Anda di halaman 1dari 15

Bab V Hasil dan Pembahasan

Vitamin C adalah antiokidan, vitamin C dapat dioksidasi oleh Fe3+,


hal ini dapat dilihat dari nilai potensial reduksi vitamin C yang lebih
kecil dibandingkan dengan Fe3+ yaitu +0,116 volt sedangkan Fe 3+
+0,77 volt. Karena vitamin C mempunyai potensial reduksi yang
lebih kecil dibandingkan Fe3+ sehingga reaksi dapat berlangsung.
Penetapan kadar vitamin C didasarkan pada rekasi seperti persamaan
dibawah ini:
Reaksi :
Fe3+ + 6SCN- [Fe(SCN)6]3- ..................................................(1)
2Fe3+ + Vitamin C Vitamin C(teroksidasi) + 2Fe2+ ....................(2)

Fe3+(sisa)+ 6SCN- [Fe(SCN)6]3-

Pada percobaan dilakukan dengan dua tahap, tahap pertama pada


tabung reaksi 1 ditambahkan larutan Fe3+ , HNO3 dan KSCN, pada
tabung reaksi 2 yang telah berisi vitamin C ditambahkan larutan Fe3+
, HNO3 dan KSCN. Reaksi yang terjadi pada tabung reaksi 1 dapat
dilihat pada persamaan 1 dan reaksi yang terjadi pada tabung reaksi
2 dapat dilihat pada persamaan 2. Dimisalkan Fe3+ adalah m mol,
SCN- didesain berlebih sehingga akan menghasilkan m mol
[Fe(SCN)6]3- vitamin C yang bereaksi adalah b mol dan 2b adalah

2Fe3+ sisa. Dari persamaan ini maka dapat diturunkaan nilai A

berbanding lurus dengan vitamin C sesuai dengan persamaan


dibawah ini:

Fe3+ + 6SCN- [Fe(SCN)6]3- ..................................................(3)


25

m mol m mol
2Fe3+ + Vitamin C Vitamin C(teroksidasi) + 2Fe2+ ....................(4)
n mol

Fe3+(sisa)+ 6SCN- [Fe(SCN)6]3-


2n mol

A1= (kompleks).b.c (mol awal/Vt) = (kompleks).b. mol awal/Vt

A2= (kompleks).b.c (mol sisa/Vt) = (kompleks).b. mol sisa/Vt

A1= (kompleks).b. m/Vt

A2= (kompleks).b. m/Vt - (kompleks).b. 2n/Vt

A1-A2 = (kompleks).b. 2n/Vt

A = (kompleks).b. 2n/Vt

2n/Vt sama dengan konsentrasi vitamin C, maka

A = (kompleks).b. konsentrasi vitamin C

A ~ konsentrasi vitamin C ...................................................(5)


26

Penentuan panjang gelombang maksimum untuk pereaksi dilakukan


tanpa penambahan vitamin C. Sedangkan pada penentuan panjang
gelombang maksimum campuran antara pereaksi dan vitamin C
dilakukan dengan penambahan 1 ml vitamin C 100 g/mL. Kedua
uji tersebut menunjukan perubahan warna saat dilakukan
penambahan KSCN dari tidak berwarna menjadi merah jingga. Hal
ini disebabkan karena Fe (III) membentuk senyawa kompleks
dengan SCN-. Panjang gelombang maksimum untuk pereaksi sebesar
477,4 nm dengan serapan 0,702. Sedangkan untuk campuran
pereaksi dan vitamin C sebesar 476,8 nm dengan serapan 0,642. Hal
ini dapat terjadi karena konsentrasi Fe (III) berkurang akibat terjadi
reaksi antara Fe (III) dengan vitamin C.

Berikut adalah gambar spektrum pada penentuan panjang gelombang


maksimum:

Gambar V.1 Spektrum larutan Fe (III) dan KSCN suasana asam.


27

Gambar V.2 Spektrum larutan Fe (III), vitamin C, dan KSCN dalam


suasana asam.

