Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN DALAM


KEPERAWATAN
Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Mata Kuliah Manajemen keperawatan
Semester VI

OLEH :
FIRDA LAILY R. (1214314201047)
AGNES ANTADULY (1214314201002)
ANDRI SETYO BUDI (1214314201039)
CLARA DESTANIA KE (1214314201006)
ESTER YUNITA P. (1214314201011)
YETTY CHINTYA D. (1214314201034)
EKA FEBRI (1214314201010)
INFANTRIANA PUTRI A. (1214314201051)
MUH. LUKAN HAKIM (1214314201058)

DINAS PENDIDIKAN KOTA MALANG


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAHARANI MALANG
Jl.Simp.Candi Panggung 133 Malang Telp/Fax (0341) 4345375,
7751871
Website : www.stikesmaharani.ac.id | email :
Informasi@stikesmaharani.ac

1
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah semesta alam yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Tak lupa sholawat serta salam
semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada junjungan besar Nabi
Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, kepada keluarganya, para sahabat,
tabiit dan tabiim serta dapat sampai kepada kita selaku umatnya hingga akhir
zaman nanti.
Ucapan terima kasih saya haturkan kepada dosen Mata Kuliah
manajemen keperawatan karena atas arahan dan petunjuk dari beliau makalah
ini dapat disusun dengan baik.
Makalah yang telah disusun ini tentunya masih menyimpan kesalahan
dan kekurangan, dikarenakan kurang luasnya referensi . Karenanya, kritik dan
saran yang membangun sangat dibutuhkan bagi perbaikan penyusunan
makalah-makalah selanjutnya.

Penyusun

2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Manajemen keperawatan merupakan koordinasi dan integrasi dari
sumber sumber keperawatan dengan menerapkan proses manajemen untuk
mencapai tujuan, obyektifitas asuhan keperawatan dan pelayanan keperawatan.
Proses manajemen dibagi lima fase, yaitu: fungsi perencanaan,
pengorganisasian, pengaturan ketenagaan, pengarahan, pengawasan, dan
pengendalian mutu yang merupakan satu siklus yang saling berkaitan satu sama
lain (Marquis & Huston,2012).
Manajemen yang diterapkan di jajaran Departemen Kesehatan, lebih
mengacu kepada konsep yang disampaikan G. Terry, yaitu melalui fungsi-fungsi ;
perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakan
pelaksanaan (actuating), pengawasan dan pengendalian (controlling).
Pelaksanaan manajemen keperawatan harus didukung oleh
kemampuan dan keterampilan kepemimpinan dalam pelayanan keperawatan
yang efektif dan efisien oleh setiap perawat, baik sebagai staf, ketua tim, kepala
ruang, pengawas atau kepala bidang. Kepemimpinan merupakan motor
penggerak bagi sumber sumber dan alat alat dalam suatu organisasi melalui
pengambilan keputusan, penentuan kebijakan dan menggerakan orang lain
untuk mencapai tujuan organisasi (Curtis & OConnell,2011). Kepemimpinan
dalam keperawatan harus dapat diakui dan diterima oleh para bawahannya,
sehingga kewenangannya dan keinginannya dapat dimanifestasikan oleh
kerelaan dan kemampuan bawahan untuk melaksanakan sesuai dengan
pimpinannya (Donoghue & Nicholas,2009)
Istilah manajemen dan kepemimpinan sering diartikan hanya berfungsi
pada kegiatan supervisi, tetapi dalam keperawatan fungsi tersebut sangatlah luas
(Nursalam, 2012). Posisi sebagai seorang ketua tim, kepala ruang atau perawat
pelaksana dalam suatu bagian, diperlukan suatu pemahaman tentang cara
mengelola dan memimpin orang lain dalam mencapai tujuan asuhan
keperawatan yang berkualitas. Sebagai perawat profesional, perawat tidak hanya
mengelola orang lain tetapi sebuah proses secara keseluruhan yang
memungkinkan seseorang dapat menyelesaikan tugasnya dalam memberikan
asuhan keperawatan serta meningkatkan keadaan kesehatan pasien menuju ke
arah kesembuhan.

3
Seperti halnya keperawatan, ilmu manajemen mengembangkan dasar
teori dari berbagai ilmu, seperti bisnis, psikologi, sosiologi, dan antropologi.
Karena organisasi bersifat kompleks dan bervariasi, maka pandangan teori
manajemen merupakan cara agar manajemen dapat berhasil dan apa yang
harus diperbaiki / diubah dalam mencapai suatu tujuan organisasi
(Nursalam,2012). Fungsi pengorganisasian yang sudah dilakukan adalah
pelaksanaan sistem penugasan, pengaturan dinas, pengaturan kegiatan
pelayanan dan asuhan keperawatan.

