Anda di halaman 1dari 16

Budaya Pembuatan Jalur

Di Kuantan Singingi

Dibuat untuk tugas Budaya Melayu

Disusun Oleh:
ANANTA MIA SARASWATI
MUTIA NOVITA SARI
Kelas XII IPA 3

SMA NEGERI 4 PEKANBARU


TAHUN PELAJARAN 2011/2012

KATA MUTIARA
Sesungguhnya manusia itu dijadikan bertabiat resah gelisah(bakhil lagi
kedekut). Apabila ia ditimpa kesusahan, ia sangat gelisah dan apabila beroleh
kesenangan ia menjadi bakhil

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang
diiringi dengan perkataan yang menyakitkan

Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada bentuk kalian.
Allah hanya melihat kepada hati dan perbuatan kalian
KATA PENGANTAR

Puji syukur marilah kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena
atashidayah dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul proses pembuatan jalur .Pada kesempatan ini penulis mengucapkan
terima kasih pada semua pihak yang ikut membantu dalam menyelesaikan
makalah ini , diantaranya :

1. Bapak guru pembimbing,yang berkenan memberi petunjuk dalam


teknik penyusunan dan dan memberikan arahan pada makalah ini .
2. Shofiatul Husni Latifah, yang telah bersedia memberikan informasi
tentang pembuatan jalur.
3. Deswiati,yang telah bersedia memberikan informasi tentang
pembuatan jalur.
4. Raja Rusli Ratih , yang telah bersedia memberikan informasi
tentang pembuatan jalur.
5. Aminul Iqbal yang telah bersedia memberikan bahan makalah
kepada penulis.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari


kesempurnaan,baik dari tata cara maupun penulisan.Penggunaan tata bahasa
maupun dari segi penguasaan materi atau permasalahan yang diperlukan dalam
laporan ini . Oleh sebab itu,penulis dengan senang hati menerima dan
mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini.Akhirnya
,penulis berharap semoga makalah ini dpaat dipergunakan dengan sebaik-
baiknya.

Pekanbaru, November 2012


Penulis

ABSTRAK

Makalah tentang proses pembuatan jalur dilakukan di Kuantan Singingi.


Tujuan makalah ini adalah mengetahui tahap-tahap serta proses pembuatan
jalur, mengetahui bagaimana rapat banjar pada saat sebelum membuat jalur
dan mengetahui bagaimana dan apakah kayu yang akan digunakan dalam
membuat jalur. Penulisan tentang proses pembuatan jalur ini dari buku dan
wawancara dari masyarakat sekitar. Ada beberapa tahap proses pembuatan
jalur, yaitu : Rapat banjar, yaitu musyawarah yang dilakukan oleh penduduk
desa beserta pemuka desa untuk membentuk panitia serta menentukan langkah
awal dalam pembuatan jalur . Pemilihan dan mencari kayu,dalam tahap ini yang
sangat berperan adalah sang dukun,karena dalam pemilihan kayu tidaklah
sembarangan dan hanya dukunlah yang dapat mencari kayu tersebut. Menobang
, yaitu menebang kayu yang telah ditentukan oleh dukun. Tukang jalur,yaitu
tahap menentukan siapa saja yang akan membuat jalur. Membuat jalur,setelah
tukang telah ditentukan ,maka di buatlah jalur yang di awasi oleh sang dukun.
Maelo jalur,yaitu penarikan jalur yang sudah hampir selesai dari hutan menuju
desa.
DAFTAR ISI

Kata
Pengantar ...............................................................................................................
.........................i

Abstrak
...ii

Daftar
isi ............................................................................................................................
....................iii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1Latar
Belakang.............................................................................................................
.....................1
1.2Perumusan
Masalah .............................................................................................................
...........1
1.3Tujuan
Penulisan ...........................................................................................................
..................1
1.4Metode
Penulisan............................................................................................................
...............2
1.5Kegunaan
Makalah..............................................................................................................
.............2

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Tahap-tahap dalam pembuatan


jalur ............................................................................................3
2.2 Rapat
Banjar .....................................................................................................................
.............3

2.3 Kayu
Jalur ........................................................................................................................
..............3

2.4
Menobang ...............................................................................................................
......................4

2.5 Tukang
Jalur ............................................................................................................. ...........
...........4

2.6 Cara Membuat


Jalur ......................................................................................................................5

