Anda di halaman 1dari 4

Bisakah kita berintegritas?

Oleh: M. Jalu Wredo Aribowo

Dalam tulisannya yang di unggah pada islamindonesia.id, Prof. Komar Hidayat


menyatakan bahwa orang Denmark percaya bahwa semua kebaikan yang ada di
negaranya berawal dari kejujuran. Pada saat seorang jujur maka semua fasilitas umum
untuk rakyat akan terbangun dengan baik oleh pemerintah, sebagaimana mestinya
sesuai standar mutu yang telah ditetapkan di segala bidang mulai dari kesehatan,
pendidikan, kesejahteraan dan bidang lainnya dalam layanan publik. Masyarakat
Denmark percaya bahwa kejujuran bisa melahirkan segalanya. Mereka juga percaya
bahwa setiap manusia itu pintar, dengan kejujuran maka setiap kepintaran manusia
akan menjadi manfaat bagi sesama dan seluruh negeri. Mereka yakin jika setiap
aparat pemerintah jujur, mulai dari pejabat, menteri, polisi dan seterusnya dan
rakyatnya jujur maka sebuah negara bisa menjadi makmur tanpa perlu menjadi yang
paling pintar di bidang pendidikan.

Mungkin tidak hanya Denmark, hampir sebagaian besar negara di Eropa memiliki
prinsip yang sama. Suatu pelajaran ketika penulis mendapat kesempatan mengunjungi
negara kincir angin, bahwa kejujuran di sana sangat dihormati dan dijunjung tinggi.
Ketika mendapat kesempatan berkunjung ke suatu instansi pemerintah, para pegawai
pemerintah di sana memiliki prinsip bahwa pegawai pemerintah harus menjadi role
model bagi warga negara. Artinya perilaku pegawai pemerintah sangat menjadi
sorotan dari seluruh warga negara dan pegawai pemerintah wajib memberikan contoh
yang baik dalam kesehariannya baik di kantor maupun di masyakarat. Sebagai contoh
pegawai pemerintah dilarang menerima hadiah/pemberian dari siapapun yang nilainya
lebih dari 50 Euro, ketika kami berikan cinderamata mereka menanyakan berapa kira-
kira harga cinderamata tersebut. Tentu saja kami heran dengan pertanyaan tersebut,
karena tidak biasanya di negara kita menanyakan berapa nilai dari hadiah yang
diberikan. Kemudian mereka melanjutkan jika harganya kurang dari 50 Euro kami
termia dengan senang hati, tapi jika lebih dari 50 Euro mohon maaf kami tidak bisa
menerima. Amazing.kata saya dalam hati, seandainya hal ini terjadi di negara kita.

Wow..beda sekali ya apa yang ada di Denmark dan Belanda dengan yang terjadi di
negara kita. Penangkapan Bupati Klaten oleh KPK pada akhir tahun 2016 menjadi
penutup tahun yang memperihatinkan bagi seluruh bangsa indonesia. Mahfud MD.
mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan bahwa Kenapa bisa
ketangkap, ya karena Bupati Klaten sedang apes saja. Beliau juga menambahkan
bahwa indeks ketaatan aparat pemerintah terhadap ideologi dan instansi di Indonesia
sendiri memang rendah, yakni 0,25. Dalam tahun 2016 juga KPK menetapkan
sepuluh kepala daerah menjadi tersangka kasus korupsi, serta dari 17 operasi tangkap
tangan (OTT) sebanyak empat kepala daerah ikut terjaring. Menurut Iza Rumensten
dalam artikelnya yang berjudul Korelasi Perilaku Korupsi Kepala Daerah dengan
Pilkada langsung menyebutkan penyebab kepala daerah melakukan korupsi adalah
karena tingginya biaya politik yang dikeluarkan ketika proses pemilihaan langsung.
Terkait dengan kasus jual beli jabatan tersebut, dalam Undang Undang Nomor 5
Tahun 2014 Komite ASN mendorong untuk pengisian jabatan dilakukan secara lelang
terbuka. Artinya, siapapun mendapat kesempatan yang sama asalkan memiliki
kemampuan dan integritas yang memadai untuk mendapat jabatan. Salah satu faktor
yang menyebabkan maraknya kasus jual beli jabatan ialah minimnya instansi
yang menyelenggarakan seleksi jabatan dengan terbuka. Selain itu ada
kemungkinan lelang jabatan itu proses yang disaru ditutupi dengan seleksi
terbuka, padahal terjadi tawar menawar, proses sama tetapi ditutupi. Ketua
KASN Sofian Effendi dalam Media Indonesia tanggal 03 Januari 2017 menyatakan
bahwa: jika mau mengorek, calon bupati mau mengeluarkan miliaran untuk
jadi bupati padahal gaji kecil, karena tahu dengan melelang jabatan dan
formasi PNS dalam tahun kedua dan ketiga sudah balik modal, untungnya
bahkan puluhan miliar rupiah.

