Anda di halaman 1dari 4

1.5.

Preformulasi zat tambahan

1.5.1. Carbomer 940

Karbomer atau karbopol merupakan polimer sintetik dari asam akrilik. Pemeriannya

berupa serbuk berwarna putih, halus, bersifat asam dan higroskopis.karbomer larut dalam air

dan gliserin, serta etanol 95% (setelah dinetralkan). Digunakan sebagai bahan bioadhesive,

pengemulsi, basis gel, pensuspensi dan pengikat tablet, selain itu diguakan pada formulasi

sediaan farmasetika seperti krim, gel, losion dan salep sebagai bahan yanag dapat

memperbaiki reologi. Karbomer dengan konsentrasi 0,5-1% digunakan sebagai bahan

suspending agent (Rowe dkk, 2009:110-114)

1.5.2. CMC-Na

CMC Na memiliki bentuk serbuk atau granul, berwarna putih sampai krem dan

bersifat higroskopis. CMC Na digunakan sebagai penambah kekentalan, dengan konsentrasi

yang digunakan untuk fungsi ini adalah 0,1-1,0%. CMC Na sering digunakan dalam sediaan

farmasi oral maupun topikal, terutama dalam meningkatkan kekentalan sediaan. CMC Na

mudah terdispersi dalam air membentuk larutan koloidal, tidak larut dalam etanol, eter dan

pelarut organik. Dalam larutan asam kuat (pH <2) CMC Na dapat mengendap, CMC Na

inkompatibel dengan larutan garam besi atau logam lain seperti almunium, raksa dan seng.

Etanol 95%, gelatin, pektin dan kolagen. Sediaan cair yang mengandung CMC Na stabil pada

pH 2-10 dan akan mengendap pada pH di bawah 2. Viskositas sediaan berkurang secara tepat

pada pH diatas 10. Pada umumnya, viskositas maksiumum ditunjukan dan stabil pada pH 7-9

(Rewo, dkk, 2003:581).

1.5.3. Metil paraben

Metil paraben atau nipagin dapat digunakan sebagai pengawet antimikroba dalam

produksi makanan,formula sediaaan farmasi dan kosmetik. Metil paraben dapat digunakan
sendiri ataupun kombinasi paraben dan zat anti mikroba lain, bentuk metil paraben adalah

kristal tak berwarna, serbuk kristal putih dan tidak berbau. Metil paraben mempunyai

aktivitas antimikroba antara pH 4-8. Efek pengawetan akan menurunkan sebanding dengan

meningkatnya pH. Metil paraben memiliki keaktifan paling lemah dari seluruh paraben.

Aktivitasnya akan meningkat dengan bertambahnya panjang rantai dari alkil. Aktivitasnya

dapat diperbaiki dengan dikombinasikan dengan paraben lain. Metil paraben larut dalam

etanol, eter, propilenglikol, dan metanol. Tidak larut dalam paeafin cair dan air tetapi larut

dalam air hangat. Aktivitas antimikrobadari metil paraben menurun dengan keberadaan

surfaktan non ionik seperti polisorbat 80 (Rewo, dkk, 2003:390).

1.5.4. Propil Paraben

Propil paraben atau nipasol adalah senyawa paraben yang berfungsi sebagai pengawet

antimikroba dalam produksi makanan, formula sediaan farmasi dan kosmetik. Propil paraben

dapat digunakan sendiri ataupun dengan kombinasi paraben dan zatantimikroba lain. Bentuk

propil paraben serbuk hablur putih, tidak berbau dan tidak berasa. Aktivitas antimikroba

propil paraben efektif pada pH 4-8. Efek sebagai pengawet menurundengan meningkatnya

pH. Propil paraben lebih aktif melawan jamur daripada melawan bekteri dan lebih aktif

melawan Gram positif daripada Gram negatif. Propil paraben sangat larut dalam aseton dan

eter, larut dalam etanol, metanol, dan propilenglikol dan tidak larut dalam air. Aktivitas

antimikroba dari propil paraben menurun dengan keberadaan surfaktan non ionik (Rewo,

dkk, 2003:526)

1.5.5. Sorbitol

Sorbitol memiliki serbuk granul berwarna putih, tidak berbau dan memiliki rasa

manis. Sorbitolsangat larut dalam air, sukar larut dalam etanol, metanol, dan aseton. pH

larutan sorbitol adalah 4,5-7,0. Sorbitol relatif inert terhadap zat tambahan lain tetapi

memiliki sifat higroskopik. Sorbitol akan stabil pada udara tanpa adanya katalisdan dingin,
larutanasan dan basa, tidak mudah menguap, tidak mudah terbakar dan tidak mudah korosif.

