Anda di halaman 1dari 11

PERAN ESTROGEN PADA REMODELING TULANG

Iknes Sihombing
Sunny Wangko
Sonny J. R. Kalangi

Bagian Anatomi-Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado


Email: iknessihombing@yahoo.co.id

Abstract: Bone tissues experience continual regeneration of their extracellular components


by overhauling the old components. This process is called bone remodeling, which involves
several kinds of bone cells. The most important bone cells related to the bone remodeling are
osteoblasts, osteocytes, and osteoclats. The bone remodeling is influenced by estrogen. This
hormone inhibits bone resorption, resulting in slowing down the osteoporosis process. This
antiresorptive effect can be provided also by the estrogen action on osteoblasts, which
indirectly influences osteoclast activities. Estrogen has been proved to slow down the decrease
of bone mass and fracture risks in women with osteoporosis. Hormone replacement therapy,
aimed at replacing estrogen deficiency, consists of phytoestrogen and progesteron; besides
that, calcium and vitamine D are needed, too.
Keywords: estrogen, bone remodeling, osteoblast, osteocyte, osteoclast.

Abstrak: Tulang merupakan jaringan yang terus menerus melakukan regenerasi komponen-
komponen ekstrasel dengan cara menghancurkan komponen tulang yang sudah tua dan
menggantikannya dengan yang baru. Proses ini disebut remodeling tulang, yang melibatkan
kerja sel-sel tulang tertentu. Sel-sel dalam tulang yang terutama berhubungan dengan
pembentukan dan resorpsi tulang ialah osteoblas, osteosit, dan osteoklas. Remodeling tulang
dipengaruhi oleh hormon estrogen. Hormon ini menekan resorpsi tulang sehingga dapat
menghambat proses kerapuhan tulang. Efek antiresorptif tersebut dapat pula dihasilkan
melalui kerjanya pada osteoblas, yang secara tidak langsung mempengaruhi aktivitas
osteoklas. Estrogen terbukti dapat mengurangi laju penurunan massa tulang dan risiko fraktur
pada wanita dengan osteoporosis. Terapi sulih hormon yang digunakan untuk mengganti
defisisensi estrogen ialah fitoestrogen, progesteron, selain itu juga kalsium dan vitamin D.
Kata kunci: estrogen, remodeling tulang, osteoblas, osteosit, osteoklas.

Tulang merupakan jaringan dinamis yang lang. Dua faktor penting yang memberi
memiliki sistem regenerasi seluler yang kontribusi terhadap gangguan ini adalah
kompleks. Sel-sel lama dirombak untuk ke- faktor penuaan dan menurunnya fungsi go-
mudian diganti dengan sel-sel baru. Kese- nad. Bukti-bukti yang kuat menunjukkan
imbangan dalam resorpsi dan formasi tu- bahwa menurunnya fungsi gonad, terutama
lang tersebut menentukan densitasnya dan sekresi estrogen pada perempuan meno-
memengaruhi kerentanan seseorang terha- paus, berakibat pada meningkatnya laju
dap fraktur.1,2 resorpsi tulang.1,3
Osteoporosis merupakan salah satu Agen yang paling berpengaruh dalam
gangguan degeneratif yang ditandai oleh menjaga keseimbangan remodeling tulang
penurunan massa tulang akibat ketidak- tersebut ialah hormon estrogen. Estrogen
seimbangan antara resorpsi dan formasi tu- telah lama dikenal sebagai agen anti-