1.2. Rumusan Masalah


1.2.1. Bagaimana konsep manajemen dalam pelayanan keperawatan ?
1.2.2. Bagaimana konsep kepemimpinan dalam pelayanan keperawatan ?

1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Menjelaskan konsep manajemen dan kepemimpinan dalam pelayanan
keperawatan.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Menjelaskan fungsi manajemen dan kepemimpinan dalam pelayanan
keperawatan.
2. Menjelaskan tujuan manajemen dan kepemimpinan dalam pelayanan
keperawatan.
3. Menjelaskan manfaat manajemen dan kepemimpinan dalam
pelayanan keperawatan.

1.4. Manfaat
1.4.1. Mahasiswa dapat lebih memahami tentang konsep manajemen dan
kepemimpinan dalam keperawatan.
1.4.2. Mahasiswa bisa menambah wawasan dan pengetahuan tentang konsep
manajemen dan kepemimpinan dalam keperawatan.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. MANAJEMEN
2.1.1. Definisi
Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif
dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi. Di dalam manajemen
tersebut mencakup kegiatan POAC (Planning, Organizing, Actuating,
Controlling) terhadap staf, sarana, dan prasarana dalam mencapai
tujuan organisasi. (Nursalam,2012)
Manajemen didefinisikan sebagai proses menyelesaikan pekerjaan
melalui orang lain untuk mencapai tujuan organisasi dalam suatu
lingkungan yang berubah.(Arwani,2005)
Manajemen keperawatan adalah suatu proses menyelesaikan suatu
pekerjaan melalui perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan
pengawasan dengan menggunakan sumber daya secara efektif, efisien,
dan rasional dalam memberikan pelayanan bio-psiko-sosial-spiritual
yang komperhensif pada individu, keluarga, dan masyarakat, baik yang
sakit maupun yang sehat melalui proses keperawatan untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan (Asmuji,2012).
2.1.2. Filosofi dan Tujuan Manajemen Keperawatan
Filosofi Manajemen Keperawatan
Filosofi adalah keyakinan yang dimiliki individu atau kelompok
yang mengarah setiap pelaksanaan kegiatan individu atau kelompok
kepada pencapaian tujuan bersama (Gillies, 1985). Filosofi manajemen
keperawatan merupakan keyakinan yang dimiliki oleh tim keperawatan
yang bertujuan untuk memberikan asuhan keperawatan berkualitas
melalui pembagian kerja, koordinasi, dan evaluasi.
Dalam manajemen keperawatan, filosofi dapat diaktualisasikan
dengan meyakini bahwa mengerjakan hari ini lebih baik dari esok.
Manajerial keperawatan merupakan fungsi utama bidang keperawatan.
Peningkatan mutu kinerja perawat berarti peningkatan pengetahuan
keperawatan bagi pelaksana yang merupakan tanggung jawab bidang
keperawatan.

5
Selain itu, tim keperawatan harus memercayai bahwa
pendidikan berkelanjutan dibutuhkan untuk meningkatkan pengetahuan
keperawatan bagi pelaksana dan merupakan tanggung jawab bidang
keperawatan. Tim keperawatan bertanggung jawab dan bertanggung
gugat untuk setiap tindakan keperawatan yang diberikan pada kliennya.
Tim perawat harus menghargai pasien dan haknya untuk mendapatkan
asuhan keperawatan yang bermutu. Perawat adalah advokasi pasien
yang berpartisipasi melalui fungsi komunikasi dan koordinasi segala
tindakan keperawatan. Selain itu, perawat berkewajiban memberikan
pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga dalam upsaya
meningkatkan fungsi yang optimal.

Tujuan Pelayanan Keperawatan


Tujuan pelayanan keperawatan merupakan pernyataan konkret
dan spesifik tentang pelayanan keperawatan, yang digunkana untuk
menetapkan prioritas kegiatan sehingga dapat mencapai dan
mempertahankan nilai serta filosofi yang diyakini.
Tujuan pelayanan kepreawatan pada umumnya ditetapkan
untuk meningkatkan dan mempertahankan kualitas pelayanan rumah
sakit serta meningkatkan penerimaan masyarakat tentang profesi
keperawatan. Tujuan ini dicapai dengan mendidik perawat agar
mempunyai sikap professional dan bertanggung jawab dalam pekerjaan,
meningkatkan hubungan dengan pasien / keluarga / masyarakat,
meningkatkan pelaksanaan kegiatan umum dalam upaya
mempertahankan kenyamanan pasien, dan meningkatkan komunikasi
antar staf-staf serta meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja staf /
karyawan.
Tujuan tersebut juga dicapai melalui penetapan kebijakan yang
dibuat secara kooperatif antara tim kesehatan dalam upaya menjamin
kesejahteraan social bagi perawat dan staf lain sehingga mempunyai
kepuasan kerja, dan pemberian kesempatan kepada perawat untuk
mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

6
2.1.3. Prinsip Dasar Manajemen Keperawatan
Manajemen keperawatan dapat dilaksanakan secara benar. Oleh karena
itu, perlu diperhatikan beberapa prinsip dasar berikut.

