Anda di halaman 1dari 28

TINGKAT PENGETAHUAN PEMILIK KUCING DI KOTA BOGOR TERHADAP

KESEJAHTERAAN HEWAN DAN KETERKAITANNYA DENGAN KONDISI


KESEHATAN SERTA MANAJEMEN PEMELIHARAANNYA

FATHIA MUTIARA ZAHRA

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Tingkat Pengetahuan


Pemilik Kucing di Kota Bogor terhadap Kesejahteraan Hewan dan Keterkaitannya
dengan Kondisi Kesehatan serta Manajemen Pemeliharaannya adalah benar karya
saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk
apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau
dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir
skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, September 2015

Fathia Mutiara Zahra


NIM B04110118
ABSTRAK
FATHIA MUTIARA ZAHRA. 2015. Tingkat Pengetahuan Pemilik Kucing di
Kota Bogor terhadap Kesejahteraan Hewan dan Keterkaitannya dengan Kondisi
Kesehatan serta Manajemen Pemeliharaannya. Dibimbing oleh FADJAR
SATRIJA.

Memelihara hewan peliharaan merupakan salah satu bentuk hobi yang


sangat digemari oleh masyarakat sekarang ini. Penelitian ini bertujuan untuk
mendapatkan gambaran mengenai tingkat pengetahuan pemilik kucing di Kota
Bogor terhadap kesejahteraan hewan dan hubungannya dengan kondisi kesehatan,
manajemen pemeliharaan, serta manajemen kesehatan kucing peliharaannya.
Data diambil dengan menggunakan kuesioner kepada 50 responden dari lima
kelurahan di Kota Bogor mulai dari bulan April 2014 hingga bulan September
2014. Pemilihan kelurahan dan responden dilakukan secara purposif. Responden
dikelompokkan berdasarkan tingkat penghasilan, tingkat pendidikan, usia, jenis
kelamin, tempat tinggal (kelurahan), dan jumlah kucing peliharaan. Status
kesejahteraan kucing diobservasi berdasarkan kondisi fisik yang meliputi body
condition score, penyakit kulit, luka, pincang, serta kecacingan. Hasil penelitian
ini menunjukkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan kesrawan tinggi
(62%), serta sisanya sedang (36%), dan rendah (2%). Observasi menunjukkan
kondisi tubuh kucing secara keseluruhan dapat dikatakan baik. Terdapat hubungan
yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan salah satu aspek karakteristik
responden (jumlah kucing peliharaan) dan manajemen kesehatan kucing
(pemberian vaksin). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat
pengetahuan dengan manajemen pemeliharaan kucing.

Kata-kata kunci: kesejahteraan hewan, kucing peliharaan, tingkat pengetahuan.


ABSTRACT

FATHIA MUTIARA ZAHRA. 2015. The Knowledge of Cat Owners in Bogor


City on Animal Welfare and Its Association with Health Conditions and
Maintenance Management. Supervised by FADJAR SATRIJA.

Keep a pet is one of popular hobby in this society today. This research
provides information the knowledge of cat owners in Bogor City about animal
welfare. The data taken by using questionnaire to 50 respondents from five
villages in Bogor City, from April 2014 until September 2014. The electoral
wards and respondents conducted in purposive method. Respondents were
classified based on income, education, age, gender, domicile (villages) and the
number of cats. Cat welfare status observed based on the physical condition which
includes body condition score, skin disease, wounds, limping, and worm
infestation. The results of this research showed most respondents had high (62%),
medium (36%), and low (2%) knowledge of animal welfare. Observations
regarded the condition of overall the cat body can be said good. There were a
significant relationship between knowledge with one aspect of characteristic
respondents (the number of cats) and cat health management (vaccines). There is
no significant relationship between knowledge with cat maintenance management.

Key words: animal welfare, cat, knowledge.


TINGKAT PENGETAHUAN PEMILIK KUCING DI KOTA BOGOR
TERHADAP KESEJAHTERAAN HEWAN DAN KETERKAITANNYA DENGAN
KONDISI KESEHATAN SERTA MANAJEMEN PEMELIHARAANNYA

FATHIA MUTIARA ZAHRA

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kedokteran Hewan
pada
Fakultas Kedokteran Hewan

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa taala atas
segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul yang
dipilih dalam penelitian ini adalah Tingkat Pengetahuan Pemilik Kucing di Kota
Bogor terhadap Kesejahteraan Hewan dan Keterkaitannya dengan Kondisi
Kesehatan serta Manajemen Pemeliharaannya. Penulis menyadari bahwa tanpa
bantuan dari berbagai pihak, penulis akan mengalami kesulitan dalam
menyelesaikan skripsi ini.
Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Drh Fadjar
Satrija, MSc, PhD selaku pembimbing yang senantiasa memberikan dukungan
dan arahan. Ucapan terimakasih kepada Drh Murniati, MSi sebagai teman dalam
penelitian yang selalu mendukung dan memberikan arahan yang sangat
bermanfaat dalam penyusunan skripsi ini. Dukungan serta motivasi dari teman-
teman Ganglion terutama Al Hasna, Cindi Nabila Fitriani, Indah Asoka Sepiari,
Dewi Srimanunggal, Anggraeni Tampubolon, Yustina Dian Fajar, Dian Kristanti,
Citra Vetia Sari, Nursela Sofyanti Mirza Ariyani serta Shambalawati terutama
Kakak Ayiq, Kakak Lita, dan Kakak Rani. Selanjutnya terimakasih penulis
ucapkan kepada Kepala Dinas Pertanian Kota Bogor yang telah memberikan
Bantuan izin selama di lapangan.
Karya ini dipersembahkan untuk keluarga, Ayahanda Haryono, Ibunda
Arina Ronaria Siregar, Adik Ghifari Fathurrahman serta Adik Safira Amanda
yang selama ini telah memberikan dukungan semangat, materi, doa, dan kasih
sayang kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat
kesalahan baik dalam penulisan nama, gelar, maupun penyajian kalimat yang
kurang berkenan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari pembaca. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi semua
pihak terutama pemerintah, masyarakat, dan kalangan akademisi.