S18
Sihombing, Wangko, Kalangi; Peran Estrogen pada Remodeling Tulang S19

resorptif yang bekerja terutama dengan tidak beraturan, namun struktur seperti ini
menghambat resorpsi tulang oleh osteoklas. justru berfungsi memaksimalkan kekuatan
Studi-studi terakhir membuktikan bahwa tulang. Struktur ini tidak kaku dan dapat
efek antiresorptif tersebut dapat pula menyesuaikan diri dengan tekanan fisik
dihasilkan melalui kerjanya pada osteoblas pada tulang (Gambar 1 dan 2).7-9
yang secara tidak langsung memengaruhi
aktivitas osteoklastik.4,5 Suplementasi es- Sel-sel tulang
trogen terbukti dapat mengurangi laju pe- Tulang dewasa dan yang sedang
nurunan massa tulang dan risiko fraktur pa- berkembang mengandung empat jenis sel
da perempuan dengan osteoporosis.4,6 berbeda: sel osteogenik (osteoprogenitor),
osteoblas, osteosit, dan osteoklas (Gambar
HISTOLOGI TULANG 3).7,10 Sel-sel osteogenik ialah sel-sel induk
pluripoten yang belum berdiferensiasi,
Tulang merupakan bentuk kaku jaring- berasal dari jaringan ikat mesenkim. Sel ini
an ikat yang membentuk sebagian besar ke- biasanya ditemukan pada permukaan tulang
rangka vertebrata yang lebih tinggi. Ja- di lapisan dalam periosteum, pada endos-
ringan ini terdiri atas sel-sel dan matriks teum, dan dalam saluran vaskular dari
intersel. Matriks mengandung unsur orga- tulang kompakta. Terdapat dua jenis sel
nik, yaitu terutama serat-serat kolagen, dan osteoprogenitor: 1) preosteoblas yang
unsur anorganik yang merupakan dua per- memiliki sedikit retikulum endoplasma dan
tiga berat tulang itu. Garam-garam anor- akan menghasilkan osteoblas; dan 2)
ganik yang bertanggungjawab atas kaku preosteoklas yang mengandung lebih
dan kejurnya tulang ialah kalsium fosfat banyak mitokondria dan ribosom bebas,
(kira-kira 85%), kalsium karbonat (10%), dan menghasilkan osteoklas.7
dan sejumlah kecil kalsium florida serta Osteoblas membuat, menyekresikan,
magnesium florida. Serat-serat kolagen sa- dan mengendapkan unsur organik matriks
ngat menambah kekuatan tulang itu.7 tulang baru yang disebut osteoid. Osteoblas
mengandung enzim fosfatase alkali yang
Struktur tulang menandakan bahwa sel-sel ini tidak hanya
Secara makroskopik, tulang dapat di- berhubungan dengan pembuatan matriks,
bedakan menjadi dua macam: tulang spo- namun juga mineralisasinya. Osteoid ialah
ngiosa dan tulang kompakta. Tulang kom- matriks tulang belum mengapur, baru
pakta terdiri dari sistem-sistem Harvesian dibentuk, dan tidak mengandung mineral,
atau osteon yang tersusun padat. Sistem namun tidak lama setelah deposisi, osteoid
Harvesian terdiri dari sebuah saluran pada segara mengalami mineralisasi dan menjadi
bagian tengahnya (kanal Harvesian) yang tulang.7
dikelilingi oleh cincin-cincin konsentris Osteosit atau sel tulang ialah osteo-
(lamela) di sela-sela matriks. Sel-sel tulang blas yang terpendam dalam matriks tulang.
(osteosit) berada pada lakuna di antara Mikroskop elektron memperlihatkan bahwa
lamelae. Lakuna berhubungan secara lang- osteosit dan cabangnya tidak melekat lang
sung dengan kanal Harvesian melalui sa- sung pada matriks sekitarnya, tetapi ter-
luran kecil yang disebut kanalikuli. Pem- pisah dari dinding lakuna dan kanalikuli
buluh darah tulang berada di dalam kanal oleh daerah amorf tipis. Daerah ini agaknya
Harvesian dan tersusun paralel terhadap berfungsi sebagai medium pertukaran me-
aksis longitudinal tulang. Tulang spongiosa tabolit.7
yang lebih ringan dan tidak sepadat tulang Osteoklas ialah sel multinuklear be-
kompakta tersusun dari lempengan trabe- sar yang terdapat di sepanjang permukaan
kula yang dihubungkan oleh kanalikuli de- tulang tempat terjadinya resorpsi, remo-
ngan ruang-ruang kecil ireguler berisi sum- deling, dan perbaikan tulang. Osteoklas ini
sum tulang yang disebut kavitas. Trabekula sering terdapat di dalam sebuah lekuk
dan kavitas memang tersusun longgar dan dangkal pada tulang yang teresorpsi atau
S20 Jurnal Biomedik, Volume 4, Nomor 3, Suplemen, November 2012, hlm. S18-28

Gambar 1. Beda tulang kompakta dan spongiosa pada sebuah tulang panjang. Bagian kiri
mengilustrasikan pembagian tulang panjang berdasarkan aksis longitudinalnya. Bagian kanan
mengilustrasikan perbedaan antara tulang kompakta dan tulang spongiosa. Sumber: Spence, 1990.9

