Anda di halaman 1dari 15

1

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PARAPARESE

A. Konsep Teori

1. Defenisi

Paraparese adalah kelemahan otot kedua ekstremitas bawah pada fungsi motoric dan
sensorik pada segmen torakal, lumbal atau sacral medulla spinalis (Smeltzer & Bare,
2002).
Paraplegia adalah cedera saraf tulang belakang yang disebabkan karena kecelakaan yang
merusak sensorik dan fungsi motorik di bagian tubuh. Paraplegia mengalami kelumpuhan
pada kedua tungkai kaki dan mati rasa pada bagian perut hingga ujung kaki akibat cedera
pada sumsum tulang belakang. Para penderita paraplegia juga memiiki masalah lain
seperti impotensia, BAK, BAB, selain itu emosional, depresi, dan stres karena mereka
tidak bisa berjalan lagi.

Perbedaan kuadraplegi, paraplegia, tetraplegia, paralisis dan parese (Smeltzer & Bare,
2002), (Kowalak, 2011).
a. Kuadriplegik mengacu pada kehilangan gerakan dan sensasi pada keempat
ekstremitas dan badan yang dikaitkan dengan cedera pada medulla spinalis
cervikalis.
b. Paraplegia mengacu pada kehilangan gerak dan sensasi ekstremitas bawah dan semua
atau sebagian badan sebagai akibat cedera pada torakal, lumbal atau sacral.
c. Paralisis merupakan hilangnya kekuatan untuk memindahkan tubuh berhubungan
dengan injury atau penyakit pada syaraf yang mengatur otot dalam melakukan
perpindahan tubuh.
d. Plegia yaitu kehilangan kekuatan.
e. Paresis yaitu kelemahan yang berarti pada otot yang terkena.
f. Paraparese yaitu kelemahan tonus otot pada ekstremitas bawah.
g. Tetraparese yaitu kelemahan tonus otot yang melibatkan salah satu segmen servikal
medulla spinalis dengan disfungsi kedua lengan dan kedua kaki.

2. Etiologi

Penyebab paraparese menurut Smeltzer & Bare (2002) adalah sebagai berikut:
a. Faktor trauma tulang belakang, paling banyak terjadi karena jatuh dari ketinggian.
b. Faktor infeksi myelin
2

c. Tumor atau neoplasma pada medulla spinalis


d. Abses tuberculosa
e. Spina bifida thoracoumbal
f. Proses degenerasi medulla spinalis.

3. Klasifikasi

a. Paraparese spastik: terjadi karena kerusakan yang mengenai upper motor neuron
(UMN) sehingga menyebabkan peningkatan tonus otot atau hipertonus.
b. Paraparese flaksid terjadi karena kerusakan yang mengenai lower motor neuron
(LMN) sehingga menyebabkan penurunan tonus otot atau hypotonus.

Gambar 1: Medulla spinalis

4. Patogenesis dan Gejala Klinis


3

Lesi yang terjadi pada medulla spinalis dapat menimbulkan gejala klinis:
a. Gangguan fungsi motoric
1) Lesi pada medulla spinalis merusak kornu anterior medulla spinalis sehingga
menimbulkan kelumpuhan LMN pada otot-otot yang dipersyarafi oleh
kelompok motoneuron ynag terkena lesi dan menyebabkan nyeri punggung
yang terjadi secara tiba-tiba.
2) Gangguan motoric dibawah lesi: dapat terjadi kelumpuhan UMN karena jaras
kortikospinal lateral segmen thorakal terputus. Gerakan reflex tertentu yang
tidak dikendalikan oleh otak akan tetap utuh atau bahkan meningkat.
Misalnya, reflex lutut tetap ada dan bahkan meningkat. Meningkatnya reflex
ini menyebabkan kejang tungkai. Reflex yang tetap dipertahankan
menyebabkan otot yang terkena menjadi memendek sehingga terjadi
kelumpuhan jenis spastik. Otot yang spastik teraba kencang dan keras dan
sering mengalami kedutan.
b. Gangguan fungsi sensorik
Karena lesi total juga merusak kornu posterior medulla spinalis maka akan terjadi
penurunan atau hilang fungsi sensitabilitas di bawah lesi. Penderita tidak dapat
merasakan adanya rangsangan taktil, rangsang nyeri, rangsang thermal.
c. Gangguan fungsi autonomy karena terputusnya jaras ascenden spinothalamicus
maka penderita kehilangan kontrol vesika urinaria dan kehilangan kontrol saat
defekasi (disfungsi kandung kemoh dan usus).