Bogor, September 2015

Fathia Mutiara Zahra


DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vii


DAFTAR GAMBAR vii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Penelitian 1
Manfaat Penelitian 1
TINJAUAN PUSTAKA 2
Kucing (Felis domesticus) 2
Manajemen Kesehatan Kucing 2
Kesejahteraan Hewan (Animal Welfare) 2
Aspek Demografi dan Sosial Ekonomi Kota Bogor 4
Metode Sampling 4
METODE 5
Waktu dan Tempat Penelitian 5
Rancangan Penelitian 5
Jenis dan Cara Pengumpulan Data 5
Kuesioner 5
Analisis Data 6
HASIL DAN PEMBAHASAN 6
Karakteristik Responden 6
Hubungan Tingkat Pengetahuan terhadap Kesejahteraan Hewan 6
dengan Karakteristik Responden
Hubungan Tingkat Pengetahuan terhadap Kesejahteraan Hewan 8
dengan Kondisi Kesehatan Tubuh Kucing Peliharaan
Hubungan Tingkat Pengetahuan terhadap Kesejahteraan Hewan 10
dengan Manajemen Pemeliharaan kucing
Hubungan Tingkat Pengetahuan terhadap Kesejahteraan Hewan 10
dengan Manajemen Kesehatan kucing
SIMPULAN DAN SARAN 11
Simpulan 11
Saran 12
DAFTAR PUSTAKA 12
LAMPIRAN 14
RIWAYAT HIDUP 26
DAFTAR TABEL
1 Hubungan tingkat pengetahuan terhadap kesejahteraan hewan 7
dengan karakteristik responden
2 Hubungan tingkat pengetahuan terhadap kesejahteraan hewan 10
dengan kondisi kesehatan tubuh kucing peliharaan
3 Hubungan tingkat pengetahuan terhadap kesejahteraan hewan 11
dengan manajemen pemeliharaan kucing

DAFTAR GAMBAR
1 Grafik body condition score (BCS) kucing peliharaan di Kota 8
Bogor
2 Grafik hubungan tingkat pengetahuan terhadap kesejahteraan 9
hewan dengan kondisi kesehatan tubuh kucing peliharaan

DAFTAR LAMPIRAN
1 Pengolahan Data 14
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang ditandai dengan


peningkatan pendapatan menyebabkan tingkat konsumsi masyarakat terhadap
kebutuhan tersier meningkat. Skala prioritas untuk dipenuhi setiap masyarakat
memang berbeda-beda. Faktor yang memengaruhi skala prioritas ini antara lain
hobi, pendapatan, status sosial, serta aktualisasi diri. Salah satu contoh aktualisasi
diri terhadap kebutuhan tersier yaitu memiliki hewan peliharaan terutama kucing
(Wenagama 2013).
Memelihara hewan kesayangan merupakan salah satu bentuk hobi yang
sangat digemari oleh masyarakat sekarang ini. Alasan yang paling umum
seseorang memelihara hewan adalah sebagai teman, sosialisasi, keindahan atau
refreshing, status dan sesuatu untuk dilakukan bersama. Menurut Rahmiati dan
Pribadi (2014) memelihara hewan bukan hanya sekedar memelihara, namun
pemilik hewan juga harus memerhatikan yang disebut dengan kesejahteraan
hewan (animal welfare). Bagi hewan, tidak ada hal lain yang diharapkan dalam
hidupnya selain kesejahteraan itu sendiri (Hartuti et al. 2014).
Faktor pengetahuan dan sikap manusia mempunyai pengaruh penting
terhadap upaya peningkatan kesejahteraan hewan (Winarso 2008). Oleh karena itu,
ilmu tentang kesejahteraan hewan harus dipelajari secara interdisiplin agar dapat
diterima oleh semua golongan masyarakat. Selain itu adanya desakan para aktivis
pendukung animal right dan animal welfare menjadikan kesejahteraan hewan
memiliki arti penting bagi banyak pihak. Semakin meningkatnya tuntutan
penerapan kesejahteraan hewan, maka dirasa perlu dilakukan suatu studi untuk
mengetahui tingkat pengetahuan pemilik kucing terhadap kesejahteraan hewan
dan keterkaitannya dengan kondisi kesehatan serta manajemen pemeliharaannya.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai tingkat


pengetahuan pemilik kucing di Kota Bogor terhadap kesejahteraan hewan dan
mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan tersebut dengan kondisi
kesehatan kucing, manajemen pemeliharaan, serta manajemen kesehatan kucing.

Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan informasi mengenai tingkat


pengetahuan terhadap kesejahteraan hewan dan keterkaitannya dengan kondisi
kesehatan serta manajemen pemeliharaan kucing kepada Pemerintah Kota Bogor
sehingga dapat digunakan sebagai advokasi kepada masyarakat Kota Bogor.
2

TINJAUAN PUSTAKA

Kucing (Felis domesticus)

Felis domesticus merupakan kucing peliharaan hasil domestikasi sejak


zaman Mesir kuno dan hanya ditemukan di Mesir dan negara sekitarnya namun
tidak terdapat di Eropa dan Amerika. Kucing digolongkan ke dalam kelas
mamalia, Ordo Karnivora, Superfamili Feloidea, dan Famili Felidae. Seluruh
Ordo Karnivora hampir semuanya merupakan pemakan daging. Secara morfologi,
panjang tubuh kucing dewasa umumnya 50 cm dengan panjang ekor 25 sampai 30
cm. Karakter morfologi seperti warna, pola, panjang rambut, warna mata, bentuk
tubuh, panjang ekor, ukuran dan bentuk telinga sangat bervariasi pada kucing
(Aditya 2006). Kucing dikenal sebagai hewan penyendiri dan jarang sekali
membentuk koloni dalam menjalankan kehidupannya. Setiap kucing memiliki
daerah tersendiri namun tetap terdapat daerah netral dimana kucing-kucing saling
bertemu tanpa adanya konflik teritorial (Sumita 2012).

