Anda di halaman 1dari 32

REFERAT

MANFAAT VITAMIN D UNTUK SARKOPENIA

Disusun Oleh :
Salsha Amalia G99161090
Utari Nur Alifah G99161100

Pembimbing

dr. Fatichati B., SpPD, FINASIM

KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU PENYAKIT DALAM


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR MOEWARDI
S U R AK AR TA
2016HALAMAN PENGESAHAN

Referat Ilmu Penyakit Dalam dengan judul:

MANFAAT VITAMIN D UNTUK SARKOPENIA

Disusun Oleh :
Salsha Amalia G99161090
Utari Nur Alifah G99161100

Telah disetujui untuk dipresentasikan pada tanggal :

Pembimbing,

(dr. Fatichati B.,Sp.PD, FINASIM)

2
DAFTAR ISI

COVER
LEMBAR PENGESAHAN
DAFTAR ISI3
BAB I4
PENDAHULUAN4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA6
A. Sarkopenia6
B. Vitamin D14
C. Vitamin D dan Sarkopenia24
BAB III29
PENUTUP29
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................

3
BAB I
PENDAHULUAN

Sarkopenia adalah penyakit degeneratif yang disertai menurunnya status


gizi, hilangnya masa otot beserta fungsinya, dimana akan berakibat turunnya
kualitas hidup dan meningkatnya risiko angka morbiditas dan mortalitas
penderita. Komposisi otot berubah sepanjang waktu dimana miofibril digantikan
oleh lemak, kolagen dan jaringan parut. Aliran darah ke otot berkurang sejalan
dengan menuanya seseorang, diikuti dengan berkurangnya jumlah nutrien dan
energi yang tersedia untuk otot sehingga kekuatan otot berkurang. Pada usia 60
tahun, kehilangan total adalah 10-20% dari kekuatan otot yang dimiliki pada usia
30 tahun. Manula mengalami atropi otot, disamping sebagai akibat berkurangnya
aktifitas, juga seringkali akibat gangguan metabolik (Cruz-Jentoft et al.,
2010).Ukuran otot mengecil dan penurunan massa otot lebih banyak terjadi pada
ekstrimitas bawah. Sel otot yang mati digantikan oleh jaringan ikat dan lemak.
Kekuatan atau jumlah daya yang dihasilkan oleh otot menurun dengan
bertambahnya usia. Kekuatan otot ekstrimitas bawah berkurang sebesar 40%
antara usia 30 sampai 80 tahun (Ivan et al., 2009).
Nutrisi yang berperan pada sarkopenia adalah protein, vitamin D,
antioksidan, selenium, vitamin E, dan C. Protein merupakan nutrisi utama yang
berperan pada sarkopenia. Nutrisi kedua yang berperan penting pada sarkopenia
dan kekuatan massa otot adalah vitamin D. Orang usia lanjut berisiko mengalami
defisiensi vitamin D. Setiati et al,mendapatkan prevalensi defisiensi vitamin D
pada usia lanjut sebesar 35,1%. Rendahnya kadar vitamin D memiliki risiko 4 kali
lipat untuk menjadi frailty. Kadar vitamin D yang rendah menyebabkan
kelemahan otot, kesulitan bangun dari tempat duduk, kesulitan menaiki tangga,
masalah keseimbangan. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa vitamin D
memainkan peran dalam sarkopenia. Kadar vitamin D telah dikaitkan secara
positif dengan massa otot, kekuatan otot dan kinerja fisik, sementara perbaikan
dalam fungsi fisik dan pengurangan risiko jatuh telah dibuktikan pada lansia
setelah pemberian suplementasi vitamin D (Setiati, 2014).

4
Penelitian mengenai efek pemberian vitamin D terhadap sarkopenia
sendiri masih banyak berkembang dan menuai kontroversi. Sebagian penelitian
menunjukkan hasil yang signifikan sementara penelitian lain tidak menunjukkan
hasil yang signifikan. Oleh karena itu, dibutuhkan kajian yang mendasar
mengenai sarkopenia, vitamin D dan hubungan antara keduanya. Penulis berharap
referensi artikel ini dapat memberikan pengetahuan tambahan mengenai manfaat
vitamin D pada sarkopenia dan dapat membuka inspirasi untuk penelitian lanjutan
atau pertimbangan terapi pada sarkopenia.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Sarkopenia
1. Definisi Sarkopenia
Sarkopenia adalah penurunan massa otot dan kekuatan otot yang
berjalan paralel pada usia lanjut yang sehat (Setiati dan Laksmi, 2010). Istilah
sarkopenia pertama kali dikenalkan oleh Irwin Rosenberg pada tahun 1988.
Sarkopenia berasal dari Bahasa Yunani, sarx (otot) dan penia (kehilangan)
yang berarti kehilangan massa otot. Sarkopenia merupakan sindrom yang
ditandai dengan berkurangnya massa otot rangka serta kekuatan otot secara
progresif dan menyeluruh, umumnya diiringi inaktivitas fisik, cara berjalan
yang lambat, penurunan mobilitas dan endurasi fisik yang rendah. Sarkopenia
adalah kondisi yang dapat terjadi pada usia lanjut yang sehat. Walaupun
utamanya terjadi pada usia lanjut, terdapat kondisi lain yang dapat
menyebabkan sarkopenia pada usia muda seperti malnutrisi, gaya hidup
sedenter, keganasan dan cachexia (Setiati, 2013). Sarkopenia dapat
menyebabkan kehilangan kekuatan dan menjadi factor yang berkontribusi
dalam fraility, jatuh dan ketergantungan (Borst, 2004). Berdasarkan data dari
CC, sarkopenia merupakan satu dari lima faktor risiko utama dalam
morbiditas dan mortalitas orang yang berumur lebih dari 65 tahun
(Povoroznyuk, 2014).

