Anda di halaman 1dari 17

1731

Rumusan masalah :
Seorang anak laki-laki (9 th) berperilaku selalu membuat onar, tidak bisa diam,
mengganggu teman sekitarnya, dan tidak bisa fokus.

Hipotesis :
Anak tersebut mengalami gangguan pemusatan perhatian-hiperaktivitas.

Sasaran Pembelajaran:
1. Mengetahui pengertian perkembangan pada anak serta perubahannya.
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak.
3. Mengetahui masalah-masalah perkembangan anak.

Pendahuluan
Masa kanak-kanak merupakan masa yang membutuhkan perhatian lebih terkait
pertumbuhan dan perkembangannya. Selain dari fisik anak tersebut, dibutuhkan juga
perhatian terkait kejiwaan ataupun mental anak tersebut. Hal itu dapat terlihat melalui setiap
perilaku yang dilakukan oleh sang anak, maupun respon terhadap sekitarnya.
Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi baik pra-natal, post natal, maupun pasca
natal. Dikarenakan pentingnya penanganan terhadap anak yang mengalami gangguan mental
ini, maka pada makalah ini akan dibahas kasus terkait mental anak secara khusus mengenai
gangguan pemusatan perhatian-hiperaktivitas.

Perkembangan merupakan sederetan perubahan fungsi organ tubuh yang berkelanjutan,


teratur dan saling berkait. Seperti pertumbuhan, perkembangan pun mempunyai ciri-ciri tertentu
sebagai suatu pola yang tetap walaupun variasinya sangat luas.
Perkembangan terjadi secara simultan dengan pertumbuhan. Perkembangan merupakan
hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya, antara lain
meliputi perkembangan sistem neuromuskuler, bicara, emosi dan sosial. Kesemua fungsi tersebut
berperan penting dalam kehidupan manusia yang utuh.
Ciri-ciri perkembangan adalah:1
1. Perkembangan melibatkan perubahan
Karena perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan, maka setiap pertumbuhan
disertai dengan perubahan fungsi. Perkembangan sistem reproduksi misalnya, disertai
dengan perubahan pada organ kelamin, perkembangan intelegensia menyertai
pertumbuhan otak dan serabut saraf. Perubahan-perubahan ini meliputi perubahan ukuran
tubuh secara umum, perubahan proporsi tubuh, berubahnya ciri-ciri lama dan timbulnya
ciri-ciri baru sebagai tanda kematangan suatu organ tubuh tertentu.
2. Perkembangan awal menentukan pertumbuhan selanjutnya
Seseorang tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia melewati
tahapan sebelumnya. Sebagai contoh, seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia
bisa berdiri. Karena itu perkembangan awal ini merupakan masa kritis karena akan
menentukan perkembangan selanjutnya.
3. Perkembangan mempunyai pola yang tetap
Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut dua hukum yang tetap, yaitu:
3.1 Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian menuju ke arah
kaudal. Pola ini disebut pola sefalokaudal.
3.2 Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah proksimal (gerakan kasar) lalu
berkembang ke bagian distal seperti jari-jari yang mempunyai kemampuan dalam
gerakan halus. Pola ini disebut proksimodistal.
4. Perkembangan memiliki tahap yang berurutan
Tahap ini dilalui seorang anak mengikuti pola yang teratur dan berurutan, tahap-tahap
tersebut tidak bisa terjadi terbalik, misalnya anak terlebih dahulu mampu membuat
tingkatan sebelum mampu membuat gambar kotak, berdiri sebelum berjalan dan
sebagainya.
5. Perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda
Seperti halnya pertumbuhan, perkembangan berlangsung dalam kecepatan yang berbeda-
beda. Kaki dan tangan berkembang pesat pada awal masa remaja, sedangkan bagian
tubuh yang lain mungkin berkembang pesat pada masa lainnya.
6. Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan
Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembangan pun demikian, terjadi
peningkatan mental, ingatan, daya nalar, asosiasi dan lain-lain.

Pada umumnya anak memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan yang normal, dan
ini merupakan hasil interaksi banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan anak. Banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan anak. Faktor-faktor tadi kita bagi dalam 2 golongan, yaitu:1

2
1. Faktor dalam (internal)
1.1 Perbedan ras/etnik atau bangsa
Bila seseorang dilahirkan sebagai ras orang Eropa maka tidak mungkin ia
memiliki faktor herediter ras orang Indonesia atau sebaliknya. Tinggi badan tiap
bangsa berlainan, pada umumnya ras orang kulit putih mempunyai ukuran tungkai
yang lebih panjang dari pada ras orang Mongol.
1.2 Keluarga
Ada kecenderungan keluarga yang tinggi-tinggi dan ada keluarga yang gemuk-
gemuk.
1.3 Umur
Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal, tahun pertama
kehidupan dan masa remaja.
1.4 Jenis kelamin
Wanita lebih cepat dewasa dibanding anak laki-laki. Pada masa pubertas wanita
umumnya tumbuh lebih cepat daripada laki-laki dan kemudian setelah melewati
masa pubertas laki-laki akan lebih cepat.