Manajemen Kesehatan Kucing

Kesehatan merupakan segalanya baik bagi manusia ataupun hewan


terutama kucing. Menjaga kesehatan kucing adalah dengan menjaga sanitasi, baik
kandang, maupun area sekitar dengan rutin (Suwed dan Napitupulu 2012).
Pencegahan penyakit dalam memelihara kucing antara lain dengan melakukan
tindakan terhadap penyakit zoonosis baik pada kucing, pemilik, dan orang-orang
disekitarnya. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain pemilihan bibit,
penyedian kandang, pakan, serta kesehatannya (Yuliarti 2010).
Vaksinasi merupakan salah satu cara dalam memelihara kesehatan kucing.
Vaksinasi merupakan jalan terbaik yang diyakini dapat melawan virus dan
penyakit akut lainnya, sehingga vaksinasi menjadi sangat penting. Vaksinasi
merupakan suntikan yang diberikan kepada kucing untuk mendeaktivasikan virus,
bahkan membunuh penyebab penyakit, terutama virus. Vaksin penting sebagai
sistem imun bagi tubuh kucing. Vaksin akan merangsang terbentuknya antibodi
yang didesain untuk menghancurkan sesuatu yang masuk ke dalam tubuh yang
dikenali dan diperkirakan membahayakan. Satu-satunya cara yang mutlak
dilakukan adalah memberi suntikan vaksin (Suwed dan Napitupulu 2012).

Kesejahteraan Hewan (Animal Welfare)

Kesejahteraan hewan adalah segala urusan yang berhubungan dengan


keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu
diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang
yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia (Pemerintah RI
2012). Kesejahteraan hewan mencakup tiga aspek yang berbeda yaitu
kesejahteraan fisik, kesejahteraan mental, dan kondisi alamiah hewan. Aspek
pertama adalah kesejahteraan fisik yang terdiri dari indikator biologis seekor
hewan termasuk aspek produksi dan reproduksi. Aspek kedua adalah
kesejahteraan mental yang merupakan kondisi emosi positif dan negatif dari
3

seekor hewan. Aspek ketiga adalah kondisi alamiah hewan yang menurut Rollin
(1999) bahwa kesejahteraan itu tidak hanya mengendalikan kesakitan dan
penderitaan, namun juga harus memenuhi tingkah laku alami dari hewan.
Kesejahteraan hewan mengacu pada kualitas hidup hewan, bukan pada
seberapa lama hewan tersebut hidup. Hewan juga dapat mengalami penderitaan
atau yang lebih sering disebut suffering. Suffering merupakan salah satu atau lebih
dari perasaan buruk yang berkelanjutan dalam waktu yang panjang (Broom dan
Fraser 2007). Hewan juga merupakan makhluk sentience, yaitu kemampuan untuk
merasakan hubungan timbal balik antara dirinya dengan pihak lain, kemampuan
untuk mengingat beberapa perilaku dan segala konsekuensinya, kemampuan
untuk menilai risiko, kemampuan untuk memiliki beberapa feeling dan
kemampuan untuk memiliki derajat kesadaran (Broom 2006). Kematian bukan
merupakan bagian dari animal welfare, namun cara kematiannya dapat menjadi
akibat dari suffering.
Menurut World Organisation for Animal Health (Office International des
Epizooties; OIE 2011) kesejahteraan hewan adalah bagaimana cara mengatasi
hewan dengan berbagai kondisi dalam hidupnya. Seekor hewan dinyatakan dalam
keadaan sejahtera apabila hewan tersebut sehat, nyaman, memiliki nutrisi yang
cukup, aman, dapat mengekspresikan kebiasaan alamiahnya, tidak menderita dari
segala bentuk penyakit, takut dan distress. Kesejahteraan hewan yang baik
memerlukan hewan terbebas dari pencegahan penyakit dan perawatan hewan,
tempat penampungan, manajemen, nutrisi, penanganan manusia, dan terbebas dari
pembunuhan atau pembantaian oleh manusia.
Farm Animal Welfare Council (1992) mengemukakan lima kebebasan
hewan (Five Freedom) yang sering digunakan sebagai kerangka untuk menilai
kesejahteraan hewan. Lima kebebasan tersebut adalah (i) bebas dari rasa haus dan
lapar; (ii) bebas dari ketidaknyamanan; (iii) bebas untuk beristirahat dan bebas
dari rasa sakit, cedera, dan penyakit; (iv) bebas dari rasa takut dan menderita
(distress); (v) bebas untuk menampilkan perilaku alamiahnya atau perilaku
normalnya. Menurut Butterworth et al. (2011), penilaian terhadap kesejahteraan
hewan meliputi welfare outputs (fisiologi, behaviour, serta kondisi kesehatan dan
produksi); welfare inputs atau informasi mengenai manajemen pemeliharaan
hewan beserta faktor faktor risikonya; memberikan informasi kepada petani atau
pemilik hewan; dukungan dalam membuat perubahan.
Kesejahteraan hewan di Indonesia diatur melalui Undang-Undang Nomor
18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, serta Peraturan
Pemerintah Nomor 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan
Kesejahteraan Hewan. Kedua peraturan tersebut dikuatkan dengan Undang-
Undang No 41 Tahun 2014 sebagai perubahan terhadap Undang-Undang No 18
Tahun 2009 yang mengatur pemberian sanksi bagi pelanggar prinsip
kesejahteraan hewan.
Menurut UU No 41 Tahun 2014 Pasal 66A Ayat (1) berbunyi: Setiap
orang dilarang menganiaya dan/atau menyalahgunakan hewan yang
mengakibatkan cacat dan/atau tidak produktif. Ayat (2) berbunyi: Setiap orang
yang mengetahui adanya perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
melapor kepada pihak yang berwenang. Pasal 91B menerangkan adanya ketentuan
sanksi bagi pelanggar berupa sanksi pidana atau sanksi kurungan.
4

