Anda di halaman 1dari 12

Diagnosis Abses Peritonsil Sinistra

IP Ady Putra Astawan


102011141
Mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA, Jakarta
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510
Adyputraastawan@yahoo.com

Pendahuluan

Nyeri tenggorok dan demam disertai dengan terbatasnya gerakan membuka mulut dan leher,
harus dicurigai kemungkinan disebabkan oleh abses leher dalam. Abses leher dalam terbentuk di
dalam ruang potensial di antara fasia leher dalam sebagai akibat penjalaran infeksi dari berbagai
sumber, seperti gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga tengah dan leher. Gejala dan
tanda klinik biasanya berupa nyeri dan pembengkakan di ruang leher dalam yang terlibat.
Kebanyakan kuman penyebab adalah golongan Streptococcus, Staphylococcus, kuman anaerob
Bacterioides atau kuman campuran.

Anamnesis
Anamnesis yaitu pemeriksaan yang pertama kali dilakukan yaitu berupa rekam medik pasien.1
Dapat dilakukan pada pasiennya sendiri/langsung (auto) dan/atau pada keluarga
terdekat/pengantar (allo). Anamnesis langsung, atau dokter langsung menanyakan pada pasien
yang bersangkutan, atau biasa disebut auto-anamnesis, dan ada juga allo-anamnesis yaitu bila
keadaan pasien tidak memungkinkan untuk diwawancarai misalnya dalam keadaan gawat
darurat, keadaan afasia akibat strok atau bisa juga karena umur pasien yang belum cukup
dewasa, sehingga anamnesis dilakukan pada orang terdekat seperti keluarga ataupun
pengantarnya.2
Rekam medik yang dilakukan meliputi, Identitas: nama, umur, jenis kelamin, pemberi informasi
(misalnya pasien, keluarga, dll), dan keandalan pemberi informasi. Keluhan Utama: keluhan
yang dirasakan pasien tentang permasalahan yang sedang di hadapinya. Riwayat penyakit
sekarang (RPS): menceritakan kronologis, terinci dan jelas mengenai keadaan kesehatan pasien

1
sejak sebelum keluhan utama sampai pasien datang berobat. Riwayat Penyakit Dahulu (RPD):
menanyakan apakah pasien pernah mengalami sakit sebelumnya/tidak. Riwayat Keluarga:
umur, status anggota keluarga dan masalah kesehatan pada anggota keluarga. Riwayat
Psychosocial (sosial): stressor (lingkungan kerja atau sekolah, tempat tinggal), faktor resiko
gaya hidup (makan-makanan sembarangan).1
Identitas pasien, meliputi nama lengkap pasien, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, nama
orang tua atau suami atau isteri atau penanggung jawab, alamat, pendidikan, pekerjaan,suku
bangsa dan agama. Identitas perlu ditanyakan untuk memastikan bahwa pasien yang dihadapi
adalah benar pasien yang dimaksud. Selain itu identitas ini juga perlu untuk data penelitian,
asuransi dan sebagainya.1,2
Keluhan Utama (Presenting Symptom) adalah keluhan yang dirasakan pasien, yang membawa
pasien tersebut pergi ke dokter atau mencari pertolongan. Dalam menuliskan keluhan utama,
harus disertai dengan indikator waktu, berapa lama pasien merasakan hal tersebut.
Riwayat penyakit sekarang, cerita yang kronologis, terinci dan jelas keadaan kesehatan pasien
sejak sebelum keluhan utama sampai pasien datang berobat.2
Riwayat penyakit dahulu, untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan adanya hubungan
antara penyakit yang pernah diderita dengan penyakit sekarang. Terutama yang berkaitan dengan
kesakitan yang sama.1,2
Riwayat kesehatan berupa riwayat kehamilan, riwayat kelahiran, riwayat pertumbuhan ( berat
badan tinggi badan), riwayat makanan.
Riwayat keluarga dapat ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang pernah mengalami sakit
yang sama.2
Riwayat Pribadi dapat meliputi data-data sosial, ekonomi, pendidikan dan kebiasaan. Pada
anak-anak perlu juga dilakukan anamnesis gizi yang seksama, meliputi jenis makanan, kuantitas
dan kualitasnya. Kebiasaan pasien yang juga harus ditanyakan adalah kebiasaan merokok,minum alkohol,
termasuk penyalahgunaan obat-obat terlarang (narkoba).
Pertanyaan lainnya yang penting pada kasus, Bagaimana keluhannya (sejak kapan, bagaimana,
sudah berapa lama, ada gejala tambahan /konstitusional);; Riwayat keluarga yang adakah
menderita penyakit yang sama; Ada tidak penyakit lain yang menyertai, ataukah pernah
menderita sebelumnya; Ada konsumsi obat sejak timbul penyakit.2
Pemeriksaan Fisik