2. Etiologi Sarkopenia
Sarkopenia pada usia lanjut yang sehat dimulai saat usia 40-50 tahun
dan melaju sekitar 0,6% setiap tahun berikutnya. Penurunan massa otot
dengan laju tersebut biasanya belum memiliki dampak buruk, namun ketika
otot tidak digunakan seperti pada kondisi sakit maka penurunan massa otot
dapat memberikan dampak buruk. Sarkopenia memiliki etiologi
multifaktorial. Proses terjadinya sakropenia melibatkan interaksi antara sistem

6
saraf tepi dan sentral, hormonal, status nutrisi, imunologis dan aktifitas fisik
yang kurang. Pada tingkat molekuler, sarkopenia disebabkan karena
penurunan kecepatan sintesis protein otot dan atau peningkatan pemecahan
protein otot yang tidak proporsional. Proses neuropati paling berpengaruh
karena bertanggungjawab pada degenerasi saraf motor alfa yang mensarafi
serabut otot dan menyebabkan otot kehilangan motor unit (Setiati, 2013).
Kehilangan motorneuron, nutrisi, aktifitas fisik yang berkurang, reduksi
hormon steroid dan ketidakmampuan produksi hormon pertumbuhan (GH)
atau insulin-line growth factor (IGF-I) (Borst, 2004).

Gambar 2.1.Mekanisme sarkopenia (Povoroznyuk, 2014)

Povoroznyuk pada tahun 2014 menyebutkan bahwa penyebab


sarkopenia dibagi menjadi primer dan sekunder. Sarkopenia primer terjadi
bersamaan dengan bertambahnya usia yang mempengaruhi otot rangka seperti
perubahan neuron yang menyebabkan apoptosis, disfungsi mitokondria,
kehilangan motor neuron, penurunan serabut otot, kenaikan atrofi otot;
defisiensi vitamin D; gaya hidup termasuk nutrisi; dan perubahan proses
katabolik. Sarkopenia sekunder terjadi karena satu atau lebih kondisi yang

7
menyebabkan penurunan masa otot seperti sarkopenia karena berkurangnya
aktifitas, nutrisi dan terkena penyakit.

Sarkopenia primer
Sarkopenia karena usia Tidak ada penyebab lain selain
bertambahnya usia
Sarkopenia sekunder
Sarkopenia karena aktifitas Dapat disebabkan karena
berkurangnya aktifitas seperti tirah
baring lama, keadaan tanpa gravitasi
Sarkopenia karena penyakit Beruhungan dengan kerusakan organ
tingkat lanjut (seperti pada jantung,
paru-paru, hati, ginjal, otak),
penyakit inflamasi, malignansi atau
penyakit endokrin
Sarkopenia karena nutrisi Disebabkan karena diet yang tidak
adekuat terutama energy dan protein,
atau dapat terjadi juga karena
malabsorbso, kelainan
gastrointestinal, penggunaan obat-
obatan yang menyebabkan anoreksia
Tabel 2.1.Kategori sarkopenia berdasarkan penyebab (Cruz-Jentoft
A.J. et al., 2010)

Stadium sarkopenia yang menggambarkan keparahan kondisi dapat


membantu dalam manajemen sarkopenia. The European Working Group on
Sarkopenia in Older People (EWGSOP) membagi stadium sarkopenia menjadi
presarkopenia, sarkopenia dan sarkopenia berat. Presarkopenia merupakan
keadaan massa otot yang rendah tanpa mempengaruhi kekuatan otot atau
performa fisik, stadium ini hanya dapat diidentifikasi dengan pemeriksaan
yang dapat mengukur massa otot secara akurat. Stadium sarkopenia
merupakan keadaan dimana massa otot rendah disertai kekuatan otot atau
performa fisik yang rendah. Sarkopenia berat merupakan keadaan dimana

8
massa otot rendah, kekuatan otot rendah dan performa fisik rendah (Cruz-
Jentoft A.J. et al., 2010).
Stadium Massa Otot Kekuatan Otot Performa Fisik
Presarkopenia
Sarkopenia atau
Sarkopenia berat

Tabel 2.2.Stadium sarkopenia oleh EWGSOP (Cruz-Jentoft A.J. et al.,


2010)

3. Diagnosis Sarkopenia
Diagnosis sarkopenia menurut The European Working Group on
Sarkopenia in Older People (EWGSOP) dapat ditegakkan apabila didapatkan
setidaknya dua dari tiga kriteria berikut : (1) masaa otot rendah, (2) kekuatan
otot buruk, dan (3) performa fisik yang kurang. Penurunan massa otot yang
dimaksud adalah massa otot kurang dari dua kali standar deviasi referensi
populasi laki-laki atau perempuan dewasa muda yang sehat di daerah tersebut.
Kriteria diagnosis tersebut sulit diterapkan di Indonesia karena belum adanya
data normatif besaran massa otot pada populasi dewasa muda serta data
referensi kekuatan otot pada berbagai kelompok usia dan jenis kelamin. Selain
itu, saat ini belum ada standar teknik pengukuran besaran massa otot untuk
usia lanjut. Teknik yang dianggap sebagai baku emas adalah pemeriksaan
dual-energy X-ray absorptiometry (DEXA).
Teknik lainnya adalah bioelectric impedans, computed tomography
(CT), magnetic resonance imaging (MRI) serta pengukuran eksresi urin dan
kreatinin, pengukuran antropometri dan aktivasi netron (Setiati, 2013).
Pengukuran kekuatan otot yang direkomendasikan oleh EWGSOP adalah
kekuatan genggaman tangan dan untuk performa fisik dapat diukur dengan
skoring short physical performance battery (SPPB) yang merupakan
penjumlahan dari skor 3 tes : (1) kecepatan berjalan biasa selama 4 menit, (2)
keseimbangan dan (3) tes duduk berdiri. Alternatif pengukuran lainnya adalah

9
tes berjalan selama 6 menit, tes timed go-up and go, dan tes kekuatan menaiki
tangga (Setiati, 2013).
Variabel Penelitian Penerapan klinis
Massa otot CT Scan BIA
MRI DXA
DXA
Bioimpedance analysis
(BIA) Antropometri
Total atau parsial
kalsium tubuh per
jaringan bebas lemak
Kekuatan otot Kekuatan genggam Kekuatan genggam
Fleksi/ekstensi lutut
Arus puncak ekspirasi
Performa fisik Short Physical SPPB
Performance Battery Usual gait speed
(SPPB) Get up and go test
Usual gait speed
Get up and go test
Tes kekuatan menaiki
tangga
Tabel 2.3.Pengukuran massa otot, kekuatan dan fungsi dalam
beberapa penelitian (Cruz-Jentoft A.J. et al., 2010)