Aspek Demografi dan Sosial Ekonomi Kota Bogor

Kota Bogor memiliki luas wilayah sebesar 11 850 Ha terdiri dari 6


kecamatan dan 68 kelurahan, kemudian secara administratif, Kota Bogor
dikelilingi oleh Wilayah Kabupaten Bogor. Jumlah penduduk Kota Bogor
mencapai 1 032 375 jiwa. Kecamatan yang ada di Kota Bogor yaitu Kecamatan
Bogor Utara, Kecamatan Bogor Timur, Kecamatan Bogor Selatan, Kecamatan
Bogor Barat, Kecamatan Bogor Tengah, dan Kecamatan Tanah Sareal. Kota
Bogor memiliki batas-batas wilayah antara lain sebelah Utara berbatasan dengan
Kecamatan Kemang, Bojong Gede, dan Kecamatan Sukaraja Kabupaten Bogor;
sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Sukaraja dan Kecamatan Ciawi,
Kabupaten Bogor; sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Darmaga dan
Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor; sebelah Selatan berbatasan dengan
Kecamatan Cijeruk dan Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor (BPS 2014).
Perkembangan pendidikan di Kota Bogor ditunjukkan dengan adanya
beberapa peningkatan baik yang dikelola oleh Dinas Pendidikan maupun oleh
Kementrian Agama Kota Bogor. Pendidikan di Kota Bogor mencakup sekolah
dasar, sekolah menegah pertama serta sekolah menengah atas. Perkembangan
pendidikan yang dikelola oleh Kementerian Agama Kota Bogor meliputi
Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah (BPS 2014).
Status ekonomi adalah kedudukan seseorang atau keluarga di masyarakat
berdasarkan pendapatan per bulan. Status ekonomi dapat dilihat dari pendapatan
yang disesuaikan dengan harga barang pokok. Pembagian status ekonomi menurut
(Kartono 2006) sebagai berikut: Tipe Kelas Atas (>Rp 2 000 000); Tipe Kelas
Menengah (Rp 1 000 0002 000 000); Tipe Kelas Bawah (<Rp 1 000 000).
Pembagian masyarakat secara ekonomi menjadi 3 kelas atau golongan terdiri atas:
Golongan sangat kaya: Merupakan kelompok kecil dalam masyarakat, terdiri dari
pengusaha, tuan tanah, dan bangsawan; Golongan kaya: Merupakan golongan
yang cukup banyak terdapat dalam masyarakat, terdiri dari para pedagang dsb;
Golongan miskin: Merupakan golongan terbanyak dalam masyarakat, kebanyakan
dari rakyat biasa.

Metode Sampling

Sampling merupakan suatu cara pengumpulan data yang sifatnya tidak


menyeluruh, yaitu tidak mencakup seluruh objek penelitian (populasi), akan tetapi
sebagian saja dari populasi (Sugiyono 2000). Teknik pengumpulan data yang
dapat digunakan menurut Sugiyono (2000) antara lain:
a. Kuesioner yaitu usaha untuk memperoleh data yang diperlukan dengan
membuat angket atau daftar pertanyaan atau penyataan secara tertulis dan
disertai dengan kemungkinan jawaban yang harus dipilih oleh responden.
b. Interview (wawancara) yaitu usaha untuk memperoleh data dengan cara
langsung berhadapan, yaitu dengan mengadakan dialog dan mengajukan
pertanyaan kepada responden mengenai hal-hal yang berhubungan dengan
masalah yang diteliti.
c. Observasi yaitu mengadakan pengamatan langsung terhadap objek yang
diamati.
5

METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan mulai dari bulan April hingga bulan September


2014 di lima kelurahan di Kota Bogor yaitu Kelurahan Bubulak, Kelurahan
Cilendek Barat, Kelurahan Tajur, Kelurahan Pamoyanan, dan Kelurahan Lawang
Gintung.

Rancangan Penelitian

Jenis dan Cara Pengumpulan Data


Penelitian ini dilakukan dengan metode kajian lintas seksional (Cross
Sectional Study). Jumlah responden dan jumlah kucing yang diambil dalam
penelitian ini adalah 10 orang pemilik kucing dan 10 ekor kucing peliharaan
responden dari masing-masing kelurahan di lokasi penelitian, sehingga total
jumlah responden sebanyak 50 orang dan 50 ekor kucing peliharaan. Pemilihan
kelurahan dan responden dilakukan secara purposif.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner
telah dilakukan uji validitas dengan menggunakan metode Pearson Product
Moment. Data diambil menggunakan dua cara yaitu dengan observasi terhadap
kucing peliharaan (welfare output) dan wawancara kepada responden (welfare
input).

