Anda di halaman 1dari 4

Tugas Kosmetika Medik

Ringkasan Acne Vulgaris

JULIANA JESSICA NOVIA


1130316

Acne vulgaris adalah penyakit kulit obstruktif dan inflamatif kronik pada unit pilosebasea,
merupakan dermatosis polimorfik dan memiliki peranan poligenetik. Patogenesis acne meliputi empat
faktor, yaitu hiperproliferasi epidermis folikular, produksi sebum berlebihan, inflamasi, dan aktivitas
P. acnes. Gejala klinis acne berupa lesi noninflamasi dan lesiinfl amasi. Derajat berat acne
berdasarkan tipe dan jumlah lesi dapat digolongkan menjadi acne ringan, sedang, berat, dan sangat
berat. Androgen berperan penting tetapi derajat acne tidak berkorelasi dengan kadar androgen serum.
Pemilihan terapi acne secara topikal dan/atau oral, bergantung pada derajat acne, distribusi lesi,
derajat infl amasi, lama sakit, respons terapi sebelumnya, dan efek psikososial. Merokok dan produk
olahan susu memiliki peranan pada acne.
Acne vulgaris atau jerawat, selanjutnya disebut acne, adalah penyakit kulit obstruktif dan
inflamatif kronik pada unit pilosebasea yang sering terjadi pada masa remaja.Acne sering menjadi
tanda pertama pubertas dan dapat terjadi satu tahun sebelum menarkhe atau haid pertama.Onset acne
pada perempuan lebih awal daripada laki-laki karena masa pubertas perempuan umumnya lebih dulu
daripada laki-laki. Prevalensi acne pada masa remaja cukup tinggi, yaitu berkisar antara 47-90%
selama masa remaja. Perempuan ras Afrika Amerika dan Hispanik memiliki prevalensi acne tinggi,
yaitu 37% dan 32%, sedangkan perempuan ras Asia 30%, Kaukasia 24%, dan India 23%.4 Pada ras
Asia, lesi infl amasi lebih sering dibandingkan lesi komedonal, yaitu 20% lesi infl amasi dan 10% lesi
komedonal. Tetapi pada ras Kaukasia, acne komedonal lebih sering dibandingkan acne infl amasi,
yaitu 14% acne komedonal, 10% acne infl amasi. Acne memiliki gambaran klinis beragam, mulai dari
komedo, papul, pustul, hingga nodus dan jaringan parut, sehingga disebut dermatosis polimorfi k dan
memiliki peranan poligenetik. Pola penurunannya tidak mengikuti hukum Mendel, tetapi bila kedua
orangtua pernah menderita acne berat pada masa remajanya, anak-anak akan memiliki kecenderungan
serupa pada masa pubertas. Meskipun tidak mengancam jiwa, acne memengaruhi kualitas hidup dan
memberi dampak sosioekonomi pada penderitanya.
Patogenesis acne meliputi empat faktor, yaitu hiperproliferasi epidermis folikular sehingga
terjadi sumbatan folikel, produksi sebum berlebihan, infl amasi, dan aktivitas Propionibacterium
acnes (P. acnes). Androgen berperan penting pada patogenesis acne tersebut. Acne mulai terjadi saat
adrenarke, yaitu saat kelenjar adrenal aktif menghasilkan dehidroepiandrosteron sulfat, prekursor
testosteron. Penderita acne memiliki kadar androgen serum dan kadar sebum lebih tinggi
dibandingkan dengan orang normal, meskipun kadar androgen serum penderita acne masih dalam
batas normal. Androgen akan meningkatkan ukuran kelenjar sebasea dan merangsang produksi
sebum, selain itu juga merangsang proliferasi keratinosit pada duktus seboglandularis dan
Tugas Kosmetika Medik
Ringkasan Acne Vulgaris
akroinfundibulum. Hiperproliferasi epidermis folikular juga diduga akibat penurunan asam linoleat
kulit dan peningkatan aktivitas interleukin 1 alfa. Epitel folikel rambut bagian atas, yaitu
infundibulum, menjadi hiperkeratotik dan kohesi keratinosit bertambah, sehingga terjadi sumbatan
pada muara folikel rambut. Selanjutnya di dalam
folikel rambut tersebut terjadi akumulasi keratin, sebum, dan bakteri, dan menyebabkan dilatasi
folikel rambut bagian atas, membentuk mikrokomedo. Mikrokomedo yang berisi keratin, sebum, dan
bakteri, akan membesar dan ruptur. Selanjutnya, isi mikrokomedo yang keluar akan menimbulkan
respons inflamasi. Akan tetapi, terdapat bukti bahwa infl amasi dermis telah terjadi mendahului
pembentukan komedo. Faktor keempat terjadinya acne adalah P. acnes, bakteri positif gram dan
anaerob yang merupakan flora normal kelenjar pilosebasea. Remaja dengan acne memiliki
konsentrasi P. acnes lebih tinggi dibandingkan remaja tanpa acne, tetapi tidak terdapat korelasi antara
jumlah P. acnes dengan berat acne. Peranan P. acnes pada patogenesis acne adalah memecah
trigliserida, salah satu komponen sebum, menjadi asam lemak bebas sehingga terjadi kolonisasi P.
acnes yang memicu infl amasi. Selain itu, antibodi terhadap antigen dinding sel P. acnes
meningkatkan respons infl amasi melalui aktivasi komplemen. Enzim 5-alfa reduktase, enzim yang
mengubah testosteron menjadi dihidrotestosteron (DHT), memiliki aktivitas tinggi pada kulit yang
mudah berjerawat, misalnya pada wajah, dada, dan punggung. Pada hiperandrogenisme, selain
jerawat, sering disertai oleh seborea, alopesia, hirsutisme, gangguan haid dan disfungsi ovulasi
dengan infertilitas dan sindrom metabolik, gangguan psikologis, dan virilisasi. Penyebab utama
hiperandrogenisme adalah sindrom polikistik ovarium (polycystic ovarian syndrome, PCOS).
Sebagian penderita PCOS, yaitu sebanyak 70%, juga menderita acne. Meskipun demikian, sebagian
besar acne pada perempuan dewasa tidak berkaitan dengan gangguan endokrin. Penyebab utama acne
pada kelompok ini adalah perubahan respons reseptor androgen kulit terhadap perubahan hormon
fisiologis siklus haid. Sebagian besar perempuan mengalami peningkatan jumlah acne pada masa
premenstrual atau sebelum haid.
Acne paling banyak terjadi di wajah, tetapi dapat terjadi pada punggung, dada, dan bahu. Di