2.7 Maelo
Jalur .......................................................................................................... ..............
............5

BAB 3 PENUTUP

3.1
Kesimpulan .............................................................................................................
.......................6

3.2
Saran.......................................................................................................................
.......................6

3.3Hambatan ..........................................................................................................
.............................6

3.4 Sumber
informasi..................................................................................................................
.........6

3.5 Batasan
Istilah.............................................................................................................. .........
.........7

Daftar
Pustaka ...................................................................................................................
..................8

ii
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia , Budaya adalah pikiran akal budi .
(dwi2001:90). Jalur sebagai salah satu hasil budaya melayu , dikenal baik dalam
masyarakat Rantau Kuantan,dalam waktu yang sudah cukup lama .Daerah yang
disebut Rantau Kuantan adalah di sepanjang sungai
batang(sungai)Kuantan,sekarang ini. Kehulu kira-kira sampai ke lubuk Jambi (ibu
kota kecamatan Kuantan mudik) ke Hilir sampai ke Cerenti(ibu kota Cerenti).
Rantau Kuantan itu meliputi empat Kecamatan antara lain : Kecamatan Kuantan
Mudik,Kecamatan Kuantan Tengah,Kecamatan Kuantan Hilir,dan Kecamatan
Kuantan Cerenti . Semuanya termasuk Kabupaten Kuantan singingi,Propinsi
Riau .

Sejak kapan penduduk Rantau Kuantan yang tinggal sepanjang Batang


Kuantan mengenal jalur dan membuatnya , tidak dapat ditunjukkan pada satu
tahun yang pasti . Tapi dapat dipastikan pacu jalur di kenal di seluruh penduduk
daerah ini paling kurang semenjak tahun 1990.Dalam tahun 1990 itu yang di
pacu penduduk kebanyakan perahu-perahu besar yang biasa di pakai untuk
mengangkut hasil bumi,misalnya tebu,pisang dan lain-lain .

Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa,pacu jalur upacara


memperingati hari kemerdekaan itu,merupakan hari yang terbesar bagi
masyarakat Kuantan.Dalam setiap perayaan itu berpacu 20-30 jalur,bahkan
hampir 40 jalur yang diikut pacu dalam ulan tahun kemerdekaan kita tahun
1958,1959,1960 . Taluk Kuantan dan Basrah yaitu dua kota kecamatan yang
selalu mengadakan pacu jalur disetiap hari kemerdekaan,tidaklah akan ramai
dan meriah tanpa ada pacu jalur bagi mereka.

Tidak seperti budaya lainnya pacu jalur ini sangat berpengaruh


padamasyarakat Kuantan Singingi.Jika berlangsung puluhan ribu masyarakat
Kuantan Singingi secara berbondong-bondong akan pergi
menyaksikannya.Kegiatan ini juga menghasilkan pendapatan daerah dan
meningkat pertumbuhan ekonomi kabupaten Kuantan Singingi.Karena kegiatan
ekonomi akan maju pesat selama acara paju jalur berlangsung.

Kesadaran generasi muda untuk melestarikan kebudayaan daerah sudah


semakin berkurang.Tapi untuk budaya pacu jalur,partisipasi generasi muda tidak
berkurang,justru sebaliknya.Contohnya terlihat pada peserta pacu jalur
umumnya anak muda.Semoga melalui makalah ini para pembaca ikut
melestarikan budaya ini.

1.2 Perumusan Masalah


Rumusan masalah yang akan ditulis dalam makalah ini adalah :
a. Apa-apa saja tahap dalam pembuatan jalur ?
b. Bagaimana rapat banjar sebelum membuat jalur ?
c. Bagaimana dan apakah kayu yang akan digunakan dalam pembuatan jalur
?
d. Bagaimana cara menebang pohon yang akn digunakan dalam pembuatan
jalur?
e. Bagaimana tukang pembuat jalurnya?
f. Bagaimana cara membuat jalur ?
g. Bagaimana dan apakah maelo jalur itu ?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
a. Mengetahui tahap-tahap serta proses pembuatan jalur.
b. Mengetahui bagaimana rapat banjar pada saat sebelum membuat jalur.
c. Mengetahui bagaimana dan apakah kayu yang akan digunakan dalam
membuat jalur.
1

d. Mengetahui bagaimana cara menebang pohonyang akan digunakan


dalam pebuatan pacu jalur .
e. Mengetahuin bagaimana tukang pembuat jalurnya.
f. Mengetahui bagaimana cara membuat jalur.
g. Mengetahui bagaimana dan apakah maelo jalur itu .

