Anda di halaman 1dari 28

CASE REPORT

RHINOSINUSITIS KRONIK

Rendy Muttaqien Sinaga


1102012236

Pembimbing :
dr. Fahmi Attaufany, Sp. THT-KL

Kepaniteraan Ilmu Telinga Hidung Tenggorokan


RSUD Soreang
Februari 2017

BAB I
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS
Nama : Tn. S
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia :67 tahun
Agama : Islam
Status menikah : Menikah
Pendidikan terakhir : SMP
Pekerjaan :-
Alamat : GG Siliwangi III 9 RT 01/RW 07
Tanggal Pemeriksaan : 13 Februari 2017

II. ANAMNESIS

Keluhan utama :
Keluar cairan dari hidung

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke Poli klinik THT RSUD Soreang dengan keluhan keluar cairan dari
hidung sebelah kiri sejak 3 bulan SMRS. Cairan lendir berwarna putih kekuningan
dan sedikit agak kental dari hidung sebelah kiri, berbau. Pasien mengaku cairan dari
hidung keluar terutama saat pasien sedang menunduk atau sedang sujud. Pasien juga
mengaku hidung sebelah kiri merasa tersumbat sehingga terasa sulit untuk menghidu
yang sudah dirasakan 3 bulan SMRS . Keluhan demam tidak dirasakan pasien.
Keluhan sakit kepala, pusing, nyeri pada wajah dan batuk pilek disangkal pasien.
Keluhan telinga terasa tersumbat atau gangguan pendengaran disertai keluarnya
cairan pada telinga disangkal pasien. Keluhan mulut terasa pahit ataupun rasa panas di
dada disangkal pasien. Pasien mengaku sering bersin-bersin dan mengeluakran lendir
terutama saat pagi atau malam hari saat udara dingin. Bersin-bersin yang dirasakan
pasien >5x setiap muncul gejala, namun dirasakan tidak mengganggu aktivitas pasien.
Pasien juga memiliki kebiasaan merokok, dengan jenis rokok filter (6-8 batang per
hari). Pada saat itu, pasien diberikan obat oleh dokter namun tidak mengetahui jenis
obatnya, dan keluhan membaik.

Riwayat Penyakit Dahulu:

2
Pasien mengaku sering merasa hidung tersumbat, bersin-bersin dan mengeluarkan
lendir saat pagi dan malam hari saat udara sedang dingin. Pasien mengaku memiliki
alergi terhadap makanan, terutama makanan laut.
Riwayat Penyakit Keluarga:
Tidak ada keluarga yang memiliki keluhan/gejala yang sama dengan pasien.

Riwayat Alergi
Pasien memiliki alergi terhadap udara yang dingin. Alergi terhadap
makanan(+), dan obat-obatan (-).

Riwayat Pengobatan :
Pasien mendapatkan pengobatan sebelumnya, yaitu cetirizine.

III. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : Tampak sakit ringan


Kesadaran : Compos Mentis
Vital Sign :
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Suhu : 36.5 C
Nafas : 20 x/ menit

Nadi : 80 x/ menit

A. Status Generalis

Kepala : CA (-) SI (-) Pupil isokor miosis (+/+)


Leher : Tidak teraba pembesaran KGB
Thoraks : Tidak dilakukan pemeriksaan
Abdomen : Tidak dilakukan pemeriksaan
Ekstremitas : Tidak ada udem (-/-), sianosis (-/-) CRT < 2
Neurologis : Refleks fisiologis : tidak dilakukan pemeriksaan
Refleks patologis : tidak dilakukan pemeriksaan
Genitalia : tidak dilakukan pemerikssaan

3
B. Status THT
1. Pemeriksaan Telinga

Auris
Bagian Kelainan
Dextra Sinistra
Kelainan kongenital - -

Radang dan tumor - -


Preaurikula
Trauma - -

Nyeri tekan tragus - -


Kelainan kongenital - -

Aurikula Radang dan tumor - -

Trauma - -
Edema - -

Hiperemis - -

Nyeri tekan - -
Retroaurikula
Sikatriks - -

Fistula - -

Fluktuasi - -
Nyeri pergerakan - -
aurikula
Palpasi
Nyeri tekan tragus
- -
Canalis Kelainan kongenital - -
Acustikus
Kulit Tenang Tenang
Externa
Sekret - -

Serumen - -

Edema - -

Jaringan granulasi - -

4
Massa - -

Cholesteatoma - -

Warna Putih ke abu- Putih ke abu-


abuan abuan

(+) (+)
Intak
(-) (-)
Retraksi
(+) (+)
Membrana Refleks cahaya
Timpani (-) (-)
Perforasi

2. Pemeriksaan Hidung

Pemeriksaan Nasal Dextra Nasal Sinistra

Hidung luar Bentuk normal, Bentuk normal,

Oedema (-) Hiperemis (-) Oedema (-) Hiperemis (-)

Nyeri tekan sinus Nyeri tekan sinus maksillaris (+)


maksillaris (+)
Deviasi (-) depresi (-)
Deviasi (-) depresi (-)
Krepitasi (-)Deformitas(-)
Krepitasi (-)Deformitas(-)

5
Rhinoscopy Nasal Dextra Nasal Sinistra
Anterior

Vestibulum nasi Normal (+) Normal (+)

Mukosa Hiperemis (+), massa (-) Hiperemis (+), massa (-)

Sekret (-) (+) mucopurulent

Krusta (-) (-)

Konka inferior dan Hipertrofi(+),hiperemis(+ Hipertrofi (+), hiperemis (+)


media )

Septum nasi Deviasi (-), dislokasi (-)

Polip / tumor (-) (-)

Pasase udara media Berkurang Berkurang

Rhinoscopy posterior : Tidak dilakukan pemeriksaan

3. Pemeriksaan Mulut dan Orofaring

Bagian Kelainan Keterangan


Mukosa mulut Tenang

Lidah Bersih, basah,gerakan normal kesegala arah

Palatum molle Tenang, simetris

Mulut Gigi geligi Caries (-)