5. Komplikasi

a. Gangguan penghubung dari lokasi pusat hambatan yang lebih tinggi di otak.
b. Infeksi dan sepsis dari berbagai sumber meliputi saluran kemih, saluran
pernapasan dan decubitus.

6. Penatalaksanaan

a. Penanganan awal cedera medulla spinalis, yaitu:


1) Mempertahankan usaha bernapas
2) Mencegah syok
3) Imobilisasi leher (neck collar dan long spine board)
4

4) Selain itu, fokus selanjutnya adalah mempertahankan tekanan darah dan pernapasan,
stabilisasi leher, mencegah komplikasi (retensi urine atau alvi, komplikasi
kardiovascular atau respiratorik, dan thrombosis vena-vena profunda)
b. Penanganan lanjut trauma medulla spinalis dapat dilakukan dengan:
1) Farmakoterapi
Pemberian kortikosteroid dosis tinggi, khususnya metilprednisolon, telah ditemukan
unruk memperbaiki prognosis dan mengurangi kecacatan bila diberikan dalam 8 jam
cedera.
2) Hipotermia
Teknik pendinginan atau penyebaran hipotermia ke daerah cedera dari medulla
spinalis, untuk mengatasi kekuatan autodestruktif yang mengikuti tipe cedera ini, cara
ini keefektifannya masih diselidiki.
3) Tindakan pernapasan
Oksigen diberikan untuk mempertahankan PO2 arteri tinggi, karena anoksemia dapat
menimbulkan atau memperburuk deficit neurologic medulla spinalis. Intubasi
endotrakea diberikan bila perlu, perawatan ekstrem dilakukan untuk menghindari
fleksi atau ekstensi leher, yang dapat menimbulkan tekanan pada cidera servikal
diaphragma pacing (stimulasi listrik terhadap saraf frenik) dapat dipertimbangkan
unituk pasien dengan lesi servikal tinggi tetapi biasanya dilakukan setelah fase akut.
4) Traksi dan Reduksi skelet
Penatalaksanaan cidera medulla spinalis memerlukan imobilisasi dan reduksi dislokasi
(memperbaiki posisi normal) dan stabilisasi kolum vertebra.
5) Fraktur servikal dikurangi dan spinal servikal disejajarkan dengan beberapa bentuk
traksi seklet seperti tong seklet atau callipers, atau dengan menggunakan alat halo.
6) Intervensi pembedahan, pembedahan diindikasikan bila :
a) Deformitas pasien tidak dapat dikurangi dengan traksi
b) Tidak ada kestabilan tulang servikal
c) Cedera terjadi pada daerah toraks atau lumbal
d) Status neurologic pasien memburuk.
Pembedahan dilakukan untuk mengurangi fraktur spinal atau dislokasi atau
dekompresi medulla. Laminektomi (eksisi cabang posterior dan prossesus spinosus
vertebra) diindikasikan pada adanya defisit neurologic progresif, dicurigai adanya
hematoma epidural, atau cedera penetrasi yang memerlukan debridemen pembedahan,
atau memungkinkan visualisasi langsung dan eksplorasi medulla.
Penderita menghadapi ketidakmampuan fisik sepanjang hidup sehingga memerlukan
tindak lanjut dan perawatan terus menerus dari professional kesehatan seperti psikiatris,
perawat rehabilitasi, ahli terapi okupasi.
5

7. Pemeriksaan Penunjang

a. Laboratorium
b. Hematologi
1) Hemoglobin dapat menurun karena destruksi sum-sum tulang vertebra atau
perdarahan. Peningkatan leukosit menandakan selain adanya infeksi juga karena
kematian jaringan.
2) Kimia klinik: fungsi pembekuan darah sebelum terapi antikoagulan.
3) Juga dapat terjadi gangguan elektrolit karena terjadi gangguan dalam fungsi
perkemihan dan fungsi gastrointestinal.
4) Radiognostik
5) CT Scan untuk melihat adanya edema, hematoma, iskemia dan infark
6) MRI menunjukkan daerah yang mengalami fraktur, infark hemoragik.
7) Rontgen menunjukkan daerah yang mengalami fraktur dan kelainan tulang.