1.4 Metode Penulisan.


Makalah ini mengunakan dua metode,yaitu :
a. Dengan metode pustaka.
b. Dengan metode wawancara.

1.5 Kegunaan Makalah


Kegunaan makalah ini antara lain sebagai berikut :
a. Menambah wawasan tentang budaya di Riau,yaitu proses pembuatan
jalur.
b. Memberikan informasi kepada pembaca tentang tahap-tahap
pembuatan jalur .
c. Memberikan informasi bagaimana rapat banjar saat sebelum membuat
jalur.
d. Memberikan informasi bagaimana dan apakah kayu yang akan
digunakan dalam pembuatan jalur.
e. Memberikan informasi bagaimana cara menebang pohon yang akan
digunakan dalam pembuatan jalur .
f. Memberikan informasi bagaimana tukang membuat jalur.
g. Memberi informasi bagaimana dan apakah maelo jalur itu.
2

BAB 2 PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan membahas dan memberikan informasi tentang
pembuatan jalur.

2.1 Tahap-tahap dalam pembuatan jalur.

Adapun tahap-tahap dalam pembuatan jalur:

a. Rapat banjar (musyawarah).


b. Pemilihan dan mecari kayu jalur.
c. Manobang(menebang kayu).
d. Tukang jalur
e. Membuat jalur
f. Maelo jalur

2.2 Rapat Banjar

Jalur tidak hanya di buat begitu saja tanpa melalui berbagai proses,baik
yang menyangkut masalah tenaga atau biaya maupun yang mengangkut
masalah lainnya.

Sebelum jalur dibuat,lebih dahulu di bentuk suatu yang mirip dengan


pengurus yang tugasnya mengurus segala sesuatu yang diperlukan dalam
pembuatan jalur.Pengurus itu disebut partuoyang dapat diartikan sebagai
orang yang dituakan . Partuo itu tidak tentu jumlahnya,dan juga tidak begitu
jelas pembagian tugas dan wewenang antara sesamanya.Tapi yang jelas ialah
mereka ini di tunjuk setelah diadakan rapatoleh ke banjaran atau suatu
kampung.

Dalam musyawarah juga akan diperbincangkan kapan upacarakayu di


laksanakan di daerah atau hutan mana ,tempat mencari kayu tersebut,kapan
berangkat,dan sebgainya.Pelaksanaanya selalu berpegang pada dukun atau
pawing, yang dulu hal ini sangat berperan sekali yang tentu tidak dapat
ditinggalkan begitu saja .

2.3 Kayu Jalur

Setelah partuo terbentuk maka dicarilah kayu jalur.Jenis kayu yang dipilih
biasanya adalah sejenis kayu yang dapat anti air dan tidak mudah pecah jika
dibuat kayu,seperti :

a. Kayu Kure.
b. Kayu Kulim.
c. Kayu Banio.
d. Kayu Marantia Sogar.
e. Kayu Kuyung.

Dalam usaha mencari kayu jalur itu haruslah disamping oleh salah seorang
dukun kayu.Dukun kayu yaitu orang yang dipandang mempunyai pengetahuan
tentang masalah kayu termasuk masalah mambang-mambang tinggal atau
penghuni kayu itu.Mambang kayu yaitu sama dengan roh bagi manusia.Ukuran
kayu yang dicari cukup besar,yaitu dengan tinggi lebih kurang 30 meter dan
diameterlebih kurang 1,5-2 meter . Jarang sebuah kayu dipilih memenuhi dua
syarat berikut :

a. Kayunya bagus
b. Kayu itu mempunyai tanda-tanda sebagai kayu bertuah (mempunya
mambang)
3

2.4 Menobang

Kayu yang telah di tandai untuk dijadikan jalur itu kemudian


disemah.penyemahan ditujukan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak
diinginkan,misalnya tidak menimbulkan bencana kepada tukang yang
melaksanakan penebangan,atau orang-orang yang turut menyaksikan,atau turut
dalam upacara penebangan kayu.Bencana nya seperti terjadi cedera,luka,atau
sakit.Sebab menurut kepercayaan masyarakatkayu tersebut mempunyai
penghuni yang dikenal mambang yaitu berupa jin atau setan yang mempunyai
kekuatan sendiri.