Uvula Tenang, letak di tengah

Pilar Tidak ada kelainan

Halitosis (-)

6
Mukosa Tenang

Besar T1 T1

Kripta : Normal - Normal

Detritus : (-/-)
Tonsil
Perlengketan (-/-)

Mukosa Tenang

Faring Granula (-)

Post nasal drip (-)

Maksilofasial

Bentuk :Simetris

Nyeri tekan : -

Leher
Kelenjar getah bening : Tidak teraba pembesaran KGB

Massa : Tidak ada

IV. RESUME
Tn S., laki-laki berusia 67 tahun datang ke Poliklinik THT RSUD Soreang dengan keluhan
keluar cairan dari hidung sejak 3 bulan SMRS. Cairan warna putih kekuningan terkadang
berbau yg biasanya keluar saat sedang menunduk. Pasien mengaku sering bersin (>5x sekali
bersin) pada pagi/malam hari terutama bila cuaca dingin namun tidak mengganggu aktivitas.
Keluhan lain disangkal pasien. Pasien mengaku gejala bersin-bersin biasanya reda dengan
pemberian obat dari dokter sebelumnya. Pasien memiliki alergi terhadap makanan laut.
Pasien juga memiliki kebiasaan merokok (6-8 batang perhari). Pada pemeriksaan fisik,

7
keadaan umum, kesadaran, tanda-tanda vital, dan status generalis dalam batas normal. Pada
pemeriksaan rinoskopi anterior didapatkan mukosa hiperemis, konka inferior hipertrofi dan
hiperemis. Pemeriksaan THT lainnya dalam batas normal.
V. DIAGNOSA BANDING

Rhinosinusitis kronik

Rhinosinusitis akut

Adenoiditis Kronik

VI. DIAGNOSA KERJA


Rhinosinusitis kronis

VII. Pemeriksaan penunjang

1. Radiologi (rontgen waters)

2. Nasoendoskopi

VIII. PENATALAKSANAAN

Aquamaris nasal spray 4x semprot / hari (ND)

Amoksisilin 3x500 mg (PO)

Cetrizine 1x10 mg (PO)

Pseudoefedrine 3x30 mg (PO)

IX. PROGNOSIS

Quo ad vitam : ad Bonam

Quo ad functionam : ad Bonam

Quo ad sanationam : dubia ad bonam

8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Anatomi Sinus Paranasal


Sinus paranasal adalah rongga berisi udara yang berbatasan langsung dengan rongga
hidung. Bagian lateralnya merupakan sinus maksila (antrum) dan sel-sel dari sinus etmoid,
sebelah kranial adalah sinus frontal, dan sebelah dorsal adalah sinus sphenoid. Sinus sphenoid
terletak tepat di depan klivus dan atap nasofaring. Sinus paranasal juga dilapisi dengan epitel
berambut-getar. Lendir yang dibentuk di dalam sinus paranasal dialirkan ke dalam meatus
nasalis. Alirannya dimulai dari sinus frontal, sel etmoid anterior, dan sinus maksila kemudian
masuk ke meatus-medius. Sedangkan aliran dari sel etmoid posterior dan sinus sfenoid masuk
ke meatus superior. Aliran yang menuju ke dalam meatus inferior hanya masuk melalui
duktus nasolakrimalis. Secara klinis, bagian yang penting ialah bagian depan-tengah meatus
medius yang sempit, yang disebut kompleks ostiomeatal. Daerah ini penting karena hampir
semua lubang saluran dari sinus paranasal terdapat di sana (Broek, 2010).
Pada saat lahir, sinus paranasal belum terbentuk, kecuali beberapa sel etmoid. Kemudian
baru pada sekitar umur dua belas tahun, semua sinus paranasal terbentuk secara lengkap.
Kadang-kadang, salah satu dari sinus frontal tidak terbentuk. Bagian belakang nasofaring
berbatasan dengan fossa sfeno-palatina (Broek, 2010).
Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga hidung dan
perkembangannya dimulai dari pada fetus usia 3-4 bulan, kecuali sinus sfenoid dan sinus
frontal. Sinus maksila dan sinus etmoid sudah ada sejak saat bayi lahir, sedangkan sinus
frontal berkembang dari sinus etmoid anterior pada anak yang berusia kurang lebih 8 tahun.
Pneumatisasi sinus sfenoid dimulai pada usia 8-10 tahun dan berasal dari bagian postero-
superior rongga hidung. Sinus-sinus ini umumnya mencapai besar maksimal pada usia antara
15-18 tahun (Soetjipto, 2010).

9
Berdasarkan ukuran sinus paranasal dari yang terbesar yaitu sinus maksilaris,
sinus frontalis, sinus ethmoidalis dan sphenoidalis
Secara klinis sinus paranasal dibagi menjadi:
a. Grup Anterior :
Frontal, maksilaris dan ethmoidalis anterior
Ostia di meatus medius
Pus dalam meatus medius mengalir kedalam faring
b. Grup Posterior :
Ethmoidalis posterior dan sinus sphenoidalis
Ostia di meatus superior
Pus dalam meatus superior mengalir kedalam faring
Sinus Maksilaris
a Terbentuk pada usia fetus bulan IV yang terbentuk dari prosesus maksilaris arcus I.
b Bentuknya piramid, dasar piramid pada dinding lateral hidung, sedang apexnya pada
pars zygomaticus maxillae.
c Merupakan sinus terbesar dengan volume kurang lebih 15 cc pada orang dewasa.
d Berhubungan dengan:
1) Cavum orbita, dibatasi oleh dinding tipis (berisi n. infra orbitalis) sehingga jika
dindingnya rusak maka dapat menjalar ke mata.
2) Gigi, dibatasi dinding tipis atau mukosa pada daerah P2 Mo1ar.
3) Ductus nasolakrimalis, terdapat di dinding cavum nasi.