1. Manajemen keperawatan berlandaskan perencanaan.


Perencanaan merupakan hal yang utama dari serangkaian fungsi dan
aktivitas manajemen. Tahap perencanaan dari proses manajemen
tidak hanya terdiri dari penentuan kebutuhan keperawatan pada
berbagai kondisi klien, tetapi juga terdiri atas pembuatan tujuan,
pengalokasian anggaran,identifikasi kebutuhan pegawai, dan
penetapan struktur organisasi yang diinginkan. Perencanaan
merupakan pemikiran/konsep-konsep tindakan yang umumnya tertulis
dan merupakan fungsi yang penting didalam mengurangi risiko dalam
pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan efek-efek dari
perubahan. Selama proses perencanaan, yang dapat dilakukan oleh
pimpinan keperawatan adalah menganalisis dan mengkaji system,
mengatur strategi organisasi dan menentukan tujuan jangka panjang
dan pendek, mengkaji sumber daya organisasi, mengidentifikasi
kemampuan yang ada, dan aktivitas spesifik serta prioritasnya.
Perencanaan dalam manajemen mendorong seorang pemimpin
keperawatan untuk menganalisis aktivitas dan struktur yang
dibutuhkan dalam organisasinya.
2. Manajemen keperawatan dilaksanakan melalui penggunaan waktu
yang efektif.
Manajer keperawatan yang menghargai waktu akan mampu menyusun
perencanaan yang terprogram dengan baik dan melaksanakan
kegiatan sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Keberhasilan seorang
pimpinan keperawatan bergantung pada penggunaan waktunya yang
efektif. Dalam keperawatan, manajemen sangat dipengaruhi oleh
kemampuan pimpinan keperawatan. Dalam konteks ini, seorang
pimpinan harus mampu memanfaatkan waktu yang tersedia secara
efektif. Hal demikian dibutuhkan untuk dapat mencapai program
produktivitas yang tinggi dalam tatanan organisasinya.

7
3. Manajemen keperawatan melibatkan pengambilan keputusan.
Berbagai situasi dan permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan
kegiatan keperawatan memerlukan pengambilan keputusan yang tepat
diberbagai tingkatan manajerial. Semua tingkat manajer dalam
keperawatan dihadapkan pada persoalan yang berbeda sehingga
dibutuhkan metode atau cara pengambilan keputusan yang berbeda
pula. Jika salah dalam pengambilan keputusan akan berpengaruh
terhadap proses atau jalannya aktivitas yang akan dilakukan. Proses
pengambilan keputusan akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan
komunikasi dari para manajer.
4. Manajemen keperawatan harus teroganisasi.
Pengorganisasian dilakukan sesuai dengan kebutuhan organisasi
daam rangka mencapai tujuan. Terdapat empat blok struktur
organisasi, yaitu unit, departemen, top/ tingkat eksekutif, dan tingkat
operasional. Prinsip pengorganisasian mencakup hal-hal pembagian
tugas (the devision of work), koordinasi, kesatuan komando, hubungan
staff dan lini, tanggung jawab dan kewenangan yang sesuai serta
adanya rentang pengawasan. Dalam keperawatan, pengorganisasian
dapat dilaksanakan dengan cara fungsional/penugasan, alokasi pasien
, perawatan grup/tim keperawatan, dan playanan keperawatan utama
(gillies ,1985)
5. Manajemen keperawatan menggunakan komunikasi yang efektif.
Komunikasi merupakan bagian penting dari aktivitas manajemen.
Komunikasi yang dilakukan secara efektif mampu mengurangi
kesalahpahaman, dan akan memberikan persamaan pandangan arah
dan pengertian diantara pegawai dalam suatu tatanan organisasi.
6. Pengendalian merupakan elemen manajemen keperawatan.
Pengendalian dalam manajemen dilakukan untuk mengarahkan
kegiatan manajemen sesuai dengan yang direncanakan. Selain itu,
pengendalian dilaksanakan agar kegiatan yang dilakukan tidak banyak
terjadi kesalahan yang berakibat negative terhadap klien dan pihak
yang terkait dengan manajemen. Pengendalian meliputi penilaian
tentang pelaksanaan rencana yang telah dibuat, pemberian instruksi,
menetapkan prinsip-prinsip melalui penetapan standar, dan

