Anda di halaman 1dari 3

STUDY PROTOKOL

Malam sebelum operasi, pasien menjalani persiapan standar mekanik usus


dengan larutan elektrolit. Antibiotik intralumen tidak digunakan, tetapi pasien di
dua grup tersebut diberi terapi antibiotic profilaksis dengan mean (SD) 2,72,3
hari setelah insisi kulit. Kebanyakan pasien diberi metronidazol yang dikombinasi
dengan cefazolin, cefamandole, amoxicillin clavulanat, atau mezlocilin.
Anestesi di lakukan dengan thiopental sodium (3-5 mg per KgBB), fentanyl (1-
3 mikrogram per kilogram), dan vecuronium bromide (0,1 mg per kilogram)
diberikan secara intravena. Kemudian di lanjutkan dengan isoflurane, dosis yang
digunakan disesuaikan untuk menjaga MAP dalam 20% dari nilai sebelum di induksi.
Tambahan fentanyl diberikan ketika operasi selesai untuk meningkatkan efek
analgesic ketika pasien darurat dari anestesi.
Setelah di induksi anestesi dan dipasang intubasi endotrakea, masing-masing
pasien dibagi menjadi dua kelompok menggunakan computer secara acak.
Pengelompokan berdasarkan rumah sakit yang ikut berpartisipasi, berurutan nomor
amplop sampai digunakan. Grup pertama pasien menerima 30% oksigen dan 70%
nitrogen, grup selanjutnya menerima 80% oksigen dan 20% nitrogen.
Pemberian gas intraoperasi pada konsentrasi yang sudah ditentukan
dilanjutkan sampai sebelum ekstubasi, saat oksigen meningkat menjadi 100
persen selama ekstubasi. Kemudian konsentrasi gas dikembalikan ke tingkat
sebelumnya sesegera mungkin setelah dianggap aman oleh ahli anastesi.
Selama dua jam pertama pemulihan, oksigen pada konsentrasi tertentu
diberikan melalui masker nonrebreathing yang di pasangkan ke wajah pasien
dan tersambung ke sumber oksigen. Pasien pada kedua kelompok perlakuan
bernafas dengan udara sekitar kecuali diperlukan oksigen tambahan untuk
mempertahankan saturasi oksihemoglobin lebih dari 92 persen.
Para ahli anastesi yang merawat pasien menyadari tugas mereka.
Namun, diletakkan papan penghalang antara flowmeter dan relevant monitor
untuk mencegah tim bedah menentukan fraksi oksigen inspirasi. Dua jam
setelah pasien pulih dari anastesi, catatan pemberian anastesi dan hasil
analisa gas darah disegel sehingga ahli bedah dan peneliti yang
mengevaluasi luka pasca operasi tidak akan menyadari perlakuan penelitian
pasien. Pasien tidak diberitahu tentang perlakuan penelitian.
Para pasien dengan overhidrasi selama dan setelah operasi karena
hypovolemia menurunkan perfusi pada luka dan meningkatkan kejadian
infeksi. Sebuah larutan kristaloid diberikan secara intravena 15ml per kg per
jam selama operasi. Darah yang hilang diganti dengan larutan kristaloid
dengan perbandingan solusi:darah 4:1 atau larutan koloid dengan
perbandingan 2:1. Cairan diberikan 3.5 ml per kg per jam pada 24 jam
pertama setelah operasi dan 2ml per kg per jam untuk 24 selanjutnya.
Sediaan darah tanpa leukosit diberikan bila dianggap perlu oleh ahli bedah
yang hadir.
Tidak diberikan antibiotic atau irigasi antiseptic pada luka atau kavum
peritoneum. Teknik untuk penutupan luka yang dilakukan adalah: semua
lapisan dalam pada luka termasuk peritoneum, ditutup dengan jahitan
kontinu. Jaringan subkutan ditutup dengan jahitan 1-1 dan kulitnya di jepit
menggunakan surgical staple.
Suhu saat operasi dipertahankan pada 36 derajat celcius dengan
menggunakan forced air cover diatas pasien dan menghangatkan cairan
intravena. Nyeri pascaoperasi diobati dengan opioid intravena dan
intramuscular oleh perawat yang tidak menyadari perlakuan penelitian. Ahli
bedah yang tidak menyadari perlakuan penelitian pasien menentukan kapan
mulai makan, kapan melepas staples, dan kapan memulangkan pasien dari
rumah sakit. Waktu pemulangan pasien berdasarkan pada pertimbangan
bedah rutin, termasuk kembalinya fungsi pencernaan, control setiap infeksi
dan penyembuhan dari sayatan operasi.