10
e Suplai darah terbanyak melalui cabang dari arteri maksilaris. Inervasi mukosa sinus
melalui cabang dari nervus maksilaris.
Sinus Frontalis
a Sinus frontalis mulai terbentuk sejak bulan keempat fetus, berasal dari sel-sel resessus
frontal atau dari sel-sel infundibulum ethmoid. Sinus ini dapat terbentuk atau tidak.
b Ukuran sinus frontal adalah 2,8 cm tingginya, lebarnya 2,4 cm dan dalamnya 2 cm.
Sinus frontal biasanya bersekat-sekat dan tepi sinus berlekuk-lekuk.Tidak simetris
kanan dan kiri, terletak di os frontalis.
c Volume pada orang dewasa 7cc.
d Bermuara ke infundibulum (meatus nasi media).
e Berhubungan dengan3:
1 Fossa cranii anterior, dibatasi oleh tulang compacta.
2 Orbita, dibatasi oleh tulang compacta.
3 Dibatasi oleh Periosteum, kulit, tulang diploic.
f Suplai darah diperoleh dari arteri supraorbital dan arteri supratrochlear yang berasal
dari arteri oftalmika yang merupakan salah satu cabang dari arteri carotis inernal.
Inervasi mukosa disuplai oleh cabang supraorbital dan supratrochlear cabang dari
nervus frontalis yang berasal dari nervus trigeminus
Sinus Ethmoid
a Terbentuk pada usia fetus bulan IV.
b Saat lahir, berupa 2-3 cellulae (ruang-ruang kecil), saat dewasa terdiri dari 7-15
cellulae, dindingnya tipis.
c Bentuknya berupa rongga tulang seperti sarang tawon, terletak antara hidung dan
mata
d Berhubungan dengan3:
1 Fossa cranii anterior yang dibatasi oleh dinding tipis yaitu lamina cribrosa. Jika
terjadi infeksi pada daerah sinus mudah menjalar ke daerah cranial (meningitis,
encefalitis dsb).
2 Orbita, dilapisi dinding tipis yakni lamina papiracea. Jika melakukan operasi pada
sinus ini kemudian dindingnya pecah maka darah masuk ke daerah orbita
sehingga terjadi Brill Hematoma.
3 Nervus Optikus.
4 Nervus, arteri dan vena ethmoidalis anterior dan pasterior.

11
e Suplai darah berasal dari cabang nasal dari a. sphenopalatina. Inervasi mukosa berasal
dari divisi oftalmika dan maksilari nervus trigeminus
Sinus Sphenoidal
a Terbentuk pada fetus usia bulan III
b Terletak pada corpus, alas dan Processus os sphenoidalis.
c Volume pada orang dewasa 7 cc.
d Berhubungan dengan3:
1 Sinus cavernosus pada dasar cavum cranii.
2 Glandula pituitari, chiasma n.opticum.
3 Tranctus olfactorius.
4 Arteri basillaris brain stem (batang otak)
e Suplai darah berasal dari arteri carotis internal dan eksternal. Inervasi mukosa berasal
dari nervus trigeminus.
Pada meatus medius yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka
inferior rongga hidung terdapat suatu celah sempit yaitu hiatus semilunaris yakni muara dari
sinus maksila, sinus frontalis dan ethmoid anterior.
Kompleks Ostio-Meatal
Di meatus medius, ada muara-muara saluran dari sinus maksila, sinus frontal dan
sinus etmoid anterior. Daerah ini rumit dan sempit dan dinamakan kompleks ostio-meatal
(KOM), terdiri dari infundibulum etmoid yang terdapat di belakang prosesus unsinatus,
resesus frontalis, bula etmoid dan sel-sel etmoid anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus
maksila

1.2 Fisiologi

Sampai saat ini belum ada kesesuaian pendapat mengenai fisiologi sinus paranasal.
Beberapa pendapat mengenai fungsi sinus paranasal antara lain1:

a Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)


Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur kelembaban udara
inspirasi. Keberatan terhadap teori ini ialah karena ternyata tidak didapati pertukaran udara
yang definitive antara sinus dan rongga hidung. Lagipula mukosa sinus tidak mempunyai
vaskularisasi dan kelenjar yang sebanyak mukosa hidung.
b. Sebagai penahan suhu (termal insulators)

12
Sinus paranasal berfungsi sebagai penahan (buffer) panas, melindungi orbita dan fossa serebri
dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah.
c. Membantu keseimbangan kepala
Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka. Akan tetapi
bila udara dalam sinus diganti dengan tulang, hanya akan memberikan pertambahan berat
sebesar 1% dari berat kepala, sehingga teori dianggap tidak bermakna.
d. Membantu resonansi suara
Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan mempengaruhi kualitas
suara. Akan tetapi ada yang berpendapat, posisi sinus dan ostiumnya tidak memungkinkan
sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif. Lagipula tidak ada korelasi antara resonansi
suara dan besarnya sinus pada hewan-hewan tingkat rendah.
e. Sebagai peredam perubahan tekanan udara
Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak, misalnya pada
waktu bersin atau membuang ingus.
f Membantu produksi mucus
Jumlahnya kecil dibandingkan dengan mucus dari rongga hidung, namun efektif untuk
membersihkan partikel yang turut masuk dengan udara inspirasi karena mucus ini keluar dari
meatus medius, tempat yang paling strategis.

1.3 Definisi Rhinosinusitis

Rhinosinusitis kronis adalah inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal yang dapat
ditegakkan berdasarkan riwayat gejala yang diderita sudah lebih dari 12 minggu, dan sesuai
dengan 2 kriteria mayor atau 1 kriteria mayor ditambah 2 kriteria minor (Stankiewicz, 2001;
Busquets, 2006; Soetjipto, 2006; Setiadi M, 2009).

Gejala Mayor: nyeri sinus, hidung buntu, ingus purulen, post nasal drip, gangguan
penghidu, Sedangkan Gejala Minor: nyeri kepala, nyeri geraham, nyeri telinga, batuk,
demam, halitosis. (Judith, 1996; Becker 2003; Soetjipto, 2006; Setiadi M, 2009).