Melihat informasi di atas dapat disimpulkan bahwa pejabat/aparat pemerintah


utamanya para kepala daerah yang terpilih melalui pemilihan langsung cenderung
untuk bertindak korup dan alasan utamanya adalah lack of integrity seperti yang di
sampaikan oleh Pak Mahfud MD. Bukankah dalam naskah pelantikan pastilah para
pejabat tersebut bersumpah tidak akan menerima dalam bentuk apapun dari siapapun
juga yang patut dapat mengira bahwa pemberian itu terkait dengan tugas dan
jabatannya. Atau jangan-jangan hanyalah sumpah palsu yang diucapkan.

Pada saat pak Jokowi terpilih beliau mencanangkan program revolusi mental di mana
ada tiga nilai strategis yakni Intergritas, Etos Kerja, dan Gotong Royong. Dalam nilai
Integritas diharapkan adanya birokrasi yang bersih, andal, dan kapabel, yang benar-
benar bekerja melayani kepentingan rakyat dan mendukung pekerjaan pemerintah
yang terpilih. Di dalam PP 60 tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern
Pemerintah (SPIP) dalam unsur lingkungan pengendalian dan sub unsur Penegakan
intergritas dan nilai etika dinyatakan bahwa pimpinan instansi pemerintah diwajibkan
menegakkan integritas dan niai etika. Jelaslah bahwa banyak sekali aturan dan
program yang mendorong terciptanya integritas bagi aparat pemerintah.

Infrastruktur maupun aturan yang terkait dengan penyelenggaraan


pemerintahan nampaknya sudah sangat lengkap di negaara kita ini, Namun
sebaik dan sesempurna apapun aturan jika yang melaksanakannya tidak
memiliki integritas yang tinggi akan percuma.Hal ini selaras dengan pandangan
yang mengatakan pentingnya the man behind the system. Secanggih-canggihnya suatu
sistem, maka masih tergantung kepada siapa yang menjalankan sistem tersebut.
Sistem yang handal bisa rusak oleh beberapa gelintir orang yang menjalankan sistem
tersebut. Contoh sudah cukup banyak, misalnya dalam kasus korupsi pelelangan
proyek-proyek pemerintah, yang notabene sudah dipayungi peraturan, sistem dan
mekanisme kerja yang rinci, namun tetap saja terjadi sandiwara lelang, mark up,
kualitas pekerjaan yang rendah, kebocoran di sana-sini, dan sebagainya oleh orang-
orang dalam birokrasi pemerintahan sendiri. Upaya merekrut orang-orang yang
berkemampuan baik dan memiliki integritas diharapkan mampu menjaring good man
untuk menjalankan good system. Internal control culture hanya dapat tercipta oleh
orang-orang yang memang memiliki integritas serta komitmen yang kuat terhadap
pencapaian visi, misi dan tujuan organisasi.

Dari tadi kita banyak berbicara tentang kata integritas. Apa sih integritas itu?,
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia integritas diartikan sebagai mutu, sifat, atau
keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan
kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran. Lantas bagaimana
caranya menegakkan integritas pada lingkungan aparat pemerintah. Dalam
PP 60 Tahun 2008 pasal 5 dapat dijadikan framework dalam upaya pimpinan
instansi menegakkan integritas dan nilai etika, antara lain dengan:

a. menyusun dan menerapkan aturan perilaku;

