass, ukuran, batas, permukaan, konsistensi, suhu, nyeri tekan, gigi
goyang/tidak
Bila ada hasil pemeriksaan lab/ PA/foto rontgen dicatat
A: assessment
Merupakan diagnosa akhir
P: planning
Tatalaksana dan rencana terapi lanjutan

Contoh kasus:
Seorang wanita usia 27 tahun datang ke klinik bedah mulut dengan keluhan bengkak pada
pipi kiri pasca tindakan pencabutan gigi belakang kiri bawah sehari yang lalu.
Kontrol I hari 1:
Tujuan: mencari ada tidaknya komplikasi immediate (perdarahan, parestesi nervus
sensoris, alergi/efek samping obat)
Anamnesa: keluhan, perdarahan, parestesi, alergi/efek samping obat
Planing: bila keadaan luka bersih: tidak ada tindakanobservasi
bila keadaan luka kotorulasi PZ
terapi dilanjutkan
instruksi menjaga oral hygiene
kontrol hari 4
Contoh pengisian:
Kontrol hari I. Pasca Operasi
S. Tidak ada pendarahan setelah operasi.
Obat telah diminum teratur dan tidak ada keluhan.
11

Tidak ada rasa membal pada lidah


Nyeri saat mengunyah
O: Keadaan umum pasien baik
B.P : 120/80
P : 70 /menit
R.R : 15/ menit
Ekstra oral (mandibula kiri):
I: pembengkakan, 3 cm, batas jelas, warna kemerahan
P: permukaan halus, batas jelas, nyeri tekan, peningkatan suhu
Intra Oral (gigi 38):
I: pembengkakan, kemerahan, jahitan masih utuh
P: nyeri tekan, suhu meningkat
Assessment:
Proses keradangan post odontektomi
Planning:
Irigasi PZ
Terapi dilanjutkan
Instruksi menjaga Oral hygiene
Kontrol hari ke-4

Kontrol II hari 4:
Tujuan: mencari ada tidaknya tanda-tanda infeksi sekunder
Anamnesa: trend symptom Sembuh
o Gangguan penyembuhan atau Infeksi
o (evaluasi bengkak, nyeri, trismus, febrisbertambah/berkurang)
Planing:
Penyembuhan : lanjutkan terapi
o Irigasi H2O2 dan PZ bila luka kotor
o Instruksi menjaga oral hygiene
o Kontrol hari 7
12

Bila infeksi +: rawat infeksi


Dry socket:
o jaringan nekrotik diambil (dapat dilakukan dengan kuret dengan perlahan-
lahan, tidak boleh dilakukan berlebihan, hanya untuk mengambil jaringan
nekrotik, bukan jaringan yang sehat)
o Irigasi H2O2 dan PZ
o Insersi alvolgyl
o Kontrol 2 hr kemudian
Abses: tanda-tanda abses + (fluktuasi + punksi : pus +)
o Insisi + drainase

Contoh pengisian:
S: Sedikit nyeri saat dipakai mengunyah
O:
Keadaan umum penderita baik
B.P :120/80
P : 70/ menit
R.R : 15/ menit
Ekstra Oral (mandibula kiri):
I: pembengkakan, 1 cm, batas diffuse, tidak ada kemerahan
P: nyeri tekan, suhu normal
Intra oral (gigi 38)
I: pembengkakan, kemerahan, jahitan masih utuh
P: nyeri tekan, suhu normal
Assessment :
Proses keradangan post odontektomi
Planning : Irigasi H2O2
Instruksi Oral hygiene
Kontrol hari ke-7

Kontrol III hari 7:


13

Tujuan: mencari tanda-tanda infeksi sekunder


Anamnesa dan tindakan sama dengan kontrol hari 4, dengan tambahan aff jahitan

Contoh pengisisan:
Kontrol hari ke-7
S: tidak ada keluhan
O:
Keadaan umum pasien baik
B.P :120/80
P : 70/menit
R.R : 15/ menit
Ekstra Oral (mandibula kiri):
I : tidak ada pembengkakan
P : tidak ada nyeri tekan
Intra Oral (gigi 38)
I : tidak ada pembengkakan, tidak ada kemerahan, jahitan masih utuh
P : tidak ada nyeri tekan
Assessment :
Proses penyembuhan post odontektomi
Palanning :
Irigasi H2O2
Ambil jahitan
Instruksi oral hygiene
2.4 Kontrol infeksi
Kontrol I dilakukan hari 3 atau bila infeksi memberat kontrol bisa dilakukan
sebelumnya
Anamnesa: trend penyakit membaik atau memberat (pembengkakan,nyeri, trismus,
febris)
Bila membaik: terapi dilanjutkan, antibiotika 5 hari
Jadwalkan tindakan definitif (ekstraksi atau odontektomi)
Bila memberat: ganti antibiotika lain
14

Rujuk ke IRD (tanda-tanda obstruksi jalan nafas atas +)


2.5 Kontrol trauma
Kontrol I hari 3: sama dengan kontrol infeksi
Anamnesa: nyeri, bengkak, obat
Trend: infeksi sekunder
Morbiditas tindakan
Membaik
Pemeriksaan klinis: keadaan pasien (EO dan IO), keadaan alat fiksasi
Planing: bila kotorbersihkan alat dengan irigasi H2O2 dan PZ atau digosok dengan
H2O2
Perbaiki kondisi alat fiksasi bila tajam atau longgar atau bila ada kontak gigi prematur
Instruksi obat diteruskan
instruksi menjaga oral hygiene
Kontrol hari 7, minggu I, minggu II, bulan I
2.6 Kontrol pasca rujukan ke dokter spesialis
Anamnesa: surat jawaban konsul
terapi yang sudah diberikan
hasil pemeriksaan laboratorium terakhir kalau ada
Pemeriksaan klinis: cross check keadaan pasien
Planning: terapi definitif atau konsul ulang bila masih belum ada perbaikan

Vital Signs atau Tanda Vital

Yaitu : pengukuran tanda-tanda fungsi vital tubuh yang paling dasar. Empat tanda-
tanda vital utama tubuh adalah :

Tekanan Darah / tensi

Denyut Nadi
15

Respirasi ( Pernafasan)

Suhu Tubuh

mengukur vital signs

Tanda-tanda vital berguna dalam mendeteksi atau pemantauan masalah medis,


yang berkaitan dengan masalah kesehatan klien.

Tekanan Darah / Tensi

Tekanan darah, adalah kekuatan yang mendorong darah terhadap dinding arteri,
Tekanan ditentukan oleh kekuatan dan jumlah darah yang dipompa, dan ukuran
serta fleksibilitas dari arteri, diukur dengan alat pengukur tekanan darah dan
stetoskop.
Tekanan darah terus-menerus berubah tergantung pada aktivitas, suhu, makanan,
keadaan emosi, sikap, keadaan fisik, dan obat-obatan.

Dua angka dicatat ketika mengukur tekanan darah. Angka yang lebih tinggi, adalah
tekanan sistolik, mengacu pada tekanan di dalam arteri ketika jantung berkontraksi
dan memompa darah ke seluruh tubuh. Angka yang lebih rendah, adalah tekanan
diastolik, mengacu pada tekanan di dalam arteri ketika jantung beristirahat dan
pengisian darah. Baik tekanan sistolik dan diastolik dicatat sebagai mm Hg
(milimeter air raksa). Rekaman ini merepresentasikan seberapa tinggi kolom air
raksa diangkat oleh tekanan darah.
Tekanan darah tinggi atau hipertensi, langsung meningkatkan resiko penyakit
jantung koroner (serangan jantung) dan stroke (serangan otak). Dengan tekanan
darah tinggi, arteri dapat mengalami peningkatan resistensi terhadap aliran darah,
menyebabkan jantung memompa lebih keras untuk mengedarkan darah.
Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) dari National Institute of
16

