Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

MATA KULIAH DRP

Tentang
Proses Pembuatan Biodiesel

Disusun oleh :
Kelompok 6

Ayu Diah Wulan Octavia 1431410154 2014

Fara Ulul Hanif 1531410090 2015


Febi Amairani Runitasari 1531410058 2015

Taufan Prastiya 1531410016 2015

Dosen Pembimbing :
Ir. Bambang Widiono, Mpd

POLITEKNIK NEGERI MALANG


MALANG
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono alkil ester
dari rantai panjang asam lemak yang dipakai sebagai alternative bagi bahan bakar dari mesin
diesel dan terbuat dari sumber terbaharui sepetri minyak nabati atau lemak hewan. Biodiesel
merupakan bahan bakar dari proses transesterifikasi lipid untuk mengubah minyak dasar
menjadi ester yang diinginkan dan membuang lemak bebas. Setelah melewati proses ini tidak
seperti minyak nabati langsung biodiesel memiliki sifat pembakaran yang mirip dengan diesel
dari minyak bumi dan dapat menggantikan mingak bumi dalam banyak kasus. Namun
biodiesel lebih sering digunakan sebagai penambah untuk diesel petroleum. Bahan bakar
nabati bioetanol dan biodiesel merupakan dua kandidat kuat pengganti bensin dan solar yang
selama ini digunakan sebagai bahan bakar mesin Diesel. Pemerintah Indonesia telah
mencanangkan pengembangan dan implementasi dua macam bahan bakar tersebut, bukan
hanya untuk menanggulangi krisis energi yang mendera bangsa namun juga sebagai salah
satu solusi kebangkitan ekonomi masyarakat. Oleh sebab itu pada kali ini kami akan mencoba
untuk menbuat minyak biodiesel dari minyak goreng murni sehingga nantinya diharapkan
mahasiswa dapat membuat biodiesel ataupun memahami prinsip kerjanya untuk dapat
diimplementasikan dikehidupan nantinya.