b. memberikan keteladanan pelaksanaan aturan perilaku pada setiap


pimpinan instansi pemerintah

c. menegakkan tindakan disiplin yang tepat atas peyimpangan terhadap


kebijakan dan prosedur, atau pelanggaran aturan perilaku

Apakah hanya itu? Tentu tidak. PP 60 Tahun 2008 hanya memberikan


framework dan contoh penerapan minimal yang harus dilakukan. Di samping
itu, pimpinan memegang peranan penting dalam penerapan SPIP yang memerlukan
keteladanan dari pimpinan (tone at the top) yang mempengaruhi integritas, etika,
dan faktor lainnya dari lingkungan pengendalian yang positif. Kebiasan buruk kita
adalah cenderung untuk memenuhi syarat formal yang diwajibkan oleh aturan tertentu
mengenai pelaksanaannya dipikirkan kemudian. Seperti misalnya menyusun dan
menerapkan aturan perilaku, pasti seluruh instansi jika ditanya, jawabnya telah
memiliki aturan tersebut. Bagaimana dengan pelaksanaan, pemantauan dan
pelaporannya, masih minim.

Hal ini yang membuat risau mantan Ketua KPK Abraham Samad sehingga dalam
pidatonya pada acara Konferensi Nasonal Pemberantasan Korupsi Tahun 2013, beliau
mencanangkan Sistem Integritas Nasional (SIN). Dalam pidatonya Abraham Samad
mengharapkan adanyan upaya penguatan sistem integritas yang diterapkan di setiap
tingkat elemen bangsa dan pemangku kepentingan agar pemberantasan korupsi dapat
lebih sistematis, terstruktur, dan komprehensif.

Sejalan dengan hal tersebut Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara menuyusun


sebuah sistem yang disebut Zona Integritas melalui peraturan Menpan Nomor 52
Tahun 2014 tentang Pedoman Membangun Zona Intergritas Menuju Wilayah Bebas
Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani. Di dalam permenpan
tersebut diharapkan setiap instansi membangun pilot project zona integritas utamanya
untuk unit-unit strategis yang melakukan pelayanan publik dan yang mengelola
sumber daya besar. Dan jika kita melihat hasil dari permenpan tersebut sangat luar
biasa. Ternyata kita bisa menciptakan zona integritas. Pada lini layanan pemerintah
hampir seluruhnya telah diperbaiki, semua instansi pemerintah berlomba lomba untuk
dapat menyediakan layanan publik yang terbaik. Banyak terbentuk layanan terpadu,
layanan satu atap, perijinan online dan banyak inovasi lainnya dalam pelayanan
publik. Mau perpanjangan masa berlaku STNK tidak butuh waktu yang lama satu jam
selesai, mau perpanjangan SIM tinggal ke SIM Corner yang ada di pusat perbelanjaan
atau bus layanan yang ada dilokasi strategis, mau urus perizinan lainnya tinggal
meluncur ke layanan perizinan satu atap yang disediakan oleh pemerintah daerah.
Namun di sisi lain, masih banyak pula bidang-bidang yang belum tersentuh zona
integritas sehingga banyak memunculkan permasalahan-permasalahan sebagaimana
kita ketahui dari berbagai media.

Efektivitas zona integritas sangat ditentukan oleh komitmen pimpinan dan seluruh
jajaran pegawai di dalamnya. Berbagai success story pembangunan zona integritas di
Indonesia dan di negara lainnya menunjukkan bahwa komitmen menjadi prasyarat
(prerequisite) sebuah instansi yang berintegritas. Jika komitmen kuat, maka
mewujudkan pemerintahan yang bersih dan melayani melalui zona integritas akan
menjadi sebuah keniscayaan. Selain itu juga perlu internalisasi nilai-nilai integritas
pada setiap individu dalam instansi pemerintah, di mana seluruh individu menerima
pengaruh dan bersedia bersikap dan berperilaku dengan penuh integritas dikarenakan
integritas tersebut sesuai dengan apa yang dipercayainya dan sesuai dengan sistem
nilai yang dianutnya. Individu yang menerima pengaruh integritas menjadi
berintegritas dengan penuh kepuasan. Kepuasan menjalani integritas membuat
mereka dapat bertahan dari berbagai resiko dan akan tetap merasakan kebahagiaan
atas pilihan berintegritas. Pemahaman tentang pentingnya internalisasi integritas yang
lebih permanen bertahan dalam diri seseorang, membuatnya mempunyai keinginan
kuat untuk mempelajari beragam teknik yang diperlukan untuk melakukan
internalisasi integritas.

Akhir kata, dengan banyaknya aturan-aturan dan sistem yang telah dibuat
serta semangat untuk menegakkan integritas pada diri kita masing-masing
akan membawa perubahan yang signifikan bagi negara kita tercinta. Salam
Integritas!!! Bisa!!!