8
membandingkan penampilan dengan standart serta memperbaiki
kekurangan.
2.1.4. Proses Manajemen Keperawatan
Pengkajian dan Pengumpulan Data
Pengkajian Diagnosis Perencanaan Implementasi
Evaluasi
PROSES KEPERAWATAN

Pengumpulan Perencanaan Pengelolaan Kepegawaian Kepemimpinan Pengawasan


data PROSES MANAJEMEN

2.1.5. Fungsi Manajer dalam Keperawatan


Seorang manajer dituntut untuk memiliki keterampilan khusus
yang bersifat manajerial sesuai dengan tingkatan dan kedudukannya
dalam organisasi. Di dalam organisasi yang besar kedudukan manajer
akan dibedakan ke dalam tiga tingkatan, yaitu ; manajer tingkat tinggi (top
level manager), manajer tingkat menengah (middle level manager) dan
manajer tingkat bawah (low level manager). Berdasarkan tingkatan
tersebut keterampilan atau kemampuan manajer juga akan berbeda.
Keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang manajer yaitu :
keterampilan manajerial (management skill), keterampilan melakukan
hubungan antar manusia (human relation skill), dan keterampilan teknis
(technical skill),
Kepala bidang keperawatan sebagai top manajer mempunyai
peran dan fungsi sebagai pemimpin ditingkat topmanajer yang
mempunyai perbedaan dengan kepala ruang sebagai low manaje
(manajer lini pertama). Kepala ruang sebagai low manajer mampu
menempatkan dirinya terhadap peran dan fungsi manajemen yang
diembannya. Menurut Gillies (1994), manajer lini pertama adalah kepala
ruang yang dalam fungsinya bertugas mengarahkan, mengkoordinasi,
dan mengevaluasi secara langsung pada staf keperawatan. Kepala ruang
adalah manajer operasional yang merupakan pimpinan yang secara
langsung mengelola seluruh sumber daya di unit perawatan untuk
menghasilkan pelayanan yang bermutu. Dalam pengelolaan kegiatan
pelayanan keperawatan di rumah sakit, kepala ruang merupakan

9
manager tingkat lini yang mempunyai tanggung jawab untuk meletakkan
konsep praktik, prinsip dan teori manajemen keperawatan serta
mengelola lingkungan organisasi unntuk menciptakan iklim yang optimal
dan menjamin kesiapan asuhan keperawatan oleh perawat klinik (Potter,
2010).

2.2. KEPEMIMPINAN
2.2.1. Definisi
Kepemimpinan adalah suatu seni dan proses untuk mempengaruhi
dan mengarahkan orang lain supaya mereka memiliki motivasi untuk
mencapai tujuan yang hendak dicapai dalam situasi tertentu.
(Nursalam,2012)
Kepemimpinan adalah suatu seni dan proses untuk memengaruhi dan
mengarahkan orang lain supaya mereka memiliki motivasi untuk
mencapai tujuan yang hendak dicapai dalam situasi tertentu.
Kepemimpinan juga merupakan suatu inti kegiatan kelompok, hasil
timbale balik dari hubungan antar-pribadi dan sebuah kepribadian
yang memiliki pengaruh tertentu terhadap orang lain, untuk berpikir,
bersikap, dan berperilaku dalam merumuskan cita-cita kelompok atau
organisasi dalam situasi yang sangat khusus (Arwani, 2005).

2.2.2. Aktivitas Kepemimpinan


Kegiatan kepemimpinan dalam keperawatan mencangkup banyak hal.
Kegiatan tersebut mencangkup cara mengarahkan, menunjukkan jalan,
menyupervisi, mengawasi tindakan anak buah, mengorganisasikan
kegiatan yang sedang atau dilakukan, dan mempersatukan usaha dari
berbagai individu yang memiliki karakteristik yang berbeda (Gillies, 1994).
Dengan demikian, kegiatan kepemimpinan selalu bersinggungan dengan
kegiatan dalam manajemen. Bronsten, Hayman dan Naylor (1979)
menyebutkan bahwa kegiatan kepemimpinan paling sedikit mencangkup
empat hal yang terkait dengan kegiatan manajerial, yaitu perencanaan,
pengorganisasian, motivasi dan pengendalian.
a) Perencanaan
Dalam kegiatan perencanaan, kepemimpinan diarahkan pada
kegiatan yang menyangkut pengenalan masalah yang terjadi di