2
Sifat keluhan pasien penting untuk menentukan dibutuhkan atau tidaknya suatu pemeriksaan
fisik lengkap.
Pemeriksaan Fisik Umum
1. Suhu.
2. Tekanan darah
3. Nadi
4. Frekuensi napas
5. Kesadaran
Pemeriksaan Fisik Khusus yaitu pemeriksaan Telinga Hidung dan Tenggorokkan.
Pada pemeriksaan tonsil, ada pembengkakan unilateral, karena jarang kedua tonsil terinfeksi
pada waktu bersamaan. Bila terjadi pembengkakan secara bersamaan, gejala sleep apnea dan
obstruksi jalan nafas akan lebih berat. Pada pemeriksaan fisik penderita dapat menunjukkan
tanda-tanda dehidrasi dan pembengkakan serta nyeri kelenjar servikal/servikal adenopati. Disaat
abses sudah timbul, biasanya akan tampak pembengkakan pada daerah peritonsilar yang terlibat
disertai pembesaran pilar-pilar tonsil atau palatum mole yang terkena.
Tonsil sendiri pada umumnya tertutup oleh jaringan sekitarnya yang membengkak. Timbul
pembengkakan pada uvula yang mengakibatkan terdorongnya uvula pada sisi yang berlawanan.
Paling sering abses peritonsil pada bagian supratonsil atau di belakang tonsil, penyebaran pus ke
arah inferior dapat menimbulkan pembengkakan supraglotis dan obstruksi jalan nafas. Pada
keadaan ini, penderita akan tampak cemas dan sangat ketakutan.3

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan darah, urin dan yang sesuai dengan
keluhan pasien. Pemeriksaan darah dilakukan untuk memeriksa apakah terdapat gangguan
organik dan menilai komplikasi. Selain itu dapat juga dilakukan uji yang lain yaitu:

Pada penderita PTA perlu dilakukan pemeriksaan3:

1. Hitung darah lengkap (complete blood count), pengukuran kadar elektrolit (electrolyte
level measurement), dan kultur darah (blood cultures).

2. Tes Monospot (antibodi heterophile) perlu dilakukan pada pasien dengan tonsillitis dan

3
bilateral cervical lymphadenopathy. Jika hasilnya positif, penderita memerlukan
evaluasi/penilaian hepatosplenomegaly. Liver function tests perlu dilakukan pada
penderita dengan hepatomegaly.

3. Throat culture atau throat swab and culture: diperlukan untuk identifikasi organisme
yang infeksius. Hasilnya dapat digunakan untuk pemilihan antibiotik yang tepat dan
efektif, untuk mencegah timbulnya resistensi antibiotik.

4. Plain radiographs: pandangan jaringan lunak lateral (Lateral soft tissue views) dari
nasopharynx dan oropharynx dapat membantu dokter dalam menyingkirkan diagnosis
abses retropharyngeal.

5. Computerized tomography (CT scan): biasanya tampak kumpulan cairan hypodense di


apex tonsil yang terinfeksi (the affected tonsil), dengan peripheral rim enhancement.

6. Ultrasound, contohnya: intraoral ultrasonography.

Working Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pemeriksaan mulut dan
tenggorokan seringkali menunjukkan adanya pembengkakan pada satu sisi tenggorokan dan pada
langit-langit mulut. Uvula pada tenggorokan bagian belakang bisa terdorong akibat
pembengkakan. Selain itu, leher juga bisa tampak kemerahan dan membengkak. Kelenjar getah
bening pada sisi yang terkena biasanya membesar. Working diagnosa pada kasus ini adalah
Abses Peritonsil.
Abses peritonsil atau Quinsy merupakan suatu infeksi akut yang diikuti dengan terkumpulnya
pus pada jaringan ikat longgar antara m.konstriktor faring dengan tonsil pada fosa tonsil. Infeksi
ini menembus kapsul tonsil (biasanya pada kutub atas). Abses peritonsil merupakan infeksi pada
tenggorok yang seringkali merupakan komplikasi dari tonsilitis akut.4
Abses peritonsil merupakan infeksi pada kasus kepala leher yang sering terjadi pada orang
dewasa. Timbulnya abses peritonsil dimulai dari infeksi superfisial dan berkembang secara
progresif menjadi tonsilar selulitis.
Differential Diagnosis
1. Tonsilitis