1.2. Tujuan Praktikum


Adapun tujuan dari praktikum ini antara lain :
1. Mahasiswa dapat mempelajari proses pembuatan biodiesel
2. Mahasiswa dapat mempelajari pengaruh katalis pada pembuatan biodiesel
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sejarah Biodiesel
Biodiesel pertama kali dikenalkan di Afrika selatan sebelum perang dunia II
sebagai bahan bakar kendaraan berat. Biodiesel didefinisikan sebagai metil/etil ester yang
diproduksi dari minyak tumbuhan atau hewan dan memenuhi kualitas untuk digunakan
sebagai bahan bakar di dalam mesin diesel. Sedangkan minyak yang didapatkan langsung dari
pemerahan atau pengempaan biji sumber minyak (oilseed), yang kemudian disaring dan
dikeringkan (untuk mengurangi kadar air), disebut sebagai minyak lemak mentah. Minyak
lemak mentah yang diproses lanjut guna menghilangkan kadar fosfor (degumming) dan asam-
asam lemak bebas (dengan netralisasi dan steam refining) disebut dengan refined fatty oil
atau straight vegetable oil (SVO). SVO didominasi oleh trigliserida sehingga memiliki
viskositas dinamik yang sangat tinggi dibandingkan dengan solar (bisa mencapai 100 kali
lipat, misalkan pada Castor Oil). Oleh karena itu, penggunaan SVO secara langsung di dalam
mesin diesel umumnya memerlukan modifikasi/tambahan peralatan khusus pada mesin,
misalnya penambahan pemanas bahan bakar sebelum sistem pompa dan injektor bahan bakar
untuk menurunkan harga viskositas.
Viskositas (atau kekentalan) bahan bakar yang sangat tinggi akan menyulitkan
pompa bahan bakar dalam mengalirkan bahan bakar ke ruang bakar. Aliran bahan bakar yang
rendah akan menyulitkan terjadinya atomisasi bahan bakar yang baik. Buruknya atomisasi
berkorelasi langsung dengan kualitas pembakaran, daya mesin, dan emisi gas buang.
Pemanasan bahan bakar sebelum memasuki sistem pompa dan injeksi bahan bakar
merupakan satu solusi yang paling dominan untuk mengatasi permasalahan yang mungkin
timbul pada penggunaan SVO secara langsung pada mesin diesel. Pada umumnya, orang
lebih memilih untuk melakukan proses kimiawi pada minyak mentah atau refined fatty
oil/SVO untuk menghasilkan metil ester asam lemak (fatty acid methyl ester - FAME) yang
memiliki berat molekul lebih kecil dan viskositas setara dengan solar sehingga bisa langsung
digunakan dalam mesin diesel konvensional.
Biodiesel umumnya diproduksi dari refined vegetable oil menggunakan proses
transesterifikasi. Proses ini pada dasarnya bertujuan mengubah [tri, di, mono] gliserida
berberat molekul dan berviskositas tinggi yang mendominasi komposisi refined fatty oil
menjadi asam lemak methil ester (FAME). Konsep penggunaan minyak tumbuh-tumbuhan
sebagai bahan pembuatan bahan bakar sudah dimulai pada tahun 1895 saat Dr. Rudolf
Christian Karl Diesel (Jerman, 1858-1913) mengembangkan mesin kompresi pertama yang
secara khusus dijalankan dengan minyak tumbuh-tumbuhan. Mesin diesel atau biasa juga
disebut Compression Ignition Engine yang ditemukannya itu merupakan suatu mesin motor
penyalaan yang mempunyai konsep penyalaan di akibatkan oleh kompressi atau penekanan
campuran antara bahan bakar dan oxygen didalam suatu mesin motor, pada suatu kondisi
tertentu.
Konsepnya adalah bila suatu bahan bakar dicampur dengan oxygen (dari udara)
maka pada suhu dan tekanan tertentu bahan bakar tersebut akan menyala dan menimbulkan
tenaga atau panas. Pada saat itu, minyak untuk mesin diesel yang dibuat oleh Dr. Rudolf
Christian Karl Diesel tersebut berasal dari minyak sayuran. Tetapi karena pada saat itu
produksi minyak bumi (petroleum) sangat melimpah dan murah, maka minyak untuk mesin
diesel tersebut digunakan minyak solar dari minyak bumi. Hal ini menjadi inpirasi terhadap
penerus Karl Diesel yang mendesain motor diesel dengan spesifikasi minyak diesel. Bahan
bakar nabati bioetanol dan biodiesel merupakan dua kandidat kuat pengganti bensin dan solar
yang selama ini digunakan sebagai bahan bakar mesin Diesel. Pemerintah Indonesia telah
mencanangkan pengembangan dan implementasi dua macam bahan bakar tersebut, bukan
hanya untuk menanggulangi krisis energi yang mendera bangsa namun juga sebagai salah
satu solusi kebangkitan ekonomi masyarakat.
2.2 Keuntungan Biodiesel
Keuntungan lain dari biodiesel antara lain :
1. Termasuk bahan bakar yang dapat diperbaharui.
2. Tidak memerlukan modifikasi mesin diesel yang telah ada.
3. Tidak memperparah efek rumah kaca karena siklus karbon yang terlibat pendek.
4. Kandungan energi yang hampir sama dengan kandungan energi petroleum diesel.
5. Penggunaan biodiesel dapat memperpanjang usia mesin diesel karena memberikan
lubrikasi lebih daripada bahan bakar petroleum.
6. Memiliki flash point yang tinggi, yaitu sekitar 200C, sedangkan bahan bakar petroleum
diesel flash pointnya hanya 70 C.
7. Bilangan setana (cetane number) yang lebih tinggi daripada petroleum diesel Biodiesel
tergolong bahan bakar yang dapat diperbaharui karena diproduksi dari hasil pertanian, antara
lain : jarak pagar, kelapa, sawit, kedele, jagung, rape seed, kapas, kacang tanah. Selain itu
biodiesel juga bisa dihasilkan dari lemak hewan dan minyak ikan.
BAB III
PROSEDUR KERJA

3.1 Peralatan yang digunakan


1. Reaktor Serbaguna
2. Beaker Glass
3. Hot Plate Stirer
4. Termometer
5. Corong Pemisah
6. PH Meter
3.2 Bahan yang digunakan
1. Minyak kelapa
2. Metanol
3. NaOH
3.3. Cara Kerja
1. Minyak kelapa murni dicampurkan dengan pelarut methanol sebanyak 3 % dari massa
minyak kelapa, dan NaOH sebanyak 3,5 g untuk setiap liter minyak kelapa.
2. Campurkan minyak kelapa, methanol dan NaOH diaduk dengan menggunakan hot plate
stirrer dengan kecepatan pengadukan 450-500 rpm dan temperature 60 C selama 1,5 jam
3.Setelah mencapai waktu yang ditentukan, dilakukan proses pengendapan (settling) untuk
memisahkan antara lapisan metil ester dengan gliserol. Metil Ester akan terdapat pada
lapisan atas dan gliserol terdapat pada lapisan bawah. Metil ester yang telah dipisahkan
akan di transesterifikasi II.
4. Setelah mencapai waktu yang ditentukan kembali dilakukan proses pengendapan untuk
memisahkan metal ester dengan gliserol.
5. Metil ester yang telah dipisahkan selanjutnya dicuci menggunakan air panas pada
temperature 40C
6. Metil ester yang telah dicuci dipanaskan dengan temperature 110-130 selama 10 menit.
3.4 Skema Kerja
Metanol
65ml
dipanaskan
Minyak kelapa
200ml Ditambahka
Beaker glass
n NaOH 3 %
dari berat
dipanaskan sampel
Didalam RBF Dipanaskan
ditambahkan
hingga
(Hingga suhu suhunya 40
60 C) C