Gambar 2. Penampang melintang tulang matur. Tulang kompakta tersusun lebih padat, berada di
pinggiran tulang. Tulang spongiosa lebih longgar dengan trabekula ireguler dan berada dekat
sumsum tulang. Sumber: anonim.8

terkikis secara enzimatik yang disebut la- rampung, osteoklas menghilang, mungkin
kuna Howship. Osteoklas yang mula-mula berdegenerasi atau berubah lagi menjadi sel
berada di dalam tulang berasal dari asalnya.7
prekursor mirip monosit. Sel-sel ini terlibat Osteoblas dan osteoklas diproduksi pa-
mengeluarkan kolagenase dan enzim da sumsum tulang dan terbentuk melalui
proteolitik lain yang menyebabkan matriks dua garis diferensiasi CFU (colony forma-
tulang melepaskan bagian substansi dasar tion unit) yang berbeda. Pembentukan os-
yang mengapur. Sesudah proses resorpsi teoklas dari CFU-GM (granulosit-makrofag)
Sihombing, Wangko, Kalangi; Peran Estrogen pada Remodeling Tulang S21

Gambar 3. Penampang longitudinal unit pertumbuhan tulang yang memperlihatkan distribusi


osteosit, osteoblas, dan osteoklas. Sumber: Di Fiore, 2003.10

mengikuti garis diferensiasi hematopoietik, atau heliks. Puncak pilinan beralih dalam
sedangkan pembentukan osteoblas dari lamel sebelahnya dengan sudut 900.7
CFU-F (fibrosit) mengikuti garis dife-
rensiasi mesensimal pada stroma sumsum
tulang (Gambar 4). Pembentukan osteoblas
dapat berlangsung secara independen tanpa
memerlukan interaksi dengan progenitor
osteoklas. Sebaliknya, pembentukan osteo-
klas membutuhkan interaksi yang kom-
pleks dengan progenitor osteoblas, dimana
diferensiasi CFU-GM menjadi osteoklas ti-
dak dapat berlangsung tanpa adanya inter-
aksi seluler komponen sel-sel stroma yang
memproduksi osteoblas (Gambar 5).1,2,11

Matriks tulang Gambar 4. Perbedaan antara garis diferensiasi


osteoklas dan osteoblas. Garis diferensiasi
Matriks tulang secara khas tersusun
hematopoietik (atas) bertanggungjawab dalam
dalam lapisan-lapisan atau lamel-lamel se- pembentukan osteoklas, sedangkan osteoblas
tebal 3-7 mm. Lamel-lamel itu merupakan terbentuk melalui garis diferensiasi mesensimal
hasil peletakan matriks yang terjadi secara (bawah). Keduanya dimediasi oleh sejumlah
ritmik. Serat dalam lamel teratur sejajar sitokin dan hormon yang berbeda. Sumber:
satu terhadap lainnya dalam bentuk pilinan Epstein, 1995.1
S22 Jurnal Biomedik, Volume 4, Nomor 3, Suplemen, November 2012, hlm. S18-28

potong melintang dan tampak granular.


Unsur organiknya mencakup kira-kira 35%,
terutama terdiri dari serat-serat osteokola-
gen serupa dengan serat kolagen tipe I
jaringan ikat longgar. Unsur anorganik ter-
utama terdapat di bagian semen di antara
serat-serat dan merupakan 65% dari berat
tulang. Mineral terutama terdapat berupa
kristal kalsium fosfat dalam bentuk yang
serupa dengan hidroksiapatit.7

REMODELING TULANG
Peran osteoblas dan osteoklas dalam re-
modeling tulang
Gambar 5. Ketergantungan terhadap osteoblas Proses remodeling merupakan dua ta-
dalam diferensiasi osteoklas. Pembentukan hapan aktivitas seluler yang terjadi secara
osteoklas matur mutlak memerlukan interaksi siklik, yakni resorpsi tulang lama oleh os-
dengan prekursor osteoblas melalui interaksi teoklas dan formasi tulang baru oleh osteo-
RANK dengan ligannya (RANKL). Sumber: blas. Pertama-tama, osteoklas akan menye-
Teitelbaum et al, 2003.12 lenggarakan resorpsi melalui proses asidi-
fikasi dan digesti proteolitik. Segera setelah
osteoklas meninggalkan daerah resorpsi,
Susunan serat yang berselang-seling osteoblas menginvasi area tersebut dan me-
demikian menjelaskan mengapa lamel ter- mulai proses formasi dengan cara menye-
lihat begitu jelas. Serat kolagen dalam satu kresi osteoid (matriks kolagen dan protein
lamel akan tampak sebagai bangunan me- lain) yang kemudian mengalami minerali-
manjang, pada yang sebelah serat itu ter- sasi (Gambar 6).