1.5 Kelainan genetik


Sebagai salah satu contoh: Achondroplasia yang menyebabkan dwarfisme,
sedangkan sindroma Marfan terdapat pertumbuhan tinggi badan yang berlebihan.
1.6 Kelainan kromosom
Kelainan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan pertumbuhan seperti
pada sindroma Downs dan sindroma Turners.
2. Faktor luar (eksternal/lingkungan)
2.1 Faktor Pranatal :
1. Gizi
Nutrisi ibu hamil terutama dalam trimester akhir kehamilan akan
mempengaruhi pertumbuhan janin.
2. Mekanis
Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan congenital seperti
club foot.
3. Toksin/zat kimia
Aminopterin dan obat kontrasepsi dapat menyebabkan kelainan kongenital
seperti palatoskisis.
4. Endokrin
Diabetes mellitus dapat menyebabkan makrosomia, kardiomegali, hyperplasia
adrenal.
5. Radiasi

3
Paparan radium dan sinar Rontgen dapat mengakibatkan kelainan pada janin
seperti mikrosefali, spina bifida, retardasi mental dan deformitas anggota
gerak, kelainan kongenital mata, kelainan jantung.
6. Infeksi
Infeksi pada trimester pertama dan kedua oleh TORCH (Toksoplasma,
Rubella, Sitomegalo virus, Herpes simpleks), PMS (Penyakit Menular
Seksual) serta penyakit virus lainnya dapat mengakibatkan kelainan pada
janin seperti katarak, bisu tuli, mikrosefali, retardasi mental dan kelainan
jantung kongenital.

7. Kelainan imunologi
Eritroblastosis fetalis timbul atas dasar perbedaan golongan darah antara
janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibody terhadap sel darah merah
janin; kemudian melalui plasenta masuk ke dalam peredaran darah janin dan
akan menyebabkan hemolisis yang selanjutnya mengakibatkan
hiperbilirubinemia dan kern icterus yang akan menyebabkan kerusakan
jaringan otak.
8. Anoksia embrio
Anoksia embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi plasenta
menyebabkan pertumbuhan terganggu.
9. Psikologis ibu
Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakukan salah/kekerasan mental pada
ibu hamil dan lain-lain.
2.2 Faktor Persalinan :
Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala dan asfiksia dapat
menyebabkan kerusakan pada jaringan otak.
2.3 Pasca natal :
1. Gizi
Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan yang adekuat.
2. Penyakit kronis/kelainan kongenital
Tuberkulosis, anemia, kelainan jantung bawaan mengakibatkan retardasi
pertumbuhan jasmani.
3. Lingkungan fisis dan kimia
Sanitasi lingkungan yang kurang baik, kurangnya sinar matahari, paparan
sinar radioaktif, zat kimia tertentu (Pb, Mercuri, rokok, dan lain-lain)
mempunyai dampak yang negatif terhadap pertumbuhan anak.
4. Psikologis

4
Hubungan anak dengan orang disekitarnya. Seorang anak yang tidak
dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang selalu merasa tertekan akan
mengalami hambatan di dalam pertumbuhan dan perkembangannya.

5. Endokrin
Gangguan hormone misalnya pada penyakit hipotiroid akan menyebabkan
anak mengalami hambatan pertumbuhan. Defisiensi hormon pertumbuhan
akan menyebabkan anak menjadi kerdil.
6. Sosio-ekonomi
Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan, kesehatan
lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan, akan menghambat pertumbuhan
anak.
7. Lingkungan pengasuhan
Pada lingkungan pengasuh, interaksi ibu-anak sangat mempengaruhi tumbuh
kembang anak.
8. Stimulasi
Perkembangan memerlukan rangsangan/stimulasi khususnya dalam keluarga,
misalnya penyediaan alat mainan, sosialisasi anak, keterlibatan ibu dan
anggota keluarga lain terhadap kegiatan anak, perlakuan ibu terhadap perilaku
anak.
9. Obat-obatan
Pemakaian kortikosteroid jangka lama akan menghambat pertumbuhan,
demikian halnya dengan pemakaian obat perangsang terhadap susunan saraf
pusat yang menyebabkan terhambatnya produksi hormon pertumbuhan.

Perkembangan anak meliputi perkembangan anak meliputi perkembangan fisik, kognitif,


emosi, bahasa, motorik (kasar dan halus), personal sosial dan adaptif. Berbagai masalah
gangguan perkembangan dapat timbul. Deteksi dini dan interverensi dini sangat membantu agar
tumbuh kembang anak dapat berlangsung seoptimal mungkin. Peran orang tua dalam tumbuh
kembang anak sangat besar artinya.2
Beberapa masalah perkembangan yang sering timbul, antara lain:3
1. Gangguan perkembangan motorik
Perkembangan motorik yang lambat dapat disebabkan oleh hal-hal di bawah ini,
yaitu:
a. Faktor keturunan
Pada keluarga tersebut perkembangan motorik rata-rata lambat.

