Anda di halaman 1dari 8

D.

Hasil Pengamatan dan Pembahasan


1. Hasil Pengamatan
Tabel 3.1 Pengaruh BAP terhadap Pertumbuhan dan
Perkembangan Eksplan Markisa (Passiflora quadrangularis)
Tangga Saat muncul (HST) Jumlah
l Keteranga
Penga Ak Tun Da Ka Ak Tu Da n
matan ar as un lus ar nas un
4 April
- - - - - - - Kering
2016
11
April - - - - - - - Kering
2016
Sumber: Hasil Pengamatan

Gambar a Gambar b

Gambar 3.1 (a) Hasil awal penanaman eksplan markisa, (b)


Hasil akhir penanaman eksplan markisa
Tabel 3.2 Pengaruh BAP terhadap Pertumbuhan dan
Perkembangan Eksplan Nanas (Ananas comosus)

Keteranga
Tanggal Saat muncul (HST) Jumlah
n
Pengam
Ak Tun Da Ka Ak Tu Da
atan
ar as un lus ar nas un
5 April Kontamina
- - - - - - -
2016 si
12 April Kontamina
- - - - - - -
2016 si
Sumber: Hasil Pengamatan

Gambar a Gambar b

Gambar 3.2 (a) Hasil awal penanaman eksplan nanas, (b)