10
11
Tabel 2.4.Diagnosis sarkopenia; mengukur variabel dan cut-off point (Cruz-
Jentoft A.J. et al., 2010)

Gambar 2.2.Algoritma sarkopenia pada lansia menggunakan Meassure Gait


Speed(Cruz-Jentoft A.J. et al., 2010)

4. Prevalensi Sarkopenia
Sarkopenia terjadi pada semua jenis kelamin. Prevalensi sarkopenia di
Amerika dan Eropa sekitar 5-13% pada usia 60-70 tahun dan 11-5-% pada
usia di atas 80 tahun sementara di Asia prevalensi sarkopenia sebanyak 8-22%
pada perempuan dan 6-23% pada laki-laki. Laporan oleh Setiati et. al. pada
tahun 2013 melaporkan dari 251 pasien geriatri rawat jalan, terdapat pasien
dengan kekuatan genggam tangan yang rendah sebesar 8% dan mobilitas
terbatas sebesar 2,8% (Setiati, 2013).
5. Sarkopenia dan Sindroma Lain
Sarkopenia berperan pada sindroma lain yang berkaitan dengan
melemahnya otot seperti kakeksia, fraility, obesitas sarkopenik. Kakeksia

12
merupakan sindrom metabolik kompleks yang memiliki karakteristik
hilangnya massa otot dengan atau tanpa hilangnya massa lemak. Kakeksia
banyak ditemukan pada orang tua yang sering diikuti dengan penyakit lain
seperti kanker, kardiomiopati kongestif dan penyakit ginjal stadium akhir.
Kakeksia berhubungan dengan inflamasi, resistensi insulin, anoreksia dan
peningkatan pemecahan protein otot. Kebanyakan individu dengan kakeksia
mengalami sarkopenia namun individu yang mengalami sarkopenia belum
tentu mengalami kakeksia. Fraility merupakan sindroma geriatri yang
berhubungan dengan usia. Menurunnya fungsi fisiologis tubuh, gangguan
cadangan homeostasis dan berkurangnya kemampuan untuk menahan stress
menyebabkan kerentanan yang merugikan seperti terjatuh, efek perawatan di
rumah sakit dan mortalitas. Fraility dan sarkopenia sering tumpang tindih,
pada orang tua dengan fraility mengalami sarkopenia dan begitu pula
sebaliknya. Fraility tidak hanya mencakup faktor fisik saja namun juga
psikologi dan sosial. Pada beberapa kondisi seperti malignansi, reumatoid
artritis dan penuaan, massa tubuh menurun namun massa lemak menetap atau
malah bertambah, keadaan ini dapat disebut obesitas sarkopenik. (Cruz-Jentoft
A.J. et al., 2010).
6. Manajemen Sarkopenia
i. Olahraga dan aktifitas fisik
Terapi yang direkomendasikan untuk sarkopenia adalah olahraga
dan aktifitas fisik. Olahraga aerobik selain bermanfaat untuk sistem
respirasi dan kardiovaskular juga bermanfaat dalam
menyeimbangkan rasio lemak dan otot tubuh. Olahraga anaerob
untuk menguatkan otot memiliki efek yang lebih baik pada sistem
muskuloskeletal termasuk dalam mencegah osteoporosis serta
sarkopenia. Pelatihan selama 10-12 minggu dengan durasi 30
menit sebanyak dua kali dalam seminggu menghasilkan kenaikan
signifikan kekuatan otot pada lansia baik wanita maupun pria.
Aktifitas fisik yang efektif meningkatkan hasil dari terapi lain
sarkopenia dibandingkan jika tidak diiringi aktifitas fisik.

13
ii. Nutrisi
Intake makanan pada lansia mengalami pengurangan karena
dipengaruhi oleh perubahan faktor viseral, hormonal, neurologis,
farmakologis dan psikososial. Penelitian oleh Solerte S (2008)
menunjukkan bahwa penambahan dosis protein sebanyak 0,25
g/kg/hari dapat menambah massa otot pada pasien dengan
sarkopenia. Jumlah optimal protein kualitas tinggi pada lansia
sebanyak 20-30 gram per sajian, namun jumlah yang lebih tinggi
tidak menyebabkan stimulasi protein sintesis pada jaringan otot.
iii. Farmakoterapi
Pemberian growth hormon (GH) dapat meningkatkan massa otot
namun tidak meningkatkan kekuatan otot. Pemberian GH pada
lansia masih butuh banyak penelitian dan dilaporkan terdapat efek
samping yang tinggi seperti retensi cairan, ginekomastia, hipotensi
orthostatik dan carpal tunnel syndrome. Defisiensi vitamin D
(kurang dari 25 nmol/l) dapat menyebabkan risiko terjadinya
sarkopenia. Suplemen vitamin D pada orang lansia dapat
mencegah proses sarkopenia, disabilitas fisik dan risiko jatuh
(Povoroznyuk et al., 2014). Belakangan ini, vitamin D yang
berkaitan dengan terjadinya sarkopenia banyak diteliti efeknya
terhadap terapi dan pencegahan sarkopenia.

B. Vitamin D
1. Definisi vitamin D

Vitamin D adalah nama generik dari dua molekul, yaitu ergokalsiferol


(vitamin D2) dan kolekalsiferol (vitamin D3). Prekursor vitamin D hadir
dalam fraksi sterol dalam jaringan hewan (di bawah kulit) dan tumbuh-
tumbuhan berturut-turut dalam bentuk 7-dehidrokolesterol dan ergosterol.
Keduanya membutuhkan radiasi sinar ultraviolet untuk mengubahnya ke
dalam bentuk provitamin D3 (kolekalsiferol) dan D2 (ergokalsiferol). Kedua

14
provitamin membutuhkan konversi menjadi bentuk aktifmya melalui
penambahan dua gugus hidroksil. Terminologi vitamin D3 dan ekivalen
tercantum pada Tabel 2.1. (Almatsier, 2010).