Health (NIH), tekanan darah tinggi atau hipertensi bagi orang dewasa didefinisikan
sebagai:
tekanan sistolik 140 mm Hg atau lebih tinggi dan tekanan diastolik 90 mm Hg atau
lebih tinggi
Dalam Pembaruan NHLBI pedoman untuk hipertensi pada tahun 2003, sebuah
kategori tekanan darah baru ini ditambahkan disebut prehipertensi
yaitu tekanan sistolik 120 mm Hg - 139 mm Hg dan tekanan diastolik 80 mm Hg -
89 mm Hg
Panduan NHLBI baru sekarang mendefinisikan tekanan darah normal sebagai
berikut:
tekanan sistolik kurang dari 120 mm Hg dan tekanan diastolik kurang dari 80 mm
Hg
Namun angka-angka ini harus digunakan sebagai pedoman saja. Sebuah
pengukuran tekanan darah tinggi tidak selalu merupakan indikasi dari suatu
masalah. membuat diagnosis hipertensi (tekanan darah tinggi) tidak hanya dari
pengukuran sekali saja namun perlu melihat beberapa pengukuran tekanan darah
selama beberapa hari atau minggu sebelumnya.

Denyut Nadi
Denyut nadi adalah jumlah denyut jantung, atau berapa kali jantung berdetak per
menit. Mengkaji denyut nadi tidak hanya mengukur frekuensi denyut jantung, tetapi
juga mengkaji :

irama jantung

kekuatan denyut jantung

Nadi normal untuk orang dewasa yang sehat berkisar 60-100 denyut per menit.
Denyut nadi dapat berfluktuasi dan meningkat pada saat berolahraga, menderita
suatu penyakit, cedera, dan emosi.

Suhu Tubuh
Suhu tubuh normal seseorang bervariasi, tergantung pada jenis kelamin, aktivitas,
lingkungan, makanan yang dikonsumsi, gangguan organ, waktu. Suhu tubuh
normal, menurut American Medical Association, dapat berkisar antara 97,8 derajat
Fahrenheit, atau setara dengan 36,5 derajat Celsius sampai 99 derajat Fahrenheit
atau 37,2 derajat Celcius.

Suhu tubuh seseorang dapat diambil melalui :

Oral
17

Suhu dapat diambil melalui mulut baik menggunakan termometer kaca klasik atau
yang lebih modern termometer digital yang menggunakan probe elektronik untuk
mengukur suhu tubuh.

Dubur

Suhu yang diambil melalui dubur (menggunakan termometer gelas atau


termometer digital) cenderung 0,5-0,7 derajat lebih tinggi daripada ketika diambil
oleh mulut.

Aksilaris

Temperatur dapat diambil di bawah lengan dengan menggunakan termometer gelas


atau termometer digital. Suhu yang diambil oleh rute ini cenderung 0,3-0,4 derajat
lebih rendah daripada suhu yang diambil oleh mulut.

Telinga

Termometer khusus dengan cepat dapat mengukur suhu gendang telinga, yang
mencerminkan suhu inti tubuh (suhu dari organ-organ internal).
Mungkin suhu tubuh abnormal karena demam (suhu tinggi) atau hipotermia (suhu
rendah). Demam ditandai ketika suhu tubuh meningkat di atas 37 derajat Celsius
secara oral atau 37,7 derajat Celsius melalui dubur, menurut American Medical
Association. Hipotermia didefinisikan sebagai penurunan suhu tubuh di bawah 35
derajat Celsius.

Tingkat Respirasi
Tingkat respirasi atau respirasi rate adalah jumlah seseorang mengambil napas per
menit. Tingkat respirasi biasanya diukur ketika seseorang dalam posisi diam dan
hanya melibatkan menghitung jumlah napas selama satu menit dengan menghitung
berapa kali dada meningkat.

Respirasi dapat meningkat pada saat demam, berolahraga, emosi. Ketika


memeriksa pernapasan, adalah penting untuk juga diperhatikan apakah seseorang
memiliki kesulitan bernapas.
Respirasi normal untuk orang dewasa di kisaran sisa 12-20 kali per menit.
Sumber: http://www.healthsystem.virginia.edu/UVAHealth/adult_cardiac/vital.cfm