Penentuan tahap penambahan asam dilakukan untuk mempersingkat


prosedur kerja sehingga didapatkan metode yang lebih singkat
pengerjaannya. Pada tahap penentuan Kurva Kalibrasi cara I,
perubahan warna yang dihasilkan tidak berwarna merah jingga,
warna yang dihasilkan dari NH 4Fe(SO4)2, Vitamin C dan KSCN
adalah warna kuning. Hal ini disebabkan karena tidak dilakukan
penambahan HNO3 sebagai pengasam, sedangkan reaksi
NH4Fe(SO4)2 dan KSCN dapat membentuk kompleks berwarna
merah jingga pada suasana asam. Hasil absorbansi yang didapatkan
nilainya kecil. Pada tahap penentuan Kurva Kalibrasi cara II, pada
penambahan NH4Fe(SO4)2 dan vitamin C tidak terjadi perubahan
warna, kemudian larutan tersebut diinkubasi selama 10 menit pada
suhu ruang, kemudian ditambahkan HNO3 dan KSCN terjadi
perubahan warna dari bening menjadi merah jingga. Hal ini
disebabkan karena NH4Fe(SO4)2 membentuk senyawa kompleks
28

dengan SCN-. Hasil absorbansi yang didapatkan baik semakin besar


konsentrasi vitamin C yang ditambahkan maka absorbansi yang
dihasilkan akan menurun hal ini disebabkan semakin besar
konsentrasi vitamin C yang ditambahkan maka semakin besar pula
konsentrasi NH4Fe(SO4)2 yang dibutuhkan sehingga absorbansi yang
dihasilkan menurun karena nilai absorbansi merupakan sisa
NH4Fe(SO4)2. Pada tahap penentuan Kurva Kalibrasi cara III, pada
pembuatan campuran NH4Fe(SO4)2 22 g/mL, KSCN 0,44 M dan
HNO3 0,528 M telah terjadi perubahan warna dari yang tadinya tidak
berwarna menjadi berwarna merah. Sehingga pada konsentrasi
NH4Fe(SO4)2 10 g/mL dan pada penambahan vitamin C 3, 5, dan 10
g/mL warna yang dihasilkan tidak jauh berbeda dan menyebabkan
nilai absorbansi yang terlalu besar. Hal ini menyebabkan kesalahan
pada saat pengukuran sehingga didapatkan hasil absorbansi yang
tidak jauh berbeda pada konsentrasi vitamin C 3, 5, dan 10 g/mL
yang ditambahkan. Pada Pada tahap penentuan Kurva Kalibrasi cara
IV, pada pembuatan campuran KSCN 0,44 M dan HNO 3 0,528 M
telah terjadi perubahan warna dari yang tadinya tidak berwarna
menjadi berwarna merah ini dapat terjadi karena HNO 3 telah bereaksi
dengan KSCN. Sehingga pada saat campuran vitamin C dan
NH4Fe(SO4)2 ditambahkan campuran HNO3 dan KSCN warna yang
terbentuk pada berbagai macam konsentrasi vitamin C tidak jauh
berbeda. Hal ini menyebabkan kesalahan pada saat pengukuran
sehingga didapatkan hasil absorbansi yang tidak jauh berbeda pada
berbagai konsentrasi vitamin C yang ditambahkan. tahap penentuan
Kurva Kalibrasi cara V, pada pembuatan campuran NH4Fe(SO4)2 dan
HNO3 tidak terjadi perubahan warna. Kemudian campuran
29

NH4Fe(SO4)2 dan HNO3 ditambahkan ke dalam tabung reaksi yang


telah berisi vitamin C dan tidak terjadi perubahan warna, kemudian
larutan tersebut diinkubasi selama 10 menit pada suhu ruang,
kemudian ditambahkan KSCN terjadi perubahan warna dari bening
menjadi merah jingga. Hal ini disebabkan karena NH 4Fe(SO4)2
-
membentuk senyawa kompleks dengan SCN . Hasil absorbansi yang
didapatkan baik semakin besar konsentrasi vitamin C yang
ditambahkan maka absorbansi yang dihasilkan akan menurun. Hasil
dari kurva kalibrasi tidak memberikan nilai yang baik karena pada
konsentarsi vitamin C 20, 25 dan 30 g/mL tidak terbentuk
kompleks warna, hal ini disebabkan karena pada penambahan
konsentrasi vitamin C 20, 25 dan 30 g/mL konsentrasi vitamin C
terlalu tinggi.