Asal hewan Asal tumbuh-tumbuhan


7-dehidrokolesterol (prekursor D3) Ergosterol (prekursor D3)
Sumber: epidermis hewan Sumber: tumbuh-tumbuhan
Vitamin D3 Vitamin D2
Kolekalsiferol Ergokalsiferol
Sumber: radiasi prekursor Sumber: radiasi precursor
25-hidroksi kolekalsiferol 25-hidroksi ergokalsiferol
Kolekalsiferol Ergokalsiferol
25(OH)D3 25(OH)D2
Sumber: perubahan di dalam hati Sumber: perubahan di dalam hati
Vitamin D3 (bentuk aktif)* Vitamin D2 (bentuk aktif)*
1,25-dihidroksi kolekalsiferol 1,25-dihidroksi ergokalsiferol
Kalsitriol Erkalsitriol
1,25(OH)2D3 1,25(OH)2D2
Sumber: perubahan di dalam ginjal Sumber: perubahan di dalam ginjal
* kedua bentuk aktif biasanya dinamakan vitamin D3
Tabel 2.5. Terminologi Vitamin D3 dan Ekivalen (Almatsier, 2010)

2. Pembentukan vitamin D
Kebutuhan vitamin D dipenuhi melalui diet dan pajanan sinar
matahari di kulit. Vitamin D3, kolekalsiferol, berasal dari efek iradiasi UVB
(panjang gelombang 290-315 nm) pada 7-dehidrokolesterol (kolesterol
dengan ikatan rangkap pada atom karbon 7) yang merupakan pendamping
tambahan kolesterol di dalam kulit. Pajanan sinar matahari ke epidermis kulit
menginduksi konversi fotolitik dari 7-dehydrocholesterol menjadi previtamin
D3 yang diikuti oleh isomeriasi termal vitamin D 3. Ada susunan ulang
molekul dengan terbukanya cincin B inti steroid (Gambar 2.1). Kolekalsiferol
merupakan bentuk vitamin D yang terdapat secara alami pada manusia dan

15
hewan, seperti dalam minyak hati ikan kod, ikan yang berlemak, mentega,
dan hati hewan. Vitamin D2 berasal dari ergosterol (sterol fungus) melalui
iradiasi senyawa tersebut dengan cahaya UV melalui rangkaian perubahan
kimia yang sama dan disebut ergokalsiferol (Holick, 2007).

Gambar 2.3. Pembentukan vitamin D3 dalam kulit (Holick, 2007)

16
Gambar 2.4. Proses Metabolisme Vitamin D (Baeke et al., 2007)

3. Metabolisme vitamin D
Di dalam tubuh, vitamin D tidak langsung dalam keadaan aktif
sehingga vitamin D tersebut harus dimodifikasi secara kimia (mengalami
hidroksilasi) sebanyak dua kali. Vitamin D dibawa dalam plasma dalam
keadaan terikat dengan 2- globulin yang spesifik, yaitu protein yang
mengikat vitamin D. Vitamin D3 dibawa ke hati dan dimetabolisir menjadi
25(OH)D oleh mitokondria hati dan enzim mikrosom. Pembuatan 25(OH)D
di hati diatur oleh mekanisme umpan balik, yakni peningkatan konsumsi diet
dan produksi endogen vitamin D3. Dalam mikrosom hati, ujung rantai-
samping mengalami hidroksilasi untuk membentuk 25hidroksi-vitamin D
(25(OH)D). Senyawa ini mempunyai kadar yang lebih stabil dalam darah
dibandingkan kadar vitamin D yang mengalami kenaikan temporer ketika
jumlah vitamin tersebut diserap atau disintesis dalam kulit (Baeke et al.,
2007).
Setelah pembentukan di hati, senyawa 25(OH)D masih belum berupa
metabolit aktif. Senyawa 25(OH)D harus mempunyai gugus hidroksil ketiga
(OH) yang berada pada atom karbon 1. Reaksi penambahan gugus hidroksil
ini dilakukan oleh enzim, 1- hidroksilase, di dalam ginjal oleh karena itu
senyawa 25(OH)D akan dibawa ke ginjal oleh protein pengikat vitamin D
(Vitamin D binding protein). Lebih tepatnya senyawa 25(OH)D dibawa ke
dalam mitokondria tubulus proksimal untuk membuat 1,25-dihidroksi vitamin
D (1,25(OH)2D) yang juga disebut kalsitriol. Kadar 1,25(OH)2D plasma
adalah sekitar seribu kali lebih kecil daripada kadar 25(OH)D. Aktivitas
enzim 1-hidroksilase renal dikontrol dengan ketat sehingga kecepatan
produksi 1,25(OH)2D baru meningkat ketika terjadi penurunan kadar kalsium
plasma atau kenaikan kadar hormon paratiroid. Senyawa 1,25(OH)2D
merupakan salah satu dari tiga hormon yang secara normal bekerja sama
untuk mempertahankan kadar kalsium agar tetap konstan (Baeke et al., 2007).

17
Dalam proses bioaktifasi vitamin D formasi bentuk 1,25(OH)2D dari
25(OH)D dalam kondisi fisiologi normal, utamanya dilakukan di ginjal, tetapi
ternyata terdapat beberapa organ lain yang dapat melakukan perubahan
tersebut terutama dalam kondisi spesifik (kehamilan, gagal ginjal kronik,
sarkoidosis, tuberkulosis, kelainan granulomatosa dan rheumatoid arthritis).
Setelah menjadi metabolit aktif vitamin D (1,25(OH)2D3 maka vitamin D
dapat dimanfaatkan oleh berbagai jaringan perifer.

Gambar 2.5. Target vitamin D dalam tubuh (Baeke et al., 2007)

18
Ga
mbar 2.6. Aktivasi vitamin D

Vitamin D dibentuk lebih sedikit dalam kulit yang berwarna gelap


dibandingkan kulit yang berwarna putih karena melanin dalam kulit
menyerap sinar UV. Orang tua juga membentuk lebih sedikit vitamin D
setelah mereka terpajan dengan sinar UV gelombang pendek; kulit mereka
mengandung materi awal 7-dehidrokolesterol yang lebih sedikit. Vitamin D
yang dikonsumsi kemudian akan dicerna, diserap, dan diangkut dari usus
halus bagian proksimal dalam kilomikron. Seperti lemak lainnya, penyerapan
dapat terganggu pada penyakit kronis dalam sistem empedu atau pada
penyakit usus dengan malabsorbsi. Ekskresi vitamin D ke dalam getah
empedu, terutama sebagai metabolit yang lebih polar (Holick, 2007).