5
b. Faktor lingkungan
Anak yang tidak mendapat kesempatan untuk belajar, misalnya anak yang terus
digendong atau ditaruh di baby walker terlalu lama. Juga anak yang mengalami
deprivasi maternal sering mengalami keterlambatan motorik.
c. Faktor kepribadian
Anak yang penakut, takut jatuh.
d. Retardasi mental
Sebagian besar anak dengan retardasi mental mengalami keterbatasan gerak
motorik.
e. Kelainan tonus otot
Anak dengan palsi serebral, sering terjadi keterbatasan perkembangan motorik
akibat dari spastisitas, athetosis, ataksia, atau hipotonia. Kelemahan tendon dan
kelainan pada sumsum tulang belakang (gross spinal defects), juga sering disertai
dengan keterlambatan motorik.
f. Obesitas
Walaupun obesitas dapat mengakibatkan gangguan perkembangan motorik, tetapi
tidak semua anak obesitas mengalami keterlambatan motorik.
g. Penyakit neuromuskular
Pada anak yang menderita penyakit Duchenne muscular dystrophy sering
terlambat berjalan.
h. Buta
Anak yang buta sering terlambat berjalan, kemungkinan akibat dari tidak
diberikan kesempatan untuk belajar.
2. Kecemasan
Kecemasan pada umumnya merupakan bagian dari perkembangan. Tetapi bila
kecemasan ini berlebihan sehingga mempunyai efek terhadap interaksi sosial dan
perkembangan anak, maka merupakan hal yang patologis yang memerlukan suatu
interverensi. Contoh: fobia sekolah, kecemasan berpisah (separation anxiety
disorder), fobi sosial (childhood-onset social phobia), kecemasan setelah mengalami
trauma (post-traumatic stress disorder)
3. Gangguan suasana hati (mood disorders)
Sering pada anak-anak dan remaja. Gangguan tersebut antara lain adalah major
depression yang ditandai dengan disforia, kehilangan minat, sukar tidur, sukar
konsentrasi, dan nafsu makan yang terganggu. Pada dysthymic disorder, kelainan
disforia lebih intermiten dari major depression, dengan periode suasana hati yang

6
normal dapat berlangsung beberapa hari sampai minggu, kelainan ini lebih kronis.
Bipolar disorder, adalah ditandai dengan suasana hati yang cepat berubah.
4. Gangguan kepribadian yang terpecah (Disruptive behavioural disorders)
Kelainan ini mungkin sebagai akibat dari frustasi dan kemarahan. Contohnya adalah
berbohong, membangkang, temper tantrum, dan agresif.
5. Gangguan perkembangan pervasive dan psikosis pada anak
Gangguan perkembangan pervasive meliputi autism (gangguan komunikasi verbal
dan nonverbal, gangguan perilaku dan interaksi sosial), kelainan Asperger (gangguan
interaksi sosial, perilaku yang terbatas dan diulang-ulang, obsesif), childhood
disintegrative disorder (demensia Heller), dan kelainan Rett ( kelainan x-linked
dominan pada anak perempuan).
6. Disfungsi neurodevelopmental pada anak usia sekolah
Disfungsi susunan saraf pusat sering disertai dengan kemampuan akademik yang
dibawah normal, kelainan perilaku dan masalah dalam interaksi sosial. Kelainan ini
antara lain adalah ADHD (Attention Defisit Hyperactivity Disorder), dan disleksia.

Seperti pada kasus yang diterima, maka masalah perkembangan pada nomor enam di atas
akan dibahas secara lebih lanjut seperti pada di bawah ini.

Beberapa masalah klinis pada perawatan anak sama kompleksnya dan sama
kontroversialnya dengan pertanyaan mengenai perhatian dan aktivitas. Suatu gangguan tersendiri
yang sangat nyata ditandai dengan pendeknya rentang perhatian, impulsivitas, dan overaktivitas,
serta disebut gangguan hiperaktivitas defisit-perhatian, merupakan topik yang dibicarakan
secara terus-menerus. Di samping itu, sekelompok anak yang memiliki kesulitan dalam
mengarahkan perhatian dan aktivitas mereka serta yang karena kesulitan ini mengalami
pencapaian pendidikan rendah serta memiliki frekuensi masalah sosial dan pendidikan yang
lebih tinggi, tidak dapat disangkal tetap ada.4

Definisi dan Epidemiologi


Kisaran tampilan anak yang memiliki masalah perhatian dan aktivitas sangat luas.
Tantangan bagi para dokter adalah untuk membedakan sifat-sifat tingkah laku tersebut yang
mencerminkan variasi perkembangan normal dan karakteristik temperamental dari sifat yang
mengganggu proses belajar dan tingkah laku anak.4

7
Ditaksir secara konservatif bahwa sekitar 3% anak di Amerika Serikat menderita GPPH
sehingga menggangu kinerjanya di Sekolah Dasar. Pada sampel di masyarakat rasio pria dan
wanita ialah 3:1, namun di antara anak yang dibawa berobat ke klinik perbandingan pria dan
wanita mendekati 10:1.5

Tingkah Laku yang Berkaitan dengan Stadium Perkembangan Normal.