Kuesioner
Kuesioner tersusun atas empat bagian yaitu observasi, pertanyaan
pengetahuan mengenai kesejahteraan hewan, pertanyaan mengenai manajemen
pemeliharaan kucing, pertanyaan mengenai manajemen kesehatan kucing.
Observasi yang dilakukan yaitu mengenai body condition score (BCS) kucing
yang terdiri dari lima kriteria menurut WSAVA (2013), yaitu: 1 = sangat kurus,
3 = kurus, 5 = ideal, 7 = gemuk, 9 = sangat gemuk; serta lesio seperti ada tidaknya
penyakit kulit, ada tidaknya luka, apakah kucing mengalami kepincangan atau
tidak, serta apakah kucing mengalami kecacingan atau tidak. Status kecacingan
diambil berdasarkan data sekunder dari Murniati (2015). Pengambilan skor
mengenai BCS, apabila kucing memiliki nilai BCS sama dengan 5, diberi skor 1,
selain itu diberi nilai 0. Penilaian pengamatan lesio, penyakit kulit, luka, dan
kecacingan, jika tidak ditemukan diberi nilai 1, jika ditemukan diberi nilai 0.
Pengambilan skor total lesio ini adalah dengan menjumlahkan skor yang diperoleh
dari masing-masing variabel. Skor tertinggi dari penilaian ini adalah 4 poin.
Pengukuran tingkat pengetahuan terdiri dari 20 pertanyaan pilihan ganda
dan 3 pertanyaan checklist mengenai manajemen kesejahteraan hewan. Bagian
pilihan ganda menyediakan empat pilihan jawaban dan hanya terdapat satu
jawaban tepat dan benar. Bagian checklist menyediakan pilihan jawaban dengan
mencontreng jawaban yang dianggap benar. Penilaian pengukuran tingkat
pengetahuan ini setiap jawaban yang benar diberi skor 1, sedangkan jawaban
yang salah diberi skor 0. Berdasarkan kriteria penilaian tersebut, responden
dikategorikan memiliki tingkat pengetahuan tinggi apabila memiliki skor >70%,
6

kategori sedang apabila memiliki skor antara 5070%, serta kategori rendah bila
skor <50% (Nasikhah et al. 2014).

Analisis Data

Data yang diperoleh kemudian diolah secara deskriptif dan statistik dengan
uji Khi Kuadrat. Khi Kuadrat digunakan untuk menguji hubungan antara dua
variabel yang tidak berkaitan.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Karakteristik Responden

Karakteristik responden dikategorikan kedalam beberapa karakteristik


berdasarkan tingkat pendidikan, penghasilan, usia, jenis kelamin, kelurahan, serta
jumlah kucing peliharaan. Rata-rata pendidikan responden sebagian besar adalah
perguruan tinggi (76%), kemudian disusul pendidikan SMA (20%), lalu tidak
sekolah-SMP (4%). Penghasilan responden sebagian besar berada pada rentang
<12 juta (58%), kemudian dilanjutkan pada rentang penghasilan >25 juta (24%),
dan terakhir pada rentang >5 juta (18%). Sebagian besar responden adalah wanita
(60% atau 30 orang), sedangkan responden pria sebanyak 40% (20 orang).
Berdasarkan usia, 32% responden berusia <20 tahun, 54 % responden berusia 21
50 tahun, dan 14% responden berusia >50 tahun. Berdasarkan kelurahan, karena
responden diambil dengan jumlah yang sama sehingga masing masing kelurahan
memiliki hasil yang sama (20%). Sebagian besar responden memiliki jumlah
kucing peliharaan dengan rentang 110 ekor sebesar 90%, kemudian pada rentang
1120 ekor sebesar 6%, pada rentang 2130 ekor sebesar 2%, dan pada rentang
>30 ekor sebesar 2%. Tingkat pengetahuan responden sebagian besar berada
dalam kategori tinggi (62%), kemudian pada kategori sedang (36%), lalu pada
kategori rendah (2%).

Hubungan antara Tingkat Pengetahuan terhadap Kesejahteraan


Hewan dengan Karakteristik Responden

Berbagai karakteristik responden yang telah dikategorikan, dihubungkan


dengan tingkat pengetahuan pemilik kucing peliharaan terhadap kesejahteraan
hewan. Hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap kesejahteraan hewan
dengan karakteristik responden berdasarkan variabel yang diamati dapat dilihat
pada Tabel 1 di bawah ini.
7

Tabel 1 Hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap kesejahteraan hewan


dengan karakteristik responden
No Karakteristik Tingkat pengetahuan responden
responden Rendah Sedang Tinggi Total P
n % n % n % n %
1 Pendidikan
Tidak sekolahSMP 0 0 2 100 0 0 2 100 0.250
SMA 0 0 5 50 5 50 10 100
Perguruan Tinggi 1 2.6 11 28.9 26 68.4 38 100
2 Penghasilan
<12 juta 0 0 10 34.5 19 65.5 29 100 0.304
>25 juta 0 0 5 41.7 7 58.3 12 100
>5 juta 1 11.1 3 33.3 5 55.6 9 100
3 Usia
<20 tahun 0 0 7 43.8 9 56.3 16 100 0.832
2150 tahun 1 3.7 9 33.3 17 63 27 100
>50 tahun 0 0 2 28.6 5 71.4 7 100
4 Jenis Kelamin
Pria 0 0 8 40 12 60 20 100 0.658
Wanita 1 3.3 10 33.3 19 63.3 30 100
5 Kelurahan
Cilendek Barat 1 10 5 50 4 40 10 100 0.085
Bubulak 0 0 2 20 8 80 10 100
Lawang Gintung 0 0 2 20 8 80 10 100
Pamoyanan 0 0 2 20 8 80 10 100
Tajur 0 0 7 70 3 30 10 100
6 Jumlah kucing
peliharaan
110 ekor 0 0 17 37.8 28 62.2 45 100 0.000*
1120 ekor 0 0 1 33.3 2 66.7 3 100
2130 ekor 0 0 0 0 1 100 1 100
>30 ekor 1 100 0 0 0 0 1 100
*P value dengan nilai berbeda nyata (p<0.05)