Gambar 6. Skema proses remodeling tulang. Dalam siklus ini, aktivitas yang konstan dalam
diferensiasi osteoblas dan osteoklas dari sel-sel progenitornya merupakan tahap esensial dalam
menjaga keseimbangan antara resorpsi tulang lama dan formasi tulang baru. Sumber: Epstein, 1995.1
Sihombing, Wangko, Kalangi; Peran Estrogen pada Remodeling Tulang S23

Normalnya, kecepatan resorpsi dan formasi nurunnya pasokan osteoblas, osteoporosis


tulang berlangsung dalam kecepatan yang pada defisiensi estrogen cenderung dikait-
sama sehingga massa tulang tetap kan dengan peningkatan aktivitas osteo-
konstan.1,2,11 klastik. Laju penurunan massa tulang dapat
bertambah hingga 10 kali lipat pada wanita
Faktor-faktor yang mempengaruhi re- menopause atau pria yang telah menjalani
modeling tulang vasektomi.1,13
Osteopetrosis merupakan contoh gang-
Aktivitas resorpsi dan formasi tulang
guan remodeling tulang lainnya. Gangguan
diregulasi oleh berbagai faktor sistemik
herediter ini ditandai oleh defek pada
yang kompleks. Keseimbangan antara akti-
aktivitas resorpsi tulang yang diperankan
vitas osteoklastik dan osteblastik dijaga
oleh osteoklas, sedangkan formasi tulang
oleh pasokan hormon steroid yang konstan
oleh osteoblas tetap berlangsung seperti
pada sel-sel tulang. Gangguan dalam reg-
biasa. Akibatnya terjadi peningkatan massa
ulasi tersebut nampak jelas pada penuaan
tulang akibat meningkatnya massa tulang.
dan keadaan defisiensi hormon estrogen.1,13
Selain itu usia dan keadaan menopause, Pemeriksaan radiologik menunjukkan gam-
baran tulang di dalam tulang dan pem-
faktor-faktor risiko yang juga dikenal mem-
besaran ukuran tulang.2
pengaruhi massa dan densitas tulang antara
lain densitas tulang awal (yang dibawa
ketika lahir) dan ketersediaan kalsium.3 PERAN ESTROGEN DALAM REMO-
Faktor lain yang berperan dalam regu- DELING TULANG
lasi remodeling tulang ialah vitamin D, Hormon estrogen dan reseptornya
dimana suplementasi vitamin D terbukti Estrogen endogen yang banyak di-
dapat meningkatkan kepadatan tulang, bah- temukan dalam tubuh manusia adalah
kan pada wanita menopause sekalipun.14 estradiol-17 (E 2 ), estron (E 1 ) dan estriol
Hormon paratiroid dapat meningkatkan re- (E 3 ). Ketiganya merupakan steroid dengan
sorpsi tulang dengan cara melepaskan kal- 18 atom karbon yang terbentuk dari ko-
sium dari matriks tulang ke dalam sirkulasi lesterol.4
darah untuk menjaga kadar kalsium darah Sumber primer estradiol ialah kelenjar
agar tetap normal.15 Regulator lain ialah gonad (sel teka dan sel granulosa ovarium
hormon paratiroid serta berbagai sitokin pada perempuan dan sel Leydig pada laki-
dan enzim yang berperan sebagai koregu- laki), sedangkan estron dan estriol disin-
lator maupun koreseptor dalam diferensiasi tesis di hepar dari estradiol. Selain itu,
maupun aktivitas sel-sel tulang.13 pembentukan senyawa estrogen dapat pula
berlangsung di otot, jaringan lemak,
Osteoporosis dan gangguan lain dalam jaringan saraf dan trofoblas.4
remodeling tulang Efek estrogen hanya terlihat pada sel-
Osteoporosis merupakan keadaan ber- sel dan jaringan yang memiliki reseptor es-
kurangnya massa tulang akibat ketidak- trogen. Fungsi estrogen dalam tubuh ma-
seimbangan resorpsi dan formasi tulang nusia ditentukan oleh jenis reseptor estro-
yang bisa bersifat fisiologik maupun pato- gen, lokasi reseptor dan interaksinya antara
logik. Jumlah formasi tulang baru akan ber- estrogen, reseptornya dan struktur lain di
kurang seiring dengan bertambahnya usia dalam sel target. Sejauh ini dikenal dua
karena menurunnya pasokan osteoblas jenis reseptor estrogen: reseptor alfa (ER)
yang tidak bisa mengimbangi kecepatan dan reseptor beta (ER). Meskipun ER
resorpsinya. Penurunan massa tulang akibat dan ER berinteraksi dengan ligan estrogen
penuaan mulai terjadi pada dekade 4-5 yang sama, yakni estradiol-17, keduanya
kehidupan dengan kecepatan 0,3 - 0,5% per memiliki perilaku yang berbeda, bahkan
tahun. Berbeda dengan osteoporosis pada bertentangan. Sebagai contoh, ER yang
penuaan yang lebih disebabkan oleh me- terikat dengan ligan dapat mengaktivasi
24 Jurnal Biomedik, Volume 4, Nomor 3, Suplemen, November 2012, hlm. S18-28