1.4 Klasifikasi

Klasifikasi Durasi
Akut 7 hari hingga 4 minggu
Subakut 4 hingga 12 minggu
Akut Rekuren 4 kali episode ARS per tahun
Kronik 12 minggu

13
Eksaserbasi Akut Rinosinusitis Kronik Keadaan akut yang memburuk pada CRS
1.5 Etiologi

a Virus
Sinusitis akut bisa terjadi setelah suatu infeksi virus pada saluran pernafasan bagian
atas (misalnya pilek).
b Bakteri
Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan normal
tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococcus pneumoniae, Haemophilus
influenzae). Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari sinus tersumbat
akibat pilek atau infeksi virus lainnya, maka bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya
akan berkembang biak dan menyusup ke dalam sinus, sehingga terjadi infeksi sinus
akut. Bakteri utama yang ditemukan pada sinusitis akut adalah Streptociccus
pneumonia (30-50%), Hemophylus influenza (20-40%) dan Moraxella catarrhalis
(4%). Pada anak, M. catarrhalis lebih banyak ditemukan (20%). Pada sinusitis kronik,
bakteri yang ada lebih condong ke arah bakteri gram negative dan anaerob1.
c Jamur
Kadang infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut. Aspergillus merupakan jamur
yang bisa menyebabkan sinusitis pada penderita gangguan system kekebalan. Pada
orang-orang tertentu, sinusitis jamur merupakan sejenis reaksi alergi terhadap jamur.
d Peradangan menahun pada saluran hidung.
Pada penderita rinitis alergika bisa terjadi sinusitis akut. Demikian pula halnyapada
penderita rinitis vasomotor.
e Penyakit tertentu.
Sinusitis akut lebih sering terjadi pada penderita gangguan sistem kekebalan
danpenderita kelainan sekresi lendir (misalnya fibrosis kistik).
Penyebab sinusitis kronis:
a Asma
b Penyakit alergi (misalnya rinitis alergika)
c Gangguan sistem kekebalan atau kelainan sekresi maupun pembuangan lendir.
Sinusitis lebih sering disebabkan adanya faktor predisposisi seperti8:
a Gangguan fisik akibat kekurangan gizi, kelelahan, atau penyakit sistemik.
b Gangguan faal hidung oleh karena rusaknya aktivitas silia oleh asap rokok,
polusiudara, atau karena panas dan kering.

14
c Kelainan anatomi yang menyebabkan gangguan saluran seperti :
a Atresia atau stenosis koana
b Deviasi septum
c Hipertroti konka media
d Polip yang dapat terjadi pada 30% anak yang menderita fibrosis kistik
e Tumor atau neoplasma
f Hipertroti adenoid
g Udem mukosa karena infeksi atau alergi
h Benda asing
d Berenang dan menyelam pada waktu sedang pilek
e Trauma yang menyebabkan perdarahan mukosa sinus paranasal
f Kelainan imunologi didapat seperti imunodefisiensi karena leukemia dan
imunosupresi oleh obat.

1.6 Patofisiologi

Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan kelancaran klirens dari
mukosiliar didalam komplek osteo meatal (KOM). Disamping itu mukus juga mengandung
substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap kuman yang
masuk bersama udara pernafasan.
Bila terinfeksi organ yang membentuk KOM mengalami oedem, sehingga mukosa
yang berhadapan akan saling bertemu. Hal ini menyebabkan silia tidak dapat bergerak dan
juga menyebabkan tersumbatnya ostium. Hal ini menimbulkan tekanan negatif didalam
rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi atau penghambatan drainase sinus.
Efek awal yang ditimbulkan adalah keluarnya cairan serous yang dianggap sebagai sinusitis
non bakterial yang dapat sembuh tanpa pengobatan. Bila tidak sembuh maka sekret yang
tertumpuk dalam sinus ini akan menjadi media yang poten untuk tumbuh dan multiplikasi
bakteri, dan sekret akan berubah menjadi purulen yang disebut sinusitis akut bakterialis yang
membutuhkan terapi antibiotik. Jika terapi inadekuat maka inflamasi berlanjut, akan terjadi
hipoksia dan bakteri anaerob akan semakin berkembang. Keadaan ini menyebabkan
perubahan kronik dari mukosa yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista.
Pada keadaan ini mungkin diperlukan tindakan operasi.
1.7 Manifestasi Klinis
a. Sinusitis Akut

15
1. Gejala Subyektif
Dari anamnesis biasanya didahului oleh infeksi saluran pernafasan atas (terutama
pada anak kecil), berupa pilek dan batuk yang lama, lebih dari 7 hari.
Gejala subyektif terbagi atas gejala sistemik yaitu demam dan rasa lesu, sertagejala
lokal yaitu hidung tersumbat, ingus kental yang kadang berbau dan mengalir ke nasofaring
(post nasal drip), halitosis, sakit kepala yang lebih berat pada pagi hari, nyeri di daerah
sinus yang terkena, serta kadang nyeri alih ke tempat lain.

a) Sinusitis Maksilaris
Sinus maksilaris disebut juga Antrum Highmore, merupakan sinus yang sering
terinfeksi oleh karena (1) merupakan sinus paranasal yang terbesar, (2) letak ostiumnya
lebih tinggi dari dasar, sehingga aliran sekret (drenase) dari sinus maksila hanya
tergantung dari gerakan silia, (3) dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi (prosesus
alveolaris), sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis maksila, (4) ostium sinus
maksila terletak di meatus medius di sekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga
mudah tersumbat.
Pada peradangan aktif sinus maksila atau frontal, nyeri biasanya sesuai dengan
daerah yang terkena. Pada sinusitis maksila nyeri terasa di bawah kelopak mata dan kadang
menyebar ke alveolus hingga terasa di gigi. Nyeri alih dirasakan di dahi dan depan telinga
Wajah terasa bengkak, penuh dan gigi nyeri pada gerakan kepala mendadak,
misalnya sewaktu naik atau turun tangga. Seringkali terdapat nyeri pipi khas yang tumpul dan
menusuk. Sekret mukopurulen dapat keluar dari hidung dan terkadang berbau busuk. Batuk
iritatif non produktif seringkali ada10

b) Sinusitis Ethmoidalis
Sinusitus ethmoidalis akut terisolasi lebih lazim pada anak, seringkali bermanifestasi
sebagai selulitis orbita. Karena dinding leteral labirin ethmoidalis (lamina papirasea)
seringkali merekah dan karena itu cenderung lebih sering menimbulkan selulitis orbita.
Pada dewasa seringkali bersama-sama dengan sinusitis maksilaris serta dianggap
sebagai penyerta sinusitis frontalis yang tidak dapat dielakkan.
Gejala berupa nyeri yang dirasakan di pangkal hidung dan kantus medius, kadang-
kadang nyeri dibola mata atau belakangnya, terutama bila mata digerakkan. Nyeri alih di
pelipis ,post nasal drip dan sumbatan hidung.