8. PATHWAY

Trauma medulla spinalis, infeksi


myelin, trauma medulla spinalis

Lesi mendesak medulla spinalis

Merusak daerah jaras kortikospinalis


lateral

Kelumpuhan UMN pada otot-otot bagian tubuh


yang terletak dibawah tingkat lesi

T2-T4: kelumpuhan anggota gerak bawah, hilangnya rasa pada kedua putting susu
T5-T8: kelumpuhan pada anggota gerak bagian bawah dan kehilangan rasa pada daerah tulang dada
T9-T11: Kelumpuhan pada kaki dan kehilangan rasa pada daerah umbilicus
T12-L1: Kelumpuhan pada daerah dibawah paha
L2-L5: kelumpuhan pada keldua kaki
S1-S2: Kelumpuhan pada kedua kaki
S3-S5: Kehilangan kontrol pada kandung kemih dan usus. Kehilangan sensasi pada daerah
perineum
6

Hambatan mobilitas fisik


Retensi urin
Konstipasi
Disfungsi seksual
Kerusakan Integritas Kulit
Ketidakefektifan koping

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN
a. Pengkajian
1) Biodata Pasien dan Penanggung Jawab Pasien
2) Keluhan Utama
Biasanya didapatkan laporan kelemahan dan kelumpuhan ekstremitas, inkontinensia
defekasi dan berkemih
3) Riwayat penyakit saat ini
Biasanya terjadi riwayat trauma, pengkajian yang didapat meliputi hilanya sensibilitas,
paralisis, ileus paralitik, retensi urine, hilangnya refleks
4) Riwayat penyakit sebelumnya
Adanya riwayat infeksi, tumor, cedera tulang belakang, DM, jantung, anemia, obat
antikoagulan, alkohol.
5) Riwayat Keluarga
Riwayat kelurga dengan penyakit yang sama.
6) Pola fungsional kesehatan
a) Aktifitas / Istirahat
Kelumpuhan otot (terjadi kelemahan selama syok pada bawah lesi. Kelemahan
umum /kelemahan otot (trauma dan adanya kompresi saraf).
b) Sirkulasi
Hipotensi, Hipotensi postural, bradikardi, ekstremitas dingin dan pucat.
c) Eliminasi
Retensi urine, distensi abdomen, peristaltik usus hilang, melena, emesis berwarna
seperti kopi tanah /hematemesis.
d) Integritas Ego
Takut, cemas, gelisah, menarik diri.
e) Makanan /cairan
f) Mengalami distensi abdomen, peristaltik usus hilang (ileus paralitik)
g) Higiene
Sangat ketergantungan dalam melakukan aktifitas sehari-hari (bervariasi)
7

h) Neurosensori
Kesadaran: GCS
Fungsi motorik: Kelumpuhan, kelemahan
Fungsi sensorik: Kehilangan sensasi / sensibilitas.
Refleks fisiologis: Kehilangan refleks /refleks asimetris termasuk tendon dalam.
Kehilangan tonus otot /vasomotor.

Tabel 1: Kekuatan otot (Potter & Perry, 2009)

Skala
Tingkat Fungsi Otot
Tingkat % Normal Skala Lovett
Tidak ada kontraktilitas 0 0 0 (nol)
Kontraktilitas ringan, tidak ada gerakan 1 10 T (trace/mimimal)
Rentang gerak penuh, tanpa gravitasi 2 25 P (poor/buruk)
Rentang gerak penuh, dengan gravitasi 3 50 F (fair/cukup)
Rentang gerak penuh, melawan gravitasi, 4 75 G (good/baik)
terdapat sedikit tahanan
Rentang gerak penuh, melawan gravitasi, 5 100 N (normal)
tahanan penuh

Refleks patologis: reflek patologis ynag sering diperiksa adalah ekstensor plantar
respons atau reflek Babinski.
Perubahan reaksi pupil, ptosis, hilangnya keringat bagian tubuh yang terkena karena
pengaruh trauma spinal.
i) Nyeri /kenyamanan
Mengalami deformitas, postur, nyeri tekan vertebral.
j) Pernapasan
Pernapasan dangkal, periode apnea, penurunan bunyi napas, ronki, pucat, sianosis.
k) Keamanan
Suhu yang berfluktuasi, jatuh.
2. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
a. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakmampuan berjalan
b. Retensi Urin berhubungan dengan cedera medulla spinalis
c. Konstipasi berhubungan dengan gangguan neurologis
d. Disfungsi seksual berhubungan dengan gangguan neurologis
e. Ketidakefektifan koping berhubungan dengan ketidakmampuan beradaptif dengan
situasi yang dialami.
8