Gambar 7. Domain-domain fungsional pada sebuah reseptor estrogen. Sumber: McDowall, 2003.16

transkripsi gen, sedangkan ER justru


menginhibisi transkripsi.16
ER dan ER memiliki struktur fisik
yang terbagi atas beberapa domain fungsio-
nal (Gambar 7): domain transaktivasi
terminal-N (NTD), domain pengikat DNA
(DBD), dan domain transaktivasi terminal-
C yang merupakan domain pengikat ligan
estrogen (HBD). Setiap domain memiliki
fungsi tersendiri dalam interaksi reseptor
dengan ligan dan interaksi dengan DNA
pada saat domain tersebut menggiatkan
atau menghambat transkripsi genetik.4,16
Efek biologik estrogen dimulai ketika
estrogen (sebagai ligan) berdifusi ke dalam
sel lalu berikatan dengan domain pengikat
ligan HBD. Sebelum mengikat ligan,
reseptor estrogen berada dalam keadaan
inaktif di dalam nukleus atau sitoplasma sel
dan terikat dengan protein tertentu yang
disebut receptor-associated protein (RAP).
RAP terikat pada domain pengikat DNA
(DBD) dan berfungsi sebagai saperon
(chaperone) yang menstabilkan struktur
reseptor sebelum ia teraktivasi. Saat ber-
ikatan dengan ligan dan terlepas dari RAP,
reseptor akan teraktivasi dan terbentuklah
kompleks estrogen-reseptor yang mampu
menembus masuk ke nukleus (translokasi)
apabila ia masih berada dalam sitoplasma.
Kompleks estrogen-reseptor ini akan ber-
ikatan dengan bagian tertentu pada DNA
yang disebut estrogen-response-element
(ERE). Proses ini berlanjut sebagai trans-
kripsi genetik yang kompleks yang menen- Gambar 8. Mekanisme kerja estrogen di dalam
tukan efek biologis estrogen di dalam sel sel. Aksi seluler estrogen dimulai dengan
bersangkutan (Gambar 8).4,16 masuknya estrogen ke dalam sel, berikatan
dengan reseptornya (ER) membentuk kompleks
Mekanisme tersebut memperlihatkan estrogen-reseptor yang langsung bertranslokasi
jalur klasik aktivasi reseptor estrogen yang ke dalam nukleus. Di nukleus, kompleks ini
membutuhkan adanya hormon estrogen se- berikatan dengan estrogen-response-element,
bagai ligan. Jalur klasik ini disebut ligand- bagian tertentu pada DNA, yang mem-
dependent receptor activation. Aktivasi perantarai transkripsi genetik dan efek biologik
reseptor dapat pula terjadi melalui jalur- estrogen. Sumber: Grubber et al, 2002.4
Sihombing, Wangko, Kalangi; Peran Estrogen pada Remodeling Tulang S25