16
c) Sinusitis Frontalis
Sinusitis frontalis akut hampir selalu bersama-sama dengan infeksi sinus etmoidalis
anterior.
Gejala subyektif terdapat nyeri kepala yang khas, nyeri berlokasi di atas alis mata,
biasanya pada pagi hari dan memburuk menjelang tengah hari, kemudian perlahan-lahan
mereda hingga menjelang malam.
Pasien biasanya menyatakan bahwa dahi terasa nyeri bila disentuh dan mungkin
terdapat pembengkakan supra orbita.

d) Sinusitis Sphenoidalis
Pada sinusitis sfenodalis rasa nyeri terlokalisasi di vertex, oksipital, di belakang bola
mata dan di daerah mastoid. Namun penyakit ini lebih lazim menjadi bagian dari pansinusitis,
sehingga gejalanya sering menjadi satu dengan gejala infeksi sinus lainnya.

2. Gejala Obyektif
Jika sinus yang berbatasan dengan kulit (frontal, maksila dan ethmoid anterior)
terkena secara akut dapat terjadi pembengkakan dan edema kulit yang ringan akibat
periostitis. Palpasi dengan jari mendapati sensasi seperti ada penebalan ringan atau seperti
meraba beludru.
Pembengkakan pada sinus maksila terlihat di pipi dan kelopak mata bawah, pada
sinusitis frontal terlihat di dahi dan kelopak mata atas, pada sinusitis ethmoid jarang timbul
pembengkakan, kecuali bila ada komplikasi.
Pada rinoskopi anterior tampak mukosa konka hiperemis dan edema. Pada sinusitis
maksila, sinusitis frontal dan sinusitis ethmoid anterior tampak mukopus atau nanah di
meatus medius, sedangkan pada sinusitis ethmoid posterior dan sinusitis sphenoid nanah
tampak keluar dari meatus superior. Pada sinusitis akut tidak ditemukan polip,tumor maupun
komplikasi sinusitis.Jika ditemukan maka kita harus melakukan penatalaksanaan yang sesuai.
Pada rinoskopi posterior tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip).
Pada posisional test yakni pasien mengambil posisi sujud selama kurang lebih 5 menit
dan provokasi test yakni suction dimasukkan pada hidung, pemeriksa memencet hidung
pasien kemudian pasien disuruh menelan ludah dan menutup mulut dengan rapat, jika positif
sinusitis maksilaris maka akan keluar pus dari hidung.

17
Pada pemeriksaan transiluminasi, sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap.
Pemeriksaan transiluminasi bermakna bila salah satu sisi sinus yang sakit, sehingga tampak
lebih suram dibanding sisi yang normal.
Pemeriksaan radiologik yang dibuat ialah posisi waters, PA dan lateral. Akan tampak
perselubungan atau penebalan mukosa atau batas cairan udara (air fluid level) pada sinus
yang sakit.
Pemeriksaan mikrobiologik sebaiknya diambil sekret dari meatus medius atau meatus
superior. Mungkin ditemukan bermacam-macam bakteri yang merupakan flora normal di
hidung atau kuman patogen, seperti pneumococcus, streptococcus, staphylococcus dan
haemophylus influensa. Selain itu mungkin juga ditemukan virus atau jamur.

b. Sinusitis Subakut
Gejala klinisnya sama dengan sinusitis akut hanya tanda-tanda radang akutnya
(demam, sakit kepala hebat, nyeri tekan) sudah reda.
Pada rinoskopi anterior tampak sekret di meatus medius atau superior. Pada rinoskopi
posterior tampak sekret purulen di nasofaring. Pada pemeriksaan transiluminasi tampak sinus
yang sakit, suram atau gelap.

c. Sinusitis Kronis
Sinusitis kronis berbeda dengan sinusitis akut dalam berbagai aspek, umumnya sukar
disembuhkan dengan pengobatan medikamentosa saja. Harus dicari faktor penyebab dan
faktor predisposisinya.
Polusi bahan kimia menyebabkan silia rusak, sehingga terjadi perubahan mukosa
hidung. Perubahan tersebut juga dapat disebabkan oleh alergi dan defisiensi imunologik,
sehingga mempermudah terjadinya infeksi, dan infeksi menjadi kronis apabila pengobatan
sinusitis akut tidak sempurna.

1. Gejala Subjektif
Bervariasi dari ringan sampai berat, terdiri dari :
a Gejala hidung dan nasofaring, berupa sekret pada hidung dan sekret pasca nasal (post
nasal drip) yang seringkali mukopurulen dan hidung biasanya sedikit tersumbat.
b Gejala laring dan faring yaitu rasa tidak nyaman dan gatal di tenggorokan.
c Gejala telinga berupa pendengaran terganggu oleh karena terjadi sumbatan tuba
eustachius.

18
d Ada nyeri atau sakit kepala.
e Gejala mata, karena penjalaran infeksi melalui duktus nasolakrimalis.
f Gejala saluran nafas berupa batuk dan komplikasi di paru berupa bronkhitis atau
bronkhiektasis atau asma bronkhial.
g Gejala di saluran cerna mukopus tertelan sehingga terjadi gastroenteritis.