badan, acne cenderung terkonsentrasi dekat garis tengah tubuh. Penyakit ini ditandai oleh lesi yang
bervariasi, meskipun satu jenis lesi biasanya lebih mendominasi. Lesi noninfl amasi, yaitu komedo,
dapat berupa komedo terbuka (blackhead comedones) yang terjadi akibat oksidasi melanin, atau
komedo tertutup (whitehead comedones). Lesi infl amasi berupa papul, pustul, hingga nodus dan
kista. Scar atau jaringan parut dapat menjadi komplikasi acne noninfl amasi maupun acne infl amasi.
Derajat acne berdasarkan tipe dan jumlah lesi dapat digolongkan menjadi ringan, sedang, berat, dan
sangat berat.
Meskipun androgen berperan penting, sebagian besar penderita acne tanpa gejala hiperandrogenisme
memiliki kadar androgen serum normal, dan derajat berat acne tidak berkorelasi dengan kadar
androgen serum. Diduga, androgen hanya sebagai faktor pemicu acne. Klinis acne lebih ditentukan
Tugas Kosmetika Medik
Ringkasan Acne Vulgaris
oleh produksi androgen lokal di kulit yang berlebihan dan/atau reseptor androgen yang banyak serta
sangat responsif.
penentuan derajat acne untuk pengobatan tidak hanya berdasarkan jumlah lesi semata, tetapi juga
ditentukan oleh beberapa faktor lain, misalnya distribusi lesi lokalisata atau generalisata, derajat
inflamasi, lama sakit, respons terapi sebelumnya, dan efek psikososial. Sebagian besar acne ringan
sampai sedang membutuhkan terapi topikal. Acne sedang sampai berat menggunakan kombinasi
terapi topikal dan oral. Pemeriksaan klinis yang baik diperlukan klasifikasi derajat acne berdasarkan
jumlah dan tipe lesi.
Terapi acne dimulai dari pembersihan wajah menggunakan sabun. Beberapa sabun sudah
mengandung antibakteri, misalnya triclosan yang menghambat kokus positif gram. Selain itu juga
banyak sabun mengandung benzoil peroksida atau asam salisilat. Bahan topikal untuk pengobatan
acne sangat beragam. Sulfur, sodium sulfasetamid, resorsinol, dan asam salisilat, sering ditemukan
sebagai obat bebas. Asam azaleat dengan konsentrasi krim 20 persen atau gel 15 persen, memiliki
efek antimikroba dan komedolitik, selain mengurangi pigmentasi dengan berfungsi sebagai inhibitor
kompetitif tirosinase. Benzoil peroksida merupakan antimikroba kuat, tetapi bukan antibiotik,
sehingga tidak menimbulkan resistensi. Antibiotik topikal yang sering digunakan adalah klindamisin
dan eritromisin. Keduanya dapat digunakan dengan kombinasi bersama benzoil peroksida dan terbukti
mengurangi resistensi. Retinoid merupakan turunan vitamin A yang mencegah pembentukan komedo
dengan menormalkan deskuamasi epitel folikular. Retinoid topikal yang utama adalah tretinoin,
tazaroten, dan adapalene. Tretinoin paling banyak digunakan, bersifat komedolitik dan antiinflamasi
poten. Secara umum, semua retinoid dapat menimbulkan dermatitis kontak iritan. Pasien dapat
disarankan menggunakan tretinoin dua malam sekali pada beberapa minggu pertama untuk
mengurangi efek iritasi. Tretinoin bersifat photolabile sehingga disarankan aplikasi pada malam hari.
Salah satu terapi sistemik acne adalah antibiotik. Tetrasiklin banyak digunakan untuk acne infl amasi.
Meskipun tidak mengurangi produksi sebum tetapi dapat menurunkan konsentrasi asam lemak bebas
dan menekan pertumbuhan P .acnes. Akan tetapi tetrasiklin tidak banyak digunakan lagi karena angka
resistensi P.acnes yang cukup tinggi. Turunan tetrasiklin yaitu doksisiklin dan minosiklin
menggantikan tetrasiklin sebagai terapi antibiotik oral lini pertama untuk acne dengan dosis 50- 100
mg dua kali sehari. Eritromisin dibatasi penggunaannya, yaitu hanya pada ibu hamil, karena mudah
terjadi resistensi P.acnes terhadap eritromisin. Resistensi dapat dicegah dengan menghindari
penggunaan antibiotik monoterapi, membatasi lama penggunaan antibiotik, dan menggunakan
antibiotik bersama benzoil peroksida jika memungkinkan. Isotretinoin oral adalah obat yang paling
efektif untuk acne. Dosis isotretinoin yang dianjurkan adalah 0,5-1 mg/kg/hari dengan dosis kumulatif
120-150 mg/kg berat badan. Obat ini langsung menekan aktivitas kelenjar sebasea, menormalkan
keratinisasi folikel kelenjar sebasea, menghambat infl amasi, dan mengurangi pertumbuhan P. acnes
secara tidak langsung. Isotretinoin paling efektif untuk acne nodulokistik rekalsitran dan mencegah
jaringan parut. Meskipun demikian, isotretinoin tidak bersifat kuratif untuk acne. Penghentian obat ini
Tugas Kosmetika Medik
Ringkasan Acne Vulgaris
tanpa disertai terapi pemeliharaan yang memadai, akan menimbulkan kekambuhan acne.2 Selain itu,
penggunaan obat ini harus berhatihati pada perempuan usia reproduksi karena bersifat teratogenik.
Penggunaan isotretinoin dan tetrasiklin bersamaan sebaiknya dihindari karena meningkatkan risiko
pseudotumor serebri. Suntikan glukokortiokoid intralesi dapat diberikan untuk lesi acne nodular dan
cepat mengurangi infl amasinya. Risiko tindakan ini adalah hipopigmentasi dan atrofi . Modalitas lain
yang dapat digunakan untuk mengatasi acne adalah radiasi ultraviolet yang memiliki efek antiinfl
amasi terhadap acne. Radiasi UVB atau kombinasi UVB dan UVA dapat bermanfaat untuk acne infl
amasi, tetapi perlu diwaspadai potensi karsinogeniknya.
Meskipun acne tidak mematikan, tetapi penyakit ini memiliki prevalensi yang tinggi pada usia
remaja. Acne disebabkan oleh multifaktor, karena itu penanganan acne sebaiknya dilakukan secara
menyeluruh dengan memperhatikan semua faktor tersebut. Penanganan yang optimal akan mencegah
rekurensi dan sekuele.