jalur alternatif tanpa melibatkan terben- studi-studi terakhir membuktikan bahwa


tuknya kompleks estrogen-reseptor atau efek antiresorptif tersebut dapat pula diha-
ketika interaksi estrogen-reseptor terjadi di silkan melalui kerjanya pada osteoblas
luar sel (Gambar 9). Jalur alternatif per- yang secara tidak langsung mempengaruhi
tama, ligand-independent receptor activa- aktivitas osteoklastik.4
tion, terjadi ketika estrogen mengaktifkan
growth factor yang merupakan aktivator Efek estrogen pada aktivitas osteoklas
terhadap protein kinase. Reseptor estrogen Shevde et al18 membuktikan bahwa es-
yang sebagian besar merupakan fosfopro- trogen bekerja dengan menekan diferen-
tein dapat mengalami aktivasi independen siasi osteoklas. Sebelumnya telah dijelas-
akibat meningkatnya kadar protein kinase kan (Gambar 6) bahwa pembentukan osteo-
intrasel yang menyebabkan perubahan da- klas memerlukan interaksi antara RANK
lam fosforilasinya. Kedua jalur tersebut (receptor activator nuclear factor kappa B,
melibatkan translokasi atau masuknya re- NF-B) dan ligannya, RANKL. Interaksi
septor ke dalam nukleus yang membutuh- antara RANK dan RANKL ini diregulasi
kan waktu beberapa menit hingga berjam- oleh produksi osteoprotegerin (OPG). Es-
jam. Kenyataanya, efek estrogen pada se-
trogen mengendalikan diferensiasi osteo-
buah sel tunggal dapat terjadi lebih cepat klas dengan cara menghambat interaksi an-
dari itu; diduga karena mekanisme ekstra-
tara RANK dan RANKL. Estrogen pun
nuklear melalui pembentukan kompleks es-
dapat menghambat produksi IL-6, IL-1 dan
trogen-reseptor di membran sel yang me-
atau TNF-, IL-11, IL-7 dan TGF- yang
nyebabkan efek biologis non-transkripsi-
juga penting dalam diferensiasi osteo-
onal yang diperantarai protein kinase.4
klas.5,11,18
Lama hidup osteoklas juga menentu-
Efek estrogen pada sel-sel tulang kan jumlah sel osteoklas pada permukaan
Reseptor estrogen dapat ditemukan pa- resorpsi tulang. Hughes et al.18 membuk-
da sel osteoklas maupun osteoblas.4,17 Es- tikan bahwa estrogen dapat menginduksi
trogen telah lama dikenal sebagai agen an- apoptosis dan kematian osteoklas sehingga
tiresorptif yang bekerja terutama dengan dapat secara langsung menurunkan akti-
menekan aktivitas osteoklastik.4,5 Namun vitas resorpsi.18

Gambar 9. Tiga jalur aktivitas biologis estrogen pada sel. Selain aktivasi reseptor estrogen yang
diikuti oleh translokasi dan transkripsi di dalam nukleus, aktivasi reseptor dapat terjadi pada
membran sel di luar sitoplasma, dimana efek biologis estrogen tidak melibatkan transkripsi genetik.
Sumber: Grubber et al, 2002.4
26 Jurnal Biomedik, Volume 4, Nomor 3, Suplemen, November 2012, hlm. S18-28