4
Tonsillitis adalah suatu peradangan pada tonsil (atau biasa disebut amandel) yang dapat
disebabkan oleh berbagai faktor, namun hampir 50% kasus tonsilitis adalah karana infeksi.
Tonsilitis akut sering dialami oleh anak dengan insidensi tertinggi pada usia 5-6 tahun, dan
juga pada orang dewasa di atas usia 50 tahun. Seseorang terpredisposisi menderita tonsillitis
jika memiliki resistensi yang rendah, memiliki tonsil dengan kondisi tidak menguntungkan
akibat tonsilitis berulang sebelumnya, sebagai bagian dari radang tenggorok (faringitis)
secara umum, atau sekunder terhadap infeksi virus (biasanya adenovirus yang menyebabkan
tonsil menjadi mudah diinvasi bakteri).5
Manifestasi klinik yang mungkin timbul pada tonsilitis sangat bervariasi untuk tiap penderita,
diantaranya rasa mengganjal atau kering di tenggorokan, nyeri tenggorok (sore throat) rasa
haus, malaise, demam, menggigil, nyeri menelan (odinofagia), gangguan menelan (disfagia),
nyeri yang menyebar ke telinga, pembengkakan kelenjar getah bening regional, perubahan
suara, nyeri kepala, ataupun nyeri pada bagian punggung dan lengan.4
Diagnosis dari tonsilitis akut atau berulang ditegakkan terutama berdasarkan manifestasi
klinis. Meskipun demikian prosedur kultur dan resistensi bakterial sangat dianjurkan. Hal ini
berkaitan dengan ditemukannya jenis bakteri Streptokokus beta hemolitikus grup A pada
40% kasus, di mana tonsilitis yang terjadi sekunder terhadap bakteri ini dapat menimbulkan
berbagai komplikasi yang cukup berat. Jenis bakteri lain yang juga dapat ditemukan, antara
lain: streptokokus alfa dan gama, difteroid, stafilokokus aureus, dan haemofilus influenza. Di
samping itu bakteri anaerob juga telah ditemukan pada permukaan dan poros tonsil, terutama
grup bakteroides melaninogenikus.4
Meskipun kebanyakan kasus tonsilitis dapat sembuh dengan penanganan konvensional,
seperti istirahat (bedrest), asupan makanan yang baik, penurun panas (antipiretik), di mana
tanpa pemberian antibiotik, tonsilitis biasanya berlangsung selama kurang lebih 1 minggu.
Adapun pemberian antibiotik dalam kasus seperti ini, umumnya ditujukan untuk mengurangi
episode penyakit dan lamanya gejala yang diderita seperti nyeri tenggorok, demam, nyeri
kepala, ataupun pembengkakan kelenjar getah bening. Antibiotika sendiri menjadi indikasi
jika pada pemeriksaan kultur dan resistensi ditemukan bakteri Streptokokus beta hemolitikus
grup A, dengan tujuan mengeradikasi kuman dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
2. Faringitis
Faringitis adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan peradangan dari faring (terletak
di bagian belakang dari tenggorokan), yang biasanya menyebabkan rasa sakit ketika
menelan. Ini adalah hal yang sangat sering terjadi dan seringkali menunjukkan gejala sakit

5
tenggorokan. Faringitis umumnya disebabkan oleh infeksi virus, seperti influenza (flu).
Infeksi bakteri seperti radang tenggorokan, suatu reaksi alergi, atau refluks asam lambung
juga dapat menyebabkan faringitis. Contohnya bakteri yang termasuk dalam Streptococcus
Grup A dan bakteri lain yang lebih jarang seperti corynebacterium dan arcanobacterium.
Kebanyakan kasus faringitis terjadi pada musim yang lebih dingin. Penyakit ini seringkali
menyebar di antara anggota keluarga. Faringitis biasanya sembuh sendiri tanpa komplikasi.5

Adapun tanda-tanda dan gejala Faringitis yang mungkin timbul: Demam, Kelenjar getah
bening bengkak, Mengalami kesulitan berbicara, Mengalami kesulitan menelan, Rasa sakit
pada persendian, Ruam kulit, Sakit tenggorokan.5

