Anda di halaman 1dari 3

Tinjauan Tekstur Nada Pada Karya Musik G Minor For Solo

Viola
A. Latar Belakang
Manusia diciptakan berbeda-beda, secara sifat, pemikiran maupun fisik
tidaklah sama. Itulah keagungan dan kehebatan Sang Pencipta menciptakan setiap
mahlukNya. Mulai dari manusia pertama hingga sampai pada manusia terakhir.
Begitu pula dengan ciptaan yang lainnya yaitu warna pada pelangi, jika warna
pelangi itu sama tentu tidak akan ada keindahan pada pelangi. Jika tidak ada
perbedaan , jelas tidak akan seindah itu, perbedaan dan keanekaragaman warnalah
yang membuatnya tampak lebih indah.

Setiap warna memiliki identitas tertentu. Ada warna merah, biru, kuning
dan lain sebagainya. Dari identitas itu setiap warna mampu memberikan kesan
tertentu yang sesuai dengan kondisi sosial. Misalnya warna merah yang
direalisasikan sebagai warna api, warna darah dan suasana mentari di pagi hari.
Mampu memberikan kesan, keberanian, semangat, kehangatan atau kegairahan.
Warna hitam yang mengandung kesan kegelapan, sunyi ataupun berkesan misteri.
Semua warna memiliki kesan masing-masing.

Untuk membuat sebuah lukisan yang bagus dan indah dibutuhkan berbagai
macam warna dengan mencampurkan beberapa warna pokok sehingga
menghasilkan warna warna yang berbeda. Dari pemilihan warna yang berbeda
tentu akan menghasilkan sebuah lukisan yang memiliki berbeda-beda tekstur pula.
Beberapa warna inilah yang nantinya akan menghasilkan lukisan yang unik dan
indah. Dari sini kita tahu bahwa membuat lukisan itu membutuh beberapa warna
sehingga berhasil membuat lukisan itu lebih indah. Berdasarkan fenomena
tersebut Komposer menyadari bahwa membuat membuat sebuah karya musik juga
membutuhkan aspek-aspek yang berbeda, termasuk Tekstur nada pada sebuah
komposisi musik.

Musik dalam pengelempokannya dibagi dalam dua bagian, yaitu musik


vokal dan musik instrumental. Musik vokal yaitu musik yang dihasilkan dari suara
manusia dan sedangkan musik instrumental adalah permainan musik tanpa vokal.
Instrumental merupakan suatu komposisi musik tanpa syair dalam bentuk yang
berbeda semua musik hanya dihasilkan melalui instrumen musik.

Salah satu instrumen musik yang digunakan dalam mengekspresikan


musik adalah viola. Viola merupakan alat musik yang masuk dalam kategori
chordophone yang memiliki karakteristik tersendiri baik dari segi bentuk maupun
dari suara yang dihasilkan. Di antara sekian banyak tipe instrumen gesek, viola
adalah salah satu alat musik yang digunakan dalam nada tengah atau middle dan
selalu digandeng keluarga string lainnya yaitu violin, cello, terkadang juga
kontrabas yang digunakan untuk membawakan karya-karya musik klasik maupun
populer dalam bentuk orkestra. Perbedaan dalam musik yang ditulis untuk viola
dari kebanyakan instrumen lain yaitu dalam penggunaan clef alto atau middle clef.
Viola akan beralih ke treble clef ketika terdapat bagian besar dari musik yang
ditulis lebih tinggi dari register viola untuk membuat tulisan lebih mudah dibaca.

Perkembangan musik dimulai dari musik Gregorian (Plainsong) yang pada


satu sisi bernilai estetis tinggi, tetapi pada sisi lain terdiri dari satu suara
(monofon) saja atau tanpa harmoni yang sesungguhnya. Maka dari itu kita harus
memahami bahwa susunan musik pertama kali terdiri dari melodi. Melodi
merupakan bukan hanya peristiwa pertama, melainkan juga peristiwa terus
menerus pada musik. Akord melulu berarti suatu peristiwa yang lebih komplek
dan berfungsi dalam suatu gerak melodis dari akord-akord. Tidak mustahil jika
hanya berupa sebuah melodi saja bisa diciptakan menjadi sebuah komposisi musik
yang bernilai estetis.

Dari sekian komposer biola, terdaftar hanya beberapa karya musik solo
untuk viola. Masih jauh lebih banyak musik concerto dan musik-musik yang lain
daripada musik solo. Viola sering dimainkan sebagai pengisi dalam string quartet
atau simfoni dibanding seperti violin 1 sebagai melodi utama pada bagian
komposisi. Viola hanya sesekali memainkan peran soloistic utama dalam
penulisan orkestra. Sangat jarang sekali komposer-komposer terdahulu untuk
membuat musik solo untuk viola, sehingga viola cenderung dinilai terbelakang
jika kita bandingkan dengan violin. Karena itu komposer ingin membuat sebuah
karya musik solo untuk mengangkat viola, bahwa instrumen dengan register alto
dapat membuat sebuah alunan musik yang juga sama memiliki nilai estetis tinggi.
Untuk membuat sebuah komposisi musik solo tidak hanya memperhatikan
bagaimana penulisan musiknya saja, tetapi juga bagaimana dengan implementasi
dan interprestasi yang nantinya komposisi musik tersebut akan dimainkan sesuai
dengan apa yang diharapkan dengan mempersiapkan pemain viola dengan
matang. Membutuhkan mental dan kemampuan yang mumpuni agar gagasan
komposer dapat tersampaikan kepada pendengar nantinya.

Untuk membuat sebuah komposisi musik, pemilihan tangga nada


sangatlah penting guna mempermudah penjarian dalam permainan dan dengan
pemilihan tangga nada yang bijak pula mampu memberikan kesan yang baik
terhadap pendengar. Maka daripada itu komposer memilih G minor sebagai
tangga nada pada komposisi musik ini. Tangga nada G minor terdiri dari nada
G,A,Bb,C,D,Eb memiliki kompleks nada yang menurut Wolfgang Amadeus
Mozart dianggap sebagai kunci terbaik untuk menyatakan kesedihan dan tragedi.
Dan banyak dari karya musik yang diciptakannya berada di G minor seperti String
Quartet in G minor dan Prelude in G minor. Kemudian salah satu alasan tangga
nada minor yang nyaman untuk dimainkan pada instrumen viola itu adalah G
minor, karena posisi yang diambil dan penjarian memiliki nada yang tidak sulit
dijangkau dengan beberapa teknik pada viola.

Dari fenomena dan beberapa konsep-konsep musikal diatas, komposer


terdorong untuk menciptakan sebuah karya musik solo untuk instrumen viola
yang bertujuan ingin menyampaikan pesan bahwa viola juga bisa memberikan
suasana yang berbeda dan juga memberikan pengalaman estetis bagi pendengar.
Dan dalam proses pembuatannya juga tidak lepas dengan unsur-unsur musik
terutama tekstur nada yang nantinya akan ditinjau.