Diaduk 1,5 jam


( 90 menit)

dimasukkan

Corong
pisah

Biodiesel dan
gliserol

Cuci biodiesel
dengan air
panas yang
bersuhu 40 C

Analisa
densitas,
viskositas, dan
flash point
BAB IV
DATA PENGAMATAN DAN ANALISA DATA

Kelompok 2

Satua
No Bahan n Jumlah Keterangan
Warna : Kuning
1 Minyak Gram 200,66 keruh
Methano %FFA : 0,196%
2 l Gram 105,13 (<2%)
KOH/Na
3 OH Gram 1,54
Kelompok 3
Kelompok 4

Flash point
Letupan terjadi pada suhu 190 C 204 C
Kelompok 1
Kelompok 5

Flash Point
Letupan terjadi pada suhu 202 C
BAB V
PEMBAHASAN

Biodiesel merupakan nama yang diberikan untuk bahan bakar yang terdiri dari
mono-alkyl ester yang dapat terbakar dengan bersih, berasal dari berbagai minyak tumbuhan
atau lemak hewan, biasanya berupa metil ester atau etil ester dari asam lemak. Nama
biodiesel telah disetujui oleh Departemen of Energy (DOE), Environmental Protection Agency (EPA)
dan American Society of Testing Material (ASTM) sebagai industri energi alternatif.
Berasal dari asam lemak yang sumbernya renewable limit,dikenal sebagai bahan bakar yang
ramah lingkungan dan menghasilkan emisi gas buang yang relatif lebih bersih dibandingkan
bahan bakar konvensional. Biodiesel tidak beracun, bebas dari belerang, aplikasinya sederhana dan
berbau harum.Biodiesel dapat ditulis sebagai B100.B100 menunjukkan bahwa biodiesel
tersebut murni 100% terdiri atas mono-alkyl ester . Biodiesel campuran ditandai seperti "
BXX", dimana " XX" menyatakan prosentase komposisi biodiesel yang terdapat di campuran
tersebut, dengan kata lain B20 adalah 20% biodiesel, 80%minyak solar (Zuhdi dkk, 2003).
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah minyak sawit, metanol, dan NaOH. NaOH
digunakan sebagai katalis, campuran ( antara minyak sawit, metanol, dan NaOH ) bereaksi pada temperatur
150 F (62,2C) selama 1,5 jam dengan pengadukan yang kuat. Katalis yang ditambahkan harus cukup untuk
mengkatalis reaksi dan juga bereaksi dengan asam lemak bebas.
Berikut ini adalah hasil praktikum dari kelima kelompok:
Untuk kelompok 1 : dengan massa minyak 200,66 gram, % FFA yang diperoleh sebesar 0,481 %, dengan
biodiesel 0,862 g/cm, viskositas 1 = 43,092 mm/s dan viskositas 2 = 43,093 mm/s.
Untuk kelompok 2 : dengan massa minyak 200,66 gram, % FFA yang diperoleh
sebesar 0,196 %, dengan biodiesel 0,8548 g/cm,viskositas 1 = 42,257 mm/s dan
viskositas 2 = 42,074 mm/s. Untuk kelompok 3 : dengan massa minyak 200,00
gram, % FFA yang diperoleh sebesar 0,329 %, dengan biodiesel 0,8548
g/cm,viskositas = 8,5876 mm/s. Untuk kelompok 4 : dengan massa minyak
200,00 gram, % FFA yang diperoleh sebesar 0,04 %, dengan biodiesel 0,898
g/cm,viskositas = 40,7322mm/s, flash point 190 C 204 C. Untuk kelompok 5 :
dengan massa minyak 200,22 gram, % FFA yang diperoleh sebesar 0,0341 %,
dengan biodiesel 0,8648 g/cm,viskositas 1 = 52,00776 mm/s, viskositas 2 =
51,67 mm/s, flash point 202C. Untuk komposisi methanol secara berurutan mulai dari
kelompok 1- 5 adalah 100 ml ; 105,13 ml ; 65 ml ; 70 ml ; 80 ml.