3. Abses Parafaring
Ruang parafaring dapat mengalami infeksi dengan cara:
Langsung, yaitu akibat tusukan jarung pada saat melakukan tonsilektomi dengan analgesia.
Peradangan terjadi karena ujung jarung suntik yang telah terkontaminasi kuman menembus
lapisan otot tipis (M. Konstriktor faring superior) yang memisahkan ruang parafaring dari fosa
tonsilaris
Proses supurasi kelenjar limfa leher bagian dalam, gigi, tonsil, faring, hidung, sinus paranasal,
mastoid dan vertebra servikal dapat merupakan sumber infeksi untuk terjadinya abses ruang
parafaring.
Gejala dan tanda yang utama ialah trismus, indurasi atau pembengkakan di sekitar angulus
mandibula, demam tinggi dan pembengkakan dinding lateral faring, sehingga menonjol ke
arah medial. Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit, gejala dan tanda klinik. Bila
meragukan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang berupa foto rontgen jaringan lunak AP
atau CT scan.

Etiologi
Proses ini terjadi sebagai komplikasi tonsilitis akut atau infeksi yang bersumber dari
kelenjar mukus Weber di kutup atas tonsil. Biasanya kuman penyebab sama dengan penyebab
tonsilitis, dapat ditemukan kuman aerob dan anaerob. Organisme aerob yang paling sering
menyebabkan abses peritonsiler adalah Streptococcus pyogenes (Group A Beta-hemolitik
streptoccus), Staphylococcus aureus, dan Haemophilus influenzae. Sedangkan organisme

6
anaerob yang berperan adalah Fusobacterium. Prevotella, Porphyromonas, Fusobacterium, dan
Peptostreptococcus spp. Untuk kebanyakan abses peritonsiler diduga disebabkan karena
kombinasi antara organisme aerobik dan anaerobic.5

Ada beberapa faktor yang meningkatkan kemungkinan terbentuknya abses peritonsil :

infeksi gigi dan gusi

tonsilitis kronis

infeksi mononukleosis

merokok

leukemia limfositik kronik

endapan kalsium atau batu pada tonsil

Epidemiologi
Abses peritonsil sering mengenai orang dewasa pada usia 20 sampai 40 tahun. Pada anak jarang
terjadi, kecuali yang mengalami gangguan penyakit kekebalan tubuh, tetapi pada anak infeksi
dapat menyebabkan gangguan obstruksi jalan nafas. Persentase efek gangguan jalan nafas sama
pada anak laki-laki dan perempuan.5
Pada umumnya infeksi di bagian kepala leher terjadi pada orang dewasa. Insiden abses peritonsil
di A.S terjadi 30 per 100.000 orang/tahun. Dikutip dari Hanna BC, Herzon melaporkan data
insiden terjadinya abses peritonsil; 1/6500 populasi atau 30.1/40.000 orang pertahun di Amerika
Serikat. Di Irlandia Utara dilaporkan 1 per 100.000 pasien per tahun dengan rata-rata usia 26.4
tahun.

Patofisiologi3

Patofisiologi PTA belum diketahui sepenuhnya. Namun, teori yang paling banyak

7
diterima adalah kemajuan (progression) episode tonsillitis eksudatif pertama menjadi
peritonsillitis dan kemudian terjadi pembentukan abses yang sebenarnya (frank abscess
formation).

Daerah superior dan lateral fosa tonsilaris merupakan jaringan ikat longgar, oleh karena
itu infiltrasi supurasi ke ruang potensial peritonsil tersering menempati daerah ini, sehingga
tampak palatum mole membengkak. Abses peritonsil juga dapat terbentuk di bagian inferior,
namun jarang.

Pada stadium permulaan, (stadium infiltrat), selain pembengkakan tampak juga


permukaan yang hiperemis. Bila proses berlanjut, daerah tersebut lebih lunak dan berwarna
kekuning-kuningan. Tonsil terdorong ke tengah, depan, dan bawah, uvula bengkak dan terdorong
ke sisi kontra lateral.

Bila proses terus berlanjut, peradangan jaringan di sekitarnya akan menyebabkan iritasi
pada m.pterigoid interna, sehingga timbul trismus. Abses dapat pecah spontan, sehingga dapat
terjadi aspirasi ke paru.