Tabel V.1
Hasil Penentuan Tahap Penambahan Asam

Vitamin Abs
C g/ml Cara I Cara II Cara III Cara IV Cara V
1 0,640 -0,005 - -0,024 -
3 - - 0,000 - 0,200
5 0,653 0,020 0,000 -0,021 0,335
10 0,657 0,371 0,000 -0,028 0,643
15 0,658 0,604 3,984 -0,003 0,943
20 0,660 0,618 4,021 -0,012 1,105
25 0,662 0,618 4,029 -0,016 1,111
30 0,664 0,618 4,026 0,509 1,112

Pada penentuan waktu inkubasi I dan II dilakukan dengan cara


memvariasikan waktu inkubasi pada beberapa waktu yaitu 1, 5, 10,
15 dan 20 menit. Waktu reaksi I dan II mulai stabil setelah diinkubasi
30

selama 10 menit. Hal ini disebabkan karena reaksi antara Larutan Fe


(III), vitamin C, HNO3 dan KSCN berlangsung cepat.

1
0.8
0.6
A 0.4

0.2
0
0 5 10 15 20 25
Waktu (menit)

Gambar V.3 Penentuan waktu inkubasi I.

1
0.8
0.6
A 0.4

0.2
0
0 5 10 15 20 25
Waktu (menit)

Gambar V.4 Penentuan waktu inkubasi II.


31

Pada penentuan spesifitas dilakukan dengan cara membandingkan


antara nilai absorbasi standar dengan nilai absorbansi standar yang
ditambahkan placebo. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai persen
bias yaitu 1,65%. Dari hasil uji selektifitas diperoleh data yang
memenuhi persyaratan karena memiliki nilai < 2%. Berikut adalah
data perhitungan spesifitas:

Tabel V.2
Hasil Penentuan Spesifitas

Absorbansi % Bias

Standar dan Placebo 0,463


1,65
Standar 0,456

Penentuan uji linieritas dilakukan dengan cara memvariasikan kadar


vitamin C. 1 ml sampel vitamin C dengan konsentrasi 2, 4, 6, 8, 10,
12 dan 14 g/mL. Masing-masing ditambahkan 5 ml Pereaksi 1
ditambahkan ke dalam tabung reaksi yang telah berisi vitamin C dan
tidak terjadi perubahan warna, kemudian larutan tersebut diinkubasi
selama 10 menit pada suhu ruang, kemudian ditambahkan KSCN
terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah jingga larutan
tersebut diinkubasi selama 10 menit pada suhu ruang. Hal ini
disebabkan karena NH4Fe(SO4)2 membentuk senyawa kompleks
-
dengan SCN . Hasil absorbansi yang didapatkan menunjukan
semakin besar konsentrasi vitamin C yang ditambahkan maka
absorbansi yang dihasilkan akan menurun. Dari data didapatkan nilai
32

absorbansi berada pada rentang linier yang diperkenankan yaitu


y=0,071x-0,120 dengan nilai regresi linier 0,998. Daerah ini
memiliki regresi linier yang lebih tinggi dari regresi linier yang
ditetapkan yaitu R 0,995 pada kelayakan suatu metode analisis.
Pada rentang linier ini menunjukkan bahwa y=0,071x-0,120 adalah
daerah respon linier suatu validasi metode penetapan kadar senyawa
dalam suatu analit.

Tabel V.3
Hasil Penentuan Uji Linieritas

Sampel (g/mL) Absorbansi

2 0,030

4 0,157

6 0,291

8 0,459

10 0,601

12 0,726

14 0,876
33

1
0.8
0.6
Absorban 0.4
0.2
0
0 2 4 6 8 10 12 14 16
Konsentrasi (ppm)

Gambar V.5 Penentuan uji linieritas.