Kelompok 1 : biodiesel yang dihasilkan memiliki nilai % FFA memiliki jumlah


<2% sehingga dapat langsung dilakukan reaksi transesterifikasi. . Nilai yang diperoleh
sebesar <1%, sudah sesuai dengan literatur. Viskositas yang didapatkan berjumlah 43,093 dan
43,092. Jumlah tersebut sangat tinggi, karena pada literatur viskositas biodiesel memiliki
jumlah 2,3-6,0. Tidak dilakukan uji flash point dikarenakan kendala alat.
Kelompok 2: biodiesel yang dihasilkan memiliki warna yang bagus, berhasil
didapatkan biodiesel yang sempurna untuk satu kali praktikum, untuk % FFA yang
didapatkan memiliki jumlah <2% sehingga dapat langsung dilakukan reaksi transesterifikasi.
Nilai yang diperoleh sebesar <1%, sudah sesuai dengan literatur. Viskositas yang
didapatkan berjumlah 42,257 dan 42,074. Jumlah tersebut sangat tinggi. Karena pada literatur
viskositas biodiesel memiliki jumlah 2,3-6,0. Tidak dilakukan uji flash point dikarenakan
kendala alat.
Kelompok 3 : biodiesel yang dihasilkan memiliki warna yang sedikit keruh.
Sebelum dilakukan pencucian, biodiesel mengalami proses pembekuan dikarenakan waktu
penyimpanan yang terlalu lama didalam corong pisah. Untuk % FFA memiliki jumlah yang
berbeda, karena dilakukan dua kali praktikum. Untuk praktikum pertama memiliki jumlah
FFA yang >2% ,dan pada saat pemisahan biodiesel tidak dapat terpisah dengan baik.
Sehingga harus dilakukan praktikum tahap 2. Untuk praktikum tahap 2, jumlah % FFA yang
dihasilkan sebesar < 2% sehingga dapat langsung dilakukan reaksi transesterifikasi. Nilai
yang diperoleh sebesar <1%, sudah sesuai dengan literatur. Viskositas yang didapatkan
berjumlah 8,58 . Jumlah tersebut sedikit lebih tinggi daripada di literatur yang jumlahnya 2,3-
6,0. Tidak dilakukan uji flash point dikarenakan kendala alat.

Kelompok 4 : biodiesel yang dihasilkan memiliki nilai % FFA memiliki jumlah <2%
sehingga dapat langsung dilakukan reaksi transesterifikasi. Nilai yang diperoleh sebesar <1%, sudah
sesuai dengan literatur. Viskositas yang didapatkan berjumlah 40,73. Jumlah tersebut sangat tinggi,
karena pada literatur viskositas biodiesel memiliki jumlah 2,3-6,0. Flash point yang diperoleh diantara
suhu 190C-204C

Kelompok 5 : biodiesel yang dihasilkan memiliki nilai % FFA memiliki jumlah <2%
sehingga dapat langsung dilakukan reaksi transesterifikasi. Nilai yang diperoleh sebesar
<1%, sudah sesuai dengan literatur. Viskositas yang didapatkan berjumlah 52 dan 51,67.
Jumlah tersebut sangat tinggi, karena pada literatur viskositas biodiesel memiliki jumlah 2,3-
6,0. Flash point yang diperoleh diantara suhu 202C

Dari hasil tersebut, formulasi terbaik dalam proses pembuatan biodiesel adalah
formulasi dari kelompok 2 karena biodiesel yang dihasilkan mendekati sempurna. Begitu pula
dengan percobaannya, biodiesel dapat terpisah secara sempurna setelah mengalami beberapa
kali pencucian.
BAB VI
KESIMPULAN

1. Biodiesel merupakan nama yang diberikan untuk bahan bakar yang terdiri dari mono-alkyl
ester yang dapat terbakar dengan bersih, berasal dari berbagaiminyak tumbuhan atau
lemak hewan, biasanya berupa metil ester atau etil ester dari asam lemak.
2. Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah minyak sawit, metanol, dan NaOH.
3. Prosentase FFA yang digunakan dalam pembuatan biodiesel harus < 2 % untuk minyak sawit
4. Biodiesel hasil terbaik, adalah hasil dari praktikum yang dilakukan oleh kelompok 2
5. Biodiesel memiliki sifat pembakaran yang mirip dengan diesel minyak bumi
DAFTAR PUSTAKA

1. Allinsusmay.2011.Densitas. http : //allinsusmay.wordpress.com/2011/03/20/distribusi-densitas/


2. Delisaputra.2014. http : //delisaputra.blogspot.com/2014_06_01_archieve.html
3. Desmafianti, Gita. 2013. artikel pengertian biodiesel, http :
gitadesmafianti.blogspot.com/2013/03/pengertian biodiesel.html
4. Esensial. 2010. http : //naynienay.wordpresss.com/category/esensial/page/2/2
5. Zaki Kurniawan, 2012. http : // meykenpunyablog. blogspot. Com/2013/05/manfaat-minyak-nabati