Selain itu, PTA terbukti dapat timbul de novo tanpa ada riwayat tonsillitis kronis atau
berulang (recurrent) sebelumnya. PTA dapat juga merupakan suatu gambaran (presentation) dari
infeksi virus Epstein-Barr (yaitu: mononucleosis)

Gejala Klinis
Selain gejala dan tanda tonsilitis akut, terdapat juga odinofagia (nyeri menelan) yang hebat,
biasanya pada sisi yang sama juga dan otalgia (nyeri telinga), muntah, mulut berbau,
hipersalivasi,suara sengau, dan kadang-kadang sukar membuka mulut (trismus), serta
pembengkakan kelenjar submandibula dan nyeri tekan.5
Bila ada nyeri dileher dan atau terbatasnya gerakan leher, maka ini dikarenakan lymphadenopaty
dan peradangan tengkuk.
Penatalaksanaan
1.Terapi
Pada stadium infiltrasi, diberikan antibiotika dosis tinggi, obat simptomatik. Juga perlu kumur-
kumur dengan cairan hangat dan kompres dingin pada leher.6

8
Bila telah terbentuk abses dilakukan pungsi pada daerah abses, kemudian di insisi untuk
mengeluarkan nanah. Tempat insisi ialah di daerah yang paling menonjol dan lunak atau pada
pertengahan garis yang menghubungkan dasar uvula dengan geraham atas terakhir pada sisi yang
sakit.
Bila terdapat trismus, maka untuk mengatasi rasa nyeri, diberikan analgesia (local), dengan
menyuntikkan xylocain atau novocain 1% di ganglion sfenopalatinum. Ganglion ini terletak di
bagian belakang atas lateral dan konkha media. Ganglion sfenopalatinum mempunyai cabang
nervus palatina anterior, media dan posterior yang mengirimkan cabang aferennya ke tonsil dan
palatum molle di atas tonsil. Daerah yang paling tepat untuk insisi mendapat inervasi dari cabang
palatinum nervus trigeminus yang melewati ganglion sfenopalatinum.

2.Insisi dan Drainase


Abses peritonsil merupakan suatu indikasi tindakan yang juga disebut intraoral drainase. Tujuan
utama tindakan ini adalah mendapatkan drainase abses yang adekuat dan terlokalisir secara
cepat. Lokasi insisi biasanya diidentifikasi pada pembengkakan di daerah pilar-pilar tonsil atau
dipalpasi pada daerah paling berfluktuasi.
Tehnik insisi dan drainase membutuhkan anestesi local. Pertama faring disemprot dengan
anestesi local , kemudian 2 cc xylocain dengan adrenalin 1/100.000 disuntikkan. Pisau tonsil
nomor 12 atau nomor 11 dengan plester untuk membuat insisi melalui mukosa dan submukosa
dekat kutub atas fossa tonsilaris. Hemostat tumpul diamsukkan melalui insisi ini dengan lembut
direntangkan. Pengisapan tonsila sebaiknya segera disediakan untuk mengumpulkan pus yang
dikeluarkan. Pada anak yang lebih tua atau dewasa muda dengan trismus yang berat pembedahan
drainase untuk abses peritonsil mungkin dilakukan setelah aplikasi cairan kokain 4% pada daerah
insisi dan daerah ganglion sfenopalatina pada fossa nasalis. Hal nin kadang kadang mengurangi
nyeri dan trismus. Anak-anak yang lebih muda membutuhkan anestesi umum. Menganjurkan
tonsilektomi segera ( tonsilektomi quinsy ) merasa bahwa ini merupakan prasedur yang aman
yang membantu drainase sempurna dari abses jika tonsil diangkat. Hal ini mengurangi kebutuhan
tonsilektomi terencana yang dilakukan enam minggu kemudian , dimana saat itu sering terdapat
jaringan parut dan fibrosis dan kapsul tonsilaris kurang mudah dikenali.

9
3.Medikamentosa3
Pasien yang dehidrasi diberi cairan intravena. Antibiotika sebaiknya diberikan sesuai dengan
hasil kultur dan diberikan secara iv karena efektivitasnya lebih baik daripada peroral. Pilihan
terbaik adalah Cephalexin atau golongan cephalosporin (dengan atau tanpa metronidazole).
Alternative terapi lainnya adalah penisilin 600.000 1.200.000 unit, Cefuroxime atau
cefpodoxime (dengan atau tanpa metrondazole), Clindamicin 2-3 x 500 mg/hari atau ampisilin 3-
4 x 250 500 mg/hari, amoxilin dengan asam clavulanate 3 x 500 mg/hari. Metronidazole 3-4 x
250 500 mg/hari. Pengobatan antibiotika diberikan 7 10 hari Analgetik antipiretik
paracetamol 3-4 x 250 -500 mg/hari , dan diobati kumur antiseptic. Penggunaan steroid masih
controversial. Studi yang dilakukan Ozbeck dengan memberikan dexamethasone IV single dose
dan antibiotika parenteral memberikan hasil yang baik dimana waktu dirawat di rumah sakit
lebih singkat dan nyeri tenggorokan, demam serta trismus lebih cepat mereda dibandingkan
dengan pemberian antibiotika parenteral.
4. tonsilektomi
Filosofi dari tindakan tonsilektomi pada abses peritonsil adalah kekambuhan pada penderita
abses peritonsil terjadi cukup banyak sehingga tindakkan pengangkatan kedua tonsil ini
dilakukan untuk memastikan tidak terjadinya kekambuhan.6
Komplikasi