1. Zaenglein AL, Graber EM, Thiboutot DM, Strauss JS. Acne vulgaris and acneiform eruption.
In: Fitzpatrick TB, Eisen AZ, Wolff K, Freedberg IM, Austen K, eds. Dermatology in general
medicine. 7th ed. New York: McGraw-Hill, 2008:690-703.
2. Kurokawa I, Danby FW, Ju Q, Wang X, Xiang LF, Xia L, Chen WC, Nagy I, et al. New
developments in our understanding of acne pathogenesis and treatment. Experimental Dermatology.
2009; 18: 821-32.
3. Cunliff e WJ, Gollnick HPM. Clinical features of acne. In: Cunliff e WJ, Gollnick HPM, eds. Acne
diagnosis and management. London: Martin Dunitz Ltd, 2001:49-68.
4. Perkins AC, Cheng CE, Hillebrand GG, Miyamoto k, Kimball AB. Comparison of the
epidemiology of acne vulgaris among Caucasian, Asian, Continental Indian and African American
women. J Eur Acad Dermatol Venerol. 2011;25(9):1054-60.
5. Zouboulis CC, Eady A, Philpott M, Goldsmith LA, Orfanos C, Cunliff e WC, Rosenfi eld R. What
is the pathogenesis of acne. Experimental Dermatology. 2005; 14: 143-52.
6. Haider A, Shaw JC. Treatment of acne vulgaris. JAMA. 2004;292(6):726-35.
7. Harper JC. An update on the pathogenesis and management of acne vulgaris. J Am Acad Dermatol.
2004;51(1):S36-8.
8. Addor FAS, Schalka S. Acne in adult women. An Bras Dermatol 2010;85(6):789-95.
9. Jacyk WK. Acne vulgaris. Grades of severity and treatment options. SA Fam Pract. 2003;45(9):32-
6.
10. Cunliff e WJ, Gollnick HPM. Topical therapy. In: Cunliff e WJ, Gollnick HPM, eds. Acne
diagnosis and management. London: Martin Dunitz Ltd, 2001:107-14.
11. Pappas A. The relationship of diet and acne-a review. Dermato-endocrinology. 2009;I(5);262-7.