Tingkat aktivitas yang tinggi dan pendeknya rentang perhatian adalah ciri khas
perkembangan normal pada bayi dan batita. Selama usia prasekolah, sebagian besar anak terus
memiiki rentang perhatian yang pendek dan tidak mau memusatkan perhatian pada tugas selama
lebih dari sesaat. Kontrol impuls yang signifikan umumnya tidak tercapai hingga sekitar usia 4
tahun. Walaupun normalitas tingkah laku yang berkaitan dengan-stadium ini berlangsung selama
usia prasekolah, anak-anak tersebut tetap dapat menimbulkan perhatian dan kecemasan orang
tua.4

Variasi Tempramen.
Tingkat aktivitas, distraktibilitas, persistensi, dan rentang perhatian adalah manfestasi inti
tempramen anak atau gaya tingah laku anak, serta manifestasi tersebut bervariasi secara luas
dalam ekspresi mereka. Luasnya sifat tersebut yang turut berkontribusi dalam masalah yang
berkaitan dengan sekolah bergantung pada kecocokan dengan lingkungan kelas anak tersebut
(yaitu, tuntutan dan harapan guru serta isi kurikulum). Sebagai contoh, anak yang memiliki
tingkat aktivitas tinggi, distraktibilitas tinggi, ketekunan yang kurang tercatat memiliki orientasi
rendah terhadap tugas di dalam kelas. Suatu kecenderungan kurangnya perhatian dapat
meningkat secara kuat pada anak sulit yang beradaptasi secara lambat terhadap perubahan
sementara kurang perhatian tersebut dapat berkurang pada anak yang mudah beradaptasi secara
cepat terhadap situasi di kelas.4

Gangguan Hiperaktivitas Defisit-Perhatian (ADHD).


Sekelompok masalah yang berkenaan dengan perhatian, konsentrasi, impulsivitas, dan
overaktivitas yang timbul selama awal masa kanak-kanak dan muncul pada berbagai keadaan
menandai suatu sindrom tingkah laku yang disebut gangguan hiperaktivitas defisit-perhatian
(attention-deficit hyperactivity disorder, ADHD). Menurut American Academy Pediatrics,

8
gangguan yang diketahui sebagai gangguan hiperaktivitas defisit-perhatian adalah suatu kondisi
neurologis kronis yang diakibatkan dari adanya gangguan fungsi pada sistem saraf pusat dan
4
tidak berkaitan dengan jenis kelamin, tingkat kecerdasan, atau lingkungan kultural. Contoh-
contoh tingkah laku yang termasuk kriteria diagnostik untuk ADHD, seperti yang diterbitkan di
dalam DSM-IV, tercantum pada Tabel 1.

Tabel 1. CONTOH TINGKAH LAKU INATENSI, HIPERAKTIF, DAN IMPULSIF YANG


TERMASUK DALAM KRITERIA UNTUK DIAGNOSIS GANGGUAN HIPERAKTIVITAS
DEFISIT-PERHATIAN
Tingkah Laku Inatensi
Mudah dikacaukan dengan stimulus dari luar
Membuat kesalahan sembarangan pada tugas sekolah atau aktivitas lain
Memiliki kesulitan mempertahankan perhatian pada tugas atau aktivitas bermain
Tidak terlihat mendengarkan apa yang dibicarakan kepadanya
Gagal menyelesaikan tugas sekolah, tugas rutin rumah, atau kewajiban-kewajiban lain
Kehilangan barang-barang yang diperlukan untuk tugas-tugas atau aktivitas
Memiliki kesulitan mengatur tugas-tugas dan aktivitas-aktivitas
Lupa pada aktivitas harian
Tingkah Laku Hiperaktif/Impulsif
Lari berputar-putar atau memanjat berlebihan pada keadaan yang tidak sesuai
Kegelisahan dengan tangan atau kaku menggeliat-geliat di tempat duduk
Memiliki kesulitan dalam menunggu giliran bermain atau situasi kelompok
Menjawab pertanyaan tanpa dipikir
Berdasarkan pada Diagnostic and Statical Manual of Mental Disorders, 4th ed. Washington,DC:
American Psychiatric Assosiation, 1994
Sumber: Buku Ajar Pediatri Rudolph Vol.1