2. Gejala Objektif
Temuan pemeriksaan klinis tidak seberat sinusitis akut dan tidak terdapat
pembengkakan pada wajah. Pada rinoskopi anterior dapat ditemukan sekret kental, purulen
dari meatus medius atau meatus superior, dapat juga ditemukan polip, tumor atau komplikasi
sinusitis. Pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen di nasofaring atau turun ke
tenggorok.
Dari pemeriksaan endoskopi fungsional dan CT Scan dapat ditemukan etmoiditis
kronis yang hampir selalu menyertai sinusitis frontalis atau maksilaris. Etmoiditis kronis ini
dapat menyertai poliposis hidung kronis.

3. Pemeriksaan Mikrobiologi
Merupakan infeksi campuran oleh bermacam-macam mikroba, seperti kuman aerob S.
aureus, S. viridans, H. influenzae dan kuman anaerob Pepto streptococcus dan fuso
bakterium.
4. Diagnosis Sinusitis Kronis
Diagnosis sinusitis kronis dapat ditegakkan dengan :
a Anamnesis yang cermat
b Pemeriksaan rinoskopi anterior dan posterior
c Pemeriksaan transiluminasi untuk sinus maksila dan sinus frontal, yakni pada daerah
sinus yang terinfeksi terlihat suram atau gelap.
Transiluminasi menggunakan angka sebagai parameternya
Transiluminasi akan menunjukkan angka 0 atau 1 apabila terjadi sinusitis(sinus penuh
dengan cairan)
d Pemeriksaan radiologik, posisi rutin yang dipakai adalah posisi Waters, PA dan
Lateral. Posisi Waters, maksud posisi Waters adalah untuk memproyeksikan tulang
petrosus supaya terletak di bawah antrum maksila, yakni dengan cara menengadahkan
kepala pasien sedemikian rupa sehingga dagu menyentuh permukaan meja. Posisi ini
terutama untuk melihat adanya kelainan di sinus maksila, frontal dan etmoid. Posisi

19
Posteroanterior untuk menilai sinus frontal dan posisi lateral untuk menilai sinus
frontal, sphenoid dan ethmoid.
Sinusitis akan menunjukkan gambaran berupa:
1) Penebalan mukosa,
2) Opasifikasi sinus ( berkurangnya pneumatisasi)
3) Gambaran air fluid level yang khas akibat akumulasi pus yangdapat dilihat
pada foto waters.
e Pungsi sinus maksilaris
f Sinoskopi sinus maksilaris, dengan sinoskopi dapat dilihat keadaan dalam sinus,
apakah ada sekret, polip, jaringan granulasi, massa tumor atau kista dan bagaimana
keadaan mukosa dan apakah osteumnya terbuka. Pada sinusitis kronis akibat
perlengketan akan menyebabkan osteum tertutup sehingga drenase menjadi
terganggu.
g Pemeriksaan histopatologi dari jaringan yang diambil pada waktu dilakukan
sinoskopi.
h Pemeriksaan meatus medius dan meatus superior dengan menggunakan naso-
endoskopi.
i Pemeriksaan CT Scan, merupakan cara terbaik untuk memperlihatkan sifat dan
sumber masalah pada sinusitis dengan komplikasi. CT-Scan pada sinusitis akan
tampak : penebalan mukosa, air fluid level, perselubungan homogen atau tidak
homogen pada satu atau lebih sinus paranasal, penebalan dinding sinus dengan
sklerotik (pada kasus-kasus kronik).

Hal-hal yang mungkin ditemukan pada pemeriksaan CT-Scan :


a Kista retensi yang luas, bentuknya konveks (bundar), licin, homogen, pada
pemeriksaan CT-Scan tidak mengalami ehans. Kadang sukar membedakannya dengan
polip yang terinfeksi, bila kista ini makin lama makin besar dapat menyebabkan
gambaran air-fluid level.
b Polip yang mengisi ruang sinus
c Polip antrokoanal
d Massa pada cavum nasi yang menyumbat sinus
e Mukokel, penekanan, atrofi dan erosi tulang yang berangsur-angsur oleh massa
jaringan lunak mukokel yang membesar dan gambaran pada CT Scan sebagai
perluasan yang berdensitas rendah dan kadang-kadang pengapuran perifer.

20
f Tumor

1.8 Diagnosis banding


Dari anamnesis bila didapatkan keluhan:
Hidung terseumbat dan berair, cairan putih kekuningan:
- Common cold
- Rhinitis
- Sinusitis
- Korpus alienum di hidung
- Adenoitis
Sakit kepala:
- Tension headache
- Migraine headache
- Sinus headache
- Cluster headache
- Reffered pain headache
Batuk kronik:
- Pertusis
- Bronchitis
- Tuberculosis
- Sinusitis
- GERD

1.9 Pemeriksaaan penunjang

a. Laboratorium
1 Tes sedimentasi, leukosit, dan C-reaktif protein dapat membantu diagnosis sinusitis
akut
2 Kultur merupakan pemeriksaan yang tidak rutin pada sinusitis akut, tapi harus
dilakukan pada pasien immunocompromise dengan perawatan intensif dan pada anak-
anak yang tidak respon dengan pengobatan yang tidak adekuat, dan pasien dengan
komplikasi yang disebabkan sinusitis3.
b. Imaging

21
1 Pemeriksaan radiologi yang dapat membantu menegakkan diagnosa sinusitis dengan
menunjukan suatu penebalan mukosa, air-fluid level, dan perselubungan. Pada
sinusitis maksilaris, dilakukan pemeriksaan rontgen gigi untuk mengetahui adanya
abses gigi. Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut (Laszlo, 1997) :
a) Posisi Caldwell
Posisi ini didapat dengan meletakkan hidung dan dahi diatas meja sedemikian
rupa sehingga garis orbito-meatal (yang menghubungkan kantus lateralis mata dengan
batas superior kanalis auditorius eksterna) tegak lurus terhadap film. Sudut sinar
rontgen adalah 15kraniokaudal dengan titik keluarnya nasion.

