Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pelaksanaan upaya keselamatan an kesehatan kerja didunia usaha dan
dunia kerja idasarkan atas 3 alasan penting, yaitu hak asasi manusia (HAM)
untuk perlinungan pekerja, kewajiban pemberi kerja yang diatur dalam
peraturan perundang undangan, dan alasan ekonomi, yaitu untuk mencapai
sustainable develovment suatu organisasi. Keselamatan dan kesehatan kerja
(k3) merupakan salah satu upaya untuk mengelola hazard ditempat kerja agar
tercapai pekerja yang sehat, selamat, sejahtera, produktif dan kompetitif serta
organisasi yang sustain, melalui konsep manajemen terhadap risiko yang
ditimbulkan hazar ditempat kerja. Hazar atau factor risiko ditempat kerja dapat
berupa (1) hazard lingkungan, meliputi factor fisik, kimia, biologi,. (2) hazard
ergonomic , meliputi factor postur janggal, beban, urasi an frekuensnya. (3)
hazard somatic, meliputi factor antara lain antropometri, status kesehatan,
status kebugaran, ataupun penyakit. (4) hazard perilaku, meliputi antara lain
kebiasaan merokok, amakanan padat energy tinggi lemak kurang serat,
sedentary lifestyle (kurangnya aktivitas fisik). (5) hazard penggorganisasian
pekerja dan budaya kerja, berupa factor stress kerja.
Hazard dan risiko bila tidak dikendalikan dapat menurunkan kapasitas
kerja dan status kesehatan pekerja, kerena menimbulkan penyakit, PAK atau
luka akibat kecelakaan kerja. Konsep dasar manajemen risiko adalah upaya
mengendalikan risiko dilakukan untuk mencapai tujuan k3 berupa (1)
antisipasi, (2) rekognisi hazard, (3) evaluasi atau penilaian tingkat risiko dan
(4) control atau intervensi utnuk menghilangkan atau mereduksi risiko
ketingkat yang apat diterima.

1
Dalam rangka mengenal dan merekognisi hazard an risiko k3,
diperlukan analisis data. Epidemiologi yang selama ini banyak dianggap sulit
bahkan oleh para akademisi, kenyataan dilapangan sudah banyak
dimanfaatkan oleh praktisi keselamatan dan kesehata kerja dalam membantu
manajemen diperusahaan atau otoritas yang terkait dengan kegiatan k3. Hal ini
sejalan dengan kegiatan epidemiologi yaitu melihat besar masalah, menilai
hubungan sebab akibat, membaningkan kondisi sebelum an sesudah intervensi
dan melakukan evaluasi.
Aplikasi epidemiologi didunia usaha dan unia kerja berspektrum luas,
bisa dalam bentuk epidemiologi deskriptif yang sederhana sampai kepaa
epidemiologi analitiks yang kompleks.Dalam bentuk sederhana sperti
menghitung frekuensi distribusi kecelakaan kerja atau absensi sakit, analisis
trend dan dditeruskan dengan memberikan rekomendasi, untuk menetapkan
program perbaikan kecelakaan atau angka absensi.lebih lanjut praktisi k3
dapat bekerja sama dengan akademisi determinan penting terjainya gangguan
kesehatan atau kecelakaan kerja, untuk digunakan sebagai masukan dalam
perencanaan program k3. Dalam laporan ini, disajikan beberapa contoh
aplikasi epidemiologi deskriptif dan analitik dibidang keselamatan dan
kesehatan kerja, di dunia usaha dan dunia kerja baik formal maupun informal.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka bagaimanakah Aplikasi
Epidemiologi Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Di Dunia Usaha Dan Kerja
Di PT, Mitra Zivana Agung tahun 2016?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Aplikasi Epidemiologi Deskriptif