Etiologi dan Patogenesis


Bagi sebagian besar anak yang menderita ADHD, tidak ada penyebab yang ditemukan.
Beberapa penemuan mendapati adanya tanda neurologik ringan di antara anak ADHD yang
disebutkan menunjukkan keterlambatan maturasi SSP. Kemudian adanya faktor genetik;
peningkatan prevalensi alkoholisme, sosiopati, dan hysteria di antara orangtua anak yang

9
menderita ADHD menunjukkan adanya peran serta yang potensial, baik dari lingkungan dan
genetik. Beberapa data menunjukkan hubungan di antara ADHD dan disfungi neurotransmiter
katekolamin dopamine serta norepinefrin, tetapi diperlukan penelitian lebih lanjut untuk
membuktikan keterkaitan ini. 4
Pajanan prenatal dan masa kanak-kanak terhadap berbagai toksin juga berkaitan dengan
defisit perhatian. Selain itu, dicatat juga adanya masalah aktivitas dan perhatian sekunder akibat
pajanan alkohol sewaktu janin keracunan timbal. Pengaruh makanan tambahan buatan, gula, dan
salisilat yang terjadi secara alami masih kontroversial, dan studi kontrol umumnya gagal
membuktikan tuntutan semacam ini. 4
Defisit perhatian tidak memiliki penyebab tunggal, spesifik. Sebaliknya, defisit perhatian
merupakan konsekuensi transaksi multidimensional di antara sifat-sifat intrinsik anak tersebut
dan faktor lingkungan, misalnya polikausalitas menunggu adanya penyelidikan multivariasi
yang mempelajari variabel genetik, neurologik, dan lingkungan secara simultan.4

Manifestasi Klinis
Anak dengan GPPH tidak mampu memusatkan perhatiannya selama jangka waktu yang
cukup lama, misalnya beberapa menit. Ia tidak dapat bekonsentrasi selama lebih dari beberapa
menit. Perhatiannya mudah teralihkan. Rentang waktu pemusatan perhatian yang sangat
singkat, kemampuan menyimak yang rendah merupakan gejala-kunci dari GPPH.
Penderita GPPH tidak memperhatikan hal yang rinci (detail), ia membuat kesalahan karena tidak
hati-hati dengan pekerjaan sekolah atau tugas lain. Pekerjaannya sering berantakan dan
dilakukan secara sembrono tanpa dipikir dengan baik. Penderita sering mengalami kesulitan
mempertahankan perhatian pada tugas atau pada kegiatan bermain dan merasa sulit untuk
bertahan dengan tugasnya sampai selesai. Sering ia berpindah dari kegiatan yang satu ke
kegiatan yang lain sebelum selesai. Tugas yang membutuhkan perhatian mental yang terus-
menerus dirasakan tidak menyenangkan. Penderita GPPH mudah teralih perhatiannya oleh
stimulus yang tidak relevan dan sering terputus tugas yang sedang dilakukan untuk
memperhatikan hal yang sepele, yang oleh orang normal dengan mudah dapat diabaikan,
misalnya bunyi tuter mobil di jalanan atau bicara orang lain di sekitarnya. 5

10
Anak seperti ini bertindak secara cepat dan tanpa mempertibangkan konsekuensi tindakan
mereka. Kurangnya perencanaan merupakan bukti karena melakukan kesalahan yang sembrono
dan pekerjaan menulis yang berantakan. 4 Hal demikian dinamakan impulsivitas.
Pada kelelahan motorik dan hiperaktivitas, anamnesis dini sering menggambarkan
seorang anak yang tempat tidurnya membentuk lubang, tidak pernah berjalan tetapi berlari, dan
memanjat jeruji tempat tidur walaupun telah diperingati. Manifestasi pada anak usia-prasekolah
dapat meliputi kegelisahan, menggeliat, dan kelelahan. Ada atau tidaknya tingkah laku hiperaktif
dan impulsive membedakan subgrup yang spesifik pada anak dengan ADHD.4
Tingkah laku yang tidak diinginkan secara sosial, seperti ledakan emosi, berkelahi, dan
kegembiraan yang berlebihan dapat merupakan akibat ketidakmampuan untuk menghadapi tugas
yang diharapkan dan toleransi frustasi yang rendah.4

Diagnosis
Hal yang penting dilakukan dalam menegakkan diagnosis ialah:5
a. Mencatat dengan baik gejala serta perjalanannya, dan pada keadaan bagaimana dan
dimana gejala terutama menonjol.
1. Perhatian mudah teralihkan, rentang perhatian yang singkat, hiperatif, impulsive.
2. Gangguannya telah berlangsung lebih lama dari 6 bulan.
3. Tidak disertai gangguan psikosis
4. Gejala sudah ada (walaupun tidak semua) sebelum berusia 7 tahun.
b. Evaluasi pediatrik dan neurologik
c. Menguji koordinasi motorik halus dan rentang perhatian dengan memberikan beberapa
tugas.
d. Memeriksakan keadaan intelegensi (IQ)
e. Meminta laporan dari sekolah, bila mungkin menyaksikan sendiri keadaan anak di dalam
kelas sekolah.