3. Intervensi Keperawatan (Nanda, 2015), NOC (2008), NIC (2004)


NO DIAGNOSA TUJUAN RENCANA KEPERAWATAN
1 Hambatan mobilitas fisik Setelah dilakukan tindakan keperawatan Lower Extremity Monitoring
berhubungan dengan selama 3x24 jam, pasien mampu 1. Inspeksi hyiene kulit
ketidakmampuan melakukan mobilisasi secara bertahap 2. Kaji adanya edema pada ekstremitas
berjalan dengan kriteria: 3. Kaji kuku terhadap adanya penebalan jamur
Joint Movement: 4. Kaji warna kulit, suhu, hidrasi, tekstur
Pasien mampu melakukan ROM secara 5. Kaji status mobility misalnya berjalan tanpa pendamping, atau
pasif atau aktif dengan melakukan menggunakan alat bantu atau tidak bisa berjalan atau menggunakan
gerakan fleksi, ekstensi, hiperekstensi, kursi roda.
abduksi, adduksi, rotasi dalam, rotasi 6. Inspeksi adanya kelaiann pada tungkai
7. Kaji capilar refill time
luar, gerakan memutar.
8. Kaji reflex tendon
Body Mechanics Perfomance:
Exercise Therapy: Joint Mobiltity
Mempertahankan kekuatan otot yang
1. Kaji adanya keterbatasan pergerakan sendi dan kekuatan otot
normal
pasien
Mempertahankan fleksibilitas sendi yang 2. Jelaskan kepada pasien dan kelaurga tentang pentingnya latihan
normal 3. Kaji dan pantau areaynag nyeri selama melakukan latihan ROM
aktif
4. Lindungi pasien dari cedera selamaalatihan
5. Lakukan ROM paif atau aktif sesuai kemampuan pasien
6. Tentukan jadwal melakukan latihan ROM
7. Libatkan keluarga dalam latihan
8. Kaji respon pasie setelah melakukan latihan ROM
9. Beri pujian setiap tindakan yang dilakuakn pasien.

2 Retensi urin 1. setelah dilakukan tindakan keprawatan Self care Assistence : Toileting
berhubungan dengan salaam 3x24 jam diharapkan pasien 1. Sediakan alat bantu untuk berkemih (misal : kateter).
gangguan neuromuskular dapat mengontrol pola berkemih 2. Monitor integritas kulit pasien terutama di daerah bokong.
dengan kriteria:
Urinary Elimination Urinary Catheterization (0580)
Pola eliminasi urun kembali normal 1. Jelaskan prosedur dan rasional dilakukan pemasangan kateter.
seperti semula. 2. Siapkan alat alat pemasangan kateter.
3. Pertahankan teknik aseptic.
4. Gunakan kateter yang paling kecil.
5. Hubungkan kateter dengan drainase bag.
9

6. Amankan atau rekatkan kateter di kulit.


7. Monitor intake dan output.

Tube Care : Urinary (1876)


1. Pertahankan system drainase kateter tertutup.
2. Bersihkan kulit disekitar area pemasangan kateter.
3. Bersihkan saluran kateter bagian luar disekitar meatus.
4. Atur posisi pasien dan saluran kateter untuk meningkatkan drainase urin.
5. Kosongkan urin bag bila penuh.
6. Monitor distensi bladder.
7. Buka kateter sesegara mungkin bila pasien sudah dapat berkemih dengan
normal.

Urinary Bladder Training


1. Tentukan interval pertama pasien untuk berkemih.
2. Tentukan jadwal untuk memulai dan mengakhiri proses berkemih.
3. Tentukan interval berkemih jika tidak dalam waktu 1 jam lebih baik jika
kurang dari 2 jam.
4. Ingatkan pasien untuk berkemih sesuai dengan jadwal yang ditentukan.

3 Konstipasi berhubungan 2. Setelah dilakukan tindakan keperawatan Bowel management


dengan gangguan selama 3x24 jam 1. catat kapan terakhir BAB
neuromuscular Bowel Elimination 2. Kaji pergerakan bowel seperti frekuensi,, konsistensi, volume, warna
1.Pola eliminasi teratur 3. berikan informasi tentang manfaat makan makanan yang banyak
2.Pasien mengontrol eliminasi bowel mengandung serat
3.konsistensi feces lemberk serta warna 4. Berikan retal suppositoria
feces normal 5. Beriakn air hangat setelah makan
4.Otot sfingter ani normal seperti semua 6. pastikan cairan yang diminum cukup sesuai kebutihan tubuh
4 Disfungsi seksual Setelah dilakuakan tindakan keperawatan Sexual Counseling
berhubungan dnegan seama 3x24 jam pasien dapat 1. Diskusika tentang dampak trauma yang dialami terhadap pola
gangguan neurologis mempertahankan pola seksualitas yang seksualiats
normal dengan kriteria 2. Dukung pasien dalam menyampaiakn ketakutannya terhadap
perasalah seksualitas
Sexual Functioning 3. Gunakan humor atau dukung pasien dengan hal yang lucu untuk
mengurangi kecemasan yang dialami
1. Menggunakan alata bantu sesuai
10