1. Evaluasi Absensi Sakit di PT.Mitra Zivana Agung 2014-2016
Absensi sakit adalah semua ketidahadiran dari pekerjaan yang
berhubungan dengan ketidakmampuan, kecuali karena kondisi hamil atau
melahirkan (Encyclopedia of occupational health and safety : 1998).
Kondisi tersebut menimbulkan berbagai macam kerugian, baik kerugian
langsung maupun tidak lansung.
Masa
Umur Jenis Kerj Kepuasan
No Nama Pekerjaan Status
(TH) Kelamin a Kerja
(TH)
1 Irwan 35 L Directur Utama Menikah 5 Puas
2 Ammuzamil 32 L Personalia Menikah 2 Puas
3 M. ramshes fil 28 L Operator mo Menikah 1 Puas
4 Rudi chandra 28 L Driver Menikah 3 puas
5 Andika 23 L Driver Menikah 2 puas
6 Zulfahendri 34 L Sprayer Menikah 4 puas
7 Warid B 25 L Helper Belum M 3 puas
8 Yuda prawira 24 L Driver Menikah 6 puas
9 Agustinus h 25 L Helper Belum M 5 puas
10 Bayu anggara 32 L Helper Belum M 3 puas
11 Andi perwira 26 L Helper Belum M 5 puas
12 Dennis b 27 L Helper Belum M 4 puas
13 Sem sahat 24 L Helper Menikah 3 puas
14 Luga H 35 L HSE Menikah 2 puas
15 Anton sujarwo 29 L Helper Menikah 6 Puas
16 Ijul sutarman 28 L Helper Belum M 5 Tidak puas
17 Mahrudin 22 L Helper Belum M 2 puas
18 Zulianto 37 L Helper Belum M 3 puas
19 Bagus wijaya 24 L Operator mo Belum M 5 Tidak puas
20 Sufrizal 25 L Operator mo Menikah 4 Puas
21 Andi setianto 29 L Operator mo Menikah 2 Puas
22 Arif effendi 30 L Operator mo Belum M 4 Tidak puas
23 Adi pangestu 30 L Driver Belum M 3 Puas
24 Herman 34 L Driver Belum M 5 Tidak puas
25 Wanda saputra 37 L Driver Menikah 7 Puas
26 Gasman hakim 26 L Operator sd Belum M 3 Puas
27 Wendra k 31 L Office boy Belum M 4 Tidak puas
28 Eki yulhendra 26 L Office boy Belum M 3 Puas

3
29 Doni L 25 L Office boy Menikah 1 Puas
30 Hengki A 26 L Office boy Menikah 1 Puas
Kerugian langsung yang timbul akibat absensi sakit :
a. Pengeluaran biaya pengobatan
Dari hasil wawancara yang dilakukan, apabila ada karyawan
yang sakit maka pihak perusahaan telah menyediakan asuransi yaitu
berupa BPJS ketenagakerjaan. Dan asuransi tersebut diberikan oleh
pihak perusahaan kepada setiap karyawan di PT. Mitra Zivana Agung
b. Gaji atau upah
Dari hasil wawancara yang dilakukan, apabila ada karyawan
yang sakit maka gaji ataupun upah tetap diberikan oleh perusahaan,
tanpa adanya pemotongan gaji atau upah.
c. Kompensasi biaya jam-jam absen
Dari hasil wawancara yang dilakukan, apabila ada karyawan
yang melakukan tugas diluar perusahaan, tetapi tugas tersebut masih
untuk perusahaan maka absensinya masih tetap hadir.
Kerugian tidak langsung yang timbul akibat absensi sakit:
a. Penurunan produktivitas
Dari hasil wawancara yang dilakukan, apabila adanya karyawan
yang sakit maka itu akan berdampak pada hasil produksi dari PT. Mitra
Zivana Agung, karena karyawan yang bekerja tidak seperti biasanya
b. Penurunan efektifitas terselesaikan pekerjaan
Dari hasil wawancara yang dilakukan, jika pekerja ada yang
sakit maka produktivitas dari perusahaan mengalami keterlambatan
waktu.
c. Peningkatan biaya lain(lembur, sub kontrak dll)
Dari hasil wawancara yang dilakukan, jika terdapat pekerja yan
sakit, maka pihak perusahaan tidak mempekerjakan pekerja tambahan
ataupun pekerja pengganti sementara.