Pemeriksaan Fisik
Observasi umum dapat menunjukkan adanya gangguan mood, kesedihan, atau ansietas.
Tic dapat menunjukkan adanya sindrom Tourette. Observasi langsung pada rentang perhatian dan
tingkat aktivitas harus diinterpretasikan secara hati-hati karena tingkah laku anak di tempat
periksa dapat sangat berbeda dari tingkah lakunya sewaktu di ruang kelas atau di rumah.
Gambaran fenotipik dapat menunjukkan sindrom spesifik yang diketahui berkaitan dengan

11
defisit perhatian (misalnya, efek alkohol pada janin), tetapi signifikansi yang disebut kelainan
kongenital minor masih tidak jelas. Beberapa penelitian menunjukkan adanya peningkatan
jumlah gambaran atipikal, misalnya rambut elektrik, lipatan epikantus, letak telinga yang
rendah, arkus palatum yang tinggi, klinodaktili, dan peningkatan jarak antara jari kaki pertama
dan kedua pada anak yang mengalami ADHD. Namun, sebagian besar anak yang mengalami
ADHD tidak menunjukkan tanda-tanda tersebut. Pemeriksaan fisik harus meliputi penglihatan
dan skrining pendengaran karena defisit sensorik dapat mengakibatkan kurangnaya perhatian dan
overaktivitas.4
Peran pemeriksaan neurologik yang luas adalah kontroversial. Peningkatan insiden
tanda neurologik ringan ditemukan pada beberapa anak laki-laki, tetapi tidak pada anak
perempuan, yang mengalami defisit perhatian. Contoh-contoh meliputi postur diastonik pada
ekstremitas atas disertai berjalan di atas tumit, gerakan cermin yang nyata pada tangan yang
berlawanan disertai dengan oposisi cepat pada ibu jari dan jari telunjuk, serta gerakan lidah yang
menjulur ketika anak tersebut disuruh menulis namanya.4

Pemeriksaan Penunjang.4
Uji tapis terhadap timbal sebaiknya dipertimbangkan pada semua anak dan secara pasti
diindikasikan pada anak yang memiliki risiko pada riwayat lampau, lingkungan tempat tinggal,
pika, atau pajanan pekerjaan orang tua. Uji tapis untuk anemia defisiensi besi sebaiknya
dilakukan bagi anak yang berisiko karena riwayat nutrisi atau status sosioekonomi. Prevalensi
kelainan tiroid dilaporkan lebih tinggi pada anak yang mengalami ADHD daripada populasi
normal sehingga sebaiknya dilakukan tes fungsi tiroid. Pemeriksaan neurologik rutin (misalnya,
pemindaian CT, pencitraan resonansi magnetik) atau pemeriksaan neuropsikologik (misalnya,
EEG, neurometrik, dan pemetaan aktivitas listrik otak) tidak berperan pada anak yang
mengalami defisit perhatian.
Pada pandangan sampling tingkah laku pada berbagai keadaan (yaitu, sekolah dan rumah)
serta ketidakpraktisan observasi langsung di luar jam kerja, kuesioner guru dan orang tua
bermanfaat sebagai tambahan pada riwayat lengkap.
Selain itu terdapat berbagai tes untuk mengukur kemampuan anak dalam
mempertahankan perhatian. Tes kewaspadaan (misalnya, Childrens Checking Task) menilai
kapasitas anak untuk mempertahankan konsentrasi pada waktu tertentu sementara menjalankan

12
tugas yang monoton. Impulsivitas dapat diukur dengan alat, seperti Matching Familiar Figures
Test. Alat-alat computer (misalnya, sistem Diagnostik Gordon) meliputi penundaan tugas pada
anak untuk menghambat respons pencapaian titik tertentu, tugas kewaspadaan, misalnya
Continuous Performance Task, dan tugas yang dapat dialihkan, misalnya Continuous
Performance Task dengan pengganggu visual.