Pada penentuan batas deteksi dan batas kuantisasi ditetapkan secara


tidak langsung. Dari persamaan linier vitamin C yaitu y=0,071x-0,12
dapat dicari batas deteksi maupun batas kuantisasinya. Dimana batas
deteksi merupakan konsentrasi analit terendah yang mampu
menghasilkan absorbansi cukup besar sehingga mampu terdeteksi
dan dapat dibedakan dengan absorbansi blangko. Batas kuantisasi
merupakan konsentrasi analit yang menghasilkan absorbansi lebih
besar dari blangko atau jumlah terkecil analit dalam sampel yang
masih memenuhi kriteria cermat dan seksama dan dapat
dikuantifikasi dengan akurasi dan presisi yang baik. Dari hasil
perhitungan secara statistik diperoleh nilai batas deteksi 0,47 g/mL
dan batas kuantisasi adalah 1,57 g/mL.
34

Tabel V.4
Perhitungan Batas Deteksi dan Batas Kuantisasi

Konsentrasi Vitamin C

x y y' y-y' (y-y')

2 0,030 0,022 0,008 0,000064

4 0,157 0,164 -0,007 0,000049

6 0,291 0,306 -0,015 0,000225

8 0,459 0,448 0,011 0,000121

10 0,601 0,590 0,011 0,000121

12 0,726 0,732 -0,006 0,000036

14 0,876 0,874 0,002 0,000004

SUM 0,00062

s(y/x)2 0,000124
35

s(y/x) 0,0111

BD 0,47

BK 1,57

sox 0,1568

vox 1,96

Keterangan: x= Konsentrasi deret standar y= absorbansi

Pada penentuan uji perolehan kembali dilakukan dengan membuat


sampel simulasi konsentrasi 80%, 100% dan 120%. Dari hasil yang
diperoleh nilai perolehan kembali masih memenuhi persyaratan yang
telah ditetapkan.
Tabel V.5
Hasil Penentuan Uji Akurasi

Kadar Terukur
Konsentrasi Abs % Recovery x Sd
(mg/tab)

0,364 39,86 99,64


80% 100,92
(40 mg/tab) 0,370 40,57 101,43 1,12
0,371 40,68 101,70

100% 0,463 50,77 101,54 101,35


(50 mg/tab)
0,465 50,93 101,86 0,62
36

0,459 50,33 100,66

0,548 60,03 100,05


120% 100,33
0,545 59,76 99,60
(60 mg/tab) 0,90
0,555 60,80 101,33

Rata-rata 100,87
Standar Deviasi 0,9004

Koevisien Variasi 0,8926

Hasil yang didapat dari penentuan uji presisi diperoleh nilai


simpangan baku adalah 0,7859 dan koevisien variasi 1,57 hasil yang
diperoleh tersebut memenuhi standar yang telah ditetapkan yaitu
nilai Koevisien Variasi 2%.

Tabel V.6
Hasil Penentuan Uji Presisi

Presisi Hari
Presisi Hari Ke-2
Ke-1

Kadar Kadar
Sampel Abs Abs
(mg/Tab) (mg/Tab)
37

1. 0,465 50,99 0,465 50,93

2. 0,453 49,62 0,448 49,12

3. 0,449 49,23 0,450 49,29

4. 0,460 50,38 0,463 50,77

5. 0,463 50,77 0,464 50,88

6. 0,465 50,93 0,452 49,56

7. 0,451 49,40 0,462 50,60

8. 0,464 50,88 0,461 50,55

9. 0,448 49,07 0,450 49,34

10. 0,464 50,82 0,447 49,01

Rata-rata 0,46 50,21 0,46 50,01

Simpangan Baku 0,0072 0,7859 0,0073 0,8005

Koevisien Variasi 1,57 1,57 1,60 1,60

Penentuan kadar vitamin C hasil yang ditetapkan


memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan
yaitu 90-110 %.

Tabel V.7
Hasil Penentuan Kadar Sampel
38

Kandungan Vitamin C pertablet Kadar


Sampel Abs
(mg/tablet) (%)

1 0,474 51,18 102,37

2 0,475 51,64 103,28

3 0,499 52,21 104,42