Menurut tradisi acara penyemahan dilakukan dengan kegiatan seperti


penyembelihan ayam hitam jamui dan putih suci,pembakaran kemenyan tepung
tawar dan sebagainya.Penyembelihan banir tersebut dipandang sebagai
persemian permintaan mereka kepadayang empunya hutan.

Setelah upacara selesai barulah mulai menebang kayu sambil


membacamantra yaitu:

Hai bujang juaro

Bujang juandang

Kaugo bujang rambaian

Kayu banmo modang sarora

Kalian kan kami tobang

Konal tuo

Konal berani

Nan urek diam di urek nan batang diam di batang

Nan pucuak diam di pucuak

Jika penebangan telah berlangsung lama dan apabila kayu mulai rebah
maka saat itulah dukun melempar telur ke pohon kayu.

2.5 Tukang Jalur


Tukang jalur terdiri dari kepala tukang atau tukang tua.Sebanyak satu
orang, tukang mengapik yang berperan sebagai pembantu tukang sebanyak dua
atau tiga orang dan sejumlah anggota masyarakat yang dapat bekerja untuk
membantu.Bagi orang kampung masyarakat kuantan lajunya jalur tidak
ditentukan oleh faktor teknis tetapi juga boleh faktor magis.

Setelah tukang mulai bekerja partuo engatur masalah biaya dan tenaga
pembantu dari amsyarakat.Partuo biasanya membuat beberapa rombongan
yang berjumalah sekitar 10 orang yang masing-masing selama 3 hari atau lebih
bekerja membantu tukang jalur yang hanya terdiri dari kepala tukang dan
pengopiknya.Rombongan yang ebrjumalah sekitar 10 orang itu bergiliran tinggal
di hutan mengerjakan jalur bersama tukangyang sudahditetapkan semula.Jadi
biasanya jalur itu akan dikerjakan paling kurang 10 orang sehari.Lama mereka
bekerja biasanya 10-20 hari.

Kosumsi tukang dan orang yamng membantu nya juga diatasi oleh
partuo.Dalam tiap hari partuo telah menentukan kepada setiap rumah tangga
yang ditunjuknya agarmenyediakan sebungkus nasi lengkap dengan lauknya
atau beberapa bahan makanan lainnya.Yang diberi upah nantinya
kepadaparatukang dan pengapiknya serta pembantunya,sedangkan warga
masyarakat

kampung yang menolong tidak di beri upah.Upah


tukangsangatrelatifsekali,karena tukang tersebut

tidak memandang pekerjaan karena upah.Mereka hanya memandang


kewajiban mereka terhadap banjar dan juga kampungnya.

Biasanya selama tukang itu bekerja maka partuo menanggung seluruh


kebutuhan hidupnya,termasuk belanja rumah tangga mereka.maka jika biaya di
hitung untuk mereka bertigadewasa ini mereka hanya dapat Rp.30.000-Rp
50.000 saja . Biaya untuk kepentingan tukang itu biasanya diusahakan partuo
dengan meminta sumbangan kepadaorang yang dianggao mampu
menyumbang.

2.6 Cara Membuat Jalur

Setelah kayu bulat yang sudah ditebang itu diukur oleh kepala tukang
dengan pembantunya maka dpatlah mereka mulai bekerja.

Cara membuatnya pada prinsipnya sama,dengan cara membuat perahu


biasa.Kayu bulat diletak dan dilakukan sehingga diperoleh semacam ruanag
seperti perahu.Setelah hasil pekerjaan telah mencapai kerangka dasar
makabagian badan jalur diberi lubang dengan menggunakan bor.Lubang bor itu
disumbat dengan kayu,kayu penyumbat itu disebut kakok.Kakok berguna untuk
memudahkan tukang mengetahui tebal ruang jalur.Sehingga dengan mengikuti
ukuran kakok itu dapatlah rung jalur mempunyai ruang tebal yang sama,tapi
masih ada guna lain dari kakok tersebut yaitu untuk menghindari agar jalur tidak
pecah ruangnya jika sudah di diang.

Setelah pekerjaan selesai kira-kira dua pertiga atau sekitar 60% maka
jalur itu pun didiang.Jalur itu didiang dengan cara meletakkan jalur di atas
api.Setelah keadaan panasnya mencukupi,makaruang jaluritu dikembangkan
yaitu dengan caramenarik kekiri dan kekanan sehingga tuang itu lebar.Melebar
nya ruang itu dilakukan dengan tarik pinggirruang itu dengan rotan,ruang itu
dikembangkan sampai selebar yang diperlukan.