kebutuhan
2. Melakukan aktifitas seksual dengan
partner seperti sebelumnya.

5 Ketidakefektifan koping Setelah dilakukan tindakan keperawatan Coping enhancement


berhubungan dnegan selama 3x24 jam, pasien dapat memiliki 1. Kaji pengaruh masalah yang dialmi terhadap situasi pasien saat ini
ketidakmamapuan harapan yang positif terhadap truma 2. Dukung pasien untuk menjelaskan perubahan peran yang dialami
beradapatasi dengan yang dialami dengan kriteria: 3. Lakukan pendekatan yang tenang dan terapeutik
situasi yang dialami 4. Dengarkan keluhan pasien secara tenang. Pastiakn untuk tidak
memotong pembuicaraan dan bersifat menggurui pasien
5. Dukung pasien untuk mengemukakan harapan nya
6. Dukung pasien untuk mengemukakan kemampouan yang dimiliki.
7. Berikan pujian untuk setiap hal positif yang dikemukakan pasien
8. Libatkan keluarga

4. Implementasi
Implementasi dilakukan sesuai intervensi keperawatan berdasarkan prioritas.
5. Evaluasi
a. Pasien dapat melakukan aktifitas fisik secacra bertahap dengan alat bantu sampai mandiri
b. Kemampuan berkemih secara normal
c. Kemampuan defekasi kemmabi normal.
d. Fungsi seksual kembali normal
e. Pasien dpaat beradapatasi terhadap dampak trauma yang dialamu dan melakukan hal yang positif sesuai kemampuan.
11

Gerakan Range of Motion

Menurut Potter & Perry, (2009), ROM terdiri dari gerakan pada persendian sebagai berikut :
1. Leher, Spina, Servikal
Gerakan Penjelasan Rentang
Fleksi Menggerakan dagu menempel ke dada, rentang 45
Ekstensi Mengembalikan kepala ke posisi tegak, rentang 45
Hiperektensi Menekuk kepala ke belakang sejauh mungkin, rentang 40-45
Fleksi lateral Memiringkan kepala sejauh mungkin sejauh rentang 40-45
mungkin kearah setiap bahu,
Rotasi Memutar kepala sejauh mungkin dalam gerakan rentang 180
sirkuler,

2. Bahu

Gerakan Penjelasan Rentang


Fleksi Menaikan lengan dari posisi di samping tubuh rentang 180
ke depan ke posisi di atas kepala,
Ekstensi Mengembalikan lengan ke posisi di samping rentang 180
tubuh,
Hiperektensi Mengerkan lengan kebelakang tubuh, siku tetap rentang 45-60
lurus,
Abduksi Menaikan lengan ke posisi samping di atas rentang 180
kepala dengan telapak tangan jauh dari kepala,
Adduksi Menurunkan lengan ke samping dan menyilang rentang 320
tubuh sejauh mungkin,
Rotasi dalam Dengan siku pleksi, memutar bahu dengan rentang 90
menggerakan lengan sampai ibu jari menghadap
ke dalam dan ke belakang,
Rotasi luar Dengan siku fleksi, menggerakan lengan sampai rentang 90
ibu jari ke atas dan samping kepala,
Sirkumduksi Menggerakan lengan dengan lingkaran penuh, rentang 360

3. Siku

Gerakan Penjelasan Rentang


Fleksi Menggerakkan siku sehingga lengan bahu rentang 150
bergerak ke depan sendi bahu dan tangan sejajar
bahu,
Ektensi Meluruskan siku dengan menurunkan tangan, rentang 150

4. Lengan bawah
12

Gerakan Penjelasan Rentang


Supinasi Memutar lengan bawah dan tangan sehingga rentang 70-90
telapak tangan menghadap ke atas,
Pronasi Memutar lengan bawah sehingga telapak tangan rentang 70-90
menghadap ke bawah,