Sorbitol akan membentuk khrlat yang larut air jika dengan logam divalent dan trivalent dalam

suasana asam kuat dan basa kuat. Dalam dunia farmasi, sorbitol biasa digunakan sebagai

pemanis dan anti caplocking. Sorbitol sebagai pemanis menggunakan konsentrasi 20-35%

(sediaan oral) dan sebagai anti caplocking dengan konsentrasi 15-30 (Rewo, dkk, 2003:596).

1.5.6. Aquadest

Pemerian aquadestilata yaitu berbentuk cairan, tidak berasa, berwarna jernih atau

tidak berwarna, dan tidak berbau. Aquadesttilata memiliki berat molekul 18,02; bobot jenis

1,00 gr/cm3; dan pH larutan 7. Stabilitas akuadestilata lebih mudah terurai dengan adanya

bahan yang mudah terhidrolisis, dapat bereaksi dengan garam-garam anhidrat menjadi bentuk

hidrat, material-material organik dan kalsium koloidal (Rowe dkk, 2009; Depkes RI jilid III,

1979:96).

1.5.7. Sirupus simpleks

Sirupus simpleks merupakan pemanis yang digunakan dalam sediaan oral. Sirupus simpleks

ini dibuat dengan cara melarutkan 65 bagian sukrosa dalam larutan metil paraben 0,25%

secukupnya hingga diperoleh 100 bagian dalam sirup. Sirupus simpleks merupakan cairan

jernih, tidak berwarna dan rasanya manis (Depkes RI jilid III, 1979:557).

1.5.8. Gliserin

Gliserin atau gliserol digunakan sebagai pemanis, kosolven, pengawet antimikroba,

dan peningkat viskositas. Gliserin merupakan cairan tidak berwarna, tidak berbau, kental dan

higroskopis. Gliserin memiliki rasa manis, kira-kira 0,6 kali semanis sukrosa. Gliserin murni

tidak rentan terhadap oksidasi oleh suasana di bawah kondisi penyimpanan biasa, tetapi

terurai pada pemanasan. Gliserin dapat mengkristal jika disimpan pada suhu rendah, kristal

tidak meleleh sampai dihangatkan sampai 208oC. gliserin herus disimpan dalam wadah kedap

udara, sejuk dan tempat kering (Depkes RI jilid IV, 1995:475; Rowe, 2009:283-285).
1.5.9. Alginat

Alginat tidak memiliki rasa, praktis tidak berbau, berwarna putih hingga kekuningan

sebuk serat. Larut dalam hidroksi alkali, menghasilkan larutan yang kental (viscous); sangat

sukar larut atau praktis tidak larut dalam etanol 95% dan pelarut organik lainnya. Asam

alginat dapat mengembang dalam air tapi tidak terlarut. Asam alginat mampu menyerap air

200-300 kali dari beratnya. Berat molekul alginat 20.000-240.000. alginat digunakan sebagai

pensuspensi, pengikat tablet dan peningkat viskositas. Alginat harus disimpan dalamwadah

tertutup baik di tempat yang sejuk dan kering (Rowe, 2009:20-22).

Daftar Pustaka

Departemen Kesehatan. (1979). Farmakope Indonesia, edisi IV. Jakarta: Departemen

Kesehatan Republik Indonesia

Departemen Kesehatan. (1995). Farmakope Indonesia, edisi IV. Jakarta: Departemen

Kesehatan Republik Indonesia

Rewo, R. C., Sheskey, P. J. dan Weller, P. J. (2003). Handbook Of Pharmaceutical Excipient

4nd ed., The Pharmaceutical Press, London.

Rewo, R. C., Sheskey, P. J. dan Weller, P. J. (2009). Handbook Of Pharmaceutical Excipient

6nd ed., The Pharmaceutical Press, London.