Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

Sarkopenia adalah penyakit degeneratif yang disertai menurunnya status gizi,


hilangnya masa otot beserta fungsinya, dimana akan berakibat turunnya kualitas hidup dan
meningkatnya risiko angka morbiditas dan mortalitas penderita.Komposisi otot berubah
sepanjang waktu dimana miofibril digantikan oleh lemak, kolagen dan jaringan parut. Aliran
darah ke otot berkurang sejalan dengan menuanya seseorang, diikuti dengan berkurangnya
jumlah nutrien dan energi yang tersedia untuk otot sehingga kekuatan otot berkurang. Pada
usia 60 tahun, kehilangan total adalah 10-20% dari kekuatan otot yang dimiliki pada usia 30
tahun. Manula mengalami atropi otot, disamping sebagai akibat berkurangnya aktifitas, juga
seringkali akibat gangguan metabolik (Cruz-Jentoft et al., 2010).Ukuran otot mengecil dan
penurunan massa otot lebih banyak terjadi pada ekstrimitas bawah. Sel otot yang mati
digantikan oleh jaringan ikat dan lemak. Kekuatan atau jumlah daya yang dihasilkan oleh otot
menurun dengan bertambahnya usia. Kekuatan otot ekstrimitas bawah berkurang sebesar
40% antara usia 30 sampai 80 tahun (Ivan et al., 2009).
Nutrisi yang berperan pada sarkopenia adalah protein, vitamin D, antioksidan, selenium, vitamin
E, dan C. Protein merupakan nutrisi utama yang berperan pada sarkopenia. Nutrisi kedua yang berperan
penting pada sarkopenia dan kekuatan massa otot adalah vitamin D. Orang usia lanjut berisiko mengalami
defisiensi vitamin D. Setiati et al,mendapatkan prevalensi defisiensi vitamin D pada usia lanjut sebesar
35,1%. Rendahnya kadar vitamin D memiliki risiko 4 kali lipat untuk menjadi frailty. Kadar vitamin D
yang rendah menyebabkan kelemahan otot, kesulitan bangun dari tempat duduk, kesulitan
menaiki tangga, masalah keseimbangan. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa
vitamin D memainkan peran dalam sarkopenia. Kadar vitamin D telah dikaitkan secara
positif dengan massa otot, kekuatan otot dan kinerja fisik, sementara perbaikan dalam fungsi
fisik dan pengurangan risiko jatuh telah dibuktikan pada lansia setelah pemberian
suplementasi vitamin D (Setiati, 2014).
Penelitian mengenai efek pemberian vitamin D terhadap sarkopenia sendiri masih
banyak berkembang dan menuai kontroversi. Sebagian penelitian menunjukkan hasil yang
signifikan sementara penelitian lain tidak menunjukkan hasil yang signifikan. Oleh karena
itu, dibutuhkan kajian yang mendasar mengenai sarkopenia, vitamin D dan hubungan antara
keduanya. Penulis berharap referensi artikel ini dapat memberikan pengetahuan tambahan
mengenai manfaat vitamin D pada sarkopenia dan dapat membuka inspirasi untuk penelitian
lanjutan atau pertimbangan terapi pada sarkopenia.