5. Pergelangan tangan

Gerakan Penjelasan Rentang


Fleksi Menggerakan telapak tangan ke sisi bagian rentang 80-90
dalam lengan bawah,
Ekstensi Mengerakan jari-jari tangan sehingga jari-jari, rentang 80-90
tangan, lengan bawah berada dalam arah yang
sama,
Hiperekstensi Membawa permukaan tangan dorsal ke rentang 89-90
belakang sejauh mungkin,
Abduksi Menekuk pergelangan tangan miring ke ibu jari, rentang 30
Adduksi Menekuk pergelangan tangan miring ke arah rentang 30-50
lima jari,

6. Jari- jari tangan

Gerakan Penjelasan Rentang


Fleksi Membuat genggaman, rentang 90
Ekstensi Meluruskan jari-jari tangan, rentang 90
Hiperekstensi Menggerakan jari-jari tangan ke belakang rentang 30-60
sejauh mungkin,
Abduksi Mereggangkan jari-jari tangan yang satu dengan rentang 30
yang lain,
Adduksi Merapatkan kembali jari-jari tangan, rentang 30

7. Ibu jari

Gerakan Penjelasan Rentang


Fleksi Mengerakan ibu jari menyilang permukaan rentang 90
telapak tangan,
Ekstensi menggerakan ibu jari lurus menjauh dari tangan, rentang 90
Abduksi Menjauhkan ibu jari ke samping, rentang 30
Adduksi Mengerakan ibu jari ke depan tangan, rentang 30
Oposisi Menyentuhkan ibu jari ke setiap jari-jari tangan
-
pada tangan yang sama.

8. Pinggul
13

Gerakan Penjelasan Rentang


Fleksi Mengerakan tungkai ke depan dan atas, rentang 90-120
Ekstensi Menggerakan kembali ke samping tungkai rentang 90-120
yang lain,
Hiperekstensi Mengerakan tungkai ke belakang tubuh, rentang 30-50
Abduksi Menggerakan tungkai ke samping menjauhi rentang 30-50
tubuh,
Adduksi Mengerakan tungkai kembali ke posisi
rentang 30-50
media dan melebihi jika mungkin,
Rotasi dalam Memutar kaki dan tungkai ke arah tungkai
rentang 90
lain,
Rotasi luar Memutar kaki dan tungkai menjauhi tungkai
rentang 90
lain.
Sirkumduksi Menggerakan tungkai melingkar -

9. Lutut

Gerakan Penjelasan Rentang


Fleksi Mengerakan tumit ke arah belakang paha, rentang 120-130
Ekstensi Mengembalikan tungkai kelantai, rentang 120-130

10. Mata kaki

Gerakan Penjelasan Rentang


Dorsifleksi Menggerakan kaki sehingga jari-jari kaki rentang 20-30
menekuk ke atas,
Plantarfleksi Menggerakan kaki sehingga jari-jari kaki rentang 45-50
menekuk ke bawah,

11. Kaki

Gerakan Penjelasan Rentang


Inversi Memutar telapak kaki ke samping dalam, rentang 10
Eversi Memutar telapak kaki ke samping luar, rentang 10

12. Jari-Jari Kaki

Gerakan Penjelasan Rentang


Fleksi Menekukkan jari-jari kaki ke bawah, rentang 30-60
Ekstensi Meluruskan jari-jari kaki, rentang 30-60
Abduksi Menggerakan jari-jari kaki satu dengan yang rentang 15
lain,
Adduksi Merapatkan kembali bersama-sama, rentang 15

DAFTAR PUSTAKA
14

Docthwrman, J. M. & Bulecheck, G. N. (2004). Nursing Interventions Classification. St Louis,


Mossouri, Elsevier inc.

Herdman, T. H. & Kamitsuru, S. (2015). Diagnosis Keperawatan: Definisi & Klasifikasi. Edisi
10. Jakarta: EGC

Kowalak, P. J., Welsh, W., & Mayer, B. (2011). Buku Ajar Patofisologi. Jakarta: EGC

Moorhead, S., Jonson, M., Mass, M. L., & Swanson, E. (2008). Nursing Outcomes
Classification. Mosby. Elsevier inc

Potter, P. A. & Perry, G. A. (2010). Fundamental of Nursing. Ed. 7. Volume 2. Singapore.


Elsevier Inc

Smeltzer, S. C, & Bare, B. G. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2, Edisi
8. Jakarta: EGC
15