Hasil akhir penanaman eksplan nanas
2. Pembahasan
Kultur meristem (meristem culture) adalah kultur
jaringan tanaman dengan menggunakan eksplan berupa
jaringan-jaringan meristematik. Jaringan meristem yang
digunakan dapat berupa meristem pucuk terminal atau
meristem tunas aksilar. Dalam kultur meristem,
perkembangan diarahkan untuk mendapatkan tanaman
sempurna dari jaringan meristem tersebut dan dapat
sekaligus diperbanyak. Kultur meristem, sudah secara luas
diterapkan untuk tujuan perbanyakan tanaman, terutama
pada tanaman hortikultura. Sel-sel meristem pada
umumnya stabil, karena mitosis pada sel-sel meristem
terjadi bersama mericloneengan pembelahan sel yang
berkesinambungan, sehingga ekstra duplikasi DNA dapat
dihindarkan. Hal ini menyebabkan tanaman yang
dihasilkan identik dengan tanaman donornya. Berikut akan
dijelaskan alasan kultur meristem dilakukan pada
beberapa jenis tanaman
Syarat-syarat eksplan yang digunakan untuk kultur
meristem yaitu jaringan pada eksplan tersebut sedang
aktif pertumbuhannya diharapkan masih terdapat zat
tumbuh yang masih aktif sehingga membantu
perkembangan jaringan selanjutnya, eksplan yang diambil
berasal dari bagian daun, akar, mata tunas, kuncup, ujung
batang, dan umbi yang dijaga kelestariannya, dan eksplan
yang diambil dari bagian yang masih muda. Indikator
keberhasilan dari kultur meristem dapat dilihat pada
media kultur, misalkan medianya tidak cocok maka
eksplan tidak dapat membentuk kalus dan bahkan
mungkin dapat membentuk suatu jamur yang dapat
diartikan terjadi kontaminasi. Keberhasilan penggunaan
metode in vitro sangat tergantung pada jenis media
tumbuh.
Propagasi kultur meristem dapat berupa tunas atau
cabang aksiler berupa tunas batang. Pengambilan tunas
tanaman yang akan dikulturkan harus melebihi yang akan
dikulturkan agar ketika pengirisan eksplan tidak terlalu
kecil yang menyebabkan eksplan yang digunakan tidak
terlalu kecil dan tunas yang digunakan dalam keadaan
muda. Keberhasilan kultur meristem tergantung pada
beberapa faktor, diantaranya media kultur, keadaan
fisiologis eksplan dan lingkungan fisik tumbuh. Sering
terjadi bahwa jaringan meristem yang ditanam tidak
menunjukkan proses morfogenesis, hal ini disebabkan sel-
sel dari eksplan tidak mengadakan pembelahan dan
berdiferensiasi. Ukuran yang terlalu kecil akan kurang
daya tahannya bila dikulturkan, sementara bila terlalu
besar akan sulit untuk mendapatkan eksplan yang steril.
Setiap jenis tanaman maupun organ memiliki ukuran
eksplan yang optimal untuk dikulturkan. Keberhasilan
penggandaan tunas melalui kultur meristem sangat
tergantung pada keseimbangan ZPT auksin dan sitokinin,
terutama keseimbangan antara 6-Benzilamino Purin (BAP)
dan Asam Naftalen Asetat (NAA).
Kultur meristem mempunyai kelebihan yaitu
kemungkinan besar bebas dari pathogen internal
(misalnya untuk eradikasi virus) dan meminimalisasi
terjadinya variasi kimera pada kultur. Kultur meristem juga
mempunyai kelemahan yaitu sangat rentan terhadap
kerusakan dan memerlukan pengerjaan yang sangat detil
atau teliti di bawah mikroskop. Persyaratan kultur sama
dengan eksplan yang lebih besar, hanya ketidakberhasilan
kultur awal mungkin cukup tinggi. Menurut Suaib et al.
(2014) kelemahan kultur sel meristem antara lain yaitu
jumlah sel meristem satu pohon sumber eksplan lebih
sedikit, tidak memperbaiki sifat mewarisi pada tanaman,
dan berpeluang menghasilkan individu baru tanaman yang
memiliki sifat inferior karena fenomena variasi somaklon.
BAP adalah ZPT sintetik yang berperan dalam
pembelahan sel dan morfogenesis. BAP merupakan ZPT
golongan sitokinin yang dapat mendorong pembentukan
tunas adventif. Konsentrasi BAP yang optimal untuk
memacu pertumbuhan tanaman bervariasi dan tergantung
jenis tanaman. Banyak jumlah tunas yang terbentuk
karena tercapainya antara zat pengatur tumbuh eksogen
dengan eksplan untuk merangsang pemunculan tunas-
tunas baru, karena untuk menghasilkan tunas dalam
jumlah banyak eksplan yang dikulturkan juga berasal dari
tunas sehingga eksplan yang digunakan lebih aktif
merespon zat pengatur tumbuh. Pemberian BAP
memberikan respon yang baik terhadap pertumbuhan
eksplan dan persentase pembentukan kalus, namun dalam
praktikum kali ini pengaruh BAP tidak dapat diamati
karena eksplan mengalami kontaminasi.
Keberhasilan dalam kultur jaringan sangat
ditentukan oleh medium yang digunakan. Media yang
digunakan untuk perbanyakan klonal pisang ini umumnya