19
G
ambar 2.7. Metabolisme dan fungsi vitamin D (Almatsier, 2010)

4. Asupan Vitamin D
Sumber utama vitamin D adalah paparan sinar matahari, asupan bahan
makanan sumber, suplementasi, asupan makanan fortifikasi. Diet dengan
tinggi minyak ikan dapat mencegah defisiensi vitamin D. Paparan sinar
matahari berupa radiasi UVB dengan panjang gelombang 290-315 (sumber
lain menyebutkan 280- 320nm) dapat menjadi sumber yang sangat baik
terutama di daerah tropis. Sinar matahari tersebut akan menembus kulit dan
mengkonversi 7-dehydrocholesterol menjadi previtamin D3 setelah paparan
30 menit, dan secara cepat akan dikonversi menjadi vitamin D3. Banyaknya
previtamin D3 atau vitamin D3 akan dipecah oleh sinar matahari, kelebihan
paparan sinar matahari tidak menyebabkan intoksikasi vitamin D3 (Holick,
2007).

20
Secara alami sangat sedikit makanan yang mengandung atau
difortifikasi vitamin D, termasuk vitamin D2 dan D3. Vitamin D2 diproduksi
melalui irradiasi sinar ultra violet ergosterol dari jamur, dan vitamin D3
melalui irradiasi 7- dehidroksikolesterol dari lanolin. Kedua bahan tersebut
digunakan untuk membuat suplemen vitamin D (Holick, 2007).
Kecukupan vitamin D tidak hanya penting untuk kesehatan tulang saja
tetapi juga untuk fungsi optimal organ dan jaringan seluruh tubuh. Kebutuhan
meningkat seiring pertumbuhan usia, masa remaja adalah masa yang paling
tinggi kebutuhan akan vitamin D sesuai dengan Angka Kecukupan Gizi
(AKG) untuk vitamin D. Angka kecukupan gizi vitamin D yang dianjurkan
untuk orang Indonesia berdasarkan PERMENKES RI tahun 2013 tercantum
pada tabel 2.4.
Golongan umur Angka Kecukupan
(tahun) Gizi (mcg)
16-18 15
19-29 15
30-49 15
50-64 15
65-80 20
Lebih dari 80 20
Tabel 2.6.Angka Kecukupan Gizi Vitamin D yang Dianjurkan
(PERMENKES RI, 2013)

5. Fungsi vitamin D
Fungsi utama vitamin D adalah membantu pembentukan dan
pemeliharaan tulang bersama vitamin A dan vitamin C, hormon-hormon
paratiroid dan kalsitonin, protein kolagen, serta mineral-mineral kalsium,
fosfor, magnesium dan flour. Fungsi khusus vitamin D dalam hal ini adalah
membantu pengerasan tulang dengan cara mengatur agar kalsium dan fosfor
tersedia di dalam darah untuk diendapkan pada proses pengerasan tulang
(Almatsier, 2010).
Di dalam saluran cerna, kalsitriol meningkatkan absorpsi vitamin D
dengan cara merangsang sintesis protein pengikat-kalsium dan protein

21
pengikatfosfor pada mukosa usus halus. Di dalam tulang, kalsitriol bersama
hormon paratiroid merangsang pelepasan kalsium dari permukaan tulang ke
dalam darah. Di dalam ginjal, kalsitriol merangsang reabsorbsi kalsium dan
fosfor (Almatsier, 2010).
Peranan klasik vitamin D
Vitamin D sebagai sistem endokrin adalah komponen penting dalam
interaksi antara ginjal, tulang, hormon paratiroid, dan usus yang hasilnya
menjaga kadar kalsium ekstraseluler selalu dalam batas normal sehingga
dapat berguna dalam proses vital fisiologi dan integritas skeletal
Di usus, peranan vitamin D sangat penting dalam proses absorpsi
kalsium dan fosfat dari makanan. Pertumbuhan dari tulang membutuhkan
kalsium dan 1,25(OH)2D3 membuat formasi osteoblastik tulang yang optimal.
Di kelenjar paratiroid, pemberian 1,25(OH)2D3 akan menghambat sintesis
PTH dan pertumbuhan sel paratiroid sehingga pemberian 1,25(OH)2D3
sebagai terapi bagi hiperparatiroidisme pada pasien gagal ginjal kronik.
Di ginjal, peran terpenting dari efek endokrin 1,25(OH) 2D di ginjal
adalah kontrol yang ketat dari hemostasisnya sendiri melalui mekanisme
supresi dari 1-hydroxylase dan menstimulasi 24-hydroxylase dan melalui
ekspresi dari megalin di tubulus proksimal (Dusso et al., 2005).
Peranan non klasik vitamin D
Berbagai penelitian genetika, nutrisi dan epidemiologi, serta bukti
ilmiah terbaru yang berkaitan dengan defisiensi vitamin D tidak hanya
berhubungan dengan gangguan dari hemostasis kalsium tetapi juga banyak
yang berkaitan dengan hipertensi, fungsi otot, imunitas dan kemampuan
menahan infeksi, penyakit autoimun dan kanker.Pada bagian ini akan sedikit
dibahas tentang peran vitamin D selain dari perannya secara klasik yang
memelihara homeostasis kalsium dan sistem skeleton (Dusso et al., 2005)
Supresi pertumbuhan sel. Mekanisme yang menjadi hipotesisnya
adalah mengkaitkan sistem 1,25(OH)2D3-VDR yang memblok siklus sel
kanker pada transisi antara G1-G0 melalui berbagai cara. Regulasi
apoptosis. 1,25(OH)2D3 meningkatkan kemampuan antitumor dan