Berdasarkan analisis pada Tabel 1, tidak ada hubungan antara tingkat


pengetahuan terhadap kesejahteraan hewan dengan beberapa aspek karakteristik
responden seperti pendidikan, penghasilan, usia, jenis kelamin, dan kelurahan. Hal
ini ditunjukkan dengan taraf nyata yang tidak signifikan pada masing masing
variabel (p>0.05). Berdasarkan hasil penelitian dari Rahmiati dan Pribadi (2014),
tingkat pendidikan tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan pengetahuan
terhadap asas kesejahteraan hewan. Tingginya pendidikan yang ditempuh oleh
responden tidak menjamin bahwa responden memiliki pengetahuan yang baik
terhadap kesejahteraan hewan.
Hasil analisis pada tingkat pengetahuan responden dengan jumlah kucing
peliharaan memiliki p value = 0.000 (p<0.05). Hasil ini menunjukkan adanya
hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan responden dengan jumlah
kucing peliharaan. Banyaknya jumlah kucing yang dipelihara membuat pemilik
kucing memiliki pengalaman yang makin banyak. Pengalaman yang banyak
tersebut dapat membuat pengetahuan semakin bertambah. Menurut Alim et al.
(2007) pengalaman akan memberikan hasil dalam menghimpun dan memberikan
kemajuan bagi pengetahuan. Pengalaman yang dimiliki oleh pemilik kucing tidak
selamanya benar, hal ini tergantung dari pengetahuannya mengenai kesejahteraan
hewan yang benar terutama kucing.
8

Hubungan Tingkat Pengetahuan terhadap Kesejahteraan Hewan dengan


Kondisi Kesehatan Tubuh Kucing Peliharaan

Pengamatan mengenai kondisi kesehatan tubuh kucing peliharaan di Kota


Bogor berdasarkan variabel yang diamati meliputi body condition score (BCS),
penyakit kulit, luka, pincang, serta kecacingan. Deskripsi mengenai BCS dapat
dilihat pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1 Grafik body condition score (BCS) kucing


peliharaan di Kota Bogor

Hasil pengamatan yang didapatkan berdasarkan Gambar 1 di atas mengenai


body condition score (BCS) adalah kucing peliharaan di Kota Bogor sebagian
besar memiliki BCS yang ideal (bernilai 5) yaitu sebesar 70%. Menurut WSAVA
(2013), BCS bernilai 5 adalah proporsi ideal yang dimiliki kucing. Kriteria ideal
yang dimaksud adalah tulang rusuk teraba dengan tertutupi oleh sebagian lemak,
pinggang tampak terlihat dari belakang tulang rusuk terakhir, serta terdapat lipatan
pada perut namun tidak terdapat lemak.
Hasil pengamatan selanjutnya mengenai ada tidaknya penyakit kulit, 88%
tidak ditemukan penyakit kulit, dan 12% ditemukan penyakit kulit. Penyakit kulit
pada kucing dapat terjadi karena beberapa faktor, diantaranya akibat jamur, alergi,
atau gigitan ektoparasit. Gejala klinis penyakit kulit adalah ketombe, rambut
rontok, kebotakan dengan pola melingkar, serta gatal-gatal. Hal ini sejalan dengan
penelitian Hartuti et al. (2014) mengenai kajian kesejahteraan kucing pada 23 pet
shop di Bekasi, kucing-kucing yang dipelihara terinfeksi dengan sejumlah
penyakit seperti jamur. Indonesia merupakan negara beriklim tropis dengan suhu
udara relatif stabil dan kelembaban yang tinggi. Kondisi udara semacam ini cocok
untuk pertumbuhan berbagai jamur.
Pengamatan mengenai ada tidaknya luka, 92% tidak ditemukan luka, dan
8% ditemukan luka. Luka yang dapat terjadi pada kucing seperti akibat dari
perkelahian antar kucing, ataupun juga akibat tubuh sering tergesek dengan
kandang. Pengamatan mengenai ada tidaknya pincang, 98% tidak mengalami
kepincangan, dan 2% mengalami kepincangan. Pincang dapat disebabkan akibat
kaki yang terkilir, luka memar, atau patah tulang.
9

Hasil pada pemeriksaan kecacingan, 68% tidak ditemukan infeksi cacing,


dan 32% ditemukan infeksi cacing. Menurut penelitian Murniati (2015), cacing
zoonotik yang berhasil diidentifikasi pada kucing peliharaan di Kota Bogor adalah
Toxocara cati dan hookworm. Kejadian kecacingan pada kucing peliharaan, dapat
dikarenakan seringnya feses yang menumpuk pada kotak pasir apabila tidak rutin
dibersihkan. Hal ini berkaitan dengan kucing memiliki kebiasaan menimbun feses
dengan pasir menggunakan kuku. Kuku kucing yang tidak dipotong secara rutin
dan jika feses terinfeksi dengan telur infektif, kemudian termakan oleh kucing
maka hampir dipastikan kucing tersebut terinfeksi cacing Toxocara (Estuningsih
2014). Kucing termasuk hewan yang sering melakukan grooming atau menjilati
badan serta tangannya, sehingga penularan infeksi parasit melalui feses yang
menempel di badan serta tangan kucing akan semakin besar.
Hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap kesejahteraan hewan
dengan kondisi kesehatan tubuh kucing peliharaan yang meliputi penyakit kulit,
luka, pincang, serta kecacingan dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini.