EVALUASI
Karakteristik klinis yang relevan dari pasien dalam setiap kelompok
dicatat. Nilai laboratorium pre operasi dan faktor-faktor yang mungkin
mempengaruhi penyembuhan luka atau resistensi terhadap infeksi dicatat.
Termasuk riwayat merokok, konsentrasi hemoglobin pre operasi dan setiap
penyakit sistemik dan terapi obat.
Kami menggunakan dua skala untuk mengevaluasi resiko dari infeksi.
The scoring
system of the Study on the Efficacy of Nosocomial Infection Control (SENIC)
oleh pusat penanggulangan dan pengontrolan penyakit memberikan satu
poin untuk setiap factor factor berikut: 3 atau lebih diagnosis yang
mendasari, operasi selama 2 jam atau lebih, operasi bagian perut, dan
adanya luka infeksi atau yang terkontaminasi. Kami sedikit memodifikasi
system dari bentuk aslinya dengan menggunakan jumlah diagnosis saat
masuk bukan dari saat keluar. The National Nosocomial Infection Surveillance
System (NNISS) memprediksi resiko dasar dari jenis operasi, peringkat status
fisik dalam skala yang dikembangkan oleh American Society of
Anesthesiologists ( dimana skor 1 preoperasi mengindikasikan bahwa pasien
sehat dan skor 5 preoperasi mengindikasikan pasien sakit kritis), dan durasi
operasi. Untuk kedua skala, skor yang lebih tinggi mengindikasikan resiko
infeksi yang lebih besar. Skor ditentukan sebelum operasi dan diacak.
Suhu saat operasi diukur di esophagus distal. Suhu inframerah aural-
canal atau suhu aksila dicatat setiap hari selama dirawat inap. Catatan rinci
dari anastesi dan manajemen cairan (termasuk urin) di simpan. Konsentrasi
oksigen inspirasi dan end-tidal isoflurane dan karbon dioksioda diukur
selama anastesi. Saturasi oksigen diukur dengan pulse oximetry selama
anastesi dan pemulihan. Darah arteri diperoleh satu jam setelah induksi
anastesi dan 2 jam setelah pemulihan dari anastesi untuk pengukuran
tekanan parsial oksigen.
Luka bedah dievaluasi setiap hari oleh dokter yang bukan dari anggota
tim bedah dan yang tidak menyadari perlakuan penelitian. Pasien kemudian
dievaluasi oleh peneliti yang sama di klinik 2 minggu setelah operasi. Kami
menentukan status infeksi pasien yang tidak kembali ke klinik dengan
memanggil dokter mereka.
Luka yang dianggap terinfeksi ketika terdapat nanah (pus) bisa di lihat
dari sayatan atau di aspirasi dari massa lokulasi di dalam luka. Pus dikultur
dan luka dianggap terinfeksi ketika kultur dari pus terdapat bakteri. Hanya
infeksi yang di diagnosis dalam waktu 15 hari setelah operasi yang
dimasukkan dalam analisis kami.
Penyembuhan dan infeksi luka diberi skor dengan sistem ASEPSIS. Skor
berasal dari berat jumlah poin untuk factor factor berikut: durasi administrasi
antibiotic, drainase nanah selama anastesi local, debris luka selama anastesi
umum, debit serosa, eritema, eksudat purulent, pemisahan jaringan dalam,
isolasi bakteri dari debit, dan rawat inap selama lebih dari 14 hari. Skor yang
lebih tinggi mengindikasikan penyembuhan yang jelek dan kemungkinan
infeksi lebih besar. Sebagai indicator tambahan infeksi klinis, perbedaan
jumlah sel darah putih ditentukan sebelum operasi dan pada hari ke 1,3,6
dan 9 setelah operasi.
Dalam subkelompok dari 54 pasien di salah satu pusat (32 diantaranya
diberikan 30 persen oksigen dan 22 diantaranya diberikan 80 persen
oksigen), kami mengevaluasi kolagen dan protein deposisi pada luka.
Menjelang akhir operasi, implan polytetrafluoroethylene dengan
panjang 7 cm dimasukkan ke dalam jaringan subkutan beberapa sentimeter
ke satu sisi dan sejajar dengan sayatan bedah. Pada hari ketujuh setelah
operasi, implant di pindahkan dan diuji hidroksiprolin dan protein. Di
subkelompok yang sama, kami mengukur tekanan oksigen subkutan
menggunakan sensor oksigen dalam jaringan diposisikan dalam subkutan,
saline-filled tonometer dimasukkan ke dalam lengan atas lateral. Pengukuran
dimulai sesegera mungkin setelah induksi anastesi dan dilanjutkan dengan
pemberian oksigen selama 2 jam pasca operasi.
Dalam subkelompok 24 pasien (12 per kelompok) di salah satu pusat,
kami mengukur tekanan oksigen di otot selama operasi. Elektroda oksigen
dimasukkan ke dalam quadriceps femoris menggunakan jarum diameter 0.35
mm dan didorong ke dalam otot sedalam 1mm dalam satu waktu. Setiap 200
titik pengukuran, dicatat tekanan oksigen jaringan. Dari nilai nilai tersebut,
histogram tekanan oksigen jaringan di buat untuk setiap pasien. Tekanan
oksigen otot dievaluasi 90 menit setelah induksi anastesi pada fraksi oksigen
inspirasi yang ditunjuk