22
proapoptotik pada radiasi ionisasi pada kanker mammae. Dari sini hal yang
terpenting yang dapat diambil adalah peranan 1,25(OH)2D3 sebagai agen
proapoptotik sangat penting dalam mengontrol pertumbuhan sel hiperplastik.
Kontrol sistem renin-angiotensin. Beberapa penelitian klinik dan
epidemiologi terakhir menyimpulkan adanya hubungan yang bermakna antara
tidak adekuatnya pajanan sinar matahari atau rendahnya 1,25(OH) 2D3 dalam
serum dengan tingginya tekanan darah dan/atau tingginya aktifitas renin di
plasma. Hal ini membuktikan satu peranan lagi dari vitamin D yaitu sebagai
regulator negatif dari sistem renin-angiotensin. Kontrol sekresi insulin. .
Beberapa penelitian menemukan aktifitas 1-hidroxylase pada sel pankreas,
meningkatkan kemungkinan potensi dari vitamin D dalam mengatur sekresi
vitamin D dan mencegah terjadinya penyakit diabetes melitus.
Kontrol fungsi otot. Kelemahan dan atrofi otot dengan gangguan
elektrofisiologi pada mekanisme kontraksi dan relaksasi otot banyak terjadi
pada pasien dengan defisiensi vitamin D contohnya pada pasien gagal ginjal
kronik dan penggunaan obat anti konvulsi jangka panjang yang menurunkan
kadar vitamin D pada serum. Pada pasien gagal ginjal kronik pemberian
vitamin D secara rutin dapat memperbaiki fungsi ventrikel kiri pada pasien
dengan kardiomiopati dan kelemahan otot. Mekanisme yang berlaku
sebenarnya belum jelas betul dan membutuhkan penelitian lebih lanjut (Dusso
et al., 2005).

C. Vitamin D dan Sarkopenia


Vitamin D memiliki banyak fungsi dalam tubuh manusia selain
berperan dalam metabolisme kalsium. Pada otot rangka, vitamin D berperan
dalam regulasi transpor kalsium, ekspresi protein sitoskeletal, metabolisme
phosphate, proliferasi dan diferensiasi sel, dan aktivasi jalur signal kinase di
sel otot. Banyak penelitian-penelitian yang telah dilakukan berkaitan dengan
vitamin D terhadap sarkopenia atau terhadap otot secara general. Meta-
analisis yang dilakukan oleh Stockton et al. tahun 2011, menunjukkan bahwa
suplementasi vitamin D bermanfaat terhadap kekuatan otot. Dalam

23
metaanalisis ini, peneliti mengambil data dari 7 uji klinik. Total pasien yang
ikut serta adalah 310 individu sehat. Sebanyak 67% adalah wanita dengan
usia 21,5 sampai 31,5 tahun. Durasi eksperimen bervariasi dari 4 minggu
sampai 6 bulan dan dosisnya bervariasi 4.000IU sampai 60.000IU per
minggu. Hasilnya, setelah selesai eksperimen, terjadi peningkatan kekuatan
otot secara bermakna pada kelompok eksperimen di ekstremitas atas
(P=0,005) dan bawah (P=0,04). Metaanalisis ini menyimpulkan bahwa
suplementasi vitamin D pada individu sehat bermanfaat meningkatkan
kekuatan otot secara bermakna baik pada ekstremeitas atas (P=0,005) maupun
ekstremitas bawah (P=0,04).
Vitamin D dapat memengaruhi otot rangka melalui dua cara, indirek
dan direk. Secara direk ialah berkaitan dengan reseptor vitamin D yang ada di
otot rangka. Vitamin D aktif yang berikatan dengan reseptor vitamin D
(VDR) akan mempengaruhi sintesis protein otot dengan cara bekerja secara
langsung pada otot untuk meningkatkan sintesis proteinnya. Sintesis protein
yang lebih besar dibandingkan dengan pemecahan akan menghindari
terjadinya penurunan massa pada otot. Pada lansia, penurunan kecepatan
sintesis protein otot dan/atau peningkatan pemecahan protein otot yang tidak
proporsional akan menyebabkan terjadinya sarkopenia (Setiati, 2014).

24
Gambar 2.8. Pengaruh Vitamin D terhadap Otot

Secara indirek vitamin D dapat memengaruhi pengikatan kalsium


dalam retikulum sarkoplasma otot rangka. Bila terjadi defisiensi vitamin D,
maka kemampuan retikulum sarkoplasma untuk mengikat kalsium juga akan
menurun. Ion kalsium yang diikat oleh retikulum sarkoplasma ini nantinya
akan terlepas bila terjadi potensial aksi dan menimbulkan kekuatan tarik-

25
menarik antara filamen aktin dan miosin sehingga terjadi kontraksi (Ceglia,
2009).
Pada lansia, hilangnya massa otot disebabkan oleh penurunan ukuran
dan jumlah serat otot. Serat otot pada dewasa muda tampak poligonal
sedangkan pada lansia tampak flat atau crushed (Pojednic et al., 2014).
Penurunan pada jumlah serat terutama mempengaruhi serat oksidatif merah,
tapi lebih banyak penelitian pada histokimia enzim dan sifat fisiologis
menunjukkan kehilangan yang lebih besar pada serat tipe II yang cepat.
Penurunan massa otot ini merupakan faktor penting yang mengakibatkan
penurunan kekuatan otot (Andersen, 2003).
Level vitamin D menurun seiring dengan bertambahnya usia,
kandungan vitamin D pada kutan empat kali lebih rendah pada lansia
dibandingkan pada dewasa muda. Telah diketahui bahwa vitamin D memiliki
peran penting pada metabolisme tulang dan otot (Burton, 2010). Proses
penuaan juga mempengaruhi ekspresi dari reseptor vitamin D (VDR),
Bischoff-Ferrari et al., melakukan penelitian dengan biopsi dari gluteus
medius 20 pasien wanita yang mengalami arthroplasti pada pinggang (rerata
usia 71.6 tahun) dan biopsi dari musculus transversospinalis 12 pasien wanita
dengan operasi di spinal. Hasil analisis imunohistokemikal dari penelitian
tersebut menunjukkan bahwa angka VDR-positif myonucleus berkurang
dengan ad.anya proses penuaan. Ekspresi VDR tidak terpengaruh oleh
25(OH)D3 atau 1,25(OH)2D3, namun ada kemungkinan kalau menurunnya
ekspresi VDR pada lansia dapat mengurangi respon fungsional serat otot
terhadap 1,25(OH)2D3.
Penelitian oleh Kim et al (2011) menunjukkan bahwa terdapat
hubungan yang kuat antara level 25(OH)D dengan sarkopenia pada lansia di
Korea. Defisiensi vitamin D berhubungan dengan peningkatan risiko
terjadinya sarkopenia pada lansia di Korea. Defisiensi vitamin D
berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot dan fungsi serta peningkatan
risiko jatuh. Menurut Kim et al (2011) terdapat empat mekanisme yang dapat
menjelaskan bagaimana vitamin D memengaruhi metabolisme sel otot.