2.7 Maelo Jalur

Setelah jalur itu didiang di hutan maka disiapkanlah upacara maelo,yaitu


suatu upacara menarik jalur itu dengan tali sampai ke kampung.Sebelum jalur
ditarik ke kampung,terlebih dahulu dukun jalur melepaskan seekor ayam yang
biasanya bewarna hitam.Ayam itu dimaksudkan sebagai pengganti kayu jalur
yang diambil itu kepada penghuni hutan tersebut,sesuai dengan pepatah orang
patah tumbuh hilang bergati . Jalur biasanya dielo atau ditarik dengan
semacam rotan yang amat besar,kira-kira mempunyai garis tengah 7-10 cm.

Upacara maelo jalur ini amat menarik dan disenangi oleh penduduk
kampung terutama anak muda.Seorang pemuda atau bujang biasanya
dibawakan nasi oleh kekasihnya dan nanti mereka dapat makan bersama dalam
upacaraitu.

Upacara maelo jalur sebenarnya merupakan upacara yang banyak


memerlukan tenaga dan waktu,jalur yang ditarik itu cukup berat.Dalam keadaan
yang demikian berat jalur itu diperkirakan 3 ton.Dengan rintangan hutan rawa
dan bukit maka jalur itu kadang kala aka seleai ditarik 5-7 hari berturut-
turut.Jarak yang ditempuh dari hutan tempat jalur dibuat sampai kampung tidak
kurangdari 10 m . Kalau jalaur sudah sampai di banjar atau kampung maka
tukang melanjutkan pekerjaannya hingga jalur tersebuts elesai

BAB 3

3.1 Kesimpulan

Dari makalah ini dapatdisimpulkan bahawadalam pembuatan jalur


terdapat beberapa tahap yaitu :

a. Rapat banjar,yaitu musyawarah yang dilakukan oleh penduduk desa


beserta pemuka desa untuk membentuk panitia serta menentukan
langkah awal dalam pembuatan jalur .
b. Pemilihan dan mencari kayu,dalam tahap ini yang sangat berperan adalah
sang dukun,karena dalam pemilihan kayu tidaklah sembarangan dan
hanya dukunlah yang dapat mencari kayu tersebut.
c. Menobang , yaitu menebang kayu yang telah ditentukan oleh dukun
d. Tukang jalur,yaitu tahap menentukan siapa saja yang akan membuat jalur.
e. Membuat jalur,setelah tukang telah ditentukan ,maka di buatlah jalur yang
di awasi oleh sang dukun.
f. Maelo jalur,yaitu penarikan jalur yang sudah hampir selesai dari hutan
menuju desa.

3.2 Saran

Makalah ini tentu saja banyak kekurangan nya diharapkan kepada


pembaca dapat memperbaiki atau menambah demi kesmpurnaan makalah ini.
Dan lestarikan lah budaya-budaya yang ada di indonesia ini khususnya budaya
Riau ini . Agar tidak punah dan cucu kita nanti dapat menikmatinya.

3.3 Hambatan

Pada pembuatan makalah ini penulis mengalami hambatan pada saat


mencari bahan.Dan kurangnya pengetahuan tentang teknik penulisan
makalah,sehingga membutuhkan ketelitian dalam pembuatan makalah.

3.4 Sumber Informasi

a. Perpustakaan
b. Wawancar
1. Nama : Deswiati
Umur :36 tahun
Alamat : Jl.Pasir Putih No.12 Siak Hulu
2. Nama : Raja Rusli Ratih(angkik)
Umur :52 tahun
Alamat :Desa Pulau Kalimanting,Kecamatan Benai Kabupaten
Kuangsing.

3.5 Batasan Istilah

a. Partuo adalah orang yang dituakan


b. Banjar adalah suatu kampung
c. Mambang adalah jin yang mempunyai kekuatan sendiri
d. Maelo adalah menarik
7
DAFTAR PUSTAKA

Adi,dwi.2001.Kamus Besar Bahasa Indonesia,Surabaya:fajar Mulya


8

OLEH :

ANANTA MIA SARASWATI


MUTIA NOVITA SARI

KELAS XI IPA 3
SMA NEGERI 4
PEKANBARU