Penanganan dan Pengobatan


Penanganan tingkah laku dengan metode modifikasi tingkah laku yang digunakan dengan
kesuksesan yang bervariasi adalah: (a) penguatan yang positif, dengan menggunakan pujian atau
penghargaan yang nyata, misalnya hadiah; (b) strategi penghukuman, misalnya dikeluarkan atau
isolasi sosial, teguran dengan kata-kata, dan isyarat nonverbal; dan (c) teknik pemusnahan,
misalnya pengabaian sistemik tingkah laku yang tidak diinginkan. Komunikasi yang dekat di
antara guru dan orang tua penting untuk memastikan konsistensi di antara penanganan di sekolah
dan di rumah. Kelas yang terstruktur dan terorganisir dengan sangat baik yang memberikan
instruksi secara tegas dan konsisten serta merespon anak dengan baik, jelas sangat diinginkan.
Contoh-contoh strategi kelas tambahan adalah tempat duduk yang disukai di tempat yang sedikit
gangguan, menggunakan daftar dan buku harian meja, serta modifikasi kelas rutin dilakukan
untuk memungkinkan anak tersebut mengubah aktivitas dan bergerak secara periodik.4
Pelayanan pendidikan khusus dan tutor sebaiknya ditujukakan untuk penundaan
akademik serta ketiketidakmampuan belajar spesifik, jika ada. Program pendidikan sebaiknya
dirancang untuk menciptakan kesempatan bagi anak tersebut untuk mengalami keberhasilan dan
meningkatkan harga-diri.4
Sementara untuk terapi dengan obat, obat stimulans yang banyak digunakan ialah
metilfenidat dan amfetamin. Bila efektif, obat stimulans bukan saja memperbaiki hiperaktivitas
klinis, tetapi juga performans dalam banyak hal. 5
Dekstroamfetamin
Biasanya dimulai dengan dosis 3x2,5 mg sehari. Tiap dosis efektif selama 4 jam. Efek
samping yang tidak menguntungkan telah timbul selama 3 hari pemakaian, dalam hal sedemikian
dosis dapat diturunkan. Bila belum ada perubahan, dosis dapat ditingkatkan sebanyak 2,5 mg tiap
3 hari sampai didapatkan hasil yang optimal. Rentang dosis terapeutik berkisar dari 10-40 mg,
rata-rata 15-20 mg sehari. Karena masa paruh yang singkat obat dibagi dalam beberapa dosis.

13
Obat dapat dicoba dihentikan setelah 6-12 bulan, melihat apakah gejala muncul lagi dan obat
masih dibutuhkan.5
Metilfenidat
Saat ini metilfenidat dianggap sebagai obat pilihan. Efek samping berupa anoreksia
kurang dibanding dengan dekstroamfetamin. Dosis awal per oral dapat 0,25 mg/kg/hari. Pada
kebanyakan anak dapat dimulai dengan 5 mg satu atau dua kali sehari. Dosis harian dapat
ditingkatkan dengan 5 mg per minggu sampai gejala berkurang secara optimal. Dosis obat ini
jangan melampaui 50 mg/hari, atau 1-2 mg/kg/hari. Libur obat dapat dicobakan tiap 6 bulan atau
semasa liburan sekolah, untuk melihat apakah gejala masih kambuh. Pada usia 12 tahun perlu
dipertimbangkan apakah obat sudah dapat dihentikan seterusnya.5
Pemolin-magnesium
Obat ini biasanya dicadangkan untuk anak yang tidak berespons atau sangat sensitive
terhadap obat metilfenidat atau dekstroamfetamin. Obat pemolin kurang efektif dibanding
metilfenidat dan dekstroamfetamin. Dosis awal ialah 1,0-2,5 mg/kg/hari. Obat membutuhkan
waktu 2-6 minggu agar mulai terlihat aksinya dan jangan obat ini digunakan pada anak di bawah
usia 6 bulan.5
Dekstroamfetamin dikontraindikasikan pada penderita hipertensi sedang dan berat,
metilfenidat harus diberikan dengan hati-hati pada penderita hipertensi. Pemolin
dikontraindikasikan pada gangguan hati. 5

Prognosis
Studi longitudinal menunjukkanbahwa sebagian besar inividu yang menderita ADHD
sehat-shat saja pada masa dewasa, dipekerjakan, dan tidak cenderung memiliki tingkah laku
psikopatologi berat atau tingkah laku antisosial. Namun, menetapnya beberapa kesulitan disertai
penyesuaian sosial ditunjukkan dengan jumlah gerakan yang lebih banyak, kecelakaan mobil
yang lebih banyak, lengkapnya pendidikan selama beberapa tahun, dan risiko tinggi
penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan dibandingkan dengan subjek kontrol tidak memiliki
riwayat masalah perhatian.4

14
Faktor prognostik yang baik untuk individu yang menderita ADHD adalah tingkat
kecerdasan atau status sosioekonomi yang lebih tinggi. Buruknya akibat jangka lama berkaitan
dengan agresi dini dan masalah-masalah konduksi, psikopatologi orang tua, pencapaian
akademik yang buruk, ketidakstabilan emosional, dan buruknya hubungan sosial. Penelitian telah
menunjukkan bahwa pendekatan pengobatan spesifik memengaruhi prognosis. Hasil yang paling
menjanjikan dilaporkan terjadi pada terapi multimodalitas yang mengombinasikan penanganan
tingkah laku, penggunaan obat-obatan yang sesuai, dan psikoterapi.4

Seperti yang telah dijelaskan pada beberapa masalah perkembangan anak di atas, berikut
adalah penyakit yang dapai dikaitkan sebagai diagnosis banding terhadap penyakit ADHD.