4
d. Penurunan moral kerja
Dari hasil wawancara yang dilakukan, jika ada pekerja yang
sakit dan gaji atau upahnya masih tetap diberikan, dan tidak ada
kecemburuan social dari pekerja lainnya.
Absensi sakit disebabkan oleh beberapa factor risiko, seperti
kondisi individu dan kondisi geografis. Berikut keterangan lengkap
mengenai factor risiko absensi sakit :

Tabel 1.Faktor Risiko Absensi Sakit

Geografi Individu
Deerah Umur : 22 - 35 tahun
Iklim : Jenis kelamin : laki-laki
Iklim di PT. Mitra Zivana
Agung36C
Pelayan kesehatan Pekerjaan : driver dan helper, pembuat cairan aspal
System asuransi: Kepuasan kerja: dari hasil wawancara yang dilakulan,
System asuransi di Pt. mitra rata-rata seluruh karyawan yang bekerja di Pt. Mitra
zivana agung menggunakan Zivana Agung sudah puas dengan gaji atau upah yang
BPJS ketenagakerjaan. diperoleh.
Usia pensiun : Alcohol : seluruh karyawan di Pt.mitra zivana agung
Usia pensiun di Pt. mitra tidak ada yang mengkonsumsi alcohol.
zivana agung 60 tahun

Pelayanan kesehatan kerja harus mampu melekukan identifikasi,


analisis, evaluasi, maupun pengendalian risiko ayang berkaitan dengan
absensi sakit. Pengukuran absensi sakit disuatu tempet kerja, beberapa
parameter yang diperlukan antara lain:
a. Frekuensi rate, yaitu jumlah spell absensi dalam 1 periode (2016)
sebanyak 15 surat dibandingkan dengan jumlah pekerja sebanyak 30
pekerja. Formulasinya adalah sebagai berikut :
jumlah spell absensi dalam 1 periode
x 100
jumlah pekerja( populasi yang berisiko)

5
15 spell
x 100
30 pekerja

= 50
b. Severity rate
1) Durasi absensi sakit, yaitu rata-rata atau jumlah hari absen sakit
dalam periode waktu tertentu. Formulasinya adalah sebagai
berikut:
harihilang karenaabsensi sakit
x 100
( jam , harikerja totalx jumalh pekerja ) +lembur

6 hari
x 100
9 jam x 30 pekerja

= 2,2
2) Durasi spell, yaitu rata-rata lama atau jumlah hari absen sakit tiap
spell. Dan Formulasinya sebagai berikut:
jumlah hari hilang karena absensi sakit
jumlah spell absensi dalam 1 periode

3 hari
15 spell

= 0,2
Grafik distribusi frekuensi absen sakit berdasarkan beberapa
factor risiko di Pt.Mitra Zivana Agung 2014-2016
3) Durasi absensi sakit berdasarkan waktu

6
18
16
14
12
10
8 2016
6
2015
4
2 2014
0

4) Durasi absensi sakit berdasarkan umur

40
35
30
25
2016
20
2015
15
2014
10
5
0
22-26 27-32 33-37

5) Absensi sakit berdasarkan masa kerja

7
50
45
40
35
30 2016
25
2015
20
2014
15
10
5
0
1-3 tahun 4-6 tahun >6

6) Durasi absensi sakit berdasarkan jabatan

12
10
8
6
2014
4 2015
2 2016
0

7) Durasi berdasarkan status pernikahan

8
70
60
50
40 2016
30 2015
2014
20
10
0
Menikah Belum Menikah

8) Tingkat kepuasan kerja

100%

80%
2016
60%
2015
40% 2014

20%

0%
puas tidak puas

Kasus absensi sakit di PT.Mitra Zivana Agung 2014-2016 adalah


distribusi absensi sakitpaling banyak pada :
1) Bulan Juli 2014, 2015, 2016
2) Kelompok umur 22-26 tahun
3) Masa kerja 1-3 tahun
4) Jabatan driver dan helper
5) Kelompok pekerja yang sudah menikah

9
Sementara itu, saran yang dapat diberikan antara lain:
1) Dugaan penyakit akibat kerja di PT. Mitra Zivana Agung tahun 2016
Pada tahun 2016, bagian kesehatan PT.Mitra Zivana Agung menerima
laporan berupa penyakit akibat kerja seperti kelelahan dan nyeri
punggug bawah pada driver, operator.
a) Kelelahan dan nyeri punggung bawah yang dialami oleh pekerja
seperti driver dan operator karena terlalu lama duduk saat bekerja.
b) Kebiasaan minum alcohol tidak ditemukan pada pekerja di
Pt.Mitra Zivana Agung
c) Keberadaan bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan
cairan aspal ditempat kerja, dengan rincian sebagai berikut:
(1) 20 dari 30 pekerja meiliki risiko fungsi paru yang abnormal .
(2) Pejanan zat-zat kimia pada pekerja seperti anomat, alefine,
palefin pada pekerja pembuatan cairan aspal yang akan
berdampak pada kesehatan pekerja.