Gambar 2 Grafik hubungan tingkat pengetahuan terhadap


kesejahteraan hewan dengan kondisi kesehatan
tubuh kucing
Hasil yang didapatkan berdasarkan Gambar 2 di atas, total tingkat
pengetahuan rendah dengan skor 4 sebanyak 1 orang (100%), total tingkat
pengetahuan sedang dengan skor 4 sebanyak 8 orang (44.4%), dan total tingkat
pengetahuan tinggi dengan skor 4 sebanyak 20 orang (64.5%). Pengetahuan
responden yang semakin tinggi, semakin besar pula skor yang didapatkan
terhadap penilaian kondisi kesehatan tubuh kucing. Semakin tinggi skor yang
didapatkan menandakan bahwa kucing tersebut semakin baik kondisi
kesehatannya. Berdasarkan penelitian Hartuti et al. (2014), kesejahteraan kucing
yang dilihat dengan penekanan terhadap aspek kesehatan dari 23 pet shop yang
dikunjungi menunjukkan kesejahteraan kucing-kucing tersebut terpenuhi dengan
baik. Menurut Suwed dan Napitupulu (2012), ciri-ciri kucing sehat adalah rambut
tampak bersih, terawat, licin, tidak rontok, tidak ditemukan luka dan penyakit
pada kulit, kulit licin tanpa noda seperti terbakar atau berparasit, gerakan lincah
siap siaga dan tidak berjalan lamban, nafsu makan baik, feses terbebas dari parasit
maupun telur parasit.
10

Hubungan Tingkat Pengetahuan terhadap Kesejahteraan Hewan


dengan Manajemen Pemeliharaan Kucing

Variabel manajemen pemeliharaan kucing yang diamati meliputi jumlah


kucing dalam satu kandang, cara membersihkan kandang kucing, serta frekuensi
kucing dimandikan. Variabel-variabel tersebut dikaitkan dengan tingkat
pengetahuan responden untuk melihat ada tidaknya hubungan yang bermakna di
antara keduanya. Analisis mengenai hubungan tersebut dapat dilihat pada Tabel 2
di bawah ini.

Tabel 2 Hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap kesejahteraan hewan


dengan manajemen pemeliharaan kucing
No Manajemen Tingkat pengetahuan pemilik kucing peliharaan
pemeliharaan kucing Rendah Sedang Tinggi Total p
n % n % n % n %
1 Kepadatan kandang
Tidak padat 1 2.9 11 31.4 23 65.7 35 100 0.505
Padat 0 0 7 46.7 8 53.3 15 100
2 Cara membersihkan
kandang kucing
Menggunakan 0 0 3 50 3 50 6 100 0.417
desinfektan
Disikat dan disiram 0 0 3 17.6 14 82.4 17 100
menggunkan sabun dan
air
Disiram menggunakan 0 0 0 0 3 100 3 100
sabun dan air
Disikat dan disiram 0 0 2 66.7 1 33.3 3 100
dengan air
Dilap saja 0 0 0 0 1 100 1 100
Tidak memiliki 1 5 10 50 9 45 20 100
kandang
3 Frekuensi kucing
dimandikan
<2minggu sekali 1 8.3 7 58.3 4 33.3 12 100 0.060
2 minggu sekali 0 0 9 36 16 64 25 100
>2minggu sekali 0 0 2 15.4 11 84.6 13 100

Hasil yang didapatkan berdasarkan Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa


tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan responden terhadap kesejahteraan
hewan dengan manajemen pemeliharaan kucing seperti kepadatan kandang, cara
membersihkan kandang kucing, serta frekuensi kucing dimandikan. Hal ini
ditunjukkan dengan taraf nyata yang tidak signifikan pada masing masing variabel
(p>0.05).

Hubungan Tingkat Pengetahuan terhadap Kesejahteraan Hewan


dengan Manajemen Kesehatan Kucing

Variabel manajemen kesehatan kucing yang diamati yaitu pemeriksaan ke


dokter hewan, pemberian obat cacing, serta pemberian vaksin. Variabel-variabel
tersebut dikaitkan dengan tingkat pengetahuan responden terhadap kesejahteraan
hewan untuk melihat ada tidaknya hubungan yang bermakna diantara keduanya.
Analisis variabel mengenai hubungan tersebut dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah
ini.
11

Tabel 3 Hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap kesejahteraan hewan


dengan manajemen kesehatan kucing
No Manajemen kesehatan Tingkat pengetahuan pemilik kucing peliharaan
kucing Rendah Sedang Tinggi Total p
n % n % n % n %
1 Pernah diperiksakan ke
dokter hewan
Ya 0 0 8 30.8 18 69.2 26 100 0.377
Tidak 1 4.2 10 41.7 13 54.2 24 100
2 Pernah diberikan obat
cacing
Ya 1 3.8 9 34.6 16 61.5 26 100 0.621
Tidak 0 0 9 37.5 15 62.5 24 100
3 Pernah diberikan vaksin
Ya 1 3.8 4 15.4 21 80.8 26 100 0.006*
Tidak 0 0 14 58.3 10 41.7 24 100
*P value dengan nilai berbeda nyata (p<0.05)

Berdasarkan Tabel 3 di atas menunjukkan bahwa tidak ada hubungan


antara tingkat pengetahuan terhadap kesejahteraan hewan dengan manajemen
kesehatan kucing pada aspek pemeriksaan ke dokter hewan dan pemberian obat
cacing. Hal ini ditunjukkan dengan taraf nyata yang tidak signifikan pada masing
masing variabel (p>0.05). Hasil analisis tingkat pengetahuan dengan variabel
pemberian vaksin memiliki p value = 0.006 (p<0.05). Hasil ini menunjukkan
adanya hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan responden dengan
pemberian vaksin. Pemilik kucing yang memiliki tingkat pengetahuan terhadap
kesejahteraan hewan yang baik akan berupaya melakukan tindakan preventif
terhadap penyakit, salah satunya dengan melakukan pemberian vaksin terhadap
kucing peliharaannya. Menurut Hartuti et al. (2014), kebutuhan terhadap tindakan
pencegahan penyakit pada kucing berupa vaksinasi dan pemberian obat cacing.
Pemberian vaksin berguna untuk memberi kekebalan yang baik terhadap penyakit
menular. Pemberian jenis vaksin dilakukan terhadap penyakit-penyakit virus yaitu,
feline panleukopenia (feline distemper), feline rhinotracheitis, feline calicivirus,
feline infectious peritonitis, feline leukemia virus dan rabies.