Komplikasi yang mungkin terjadi ialah4:

1. Abses pecah spontan, mengakibatkan perdarahanm aspirasi paru, atau piema.

2. Penjalaran infeksi dan abses ke daerah parafaring, sehingga terjadi abses parafaring.
Kemudian dapat terjadi penjalaran ke mediastinum menimbulkan mediastinitis.

3. Bila terjadi penjalaran ke daerah intracranial, dapat mengakibatkan thrombus sinus


kavernosus, meningitis, dan abses otak.

Sejumlah komplikasi klinis lainnya dapat terjadi jika diagnosis PTA diabaikan. Beratnya
komplikasi tergantung dari kecepatan progression penyakit. Untuk itulah diperlukan penanganan
dan intervensi sejak dini.

10
Prognosis
Abses peritonsil hampir selalu berulang bila tidak diikuti dengan tonsilektomi, maka ditunda
sampai 6 minggu berikutnya. Pada saat tersebut peradangan telah mereda, biasanya terdapat
jaringan fibrosa dan granulasi pada saat operasi.
Pencegahan
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terbentuknya abses peritonsil,
antara lain dengan cara menjaga kebersihan gigi dan mulut, serta tidak merokok.

Jika terjadi tonsilitis, terutama tonsilitis bakteri, maka infeksi perlu segera diobati sampai tuntas
untuk mencegah terjadinya abses.

Kesimpulan
Abses peritonsil adalah termasuk salah satu abses leher dalam.Abses peritonsil merupakan abses
di luar kapsul atau selubung tonsil , antara kedua lapisan palatum molle.Penyakit ini merupakan
komplikasi dari tonsilofaringitis akut yang membentuk abses pada jaringan longgar sekitar tonsil.
Pada sebagian kasus peritonsil , nanah ditemukan mengisi fossa supratonsil (70%) yang ditandai
dengan pembengkakan dengan edema palatum molle , mengakibatkan tonsil terdorong ke
bawah , depan dan ke tengah. Gejala gejala abses peritonsil yaitu odinofagia , otalgia ,
regurgitasi , foetor ex ore , hipersalivasi , rinolalia , trismus serta pembengkakan kelenjar
submandibula dengan nyeri tekan. Terapi untuk abses peritonsil pada stadium infiltrasi diberikan
antibiotika dosis tinggi dan obat simptomatik.Juga perlu kumur-kumur dengan cairan hangat dan
kompres dingin pada leher.Jika terbentuk abses yang lanjut dapat dilakukan pembedahan
drainase.Tehnik pembedahan dilakukan dengan cara tehnik aspirasi jarum atau dengan tehnik
insisi dan drainase.Tehnik insisi dan drainase membutuhkan anestesi local, anak-anak yang lebih
muda membutuhkan anestesi umum.

DAFTAR PUSTAKA
1) Bickley L.S. Anamnesis. Bates Guide to physical examination and history taking.
International edition. 10th edition. Lippincott Williams & Wilkins. Wolters Kluwer
Health; 2009.
2) Gleadle J. At A Glance;Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Erlangga Medical
Series:2007.
3) Adams GL. Penyakit penyakit nasofaring dan orofaring. Dalam: Boies, Buku Ajar

11
penyakit THT. Jakarta: EGC; 1997. h. 333
4) Fachruddin D. Abses Leher Dalam. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan, Telinga-Hidung-
Tenggorokka. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2006.h.185
5) Soepardi EA, Iskandar HN, Bashiruddin J. Abses Petitonsiler, buku ajar ilmu kesehatan
telinga, hidung dan tenggorokan. Ed: 6th. Jakarta: FKUI; 2011.h.226-7
6) Badran KH, Karkos PD. Aspiration of peritonsilliar abscess in severe trismus. Journal of
Laryngol & Otol 2006;120:492-94

12