26
Pertama, vitamin D meregulasi homeostasis kalsium. 1,25-Di-
hydroxyvitaminD3 menginduksi pengeluaran kalsium dan pengubahan sinyal
kalsium yang berperan dalam meregulasi kekuatan kontraktilitas otot pada
serabut otot yang berdiferensiasi. Kedua, vitamin D menstimulasi proliferasi
dan differensiasi myoblast dan mempengaruhi degenerasi lemak pada otot.
Ketiga, vitamin D melindungi otot skelet dari resistensi insulin. Defisiensi
vitamin D berhubungan dengan sindroma metabolik dan diabetes mellitus.
Terapi dengan asam lemak menginduksi resistensi insulin dan atrofi otot
namun penambahan 1,25(OH)2D3 dapat meningkatkan stimulasi insulin dan
uptake glukosa serta mencegah atrofi. Keempat, 1,25(OH)2D3 menginduksi
pelepasan asam arachidonat yang mengubah fluiditas dan permeabilitas
membran dan memengaruhi fungsi membran dari sel otot.
Suplementasi vitamin D pada usia lanjut dengan defisiensi vitamin D
bermanfaat untuk mencegah sarkopenia, penurunan status fungsional, dan
risiko jatuh. Sumber vitamin D banyak didapatkan pada ikan salmon, tuna,
dan makarel. Pajanan sinar matahari juga merupakan salah satu sumber
vitamin D, namun letak geografis, waktu berjemur, kandungan melanin dalam
kulit, dan penggunaan tabir surya dapat memengaruhi kandungan vitamin D
(Setiati, 2014). Studi menunjukkan terdapat peningkatan kekuatan otot
tungkai bawah dengan dosis harian vitamin D yang intermiten. Insufisiensi
vitamin D dikatakan apabila level 25(OH)D <40 nmol/L. Pada lansia di eropa
prevalensi defisiensi vitamin D usia 71-76 sebanyak 36% pada pria dan 47%
pada wanita. Pada orang yang memiliki level 15(OH)D <40 nmol/L,
dibutuhkan suplementasi agar level 25(OH)D mencapai >75 nmol/L agar
kesehatan tulang dan otot tetap terjaga. Dosis harian vitamin D yang
direkomendasikan adalah 700-1000 IU untuk mencapai dosis optimal level
25(OH)D sebanyak 75-100nmol/L. Namun, pemberian vitamin D sebagai
suplemen pada lansia juga dapat meningkatkan risiko nephrolithiasis dan
hiperkalsemia. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan
suplementasi vitamin D sebagai terapi sarkopenia termasuk untuk meneliti
efek sampingnya pada lansia (Burton, 2010).

27
BAB III
PENUTUP

Sarkopenia merupakan penyakit degeneratif yang ditandai dengan


berkurangnya massa otot rangka serta kekuatan otot secara progresif dan
menyeluruh. Sarkopenia banyak terjadi pada usia lanjut yang sehat baik pada laki-
laki maupun perempuan. Prevalensi sarkopenia di Asia sebanyak 8-22% pada
perempuan dan 6-23% pada laki-laki. Sarkopenia merupakan satu dari lima factor
risiko utama morbiditas dan mortalitas pada orang yang berumur lebih dari 65
tahun. Sarkopenia memiliki etiologi multifactorial seperti interaksi antara system
saraf tepi dan sentral, hormonal, status nutrisi, imunologis dan aktifitas fisik yang
kurang. Pada tingkat molekuler sarkopenia disebabkan karena penurunan
kecepatan sintesis protein otot dan atau peningkatan pemecahan protein otot yang
tidak proporsional. Sarkopenia primer disebabkan oleh bertambahnya usia
sementara sarkopenia sekunder terjadi karena satu atau lebih kondisi yang
memengaruhi penurunan massa otot seperti berkurangnya aktifitas, nutrisi dan
terkena penyakit. Stadium sarkopenia dibagi berdasarkan massa otot, kekuatan
otot dan pefrorma fisik menjadi : presarkopenia, sarkopenia dan sarkopenia berat.
Teknik lain yang mudah untuk menilai sarkopenia adalah pengukuran massa otot
menggunakan pengukuran antopometri, pengukuran kekuatan otot dengan
menggunakan kekuatan genggaman dan pengukuran performa fisik dengan get up
and go test. Sarkopenia berperan pada sindroma lain yang berkaitan dengna
melemahnya otot pada lansia seperti kakeksia, fraility dan ovesitas sarkopenik.
Manajemen sarkopenia diantaranya adalah olahraga dan aktifitas fisik, nutrisi
serta farmakoterapi.
Pemberian vitamin D sebagai farmakoterapi pada sarkopenia dapat
mencegah proses sarkopenia, disabilitas fisik dan risiko jatuh. Vitamin D
merupakan nama generic dari dua molekul ergokalsiferol dan kolekalsiferol.
Kebutuhan vitamin D dipenuhi melalui diet dan pajanan sinar matahari di kulit. Di
dalam tubuh, vitamin D harus dimodifikasi di dalam hati agar dapat menjadi
bentuk aktif. Sumber utama vitamin D adalah paparan sinar matahari, makanan,