10
lingkungan kerja dalam area kepemimpinan; penetapan tujuan baik
jangka pendek maupun jangka panjang untuk upaya pemecahan
masalah yang ada, termasuk pengembangan dari tujuan tersebut
akan dicapai (La Monica, 1986). Perencanaan yang baik akan
menentukan keberhasilan kegiatan dan pencapaian tujuan serta
menghindari keterperangkapan dalam ketidaksiapan dari seluruh
komponen kepemimpinan (Longest, 1976)
b) Pengorganisasian
Kegiatan selanjutnya dalam kepemimpinan adalah pengorganisasian.
Kegiatan ini dilakukan melalui pelibatan semua sumber daya yang
ada dalam suatu sistem untuk mencapai tujuan organisasi (Harsey &
Blanchard, 1977).
Dalam konteks ini, seorang pemimpin harus mampu memasukkan
semua unsure manusia dan situasi kedalam suatu sistem yang ada,
dan mengatur mereka dengan kemampuan kepemimpinannya
sedemikian rupa sehingga kelompok mampu melakukan pekerjaan
yang diberikan secara baik untuk percapaian tujuan organisasi (La
Monica, 1986). Menghadapi kondisi demikian seorang pimpinan
menurut Stevent (1978) paling tidak memiliki empat kapabilitas, yaitu
cerdas (intelligent), matang social dan luas pengetahuan ( social
maturity and breath), memiliki motivasi yang baik (inner motivation),
dan kemampuan yang memadai dalam berhubungan dengan orang
lain (human relation attitude).
c) Motivasi
Kegiatan ketiga kepemimpinan merupakan factor yang cukup penting
dalam menentukan tingkat kinerja karyawan dan kualitas pencapaian
tujuan, yaitu motivasi. Motivasi ini menjadi penting karena dapat
meningkatkan kapasitas pekerjaan seseorang sekitar 60-70%,
Berdasarkan penelitian Harvard & James dalam La Monica (1989),
diperoleh hasil bahwa karyawan yang dalam setiap jamnya dapat
mempertahankan pekerjaannya dengan hanya bekerja 20-30% dari
kapasitas yang diberikan meningkat menjadi 80-90% setelah
dilakukan motivasi dari pimpinannya. Dengan dasar ini maka seorang
pimpinan harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang motivasi

11
dan teori-teori yang mendasarinya agar mampu memotivasi
karyawannya secara benar.
d) Pengendalian
Komponen kegiatan terakhir dalam kepemimpinan adalah
pengendalian. Pengendalian berguna untuk menentukan kegiatan
yang akan datang, pengendalian merupakan kegiatan mengumpulkan
umpan balik dan hasil-hasil yang secara periodic ditindak lanjuti
dalam rangka membandingkan hasil yang diperoleh dengan
perencanaan yang dibuat (Harsey & Blanchard,1977). Jika terjadi
kesenjangan, seseorang pimpinan dapat melakukan upaya
penggalian masalah yang menyebabkan kondisi tersebut lantas
melakukan beberapa penyesuaian dalam perencanaan yang akan
datang.

2.2.3. Pengembangan Teori Kepemimpinan


a. Teori bakat
Teori bakat menekankan bahwa setiap orang adalah pemimpin
(pemimpin di bawa sejak lahir bukan di dapatkan) dan mereka
mempunyai karekterisik tertentu yang membuat mereka lebih baik dari
orang lain (marquis dan Huston, 1998). Teori ini di sebut juga sebagai
Great Man Theory. Banyak penelitian terhadap riwayat kehidupan
untuk menguji teori ini. Teori bakat mengabaikan dampak atau
pengaruh dari siapa yang mengasuh, situasi, dan lingkungan lainnya,
tetapi menurut teori kontemporer, kepemimpinan seseorang dapat
dikembangkan bukan hanay dari pembawaan sejak lahir. Teori ini
mengidentifikasikan karekteristik umum tentang inteligensi,
personalitas, dan kemampuan (perilaku) (Nursalam,2012). Contoh:
Seseorang diangkat menjadi seorang manajer karena merupakan
keturunan seorang direktur.
b. Teori perilaku
Teori perilaku lebih menekankan pada apa yang dilakukan pemimpin
dan bagaimana sorang manajer menjalankan fungsinya. Perilaku
sering dilihat sebagai suatu rentang dari perilaku otoriter ke demokratis
atau dari fokus suatu produksi ke fokus pegawai. Menurut vestal