Efek estrogen pada aktivitas osteoblas dengan menghambat PTH, menekan pro-
duksi IL-1, IL-6 dan TNF, dan meng-
Efek estrogen dalam menekan akti-
hambat interaksi RANK-RANKL dengan
vitas osteoklastik dapat terjadi secara tidak
menstimulasi sel stroma menghasilkan
langsung melalui aksinya pada reseptor
OPG. Hal ini menunjukkan betapa pen-
osteoblastik. Salah satu sitokin yang
tingnya estrogen replacement therapy pada
diproduksi oleh osteoblas, TGF-, ditekan
wanita pasca menopause untuk mencegah
produksinya oleh estrogen. TGF- berperan
terjadinya osteoporosis pasca menopause
dalam diferensiasi osteoklas serta kelang-
(post menopause osteoporosis).5,11,18
sungan hidupnya.18 Estrogen pun mensti-
Terapi sulih hormon yang di gunakan
mulasi produksi OPG (osteoprotegerin) o-
saat estrogen menurun ialah fitroestrogen.
leh osteoblas. OPG merupakan reseptor
Fitoestrogen ialah fitokimia yang memiliki
TNF yang penting dalam menghambat dife-
aktivitas estrogenik. Terdapat banyak
rensiasi dan aktivitas osteoklas.17 Estrogen
senyawa fitoestrogen, tetapi yang telah
juga mengendalikan aktivitas osteoklastik
diteliti ialah isoflavon dan lignans.
dengan menekan produksi interleukin-6
Isoflavon yang berefek estrogenik antara
(IL-6) yang diproduksi osteoblas.19
lain genistein, daidzein dan gliklosidanya
yang banyak ditemukan pada golongan
BAHASAN kacang-kacangan (Leguminosae) seperti
soy bean dan red clover. Selain
Secara normal di tubuh kita terjadi
fitoestrogen, kalsium dan vitamin D juga
suatu tahapan yang disebut remodeling
bisa menjadi terapi sulih hormon. Kalsium
tulang, yaitu suatu proses pergantian tulang
merupakan unsur yang sangat diperlukan
yang sudah tua untuk di ganti dengan
tubuh, baik pada masa pertumbuhan
tulang yang baru. Hal ini sudah terjadi pada
maupun pada masa pasca menopause. Pada
saat pembentukan tulang mulai berlang-
masa pertumbuhan, pemberian kalsium
sung sampai selama kita hidup. Setiap saat
dengan dosis yang cukup akan meng-
terjadi remodeling tulang di tulang manu-
akibatkan pertumbuhan tulang dapat
sia. Proses remodeling ini dimulai dengan
mencapai maksimal, sedangkan pemberian
terjadinya resorpsi atau penyerapan atau
kalsium pada masa pasca menopause dapat
penarikan tulang oleh sel tulang yaitu os-
menghambat resorpsi tulang. Vitamin D
teoklas, kemudian tulang yang sudah di se-
berperan dalam pembentukan matriks yang
rap akan diisi oleh tulang yang baru de-
bekerja dengan cara menyintesis kolagen
ngan bantuan sel tulang yaitu osteo-
tipe I dan osteokalsin namun dapat juga
blas.1,2,11
berperan dalam proses remodeling tulang.
Proses resorpsi oleh osteoklas dan for-
Vitamin D membantu dalam proses
masi oleh osteoblas dipengaruhi oleh ba-
pembentukan osteoklas dan apabila dalam
nyak faktor, seperti faktor humoral (sitokin,
konsentrasi yang sangat banyak dapat
prostaglandin, faktor pertumbuhan), dan
merangsang osteoklas meresorpsi tulang.20
faktor sistemik (kalsitonin, estrogen,
kortikosteroid, tiroksin). Sitokin yang
meningkatkan kerja osteoklas ialah SIMPULAN
granulocyte-macrophage colony-stimula- Tulang merupakan jaringan yang terus
ting factors (GM-CSF), macrophage menerus melakukan regenerasi komponen-
colony-stimulating factors (M-CSF), tumor komponen ekstraselnya dengan cara meng-
necrosis factor (TNF-), interleukin-1 hancurkan komponen tulang yang sudah
(IL-1) dan interleukin-6 (IL-6); sedangkan tua dan menggantinya dengan yang baru
faktor lokal yang meningkatkan kerja (remodeling) yang melibatkan kerja osteo-
osteoblas ialah IL-4, dan transforming blas, osteosit, dan osteoklas.
growth factor (TGF-).1,3,13,14 Estrogen memengaruhi resorpsi tulang
Estrogen menghambat resorpsi tulang yaitu menghambat proses kerapuhan tu-
Sihombing, Wangko, Kalangi; Peran Estrogen pada Remodeling Tulang S27