adalah media MS. Untuk merangsang pertumbuhan tunas
pada eksplan, zat pengatur tumbuhumumnya
ditambahkan kedalam media kultur. Sitokinin BAP (Benzil
Amino Purin) umumnya digunakan pada kisaran
konsentrasi 3-6 ppm tergantung varietas, dengan atau
tanpa kombinasi dengan auksin. Keasaman media
umumnya adalah 5,5 sampai 6. Inisiasi merupakan proses
awal dalam kegiatan kultur jaringan sehingga akan
menjadi penentu keberhasilan kultur. Proses pertama
dalam inisias iadalah pengambilan eksplan atau bahan
kultur dari lapangan, kemudian dilanjutkan dengan
kegiatan sterilisasi eksplan.
Kontaminasi dari eksplanlah yang paling sulit diatasi,
walaupun sterilisasi telah dilakukan dengan berbagai cara,
namun kadang-kadang kontaminasi tetap saja terjadi. Cara
penanggulangannya dilakukan perlakuan pada tanaman
yang akan dijadikan sebagai sumber eksplan dengan
mencuci eksplan pada larutan fungisida dan bakterisida.
Untuk menanggulangi kontaminasi setelah eksplan
dikulturkan maka dilakukan pemeliharaan secara dengan
melakukan penyemprotan spirtus ataupun alkohol pada
permukaan botol kultur dua hari sekali
Praktikum kali ini mengkulturkan tanaman markisa
dan nanas, kedua eksplan tidak dapat tumbuh. Eksplan
markisa tidak mengalami kontaminasi ini berarti proses
sterilisasi berlangsung dengan baik, tetapi eksplan
markisa tidak tumbuh. Eksplan markisa menjadi kering,
berwarna kecoklatan hal ini bisa disebabkan pada proses
sterilisasi terlalu lama, seperti pada saat melewatinya
dengan api terlalu lama. Tanaman nanas mengalami
kontaminasi sehingga tidak dapat tumbuh. Kontaminasi
dari jamur terlihat dengan adanya pembentukan hifa
jamur yang berkoloni di permukaan eksplan. Kontaminasi
pada media dan eksplan terjadi karena adanya jamur
ataupun bakteri yang tidak mati pada saat sterilisasi
media maupun yang masuk dalam media pada saat proses
penanaman, atau saat pemeliharaan. Media atau eksplan
yang terkontaminasi oleh jamur maka akan terdapat jamur
yang berwarna putih yang akan terus tumbuh menutupi
botol kultur sehingga dapat menyebabkan kematian pada
eksplan.
Terjadinya kontaminasi pada tanaman nanas
tersebut dapat disebabkan akibat dari proses sterilisasi
terhadap bahan dan alat-alat tanam yang dilakukan belum
sempurna. Sterilisasi yang dilakukan belum cukup untuk
mengeliminasi kontaminan yang terbawa saat mentransfer
eksplan ke media kultur. Kontaminasi juga terjadi sebagai
akibat penggunaan alat-alat kultur yang belum
tersterilisasi secara sempurna. Keterampilan pelaksana
dalam melakukan kegiatan kultur juga menyebabkan
besarnya kontaminasi yang terjadi. Kontaminasi pada
media kultur terutama terjadi akibat adanya tetesan air
(uap air) yang terbentuk selama proses kultur, hal ini
dapat terjadi sebagai akibat proses respirasi dari sel-sel
pada jaringan eksplan serta penguapan dari hasil
sterilisasi dengan menggunakan autoclave pada suhu
tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan pembusukan
jaringan eksplan, hal ini terbukti dengan ditemukannya
jamur. Pengkultur juga memiliki peran yang besar dalam
terjadinya kontaminasi dan lingkungan pengkulturan yang
digunakan juga sangat mempengaruhi.
E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Praktikum acara III Kultur Meristem memiliki
kesimpulan sebagai berikut:
a. Kultur meristem (meristem culture) adalah kultur
jaringan tanaman dengan menggunakan eksplan yang
berupa jaringan meristematik.
b. Propagasi kultur meristem dapat berupa tunas atau
cabang aksiler berupa tunas batang.
c. Keberhasilan kultur meristem tergantung pada
beberapa faktor, diantaranya media kultur, keadaan
fisiologis eksplan dan lingkungan fisik tumbuh.
d. Kultur meristem tunas markisa mengalami kegagalan
dengan keringnya eksplan, dan nanas mengalami
kontaminasi jamur.
e. Tanaman markisa kering dan tidak tumbuh bisa
disebabkan karena proses sterilisasi yang terlalu lama.
f. Terjadinya kontaminasi pada tanaman nanas tersebut
dapat disebabkan akibat dari proses sterilisasi terhadap
bahan dan alat-alat tanam yang dilakukan belum
sempurna.
2. Saran
Saran untuk praktikum acara III Kultur Meristem
adalah pengamatan sebaiknya dilakukan setiap hari agar
mendapatkan hasil yang optimal. Sterilisasi alat, bahan
dan kebersihan laboratorium perlu diperhatikan untuk
mencegah kontaminasi. Praktikan sebagai pengkultur
sebaiknya lebih menjaga kesterilan alat maupun
lingkungan dan juga kegiatan selama proses kultur
jaringan untuk mencegah resiko kontaminasi.

Anda mungkin juga menyukai