12
(1994), teori perilaku ini dinamakan sebagai gaya kepemimpinan
seorang manajer dalam suatu organisasi.
Gaya diartikan sebagai suatu cara penampilan karekteristik atau
tersendiri. Menut follet (1940), gaya didefinisikan sebagai hak istimewa
tersendiri dari si ahli dengan hasil akhir yang dicapai tanpa
menimbulkan isu sampingan. Gilles (1970) menyatakan bahwa gaya
kepemimpinan dapat diidentifikasikan berdasarkan perilaku pemimpin
itu tersendiri. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh adanya
pengalaman bertahun-tahun alam kehidupannya. Oleh karena itu,
kepribadian sesorang cenderung sangat bervariasi dan berbeda-beda.
Menurut para ahli, terdapat beberapa gaya kepemimpinan yang dapat
diterapkan dalam suatu organisasi antara lain sebagai berikut.
1. Gaya kepemimpinan menurut Tanebau dan Warrant H. Schmitdt.
Menurut kedua ahli tersebut, gaya kepemimpinan dapat di
jelaskan melalui dua titik ekstrem yaitu kepemimpinan berfokus
pada atasan dan kepemimpinan berfokus pada bawahan. Gaya
tersebut dipengaruhi oleh factor manajer, factor karyawan, dan
focus situasi. Jika pemimpin memandang bahwa kepentingan
organisasi harus didahulukan jika disbanding dengan kepentingan
individu, maka pemimpin akan lebih otoriter, akan tetapi jika
bawahan mempunyai pengalaman yang lebih baik dan
menginginkan partisipasi, maka pemimpin dapat menerapkan gaya
partisipasinya.
2. Gaya kepemimpinan menurut Likert.
Likert dalam Nursalam (2002) mengelompokkan gaya
kepemimpinan dalam beberapa sistem
a. Sistem ototriter-eksploitatif
Pemimpin tipe ini sangat otoriter, mempunyai kepercayaan yang
rendah terhadap bawahannya, memotivasi bawahan melalui
ancaman atau hukuman. Komunikasi yang dilakuakan bersifat
satu arah ke bawah (top-down).
b. Sistem benevolent-otoritatif (authoritative)
Pemimpin mempercayai bawahan sampai pada tingkat tertentu,
memotivasi bawahan dengan ancaman atau hukukman tetapi
tidak selalu, dan membolehkan komunikasi ke atas. Pemimpin

13
memperhatikan ide bawahan dan mendelegasikan wewenang,
meskipun dalam mengambil keputusan masih melakukan
pengawasan yang ketat.
3. Gaya kepemimpinan menurut Teori X dan Teori Y .
Teori ini dikemukan oleh douglas McGregor dalam bukunya
The Human Side Enterprise (1960). Dia menyebutkan bahwa
perilaku seseorang dalam suatu organisasi dapat dikelompokkan
menjadi dua kutub utama, yaitu sebgai Teori X dan Teori Y. Teori X
mengasumsikan bahwa bawahan itu tidak menyukai pekerjaan,
kurang ambisi, tidak mempunyai tanggungjawab, cenderung
menolak perubahan, dan lebih suka dipimpin daripada memimpin.
Sebaliknya Teori Y mengasumsikan bahwa bawahan itu senang
bekerja, bisa meneria tanggungjawab, mampu mandiri, mampu
mengawasi diri, mampu berimajinasi, dan kreatif. Berdasarkan teori
ii, gaya kepemimpinan dibedakan menjadi empat macam.
a. Gaya kepemimpinan dictator.
Gaya kepemimpinan yang dilakukana dengan menimbulkan
ketakutan serta menggunakan ancaman dan hukuman
merupakan bentuk dari pelaksanaan Teori X.
b. Gaya kepemimpinan otokratis.
Pada dasarnya gaya kepemimpinan ini hamper sama dengan
gaya kepemimpinan dictator namun bobotnya agak kurang.
Segala keputusan berada di tangan pemimpin, pendapat dari
bawahan tidak pernah dibenarkan. Gaya ini juga merupakan
pelaksanaan dari teori X.
c. Gaya kepemimpinan demokratis.
Ditemukan adanya peran serta dari bawahan dalam pengambilan
sebuah keputusan yang dilakukan dengan cara musyawarah.
Gaya kepemimpinann ini pada dasarnya sesuai dengan Teori Y.
d. Gaya kepemimpinan santai.
Peranan dari pemimpin hamper tidak terlihat karena segala
keputusan diserahkan pada bbawahan. Gaya kepemimpinan ini
sesuai dengan Teori Y (Azwar, 1996).
4. Gaya kepemimpinan menurut Robert House.