Posisi Caldwell
b) Posisi Waters
Posisi ini yang paling sering digunakan. Maksud dari posisi ini adalah untuk
memproyeksikan tulang petrosus supaya terletak dibawah antrum maksila. Hal ini
didapatkan dengan menengadahkan kepala pasien sedemikian rupa sehingga dagu
menyentuh permukaan meja. Bidang yang melalui kantus medial mata dan tragus
membentuk sudut lebih kurang 37dengan filmproyeksi waters dengan mulut terbuka
memberikan pandangan terhadap semua sinus paranasal.

Posisi Waters
c) Posisi lateral
Kaset dan film diletakkan paralel terhadap bidang sagital utama tengkorak.

22
Posisi lateral
2 CT-Scan, memiliki spesifisitas yang jelek untuk diagnosis sinusitis akut, menunjukan
suatu air-fluid level pada 87% pasien yang mengalami infeksi pernafasan atas dan
40% pada pasien yang asimtomatik. Pemeriksaan ini dilakukan untuk luas dan
beratnya sinusitis
3 MRI sangat bagus untuk mengevaluasi kelainan pada jaringan lunak yang menyertai
sinusitis, tapi memiliki nilai yang kecil untuk mendiagnosis sinusitis akut3.

1.10 Penatalaksanaan

Sinusitis Akut
a Kuman penyebab sinusitis akut yang tersering adalah Streptococcus pneumoniae dan
Haemophilus influenzae. Diberikan terapi medikamentosa berupa antibiotik empirik
(2x24 jam). Antibiotik yang diberikan lini I yakni golongan penisilin atau
cotrimoxazol dan terapi tambahan yakni obat dekongestan oral + topikal, mukolitik
untuk memperlancar drenase dan analgetik untuk menghilangkan rasa nyeri. Pada
pasien atopi, diberikan antihistamin atau kortikosteroid topikal. Jika ada perbaikan
maka pemberian antibiotik diteruskan sampai mencukupi 10-14 hari. Jika tidak ada
perbaikan maka diberikan terapi antibiotik lini II selama 7 hari yakni amoksisilin
klavulanat/ampisilin sulbaktam, cephalosporin generasi II, makrolid dan terapi
tambahan. Jika ada perbaikan antibiotic diteruskan sampai mencukupi 10-14 hari.
b Jika tidak ada perbaikan maka dilakukan rontgen-polos atau CT Scan dan atau naso-
endoskopi.Bila dari pemeriksaan tersebut ditemukan kelainan maka dilakukan terapi
sinusitis kronik. Tidak ada kelainan maka dilakukan evaluasi diagnosis yakni evaluasi
komprehensif alergi dan kultur dari fungsi sinus.
c Terapi pembedahan pada sinusitis akut jarang diperlukan, kecuali bila telah terjadi
komplikasi ke orbita atau intrakranial, atau bila ada nyeri yang hebat karena ada
sekret tertahan oleh sumbatan.

Sinusitis Subakut

23
a Terapinya mula-mula diberikan medikamentosa, bila perlu dibantu dengan tindakan,
yaitu diatermi atau pencucian sinus.
b Obat-obat yang diberikan berupa antibiotika berspektrum luas atau yang sesuai
dengan resistensi kuman selama 10 14 hari. Juga diberikan obat-obat simptomatis
berupa dekongestan. Selain itu dapat pula diberikan analgetika, anti histamin dan
mukolitik.
c Tindakan dapat berupa diatermi dengan sinar gelombang pendek (Ultra Short Wave
Diathermy) sebanyak 5 6 kali pada daerah yang sakit untuk memperbaiki
vaskularisasi sinus. Kalau belum membaik, maka dilakukan pencucian sinus.
d Pada sinusitis maksilaris dapat dilakukan pungsi irigasi. Pada sinusitis ethmoid,
frontal atau sphenoid yang letak muaranya dibawah, dapat dilakukan tindakan
pencucian sinus cara Proetz10.
Sinusitis Kronis
a Jika ditemukan faktor predisposisinya, maka dilakukan tata laksana yang sesuai dan
diberi terapi tambahan. Jika ada perbaikan maka pemberian antibiotik mencukupi 10-
14 hari.
b Jika faktor predisposisi tidak ditemukan maka terapi sesuai pada episode akut lini II +
terapi tambahan. Sambil menunggu ada atau tidaknya perbaikan, diberikan antibiotik
alternative 7 hari atau buat kultur. Jika ada perbaikan teruskan antibiotik mencukupi
10-14 hari, jika tidak ada perbaikan evaluasi kembali dengan pemeriksaan naso-
endoskopi, sinuskopi (jika irigasi 5 x tidak membaik). Jika ada obstruksi kompleks
osteomeatal maka dilakukan tindakan bedah yaitu BSEF atau bedah konvensional.
Jika tidak ada obstruksi maka evaluasi diagnosis.
c Diatermi gelombang pendek di daerah sinus yang sakit.
d Pada sinusitis maksila dilakukan pungsi dan irigasi sinus, sedang sinusitis ethmoid,
frontal atau sphenoid dilakukan tindakan pencucian Proetz.
e Pembedahan
Radikal
Sinus maksila dengan operasi Cadhwell-luc.
Sinus ethmoid dengan ethmoidektomi.
Sinus frontal dan sphenoid dengan operasi Killian.
Non Radikal
Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF). Prinsipnya dengan membuka dan
membersihkan daerah kompleks ostiomeatal.

24
Indikasi: sinusitis kronik yang tidak membaik setelah terapi adekuat ; sinusitis
kronik disertai kista atau kelainan yang ireversibel ; polip ekstensif, adanya
komplikasi sinusitis serta sinusitis jamur1.

