Anda di halaman 1dari 5

HUKUM PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM

Pendahuluan

Sumber daya alam merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang
dianugerahkan kepada manusia sebagai kekayaan yang tak ternilai harganya.
Sebagai pemilik sumber daya alam, Bangsa Indonesia wajib mengelola secara
bijaksana agar bisa dimanfaatkan secara berdaya guna, berhasil guna dan
berkelanjutan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat baik untuk generasi
sekarang maupun generasi yang akan datang.
Ketersediaan sumber daya alam baik yang hayati maupun non hayati sangat
tebatas, oleh karena itu pemanfaatannya baik sebagai modal komoditas maupun
sebagai modal alam harus dilakukan secara bijaksana sesuai dengan daya
dukung sumber daya alam dan karakteristiknya.
Sejalan dengan ketentuan Psal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menetukan bahwa
bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara
dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, maka pengelolaan
sumber daya alam harus berorientasi kepada konservasi sumber daya alam
(natural resource oriented) untuk menjamin kelestarian dan keberlanjutan fungsi
sumber daya alam dengan pendekatan yang bercorak komprehensif dan
terpadu.
Persoalan yang terjadi sekarang ialah telah terjadinya kerusakan sumber daya
alam justru dipicu oleh persolan hukum dan kebijakan pengelolaan atas sumber
daya alam.

Urgensi pengelolaan sumber daya alam:

Kehidupan manusia dan makluk hidup lainnya tidak dapat dilepaskan dari
keberadaan alam dan lingkungan, karena hubungan ini merupakan hubungan
mutualisme dalam tatanan keseimbangan alam dan kehidupannya (balancing
ecosystem). Kemampuan manusia hidup dan mempertahankan kehidupannya
(survive) adalah sebagai proses pembentukan pribadi induvidu yang peka
terhadap alam dan lingkungannya.
Pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam harus bijaksana bagi
kepentingan manusia. Konsep konservasi mencakup sector ilmiah, sosial budaya,
dan sector pengolahan. Ketiga sector tersebut harus saling berkaitan dan saling
melengkapi satu dengan lainnya.
Konservasi sumber dala alam menjadi kegiatan pendukung keberlanjutan hidup
manusia dimana tanah, air dan udara saat ini mengalami degradasi yang sangat
cepat.

Nilai-nilai yang terkandung dalam pengelolaan sumber daya alam:

Nilai ekologis
Sumber daya alam merupakan unsur ekosistem alam dimana unsur-unsur di
dalamnya menjadi bagian dari keseimbangan alam secara keseluruhan.
Nilai komersial
Secara umum kehidupan manusia tergantung dari sumber daya alam hayati,
dimana sumber daya alam tersebut memiliki nilai komersial yang tinggi.
Nilai sosial budaya
Keanekaragaman sumber daya alam hayati mempunyai nilai sosial dan budaya
yang sangat besar
Nilai rekreasi
Keindahan sumber daya alam hayati dapat memberikan nilai estetika yang bisa
menjernihkan pikiran dan melahirkan gagasan-gagasan bagi manusia.
Nilai penelitian dan pendidikan
Sumber daya alam tidak jarang menjadi sumber gagasan dan ide bagi manusia
dengan cara melakukan pengamatan dan pengkajian serta penelitian terhadap
kejadian-kejadian alam yang bisa menjadi dasar bagi pengembangan ilmpu
pengetahuan.

Pembagian sumber daya alam:

Berdasarkan ketentuan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 sumber daya alam di Indonesia
disebutkan secara definitive yaitu meliputi: bumi, air, ruang udara dan kekayaan alam
yang terkandung di dalamnya.

Istilah Dan Pengertian:

Istilah sumber daya alam secara yuridis ditemukan dalam Ketetapan MPR Ri No.
IV/MPR RI/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara Tahun 1999-2004 khususnya
Bab IV Arah Kebijakan huruf H angka 4 yang menyatakan:Mendayagunakan sumber
daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan memperhatikan
kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup, pembangunan yang
berkelanjutan, kepentingan ekonomi dan budaya masyarakat local, serta penataan
ruang, yang pengusahaannya diatur dengan undang-undang.

Istilah serupa juga ditemukan dalam Ketetapan MPR RI Nomor IX/MPR/2001 tentang
Pembaharuan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam, khususnya Pasal 6
menyatakan bahwa: Menugaskan kepada DPR bersama Presiden RI untuk segera
mengatur lebih lanjut pelaksanaan pembaharuan agraria dan pengelolaan sumber daya
alam serta mencabut, mengubah dan/atau mengganti semua undang-undang dan
peraturan pelaksanaannya yang tidak sejalan dengan ketetapan ini.

Sedangkan pengertian Sumber Daya Alam secara yuridis sulit ditemukan namun istilah
tersebut ada dalam RUU Pengelolaan SDA yang member batasan/pengertian bahwa
sumber daya alam ialah semua benda, daya, keadaan, fungsi alam dan makhluk hidup
yang merupakan hasil proses alamiah, baik hayati maupun non hayati, terbarukan
maupun tidak terbarukan.