14
Berdasarkan teori motivasi pengharapan, Robert House
dalam Nursalam (2002) mengemukan empat gaya kepemimpinan.
a. Direktif.
Pemimpin menyatakan kepada bawahan tantang bagaiman
melaksanakan suatu tugas. Gaya ini mengandung arti bahwa
pemimpin selalu berorientasi pada hasil yang dicapai oleh
bawahannya.
b. Suportif.
Pemimpin berusaha mendekatakan diri kepada bawahan dan
bersikap ramah terhadap bawahan.
c. Partisipatif.
Pemimpin berkonsultasi dengan bawahan untuk mendapatkan
masukan dan sran dalam rangka pengambilan sebuah
keputusan.
d. Berorientasi tujuan.
e. Pemimpin menetapkan tujuan yang menantang dan
mengharapkan bawahan berusaha untuk mencapai tujuan
tersebut dengan seoptimalkan mungkin (Sujak, 1990).
5. Gaya kepemimpinan menurut Hersey dan Blanchard.
Berikut adalah beberapa gaya kepemimpinan menurut
Hersey dan Blanchard (1997) dan ciri ciri pada tiap gaya
kepemimpinan tersebut.
a. Intruksi :
Tinggi tugas dan rendah hubungan ;
Komunikasi sejarah ;
Pengambialan keputusan berada pada pimpinan dan peran
bawahan sangat minimal;
Pemimpin banyak memberikan pengarahan atau instruksi
yang spesifik serta mengawasi dengan ketat.
b. Konsultasi :
Tinggi tugas dan tinggi hubungan
Komunikasi dua arah ;
Peran pemimpin dalam pemecahan masalah dan
pengambilan keputusan cukup besar, bawahan diberi

15
kesempatan untuk member masukan, dan menampung
keluhan.
c. Partisipasi :
Tinggi hubungan tapi rendah tugas;
Pemimpin dan bawahan bersama-sama member gagsan
dalam pengambilan keputusan.
d. Delegasi :
Rendah hubungan dan randah tugas;
Komunikasi dua arah, terjadi diskusi dan pendelegasian antara
pemimpin dan bawahan dalam pengambbilan keputusan
pemecahan masalah.
6. Gaya kepemipinan menurut Lippits dan K.White.
Menurut Lippits dan K.White, terdapat tiga gaya
kepemimpinan yaitu : otoriter, demokreasi, dan liberal yang mulai
dikembangkan di Universitas lowa.
a. Otoriter
Gaya kepemimpinan ini memiliki cirri-ciri antara lain :
Wewenang mutlak berada pada pimpinan
Keputusan selalu dibuat oleh pemimpinan
Kebijaksanaan selalu dibuat oleh pimpinan
Komunikasi berlangsung satu arah dari pimpinan kepada
bawahan
Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau
kegiatan para bawahan dilakukan secara ketat.
Prakarsa harus selalu berasal dari pimpinan
Tidak ada kesempatan bagi bawahan untuk memberi saran,
pertimbangan atau pendapat.
Tugas-tugas bawahan diberikan secara instruktif
Lebih banyak kritik dari pada pujian
Pimpinan menuntut prestasi sempurna dari bawahan tanpa
syarat
Pimpinan menuntut kesetiaan tanpa syarat
Cenderung adanya paksaan, ancaman dan hukuman
Kasar dalam bersikap

16
Tanggup jawab keberhasilan organisasi hanya dipikul oleh
pimpinan
b. Demokrasi
Kepemimpinan gaya demokratis adalah kemampuan dalam
memengaruhi orang lain agar bersedia bekerja sama untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Berbagai kegiatan yang
akan dilakukan ditentukan bersama antara pimppinan dan
bawahan.
Gaya kepemimpinan ini memiliki cirri-ciri antara lain :
Wewenang pimpinan tidak mutlak
Pimpinan bersedia melimpahkan sebagian wewenang kepada
bawahan
Keputusan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan
Komunikasi berlangsung timbal balik
Pengawasan dilakukan secara wajar
Prakarsa dapat datang dari bawahan
Banyak kesempatan dari bawahan untuk menyampaikan saran
dan pertimbangan
Tugas-tugas yang kepada bawahan lebih bersifat permintaan
dari pada instruktif
Pujian dan kritik seimbang
Pimpinan mendorong prestasi sempurna para bawahan dan
batas masing-masing
Pimpinan meminta kesetiaan bawahan secara wajar
Pimpinan memperhatikan perasaan dalam bersikap dan
bertindak
Teradapat suasana saling percaya, saling menghormati, dan
saling menghargai
Tanggung jawab keberhasilan organisasi ditanggung bersama-
sama
c. Liberal atau Laissez Faire
Kepemimpinan gaya liberal atau Laissez Faire adalah
kemampuan memengaruhi orang lain agar bersedia bekerja
sama untuk mencapai tujuan dengan cara lebih banyak
menyerahkan pelaksanaan berbagi kegiatan kepada bawahan.