B. Aplikasi Epidemiologi analitik


1. Kajian Kontribusi Factor Genetic Dan Factor Lingkungan Terhadap
Penyakit Akibat Kerja
2. Analisis Trend Kecelakaan Kerja
Kejadian kecelakaan kerja diprediksi akan meningkat pada tahun
2020 dan menjadi peringkat ketiga penyebab kematian. Salah satu factor
risiko kejadian kecelakaan antara lain tidak digunakan alat pelindung diri
pada saat bekerja.
Penelitian ini bersifat semikuantitatif dengan desain penelitian
cross sectional. Populasinya adalah seluruh pekerja di PT. Mitra Zivana
Agung Sedangkan sampel dibatasi pada pekerja yang berusia 22-37 tahun.
Besar sampel yang digunakan adalah 93 orang.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

10
Epidemiologi dapat digunakan sebagai alat ilmiah yang sederhana dan
mampu menilai besar masalah, menentukan factor risiko yang dominan
terjadinya kecelakaan kerja ataupun penyakit akibat kerja, untuk menetapkan.
Dari hasil wawancara yang dilakukan, apabila ada karyawan yang sakit
maka pihak perusahaan telah menyediakan asuransi yaitu berupa BPJS
ketenagakerjaan. Dan asuransi tersebut diberikan oleh pihak perusahaan
kepada setiap karyawan di PT. Mitra Zivana Agung
Dari hasil wawancara yang dilakukan, apabila ada karyawan yang sakit
maka gaji ataupun upah tetap diberikan oleh perusahaan, tanpa adanya
pemotongan gaji atau upah.
Dari hasil wawancara yang dilakukan, apabila ada karyawan yang
melakukan tugas diluar perusahaan, tetapi tugas tersebut masih untuk
perusahaan maka absensinya masih tetap hadir.
Dari hasil wawancara yang dilakukan, apabila adanya karyawan yang
sakit maka itu akan berdampak pada hasil produksi dari PT. Mitra Zivana
Agung, karena karyawan yang bekerja tidak seperti biasanya
Dari hasil wawancara yang dilakukan, jika pekerja ada yang sakit maka
produktivitas dari perusahaan mengalami keterlambatan waktu.
Dari hasil wawancara yang dilakukan, jika terdapat pekerja yan sakit,
maka pihak perusahaan tidak mempekerjakan pekerja tambahan ataupun
pekerja pengganti sementara.
Dari hasil wawancara yang dilakukan, jika ada pekerja yang sakit dan
gaji atau upahnya masih tetap diberikan, dan tidak ada kecemburuan social
dari pekerja lainnya.
Dari hasil wawancara yang dilakulan, rata-rata seluruh karyawan yang
bekerja di Pt. Mitra Zivana Agung sudah puas dengan gaji atau upah yang
diperoleh.

11
B. Saran
1. Diharapkan penerapan dan pengawasan pemakaian APD sesuai potensi

bahaya ditempat kerja lebih ditingkatkan oleh fungsi APD terutama

pemakaian sarung tangan, sepatu boat dan masker pada area kerja dengan

intensitas zat kimia yang berpotensi menimbulkan gangguan pernafasan

pada pekerja.
2. Diharapkan agar melakukan perawatan pada rambu-rambu peringatan.

Khusus untuk rambu-rambu yang mengalami kerusakan atau tulisan yang

memudar hendaknya dapat diperbaiki atau diganti jika memungkinkan.


3. Diharapkan adanya peningkatan upaya promosi kesehatan pada pekerja

yang bekerja di area PT. Mitra Zivana Agung.

12