Demikian juga istilah hukum sumber daya alam itu sendiri belum ada definisi secara
yuridis, namun menurut Sundari Rangkuti menyatakan bahwa pada pengelolaan
lingkungan kita berhadapan dengan hukum sebagai sarana pemenuhan kepentingan.
Berdasarkan kepentingan-kepentingan lingkungan yang bermacam-macam dapat
dibedakan bagian-bagian hukum lingkungan:

1. Hukum Bencana (Ramperenrecht);


2. Hukum Kesehatan Lingkungan (Mileuhygienerecht);
3. Hukum tentang Sumber Daya Alam (Recht betreffende natuurlijke rijkdommen)
atau Hukum Konservasi (Natural Resources Law);
4. Hukum tentang Pembagian Pemakaian Ruang (Recht betreffende de verdeling
van het ruimtegebruik) atau Hukum Tata Ruang
5. Hukum Perlindungan Lingkungan (Mileu beschermingsrecht)

Dari penjelasan ini jelas bahwa Hukum SDA merupakan bagian dari Hukum Lingkungan,
dimana Hukum Lingkungan menyangkut penetapan nilai-nilai (waardenbeoordelen),
yaitu nilai-nilai yang sedang berlaku dan nilai-nilai yang diharapakn diberlakukan di
masa mendatang dan dapat disebut hukum yang mengatur tatanan lingkungan hidup.
Dengan demikian Hukum Lingkungan adalah hukum yang mengatur hubungan timbal
balik antara manusia dengan makhluk hidup lainnya yang apabila dilanggar dapat
dikenakan sanksi.

Berdasarkan uraian tersebut maka Hukum SDA adalah hukum yang merupakan bagian
dari Hukum Lingkungan yang mengatur hubungan timbal balik antara manusia dengan
makluk hidup lainnya dalam hal SDA yang apabila dilanggar dapat dikenakan sanksi.
Bidang-bidang SDA:

1. Bidang Agraria diatur dengan


UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria;
2. BIdang Pertambangan diatur dengan
UU No. 11 Tahun 1967 tentang Pertambangan;
UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UUMinerba)
3. Bidang Pengairan diatur dengan
UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air yang kemudian dibatalkan dan
kembali ke UU lama yaitu UU No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan.
4. Bidang Perikanan
UU No. 45 Tahun 2009 tentang Perikanan
5. Bidang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem
UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan
Ekosistemnya
6. Bidang Kehutanan diatur dengan
UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan

Masing-masing bidang itu secara kelembagaan dikelola oleh lembaga-lembaga sektoral


yang berada di lingkup departemen yang menanganinya yaitu: Departemen Dalam
Negeri, Departemen Pertambangan dan Energi, Departemen Pekerjaan Umum,
Departemen Perikanan dan Kelautan dan Departemen Kehutanan.

Idelanya pengelolaan SDA tidak dilakukan secara sektoral tetapi dilakukan oleh
kelembagaan secara terpadu di bawah lembaga yang berwenang untuk itu, yaitu
Kementrian Lingkungan Hidup. Hal ini sebagai amanat dari UU No. 23 Tahun 1997
tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Pasal 8-11), pengelolaan sumber daya alam
harus dilakukan secara terpadu oleh isntansi pemerintah baik dari aspek perencanaan
maupun kebijakan pengelolaan sumber daya alam.

Kondisi empirik SDA di Indonesia

Eksploitasi terhadap sumber daya alam Indonesia yang dilakukan sejak tahun 1960
telah membawa manfaat ekonomi bagi negara, namun demikian terjadi pula kerugian
bagi lingkungan hidup serta masyarakat di daerah-daerah yang kaya akan sumber daya
alam, sehingga memicu ketegangan sosial dan menimbulkan konflik yang disertai
kekerasan. Untuk itu negara Indonesia perlu mengelola SDA nya dengan cara yang
lebih adil dan berkelanjutan disbanding dengan yang telah dilakukan di masa yang lalu.
Eksploitasi terhadap sumber daya alam seperti kayu dan mineral di masa pemerintahan
ORBA didominasi oleh perusahaan-perusahaan yang ada hubungannya dengan para elit
pada rezim yang berkuasa. Mekipun secara formal kegiatan tersebut merupakan hal
yang sah, eksploitasi tersebut kerap kali tidak menghiraukan masyarakat serta
lingkungan setempat dan marak dengan korupsi kedinasan dan pelanggaran-
pelanggaran.

Saat ini Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan model bagi pengelolaan
sumber daya alam yang tidak merusak, tetapi malah terjadi peningkatan pesat
pengambilan sumber daya alam secara tidak sah sejak tahun 1998. Bentuk-bentuk
pengambilan illegal tersebut antara lain penebangan kau, penambangan dan
penangkapan ikan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang melanggar hukum
ataupun pelaku liar yang bertindak di luar hukum. Hal itu berdampak pada
pengrusakan terhadap lingkungan, pengurangan pendapatan negara, serta timbulnya
kemungkinan konflik di masa yang akan datang. Dalam kasus penebangan kayu,
permasalahannya telah menjadi sedemikian berat sehingga sebagian besar hutan
Indonesia terancam musnah dalam kurun waktu satu dasawarsa.

Pemerintah Indonesia telah membuat komitmen untuk menanggulangi pengambilan


sumber daya alam secara illegal dan dalam kasus penebangan hutan kini mengalami
tekanan besar dari donor dan pemberi pinjaman di lura negeri serta gerakan LSM di
dalam negeri.