17
Ciri gaya kepemimpinan ini antara lain:
Pemimpin melimpahkan wewenang sepenuhnya kepada
bawahan
Keputusan lebih banyak dibuat oleh bawahan
Kebijaksanaan lebih banyak di buat oleh bawahan;
Pimpinan hanya berkomunisasi apabila diperlukan oleh
bawahan;
Hampir tidak ada pengawasan terhadap tingka laku bawahan;
Prakasa selalu berasal dari bawahan;
Hamper tidak ada pengarahan dari pimpinan;
Peranan pimpinan sangat sedikit dalam kegiatan kelompok;
Kepentingan pribadi lebih penting dari kepentingan kelompok;
Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul oleh
perorangan;

7. Gaya kepemimpinan berdasarkan kekuasaan dan wewenang.


Menurut Gillies (1996), gaya kepemimpinan berdasarkan wewenang
dan kekuasaan dibedakan menjadi empat.
a. Otoriter.
Merupakan kepemimpinan yang berorientasi pada tugas atau
pekerjaan. Menggunakan kekuasaan posisi dan kekuatan dalam
memimpin. Pemimpin menentukan semua tujuan yang akan di
capai dalam pengambilan keputusan.Informasi diberikan hanya
pada kepentingan tugas.Motivasi dilakukan dengan imbalan dan
hukuman.
b. Demokrasi.
Merupakan kepemimpinan yang menghargai sifat dan
kemampuan setiap staf. Menggunakan kekuasaan posisi dan
pribadinya untuk mendorong ide dari staf, memotovasi kelompok
untuk menentukan tujuan sendiri. Membuat rencana dan
pengontrolan dalam penerapannya. Informasi diberikan seluas-
luasnya dan terbuka.
c. Partisipasif.
Merupakan gabungan antara otoriter dan demokrasi, yaitu
pemimpin yang menyampaikan hasil analisis masalah dan

18
kemudian mengusulkan tindakan tersebut pada bawahannya.
Pemimpin meminta saran dan kritik staf serta
mempertimbangkan respons staf terhadap usulannya. Keputusan
akhir yang diambil bergantung pada kelompok.

19
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Penerapan konsep manajemen menuntut para pelaku yang
terlibat dalam manajemen keperawatan untuk selalu melaksanakan
fungsi-fungsi manajemen berdasarkan filosofi, misi, visi, tujuan dan
sesuai dengan kondisi pelayanan kesehatan yang ada, sehingga
bentuk pelayanan keperawatan yang diberikan akan sejajar dengan
tingkat kemajuan pelayanan kesehatan yang terjadi
Dalam rangka mengantisipasi manajemen keperawatan
diperlukan keterampilan seorang manajer untuk melaksanakan
fungsinya dan sesuai dengan tingkatan manajerial yang di tempatinya.
Perawat manajer harus dapat mengantisipasi perubahan issue
manajemen dan kepemimpinan yang sedang terjadi
Lingkup manajemen yang terdiri dari manajemen operasional
dan manajemen asuhan perawatan, melalui upaya fasilitasi,
koordinasi, integrasi, dan penunjang perlu ditingkatkan melalui
peningkatan komunikasi dan pembinaan hubungan serta
kepemimpinan yang tepat sehingga tujuan institusi yang telah
ditetapkan dapat dicapai melalui strategi manajemen keperawatan
yang dapat mengantisipasi perkembangan pelayanan keperawatan
dimasa mendatang.

3.2. Saran
Perlu adanya pengembangan isi makalah lebih lanjut agar
mahasiswa dapat lebih memahami tentang konsep, fungsi, tujuan, dan
manfaat manajemen dan kepemimpinan dalam pelayanan keperawatan.

20
DAFTAR PUSTAKA

Arwani dan Heru Supriyatno.2005.Manajemen Bangsal Keperawatan.


EGC.Jakarta
Curtis, E & OConnell. (2011). Essential leadership skills for motivating and
developing staff, Nursing Management, September 2011, Volume 18, Number 5
Gillies D,A. (1999). Nursing Management : a system approach. 4rd edition.
Philadelphia: WB Saunders Company
Nursalam.2012.Manajemen Keperawatan: Penerapan dalam Praktik
Keperawatan Profesional. Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika
Asmuji. 2012. Manajemen Keperawatan: Konsep dan aplikasi. Ar-Ruzz Media.
Jogjakarta
Marquis, L.B. & Huston, J. C. (2012). Leadership roles and management
functions in nursing: Theory and application. 5th ed. Philadelphia: Lippincott
Company.

21