28
suplementasi dan asupan makanan fortifikasi. Pemenuhan kebutuhan vitamin D
penting untuk kesehatan tualang serta untuk fungsi optimal seluruh organ dan
jaringan tubuh. Kebutuhan meningkat seiring pertumbuhan usia. Vitamin D
berperan dalam pembentukan dan pemeliharaan tulang bersama vitamin A dan
vitamin C, hormone-hormon paratiroid dan kalsitonin, protein kolagen sert
mineral-mineral kalsium, fosfor, magnesium dan flour. Peran klasik vitamin D
sebagai system endokrin penting dalma interaksi antara ginjal, tulang, hormone
paratiroid dan usus yang menjaga kadar kalsium ekstraseluler selalu dalam batas
normal sehingga berguna dalam proses vital. Peran non klasik vitamin D sebagai
supresi pertumbuhan sel, control system renin-angiotensin dan kontrol fungsi otot.
Vitamin D memiliki fungsi pada otot rangka sebagai regulasi transport
kalsium, ekspresi protein sitoskeletal, metabolisme phosphate, proliferasi dan
diferensiasi sel dan aktivasi jalur signal kinase di sel otot. Suplementasi vitamin D
bermanfaat terhadap kekuatan otot. Vitamin D dapat memengaruhi otot rangka
secara indirek (memengaruhi peningkatan kalsium dalam reticulum
sarkoplasmaotot rangka) dan direk (melalui reseptor vitamin D pada otot rangka).
Level vitamin D menurun seiring dengan bertambahnya usia. Kandungan vitamin
D pada lansia empat kali lebih rendah disbanding pada dewasa muda. Terdapat
hubungan yang kuat antara defisiensi vitamin D dengan peningkatan risiko
terjadinya sarkopenia. Suplementasi vitamin D pada usia lanjut bermanfaat untuk
mencegah sarkopenia, penurunan status fungsional dan risiko jatuh. Pemberian
dosis harian vitamin D yang direkomendasikan adalah 700-1000 IU pada orang
yang mengalami defisiensi vitamin D. Namun perlu diperhatikan risiko
nephrolithiasis dan hiperkalsemia pada pemberian vitamin D sebagai suplemen
pada lansia.

29
DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. (2010). Prinsip-prinsip ilmu gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka


Utama.
Andersen, JL. 2003. Muscle fibre type adaptation in the elderly human muscle.
Scandinavian Journal of Medicine & Science inSports, 13(1) pp. 40
47,.
Baeke, F., Etten, E. V., Overbergh, L., & Mathieu, C. (2007). Vitamin D3 and the
immune system: maintaining the balance in health and disease.
Nutrition research reviews, 20(1), 106-18.
doi:10.1017/S0954422407742713
Bischoff-Ferrari, M. Borchers, F. Gudat, U. Durmuller, and W. Dick. (2004).
Vitamin D receptor expression in human muscle tissue decreaseswith
age. Journal of Bone and Mineral Research, 19(2) pp. 265269, 2004.
Borst, S.E. (2004). Interventions for Sarkopenia and Muscle Weakness in Older
People. Age and Ageing, 33(6), 548-555
Burton, L. A., & Sumukadas, D. (2010). Optimal management of sarkopenia.
Clinical Interventions in Aging, 5, 217228.
Ceglia L. Vitamin D and skeletal muscle tissue and function. Mol Aspects Med.
2008; 29:40714.
Cruz-Jentoft AJ, Baeyens JP, Bauer JM et al. (2010). Sarkopenia: European
consensus on definition and diagnosis: report of the European
Working Group on Sarkopenia in Older People. Age Ageing; 39: 412
23.
Dusso, A.D., Brown, A.J., Slatopolsky, E. 2005. Vitamin D. Am. J. Physiol. Renal.
Physiol. 289: 8-28.
Holick, M.F. (2007) High prevalence of vitamin D inadequacy and implications
for health.Mayo. Clin Proc. 81(3):353-373.
Ivan B, Katrien VP, Tony M (2009)Sarkopenia And Functional Decline:
Pathophysiology, Prevention And Therapy. Acta Clinica Belgica,
2009; 64-4

30
Kim MK et al. (2011). Vitamin D Deficiency Is Associated with Sarkopenia in
Older Koreans, Regradless of Obesity: The Fourth Korea National
Helath and Nutrition Examination Surveys (KNHANES IV) 2009.
Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism, 96(10)
L. B. Verdijk, R. Koopman, G. Schaart, K. Meijer, H. H. C. M. Savelberg, and L.
J. C. Van Loon. (2007). Satellite cell content is specifically reduced in
type II skeletal muscle fibers in the elderly. American Journal of
PhysiologyEndocrinology andMetabolism, 292(1) pp. E151E157.
Murray, Robert K, Daryl K Graner, Victor WR. (2009). Biokimia Harper Edisi 27.
Jakarta: EGC
Pojednic RM & Ceglia L. (2014). The Emerging Biomolecular Role of Vitamin D
in Skeletal Muscle. Exercise and Sport Science Reviews. Apr;42(2):76-
81.
Povoroznyuk V, Dzerovych N, Povoroznyuk R (2014) Sarkopenia: Mini-Review
and Results of the Ukrainian Study. Ann Gerontol Geriatric Res 1(3):
1014.
Rosen, C. J. (2011). Vitamin D insufficiency. New England Journal of
Medicine, 364(3), 248-254.

Roth, S.M., Zmuda, J.M., Cauley, J.A., Shea, P.R., Ferrell, R.E., 2004. Vitamin D
receptor genotype is associated with fat-free mass and sarkopenia in
elderly men. J. Gerontol. A Biol. Sci. Med. Sci. 59 (1), 1015.

Setiati, Siti. (2013). Geriatric Medicine, Sarkopenia, Fraility dan Kualitas Hidup
Pasien Usia Lanjut: Tantangan Masa Depan Pendidikan, Penelitian
dan Pelayanan Kedokteran di Indonesia. Jurnal Kedokteran
Indonesia, 1(3), 234-242.
Stockton, K., Mengersen, K., Paratz, J. D., Kandiah, D., & Bennell, K. L. (2011).
Effect of vitamin D supplementation on muscle strength: a systematic
review and meta-analysis. Osteoporosis international, 22(3), 859-871.
Sudoyo, et.al. (2010). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi Kelima. Jakarta:
InternaPublishing

31
Tortora, GJ, Bryan D. (2009). Principles of Anatomy and Physiology 12th edition.
USA: Wiley Publisher

Visser, M., Deeg, D.J., Lips, P., 2003. Low vitamin D and high parathyroid
hormone levels as determinants of loss of muscle strength and muscle
mass (sarkopenia): the Longitudinal Aging Study Amsterdam. J. Clin.
Endocrinol. Metab. 88 (12), 57665772.

32