lang. Terapi sulih hormon berfungsi untuk from: URL: http://homepage.mac.com/


mengatasi defisiensi estrogen, antara lain myers/ misc/ bonefiles/bonestruct.html
dengan menggunakan fitoestrogen, proges- 10. Eroschenko VP. Atlas histology Di Fiore
teron, kalsium dan vitamin D untuk dengan korelasi fungsional (Edisi
Kesembilan). Jakarta: EGC, 2003; p.51-2.
menghambat osteoporosis.
11. Bezerra MC, Carvalho JF,
Prokopowitsch AS, Pereira RMR.
DAFTAR PUSTAKA RANK, RANKL and osteoprotegerin in
1. Epstein FH. Bone marrow, cytokines, and arthritic bone loss. Braz J Med Biol Res
bone remodelling. N Engl J Med [serial [serial online]. 2005 [cited 2009 Nov
online]. 1995 Feb 2 [cited 2010 Jan 9]; 17];38(2):161-70. Available from:
332(5):305-11. Available from: URL: URL: http://www.scielo.br/pdf/bjmbr/
http://content.nejm.org/cgi/reprint/332/ v38n2/5600.pdf
5/305.pdf 12. Teitelbaum SL, Ross FP. Teitelbaum LS,
2. Tolar J, Teitelbaum SL, Orchard PJ. Ross PF. Genetic regulation of
Osteopetrosis. N Engl J Med [serial osteoclast development and function.
online]. 2004 Des 30 [cited 2010 Jan Nat Rev Gen [serial online]. 2003 Aug
19]; 351(27):2839-49. Available from: 1 [cited 2001 Jan 9];4:638-49.
URL: http://content.nejm.org/cgi/re Available from: URL: http://www.
print/351/27/2839.pdf nature.com/nrg/journal/v4/n8/fig_tab/nr
3. Riggs BL. Pathogenesis of osteoporosis. Am g1122_F5.html, DOI: 10.1038/nrg1122
J Obstet Gynecol [serial online]. 1987 13. Monroe DG, Secreto FJ, Spelsberg TC.
Mei [dikunjungi 2009 Nov 17]; Overview of estrogen action in
156(5):1342-6. Available from: URL: osteoblast: role of the ligand, the
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/3 receptor, and the co-regulators. J
578454 Musculoskel Neuron Interact [serial
4. Gruber CJ, Tschugguei W, Schneebeger online]. 2003 Agu 1 [cited 2009 Nov
C, Huber JC. Production and action of 17];3(4):357-62. Available from: URL:
estrogens. N Engl J Med [serial online]. http://www.ismni.org/jmni/pdf/14/
2002 Jan 31 [cited 2010 Jan 19]; 31SPELSBERG.pdf
346:340-50. Available from: URL: 14. Jackson RD, LaCroix AZ, Gass M,
http://content.nejm.org/cgi/reprint/346/ Wallace RB, Robbins J, Lewis CE, et
5/340.pdf al. Calcium plus vitamin D
5. Bell NH. RANK ligand and the regulation of supplementation and the risk of
skeletal remodeling. J Clin Invest fractures. N Engl J Med [serial online].
[serial online]. 2003 Apr [dikunjungi 2006 Feb 16 [dikunjungi 2010 Jan
2009 Nov 17];111:1120-2. Available 19];234(7):669-83 Available from:
from: URL: http://www.jci.org/articles/ URL: http://content.nejm.org/cgi/
view/18358/pdf. DOI: reprint/354/7/669.pdf
10.1172/JCI200318358 15. Grey A, Mitnick M, Masiukiweicz U,
6. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi Sun B, Rudikoff S, Jilka RL, et al. A
kedokteran (Edisi Kesembilan). Jakarta: role for interleukin-6 in parathyroid
EGC, 1997; p.1291-2. hormone-induced bone resorption in
7. Leeson CR, Leeson TS, Paparo AA. Buku vivo. Endo [serial online]. 1999 [cited
Ajar Histologi (Edisi Kelima). Jakarta: 2010 Jan 19];140(10):4683-90. Avail-
EGC, 1996; p.138-56. able from: URL: http://endo.endo
8. Structure of bone tissue. National Cancer journals.org/cgi/reprint/140/10/4683
Institute: SEER Training Modules 16. McDowall J. Oestrogen receptors. InterPro
[homepage on the Internet]. Nodate Protein Acrhives [serial on the
[cited 2009 Nov 17]. Available from: Internet]. 2003 [dikunjungi 2009 Nov
URL: http://training.seer.cancer.gov/ 17];4 hal. Available from: URL:
anatomy/skeletal/tissue.html http://www.ebi.ac.uk/interpro/potm/200
9. Conrad E. Structure of bone. MAC 3_4/Page_1.htm
[homepage on the Internet]. Nodate 17. Hofbauer LC, Khosla S, Dunstan CR,
[diunduh 2009 Nov 17]. Available Lacey CR, Lacey DL, Spelsberg TC,
S28 Jurnal Biomedik, Volume 4, Nomor 3, Suplemen, November 2012, hlm. S18-28

et al. Estrogen stimulates gene R, Cheng SL, Dawson LL, et al.


expression and protein production of Production of interleukin-6 in human
osteoprotegerin in human osteoblastic osteoblasts and human bone marrow
cells. Endo [serial online]. 1999 stromal cells: evidence that induction
[dikunjungi 2010 Jan 19];140(9:4368- by interleukin-1 and tumor necrosis
70. Available from: URL: http://endo. factor-alpha is not regulated by ovarian
endojournals.org/cgi/reprint/140/9/4367 steroids. Endo [serial online]. 1995
18. Oursler MJ. Direct and indirect effects of [cited 2009 Nov 17];136:4056-67.
estrogen on osteoclast. J Musculoskel Available from: URL: http://endo.endo
Neuron Interact [serial online]. 2003 journals.org/cgi/content/abstract/136/9/
Agu 1 [cited 2009 Nov 17];3(4):363-6. 4056
Available from: URL: http://www. 20. Rosevear SK. Handbook of gynaecology
ismni.org/jmni/pdf/14/32OURSLER.pdf management. Oxford: Blackwell
19. Rifas L, Kenney JS, Marcelli M, Pacifici Science, 2002; p.32-4.

Anda mungkin juga menyukai