Autistic Disorder
Semua criteria untuk AD dan PDDs lain berbasis pada perkiraan usia mental anak. Satu
perbedaan yang menarik antara AD dengan gangguan bahasa ekspresif adalah relative tidak
adanya keinginan atau dorongan berkomunikasi pada AD. Anak dengan AD sering
memperlihatkan sikap tidak tertarik yang nyata untuk mempergunakan bahasa bahkan pada saat
bahasa tersebut tersedia bagi mereka. Pada anak ini bisa terjadi banyak insiden infeksi telinga
yang tidak diketahui dan mungkin memerlukan pemantauan klinis yang lebih ketat untuk infeksi
seperti ini, karena sering tidak memperlihatkan tanda dan gejala yang tipikal.6
Aspergers Syndrome
Beberapa anak mengalami gangguan kualitatif dalam perkembangan interaksi sosial
timbal balik dan komunikasi verbal serta nonverbal namun tidak memiliki jumlah gejala-gejala
diperlukan untuk diagnosis autisme.7
Sindrome Asperger memiliki ciri yang sama dengan Autistic Disorder, gangguan dalam
interaksi sosial yang berat dan pervasif, dan juga pembatasan, pengulangan, dan perilaku
stereotype. Namun, gangguan ini muncul tanpa adanya keterlambatan pada keterampilan
berbahasa secara umum dan tanpa keterlambatan pada perkembangan kognitif yang berat.6
Skizofrenia
Skizofrenia merupakan bentuk psikosis fungsional paling berat, dan menimbulkan
disorganisasi personalitas yang terbesar. Dalam kasus berat, pasien tidak mempunyai kontak
dengan realitas, sehingga pemikiran dan perilakunya abnormal.8

15
Data yang tersedia member kesan bahwa pada anak yang menderita skizofrenia
menunjukkan berbagai ciri pramorbid, seperti masalah dengan atensi, inhibisi, putus zat, dan
sensitivitas.9
Halusinasi merupakan gejala yang paling sering dilaporkan.Halusinasi auditorik dengan
isi kejaran (misalnya, suara yang mengomentari anak tersebut) merupakan halusinasi yang paling
lazim, sedangkan halusinasi somatic dan visual lebih jarang. Halusinasi dan waham yang khas,
rumit atau kurang rinci pada anak yang berusia lebih muda. Gangguan pikir formal sulit untuk
dikaji walaupun instrumen untuk menilai sudah tersedia.9

Kesimpulan
GPPH merupakan penyakit yang turut mengganggu perkembangan anak. Pada anak yang
menderita GPPH akan mengalami inatentif, impulsif, dan hiperaktif. Skenario yang diterima
terkait seorang anak berperilaku selalu membuat onar, tidak bisa diam, mengganggu teman
sekitarnya, dan tidak bisa fokus sesuai dengan tanda-tanda pada anak yang menderita GPPH.
Penatalaksanaan dengan terapi obat menggunakan metilfenidat. Penggunaan obat, penanganan
tingkah laku dan psikoterapi akan membantu prognosis yang baik.

Daftar Pustaka
1. Narendra M.B, Sularyo T.S, Soetjiningsih, Suyitno H, Ranuh I.N.G, Wiradisuria S. Buku
ajar I tumbuh kembang anak dan remaja. Edisi I. Jakarta: Sagung Seto. 2008. h.7-11
2. Narendra M.B, Sularyo T.S, Soetjiningsih, Suyitno H, Ranuh I.N.G, Wiradisuria S. Buku
ajar I tumbuh kembang anak dan remaja. Edisi I. Jakarta: Sagung Seto. 2008. h.86
3. Narendra M.B, Sularyo T.S, Soetjiningsih, Suyitno H, Ranuh I.N.G, Wiradisuria S. Buku
ajar I tumbuh kembang anak dan remaja. Edisi I. Jakarta: Sagung Seto. 2008. h.90-2
4. Rudolph A.M, Hoffman J.I.E, Rudolph C.D. Buku ajar pediatri Rudolph. Edisi 20.
Volume I. Jakarta: EGC. 2006. h. 129
5. Lumbantobing S.M. Anak dengan mental terbelakang. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2006. h. 74
6. Rudolph A.M, Hoffman J.I.E, Rudolph C.D. Buku ajar pediatri Rudolph. Edisi 20.
Volume I. Jakarta: EGC. 2006. h. 194
7. Behrman, Kliegman, Arvin. Ilmu kesehatan anak. Edisi 15. Volume 1. Jakarta:EGC.
2000. h. 121

16
8. Ingram I.M, Timbury G.C, Mowbray R.M. Catatan kuliah psikatri. Edisi 6. Jakarta:
EGC. 1995. h. 51
9. Rudolph A.M, Hoffman J.I.E, Rudolph C.D. Buku ajar pediatri Rudolph. Edisi 20.
Volume I. Jakarta: EGC. 2006. h. 205

17