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan

Tingkat pengetahuan pemilik kucing di Kota Bogor terhadap kesejahteraan


hewan sebagian besar berada dalam kategori tinggi (62%). Hasil observasi
mengenai kondisi kesehatan tubuh kucing secara keseluruhan dapat dikatakan
baik. Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan terhadap
kesejahteraan hewan dengan jumlah kucing peliharaan dan pemberian vaksin.
Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan terhadap
kesejahteraan hewan dengan manajeman pemeliharaan kucing.
12

Saran

Berdasarkan hasil penelitian, perlu dilakukan penelitian yang serupa


dengan melihat dari segi sikap dan perilaku responden tentang pemahamannya
terhadap kesejahteraan hewan. Perlu diadakannya kegiatan sosialisasi mengenai
pemahaman tentang kesejahteraan hewan tidak hanya pada hewan hewan
peliharaan terutama kucing melainkan pada seluruh hewan seperti hewan ternak
maupun hewan liar.

DAFTAR PUSTAKA

Aditya N. 2006. Keragaman Kucing (Felis domesticus) di Kecamatan Bogor


Tengah Berdasarkan Karakter Morfologi [skripsi]. Bogor (ID): Institut
Pertanian Bogor.
Alim MN, Hapsari T, Purwanti L. 2007. Pengaruh Kompetensi dan Independensi
Terhadap Kualitas Audit dengan Etika Auditor sebagai Variabel Moderasi.
Simposium Nasional Akuntansi X. Makassar (ID): Universitas Hasanudin.
Butterworth A, Mench JA, Wielebnowski, N. 2011. Practical Strategies to Assess
(and improve) Welfare. In MC Appleby, JA Mench, IAS Olsson, & BO Hughes
(Eds.), Animal welfare 2nd ed. Wallingford (UK): CABI.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2014. Kota Bogor dalam Angka 2014. [Internet].
[diunduh 4 Februari 2015]. Diakses dalam http://bogorkota.bps.go.id/publikasi/
kota-bogor-dalam-angka-2014.
Broom DM, Fraser AF. 2007. Domestic Animal Behaviour and Welfare, 4th
Edition. Wallingford (UK): CABI.
Broom DM. 2006. The evolution of morality. Appl. Anim. Behav. Sci. 100: 2028.
Estuningsih SE. 2014. Toxocariasis pada hewan dan bahayanya pada manusia.
JITV 19(3).
Hartuti RS, Adam M, Murina T. 2014. Kajian kesejahteraan kucing yang
dipelihara pada beberapa pet shop di Wilayah Bekasi, Jawa Barat. J Med Vet.
8(1): 3742.
Kartono. 2006. Perilaku Manusia. Jakarta (ID): ISBN.
Murniati. 2015. Prevalensi dan Faktor Risiko Infeksi Cacing Zoonotik pada
Kucing Peliharaan di Kota Bogor [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Nasikhah R, Roudhotun, Margawati A. 2012. Faktor Risiko Kejadian Stunting
pada Balita Usia 2436 Bulan di Kecamatan Semarang Timur [tesis].
Semarang (ID): Universitas Diponegoro.
[OIE] Office International des Epizooties. 2011. Terrestrial Animal Health Code,
Article 7.1.1. [diunduh 3 Maret 2015]. Diakses dalam www.oie.int/index.
php?id=169&L=0&htmfile=chapitre_1.7.1.htm.
[Pemerintah RI]. 2012. Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2012 tentang
Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan. Jakarta (ID):
Sekretariat Negara.
Rahmiati DU, Pribadi ES. 2014. Tingkat pendidikan dan status ekonomi pemilik
hewan kesayangan dalam hal pengetahuan dan penerapan kesejahteraan hewan.
J Vet. 15(3): 386394.
13

Rollin BE. 1999. An Introduction to Veterinary Ethics: Theory and Cases. Iowa
(US): Iowa State University Pr.
Sugiyono D. 2000. Metode Penelitian. Bandung (ID): CV Alvabeta.
Sumita CN. 2012. Penetapan Status Kesehatan Kucing Kampung (Felis
domesticus) melalui Pemeriksaan Leukosit [skripsi]. Bogor (ID): Institut
Pertanian Bogor.
Suwed MA, Napitupulu RM. 2012. Panduan Lengkap Kucing. Jakarta: Penebar
Swadaya.
Wenagama IW. 2013. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengeluaran rumah
tangga untuk hewan peliharaan; studi kasus di Kelurahan Padang Sambian. E-
journal EP Unud. 2(11): 525532.
Winarso A. 2008. Kajian Kesejahteraan Hewan Ternak dalam Ajaran Agama
Buddha, Hindu, Yahudi, Nasrani dan Islam [skripsi]. Bogor (ID): Institut
Pertanian Bogor.
[WSAVA] The World Small Animal Veterinary Association. 2013. Body
Condition Score. Global Nutrition Committee. wsava.org.
Yuliarti N. 2010. Hidup Sehat Bersama Kucing Kesayangan. Jakarta (ID):
Gramedia Pustaka Utama.
26

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Ambon pada tanggal 31 Juli 1994. Penulis adalah anak
pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Drh Haryono, MSi dan Ir Arina
Ronaria Siregar, MSi. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 4 Sragen
pada tahun 2005. Penulis melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Sragen dan lulus
pada tahun 2008. Sekolah Menengah Atas ditempuh di SMAN 4 Surakarta dan
lulus pada tahun 2011. Penulis diterima masuk Fakultas Kedokteran Hewan
Institut Pertanian Bogor melalui jalur SNMPTN Undangan tahun 2011.
Selama mengikuti pendidikan di Institut Pertanian Bogor, Penulis aktif di
Himpro Hewan Kesayangan Satwa Akuatik dan Eksotik, Badan Eksekutif
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan IPB selama dua tahun kepengurusan,
serta Paduan Suara Gita Klinika Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Penulis juga
pernah menjadi asisten praktikum Mata Kuliah Anatomi Veteriner II pada tahun
2013.