1.11 Komplikasi

Komplikasi orbita
Sinusitis ethmoidalis merupakan penyebab komplikasi pada orbita yang tersering.
Pembengkakan orbita dapat merupakan manifestasi ethmoidalis akut, namun sinus frontalis
dan sinus maksilaris juga terletak di dekat orbita dan dapat menimbulkan infeksi isi orbita.
Terdapat lima tahapan :
1 Peradangan atau reaksi edema yang ringan. Terjadi pada isi orbita akibat infeksi sinus
ethmoidalis didekatnya. Keadaan ini terutama ditemukan pada anak, karena lamina
papirasea yang memisahkan orbita dan sinus ethmoidalis sering kali merekah pada
kelompok umur ini.
2 Selulitis orbita, edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif menginvasi isi
orbita namun pus belum terbentuk.
3 Abses subperiosteal, pus terkumpul diantara periorbita dan dinding tulang orbita
menyebabkan proptosis dan kemosis.
4 Abses orbita, pus telah menembus periosteum dan bercampur dengan isi orbita. Tahap
ini disertai dengan gejala sisa neuritis optik dan kebutaan unilateral yang lebih serius.
Keterbatasan gerak otot ekstraokular mata yang tersering dan kemosis konjungtiva
merupakan tanda khas abses orbita, juga proptosis yang makin bertambah.
5 Trombosis sinus kavernosus, merupakan akibat penyebaran bakteri melalui saluran
vena kedalam sinus kavernosus, kemudian terbentuk suatu tromboflebitis septik.
Secara patognomonik, trombosis sinus kavernosus terdiri dari :
a) Oftalmoplegia.
b) Kemosis konjungtiva.
c) Gangguan penglihatan yang berat.
d) Kelemahan pasien.
e) Tanda-tanda meningitis oleh karena letak sinus kavernosus yang berdekatan dengan saraf
kranial II, III, IV dan VI, serta berdekatan juga dengan otak.
b. Mukokel

25
Mukokel adalah suatu kista yang mengandung mukus yang timbul dalam sinus, kista
ini paling sering ditemukan pada sinus maksilaris, sering disebut sebagai kista retensi mukus
dan biasanya tidak berbahaya.
Dalam sinus frontalis, ethmoidalis dan sphenoidalis, kista ini dapat membesar dan
melalui atrofi tekanan mengikis struktur sekitarnya. Kista ini dapat bermanifestasi sebagai
pembengkakan pada dahi atau fenestra nasalis dan dapat menggeser mata ke lateral. Dalam
sinus sphenoidalis, kista dapat menimbulkan diplopia dan gangguan penglihatan dengan
menekan saraf didekatnya.
Piokel adalah mukokel terinfeksi, gejala piokel hampir sama dengan mukokel
meskipun lebih akut dan lebih berat.
Prinsip terapi adalah eksplorasi sinus secara bedah untuk mengangkat semua mukosa
yang terinfeksi dan memastikan drainase yang baik atau obliterasi sinus.
c. Komplikasi Intra Kranial
1 Meningitis akut, salah satu komplikasi sinusitis yang terberat adalah meningitis akut,
infeksi dari sinus paranasalis dapat menyebar sepanjang saluran vena atau langsung dari
sinus yang berdekatan, seperti lewat dinding posterior sinus frontalis atau melalui lamina
kribriformis di dekat sistem sel udara ethmoidalis.
2 Abses dura, adalah kumpulan pus diantara dura dan tabula interna kranium, sering kali
mengikuti sinusitis frontalis. Proses ini timbul lambat, sehingga pasien hanya mengeluh
nyeri kepala dan sebelum pus yang terkumpul mampu menimbulkan tekanan intra kranial.
3 Abses subdural adalah kumpulan pus diantara duramater dan arachnoid atau permukaan
otak. Gejala yang timbul sama dengan abses dura.
4 Abses otak, setelah sistem vena, dapat mukoperiosteum sinus terinfeksi, maka dapat
terjadi perluasan metastatik secara hematogen ke dalam otak.Terapi komplikasi intra
kranial ini adalah antibiotik yang intensif, drainase secara bedah pada ruangan yang
mengalami abses dan pencegahan penyebaran infeksi.
d. Osteomielitis dan abses subperiosteal
Penyebab tersering osteomielitis dan abses subperiosteal pada tulang frontalis adalah
infeksi sinus frontalis. Nyeri tekan dahi setempat sangat berat. Gejala sistemik berupa
malaise, demam dan menggigil10.

1.12 Pencegahan

26
Pasien dengan rhinitis alergi harus segera diobati karena edema mukosa dapat
menyebabkan obstruksi sinus.

Bila adenoid mengalami infeksi, mengilangkan itu berarti mengeliminasi sarang infeksi
dan dapat mengurangi infeksi pada sinus.

Menjaga kebersihan gigi dan mulut.

1.13 Prognosis

Prognosis tergantung dari ketepatan serta cepatnya penanganan yang diberikan.


Semakin cepat maka prognosis semakin baik. Pemberian antibiotika serta obat-obat
simptomatis bersama dengan penanganan faktor penyebab dapat memberikan prognosis yang
baik. Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF) akan mengembalikan fungsi sinus dan
gejala akan semubuh secara komplit atau moderat sekita 80-90% pada pasien dengan sinusitis
kronis rekuren atau sinusitis kronis yang tidak responsive terhadap medikamentosa

DAFTAR PUSTAKA

27
1. Mangunkusumo, Endang, Soetjipto D. Sinusitis dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan

Telinga Hidung Tenggorok Kepala Dan Leher. FKUI. Jakarta 2007. Hal 150-3

2. PERHATI. Fungsional endoscopic sinus surgery. HTA Indonesia. 2006. Hal 1-6

3. Damayanti dan Endang. Sinus Paranasal. Dalam : Efiaty, Nurbaiti, editor. Buku Ajar

Ilmu Kedokteran THT Kepala dan Leher, ed. 5, Balai Penerbit FK UI, Jakarta 2002, 115

119.

4. Rukmini S, Herawati S. Teknik Pemeriksaan Telinga Hidung & Tenggorok.

Jakarta: EGC; 2000. 26-48

7. Mangunkusumo, Endang . Nusjirwan, Rifki, Sinusitis, dalam Eviati, nurbaiti, editor,

Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher, Balai Penerbit

FK UI, Jakarta, 2002, 121 125

28